Sabtu, 30 Juni 2012

KH. GUS MAKSUM JAUHARI / GUS MAKSUM


             Pondok Pesantren dulunya tidak hanya mengajarkan ilmu agama dalam pengertian formal-akademis seperti sekarang ini, semisal ilmu tafsir, fikih, tasawuf, nahwu-shorof, sejarah Islam dan seterusnya. Pondok pesantren juga berfungsi sebagai padepokan, tempat para santri belajar ilmu kanuragan dan kebatinan agar kelak menjadi pendakwah yang tangguh, tegar dan tahan uji. Para kiainya tidak hanya alim tetapi juga sakti. Para kiai dulu adalah pendekar pilih tanding.
Akan tetapi belakangan ada tanda-tanda surutnya ilmu bela diri di pesantren. Berkembangnya sistem klasikal dengan materi yang padat, ditambah eforia pembentukan standar pendidikan nasional membuat definisi pesantren kian menyempit, melulu sebagai lembaga pendidikan formal.
Para ulama-pendekar merasa gelisah. H Suharbillah, seorang pendekar dari Surabaya yang gemar berorganisasi menemui KH Mustofa Bisri dari Rembang dan menceritakan kekhawatiran para pendekar. Mereka lalu bertemu dengan KH Agus Maksum Jauhari Lirboyo alias Gus Maksum yang memang sudah masyhur di bidang beladiri. Nama Gus Maksum memang selalu identik dengan “dunia persilatan”.
Pada tanggal 12 Muharrom 1406 M bertepatan tanggal 27 September 1985 berkumpulah mereka di pondok pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, untuk membentuk suatu wadah di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang khusus mengurus pencak silat. Musyawarah tersebut dihadiri tokoh-tokoh pencak silat dari daerah Jombang, Ponorogo, Pasuruan, Nganjuk, Kediri, serta Cirebon, bahkan dari pulau Kalimantan pun datang.
Musyawarah berikutnya diadakan pada tanggal 3 Januari 1986, di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, tempat berdiam Sang Pendekar, Gus Maksum. Dalam musyawarah tersebut disepakati pembentukan organisasi pencak silat NU bernama Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa yang merupakan kepanjangan dari Pagarnya NU dan Bangsa. Kontan para musyawirin pun menunjuk Gus Maksum sebagai ketua umumnya. Pengukuhan Gus Maksum sebagai ketua umum Pagar Nusa itu dilakukan oleh Ketua Umum PBNU KH. Abdurrahman Wahid dan Rais Aam KH. Ahmad Sidiq.
Gus Maksum lahir di Kanigoro, Kras, Kediri, pada tanggal 8 Agustus 1944, salah seorang cucu pendiri Pondok Pesantren Lirboyo KH Manaf Abdul Karim. Semasa kecil ia belajar kepada orang tuanya KH. Abdullah Jauhari di Kanigoro. Ia menempuh pendidikan di SD Kanigoro (1957) lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Lirboyo, namun tidak sampai tamat. Selebihnya, ia lebih senang mengembara ke berbagai daerah untuk berguru ilmu silat, tenaga dalam, pengobatan dan kejadukan (*Dalam “Antologi NU” terbitan LTN-Khalista Surabaya*).
Sebagai seorang kiai, Gus Maksum berprilaku *nyeleneh* menurut adat kebiasaan orang pesantren. Penampilannya nyentrik. Dia berambut gondrong
jengot dan kumis lebat, kain sarungnya hampir mendekati lutut, selalu memakai bakiak. Lalu, seperti kebiasaan orang-orang “jadug” di pesantren, Gus Maksum tidak pernah makan nasi alias *ngerowot*. Uniknya lagi, dia suka memelihara binatang yang tidak umum. Hingga masa tuanya Gus Maksum memelihara beberapa jenis binatang seperti berbagai jenis ular dan unggas, buaya, kera, orangutan dan sejenisnya.
Dikalangan masyarakat umum, Gus Maksum dikenal sakti mandaraguna. Rambutnya tak mempan dipotong (konon hanya ibundanya yang bisa mencukur rambut Gus Maksum), mulutnya bisa menyemburkan api, punya kekuatan tenaga dalam luar biasa dan mampu mengangkat beban seberat apapun, mampu menaklukkan jin, kebal senjata tajam, tak mempan disantet, dan seterusnya. Di setiap medan laga (dalam dunia persilatan juga dikenal istilah sabung) tak ada yang mungkin berani berhadapan dengan Gus Maksum, dan kehadirannya membuat para pendekar aliran hitam gelagapan. Kharisma Gus Maksum cukup untuk membangkitkan semangat pengembangan ilmu kanuragan di pesantren melalui
Pagar Nusa.
Sebagai jenderal utama “pagar NU dan pagar bangsa” Gus Maksum selalu sejalur
dengan garis politik Nahdlatul Ulama, namun dia tak pernah terlibat politik praktis, tak kenal dualisme atau dwifungsi. Saat kondisi politik memaksa warga NU berkonfrontasi dengan PKI Gus Maksum menjadi komandan penumpasan PKI beserta antek-anteknya di wilayah Jawa Timur, terutama karesidenan Kediri. Ketika NU bergabung ke dalam PPP maupun ketika PBNU mendeklarasikan PKB, Gus Maksum selalu menjadi jurkam nasional yang menggetarkan podium. Namun dirinya tidak pernah mau menduduki jabatan legislatif ataupun eksekutif. Pendekar *ya *pendekar! Gus Maksum wafat di Kanigoro pada 21 Januari 2003 lalu dan dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Lirboyo dengan meninggalkan semangat dan keberanian yang luar biasa.
Karisma Gus Maksum Masih Terasa
Melihat Lebih Dekat Haul ke-3 Gus Maksum Lirboyo, Kediri
Kharisma Gus Maksum masih dirasakan oleh banyak orang, terutama warga Kediri, Jawa Timur, terkhusus aggota perguruan Pagar Nusa. Meski almarhum sudah pergi menghadapIlahi tiga tahun silam, namun tak membuat para santrinya merasa kehilangan panutan. Kini Kyai yang dikenal punya banyak ilmu kejadugan (kanoragan, Red) itu terasa hadir dalam banyak kerumunan orang yang sengaja datang untuk memperingati acara haul ketiganya.
Pagi itu suasana pondok pesantren Salafiyah Lirboyo Kediri-salah satu pondok pesantren tertua di Indonesia-ramai dengan orang yang mondar mandir sambil menenteng karpet panjang. Karpet itu dibentangkan di halaman pondok pesantren. Sebagian lainnya, sibuk mendirikan terop besar yang dipasang di depan rumah almarhum K.H. Maksum, dilengkapi dengan panggung bertuliskan “peringatan maulid dan haul ke 3 K.H. Maksum Lirboyo Kediri”. Sesaat kemudian pondok pesantren Lirboyo didatangi ribuan orang dengan memakai kopiah dan sarung, layaknya santri. Kemudian mereka memadati halaman pondok pesantren, seraya duduk bersila dikarpet yang sudah disediakan. Orang-orang ini sengaja hadir dari berbagai penjuru nusantara seperti Sumatra, Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur sendiri, untuk memperingati haul ketiga K.H. Maksum. Menurut Imam Syamsuddin sekretaris Pagar Nusa kota Kediri mengatakan, undangan yang hadir pada acara haul Gus Maksum panggilan akrab K.H. Maksum diperkirakan kurang lebih 10.000 orang, dan haul ini adalah yang terbesar dibandingkan haul sebelumnya.Dalam haul kali ini, juga hadir sejumlah paranormal kondang asal ibu kota yang juga pernah menjadi santri Gus Maksum. Di antaranya, Ustad Aziz Hidayatullah (pimpinan pondok pesantren Busatanul Hidayah Tegal Jawa Tengah), Gus Ulin Nuha Azka (Pimpinan Dzikir Sunan Kalijaga Demak), Ki Cokro (Spiritualis asal Jombang), Habib Munzir bin Fuad al-Musawa (Pimpinan Majelis Shalawat Rasulullah Saw Jakarta), Prof. K.H. Suharbillah (Ketua Pejabat Sementara Pagar Nusa Pusat) dan beberapa Kyai dan ulama yang berkumpul di rumah kediaman Gus Maksum.Setelah semua undangan berkumpul, acara haul dibuka dengan bacaan basmalah, lalu dilanjutkan dengan acara-acara seremonial seperti pembacaan ayat-ayat suci al-Quran dan sambutan dari keluarga almarhum dan juga tahlilan untuk mendoakan arwah Gus Maksum. Tak hanya itu, Gus Zainal Abidin selaku Sahibul hajat sengaja mendatangkan penceramah dari Jakarta, yakni Habib Munzir bin Fuad al-Musawa. Dalam ceramahnya, Habib asal ibu kota itu mengingatkan kembali perjuangan Gus Maksum semasa hidupnya. Seperti Keikhlasan yang selalu menyertai sikap Gus Maksum dalam membantu sesama umat manusia, dan demi negara khususnya. Juga sosok Kharisma yang dimiliki Gus Maksum, sehingga banyak orang ingin menjadi santrinya. Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa Gus Maksum adalah Waliyullah yang diberikan banyak ilmu kejadugan dan ketakwaan yang tinggi. Dalam waktu beberapa jam, kemudian acara dilanjutkan oleh hiburan berupa musik shalawat yang sengaja didatangkan dari Ibu Kota Jakarta, yakni kelompok Shalawat Majelis Rasulullah Saw pimpinan Habib Munzir bin Fuad al-Musawa. Karena menurut Gus Abidin panggilan Gus Zainal Abidin, kelompok Shalawat ini ada kesamaan kultur dengan warga NU khususnya Gus Maksum.Untuk menyudahi serangkaian acara yang dilaksanakan dalam haul ketiga Gus Maksum, pihak panitia memberikan suguhan kepada para undangan berupa 1000 nampan yang berisi nasi kuning dan lauk pauk ala pesantren. Nasi kuning dibagikan kepada undangan dan disantap secara berkelompok-seperti kebiasaan para santri ketika makan bersama-dalam tiap kelompok terdapat lebih dari tiga orang. Mereka ramai-ramai menyantap nasi kuning dengan penuh kesederhanaan. Gus Abidin mengatakan, “kebiasaan menyantap nasi kuning dinampan dengan cara bergerombol, menunjukkan akan kesederhanaan Gus Maksum semasa hidupnya, dan tidak lebih dari itu,” ujarnya. Setelah acara makan-makan selesai, pihak panitia menyudahi acara dengan pertunjukan tarung bebas yang dipertontonkan oleh para anggota perguruan Pagar Nusa dari berbagai wilayah. Warisan Gus MaksumPagar nusa adalah kelompok seni bela diri yang didirikan oleh Gus Maksum di pondok pesantren Lirboyo Kediri, dibawah naungan Nahdatul Ulama dengan mewadahi beberapa pencak silat di bebargai daerah di Indonesia. Pagar Nusa kini sudah dikenal banyak orang dengan anggotanya yang mencapai puluhan ribu orang, khususnya warga NU. Berkat jasa-jasa Gus Maksum selaku pendiri dan juga ketua umum yang disandang sampai akhir hayatnya. Maka tak ayal jika pagar nusa diindetikkan dengan Gus Maksum sebagai ikon kelompok pencak silat milik NU itu. Untuk melestarikan seni bela diri ini, Gus Maksum selalu mengadakan pertunjukan berupa tarung bebas, yakni pertarungan antara dua pendekar pagar nusa yang saling berduel satu lawan satu dengan tangan kosong. Meski ditinggal sang maestro, kini pagar Nusa selalu melestarikan tradisi tarung bebas itu. Hal ini bisa dilihat ketika acara haul Gus Maksum ke tiga di Lirboyo Kediri Minggu (6/8) yang lalu. Pertunjukan tarung bebas ini pun mendapat antusias dari para undangan dan santri yang hadir. Mereka bersorak-sorai sambil sesekali bertepuk tangan, ketika para pendekar–sebutan bagi anggota pagar nusa-saling menjatuhkan, bahkan tak jarang di antara para pendekar harus berdarah-darah dan patah tulang seperti yang terjadi pada haul ketiga Gus maksum beberapa hari lalu. Dengan diiringi tabuhan hadrah dan shalawat nabi, acara tarung bebas pun semakin terasa hikmatnya. Kini pagar nusa telah kehilangan ikonnya yang selama ini dijadikan panutan dan tempat bersandar. Akankah sosok Gus Maksum tergantikan dengan generasi selanjutnya ?. Makna HaulGus Maksum dikenal sebagai sosok yang jujur dan punya rasa keikhlasan tinggi. Ciri khasnya, Gus yang identik dengan rambut panjang itu, mempunyai banyak ilmu kejadugan. Konon, rambutnya bisa berubah menjadi api dan tak bisa dipotong, sehingga dikenal si rambut api.Kini Gus Maksum hanya tinggal kenangan dan petuah-petuahnya yang sering disampaikan pada keluarganya, yakni Gus Abidin salah satu keponakan yang dianggap sebagai penerus perjuangan Gus Maksum. Ketika sedang menghadapi beberapa wartawan, termasuk Posmo, Gus Abidin begitu bersahaja dengan sikap ketawaduan dan kata-katanya yang lembut, kemudian Gus yang masih muda ini menjelaskan maksud dari pelaksanaan Haul Ke tiga Gus Maksum. Bahwa peringatan ini semata-mata untuk mengenang perjuangan Gus Maksum semasa hidup, dan melestarikan rasa kejamaiyahan yang selalu didengungkan oleh Gus Maksum pada santrinya.Selain itu, juga menumbuhkan sikap sportifitas seperti yang ditujukkan para pendekar pagar nusa dalam tarung bebas. Karena dengan tradisi seperti ini, akan menumbuhkan sikap percaya diri bagi setiap orang, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt.Harapan Gus Abidin, semoga haul ke empat yang akan dilaksanakan tahun depan, lebih besar dan lebih hikmat, sehingga setiap orang akan terus mengenang sosok Gus Maksum yang bersahaja itu. Amin!
 
 
Nama Gus Maksum memang selalu identik dengan dunia persilatan, tentu kita tidak asing lagi dengan Nama “PAGAR NUSA” yaitu ikatan pencak silat Nahdlatul ulama yang dididirikan pada tanggal 3 januari 1986 di pondok pesantren Lirboyo oleh para kyai-kyia NU dan sekaligus mengukuhkan Gus Ma’sum sebagai ketuanya.
kh, Maksum jauhari
Gus Maksum lahir di Kanigoro, Kras, Kediri, pada tanggal 8 Agustus 1944, salah seorang cucu pendiri Pondok Pesantren Lirboyo KH Manaf Abdul Karim. Semasa kecil ia belajar kepada orang tuanya KH Abdullah Jauhari di Kanigoro. Ia menempuh pendidikan di SD Kanigoro (1957) lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Lirboyo, namun tidak sampai tamat. Selebihnya, ia lebih senang mengembara ke berbagai daerah untuk berguru ilmu silat, tenaga dalam, pengobatan dan kejadukan .
KH.MA’SUM JAUHARI (GUS MA’SUM SANG PENDEKAR)
Sebagai seorang kiai, Gus Maksum berprilaku nyeleneh menurut adat kebiasaan orang pesantren. Penampilannya nyentrik. Dia berambut gondrong, jengot dan kumis lebat, kain sarungnya hampir mendekati lutut, selalu memakai bakiak. Lalu, seperti kebiasaan orang-orang “jadug” di pesantren, Gus Maksum tidak pernah makan nasi alias ngerowot. Uniknya lagi, dia suka memelihara binatang yang tidak umum. Hingga masa tuanya Gus Maksum memelihara beberapa jenis binatang seperti berbagai jenis ular dan unggas, buaya, kera, orangutan dan sejenisnya.
Dikalangan masyarakat umum, Gus Maksum dikenal sakti mandaraguna. Rambutnya tak mempan dipotong (konon hanya ibundanya yang bisa mencukur rambut Gus Maksum), mulutnya bisa menyemburkan api, punya kekuatan tenaga dalam luar biasa dan mampu mengangkat beban seberat apapun, mampu menaklukkan jin, kebal senjata tajam, tak mempan disantet, dan seterusnya. Di setiap medan laga (dalam dunia persilatan juga dikenal istilah sabung) tak ada yang mungkin berani berhadapan dengan Gus Maksum, dan kehadirannya membuat para pendekar aliran hitam gelagapan. Kharisma Gus Maksum cukup untuk membangkitkan semangat pengembangan ilmu kanuragan di pesantren melalui Pagar Nusa.
Sebagai jenderal utama “pagar NU dan pagar bangsa” Gus Maksum selalu sejalur dengan garis politik Nahdlatul Ulama, namun dia tak pernah terlibat politik praktis, tak kenal dualisme atau dwifungsi. Saat kondisi politik memaksa warga NU berkonfrontasi dengan PKI Gus Maksum menjadi komandan penumpasan PKI beserta antek-anteknya di wilayah Jawa Timur, terutama karesidenan Kediri. Ketika NU bergabung ke dalam PPP maupun ketika PBNU mendeklarasikan PKB, Gus Maksum selalu menjadi jurkam nasional yang menggetarkan podium. Namun dirinya tidak pernah mau menduduki jabatan legislatif ataupun eksekutif. Pendekar ya pendekar! Gus Maksum wafat di Kanigoro pada 21 Januari 2003 lalu dan dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Lirboyo dengan meninggalkan semangat dan keberanian yang luar biasa.
  Pagar Nusa lahir sebagai bentuk keprihatinan para Kyai, ulama, pendekar serta tokoh-tokoh pencak silat terhadap pergeseran nilai pencak silat di dunia pesantren. “Pesantren kuno itu sekaligus padepokan silat,” kata Gus Maksum.
Gus Maksum Jauhari atau Mbah Maksum memang selalu identik dengan dunia persilatan, terutama “PAGAR NUSA” . Pagar Nusa merupakan Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama hasil musyawarah para Kyai, ulama, pendekar serta tokoh-tokoh pencak silat NU pada tanggal 12 Muharram 1406 H di PP.Tebuireng Jombang dan pada musyawarah kedua tanggal 3 Januari 1986 di pondok pesantren Lirboyo ditetapkan sebagai wadah para pesilat NU sekaligus mengukuhkan Mbah Ma’sum sebagai ketuanya.

Mbah Maksum lahir di Kanigoro, Kras, Kediri, pada tanggal 8 Agustus 1944, salah seorang cucu pendiri Pondok Pesantren Lirboyo KH Manaf Abdul Karim. Semasa kecil ia belajar kepada orang tuanya KH Abdullah Jauhari di Kanigoro. Ia menempuh pendidikan di SD Kanigoro (1957) lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Lirboyo, namun tidak sampai tamat. Selebihnya, ia lebih senang mengembara ke berbagai daerah untuk berguru ilmu silat, tenaga dalam, pengobatan dan kejadukan Sebagai seorang kiai, Mbah Maksum berprilaku nyeleneh menurut adat kebiasaan orang pesantren. Penampilannya nyentrik. Dia berambut gondrong, jengot dan kumis lebat, kain sarungnya hampir mendekati lutut, selalu memakai bakiak. Lalu, seperti kebiasaan orang-orang “nyleneh” di pesantren, Mbah Maksum tidak pernah makan nasi alias ngerowot. Uniknya lagi, dia suka memelihara binatang yang tidak umum. Hingga masa tuanya Mbah Maksum masih memelihara beberapa jenis binatang seperti berbagai jenis ular dan unggas, buaya, kera, orangutan dan sejenisnya.

Dikalangan masyarakat umum, Mbah Maksum dikenal sebagai orang yang pemberani dan rendah hati. Kerendahan hati Mbah Maksum dirasakan sendiri oleh penulis, saat penulis, adik penulis serta beberapa pesilat Pagar Nusa Unisma datang untuk sillaturahmi sekaligus hendak turun di ajang pencak Dor PP Lirboyo. Mbah Maksum dengan rendah hati mempersilakan rombongan kami untuk masuk, makan bersama dan memberikan nasehat-nasehat yang tidak terkesan “menggurui’. Kesan kerendahan hati Mbah Maksum ini semakin dalam di hati kami, manakala Mbah Maksum mengetahui bahwa adik penulis adalah warga tingkat I PSHT Madiun. Tidak ada perbedaan sikap Mbah Maksum ke adik penulis. Bahkan Mbah Maksum menyampaikan 4 hal kepada kami semua, yakni pentingnya persatuan diantara sesama pesilat Nusantara. Kedua, ajang pencak Dor adalah ajang kejujuran, artinya di atas panggung tidak melihat aliran namun yang dilihat adalah kemampuan dari individu pesilat itu sendiri. Ketiga, ajang pencak Dor dan budaya pencak Silat harus senantiasa dilestarikan sebagai wadah pembinaan mental bangsa. Selanjutnya pesan terakhir dari Mbah Maksum adalah para pesilat harus memiliki jiwa ksatria dan senantiasa berbakti kepada agama, nusa dan bangsa.
Keberanian dan kharisma Mbah Maksum tersebut seharusnya membangkitkan semangat pengembangan ilmu kanuragan dan pencak silat di pesantren maupun masyarakat, baik melalui wadah Pagar Nusa atau pun yang lain. Sebagai jenderal utama “pagar NU dan pagar bangsa” Mbah Maksum selalu sejalur dengan garis politik Nahdlatul Ulama, dia tak pernah terlibat politik praktis, tak kenal dualisme atau dwifungsi. Saat kondisi politik memaksa warga NU berkonfrontasi dengan PKI, Mbah Maksum menjadi komandan penumpasan PKI beserta antek-anteknya di wilayah Jawa Timur, terutama karesidenan Kediri. Ketika NU bergabung ke dalam PPP maupun ketika PBNU mendeklarasikan PKB, Gus Maksum selalu menjadi jurkam nasional yang menggetarkan podium. Namun dirinya tidak pernah mau menduduki jabatan legislatif ataupun eksekutif. Pendekar ya pendekar! Mbah Maksum wafat di Kanigoro pada 21 Januari 2003 lalu dan dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Lirboyo dengan meninggalkan semangat dan keberanian yang luar biasa.
Matur Nuwun Mbah Maksum, semoga semangatnya dapat ditiru oleh seluruh pesilat Nahdlatul Ulama yang ada dimana saja dan di “wadah ” apa pun. (dikutip oleh Rukma dari berbagai sumber)

5 komentar:

  1. ini tugas dari kakak senior 2012 di iain walisongo semarang sebagai tugas di kelas menjadi nam kelompok no16 nama kh agus maksum sauhuri menjadi tuga biografi opak 2012

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalamualaikum Salam sejahtera untuk kita semua,
      Saya adalah satu pengamal yang tinggal di Bekasi. Sengaja ingin menulis sedikit kesaksian untuk berbagi, barangkali ada teman-teman yang sedang kesulitan masalah keuangan, Awal mula saya mengamalkan Pesugihan Tanpa Tumbal karena usaha saya bangkrut dan saya menanggung hutang sebesar 750juta saya sters hamper bunuh diri tidak tau harus bagaimana agar bisa melunasi hutang saya, saya coba buka-buka internet dan saya bertemu dengan kyai ronggo, awalnya saya ragu dan tidak percaya tapi selama 3 hari saya berpikir, saya akhirnya bergabung dan menghubungi KYAI RONGGO KUSUMO kata Pak.kyai pesugihan yang cocok untuk saya adalah pesugihan penarikan uang gaib 3Milyar dengan tumbal hewan, Semua petunjuk saya ikuti dan hanya 1 hari Astagfirullahallazim, Alhamdulilah akhirnya 3M yang saya minta benar benar ada di tangan saya semua hutang saya lunas dan sisanya buat modal usaha. sekarang rumah sudah punya dan mobil pun sudah ada. Maka dari itu, setiap kali ada teman saya yang mengeluhkan nasibnya, saya sering menyarankan untuk menghubungi kyai ronggo kusumo di 082349356043 situsnya http://ronggo-kusumo.blogspot.co.id/ agar di berikan arahan. Toh tidak langsung datang ke jawa timur, saya sendiri dulu hanya berkonsultasi jarak jauh. Alhamdulillah, hasilnya sama baik, jika ingin seperti saya coba hubungi kyai ronggo kusumo pasti akan di bantu

      Hapus
  2. Assalamu Alaikum wr wb
    Mohon maaf sahabat Lukito nama lengkap Gus Maksum adalah KH.Muhammad Abdulloh Maksum Djauhari bukan KH Agus Maksum.
    Terima kasih (Pagar Nusa Ciklenteng)

    BalasHapus
  3. Sedikit berbagi pengalaman siapa tau bermanfaat
    Sudah berkali-kali saya mencari tempat yang menyediakan pesugihan, mungkin lebihdari 15 kali saya mencari paranormal mulai dari daerah jawa Garut, Sukabumi, cirebon, semarang, hingga pernah sampai kebali , namun tidak satupun berhasil, niat mendapat uangdengan jalan pintas namun yang ada malah kehabisan uang hingga puluhan juta, suatu hari saya sedang isengbuka-buka internet dan menemukan website dari ustad hakim, sebenarnya sayaragu-ragu jangan sampai sama dengan yang lainnya tidak ada hasil juga, saya coba konsultasikan dan bertanya meminta petunjuk pesugihan apa yang bagus dan cepat untuk saya, nasehatnya pada saya hanya di suruh YAKIN dan melaksanakan apa yang di sampaikan pak.ustad, Semua petunjuk saya ikuti dan hanya 1 hari Alhamdulilah akhirnya 2M yang saya tunggu-tunggu tdk mengecewakan, yang di janjikan cair keesokan harinya, kini sayasu dahmelunasi hutang-hutang saya dan saat ini saya sudah memiliki usaha sendiri di jakarta, setiap kali ada teman saya yang mengeluhkan nasibnya, saya sering menyarankan untuk menghubungi ustad.hakim bawazier di 085210335409 pasti akan di bantu, atau buka websitenya agar lebih di mengerti
    http://pesugihan-islami88.blogspot.co.id/

    BalasHapus