Sabtu, 14 Juli 2012

SEJARAH KABUPATEN KEBUMEN

Kabupaten Kebumen Sejarah Gelap, Mahapatih GajahMada, Ki Ageng Pemanahan, Sultan Agung Hanyakrakusuma, Amangkurat 1, Pangeran Diponegoro, KebumenFriday, April 22, 2011 2:14 PMSISI GELAP SEJARAH KEBUMEN
KABUPATEN KEBUMEN MASA LALU
KERAJAAN KEDIRI SITUS SENDANG KALASAN PANJER
MAHA PATIH GAJAH MADA DAN SITUS PAMOKSHANNYA DI PANJER
KI AGENG PEMANAHAN DAN PANJER
SULTAN AGUNG HANYAKRAKUSUMA DAN PANJER
SULTAN AMANGKURAT 1 DAN PANJER
TUMENGGUNG KALAPAAKING / KOLOPAKING
PANGERAN DIPONEGORO DAN PANJER
KELURAHAN KEBUMEN
PANGERAN BUMIDIRJO
KODIM 0709 KEBUMEN
PANCASILA MENDUNIA 2013

JUMAT KLIWON, 22 APRIL 2011
OLEH RAVIE ANANDA

Panjer adalah nama sebuah Desa/ Kelurahan yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah. Nama Panjer sendiri telah lama dikenal, jauh sebelum nama Kebumen itu ada, tepatnya sejak masa Pra Islam. Satu hal yang sangat disayangkan adalah “ Nyaris hilangnya riwayat Panjer Kuno baik dalam masyarakat di wilayah tersebut maupun dalam pengetahuan masyarakat Kabupaten Kebumen pada umumnya ”. Kurangnya perhatian dan pemeliharaan terhadap situs bangunan peninggalan bersejarah dan budaya masa lampau yang terdapat di daerah itu tentunya sangat memprihatinkan, mengingat Panjer adalah cikal bakal berdirinya Kabupaten Kebumen yang telah dikenal sejak 1000 tahun yang lalu sebagai salah satu wilayah yang diperhitungkan dalam ranah nasional. Beberapa Raja dan Tokoh Besar Nusantara pun menggunakan tempat ini sebagai pengungsian, penyepian, basis pertahanan militer bahkan Pamoksan mereka (Maha Patih Gajah Mada Moksha di tempat ini). Sebagai desa yang kini berbentuk kelurahan, Panjer tetap khas dengan rasa dan suasana masa lampaunya.

Panjer dari Masa ke Masa
A. Panjer zaman Kerajaan Kediri
Wilayah Panjer sebagai sebuah kadipaten/ Kerajaan telah dikenal dalam ranah nasional pada masa kerajaaan Kediri. Dalam Kitab “Babad Kedhiri“, disebutkan:
“ Babagan kadipaten Panjer dicritakake nalika Adipati Panjer sepisanan mrentah ing Panjer, duwe kekareman adu pitik. Sawijining dina nalika rame-ramene kalangan adu pitik ing pendhapa kadipaten, ana salah sijine pasarta sing jenenge Gendam Asmarandana, asale saka Desa Jalas. Gendam Asmarandana sing pancen bagus rupane kuwi wusana ndadekake para wanita kayungyun, kalebu Nyai Adipati Panjer. Nyai Adipati sing weruh baguse Gendam Asmarandana uga melu-melu kayungyun. Kuwi ndadekake nesune Adipati Panjer. Nalika Adipati Panjer sing nesu kuwi arep merjaya Gendam Asmarandana kanthi kerise, Gendam Asmarandana kasil endha lan suwalike kasil nyabetake pedhange ngenani bangkekane Adipati Panjer. Adipati Panjer sing kelaran banjur mlayu tumuju Sendhang Kalasan sing duwe kasiyat bisa nambani kabeh lelara. Nanging durung nganti tekan sendhang kasil disusul dening Gendam Asmarandana lan wusana mati. Gendam Asmarandana sing weruh Adipati Panjer mati banjur mlayu tumuju omahe nanging dioyak dening wong akeh. Gendam Asmarandana sing keweden banjur njegur ing Sendhang Kalasan. Wong-wong sing padha melu njegur ing sendhang, kepara ana sing nyilem barang, tetep ora kasil nyekel Gendam Asmarandana. Wong-wong ngira yen Gendam Asmarandana wus malih dadi danyang sing manggon ing sendhang kuwi. Sabanjure kanggo ngeling-eling kedadeyan kuwi digawe pepethan saka watu sing ditengeri kanthi aran Smaradana, mapan ing Desa Panjer ”.
B. Panjer sebagai Tempat Mokhsanya Maha Patih Gajah Mada.
Maha Patih Gajah Mada adalah salah satu tokoh termasyhur pada zaman Kerajaan Majapahit yang telah berhasil menyatukan Nusantara dengan Sumpah Palapanya. Dari berbagai literatur yang ada belum pernah didapati mengenai riwayat lengkap mengenai kelahirannya, keluarga dan kematiannya. Sosok Gajah Mada hingga kini menjadi suatu misteri bagi sejarah Nusantara. Akhir – akhir ini banyak bermunculan klaim terhadap lokasi kelahiran dari Maha Patih Gajah Mada, akan tetapi mengenai Pamokshannya ( tempat bertapanya Beliau hingga hilang dengan raganya seperti tradisi tokoh – tokoh besar Jawa jaman dahulu ) tidak pernah diketahui. Satu – satunya situs Pamokshan Gajah Mada yang sejak dahulu telah diketahui masyarakat pada zaman Mataram Islam adalah di Kabupaten Panjer. Situs tersebut kemudian dihilangkan bersama kompleks makam kuno yang ada di sana oleh Belanda dengan mengubahnya menjadi pabrik minyak kelapa Sari Nabati. Hal ini senasib dengan situs kerajaan Kediri yang kemudian diubah Belanda menjadi pabrik gula Mamenang Kediri. Pernah muncul klaim mengenai pamokshan Gajah Mada di suatu gua di balik sebuah air terjun di Jawa Timur. Klaim tersebut berdasar pada pemahaman sekelompok orang terhadap Gajah Mada yang disamakan dengan Patih Udara alias Patih Tunggul Maniq ( Patih Majapahit sebelum Gajah Mada ). Tentunya dasar landasan tersebut sangat tidak tepat jika mengacu pada literatur Dr. J. Brandes yang diturun dari kitab – kitab babad Jawa yang berhasil ditemukan oleh pemerintah Belanda pada waktu itu. Literatur Dr. J. Brandes menyebutkan sebagai berikut :
“ Kyai Patih Udara als kluizenaar Tunggulmaniq op den berg Mahameru; zijne 2 plichtkinderer : Ki Tanpa Una en Ni ( of Dewi ) Tanpa Uni de door Siung Wanara in de Karawang rivier geworpen vorst en vorstin van Pajajaran. Rijksbestuurdeerna Patih Udara vertrek : Patih Logender, diens broer, gehuwd met eene dochter van den Adipati van Gending……
Brawijaya – Patih Wirun
Bra Kumara – Patih Wahas ( zoon van Wirun ) en daarna Ujungsabata.
Ardiwijaya – Patih Jayasena ( zoon van Wahas, dipati van Kadiri)
Adaningkung of Kala Amisani – Patih Udara
Kencana Wungu – Patih Logender
Mertawijaya – Patih Gajah Mada
Angkawijaya – Patih Gajah Mada
……….

Dari uraian di atas sangat jelas bahwa Gajah Mada bukanlah Tunggul Maniq, sehingga Pamoksan Tunggul Maniq yang diklaim di Jawa Timur tersebut bukanlah Pamokshan Gajah Mada. Semakin kuat kiranya situs Pamoksan Gajah Mada yang berada di desa Panjer sebagai situs asli mengingat desa tersebut sejak jaman dahulu selalu menjadi tempat tokoh – tokoh besar Jawa mengungsi, bersemadhi, bersembunyi dan sebagai basis kekuatan militer serta pemerintahan darurat ketika kraton asli direbut oleh pemberontak.
C. Panjer Zaman Mataram Islam.
Mataram Islam adalah Kerajaan Mataram periode ke dua yang pada mulanya merupakan sebuah hutan lebat yang dikenal sebagai Alas Mentaok, wujud hadiah dari Hadiwijaya (Sultan Demak terakhir) kepada Ki Ageng Pemanahan atas jasanya dalam membunuh Arya Penangsang yang merupakan saingan besar Hadiwijaya dalam perebutan tahta Kerajaan Demak. Ki Ageng Pemanahan kemudian membabad hutan lebat tersebut dan menjadikannya sebuah desa yang diberinya nama Mataram. Alas Mentaok itu sendiri sebenarnya adalah bekas kerajaan Mataram Kuno yang runtuh sekitar tahun 929 M yang kemudian tidak terurus dan akhirnya dipenuhi oleh pepohonan lebat hingga menjadi sebuah hutan. Alas Mentaok mulai dibabad oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani sekitar tahun 1556 M. Ki Ageng Pemanahan memimpin desa Mataram hingga Ia wafat pada tahun 1584 M dan dimakamkan di Kotagedhe. Sepeninggal Ki Ageng Pemanahan, sebagai pengganti dipilihlah putranya yang bernama Sutawijaya/ Panembahan Senopati (Raja Mataram Islam pertama, dimakamkan di Kotagedhe).

Panembahan Senopati memerintah tahun 1587 – 1601 M. Ia digantikan oleh putranya yang bernama Raden Mas Jolang/ Sultan Agung Hanyakrawati (wafat tahun 1613 M dimakamkan di Kotagedhe). Sultan Agung Hanyakrawati digantikan putranya yang bernama Raden Mas Rangsang yang kemudian dikenal sebagai Sultan Agung Hanyakrakusuma (memerintah tahun 1613 – 1646 M). Sultan Agung Hanyakrakusuma digantikan oleh Putranya yang bernama Sultan Amangkurat Agung (Amangkurat I  memerintah pada tahun 1646 – 1677 M).
Di dalam “ Kidung Kejayaan Mataram Bait 04 “ (terjemahan Bahasa Indonesia) disebutkan secara Implisit mengenai keberadaan Panjer.
“ Demikianlah maka pada suatu hari yang penuh berkat
berangkatlah rombongan Ki Gedhe ke Alas Mataram
di situ ada di antaranya: Nyi Ageng Ngenis, Nyi Gedhe Pemanahan
Ki Juru Mertani, Sutawijaya, Putri Kalinyamat, dan pengikut dari Sesela
Ketika itu adalah hari Kamis Pon, tanggal Tiga Rabiulakir
yaitu pada tahun Jemawal yang penuh mengandung makna
Setibanya di Pengging rombongan berhenti selama dua minggu
Sementara Ki Gedhe bertirakat di makam Ki Ageng Pengging
Lalu meneruskan perjalanan hingga ke tepi sungai Opak
Dimana rombongan dijamu oleh Ki Gedhe Karang Lo
Setelah itu berjalan lagi demi memenuhi panggilan takdir
hingga tiba di suatu tempat, di sana mendirikan Kota Gedhe”

Ki Gedhe Karang Lo yang dimaksud dalam bait di atas adalah pemimpin daerah Karang Lo (kini masuk dalam wilayah Kecamatan Karanggayam). Ini artinya sebelum berdirinya Kerajaan Mataram Islam pun, Karang Lo yang dahulunya merupakan bagian wilayah dari Kadipaten/ Kabupaten Panjer telah dikenal dan diperhitungkan dalam ranah pemerintahan kerajaan pada waktu itu (Demak dan Pajang).

Teritorial Panjer Masa Lampau
Kerajaan Mataram Islam mengenal sistem pembagian wilayah berdasarkan jauh - dekat dan tinggi -  rendahnya suatu tempat, sehingga pada saat itu dikenallah beberapa pembagian wilayah kerajaan yakni:
1. Negara Agung
2. Kuta Negara
3. Manca Negara
4. Daerah Brang/ Sabrang Wetan
5. Daerah Brang/ Sabrang Kulon.

Masa Pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah masa keemasan Mataram. Ia memerintah dengan bijaksana, adil dan penuh wibawa, sehingga rakyat pada masa itu merasakan ketentraman dan kemakmuran. Menurut catatan perjalanan Rijklof Van Goens (Ia mengunjungi Mataram lima kali pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma) disebutkan bahwa:
“ Mataram di bawah Sultan Agung bagaikan sebuah Imperium Jawa yang besar dengan rajanya yang berwibawa. Istana kerajaan yang besar dijaga prajurit yang kuat, kereta sudah ramai, rumah penduduk jumlahnya banyak dan teratur rapi, pasarnya hidup, penduduknya hidup makmur dan tenteram. Kraton juga punya penjara, tempat orang – orang jahat pelanggar hukum dan tawanan untuk orang Belanda yang kalah perang di Jepara. Pada masa Sultan Agung inilah dikenal secara resmi adanya sebuah daerah lumbung pangan (padi) di Panjer dengan bupatinya bernama Ki Suwarno “.
Panjer termasuk dalam katagori daerah Mancanegara Bang/ Brang/ Sabrang Kulon. Jauh sebelum nama Kebumen itu ada, tepatnya di daerah Karang Lo/ wilayah Panjer Gunung (kini masuk dalam wilayah kecamatan Karanggayam), sudah terdapat penguasa kademangan di bawah Mataram (masa pemerintahan Panembahan Senopati sekitar tahun 1587 M). Di daerah tersebut, cucu Panembahan Senopati yang bernama Ki Maduseno (putra dari Kanjeng Ratu Pembayun (salah satu putri Panembahan Senopati) dengan Ki Ageng Mangir VI) dibesarkan. Ki Maduseno menikah dengan Dewi Majati dan kemudian berputra Ki Bagus Badranala (Bodronolo; makam di desa Karangkembang; dahulu masuk dalam wilayah Panjer Gunung). Ki Badranala adalah murid Sunan Geseng dari Gunung Geyong (Sadang Kebumen). Ia mempunyai peran yang besar dalam membantu perjuangan Mataram melawan Batavia pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma. Ki Badranala yang mempunyai jiwa nasionalis tinggi, membantu Sultan Agung dengan menyediakan lokasi untuk lumbung dan persediaan pangan dengan cara membelinya dari rakyat desa. Pada tahun 1627 M prajurit Mataram di bawah pimpinan Ki Suwarno mencari daerah lumbung padi untuk kepentingan logistik. Pasukan Mataram berdatangan ke lumbung padi milik Ki Badranala dan selanjutnya daerah tersebut secara resmi dijadikan Kabupaten Panjer di bawah kekuasaan Mataram. Sebagai Bupati Panjer, diangkatlah Ki Suwarno, dimana tugasnya mengurusi semua kepentingan logistik bagi prajurit Mataram. Karier militer Ki Badranala sendiri dimulai dengan menjadi prajurit pengawal pangan dan selanjutnya Ia diangkat menjadi Senopati dalam penyerangan ke Batavia.

Dibakarnya Lumbung Padi Panjer
Sejarah nasional menyebutkan bahwa kekalahan Sultan Agung Hanyakrakusuma disebabkan oleh dibakarnya lumbung – lumbung padi Mataram oleh Belanda, dimana lumbung terbesar pada saat itu adalah lumbung yang berada di Panjer (lokasi tersebut berada di dalam kompleks daerah yang kini menjadi Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati yang mempunyai luas sekitar 4 Ha). Peristiwa ini terjadi pada penyerangan Mataram yang ke tiga dan sekaligus menjadi peperangan terakhir Sultan Agung Hanyakrakusuma. Beliau wafat pada awal tahun 1645 M dan dimakamkan di Imogiri. Selanjutnya, pada masa Sultan Amangkurat I, Panjer berubah menjadi sebuah desa yang tidak sesibuk ketika masih dijadikan pusat lumbung padi Mataram pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Pembagian Wilayah Panjer
Panjer masa lalu dibagi dalam dua wilayah yaitu Panjer Roma (Panjer Lembah) dan Panjer Gunung. Ki Badranala diangkat menjadi Ki Gedhe Panjer Roma I atas jasanya menangkal serangan Belanda yang mendarat di pantai Petanahan. Putra tertua Ki Badranala yang bernama Ki Kertasuta bertugas sebagai Demang di wilayah Panjer Gunung, sedangkan adiknya yang bernama Ki Hastrasuta membantu ayahnya (Ki Badranala) di Panjer Roma. Ki Kertasuta kemudian diangkat menjadi Patih Bupati Panjer, Ki Suwarno. Ia dinikahkan dengan adik ipar Ki Suwarno dan berputra Ki Kertadipa. Ki Badranala menyerahkan jabatan Ki Gedhe Panjer Roma kepada anaknya (Ki Hastrasuta) yang kemudian bergelar Ki Gedhe Panjer Roma II. Beliaulah yang kemudian berjasa memberikan tanah kepada Pangeran Bumidirja / Ki Bumi ( paman Amangkurat I yang mengungsi ke Panjer sebab tidak sepaham dengan Sultan Amangkurat I ). Tanah tersebut terletak di sebelah Timur Sungai Luk Ula dengan panjang kurang lebih 3 Pal  ke arah Selatan dan lebar setengah ( ½ ) Pal ke arah Timur. Pangeran Bumidirja kemudian membuka tanah ( trukah ) yang masih berupa hutan tersebut dan menjadikannya desa. Desa inilah yang kemudian bernama Trukahan (berasal dari kata dasar Trukah yang berarti memulai). Seiring berjalannya waktu nama desa Trukahan kini hanya menjadi nama padukuhan saja (sekarang masuk dalam wilayah kelurahan Kebumen). Riwayat desa Trukahan yang kemudian berubah menjadi Kelurahan Kebumen pun kini nyaris hilang, meskipun Balai Desa / Kelurahan Kebumen hingga kini berada di daerah tersebut.
Kutipan dari “ Babad Kebumen “ menyebutkan:
“ Kanjeng Pangeran Bumidirdja murinani sanget sedanipun Pangeran Pekik, sirna kasabaranipun nggalih, punapadene mboten kekilapan bilih Negari Mataram badhe kadhatengan bebendu. Puntonipun nggalih, Kanjeng Pangeran Bumidirdja sumedya lolos saking praja sarta nglugas raga nilar kaluhuran, kawibawan tuwin kamulyan.
Tindakipun Sang Pangeran sekaliyan garwa, kaderekaken abdi tetiga ingkang kinasih. Gancaring cariyos tindakipun wau sampun dumugi tanah Panjer ing sacelaking lepen Luk Ula. Ing ngriku pasitenipun sae lan waradin, toyanipun tumumpang nanging taksih wujud wana tarabatan.
Wana tarabatan sacelaking lepen Luk Ula wau lajeng kabukak kadadosaken pasabinan lan pategilan sarta pakawisan ingkang badhe dipun degi padaleman…..
Kanjeng Pangeran Bumidirdja lajeng dhedhepok wonten ing ngriku sarta karsa mbucal asma lan sesebutanipun, lajeng gantos nama Kyai Bumi…..
Sarehning ingkang cikal bakal ing ngriku nama Kyai Bumi, mila ing ngriku lajeng kanamakaken dhusun Kabumen, lami – lami mingsed mungel Kebumen.
Dhusun Kebumen tutrukanipun Kyai Bumi wau ujuripun mangidul urut sapinggiring lepen Luk Ula udakawis sampun wonten 3 pal, dene alangipun mangetan udakawis wonten ½ pal ”.

Dalam Babad Kebumen memang tidak terdapat cerita mengenai desa Trukahan, akan tetapi jika dilihat dari segi Logika Historis yang dimaksud dengan Desa / Dhusun Kabumian adalah Trukahan. Hal ini dapat ditelusuri berdasarkan Logika Historis antara lain :
1. Wilayah dan nama Trukahan sejak pra kemerdekaan hingga kini masih tetap ada, dimana Balai Desa / Kelurahan Kebumen dan Kecamatan Kebumen berada dalam wilayah tersebut ( sedangkan Pendopo Kabupaten masuk dalam wilayah Kutosari ).
2. Makam / Petilasan Ki Singa Patra yang sebetulnya merupakan Pamokshan, sebagai situs yang hingga kini masih terawat dan diziarahi baik oleh warga setempat maupun dari luar Kebumen ( meskipun belum diperhatikan oleh Pemerintah baik Kelurahan maupun Kabupaten ) adalah makam tertua yang ada di kompleks pemakaman Desa Kebumen. Singa Patra adalah sosok tokoh yang nyaris hilang riwayatnya, meskipun namanya jauh lebih dikenal oleh warga Kelurahan Kebumen sejak jaman dahulu kala dan diyakini sebagai tokoh yang menjadi cikal bakal Desa Trukahan masa lampau ( bukan Ki  Bumi ). Tokoh ini hidup lebih awal dibandingkan masa kedatangan Badranala, sebab Beliau ( Badranala ) yang hidup pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah pendatang di desa Panjer ( Lembah / Roma ). Beliau sendiri berasal dari daerah Karang Lo ( yang dahulu masuk dalam wilayah Panjer Gunung ). Sebagai seorang pendatang yang kemudian berdiam di Panjer Roma, Badranala memperistri Endang Patra Sari. Endang adalah sebutan kehormatan bagi perempuan Bangsawan. Hal ini bisa kita lihat pada situs pemakaman Ki Badranala di desa Karangkembang dimana terdapat beberapa makam yang menggunakan Klan / Marga Patra, dimulai dari Istri Badranala sendiri, hingga beberapa keturunannya.
3. Hilangnya babad Trukahan dan riwayat Ki Singa Patra dimungkinkan adanya kepentingan politik penguasa waktu itu. Terlebih riwayat Babad Kebumen baru diterbitkan pada tahun 1953 di Praja Dalem Ngayogyakarta Hadiningrat oleh R. Soemodidjojo ( seorang keturunan KP. Harya Cakraningrat / Kanjeng Raden Harya Hadipati Danureja ingkang kaping VI, Pepatih Dalem ing Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ), yang notabene bukan warga asli bahkan mungkin tidak pernah sama sekali tinggal di Panjer ataupun Trukahan / Kebumen. Dengan kata lain, warga Kelurahan Kebumen baru mengenal sosok Bumidirdja semenjak diterbitkannya riwayat Babad Kebumen yang kini lebih populer dengan adanya media Internet.
4. Kurun waktu Mataram Sultan Agung Hanyakrakusuma jelas lebih tua daripada Bumidirja. Sedangkan Ki Badranala yang kemudian bermukim di Panjer saat itu telah memperistri perempuan dari Klan Patra ( yang mengilhami nama sebuah Hotel di Kota Kebumen ).
5. Menurut “ Sejarah Kebumen dalam Kerangka Sejarah Nasional “ yang ditulis oleh Dadiyono Yudoprayitno ( Mantan Bupati Kebumen ) disebutkan bahwa Pangeran Bumidirdja membuka tanah hasil pemberian Ki Gedhe Panjer Roma II / Ki Hastrosuto ( anak Ki Badranala ). Riwayat ini pun tidak disebutkan dalam Babad Kebumen. Riwayat yang lebih terkenal sampai saat ini adalah riwayat yang ditulis oleh R. Soemodidjojo yang notabene bukan warga asli dan bahkan mungkin belum pernah tinggal di Kebumen, dimana diceritakan bahwa Kebumen berasal dari kata Ki Bumi yang merupakan nama samaran dari Pangeran Bumidirja yang kemudian trukah di tepi sungai Luk Ula, sehingga kemudian tempat tersebut dinamakan Kebumian.
6. Pasar Kebumen, pada awalnya berada di wilayah Trukahan, tepatnya di daerah yang kini menjadi kantor Kecamatan Kebumen hingga kemudian pindah ke daerah yang kini menjadi pasar Tumenggungan. Maka daerah di sekitar bekas pasar lama tersebut sampai sekarang masih bernama Pasar Pari dan Pasar Rabuk, karena memang lokasi pasar lama telah menggunakan sistem pengelompokan.
7. Adanya pendatang setelah dibukanya tanah / trukah seperti yang disebutkan dalam Babad Kebumen yang kemudian bermukim, juga bisa diperkirakan mendiami daerah yang kini bernama Dukuh. Hal ini dimungkinkan dengan sebutan nama Dukuh yang telah ada sejak lama.
Asal Mula Nama Tumenggung Kalapaking
Datangnya Pangeran Bumidirdja di Panjer, menimbulkan kekhawatiran Ki Gedhe Panjer Roma II dan Tumenggung Wangsanegara Panjer Gunung karena Pangeran Bumidirdja saat itu dinyatakan sebagai buronan Kerajaan. Akhirnya Ki Gedhe Panjer Roma II dan Tumenggung Wangsanegara memutuskan untuk meninggalkan Panjer dan tinggallah Ki Kertawangsa yang dipaksa untuk tetap tinggal dan taat pada Mataram. Ia diserahi dua kekuasaan Panjer dan kemudian bergelar Ki Gedhe panjer Roma III. Dua Kekuasaan Panjer (Panjer Roma dan Panjer Gunung) membuktikan bahwa Panjer saat itu sebagai sebuah wilayah berskala luas sehingga dikategorikan dalam daerah Mancanegara Brang Kulon.

Pada tanggal 2 Juli 1677 Trunajaya berhasil menduduki istana Mataram di Plered yang ketika itu diperintah oleh Sultan Amangkurat Agung (Amangkurat I). Sebelum Plered dikuasai oleh Trunajaya, Sultan Amangkurat Agung dan putranya yang bernama Raden Mas Rahmat berhasil melarikan diri ke arah Barat. Dalam pelarian tersebut, Sultan Amangkurat Agung jatuh sakit. Beliau kemudian singgah di Panjer (tepatnya pada tanggal 2 Juni 1677) yang pada waktu itu diperintah oleh Ki Gedhe Panjer III. Sultan Amangkurat I diobati oleh Ki Gedhe Panjer III dengan air Kelapa Tua (Aking) karena pada waktu itu sangat sulit mencari kelapa muda. Setelah diobati oleh Ki Gedhe Panjer III, kesehatan Sultan Amangkurat I berangsur membaik. Beliau kemudian menganugerahi gelar kepada Ki Gedhe Panjer III dengan pangkat Tumenggung Kalapa Aking I (Kolopaking I, sebagai jabatan Adipati Panjer I (1677 – 1710). Tumenggung Kalapaking I digantikan oleh putranya dan bergelar Tumenggung Kalapaking II (1710 – 1751), dilanjutkan oleh Tumenggung Kalapaking III (1751 – 1790) dan Tumenggung kalapaking IV (1790 – 1833 )). Setelah merasa pulih, Sultan Amangkurat Agung melanjutkan perjalannya menuju ke Barat, akan tetapi sakitnya ternyata kambuh kembali dan akhirnya Beliau wafat di desa Wanayasa (Kabupaten Banyumas) tepatnya pada tanggal 13 Juli 1677. Menurut Babad Tanah Jawi, kematian Sultan Amangurat Agung dipercepat oleh air kelapa beracun pemberian Raden Mas Rahmat (putranya sendiri yang menyertai Beliau dalam pelarian). Sesuai dengan wasiatnya, Beliau kemudian dimakamkan di daerah Tegal Arum (Tegal) yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Tegal Wangi. Sementara itu tampuk kepemimpinan Panjer periode Kolopaking hanya berlangsung hingga Kalapaking IV dikarenakan adanya suksesi di Panjer pada waktu itu antara Kalapaking IV dan Arungbinang IV yang berakhir dengan pembagian wilayah dimana Trah Kalapaking mendapat bagian di Karanganyar dan Banyumas, sedangkan Arungbinang tetap di Panjer. Suksesi inilah yang mengakibatkan kematian Kalapaking IV setelah peristiwa penyerbuan Kotaraja Panjer oleh Belanda yang bekerjasama dengan Arungbinang IV karena Kalapaking IV mendukung Pangeran Diponegoro yang sebelumnya sempat menyusun kekuatan pasukan di daerah tersebut. Sejak pemerintahan Arungbinang IV inilah Panjer Roma dan Panjer Gunung digabung menjadi satu dengan nama Kebumen. Untuk memantapkan kedudukan setelah kemenangannya atas peristiwa pembagian wilayah, Arungbinang IV mendirikan Pendopo Kabupaten baru yang kini menjadi Pendopo dan Rumah Dinas Bupati Kebumen lengkap dengan alun -alunnya. Adapun Pendopo Kabupaten lama / Kabupaten Panjer kemungkinan berada di lokasi Pabrik Minyak Sari Nabati Panjer, dengan memperhatikan tata kota yang masih ada ( seperti yang penulis paparkan dalam sub judul  Metamorfosis Panjer ) dan luas wilayah Pabrik yang mencapai sekitar 4 Ha, serta adanya pohon – pohon Beringin tua yang dalam sistem Macapat digunakan sebagai simbol suatu pusat pemerintahan kota zaman kerajaan. Begitu juga dengan Tugu Lawet yang pada awalnya merupakan tempat berdirinya sebuah Pohon Beringin Kurung (yang kemudian ditebang dan dijadikan Tugu Lawet ), dimana di sebelah Utaranya adalah Kamar Bola (gedung olahraga, pertunjukan dan dansa bagi orang Belanda) serta lokasi pasar Kebumen lama yang pada awalnya berada di wilayah Trukahan ( pusat pasar rabuk berada di sebelah Timur Balai Desa Kebumen, pasar lama berada di sebelah Utara klenteng, sub pasar rabuk berada di sebelah Utara pasar lama, pasar pari / padi  berada di sebelah Selatan klenteng dan pasar burung yang tadinya merupakan Gedung Bioskup Belanda sebelum dihancurkan dan kemudian didirikan  gedung Bioskup Star lama di sebelah Timur Tugu Lawet ( sumber : wawancara tokoh sepuh desa Kebumen )), semakin menguatkan bahwa pusat pemerintahan Kabupaten Panjer / Kebumen tempo dulu adalah di desa Panjer dan Trukahan. Hal ini sesuai juga dengan kurun waktu berdirinya Masjid Agung Kauman Kebumen yang didirikan oleh KH. Imanadi pada masa pemerintahan Arungbinang IV (setelah masa Diponegoro) yang membuktikan bahwa berdirinya Pendopo Kabupaten Kebumen dan Masjid Agung Kauman di wilayah Kutosari merupakan pindahan dari pusat kota lama di Panjer.

D. Panjer sebagai Tempat Persembunyian, Bersemadhi dan Penyusunan Strategi Perang Pangeran Diponegoro

Pecahnya perang Diponegoro pada tanggal 20 juli 1825 meluas sampai ke wilayah Kedu, Bagelen, Banyumas, Tegal dan Pekalongan. Pada tanggal 21 Juli 1826 datanglah utusan Pangeran Diponegoro ke Kotaraja Kabupaten Panjer ( lokasi Kotaraja tersebut kini berada di kompleks eks pabrik minyak kelapa Sari Nabati Panjer, sedangkan lokasi Kodim 0709 Kebumen dahulunya dinamakan Kebun Raja atau Taman Raja karena disitulah taman/kebun Kabupaten Panjer berada). Utusan Pangeran Diponogoro tersebut bernama Senopati Sura Mataram dan Ki Kertodrono  (Adipati Sigaluh Karanggayam). Kedatangan mereka di Panjer Roma disambut oleh Tumenggung Kalapaking IV, Senopati Somawijaya dan Banaspati Brata Jayamenggala (nama asli Mbah Jamenggala yang akhirnya dihukum gantung oleh Belanda di tengah alun – alun Kebumen karena mendukung Pangeran Diponegoro). Bersamaan dengan utusan tersebut, datang pula tamu dari Kradenan yaitu Ki Cakranegara. Mereka kemudian mengadakan perundingan dengan keputusan untuk membantu Perjuangan Pangeran Diponegoro yang sedang melawan Belanda. Adipati Panjer Roma ( Tumenggung Kalapaking IV ) bertugas menyediakan logistik pangan, dan persenjataan untuk para prajurit Panjer Roma yang dipimpin oleh Senopati Gamawijaya.
Pada tanggal 19 November 1826 terjadi perang besar di Purworejo antara Belanda melawan Pangeran Diponegoro yang pada saat itu dibantu oleh prajurit Banyumas. Dalam perang tersebut Pangeran Diponegoro jatuh sakit sehingga pasukan Banyumas mundur dan bersembunyi di benteng Sokawarna. Pangeran Diponegoro sendiri bersembunyi di sebuah gua selama beberapa hari hingga pulih. Setelah sembuh dari sakitnya, Pangeran Diponegoro segera berangkat ke Kotaraja Panjer untuk menyusun strategi dan kekuatan bersama Tumenggung Kalapaking IV. di sana pulalah Beliau selama 3 hari bersemadhi  di kompleks makam kuno dan Pamokshan Maha Patih Gajah Mada yang dari dahulu telah menjadi salah satu tempat semadi para tokoh – tokoh Mataram ( Lokasi tempat pertemuan dan peristirahatan sementara Pangeran Diponegoro itu kini menjadi taman kanak – kanak PMK Sari Nabati. Di tempat itu pula lah kuda tunggangan Beliau beristirahat sementara Pangeran Diponegoro bersemadhi di Pamokshan Maha Patih Gajah Mada yang kini terbengkalai, bahkan dijadikan gudang kursi – kursi rongsokan oleh pengelolanya).

Keberadaan Pangeran Diponegoro di Kotaraja Panjer ternyata tercium juga oleh Belanda. Beliau berhasil meloloskan diri dari Kotaraja Panjer sebelum daerah tersebut diserbu oleh Belanda yang bekerjasama dengan Adipati Arungbinang IV. Penyerbuan terhadap Kotaraja Panjer itu sendiri dilakukan secara besar – besaran dari tiga jurusan ( dari arah timur, selatan, dan barat )yang mengakibatkan tewasnya Tumenggung Kalapaking IV akibat terluka cukup parah dalam pertempuran tersebut.
Metamorfosis Historis Panjer
Seiring berjalannya waktu dan berkuasanya Belanda di Indonesia, Panjer juga tidak luput dari kekuasaan Belanda. Panjer tetap dijadikan basis pemerintahan oleh Pemerintah Belanda karena lokasinya yang sangat strategis ( meskipun sejarah masa lalu itu telah hilang ). Hal ini dapat kita lihat dari sisi genetik historisnya dimana Panjer sampai saat ini adalah suatu desa / kelurahan yang lengkap dengan fasilitas – fasilitas yang dibangun oleh Belanda jauh sebelum kemerdekaan, seperti: Stasiun Kereta Api, Rumah Sakit ( dahulu dikenal dengan nama Sendeng; berasal dari kata Zending yang berarti politik penyebaran agama Pemerintah Kolonial Belanda dengan cara pertolongan kesehatan ), Gedung Pertunjukan, Pertahanan Militer, Perumahan Belanda yang lebih dikenal dengan nama KONGSEN ( berasal dari kata Kongsi ), Taman Kanak – Kanak yang dahulunya merupakan tempat pendidikan dan bermain bagi anak – anak para Pejabat Belanda yang tinggal di wilayah tersebut, serta Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati ( yang hingga kini menjadi milik Perusda Propinsi Jateng yang tutup sekitar tahun 1985 ). Pergantian kekuasaan sejak zaman Mataram Islam, Kolonial Belanda, hingga Pemerintahan NKRI ternyata tidak mempengaruhi perubahan desa Panjer dari segi Substansi dan Genetik Historis. Hal ini dapat kita lihat dengan sebuah pembanding sebagai berikut :
Panjer Zaman Kediri
Pada saat itu Panjer telah dikenal sebagai sebuah Kadipaten yang besar dan ramai.

Panjer Zaman Majapahit
Maha Patih Gajah Mada yang konsisten dengan Sumpah Palapanya memilih mokhsa di tempat ini, jauh dari pusat kerajaan Majapahit di Trowulan.

Panjer Zaman Pajang
Ki Gedhe Karang lo yang menjamu Ki Ageng Pemanahan dan Rombongannya sebelum mendirikan Desa Mataram yang kemudian menjadi Kerajaan Mataram Islam membuktikan bahwa Panjer telah menjadi suatu daerah yang memiliki kedaulatan konvensional dalam rahan pemerintahan saat itu.

Panjer Zaman Sultan Agung 
1. Sebagai Lumbung padi, Pusat Logistik serta basis militer  Pasukan Mataram
2. Sebagai Kotaraja Kabupaten Panjer (yang tentunya telah memiliki kelengkapan fasilitas seperti kesehatan, transportasi, budaya, ekonomi, pendidikan dan lain – lain meskipun masih bersifat sederhana)
3. Sebagai Basis Militer Mataram

Panjer Zaman Kolonial Balanda (kemudian diteruskan oleh Jepang)
1. Sebagai Pusat logistik yakni dengan didirikannya Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati ( seluas 4 Ha ).
2. Sebagai desa yang memiliki berbagai fasilitas seperti Transportasi ( dengan didirikannya stasiun ), Perumahan Belanda ( lebih dikenal dengan sebutan Kongsen lengkap dengan sarana dan prasarananya baik sarana pendidikan anak – anak, Kesehatan ( Zending / Sendeng ) gedung Pertunjukan ( Gedung Bioskup Gembira ), gedung olahraga dan aula yang terdapat di dalam lokasi pabrik, dan lain - lain.
3. Basis Militer Belanda

Panjer Zaman Kemerdekaan
1. Sebagai Pusat Logistik ; dengan didirikannya Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati oleh Belanda yang setelah tutup sekitar tahun 1985 kemudian beralih fungsi sebagai gudang penampungan tebu sementara sebelum diolah menjadi gula pasir di Pabrik Gula Yogyakarta; disewakan kepada pabrik rokok untuk menampung cengkeh ( sekitar tahun 1989 ), disewakan sebagai gudang penyimpanan bijih Plastik ( sekitar tahun 1990 ), disewakan sebagai gudang beras Bulog, disewakan sebagai lahan perkebunan semangka; disewakan sebagai kantor Pajak; disewakan sebagai tempat penyimpanan sementara alat – alat berat kesehatan RSU; Sebagai tempat penampungan sementara Kompor dan tabung gas dalam rangka program konversi gas pada tahun 2009.
2. Terdapatnya pusat transportasi Kereta Api (stasiun Kereta Api Kebumen)
3. Bertempatnya Markas TNI /  Kodim Kebumen
4. Terdapatnya tempat pertunjukan Film (gedung Bioskop Gembira, yang kini telah dibangun dan dialihkan fungsi)
5. sebagai tempat RSUD Kebumen
6. Terdapatnya tempat pendidikan Taman Kanak - Kanak PMK Sari Nabati
7. Terdapatnya Lapangan Tenis dan Bulutangkis, serta menjadi tempat latihan Beladiri berbagai Perguruan yang ada di wilayah Kebumen (sekitar tahun 1990 an)
8. terdapatnya Perumahan Nabatiasa
9. Pernah didirikan pula sekolah SLTP/ MTS Sultan Agung
10. Berdiri pula PGSD sebagai cabang dari Universitas Sebelas Maret
11. dan lain – lain.

Dilihat dari fakta – fakta di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Panjer dari masa ke masa tidak memiliki perubahan fungsi, hanya saja terus menyesuaikan dengan perkembangan peradaban dan budaya.

Perbaikan Situs Pamokshan dan Pertabatan
Setelah terkubur sejarahnya selama beberapa abad, akhirnya Situs Pamokshan Gajah Mada dan Pertabatan Panjer dihidupkan kembali dan dirawat oleh para pemuda dan tokoh masyarakat setempat. Bukti – bukti tertulis dari kitab – kitab dan babad – babad serta literatur yang ada pun telah dikumpulkan, disamping petunjuk yang diperoleh dari sasmita para leluhur yang menemui saat bertirakat sebelum kegiatan perbaikan situs tersebut dimulai. Pembersihan dan perbaikan situs dimulai pada hari selasa Kliwon tanggal 12 April 2011. Sejak saat itulah situs berharga di Panjer yang telah telah dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah oleh masyarakat setempat akibat ketidaktahuan mereka itu kembali muncul. Situs yang dahulu kala menjadi salah satu Pancernya Panjer kembali muncul dari pengkebumiannya.
Bangsa Yang Besar adalah bangsa yang mengenal kepribadiannya serta selalu mengingat dan menghargai jasa para pendahulunya dengan mengenal dan menjaga sebaik mungkin sejarahnya, serta melestarikan budaya warisannya. Bangsa Yang Besar selalu menyimpan Rahasia Kejayaannya dalam Pekuburan Tulang Naga ( kebudayaan adalah kuburan “Rahasia Kejayaan” para leluhur ). Meski kebenaran yang hakiki tidak akan pernah bisa dipastikan, menjaga sejarah, kesenian dan budaya adalah wujud dari cinta tanah air dan bangsa. Semoga desa Panjer yang penuh sejarah tersebut segera mendapat perhatian yang serius dari pemerintah dan pihak – pihak yang terkait lainnya, dalam rangka menghidupkan kembali Kearifan Budaya Lokal. Situs Kerajaan Panjer Kuno yang senasib dengan situs kerajaan Kediri milik Prabu Jayabaya tersebut (kedua situs kerajaan tersebut dihapus jejaknya oleh VOC dengan diubah menjadi Pabrik : Pabrik Gula Mamenang untuk Situs Kediri dan Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati untuk Situs Panjer) sangat memungkinkan untuk dikembangkan dengan menjadikan puing – puing Pabrik Sari Nabati menjadi tempat wisata sejarah dan spiritual layaknya Benteng Vander Wijk Gombong yang pastinya akan menambah aset pariwisata dan pemasukan bagi Kabupaten Kebumen. Panjer yang menyimpan sejarah kebesaran masa lalu mungkin bisa dikebumikan dan dikuburkan riwayatnya akan tetapi Panjer sebagai tempat para leluhur bersemayam akan tetap abadi dayanya mendukung Jejer/ Lenggahnya Pancasila. Panjer yang mengandung makna Pancasila Jejer akan selalu ikut mendayai bangsa demi kembalinya wahyu Pancasila yang akan mendamaikan dunia. Semoga keluhuran Pancasila segera lenggah dan semoga semua yang menghalang – halangi murube daya kaluhuran Pancasila segera binengkas oleh Tuhan Yang Maha Esa melalui daya alam dan para leluhur bangsa.

Salam Pancasila!

Buku Pengantar ini ditulis oleh :
R. Ravie Ananda, S. Pd.
Jln. Garuda 13 Kebumen Jawa - Tengah Indonesiamembongkar rahasia kubur para leluhur tanah dhawa NKRITuesday, August 24, 2010 2:31 PMMembongkar Rahasia Kubur Para Leluhur Penguasa Tanah Dhawa NKRI
yang Nyaris Hilang dari Sejarah
Oleh Sayyid R. Ravie Ananda

Kebumen, Slasa Wage 23 Agustus 2010
Peninggalan para Leluhur Tanah Dhawa NKRI selain candi, pusaka, dan harta adalah karya sastra. Karya sastra Masa Lalu yang beraneka ragam selalu mempunyai maksud tersembunyi yang jarang sekali bisa ditangkap jika para pembaca saat ini hanya melihat dan mempelajari dari bentuk fisiknya saja, tanpa mempelajari pola kehidupan dan spiritual masa lalu Tanah Dhawa. Hal ini menimbulkan kesalahan tafsir dan bahkan hilangnya sejarah asli Tanah Dhawa. Belum lagi adanya bangsa pendatang yang sengaja mengubah babad asli demi kepentingan kekuasaannya di Tanah Dhawa yang sebelumnya telah misuwur ini. Mengapa para Leluhur kita selalu menaruh maksud tersembunyi dalam setiap karya sastra baik babad maupun kidung – kidungnya? Jawabnya adalah “ Karena Kesantunan Masa Lalu dimana sudah menjadi budaya bahwa mengungkapkan sesuatu secara langsung merupakan suatu hal yang tidak sopan “. Inilah faktor utama yang sebenarnya harus diperhatikan oleh para peneliti Sastra Jawa, sehingga mereka tidak hanya dituntut untuk ahli dalam hal baca tulis Jawa dan sastra Jawa Kuno saja, melainkan diperlukan juga kejelian dan pengetahuan yang luas serta nglakoni Jawane ( baik tradisinya, ilmunya, tirakatnya, maupun keyakinannya terhadap Tuhan dan kehidupan ).
Penulis akan berusaha mengupas sedikit Sejarah Tokoh Luhur kita yang nyaris hilang, bahkan ada di antaranya yang telah hilang sama sekali dari catatan sejarah Tanah Dhawa. Tokoh sejarah tersebut terdapat dalam Kidhungan Padanghyangan yang kini benar – benar hanya diketahui oleh mayoritas masyarakat Jawa dan para ahli sastranya sebagai suatu cerita nyata ( sesungguhnya tanpa memuat maksud yang sangat lain di dalamnya ) atau bahkan kemudian dijadikan suatu mantra tak berdasar untuk mengusir mahluk halus ( suatu hal yang klenik dan sangat menyedihkan ).
Semoga Yang Kuasa segera mengembalikan keluhuran bangsa ini
Semoga Para Leluhur berkenan penulis buka kesejatiannya

KIDHUNGAN PADANGHYANGAN
Kidhungan Padanghyangan berarti nyanyian yang menceritakan para leluhur ( penguasa ; Padang berarti terang / menerangkan, Hyang ( an ) berarti Luhur / Keluhuran, menerangkan keluhuran ) , kidung ini sebenarnya memberitahukan dan menerangkan nama – nama penguasa di Jawa pada masa lampau beserta keluhurannya secara tersirat. Akan tetapi karena kehalusan sastra penulisnya yang menggunakan sandi / bahasa kiasan maka tokoh – tokoh yang disebutkan dalam kidung tersebut sampai saat ini hanya dianggap sebagai mahluk halus ( bukan tokoh manusia ). Sesungguhnya pada awal judul, oleh si penulis kidung telah disertakan kunci pemahaman akan tetapi karena sifatnya yang sangat halus yakni dengan menyebutkan mereka semua sebagai ratunya lelembut di berbagai daerah, akhirnya terciptalah pencitraan luar bahwa mereka juga termasuk lelembut. Tokoh – tokoh yang tercitra sebagi lelembut dalam kidung ini memang akhirnya tergolong sebagai Gaib ( Bangsa Halus ) dikarenakan mereka memilih jalan Moksha / Rijalulghaib / Nyiluman pada akhir hidupnya ( bukan mati meninggalkan raganya ), akan tetapi yang perlu diingat bahwa pada awalnya mereka adalah manusia linuwih, tokoh linuwih di daerah masing – masing yang tentunya tidak bisa terlepas dari balutan sejarah yang akhirnya kini pun hilang. Sejarah – sejarah yang telah hilang inilah yang mayoritas menyimpan bukti keagungan Tanah Dhawa NKRI masalalu dimana akhirnya ketika bagian – bagian dari kebudayaan yang hilang tersebut muncul, kemudian menjadi korban penyelewengan sejarah oleh para ahli yang berkuasa ( sebab kurangnya pemahaman mereka terhadap sisi non materi ). Maka terciptalah kejayaan sebuah wangsa Mataram Kuno ( sebab selalu dan selalu setiap ada penemuan situs, candi, dan yang lainnya yang sangat dimungkinkan semua itu berasal dari masa jauh sebelum masehi, semua dikebiri menjadi benda – benda Mataram Kuno ). Sangat tragis sekali tentunya. Sejarah Asli Tanah ini semakin terkubur.

KIDHUNGAN PADANGHYANGAN
Para ratuning lelembut ing nungsa Jawa
Kinidungake sinom
1. Apuranen sun angetang, lelembut sanungsa Jawi, kang rumeksa ing nagara, para ratuning dedemit, agung sawabe ugi, yen apal sadayanipun, apan dadya tetulak, kinarya tunggu wong sakit, kayu aeng lemah sangar dadi tawa.
Maafkan aku menghitung lelembut ( sesuatu yang bersifat lembut / halus / rahasia / samar ) seluruh pulau Jawa yang berkuasa di Negara, para ratunya dedemit, besar dayanya juga, jika hafal semuanya, bisa dijadikan penolak, bisa juga untuk menunggu orang sakit, kayu angker tanah mengerikan jadi tawar ( Ravie Ananda )

2. Kang rumiyin ing bang wetan, Durganeluh Maospahit aran raja Bahureksa, iku ratuning dedemit, Balambangan winarni, awasta pun Balabatu, kang rumeksa Blambangan, Buta Locaya Kediri, pun Sikorep lelembut ing Panaraga.
Yang pertama di sebelah timur, Durganeluh Majapait bernama Raja Bahureksa, itu ratunya dedemit, Balambangan bermacam – macam, yang dikenal yaitu Balabatu yang menguasai Blambangan, Buta Locaya di Kediri, sedangkan Sikorep lelembut di Panaraga ( Ponorogo ) ( Ravie Ananda )

Buta Locaya adalah Patih dari Prabu Jayabaya yang pada masa hidupnya bernama Kyai Daha ( cikal bakal pendiri daerah Kediri ). Setelah mokshanya Prabu Jayabaya, Kyai Daha pun ikut moksha dan memilih menjadi semara bumi ( tidak sampuna jati ) dengan tujuan untuk menjaga tanah Kediri ( Ravie Ananda )

3. Sidakari ing Pacitan, Kaduwang si Klentingmungil, Endrayeksa ing Magetan, Jenggala si Tunjungpuri, Prangmuka Surabanggi, Pananggungan Abur- abur, Sapujagad ing Jipang, Madiun si Kalaseksa, ingkang Prabuyekti aneng pasuruhan,
Sidakari di Pacita, Kaduwang si Klentingmungil, Endrayeksa di Magetan, Jenggala si Tunjungpuri, Prangmuka Surabanggi ( Surabaya ), Pananggungan Abur – abur, Sapujagad di Jipang, Madiun si Kalaseksa, si Prabu sesungguhnya di Pasuruhan, ( Ravie Ananda )

4. Singabarong Jagaraga, Majenang Trenggilingwesi, Macan Guguh Garobogan, Kalajonggo, Singasari, Sarengat Barukuping, Balitar Sang Kalakatung, Butakuda ing Rama, Kalangbretsi Sekargambir, Carub amor ingkang ana ing Lamongan,
Singabarong Jagaraga, Majenang Trenggilingwesi, Macan Guguh Garobogan ( Grobogan ), Kalajonggo Singasari, Sarengat Barukuping, Balitar ( Blitar ) Sang Kalakatung (Betara Katong ), Butakuda di Rama, Kalangbretsi Sekargambir, Carub menyatu dengan yang ada di Lamongan,( Ravie Ananda )

5. Gurnita ing Puspalaya, si Lampuran Pilangputih, Kacokan aneng Balora, Gambiran Sang Kaladurgi, Kedunggede Nyi Jenggi, ing Babad Si Klewer, Lasem Kalaprahara, Sedayu Si Dindingmurti, Sidalangkap ing Candi kahyanganira,
Gurnita di Puspalaya, si Lampuran Pilangputih, Kacokan di Balora ( Blora ), Gambiran Sang Kaladurgi, Kedunggede Nyi Jenggi, di Babad Si Klewer, Lasem Kalaprahara, Sedayu Si Dindingmurti, Sidalangkap di Candi kratonnya, ( Ravie Ananda )

6. Magelang Ki Samahita, Gegeseng Si Dadungawuk, ing Pajang Buta Salewah, manda – manda ing Matawis, Paleret Bojogdesi, Kutagedhe Nyai Panggung, ing Dabu Butakarta, ing Jombor Setan Kubarsi, Jurutaman kang rumeksa ing Tunjungbang,
Magelang Ki Samahita, Gegeseng Si Dadungawuk, di Pajang Buta Salewah, manda – manda di Matawis, Paleret ( Pleret ) Bojogdesi, Kutagedhe ( Kotagedhe ) Nyai Panggung, di Dabu Butakarta, di Jombor ( perbatasan Magelang – Jogja ) Setan Kubarsi, Jurutaman yang berkuasa di Tunjungbang, ( Ravie Ananda )

Dadung Awuk adalah nama tokoh manusia yang pernah hidup dan masih terukir sejarahnya di Purworejo ( kemungkinan tokoh ini juga mengambil pilihan moksha pada akhir hidupnya ) ( Ravie Ananda )
Setan Kubarsi juga merupakan seorang tokoh yang kemudian pusakanya terkenal dengan sebutan Keris Setan Kober ( Ravie Ananda )

7. Semarang Baratkatiga, Pekalongan Gunturgeni, Pacalang Ki Sembungyuda, Suwanda ing Sukawati, ing Jadem Nyai Ragil, Jayalelana ing Suruh, Buta Giling ing Canggal, ing Kendal si Guntinggeni, Kaliwungu Kutuk Api kang rumeksa,
Semarang Baratkatiga, Pekalongan Gunturgeni, Pacalang Ki Sembungyuda, Suwanda di Sukawati, di Jadem Nyai Ragil, Jayalelana di Suruh, Buta Giling di Canggal, di Kendal si Guntinggeni, Kaliwungu Kutuk Api yang berkuasa, ( Ravie Ananda )

8. Raradenok aneng Demak, si Batiti aneng Tubin, Juwal Payal ing Talsinga, Sukrama Guyang nenggani, Trenggalek Ni Daruni, Tunjungseta Cemarasewu, Kaladadung Kantungan, si Asmara aneng Taji, Bagus Anom ing Kudus kahyanganira,
Raradenok di Demak, si Batiti di Tubin ( Tuban ), Juwal Payal di Talsinga, Sukrama Guyang yang menunggu, Trenggalek Ni Daruni, Tunjungseta Cemarasewu, Kaladadung Kantungan, si Asmara di Taji, Bagus Anom di Kudus Kahyanganira ( istananya ), ( Ravie Ananda )

Bagus Anom dimungkinkan sebagai nama salah satu tokoh yang berkuasa di Kudus pada masa lampau yakni saat Kudus masih menjadi kerajaan besar dimana kerajaan / kraton tersebut kemudian beralih fungsi menjadi Masjid dan Menara Kudus setelah diubah oleh Sunan Kudus.
9. Logenjeng aneng Juwana, Ngarambang si Bajulbali, si Lontar ing Wirasaba, Madura Buta Garigis, kang aneng ing Matesih Jaran Panoleh aranipun. Si Lontir Pacangakan, Dalepih si Jatisari, Ondar – andir ing Jatimalang,
Logenjeng di Juwana, Ngarambang si Bajulbali, si Lontar di Wirasaba, Madura Buta Garigis, yang ada di Matesih Jaran Panoleh namanya. Si Lontir Pacangakan, Dalepih si Jatisari, Ondar – andir di Jatimalang ( Klirong Kebumen ), ( Ravie Ananda )

10. Sunan Lawu ing Arga Dilah, Tembayat si Malanggati, ing Taji si Cucukdandang, Gigirtasik aneng Wedi, Kali Opak winarni, Sanggabuwana aranipun, si Megek Pajagalan, Cengkorek ing Kalibening, Sendahrama Karangwelang kang rumeksa,
Sunan Lawu di Arga Dilah ( Agra Dumilah ), Tembayat si Malanggati, di Taji si Cucukdandang, Gigirtasik di Wedi, Kali Opak bermacam - macam, Sanggabuwana namanya, si Megek Pajagalan, Cengkorek di Kalibening ( Wonosobo ), Sendahrama Karangwelang yang berkuasa, ( Ravie Ananda )

Sunan Lawu adalah Brawijaya terakhir ( Ayah Raden Patah ) yang kemudian Moksha di Gunung Lawu, dan dikenal dengan sebutan Sunan Lawu. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa Pamoksan Brawijaya tersebut bukan di Arga Dumilah melainkan di Arga Dalem, akan tetapi sesungguhnya pamokshan Beliau ada di sebuah gua yang letaknya di balik sebuah air terjun yang terdapat di gunung Lawu ( Ravie Ananda )

11. Setan Karetek ing Kendal, Baleberan Sapuangin, Singapada ing Ngrangkudan, Pandansari ing Sarisig, kang ana Wanapeti Malangkarsa wastanipun, si Sanding ing Sawangan, Winasuhan Dudukwarih, Butatakang ingkang aneng Tegallayang,
Setan Karetek di Kendal, Baleberan Sapuangin, Singapada di Ngrangkudan, Pandansari di Sarisig, yang ada di Wanapeti ( Hutan Cemeti, atas Kawah Candradimuka Banjarnegara ) Malangkarsa julukannya, si Sanding di Sawangan ( Wonosobo ), Winasuhan Dudukwarih, Butatakang yang ada di Tegallayang ( Tegal ), ( Ravie Ananda )

Hutan Cemeti terkenal keangkerannya. Di hutan inilah sekitar tahun 2009 ditemukan Sembilan jenazah kering dan masih utuh ( sepertinya merupakan sebuah keluarga sebab salah satu diantaranya adalah jenazah anak kecil ) yang terbungkus kain kafan dimana setelah diteliti ternyata umurnya diperkirakan lebih dari 1000 tahun ( sayangnya ke Sembilan jenazah tersebut kini telah dimakamkan dan dibuat nisan dari baru serta dinamai tanpa dasar. Peringatan Khaul wali tersebut pun ( semua jenazah tersebut kemudian dianggap wali ) telah diadakan setelah penemuan itu. Berdasarkan sasmita yang penulis dapat, dilokasi ini masih banyak terdapat situs kuno yang terpendam antara lain bangunan bekas kolam, candi kecil dan beberapa perkakas gerabah dan senjata. ( Ravie Ananda )

12. Rara Segaluh ing Jenar, Wewasi Banjaransari, si Talengkung Watupura, si Pura ana ing Rukmi, Sapujengges Pujenggi ingkang aneng ing Lowano, Kala Ngadang ing Tuntang, Kalabancur Ni Bancuring, kang rumeksa sukune ardi Baita,
Rara Segaluh di Jenar, Wewasi Banjaransari, si Talengkung Watupura, si Pura ada di Rukmi, Sapujengges Pujenggi yang ada di Lowano ( Purworejo ), Kala Ngadang di Tuntang, Kalabancur Ni Bancuring, yang berkuasa di kaki gunung Prahu ( Dieng  Wonosobo ),  ( Ravie Ananda )

13. Gnawati Wana Siluman, Ragawati Ringinputih, Sapuranta ing Jakarta, Pureges Jajaran Singgih, Parusa awor angin, Palenti neng gunung Agung, Ki pulo ngawang – ngawang, Pralapa ardi Merapi, Ni Daluki kang aneng ardi Ungaran,
Gnawati Wana Siluman ( Alas Roban ), Ragawati Ringinputih, Sapuranta di Jakarta, Pureges Jajaran Singgih ( Pajajaran ), Parusa awor ( campur ) angin, Palenti di gunung Agung, Ki pulo ngawang – ngawang, Pralapa gunung Merapi, Ni Daluki yang ada di gunung Ungaran, ( Ravie Ananda )

14. Kang aneng Kayulandeyan Ki Daruna Ni Daruni, Bagus Karang aneng Roban, Kasujayan Widamamrih, Widanangga Dalepah, Bakilung Kedungdarusung, kang ana Kabareyan, Citranaya kang neggani, gunung Kendeng kang aran Aji Dipa.
Yang ada di Kayulandeyan Ki Daruna Ni Daruni, Bagus Karang di Roban, Kasujayan Widamamrih, Widanangga Dalepah, Bakilung Kedungdarusung, yang ada di Kabareyan, Citranaya yang menunggu, gunung Kendeng yang disebut Aji Dipa ( Aji Saka ),

Bagus Karang ( Bagus Banteng ) dahulunya adalah seorang pemuda yang terkenal nakal, hingga akhirnya dia menjadi seorang siluman yang menguasai daerah Roban yang terkadang suka menggangu orang – orang dan kereta api ( jaman Belanda ) yang lewat di sekitar daerah tersebut ( tepatnya di wilayah perkebunan kopi / Randu / Coklat milik Pabrik Siluwok Sawangan Gringsing Pekalongan ) (Ravie Ananda )

15. Arya Tiron ing Lodaya, Sarpabangsa aneng Pening, Ni Margi ing Butawiyah, Buta Gigil aneng Tegil, Barebes Capingwarih, Winasuhan Dudukwatu, Pemalang Udan Gelap, Wiradesa Gunting Geni, Kaliwungu kang aran Setan  Gorekan,
Arya Tiron di Lodaya, Sarpabangsa di Pening, Ni Margi di Butawiyah, Buta Gigil di Tegil (Tegal ), Barebes (Brebes ) Capingwarih, Winasuhan Dudukwatu, Pemalang Udan Gelap, Wiradesa Gunting Geni, Kaliwungu yang bernama Setan Gorekan, ( Ravie Ananda )

16. Ingkang aneng Surakarta / Salakerta, Rahaden Banjaransari ngalangkungan winarsita, awasta sang Kalasekti, Kartasura winarni, aran Raden Gunungsantun, Pengging Ki Kalamuka, Pratamanan Raja Putri, ing Kalaten awasta Sang Kaladremba,
Yang ada di Surakarta / Salakerta, Rahaden ( Raden ) Banjaransari yang lebih dikenal dengan nama Sang Kalasekti, Kartasura bermacam - macam, bernama Raden Gunungsantun, Pengging Ki Kalamuka, Pratamanan Raja Putri, di Kalaten (Klaten ) bernama Sang Kaladremba, ( Ravie Ananda )

17. Si Sendul aneng Gambiran, Pacabakan Dodolsawit, ing Atasangin punika R. Jengkala wastaneki, Tangsulrema Gandasuli, Widapeksa ing Delanggu, si Kluntung ing Jepara, Gambiranom aneng Taji, Kadilangu si Kecubung kang rumeksa,
Si Sendul di Gambiran, Pacabakan Dodolsawit, di Atasangin yaitu R. Jengkala namanya, Tangsulrema Gandasuli, Widapeksa di Delanggu, si Kluntung di Jepara, Gambiranom di Taji, Kadilangu si Kecubung yang berkuasa, ( Ravie Ananda )

18. Teluk Braja ing Talacap, Jerambah Ni Buratwangi, ing Celong Ki Nayadipa, Praduli Ki Udan Geni, Demit ing Kandang Wesi Ki Panatas wastanipun, Tetela aneng Ngayah, Durgabahu Jeruk legi, Nusa brambang kang aran Ki Mangsadurga,
Teluk Braja di Talacap ( Cilacap ), Jerambah Ni Buratwangi, di Celong Ki Nayadipa, Praduli Ki Udan Geni, Demit di Kandang Wesi Ki Panatas namanya, Tetela di Ngayah ( Ayah Kebumen ), Durgabahu Jeruk Legi ( Klirong Kebumen ), Nusa Brambang ( Nusakambangan ) yang bernama Ki Mangsadurga, ( Ravie Ananda )

Di Nusakambangan tepatnya di gua Ratu / Putri hingga kini masih ada situs kuno bahkan di pintu masuknya pun terdapat relief kepala seorang laki – laki tua yang kemungkinan adalah seorang pemimpin. Hal ini dikuatkan dengan adanya ruangan di dalam gua yang sepertinya pada masa lampau digunakan untuk berkumpul, dimana ada satu bagian yang posisinya lebih tinggi ( singgasana ) dibandingkan yang lain, yang mengelilinginya. Ada juga bagian pada dinding – dinding kamar gua yang sepertinya dibuat sebagai tempat tidur batu. Di gua lain, tepatnya di Gua Masjid Sela, dimana sejak jaman dahulu kala hingga zaman Mataram Islam digunakan sebagai penjara bagi lawan politik sang Raja Penguasa terdapat juga situs kuno yang sangat lengkap, baik dari kamar tidur batu, singgasana batu, lumbung batu, dll. Gua itulah yang sejak jaman dahulu kala jauh sebelum masa Islam datang diyakini sebagai tempat Nabi Ayub. Hal ini tentunya akan semakin mendukung tulisan Kholid Mawardi ( berdasar hasil riset peneliti asing ) yang berjudul “ Jawa Negerinya para Nabi “( Ravie Ananda )

19. Sela Warna Kali Krawang, Carebon Sang Kala Srenggi, ardi Lawet Kyai Baka, Gunung Sumbing Wirakreti, demit Telagapasir ingkang aran Ki Jalikung, si Klengset ing Pasundan, ing Pancer Sang Bagaspati, pan ing Kedu kang aran Ki Mamanmurka,
Sela Warna Kali Krawang, Carebon ( Cirebon ) Sang Kala Srenggi, ardi Lawet ( Banjarnegara ) Kyai Baka, Gunung Sumbing Wirakreti, demit Telagapasir yang bernama Ki Jalikung, si Klengset di Pasundan, di Pancer Sang Bagaspati, sedangkan di Kedu yang bernama Ki Mamanmurka, ( Ravie Ananda )

Ardi Lawet pada masa sebelum Islam bernama Sapta Arga / Martawuj, tempat bertapanya hingga sapurnajatinya Pangeran Palasara dan Begawan Abiyasa ( nama Tua dari Prabu Kresna Dipayana ). Setelah kedatangan Islam, oleh para wali tempat tersebut diubah nama menjadi Ardi Lawet, dan karena keramatnya Sang Abiyasalah, para wali kemudian menjadikan tempat tersebut untuk bermusyawarah. Situs masa lalu tersebut hingga kini masih terawat dengan baik. Nama Tokoh Pewayangan sendiri hingga saat ini dianggap sebagai sebuah fiksi belaka, padahal sesungguhnya Tokoh – tokoh tersebut nyata adanya, akan tetapi sejarah peradabannya telah hilang ( jaman Kejayaan Tanah Dhawa Kuno ), kemudian nama – nama tersebut beserta nama – nama tempat yang ada diambil sebagai nama tokoh dan tempat dalam pewayangan. Yang merupakan fiksi sesungguhnya adalah kisah pewayangan itu sendiri. Kisah pewayangan adalah kisah fiksi yang mengandung arti, makna dan pesan Filosofis hidup Masyarakat Tanah Dhawa Kuno yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Demi menjaga sebuah peradaban agar tidak hilang sepenuhnya dari sejarah keluhuran bangsa ini, maka Tokoh – tokoh dan tempat – tempat yang nyata dan pernah hidup serta mengukir sejarah peradaban Kuno Tanah Dhawa NKRI tersebut diambil sebagai pelaku kisah pewayangan yang sebenarnya fiktif, sehingga akhirnya muncullah dua pencitraan yakni :
1. Wayang sepenuhnya adalah kisah fiktif ( baik tokoh maupun tempatnya )
2. Wayang sepenuhnya adalah kisah non fiktif ( baik tokoh maupun tempatnya )
Kedua pencitraan itu adalah pencitraan yang keliru. Pencitraan yang sebenarnya adalah nama Tokoh dan tempat dalam pewayangan adalah nyata, akan tetapi sejarahnya telah hilang, dan kisah pewayangan itulah yang fiktif akan tetapi mengambil nama tokoh dan tempat yang nyata dan pernah ada di Tanah Dhawa yang dahulunya memang bertujuan untuk menjaga agar sejarah Tanah Dhawa Kuno tidak hilang sepenuhnya ( minimal masih terpatri nama – nama tokoh dan tempatnya ). Hingga sekarang pun situs berupa Candi – candi ( tempat perabuan / ditanamnya sesuatu yang berharga dari tokoh – tokoh tersebut ), gua, mata air, nama tempat serta desa di daerah Dieng Wonosobo hingga Banjarnegara masih ada seperti yang tersebut dalam cerita pewayangan sedangkan di India sendiri nama – nama tokoh, situs dan tempat yang sesuai dengan kisah pewayangan tersebut tidak pernah ada ( harusnya lebih lengkap sebab India mengklaim bahwa Mahabarata adalah karya aslinya ). Menurut sasmita yang penulis dapat saat bermalam dan bersemadhi di candi Bima dan Semar pada beberapa waktu yang lalu, bahwa peradaban Dieng lebih tua dibandingkan dengan peradaban Gunung Lawu, bahkan dahulu kala sudah menjadi tradisi peradaban Lawu berziarah ke Candi – candi Dieng. Hal ini kiranya tidak berlawanan dengan apa yang disebutkan dalam kitab Darmagandhul bahwa dikarenakan babad – babad asli ( kitab – kitab asli ) Tanah Dhawa Kuno telah hilang dibakar oleh para pendatang yang silih berganti, akhirnya Sunan Kalijaga pun berusaha melestarikan yang masih bisa diketahui dari sisa – sisa sejarah masa lampau itu dengan wayang. Begitu juga para Penguasa Mataram yang kemudian memerintahkan para pujangganya untuk menulis riwayat Babad Tanah Dhawa, akan tetapi karena babad yang asli benar – benar telah hilang, maka kitab – kitab baru dari pujangga – pujangga tersebut pun mau tidak mau berpedoman pada kitab lama yang masih ada ( tentunya bukan kitab Babad Asli Tanah Dhawa, melainkan kitab gubahan yang telah disesuaikan dengan penguasa / faham penguasa yang terakhir masuk di Jawa. Dengan paparan – paparan ini maka bisa kita ketahui dengan gamblang bahwa memang telah terjadi penjajahan Sejarah Asli Tanah dhawa NKRI oleh para pendatang yang berkuasa dengan cara mengubah babad asli dan menyesuaikannya dengan faham mereka. Fakta yang menguatkan mengenai hal ini juga terdapat dalam Pustaka Raja Purwa dan Babad Syekh Subakir. Pustaka Raja Purrwa mengatakan bahwa Tanah Dhawa belum ada manusianya saat Ajisaka datang ke Jawa ( Hangejawi ). Dialah yan berjasa mengisi Tanah Dhawa ini dengan manusia setelah sebelumnya dilakukan penumbalan terlebih dahulu karena tanah ini sangat angker dan penuh dengan lelembut. Babad Syekh Subakir berkata lain. Dalam babad ini diceritakan bahwa Syekh Subakirlah yang pertama kali masuk ke Jawa dan menumbal tanah ini ( tepatnya di gunung Tidar Magelang hingga bertemu dengan ratu lelembut yang bernama Semar. Setelah terjadi kesepakatan, barulah Syekh Subakir ini mengisi pulau Jawa dengan manusia dari Negara lain. Terlihat dalam dua babad tersebut betapa dua kepentingan kekuasaan dengan paham yang berlainan saling memperebutkan sebagai cikal bakal pengisi Tanah Dhawa. ( Ravie Ananda ).
20. Magiri si Manglarmanga, ing Gading si Puspasari, Katanggungan Kluntungwelah, Barengkelan Banaspati kang wasta Raden Dewi, ing Tengah pun Sabuk alu. Nagri Kedungerika awasta Sang Raja Putri, ing Bahrawa Baruklinting kang rumeksa,
Magiri ( Imogiri Yogyakarta ) si Manglarmanga, di Gading si Puspasari, Katanggungan Kluntungwelah, Barengkelan ( Brengkelan Porworejo ) Banaspati yang bernama Raden Dewi, di Tengah (Pangenjurutengah Purworejo ) ialah Sabuk alu. Nagri Kedungerika bernama Sang Raja Putri, di Bahrawa ( Ambarawa ) Baruklinting yang berkuasa, ( Ravie Ananda )

21. Si deleng ing Pamancingan, Guwa Langse Raden Dewi, ana dene Parangwedang Raden Ayu Jayengwesi, ngulon turut pasisir kulawarga Nyai Kidul sampun pepak sedaya, para ratuning dedemit sampun nglempak kang aneng ing tanah Jawa.
Si deleng di Pamancingan, Guwa Langse Raden Dewi, sedangkan Parangwedang Raden Ayu Jayengwesi, ke barat sepanjang pesisir keluarga Nyai Kidul sudah lengkap semua, para ratunya dedemit sudah terkumpul yang ada di tanah Jawa ( Ravie Ananda ).

Pelurusan Sejarah mengenai Nyai Roro Kidul
Masyarakat pada umumnya telah terbiasa dan terkondisi oleh pencitraan masa Islam bahwa Ratu Kidul adalah Nyai Roro Kidul. Pemahaman ini sangatlah keliru. Penulis akan menjelaskan sedikit riwayat mengenai dua tokoh tersebut.

Nyai Roro Kidul
Jaman dahulu kala, jauh sebelum adanya kerajaan Kediri, lelembut / mahluk halus di seluruh Nusantara dirajai oleh ratu yang juga asli lelembut yang bernama Nyai Ageng Rara Kidul yang singgasananya di tengah samudra pantai selatan.

Eyang Ratu Kidul
Pada masa kerajaan Kediri, seorang adik dari prabu Jayabaya ( putri ) yang menyandang cacad fisik diasingkan dari kerajaan di pantai selatan, tujuannya tidak lain agar mempercepat kematiannya. Akan tetapi, karena ia mempunyai darah luhur, di pantai selatan tersebut ia bertapa mati raga dalam waktu yang lama, hingga sampai pada suatu saat yang telah dikehendaki oleh Yang Maha Kuasa, akhirnya dia moksha ( Rijalul Ghaib ) dan menjadi Manusia Bangsa Halus / Rijalulghaib / Siluman. Karena dayanya yang luar biasa ( dari badan kasar menjadi badan halus ) akhirnya ratu lelembut yang bernama Nyai Ageng Rara Kidul tersebut kalah daya dan kemudian jabatan ratu lelembut Nusantara beralih pada Eyang Ratu Kidul. Adapun Nyai Ageng Rara Kidul ( yang asli bangsa halus tadi ) kemudian menjadi patih dari Eyang Ratu Kidul.

Eyang Ratu Kidul sendiri diizinkan oleh Yang Maha Kuasa menjadi bangsa Halus, dimana dia ditugaskan untuk mengayomi seluruh manusia Tanah Dhawa yang masih menggunakan Jawanya ( Njawani ) agar tidak diganggu oleh bangsa halus dalam bentuk apapun. Adapun mengenai Eyang Ratu Kidul yang konon memiliki kamar khusus seperti di salah satu hotel di Bali dan beberapa tempat lain, sesungguhnya bukanlah Eyang Ratu Kidul, melainkan patihnya yang bernama Nyai Ageng Rara Kidul. ( Ravie Ananda ).

Dari beberapa pemaparan penulis, mengenai jati diri beberapa nama tokoh / Ratu lelembut yang disebutkan dalam kidung di atas, bisa disimpulkan bahwa Ratu – ratu Lelembut tersebut adalah nama tokoh manusia yang sebenarnya berkaitan erat dengan sejarah Tanah Dhawa RI, bukan sebagai sosok Ratu Bangsa Halus yang tidak memiliki kaitan apapun dengan sejarah dan cenderung bermakna negatif. Sayang sekali sejarah – sejarah keluhuran Tanah Dhawa NKRI yang melekat dalam tokoh – tokoh yang telah moksha tersebut kini ikut hilang ditelan bumi, seperti juga sejarah mengenai sosok Gajah Mada yang jatidiri dan keturunannya hingga kini masih terselubung misteri. Semoga sejarah yang hilang tersebut segera muncul kembali bersamaan dengan bangkitnya keluhuran Tanah Dhawa NKRI. Rahayu. 
Salam Pancasila

Ravie Anandasejarah cikal bakal kabupaten Kebumen (sisi gelap sejarah)Tuesday, August 24, 2010 2:35 PMPANJER

Sisi Gelap Sejarah dan Romantisme Masa lalu
Sebuah Desa Perjuangan yang Nyaris Hilang
Mengupas Fakta tentang Asal – Usul Desa dan Kabupaten Kebumen

Oleh : Sayyid R. Ravie Ananda


Pendahuluan
Panjer Adalah nama sebuah Desa / Kelurahan yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah. Nama Panjer sendiri telah lama dikenal, jauh sebelum nama Kebumen itu ada, tepatnya sejak masa Pra Islam. Satu hal yang sangat disayangkan adalah “ nyaris hilangnya riwayat Panjer baik dalam masyarakat Panjer itu sendiri maupun dalam pengetahuan masyarakat Kabupaten Kebumen pada umumnya, serta kurangnya perhatian dan pemeliharaan terhadap situs bangunan peninggalan bersejarah dan budaya masa lampau yang terdapat di daerah tersebut “.

Hal ini tentunya sangat memprihatinkan, mengingat Panjer adalah cikal bakal Berdirinya Kabupaten Kebumen. Sebagai desa yang kini berbentuk kelurahan, Panjer tetap khas dengan rasa dan suasana masa lampaunya.

Panjer Pra Mataram Islam
Dalam Kitab “ Babad Kedhiri “, disebutkan:
“ Babagan kadipaten Panjer dicritakake nalika adipati Panjer sepisanan mrentah ing Panjer, duwe kekareman adu pitik. Sawijining dina nalika rame-ramene kalangan adu pitik ing pendhapa kadipaten, ana salah sijine pasarta sing jenenge Gendam Asmarandana, asale saka Desa Jalas.
Gendam Asmarandana sing pancen bagus rupane kuwi wusana ndadekake para wanita kayungyun, kalebu Nyai Adipati Panjer. Nyai Adipati sing weruh baguse Gendam Asmarandana uga melu-melu kayungyun. Kuwi ndadekake nesunya Adipati Panjer. Nalika Adipati Panjer sing nesu kuwi arep merjaya Gendam Asmarandana kanthi kerise, Gendam Asmarandana kasil endha lan suwalike kasil nyabetake pedhange ngenani bangkekane Adipati Panjer.
Adipati Panjer sing kelaran banjur mlayu tumuju Sendhang Kalasan sing duwe kasiyat bisa nambani kabeh lelara. Nanging durung nganti tekan sendhang kasil disusul dening Gendam Asmarandana lan wusana mati. Gendam Asmarandana sing weruh Adipati Panjer mati banjur mlayu tumuju omahe nanging dioyak dening wong akeh. Gendam Asmarandana sing keweden banjur njegur ing Sendhang Kalasan.
Wong-wong sing padha melu njegur ing sendhang, kepara ana sing nyilem barang, tetep ora kasil nyekel Gendam Asmarandana. Wong-wong ngira yen Gendam Asmarandana wus malih dadi danyang sing manggon ing sendhang kuwi. Sabanjure kanggo ngeling-eling kedadeyan kuwi digawe pepethan saka watu sing ditengeri kanthi aran Smaradana, mapan ing Desa Panjer ”.

Di dalam kitab tersebut, memang hanya sedikit sekali keterangan tentang Panjer karena yang menjadi  “ Objek Sentralnya “ adalah Kerajaan Medangkamulan, Mamenang dan pergantian tahta ( jauh sebelum Ajisaka masuk ke Jawa ), akan tetapi dari literatur di atas dapat disimpulkan bahwa Panjer adalah sebuah wilayah yang memang sudah dikenal sejak masa pra Islam.
Di Indonesia terdapat dua daerah yang menggunakan nama Panjer yakni di Kabupaten Kebumen dan di Pulau Bali. Namun jika diamati dari segi Genetik Historisnya ( istilah penulis ), maka Panjer Kebumen lah yang disinyalir kuat sebagai suatu daerah yang dari dahulu telah bernama Panjer dan merupakan tempat terjadinya beberapa peristiwa sejarah dari masa ke masa.
Babad Panjer menurut periodisasi Mataram Islam
Mataram Islam adalah Kerajaan Mataram periode ke 2 yang pada mulanya merupakan sebuah hutan lebat yang dikenal sebagai Alas Mentaok, wujud hadiah dari Hadiwijaya ( Sultan Demak terakhir ) kepada Ki Ageng Pemanahan atas jasanya dalam membunuh Arya Penangsang yang merupakan saingan besar Hadiwijaya dalam perebutan tahta Kerajaan Demak. Ki Ageng Pemanahan kemudian membabad hutan lebat tersebut dan menjadikannya sebuah desa yang diberinya nama Mataram. Alas Mentaok itu sendiri sebenarnya adalah bekas kerajaan Mataram Kuno yang runtuh sekitar tahun 929 M yang kemudian tidak terurus dan akhirnya dipenuhi oleh pepohonan lebat hingga menjadi sebuah hutan. Alas Mentaok mulai dibabad oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani sekitar tahun 1556 M. Ki Ageng Pemanahan memimpin desa Mataram hingga Ia wafat pada tahun 1584 M dan dimakamkan di Kotagedhe. Sepeninggal Ki Ageng Pemanahan, sebagai pengganti dipilihlah putranya yang bernama Sutawijaya / Panembahan Senopati ( Raja Mataram Islam pertama, dimakamkan di Kotagedhe ). Panembahan Senopati memerintah tahun 1587 – 1601 M. Ia digantikan oleh putranya yang bernama Raden Mas Jolang / Sultan Agung Hanyakrawati ( wafat tahun 1613 M dimakamkan di Kotagedhe ). Sultan Agung Hanyakrawati digantikan putranya yang bernama Raden Mas Rangsang yang kemudian dikenal sebagai Sultan Agung Hanyakrakusuma ( memerintah tahun 1613 – 1646 M). Sultan Agung Hanyakrakusuma digantikan oleh Putranya yang bernama Sultan Amangkurat Agung ( Amangkurat I  memerintah pada tahun 1646 – 1677 M ).

Di Dalam “ Kidung Kejayaan Mataram “ ( terjemahan Bahasa Indonesia ) disebutkan secara Implisit mengenai keberadaan Panjer.

Bait 04
Demikianlah maka pada suatu hari yang penuh berkat
berangkatlah rombongan Ki Gedhe ke Alas Mataram
di situ ada di antaranya: Nyi Ageng Ngenis, Nyi Gedhe Pemanahan
Ki Juru Mertani, Sutawijaya, Putri Kalinyamat, dan pengikut dari Sesela
Ketika itu adalah hari Kamis Pon, tanggal Tiga Rabiulakir
yaitu pada tahun Jemawal yang penuh mengandung makna
Setibanya di Pengging rombongan berhenti selama dua minggu
Sementara Ki Gedhe bertirakat di makam Ki Ageng Pengging
Lalu meneruskan perjalanan hingga ke tepi sungai Opak
Dimana rombongan dijamu oleh Ki Gedhe Karang Lo
Setelah itu berjalan lagi demi memenuhi panggilan takdir
hingga tiba di suatu tempat, disana mendirikan Kota Gedhe
Ki Gedhe Karang Lo yang dimaksud dalam bait di atas adalah pemimpin daerah Karang Lo ( kini masuk dalam wilayah Kecamatan Karanggayam ). Ini artinya sebelum berdirinya Kerajaan Mataram Islam pun, Karang Lo ( Kadipaten / Kabupaten Panjer ) telah dikenal dan diperhitungkan dalam ranah pemerintahan kerajaan pada waktu itu ( Demak dan Pajang ).
Panjer Dalam Teritorial Masa Lampau
Kerajaan Mataram Islam mengenal sistem pembagian wilayah berdasarkan jauh - dekatnya dan tinggi – rendahnya suatu tempat, sehingga pada saat itu dikenallah beberapa pembagian wilayah kerajaan yakni :
1. Negara Agung
2. Kuta Negara
3. Manca Negara
4. Daerah Bang / Brang / Sabrang Wetan
5. Daerah Bang / Brang / Sabrang Kulon.
Masa Pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah masa keemasan Mataram. Ia memerintah dengan bijaksana, adil dan penuh wibawa, sehingga rakyat pada masa itu merasakan ketentraman dan kemakmuran. Menurut catatan perjalanan Rijklof Van Goens ( Ia mengunjungi Mataram lima kali pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma ) disebutkan bahwa :
 “ Mataram di bawah Sultan Agung bagaikan sebuah Imperium Jawa yang besar dengan rajanya yang berwibawa. Istana kerajaan yang besar dijaga prajurit yang kuat , kereta sudah ramai, rumah penduduk jumlahnya banyak dan teratur rapi, pasarnya hidup, penduduknya hidup makmur dan tenteram. Kraton juga punya penjara, tempat orang – orang jahat pelanggar hukum dan tawanan untuk orang Belanda yang kalah perang di Jepara. Pada masa Sultan Agung inilah dikenal secara resmi adanya sebuah daerah lumbung pangan ( padi ) di Panjer dengan bupatinya bernama Ki Suwarno.
Panjer termasuk dalam katagori daerah Mancanegara Bang / Brang / Sabrang Kulon. Jauh sebelum nama Kebumen itu ada, tepatnya di daerah Karang Lo / wilayah Panjer Gunung ( kini masuk dalam wilayah kecamatan Karanggayam ), sudah terdapat penguasa kademangan di bawah Mataram ( masa pemerintahan Panembahan Senopati sekitar tahun 1587 M ). Di daerah tersebut, cucu Panembahan Penopati yang bernama Ki Maduseno ( putra dari Kanjeng Ratu Pembayun ( salah satu putri Panembahan Senopati ) dengan Ki Ageng Mangir VI ) dibesarkan. Ki Maduseno menikah dengan Dewi Majati dan kemudian berputra Ki Bagus Badranala ( Bodronolo; makam di desa Karangkembang; dahulu masuk dalam wilayah Panjer Gunung ). Ki Badranala adalah murid Sunan Geseng dari Gunung Geyong. Ia mempunyai peran yang besar dalam membantu perjuangan Mataram melawan Batavia pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma. Ki Badranala yang mempunyai jiwa nasionalis tinggi, membantu Sultan Agung dengan menyediakan lokasi untuk lumbung dan persediaan pangan dengan cara membelinya dari rakyat desa. Pada tahun 1627 M prajurit Mataram di bawah pimpinan Ki Suwarno mencari daerah lumbung padi untuk kepentingan logistik. Pasukan Mataram berdatangan ke lumbung padi milik Ki Badranala dan selanjutnya daerah tersebut secara resmi dijadikan Kabupaten Panjer di bawah kekuasaan Mataram. Sebagai Bupati Panjer, diangkatlah Ki Suwarno, dimana tugasnya mengurusi semua kepentingan logistik bagi prajurit Mataram. Karier militer Ki Badranala sendiri dimulai dengan menjadi prajurit pengawal pangan dan selanjutnya Ia diangkat menjadi Senopati dalam penyerangan ke Batavia.
Dibakarnya Lumbung Padi Panjer
Sejarah nasional menyebutkan bahwa kekalahan Sultan Agung Hanyakrakusuma disebabkan oleh dibakarnya lumbung – lumbung padi Mataram oleh Belanda, dimana lumbung terbesar pada saat itu adalah lumbung yang berada di Panjer ( kemungkinan besar lokasi tersebut berada di dalam kompleks daerah yang kini menjadi Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati yang mempunyai luas sekitar 4 Ha ). Peristiwa ini terjadi pada penyerangan Mataram yang ke 3 dan sekaligus menjadi peperangan terakhir Sultan Agung Hanyakrakusuma. Beliau wafat pada awal tahun 1645 M dan dimakamkan di Imogiri. Selanjutnya, Pada masa Sultan Amangkurat I, Panjer berubah menjadi sebuah desa yang tidak sesibuk ketika masih dijadikan pusat lumbung padi Mataram pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Pembagian Wilayah Panjer
Panjer masa lalu dibagi dalam dua wilayah yaitu Panjer Roma ( Panjer Lembah ) dan Panjer Gunung. Ki Badranala diangkat menjadi Ki Gedhe Panjer Roma I atas jasanya menangkal serangan Belanda yang mendarat di pantai Petanahan. Putra tertua Ki Badranala yang bernama Ki Kertasuta bertugas sebagai Demang di wilayah Panjer Gunung, sedangkan adiknya yang bernama ki Hastrasuta membantu ayahnya ( Ki Badranala ) di Panjer Roma. Ki Kertasuta kemudian diangkat menjadi Patih Bupati Panjer, Ki Suwarno. Ia dinikahkan dengan adik ipar Ki Suwarno dan berputra Ki Kertadipa. Ki Badranala menyerahkan jabatan Ki Gedhe Panjer Roma kepada anaknya ( Ki Hastrasuta ) yang kemudian bergelar Ki Gedhe Panjer Roma II. Beliaulah yang kemudian berjasa memberikan tanah kepada Pangeran Bumidirja / Ki Bumi ( paman Amangkurat I yang mengungsi ke Panjer sebab tidak sepaham dengan Sultan Amangkurat I ). Tanah tersebut terletak di sebelah Timur Sungai Luk Ula dengan panjang kurang lebih 3 Pal  ke arah Selatan dan lebar setengah ( ½ ) Pal ke arah Timur. Pangeran Bumidirja kemudian membuka tanah ( trukah ) yang masih berupa hutan tersebut dan menjadikannya desa. Desa inilah yang kemudian bernama Trukahan ( berasal dari kata dasar Trukah yang berarti memulai ). Seiring berjalannya waktu nama desa Trukahan kini hanya menjadi nama padukuhan saja ( sekarang masuk dalam wilayah kelurahan Kebumen ).

Riwayat desa Trukahan yang kemudian berubah menjadi Kelurahan Kebumen pun kini nyaris hilang, meskipun Balai Desa / Kelurahan Kebumen hingga kini berada di daerah tersebut.
Kutipan dari “ Babad Kebumen “ menyebutkan:

“ Kanjeng Pangeran Bumidirdja murinani sanget sedanipun Pangeran Pekik, sirna kasabaranipun nggalih, punapadene mboten kekilapan bilih Negari Mataram badhe kadhatengan bebendu. Puntonipun nggalih, Kanjeng Pangeran Bumidirdja sumedya lolos saking praja sarta nglugas raga nilar kaluhuran, kawibawan tuwin kamulyan.
Tindakipun Sang Pangeran sekaliyan garwa, kaderekaken abdi tetiga ingkang kinasih. Gancaring cariyos tindakipun wau sampun dumugi tanah Panjer ing sacelaking lepen Luk Ula. Ing ngriku pasitenipun sae lan waradin, toyanipun tumumpang nanging taksih wujud wana tarabatan.
Wana tarabatan sacelaking lepen Luk Ula wau lajeng kabukak kadadosaken pasabinan lan pategilan sarta pakawisan ingkang badhe dipun degi padaleman…..
Kanjeng Pangeran Bumidirdja lajeng dhedhepok wonten ing ngriku sarta karsa mbucal asma lan sesebutanipun, lajeng gantos nama Kyai Bumi…..
Sarehning ingkang cikal bakal ing ngriku nama Kyai Bumi, mila ing ngriku lajeng kanamakaken dhusun Kabumen, lami – lami mingsed mungel Kebumen.
Dhusun Kebumen tutrukanipun Kyai Bumi wau ujuripun mangidul urut sapinggiring lepen Luk Ula udakawis sampun wonten 3 pal, dene alangipun mangetan udakawis wonten ½ pal ”.

Dalam Babad Kebumen memang tidak terdapat cerita mengenai desa Trukahan, akan tetapi jika dilihat dari segi Logika Historis ( istilah penulis ), yang dimaksud dengan Desa / Dhusun Kabumian adalah Trukahan. Hal ini dapat ditelusuri berdasarkan Logika Historis antara lain :
1. Wilayah dan nama Trukahan sejak pra kemerdekaan hingga kini masih tetap ada, dimana Balai Desa / Kelurahan Kebumen dan Kecamatan Kebumen berada dalam wilayah tersebut ( sedangkan Pendopo Kabupaten masuk dalam wilayah Bumirejo ).
2. Makam / Petilasan Ki Singa Patra yang sebetulnya merupakan Pamokshan, sebagai situs yang hingga kini masih terawat dan diziarahi baik oleh warga setempat maupun dari luar Kebumen ( meskipun belum diperhatikan oleh Pemerintah baik Kelurahan maupun Kabupaten ) adalah makam tertua yang ada di kompleks pemakaman Desa Kebumen. Singa Patra adalah sosok tokoh yang nyaris hilang riwayatnya, meskipun namanya jauh lebih dikenal oleh warga Kelurahan Kebumen sejak jaman dahulu kala dan diyakini sebagai tokoh yang menjadi cikal bakal Desa Trukahan masa lampau. Penulis mensinyalir bahwa Tokoh ini hidup lebih awal dibandingkan masa kedatangan Badranala, sebab Beliau ( Badranala ) yang hidup pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah pendatang di desa Panjer ( Lembah / Roma ). Beliau sendiri berasal dari daerah Karang Lo ( yang dahulu masuk dalam wilayah Panjer Gunung ). Sebagai seorang pendatang yang kemudian berdiam di Panjer Roma, Badranala memperistri Endang Patra Sari. Endang adalah sebutan kehormatan bagi perempuan Bangsawan. Hal ini bisa kita lihat pada situs pemakaman Ki Badranala di desa Karangkembang dimana terdapat beberapa makam yang menggunakan Klan / Marga Patra, dimulai dari Istri Badranala sendiri, hingga beberapa keturunannya.
3. Hilangnya babad Trukahan dan riwayat Ki Singa Patra dimungkinkan adanya kepentingan politik penguasa waktu itu. Terlebih riwayat Babad Kebumen baru diterbitkan pada tahun 1953 di Praja Dalem Ngayogyakarta Hadiningrat oleh R. Soemodidjojo ( seorang keturunan KP. Harya Cakraningrat / Kanjeng Raden Harya Hadipati Danureja ingkang kaping VI, Pepatih Dalem ing Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ), yang notabene bukan warga asli bahkan mungkin tidak pernah sama sekali tinggal di Panjer ataupun Trukahan / Kebumen. Dengan kata lain, warga Kelurahan Kebumen baru mengenal sosok Bumidirdja semenjak diterbitkannya riwayat Babad Kebumen yang kini lebih populer dengan adanya media Internet.
4. Kurun waktu Mataram Sultan Agung Hanyakrakusuma jelas lebih tua daripada Bumidirja. Sedangkan Ki Badranala yang kemudian bermukim di Panjer saat itu telah memperistri perempuan dari Klan Patra ( yang mungkin mengilhami nama sebuah Hotel di Kota Kebumen ).
5. Menurut “ Sejarah Kebumen dalam Kerangka Sejarah Nasional “ yang ditulis oleh Dadiyono Yudoprayitno ( Mantan Bupati Kebumen ) disebutkan bahwa Pangeran Bumidirdja membuka tanah hasil pemberian Ki Gedhe Panjer Roma II / Ki Hastrosuto ( anak Ki Badranala ). Riwayat ini pun tidak disebutkan dalam Babad Kebumen. Riwayat yang lebih terkenal sampai saat ini adalah riwayat yang ditulis oleh R. Soemodidjojo yang notabene bukan warga asli dan bahkan mungkin belum pernah tinggal di Kebumen, dimana diceritakan bahwa Kebumen berasal dari kata Ki Bumi yang merupakan nama samaran dari Pangeran Bumidirja yang kemudian trukah di tepi sungai Luk Ula, sehingga kemudian tempat tersebut dinamakan Kebumian.
6. Pasar Kebumen, pada awalnya berada di wilayah Trukahan, tepatnya di daerah yang kini menjadi kantor Kecamatan Kebumen hingga kemudian pindah ke daerah yang kini menjadi pasar Tumenggungan. Maka daerah di sekitar bekas pasar lama tersebut sampai sekarang masih bernama Pasar Pari dan Pasar Rabuk, karena memang lokasi pasar lama telah menggunakan sistem pengelompokan.
7. Adanya pendatang setelah dibukanya tanah / trukah seperti yang disebutkan dalam Babad Kebumen yang kemudian bermukim, juga bisa diperkirakan mendiami daerah yang kini bernama Dukuh. Hal ini dimungkinkan dengan sebutan nama Dukuh yang telah ada sejak lama.

Asal Mula Nama Tumenggung Kalapaking
Datangnya Pangeran Bumidirdja di Panjer, menimbulkan kekhawatiran Ki Gedhe Panjer Roma II dan Tumenggung Wangsanegara Panjer Gunung karena Pangeran Bumidirdja saat itu dinyatakan sebagai buronan Kerajaan. Akhirnya Ki Gedhe Panjer Roma II dan Tumenggung Wangsanegara memutuskan untuk meninggalkan Panjer dan tinggallah Ki Kertawangsa yang dipaksa untuk tetap tinggal dan taat pada Mataram. Ia diserahi dua kekuasaan Panjer dan kemudian bergelar Ki Gedhe panjer Roma III. Dua Kekuasaan Panjer ( Panjer Roma dan Panjer Gunung ) membuktikan bahwa Panjer saat itu sebagai sebuah wilayah berskala luas ( Kabupaten / Kadipaten ) sehingga dikategorikan dalam daerah Brang Kulon.

Pada tanggal 2 Juli 1677 Trunajaya berhasil menduduki istana Mataram di Plered yang ketika itu diperintah oleh Sultan Amangkurat Agung ( Amangkurat I ). Sebelum Plered dikuasai oleh Trunajaya, Sultan Amangkurat Agung dan putranya yang bernama Raden Mas Rahmat berhasil melarikan diri ke arah Barat. Dalam pelarian tersebut, Sultan Amangkurat Agung jatuh sakit. Beliau kemudian singgah di Panjer ( tepatnya pada tanggal 2 Juni 1677 ) yang pada waktu itu diperintah oleh Ki Gedhe Panjer III. Sultan Amangkurat I diobati oleh Ki Gedhe Panjer III dengan air Kelapa Tua ( Aking ) karena pada waktu itu sangat sulit mencari kelapa muda. Setelah diobati oleh Ki Gedhe Panjer III, kesehatan Sultan Amangkurat I berangsur membaik. Beliau kemudian menganugerahi gelar kepada Ki Gedhe Panjer III dengan pangkat Tumenggung Kalapa Aking I ( Kolopaking I, sebagai jabatan Adipati Panjer I ( 1677 – 1710 ). Tumenggung Kalapaking I digantikan oleh putranya dan bergelar Tumenggung Kalapaking II ( 1710 – 1751 ), dilanjutkan oleh Tumenggung Kalapaking III ( 1751 – 1790 ) dan Tumenggung kalapaking IV ( 1790 – 1833 )).

Setelah merasa pulih, Sultan Amangkurat Agung melanjutkan perjalannya menuju ke Barat, akan tetapi sakitnya ternyata kambuh kembali dan akhirnya Beliau wafat di desa Wanayasa ( Kabupaten Banyumas ) tepatnya pada tanggal 13 Juli 1677. Menurut Babad Tanah Jawi, kematian Sultan Amangurat Agung dipercepat oleh air kelapa beracun pemberian Raden Mas Rahmat ( putranya sendiri yang menyertai Beliau dalam pelarian ). Sesuai dengan wasiatnya, Beliau kemudian dimakamkan di daerah Tegal Arum ( Tegal ) yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Tegal Wangi. Sementara itu tampuk kepemimpinan Panjer periode Kolopaking hanya berlangsung hingga Kolopaking IV dikarenakan adanya suksesi di Panjer pada waktu itu antara Kalapaking IV dan Arungbinang IV yang berakhir dengan pembagian wilayah dimana Kalapaking mendapat bagian di Karanganyar dan Banyumas, sedangkan Arungbinang tetap di Panjer. Sejak pemerintahan Arungbinang IV inilah Panjer Roma dan Panjer Gunung digabung Menjadi satu dengan nama Kebumen. Berdasar pemaparan di atas, penulis menyimpulkan ( sumber : sasmita yang penulis dapat ) bahwa berdirinya Pendopo Kabupaten Kebumen di wilayah Desa / Kelurahan Bumirejo ( bukan di wilayah Desa / Kelurahan Kebumen sebagai Nol Kilometernya pemerintahan, dimana seharusnya Desa, Kecamatan, dan Kabupaten Kebumen berada dalam satu lingkup ) disebabkan adanya suksesi antara Tumenggung Kalapaking IV dan Arungbinang IV. Untuk memantapkan kedudukan setelah kemenangannya atas peristiwa pembagian wilayah, Arungbinang IV mendirikan Pendopo Kabupaten baru yang kini menjadi Pendopo dan Rumah Dinas Bupati Kebumen lengkap dengan alun - alunnya. Adapun Pendopo Kabupaten lama / Kabupaten Panjer kemungkinan berada di lokasi Pabrik Minyak Sari Nabati Panjer, dengan memperhatikan tata kota yang masih ada ( seperti yang penulis paparkan dalam sub judul  Metamorfosis Panjer ) dan luas wilayah Pabrik yang mencapai sekitar 4 Ha, serta adanya pohon – pohon Beringin tua yang dalam sistem Macapat digunakan sebagai simbol suatu pusat pemerintahan kota zaman kerajaan. Begitu juga dengan Tugu Lawet yang pada awalnya merupakan tempat berdirinya sebuah Pohon Beringin Kurung ( yang kemudian ditebang dan dijadikan Tugu Lawet ), dimana di sebelah Utaranya adalah Kamar Bola ( gedung olahraga, pertunjukan dan dansa bagi orang Belanda ) serta lokasi pasar Kebumen lama yang pada awalnya berada di wilayah Trukahan ( pusat pasar rabuk berada di sebelah Timur Balai Desa Kebumen, pasar lama berada di sebelah Utara klenteng, sub pasar rabuk berada di sebelah Utara pasar lama, pasar pari / padi  berada di sebelah Selatan klenteng dan pasar burung yang tadinya merupakan Gedung Bioskup Belanda sebelum dihancurkan dan kemudian didirikan  gedung Bioskup Star lama di sebelah Timur Tugu Lawet ( sumber : wawancara tokoh sepuh desa Kebumen )), semakin menguatkan bahwa pusat pemerintahan Kabupaten Panjer / Kebumen tempo dulu adalah di desa Panjer dan Trukahan. Hal ini sesuai juga dengan kurun waktu berdirinya Masjid Agung Kauman Kebumen yang didirikan oleh KH. Imanadi pada masa pemerintahan Arungbinang IV ( setelah masa Diponegoro ) yang membuktikan bahwa berdirinya Pendopo Kabupaten Kebumen yang berada di wilayah Bumirejo dan Masjid Agung Kauman di wilayah Kutosari merupakan pindahan dari pusat kota lama di Panjer.

Metamorfosis Historis Panjer
Seiring berjalannya waktu dan berkuasanya Belanda di Indonesia, desa Panjer juga tidak luput dari kekuasaan Belanda. Panjer tetap dijadikan basis pemerintahan oleh Pemerintah Belanda karena lokasinya yang sangat strategis ( meskipun sejarah masa lalu itu telah hilang ). Hal ini dapat kita lihat dari sisi genetik historisnya dimana Panjer sampai saat ini adalah suatu desa / kelurahan yang lengkap dengan fasilitas – fasilitas yang dibangun oleh Belanda jauh sebelum kemerdekaan, seperti: Stasiun Kereta Api, Rumah Sakit ( dahulu dikenal dengan nama Sendeng; berasal dari kata Zending yang berarti politik penyebaran agama Pemerintah Kolonial Belanda dengan cara pertolongan kesehatan ), Gedung Pertunjukan, Pertahanan Militer, Perumahan Belanda yang lebih dikenal dengan nama KONGSEN ( berasal dari kata Kongsi ), Taman Kanak – Kanak yang dahulunya mungkin juga merupakan tempat pendidikan bagi anak – anak para Pejabat Belanda yang tinggal di wilayah tersebut, serta Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati ( yang hingga kini menjadi milik Perusda Propinsi Jateng yang tutup sekitar tahun 1985 ).
Pergantian kekuasaan sejak zaman Mataram Islam, Kolonial Belanda, hingga Pemerintahan NKRI ternyata tidak mempengaruhi perubahan desa Panjer dari segi Substansi dan Genetik Historis. Hal ini dapat kita lihat dengan sebuah pembanding sebagai berikut :

Panjer Zaman Sultan Agung 
1. Sebagai Lumbung padi dan Pusat Logistik Pasukan Mataram
2. Sebagai Kotaraja Kabupaten Panjer ( yang tentunya telah memiliki kelengkapan fasilitas seperti kesehatan, transportasi, budaya, ekonomi, pendidikan dan lain – lain meskipun masih bersifat sederhana )
3. Sebagai Basis Militer Mataram
Panjer Zaman Kolonial Balanda ( kemudian diteruskan oleh Jepang )
1. Sebagai Pusat logistik yakni dengan didirikannya Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati ( seluas 4 Ha ).
2. Sebagai desa yang memiliki berbagai fasilitas seperti Transportasi ( dengan didirikannya stasiun ), Perumahan Belanda ( lebih dikenal dengan sebutan Kongsen lengkap dengan sarana dan prasarananya baik sarana pendidikan anak – anak, Kesehatan ( Zending / Sendeng ) gedung Pertunjukan ( Gedung Bioskup Gembira ), gedung olahraga dan aula yang terdapat di dalam lokasi pabrik, dan lain - lain.
3. Basis Militer Belanda

Panjer Zaman Kemerdekaan
1. Sebagai Pusat Logistik ; dengan didirikannya Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati oleh Belanda yang setelah tutup sekitar tahun 1985 kemudian beralih fungsi sebagai gudang penampungan tebu sementara sebelum diolah menjadi gula pasir di Pabrik Gula Yogyakarta; disewakan kepada pabrik rokok untuk menampung cengkeh ( sekitar tahun 1989 ), disewakan sebagai gudang penyimpanan bijih Plastik ( sekitar tahun 1990 ), disewakan sebagai gudang beras Bulog, disewakan sebagai lahan perkebunan semangka; disewakan sebagai kantor Pajak; disewakan sebagai tempat penyimpanan sementara alat – alat berat kesehatan RSU; Sebagai tempat penampungan sementara Kompor dan tabung gas dalam rangka program konversi gas pada tahun 2009.
2. Terdapatnya pusat transportasi Kereta Api ( stasiun Kereta Api Kebumen )
3. Bertempatnya Markas TNI /  Kodim Kebumen
4. Terdapatnya tempat pertunjukan Film ( gedung Bioskop Gembira, yang kini telah dibangun dan dialihkan fungsi )
5. sebagai tempat RSUD Kebumen
6. Terdapatnya tempat pendidikan Taman Kanak - Kanak PMK Sari Nabati
7. Terdapatnya Lapangan Tenis dan Bulutangkis, serta menjadi tempat latihan Beladiri berbagai Perguruan yang ada di wilayah Kebumen ( sekitar tahun 1990 an )
8. terdapatnya Perumahan Nabatiasa
9. dan lain – lain.

Dilihat dari fakta – fakta di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Panjer dari masa ke masa tidak memiliki perubahan fungsi, hanya saja terus menyesuaikan dengan perkembangan peradaban dan budaya.

Romantisme Panjer Masa Lalu
Sebagai desa yang terbilang tua, Panjer penuh dengan benda – benda budaya peninggalan dari tiga periode ( Mataram, Belanda dan Kemerdekaan ) yang dapat dikelompokkan kedalam dua bagian yaitu :
1. Benda yang Masih tersisa antara lain :
1. Bangunan Tua yang sangat Luas bekas Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati ( lengkap dengan rel dan Lori pengangkut kopra menuju pengolahan, saluran irigasi, perkantoran, penimbangan, pos jaga, lapangan Bulutangkis dan Aula dan lain - lain.
2. Perumahan Belanda ( Kongsen ) Nabatiasa.
3. Sumur Tua yang disinyalir sudah ada sejak jaman pra Mataram Islam yang mungkin tadinya berwujud sendang. Sumur itu berada didalam lokasi Pabrik paling Timur dengan diameter kurang lebih 4 M ( sekitar tahun 1990 an pernah terbit Surat Kabar Kebumen yang memuat sejarah Panjer sebagai cikal bakal Kebumen, dimana disebutkan juga adanya Legenda Sendang Kuno dan sebuah Batu Kuno semacam sebuah Prasasti di desa Panjer, sayang hingga kini tidak diketahui keberadaannya.
4. Tiga buah WC umum peninggalan Belanda yang terdapat di Selatan perumahan Belanda yang kini disebut Kongsen dengan dua sumur umum yang berdiameter sekitar 2,5 meter.
5. Bangkai Truk pengangkut Kopra yang teronggok di garasi depan Pabrik Sari Nabati.
6. Bekas Roda Meriam yang dipasang di dekat pintu masuk Pabrik dan lapangan Panjer sebelah Timur.
7. Pohon Pinus yang ditanam di pintu Masuk perumahan Kongsen sebelah Barat dan di sebelah utara Stasiun Kereta Api.
8. Pohon Kamboja peninggalan Belanda di halaman Taman Kanak – Kanak Sari Nabati.

2. Benda yang telah hilang antara lain :
1. Tiga buah Pohon Saman Raksasa di sebelah Utara stasiun yang ditebang sekitar tahun 1989. Dahulu ketika pohon tersebut masih ada, daerah tersebut terasa sangat klasik dan kuno. Berbagai jenis burung dapat kita jumpai bersarang dan berkicau di atasnya. Terdapat juga Ayam Hutan yang bersarang dan selalu berkokok di pagi hari di atas pohon tersebut.
2. Rel dan Lori yang berasal dari baja dan semua bahan  - bahan yang berasal dari besi, termasuk plat – plat besi tebal penutup saluran irigasi ( kalen ), mesin pembuat dan pengolah minyak, seng atap penutup pabrik, dan lain – lain ( dikarenakan sekitar tahun 2000 dilelangkan sebagai barang bekas )
3. Tiga buah sumur pompa umum di kompleks perumahan / Kongsen.
4. Pintu “ HS “ ( pintu ruangan generator listrik pabrik jaman Belanda ) yang dahulu selalu membuka dengan sendirinya setiap Kamis sore dan menutup Jumat sore ( di atas pintu tersebut terdapat tulisan berhuruf  Jawa dan  Belanda “ High Stroom “. Setiap pintu tersebut membuka, keluarlah sepasang burung gagak yang terbang mengitari wilayah Kongsen, dan akan masuk kembali ke ruangan tersebut sesaat sebelum pintu tersebut menutup ). Keanehan yang dahulu menjadi konsumsi hiburan bernuansa magis gratis bagi masyarakat setempat kini tidak lagi bisa dilihat  ( sejak sekitar tahun 1995 ). Bangunan Pabrik yang penuh dengan warisan budaya tiga periode tersebut, yang dahulu terasa sangat indah, klasik dan menyejukkan serta nyaman, kini 80% telah menjadi puing – puing yang kokoh tanpa atap dan hutan semak belukar.
5. Kesenian Ebleg Panjer yang dahulu sangat terkenal di Kabupaten Kebumen kini tidak lagi hidup, bahkan kelengkapan kesenian itu telah rusak dan hanya tersisa sebuah Barongan Tua Keramat yang nyaris hilang ( barongan ini ditemukan kembali tanpa sengaja oleh seorang warga Panjer di desa Kalirancang ).
6. Dua buah pohon Flamboyan raksasa yang tinggi dan sangat indah ketika berbunga serta beberapa pohon Beringin besar yang berada di lapangan Panjer sebelah Timur, tepatnya di sebelah Selatan bangunan WC umum Kongsen.
7. Pohon Sakura yang berada di sebelah Utara sumur Kongsen bagian Barat ( dahulu sering digunakan untuk bermain anak – anak Kongsen, kemungkinan peninggalan pejabat Jepang yang tinggal di sana waktu itu ).
8. Pintu masuk Kongsen sebelah Barat ( pintu tersebut dahulu sering digunakan untuk bermain ayunan oleh anak – anak Kongsen ).
9. Pohon Beringin besar yang berada di halaman Taman Kanak – Kanak Sari Nabati.
10. Bak Tempat Penampungan sampah buatan zaman Belanda ( dahulu terletak di sebelah selatan Kongsen ).

Kembalinya Barongan Keramat Desa Panjer
Bentuk seni dan budaya yang telah ada turun - temurun di desa Panjer adalah Ebleg. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa Ebleg sama dengan Kuda Lumping. Menurut penulis, Ebleg tidak bisa disamakan dengan Kuda Lumping. Perbedaan antara Ebleg dan Kuda Lumping adalah :
Ebleg adalah suatu kesenian khusus yang merupakan perpaduan antara tarian, filosofi dan mistis yang di dalamnya mempunyai tiga instrumen pokok yakni Gending, Barongan dan Kuda Lumping / Jaran Kepang. Menurut penulis Ebleg adalah kesenian yang sudah berkembang sejak masa Sultan Agung Hanyakrakusuma. Hal ini dapat diamati dari beberapa hal antara lain :
1. Gending ; melambangkan Sastra Gending, sebuah kitab karya Sultan Agung Hanyakrakusuma.
2. Barongan yang bentuknya meniru seekor singa ; melambangkan Sosok Sultan Agung yang dari dahulu disegani dan mendapat julukan Singa Jawa dari para lawannya.
3. Kuda Lumping / Jaran Kepang : melambangkan pasukan berkuda Mataram yang gagah dan berani mati, kompak dan disiplin.

Kuda Lumping adalah suatu kesenian tarian ( tarian kuda ) hasil pengembangan dari kesenian Ebleg yang di dalamnya tidak mengharuskan adanya barongan dan unsur mistis.

Kesenian Ebleg desa Panjer disinyalir telah ada jauh sebelum era Kemerdekaan. Hal ini penulis simpulkan setelah mewawancarai beberapa tokoh Ebleg setempat, dimana tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui sejak kapan kesenian tersebut mulai ada di Panjer. Dari semua narasumber yang ada hanya mengetahui bahwa Ebleg Panjer telah ada sejak para leluhur mereka kecil ). Tidak aktifnya Ebleg Panjer ( mulai sekitar tahun 1995 ) nyaris mengakibatkan hilangnya Barongan Keramat yang terbuat dari kayu Kendal  itu dari desa Panjer. Hilangnya Barongan Keramat tersebut diketahui setelah seorang mantan pemain Ebleg Panjer yang bernama Waris ( Pak Waris ) yang kebetulan bekerja sebagai Penjaga Pabrik Sari Nabati mempunyai itikad untuk menghidupkan kembali kesenian tersebut. Sekitar tahun 2003 Beliau secara kebetulan berbincang – bincang dengan seorang Kusir Dokar dari desa Kalirancang  yang mangkal di stasiun Kebumen dimana topik pembicaraan pada saat itu adalah kesenian Ebleg. Kusir Dokar tersebut bercerita bahwa di desanya memiliki kesenian Ebleg yang juga tidak aktif lagi. Adapun barongannya konon kabarnya dahulu meminjam dari desa Panjer. Berangkat dari cerita itu, Pak Waris segera menghubungi pengurus Ebleg Kalirancang melalui kusir dokar tersebut. Akhirnya, kembalilah Barongan Tua desa Panjer ke asalnya. Tahap selanjutnya, Pak Waris mengumpulkan para mantan pemain ebleg dan mengajak untuk menghidupkan kembali Ebleg Panjer yang terbilang paling tua di Kabupaten Kebumen tersebut. Beliau bersama Pak Dalang Parijo ( alm. ) pada saat itu segera memimpin kembali latihan ebleg dengan peralatan seadanya yakni “ sapu ijuk “ yang dijadikan peraga pengganti kuda lumping yang ketika itu telah rusak. Setelah keseragaman geraktari dan gending pengiring dirasa padu, maka dimulailah latihan sekaligus pagelaran rutin di lapangan Manunggal Kodim setiap hari Kamis Wage ( sesuai tradisi jaman dahulu ). Peraga Kuda Lumping pun kemudian dibeli oleh grup kesenian Ebleg Panjer di daerah Bocor dengan swadana dari anggota. Kesenian tua yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat Panjer dan terkenal di Kabupaten Kebumen itu sangat disayangkan kini kembali mati suri. Hal ini disebabkan kurangnya perhatian pemerintah baik Desa maupun Kabupaten.

Perbaikan Barongan “ Ki Singa Mataram “
Dikarenakan kondisinya yang rusak akhirnya dilakukanlah perbaikan Barongan “ Ki Singa Mataram “ ( nama Barongan tersebut ) pada malam Jumat Kliwon di bulan Ramadhan, bertepatan dengan malam 17 Agustus 2010. Bahan pelapis kepala barongan berasal dari Kulit Macan Tutul Sempor Kebumen ( telah ada sejak sekitar 25 tahun yang lalu ), sumbangan dari Mbah Narto Gombong ( seorang tokoh Legiun Veteran ) dan Bpk. Bambang Priyambodo ( Sekcam Kuwarasan ). Bahan lain adalah kulit Blacan dan Kijang sumbangan dari para pemuda Kranggan Kebumen dan Bejiruyung Sempor, serta karung Goni yang digunakan sebagai tubuh barongan, sumbangan dari warga pendatang asli Wonogiri dan Solo. Pekerjaan perbaikan dilakukan oleh sekelompok pemuda Pecinta Budaya Kebumen dan sesepuh Ebleg di kompleks Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati Panjer, dimulai dari pukul 22.00 wib hingga selesai ( tepat pukul 01.00 wib ) dimana sebelumnya telah dilakukan ritual terlebih dahulu.

Sebuah pujian dan acungan jempol kiranya patut sekali diberikan kepada para anggota kesenian Ebleg Panjer yang ternyata hingga saat ini masih berkemauan keras untuk menghidupkan kembali kesenian tersebut di tengah munculnya kesenian baru di desa Panjer ( kesenian Kentongan Banyumasan dan Janeng ). Rapat kecil para anggota pun telah diadakan untuk membentuk wadah dan kepengurusan. Harapan penulis, semoga pemerintah setempat ataupun pemerintah Kabupaten Kebumen segera memberikan perhatian dan dukungan ( apresiasi ) yang serius terhadap kesenian Ebleg Panjer yang merupakan kesenian Ebleg Tertua di Kabupaten Kebumen. Kesenian tua dari desa yang pernah menjadi pusat kekuatan Pasukan Mataram saat memerangi Belanda dan desa yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Panjer / Kebumen silam.

Panjer dalam Kenangan Penulis
Saya lahir di desa Panjer pada tahun 1980. Ayah saya bekerja sebagai karyawan di Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati. Sejak dilahirkan hingga tahun 1993, saya tinggal besama orang tua di Perumahan Nabatiyasa ( Eks Perumahan Belanda ) yang lebih dikenal dengan sebutan Kongsen. Saya sempat menikmati saat – saat kejayaan Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati sebelum akhirnya tutup pada tahun 1985. Banyak kenangan indah di desa Panjer yang tak bisa tergantikan dengan apapun yang ternyata sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian saya.

Sebagai anak seorang karyawan, sebuah kenangan indah adalah menaiki Lori menuju lokasi pengambilan jatah minyak dan logistik bulanan bagi karyawan. Naik Lori adalah pengalaman langka yang tidak bisa dinikmati oleh semua anak, hal ini dikarenakan Lori hanya ada di tempat – tempat tertentu seperti Pabrik Minyak, Pabrik Gula dan sejenisnya. Setiap tengah malam, suara peluit dari cerobong Pabrik sebagai penanda pergantian shif terasa khas dan klasik, perpaduan rasa mencekam dan sakral bagi setiap anak kecil di Kongsen.

Bersama teman – teman sebaya bermain melihat fenomena spiritual membuka dan menutupnya pintu “ HS “ serta keluar dan masuknya sepasang burung gagak adalah pengalaman yang langka dan hanya dapat disaksikan di Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati Panjer. Di atas pintu yang tidak lagi membuka tersebut, kini tumbuh sebuah pohon Beringin yang akarnya telah menutupi sebagian pintu.
Pabrik seluas 4 Ha yang terkenal kuno dan angker itu pun urung dijadikan tempat Uji Nyali sebuah program acara reality show beberapa waktu silam, dikarenakan ketidakberanian tim penyelenggara acara menanggung kemungkinan resiko yang akan ada jika mengambil tempat yang terlalu Kuno dan Angker.

Panjer tempo dulu sepertinya juga menjadi pusat kerajinan batu mulia. Hal ini terbukti dengan ditemukannya berbagai batu akik baik yang telah jadi maupun bahan mentah di depan halaman rumah paling barat ( yang menghadap selatan ), sehingga kenangan anak – anak Kongsen pun semakin lengkap dengan adanya kegiatan mencari batu akik selepas hujan reda di tempat tersebut. Dengan penuh ketekunan dan kejelian, anak – anak saat itu “ Ndhodhok “ sambil menajamkan pandangan terhadap sinar kilau dari batu yang muncul akibat lapisan tanah penutupnya terbawa air.

Ketika Bunga flamboyan raksasa berbunga, anak – anak Kongsen dengan riang gembira bermain di bawah jingganya bunga- bunga yang berguguran menutup tanah di bawahnya. Sambil menari – nari, anak – anak membunyikan polong yang jatuh dari pohon tersebut dan menjadikannya alat musik “ ecek – ecek “ sambil berteriak riang “ Hore – Hore… Salju “ ( bunga flamboyan yang berguguran diimajinasikan seperti salju jingga ).

Masa dibukanya penutup saluran irigasi / kalen juga merupakan saat yang sangat dinanti bagi anak – anak Kongsen, sebab di masa itulah anak – anak turun beramai - ramai dengan peralatan yang ada untuk mengambil ratusan ikan lele lokal yang besarnya bisa mencapai 1 Kg ( perekornya ), ikan – ikan Behtok dan Gabus ( Bayong ) yang selama musim mengalirnya air irigasi bersembunyi di selokan yang tertutup plat tersebut. Panen ini dirasakan seluruh warga Kongsen.

Ketika musim kemarau tiba, dua buah sumur tua Kongsen yang kebetulan ikut surut dan keruh pun, dikuras oleh warga. Pengurasan ini merupakan saat menyenangkan bagi anak – anak Kongsen yang ikut bekerjabakti menguras sumur, sebab di dalamnya banyak ditemukan benda – benda klasik seperti Keris, batu Akik, dan lain – lain yang tentunya hal ini tidak didapati di setiap sumur.

Anak – anak Kongsen juga akrab dengan cerita hantu, namun cerita hantu di daerah Panjer tidak seperti kebanyakan ( misal pocong, kuntilanak dan sejenisnya ). Hantu di Panjer yang telah banyak dilihat oleh warga sekitar dan orang – orang dari luar Panjer yang kebetulan berolahraga Bulutangkis malam di lapangan dalam Pabrik adalah hantu Keranda, hantu Kereta Kuda dan Rombongan Kuda, hantu Orang Belanda, hantu Prajurit jaman kerajaan ( yang menunggu pintu masuk WC umum ), serta berupa suara – suara tanpa wujud seperti berbunyinya tiang dari besi di lapangan timur tanpa ada yang membunyikan setiap tengah malam yang selalu menjadikan rasa penasaran anak – anak Kongsen. Layaknya detektif, anak – anak yang bermain kemah – kemahan setiap liburan sekolah, selalu mengamati dari kejauhan peristiwa itu dengan penuh keheranan bercampur takut.

Pada saat – saat akhir kejayaan pabrik, anak - anak mempunyai kebiasan mengambil beberapa kopra yang sedang dijemur dan memakannya. Rasa manis dan gurih dari kopra hingga kini mungkin masih termemori dalam ingatan anak – anak Kongsen.

Tutupnya Pabrik dan bergantinya fungsi menjadi tempat penampungan tebu sementara adalah hal yang tetap menggembirakan bagi anak – anak Kongsen. Setiap truk tebu yang datang penuh muatan, menjadi harapan bagi anak – anak. Mereka dengan cekatan mengambil tebu tanpa ijin dengan mengendap - ngendap di bawah truk yang berhenti di garasi, tentunya setelah melompati pagar besi terlebih dahulu.

Setiap bulan puasa, kegiatan rutin anak – anak Kongsen selain mengaji adalah menunggu buka puasa dengan melihat kereta api dan keluarnya kawanan kelelawar yang bersarang di gudang garam kompleks stasiun. Ribuah kelelawar itu akan menjadi tontonan kembali di pagi harinya setelah usai solat Subuh saat kelelawar tersebut pulang ke sarangnya.

Datangnya sekelompok wisatawan asing yang lebih dikenal dengan ” turis “ setiap tahun ke pabrik juga merupakan hal yang menarik bagi anak – anak Kongsen. Mereka selalu mengambil foto untuk dokumentasi sebuah pabrik tempat nenek moyangnya dahulu bermukim dan bekerja. Turis – turis tersebut adalah keturunan dari para pembesar Belanda yang sebelum kemerdekaan menempati dan mengelola pabrik Panjer.

Kerjabakti membersihkan rumput ilalang di lokasi pabrik sebelah timur yang sangat luas juga merupakan kebahagiaan tersendiri bagi anak – anak Kongsen. Setiap musim kemarau saat ilalang dan rumput perdu mengering telah dibakar, terlihat jelas dasar – dasar lantai pabrik masa lalu sebagai tempat pembuatan minyak kelapa raksasa. Dibakarnya terlebih dahulu lokasi tersebut  untuk mempermudah dan mematikan puluhan ular kobra yang banyak terdapat di area tersebut. Karena jarang dilalui manusia, burung - burung yang indah dan beraneka macam pun banyak bersarang di lokasi tersebut. Kawasan itu layaknya sebuah pulau kecil yang hanya dihuni oleh sekawanan burung – burung dan binatang lainnya. Dahulu di lokasi ini pernah juga ditemukan seonggok tutup Tank ( kendaraan tempur ) milik Belanda.

Panjer memang sebuah desa yang hingga sekarang masih khas dengan kekunoannya, meskipun mungkin dalam sejarah berdirinya Kebumen banyak hal yang tertutup mengenai desa ini dan hanya terekspos sosok Bumidirja dan Jaka Sangkrip. Kurangnya perhatian Pemerintah terhadap sejarah Kebumen, Panjer dan desa – desa lainnya kiranya sangat mempengaruhi pengetahuan dan kecintaan masyarakat Kebumen terhadap tempat lahirnya yang akhirnya melahirkan beberapa kerancuan sejarah, sebagai contoh misal :

Makam Pangeran Bumidirja di Lundong Kutowinangun.
Makam tersebut mengundang tandatanya bagi penulis. Pangeran Bumidirdja adalah nama lain dari Ki Bumi, tetapi mengapa di makam tersebut terdapat dua makam dimana yang satu bertuliskan Pangeran Bumidirdja ( di dalam cungkub ), sedangkan yang satunya lagi bertuliskan Ki Bumi ( di luar cungkub ). Kerancuan yang lain juga terdapat pada makam yang berada di sebelah makam P. Bumidirdja yang bertuliskan P. Mangkubumi II. Hal ini jelas akan mengundang reaksi kritis, sebab Pangeran Mangkubumi adalah gelar dari RM . Sujono ( salah satu putra dari Amangkurat Jawi / RM. Surya Putra dengan garwa selir ) yang setelah menjadi raja ( akibat perjanjian Giyanti tentang pembagian tanah sengketa ) kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwana I, sehingga Pangeran Mangkubumi II adalah gelar lain dari Sultan Hamengkubuwana II ( RM. Sundoro ). Adanya penulis Babad Kebumen atau Panjer yang mengatakan bahwa Ki Bumi adalah P. Mangkubumi, bisa dikatakan tidak memahami benar – benar tokoh – tokoh tersebut dan kedudukannya di dalam pemerintahan Mataram pada masa itu. Begitu juga dengan adanya makam Ki Bumi dan P. Bumidirja yang saya sebutkan tadi, dapat disimpulkan bahwa yang bertugas dalam bidang sejarah dan budaya Kabupaten Kebumen kurang jeli dan memperhatikan antara sejarah, dongeng dan fakta yang ada.


Penutup
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para leluhurnya dengan mengenal dan menjaga sebaik mungkin sejarahnya, serta melestarikan budaya warisannya. Meski kebenaran yang hakiki tidak akan pernah bisa dipastikan, menjaga sejarah, kesenian dan budaya adalah wujud dari cinta tanah air dan bangsa. Semoga desa Panjer yang penuh sejarah tersebut segera mendapat perhatian yang serius dari pemerintah dan pihak – pihak yang terkait lainnya. Begitu juga dengan riwayat Trukahan dan Ki Singa Patra yang nyaris hilang dari babad sejarah Kebumen, semoga bisa dijadikan salah satu pegangan dalam melestarikan sejarah desa Kebumen yang sesungguhnya dalam rangka menghidupkan kembali Kearifan Budaya Lokal. Desa Panjer yang penuh nilai sejarah dan sangat memungkinkan untuk dikembangkan dengan menjadikan puing – puing Pabrik Sari Nabati menjadi tempat wisata sejarah dan spiritual layaknya Benteng Vander Wijk Gombong itu kiranya akan menambah aset Budaya Kabupaten Kebumen.

Sumber Pustaka :
Sejarah Nasional Indonesia
Babad Kadhiri
Kidung Kejayaan Mataram
Babad Kebumen, R. Soemodidjojo
Sejarah Kebumen dalam Kerangka Sejarah Nasional, Dadiyono Yudoprayitno

Sumber Lisan :
Wawancara dengan beberapa tokoh narasumber

Sumber Spiritual :
Sasmita – sasmita saat tirakat di beberapa makam dan situs


Kebumen, Selasa Paing 17 Agustus 2010
Kado Ulang Tahun untuk Tanah Airku


Sayyid R. Ravie Ananda



Biodata Penulis


Nama     : Ravie Ananda, S. Pd.
Alamat    : Jalan Garuda 13 Kebumen
Agama    : Islam
Tempat dan Tanggal lahir  : Desa Panjer, Kebumen 29 Maret 1980
Pendidikan    : TK. PMK Sari Nabati Panjer
      SDN. I Kebumen
      SMPN 1 Kebumen
      SMAN 2 Kebumen
      Universitas Muhamadiyah Purworejo
Pekerjaan   : Wiraswasta



SILSILAH PENULIS


KEKANCINGAN MATARAM SULTANAGUNGAN
Brawijaya Pungkasan
Bondan Gejawan ( Ki Ageng Tarub III )
Ki Ageng Getas Pandawa
Ki Ageng Sela
Ki Ageng Nis
Ki Ageng Pemanahan
Panembahan Senopati
Sultan Agung Hanyakrawati
Sultan Agung Hanyakrakusuma
1. Amangkurat I
2. Amangkurat II Pangeran Puger ( Pakubuwana I )  HAMENGKUBUWANAN
3. Amangkurat Jawi / IV ( RM. Suryaputra )   Amangkurat Jawi / IV ( RM. Suryaputra )
4. KGPH. Kartasura RM. Sandeyo Kyai Nur Iman Mlangi Hamengku Buwana I RM. Sujono
5. RM. Mansyur Muhyidin Arrofi’I Kyai Guru Luning 1. Hamengku Buwana II RM. Sundoro + Erawati
6. RA. Fatimah ( Nyai Taslim Tirip )   2. BPA. Dipowiyono
7. RM. Abdurrahman Tirip     3. RA. Nyai Kamaludiningrat (Pengulu Kraton)
8. RA. Roikhanah ( Pengulu R. Rilwan Plumbon )  4. RA. Nyai Imanadi ( Garwa II )
9. RA. Rughoyah ( R. Makmun )    5. RA. Nyai Jawahir
10. RA. Honimah  ( Sumadi )    6. R. Badarudin
11. R. Ravie Ananda     7. R. Makmun
       8. RA. Honimah ( Sumadi )
9. R. Ravie Ananda 
      
           
BANI IMANADI ( Pendiri Masjid Agung Kauman Kebumen )
Pangeran Marbut / Syekh Abdurrahman   
Pangeran Nurmadin / Syekh Nurudin
KH. Imanadi ( garwa Putrinipun RA. Kamaludiningrat ) KH. Imanadi ( garwa Pringtutul Rawareja )
1. RA. Nyai Jawahir     1. R. Moh. Alwi
2. R. Badarudin      2. R. Ali Awal
3. R. Makmun      3. RA. Nyai Abdul Hanan
4. RA. Honimah ( Sumadi )    4. R. Pengulu Rilwan ( RA. Roikhanah )
5. R. Ravie Ananda     5. RA. Rughoyah ( R. Makmun )
       6. RA. Honimah ( Sumadi )
       7. R. Ravie Ananda

BANI  ZAENAL ABIDIN BANJURSARI
Syekh Kahfi Awal
Muhtarom
Jawahir Awal
Syekh Yusuf Buluspesantren
Zaenal Abidin Banjursari     Zaenal Abidin Banjursari
1. Jawahir ( Nyai Jawahir putri Imanadi )  1. Zaenal Muharram
2. R. Badarudin ( Nyai Ragil ibni Zaenal Muharram ) 2. Nyai Ragil (R. Badarudin)
3. R. Makmun ( RA. Rughoyah )   3. R. Makmun (RA. Rughoyah )
4. RA. Honimah ( Sumadi )    4. RA. Honimah ( Sumadi )
5. R. Ravie Ananda     5. R. Ravie Ananda


BANI SAYYID AHMAD MUHAMMAD ALIM BULUS PURWOREJO
Al Azhamatkhan ( miturut seratan nasab Sunan Kudus )
Basaiban ( miturut Pustaka Bangun anggitanipun Kyai R. Damanhuri, Habib Dahlan Baabud lan Habib Agil Baabud Purworejo )

1. Sayyidatina Fatimah
2. Husein
3. Ali Zainal Abidin
4. Muhammad al - Baqir
5. Ja'far ash - Shadiq
6. Ali al - Uraidhi
7. Muhammad al - Naqib
8. Isa ar - Rummi
9. Ahmad al - Muhajir
10. Ubaidullah
11. Alwi Awwal
12. Muhammad Sahibus Saumiah
13. Alwi ats - Tsani,
14. Ali Khali' Qasam,
15. Muhammad Shahib Mirbath
16. Alwi Ammi al - Faqih
17. Abdul Malik ( Ahmad Khan )
18. Abdullah ( al - Azhamat ) Khan
19. Ahmad Syah Jalal ( Jalaluddin Khan )
20. Syekh Jumadil Kubro, Pondok Dukuh Semarang
21. Maulana Malik Ibrahim
22. Sunan Ampel
23. Syarifah ( garwanipun Sunan Ngudung )
24. Sunan Kudus
25. Nyai Segati ( Pangeran Bayat ) Tegalsari Garung Wonosobo
26. Nyai Bekel Karangkobar Banjarnegara  
27. Kyai Dilem Bandok Wonokromo Garung Wonosobo 
28. Nyai Dalem Agung Mojotengah Garung Wonosobo 
29. R. Martogati Wonokromo Garung Wonosobo  
30. R. Ngalim Marsitojoyo Garung Wonosobo   
31. R. Singosuto Garung Wonosobo    
32. Hadrotussyaikh Ahmad Muhammad Alim Bulus R. Tumenggung Wirondhoho Bruno
33. Sayyidah Nyai Tolabudin Paguan Kaliboto Purworejo  1. Kyai R. Tolabudin
34. Sayyid  Taslim Tirip ( RA. Fatimah )2. Sayyid  Taslim Tirip ( RA. Fatimah )
35. Sayyid  R. Abdurrahman Tirip  3. Sayyid  R. Abdurrahman Tirip
36. Sayyidah RA. Roikhanah ( R. Rilwan )4. Sayyidah RA. Roikhanah ( R. Rilwan )
37. Sayyidah RA. Rughoyah ( R. Makmun ) 5. Sayyidah RA. Rughoyah ( R. Makmun )
38. Sayyidah RA. Honimah ( Sumadi )  6. Sayyidah RA. Honimah ( Sumadi )
39. Sayyid R. Ravie Ananda   7. Sayyid R. Ravie AnandaPUSTAKA RAJA PURWA RAHASIA SEJARAH TANAH DHAWA NKRIThursday, August 19, 2010 8:45 PMPUSTAKA RAJA PURWA RINGKESAN
Pandobrag Kaluhuran NKRI, Palenggah Kasejaten Pancasila
dipun bedhah dening: R. Ravie Ananda


PUSTAKA RAJA PURWA
Pustaka Raja Purwa tegesipun pakeming sadaya serat – serat Jawi, utawi empu sarta tuking/tetungguling serat – serat Jawi sadaya.

Taun ingkang dipun agem inggih punika taun Surya Sangkala lan Candra Sangkala.
Surya Sangkala ( SS ) ateges taun mletheking Surya wiwit Ajisaka Hangejawi ing Tanah Dhawa. Candra Sangkala ateges taun mletheking Candra wiwit Ajisaka Hangejawi ing Tanah Dhawa.
ingkang kangge patokan : SS 1 sami kaliyan 68 M

Pustaka Raja Purwa kaperang dados kalih :
1. Serat Pustaka Raja Purwa ; wiwit taun 1 ngantos dumugi taun Surya Sangkala ( SS ) 800/Candra Sangkala ( CS ) 824 ( kirang langkung taun 68 M – 892 M )
2. Pustaka Raja Puwara ; nerangaken lelampahan wiwit taun SS 891 dumugi taun SS 1400 ( kirang langkung 965 M – 1468 M )

Pustaka Raja purwa yasanipun Sri Batara Aji Jayabaya nata binatara ing Nungsa Jawi ingkang ngedhaton ing negari Dhaha inggih Mamenang Kedhiri.

Bebukanipun amargi nalika Sang Hyang Narada lan Sang Hyang Panyarikan rawuh dhateng Kediri, handawuhaken lalampahanipun Tanah Jawi ( Tanah Dhaha/Mamenang ) manut pemutanipun para Dhewa.

( geneya dudu manut pemutanipun Jayabaya ? Bisa uga Asma Jayabaya wus misuwur sak durunge anane pustaka Raja Purwa, lajeng jamanipun Pustaka Raja Purwa dipun dhamel,  sanes jamanipun Jayabaya malih, lan asmanipun Jayabaya amung dipun ampil kangge niyat ngendih babad, supados dipun anggep yen Ratu ingkang Agung kemawon ngakeni menawi asalipun manungsa Jawa saking India : Ravie Ananda ).

Prabu Jayabaya lajeng dhawuh dhateng para empu, mengeti wiwit taun 1 dumugi tahun 636, lajeng katunjukaken kaliyan serat Jitapsara lan serat Jid Saka panganggitipun Bagawan Palasara ing Ngastina, nyebataken trah tumerahipun para Dhewa wonten Tanah Jawi, sarta tangkar- tumangkaring manungsa sak lelampahanipun wonten Tanah Jawi. Awit saking sasmitanipun Dewi Rukmawati putrinipun Sang Hyang Anontaboga kala wewarah dhateng Begawan Palasara ing wiwit taun SS/CS 637 – 800 SS/CS ( 705 M – 868 M/741 M – 904 M ). Serat – serat wau katundukna lan pengetanipun para ratu Tanah Jawi, sedaya aturanipun Prabu Jayabaya Kedhiri ( Mamenang ), ingkang kedhawuhan nganggit Empu Jongga ing taun 848 SS/CS ( kirang langkung taun 936 M/972 M ).  Para empu sami kadhawuhan damel karangan hamiyambak, methal – methal manut kasagedhanipun piyambak – piyambak hanjeprah ing sak indhenging negari. Ringkesaning carios, wiwit Sangkala hangejawi ngantos babadipun sedaya Redhi – redhi lsp.

( Bab Begawan Palasara tampi piwulang wiwit taun SS 637 – 800 ( 705 M – 868 ) utawi 741 M – 904 M wonten ing sejarah Indonesia wekdal  punika rak saweg jamanipun Kerajaan Kalingga, Syailendra Mataram, ratu ingkang misuwur inggih punika Empu Sindok kerajaan Medang : Ravie Ananda ).

Serat Maha Dhewa Budha
Sang Hyang Guru jumeneng ratu ing Medangkamulan Kawitan asma Raja Maha Dhewa Budha ( ing gunung Gedhe Bogor ), paring piwulang tetedhan sedaya kewan – kewan,  ngantos dumugi pindhah negari ing wukir Mahendra ( Lawu ). Kaanggit dening Empu Padma ing Mamenang SS 841 CS 877 ( 909 M/945 M ).

( Wonten sejarah Indonesia, wekdhal punika saweg jamanipun nata Empu Sindok: Ravie Ananda ).



Serat Dhewa Raja
Nerangaken para putra Sang Hyang Guru sami jumeneng nata hamiyambak, ngantos taun SS 841/CS 877. Ingkang nganggit empu Sahasrakirana ing Mamenang.

Serat Maha Resi
Serat Maha Resi dados kalih perangan SS 201 – 300/CS 207 – 307 ( taun 269 M – 368 M ).
(Kudune serat iki kang ana luwih dhisik tinimbang Purtaka Raja Purwa sebab yen dinelok luwih tuwa taun anggone digawe tinimbang Pustaka Raja Purwa kang digawe taun 800 an Masehi, ateges Pustaka Raja Purwa kanti alus ngendhih lan nindhih babad – babad sak dhurunge lan ngenomake babad – babad kang luwih tuwa. Wonten ing sejarah Indonesia, saweg jaman kerajaan Taruma Negara ing Jawa Kilen, taun 300 M - 400 M: Ravie Ananda).

1. Resi Kala
Sang Hyang Siwah dados ratu wonten Medang Siwandha, jejuluk Maha Raja Balnya, ngantos Sang Hyang Kala wonten ing Medangkamulan jejuluk Berawa ( Pengrusak Tatanan ).

2. Budha Kresna
Sang Hyang Wisnu Jumeneng nata wonten negari Medangkamulan, pindhah nami negari Purwacarita jejuluk Sri Maha Raja Budha Kresna, ngantos dumugi Sang Hyang Rudra dados ratu wonten Gilingaya. Kaanggit dening Empu Kundala ing Mamenang ).

(Makaten wau gontas – gantosipun ratu, ingkang asli tanah Dhawa wonten Pustaka Raja Purwa mboten wonten. Mestine kedahipun wonten, nitik kenyataan sejarah saged dipun sumerepi bilih ing taun – taun wau sampun wonten kerajaan – kerajaan ingkang gantos – ginantos ing Tanah Jawi : Ravie Ananda) .

Sejarah Indonesia ingkang saged kangge panimbang leres mbotenipun carios babad – babad Tanah Jawi lan gaman pandobraging Babad Asli Tanah Jawi ingkang taksih kapendhem antawisipun : ( dening Ravie Ananda )

DUGINIPUN BANGSA HINDU (  sinten ingkang maringi asma bangsa Hindu ? )
Duginipun Bangsa Hindu ing Jawi Kilen taun 300 M – 400 M (CS 232/332 CS).
Wondene sababipun awit bangsa Hindu kasengsem kaliyan kasuburanipun Indonesia. Bangsa wau dugi saking negeri – negeri “ Hulu Sungai “ Kitsna lan Godawari lan saking pesisir wetan ingkang katelah Kalingga (Keling).
Wiwitipun, bangsa wau dugi ing Jawi Kilen (Pasundan) lan yasa kerajaan Taruma Negara ingkang dipun ratuni ratu – ratu turunan Purnawarman. Agami Bangsa Hindu inggih punika Agama Brahma , Wisnu lan Syiwa (Tri Murti).

Tiyang Hindu pitados kaliyan Panitisan. Adat agami wau inggih punika ngobong gesang – gesang janda/randha ingkang dipun tilar pejah keng garwa (sedha obong).
Tiyang Hindu ngasoraken derajatipun tiyang Pasundan (punika mertandani wonten cikal bakalipun piyambak ingkang nurunaken suku Pasundan (sanes saking suku Hindu, dados panemu lan carios bilih suku Jawa sedaya cikal bakalipun saking para dhewa Hindustan, lan sak derengipun Aji Saka hangejawi, Tanah Dhawa dereng wonten manungsanipun, gugur/katingal mboten tinemu nalar, saged ugi punika wau politikipun bangsa Hindu ingkang damel serat – serat utawi ngewahi babad – babad asli Tanah Dhawa supados dipun anggep bangsa ingkang utami. Kabudayaan ingkang sampun wonten ing Tanah Dhawa sakderengipun bangsa Hindu dumugi ugi saged dipun anggep kagunganipun suku Hindu menawi politik tumpang sejarah utawi ewah – ewahanipun babad tumeka ing sedya : Ravie Ananda).

Sak lajengipun tiyang Hindu mbagi derajat dados sekawan Kasta inggih punika :
1. Brahma
2. Ksatriya
3. Waisya
4. Sudra
5. Paria ( mboten gadhah Kasta ).


Mboten saenipun sesrawungan tiyang Sunda lan Hindu ateges sampun wonten kedadosan Akulturasi budaya, ingkang artosipun bilih sak derengipun tiyang Hindu dumugi dhateng pulo Jawa, ing tanah punika sampun wonten tiyang asli suku Jawa ing pundhi – pundhi kalebet ing Sunda : Ravie Ananda.

Setunggaling piyantun Tiong Hoa, Fa Hian asmanipun, nate dumugi wonten ing Taruma Negara ing 414 M/CS 346 lan nyebataken bilih agama ingkang dipun anut dening tiyang wekdal punika inggih agami Brahma, wondene agami Budha mboten wonten.
(Ananging punapa sebabipun Sang Hyang Guru ingkang dados pimpinaning Dhewa Suralaya ingkang hangejawi wonten ing Gunung Gedhe Bogor miturut Pustaka Raja Purwa jejuluk Sang Hyang Maha Dewa Budha, lan ugi mboten kasebataken wontenipun agami Hindu. Kedahipun rak kasebataken agami Hindu, sebab agami Budha dereng mlebet ?)

Benten malih kaliyan pangendikanipun Redhi Nusantara ( Koordinator acara lapangan Doa Perdamaian Dunia ) nalika dinten Sabtu 7 Maret 2009 wonten ing pelataran Candi Borobudur ingkang dipun pimpin Zurman Druppa Rimpo Che saking RRC, Panjenenganipun ngendika bilih: “ Guru Besar panyebar agami Budha wonten ing Tibet asma Artista Dipangkara. Panjenenganipun asal saking Jawa. Saderengipun adeging Candi Borobudhur, Guru Besar punika wau hijrah dhateng Tibet ing jaman kina lan nyebar agami Budha “ : Ravie Ananda

Wonten ing seratan sejarah ugi dipunsebutaken bilih Wangsa Syailendra milai wonten ing taun 750 M – 850 M (CS 682 – 782 CS). Milai raja – raja Syailendra saking Sriwijaya ingkang nguwasani Kalingga, lajeng dipun gantos nami Kalingga dados Mataram. Awit raja – raja Syailendra punika wau agami Budha, dipun damel candhi Budha Borobudhur, Mendhut lsp.

Pustaka Raja Purwa benten malih anggenipun nyebataken adegipun candi Borobudur, inggih ing SS 140 (208 M) ingkang ateges langkung sepuh taunipun menawi dipun bandingaken kalihan catetan sejarah Syailendra, pramila menawi makaten saged dipun kinten ugi menawi Borobudur punika wau sajatosipun sampun ngadheg sak derengipun Masehi lan dening wangsa ingkang nguwasani wekdal punika lajeng damel prasasti enggal ingkang ngendhih babad Aslinipun. Prasasti ingkang kapanggih ing dhusun Karangtengah Temanggung daerah Widosari Magelang ingkang dipun muat wonten ing Serat Kabar W. Bhakti tgl 10 Agustus 1965 nyebataken bilih adhegipun Borobudhur wonten ing taun 824 M dening Sang Raja Sama Tunggal, malah Sang Raja piyambak ingkang pasang sela kapisan, dene dipun bikak kangge umum dening putrinipun asma Dewi Sama Wardani ing taun 842 M (CS 774). Pramila lajeng nuwuhaken prentuling manah kawula “ Ada Apa dengan Sejarah Asli Bangsa Ini, semua berebut mengklaim sebagai hasil Ciptanya, jika Saylendra mengklaim, mengapa dalam Pustaka Raja Purwa yang kemungkinan itu jajahan India juga telah disebutkan jauh sebelum Saylendra ada, sudah berdiri Borobudur? Mengapa juga jika itu candi Budha, dari semua patung/arca yang ada di Borobudur, tidak ada satupun yang memiliki nama Sidharta, bahkan arca tertinggi yang tertutup oleh Stupa Puncak yang rapat adalah arca Wisnu Murti Budha, yang seharusnya jika memang agama Hindu yang membuatnya semestinya pimpinan tertinggi dalam mitologi nya adalah Shiwa seperti yang diyakini para arkeolog Indonesia saat ini? Wisnu Murti Budha, merupakan suatu lambing filosofi yang mempunyai makna bahwa Ketuhanan Bangsa Indonesia memang Ketuhanan yang Komplit penuh dengan lambang – lambang yang akhirnya diadopsi oleh bangsa lain menjadi sebuah agama Hindu dan Budha, sedangkan di Tanah Dhawa sendiri, sejak jaman dahulu tidak mengenal bentuk agama dan dhewa – dhewa melainkan Kepercayaan dan Keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang diterapkan dalam segala sendi kehidupan.

Mengapa juga negara yang mengklaim dirinya sebagai asal kebudayaan candi – candi di Indonesia tidak memiliki candi sebanyak yang ada di Jawa, yang secara logika seharusnya tempat asal haruslah memiliki lebih banyak dari tempat turunannya. Bagaimana juga dengan artefak – artefak yang ditemukan di daerah Bobotsari dan temuan batu bernilai tinggi Le Sang Du Christ di sepanjang DAS Klawing Purbalingga yang terbuat dari bahan Jasper Hijau berbentuk cakram dengan kwalitas dan teknologi tinggi buatan manusia pra sejarah zaman Neolithikum, juga 50 an situs prasejarah di sana? Mengapa hanya Indonesia yang tidak punya sejarah sebelum masehi sedangkan peninggalan prasejarahnya tergolong tua dengan teknologi tinggi, mengapa tidak pernah ada yang berani membuat sejarah peradaban kuno di Indonesia khususnya di Jawa dan selalu cenderung mengkebiri semua temuan dalam ranah JAMAN PRA SEJARAH/ JAMAN BATU dan ranah  MATARAM KUNO.
Bagaimana juga dengan fosil rahang dan gading gajah purba yang ditemukan pada tahun 1969 di desa Dayu kecamatan Gandangrejo Kab. Karanganyar yang usianya sekitar lebih dari 1 juta tahun yang lalu  dan ditemukan juga di wilayah yang sama peralatan memasak zaman Purba. (mengapa kebudayaan kuno kita selalu digolongkan pada jaman purba, tidak pernah berani meneliti kurun yang pasti seperti kebudayaan negara lain ?).

Dalam pelajaran sejarah tahun 1950 an juga diajarkan bahwa Indonesia mengenal jaman Kuna yakni Batu Purba dan Batu Baru, jauh sebelum 3000 SM. Dan pada zaman Batu Baru disebutkan bahwa orang – orang asli Indonesia (Jawa) telah menjalin hubungan dengan bangsa – bangsa asing seperti Hindu dan Tionghoa. Telah diketahui pula pembuatan perhiasan dari emas dan perak sehingga Jawa dikenal dengan nama Swarna Dwipa (Pulau Emas) begitu pula karena Jawa kaya akan beras kemudian dikenal dengan nama Jawa Dwipa (Pulau Beras). (Ravie Ananda )

Babaring Serat Maha Purwa
1. Purwopadha
Anggitanipun Empu Satya ing Mamenang taun SS. 851/CS 877 (919 M /945 M)
- Tanah Arab saweg kenabian nabi Isa (ateges sampun mlebet taun Masehi)
- Tanah Dhawa dereng wonten tiyangipun
- Tanah Dhawa taksih dados setunggal antawis Sumatera, Bali lan Madura
- Para dhewa ingkang ngedhaton wonten redhi Tengguru tanah Hindi (Himalaya) sami kagungan kersa badhe ngejawantah wonten Tanah Dhawa.
- Lajeng sami hangejawantah wonten Tanah Jawi, dipun pandhegani dening Sang Hyang Guru, inggih Sang Hyang Jagat Noto (kala semanten wonten ing puncaking Gunung Gedhe Bogor (Medang Kamulan I). Sareng 15 taun sami kondur malih dhateng redhi Tengguru, jer kala wonten Tanah Jawi dereng ngerehaken manungsa, kejawi amung ngerehaken para Jin, lelembut lan kewan – kewan.
- Tembung Tanah Dhawa ingkang mastani saweg para dhewa.

Kacarios ing Hindustan wonten ratu asma Prabu Isaka, putranipun prabu Ipaksa inggih Batara Hanggajali, putranipun Batara Yamadhi (Ramayadhi), putranipun Sang Hyang Prawa, putranipun Sang Hyang Ening (sederekipun Sang Hyang Tunggal), kasor perang lajeng lelana tapa brata.
Sang Kala pikantuk sasmitaning leluhuripun ingkang sampun dados dhewa (ateges sakdurunge dadi dhewa wus tau dadi manungsa : Ravie Ananda) supados tapa wonten Tanah Dhawa,  sebab saking Aceh dumugi Bali taksih gandheng dados satunggal. Ajisaka mider – mider sak nginggiling Aceh dumugi Bali, mujur mangetan, kathah taneman Juwawut, lajeng dipun sebut Purwopadha (Tanah Juwawut/Tanah Dhawa) (ateges ana ing tanah Dhawa wus ana wit – witane juwawut, ora mawi jupuk saka India : Ravie Ananda). Saklajengipun Prabu Isaka terus dumugi ing redhi Hyang inggih gunung Kendeng tanah Besuki Probolinggo. Kala semanten pindhah nami Empu Sangkala. Inggih kala dinten wau lajeng kasebut taun Sangkala.

(Sinten ingkang maringi asma? Yen Tanah Dhawa durung ana wonge, kanggo apa asma? Sapa sing garep butuh ngarani? Tanda yen Tanah Dhawa wus ana wonge akeh lan wong – wong mau kang ngarani aran marang Sangkala. Lan maneh kudune serat iki ora kalebu ing Purwopadha sebab anggone dianggit kalah tuwa yen dibandingake serat Maha Resi (kang bakal diterangake ing mburi, kang anggone di anggit luwih disik, malah kaceke adoh nganti atusan taun : Ravie Ananda)

Sakwuse tapa tinarima, Prabu Sangkala kerawuhan cahya murub warni Pethak (Dewi Sri), Jene (Sang Hyang Kala), Abrit (Sang Hyang Brama), Cemeng (Sang Hyang Wisnu), lan Ijem (Sang Hyang Guru).

Antawis 5 wulanan, wonten utusan saking Ngerum.
Prabu Rum (Rum) asma Sultan Algabah saking negeri Brusah (lor kilen negari Arab) badhe ngiseni tiyang dhateng pulo Jawa. Sultan Ngerum ngintun tiyang 2 leksa jodo kumplit sakkapurataning tiyang pindhahan, pepak sarwa hanyekapi, sebab pulo Dhawa katingal panjang sanget.


Dumugi pulo Dhawa/Jawa, kabagi sisih ler, kidul, wetan, kulon lan tengah. Hanjujug Paredhen Kendeng Surakarta ingkang hanggalur dhateng Surabaya keleres wulan Nisan tahun Rum 437. Kala semanten tiyang wau sami katrajang maneka rupi sesakit, sami pejah sarta kathah sanget ingkang kemangsa kewan galak miwah dening brekasakan, ngantos kantun 2000 tiyang. Tiyang wau lajeng sami ngempal dados setunggal lan manggen ing Tegal. Ing jaman wau kaetang Nabi Adam sasampunipun jumeneng kalipatullah SS 5154/CS 306/Jawi 1 SS/Wisaka kaetang jaman Pancala 768.

(anane tembung “ Adam ” genah sak wuse anane agama Islam, mula bisa katitik mbok menawi Pustaka Raja Purwa iku babad anyar kang ngendih lan nindhih babad lawas kang asli tanah Dhawa, banjur kalindhih maneh sakwuse mlebune Islam Ing Jawa : Ravie Ananda).

Ing taun SS 3/CS 3 (71 M), tiyang kantun 20 han somah, sadaya sami ajrih lajeng mantuk dhateng tanah Rum perlu matur sedaya lelampahanipun dhateng Ratu. Kesahipun tiyang wau taun SS 4/CS 4 (72 M).

Sultan Algabah lajeng utusan Pandita linangkung sarta wasis ing sedaya bab nami Ngusman Aji saking Bani Israil, supados hangejawi maniti kados pundi kawontenanipun Tanah Dhawa. Sang Ngusman Aji terus bablas hangejawi hanjajah sak indhenging kepuloan ngantos teliti, wekasan mriksani teja manter, nginten bilih dhayaning kawontenan ingkang linangkung, sareng dipun pereki, nyata punika wau tiyang ingkang saweg tapa, inggih Sang Aji Sangkala ingkang kala rumiyin sampun nate merguru dhateng panjenenganipun. Ing ngriku Ngusman Aji dipun aturi ing sarupaning kawontenan lan ingkang pinanggih wonten Tanah Jawi.

Sasampunipun makaten, Sangkala lajeng dinawuhan handerek dhateng Ngerum lan mboten kawratan. Sakdumuginipun tanah Ngerum, lajeng ngadhep Prabu Algabah wekasan dinawuhan sediya tumbal ingkang kangge nulak sarupaning bebeka ing Tanah Jawa.

Dipuncariosaken, sasampunipun antawis 7 dintenan, Tanah Dhawa oreg sarwa geter pater dedet erawati, redhi sami hambledos, jawah deres mawa kilat tatit damel girising sadaya ingkang wonten ngriku.

(jarene durung ana wonge, kok wis gawe wedhi kabeh kang ana ing kono? Tanda yen sejatine wus akeh wonge : Ravie Ananda).

Redhi katingal murub hamulad – mulad, persasat sundul ing ngawiyat.
Sak sireping oreg – oregan, lajeng matur dhateng ingkang utusan, kedadosan ingkang nembe katindakna.

Karingkes sang Ngusman Aji kadherekna dening kulawarganing Sang Kala, nama Empu Bratandang, Empu Baruni lan Empu Braradiyo, terus supados sowan dhateng Sang Maharaja Jagat Nata, inggih ratuning golongan dhewa ing negari Hindu, kaparingan tiyang 20.000 jodo sak ubarampenipun boyongan. Terus dhateng Keling kaparingan 15.000 jodo pepak sak kabetahanipun kekesahan. Kala jaman semanten nama pulo Selan utawi Selon, ingkang mbenjangipun dados negari Ngalengka (Prabu Dasamuka). Teras dhateng Siyem angsal 3000 jodo, ugi dhateng Kencana (Buruni) , Borneo serta saking Makasar Lsp. Teras dhateng pulo Bawehan lan Pawinihan perlu maspadhakna kawontenaning pulo Dhawa, sebab katingal taksih mulad – mulad latunipun lan dereng sidem sedaya. Kala semanten ing taun SS 9/ CS 9.

(Pirang dina/wulan/taun laku mulihe wong 20 somah saka Tanah Jawa menyang Rum wiwit SS 4/CS 4? nitih apa? Pirang dina/wulan/taun suwene tindake Usman Aji menyang Jawa? nitih apa? Pirang dina/wulan/taun tindake Usman Aji lan Ajisaka saka Jawa mulih menyang Negara Rum? Pirang dina Usman Aji lan Ajisaka bali neng Jawa maneh saka Rum kanggo numbali Tanah Dawa? Pirang dina/wulan/taun Ngusman Aji lan Ajisaka kondur maneh menyang Rum kanggo laporan kahanan sak wuse Tanah Dhawa ditumbal suwene 7 dina? Pirang dina/wulan/taun suwene tindake Ajisaka lan Ngusman Aji lan keluwargane Ajisaka sowan dhateng Sang Hyang Jagat Noto ing Tengguru? Pirang dina/wulan/taun panjenengane mau tindak menyang Ngalengka/Keling/Selon, Borneo, Makasar, Pawinihan, Bawean lsp lan nganggo apa anggone ngangkut wong sing cacahe banget akehe mau? Pirang armada prau? Dene taksih mulad – mulad Tanah Jawa, ateges ora mung sedina rong dina olehe oreg lan geter, sebab dicaritakake ing SS 9/CS 9 taksih oreg : Ravie Ananda ).
Wekasan tiyang wau kabagi – bagi dhateng tanah Sumatra, redhi Raja Basa. Sanesipun wonten redhi Kendheng (Kondha) tlatah Rembang, Redhi Oya/Merapi (Jogja), Redhi Dhoyong (Priyangan), redhi Indragiri, Himawan lan Mahameru (Semeru) ing taun SS 16 ipun.

Tiyang saking Keling sami nanem Jenistri asal bektan saking negarinipun

(geneya Jenistri ( udraksha  80 % sak dunya akehe ana ing Jawa, lan kang paling apik kwalitase uga jenitri Jawa. Kudune yen jenitri asal saka Keling, ing tanah mau kang luwih akeh. Nganti sak iki “ Pemasok Jenitri di India dan daerah Sentral Jenistri terbesar di dunia adalah Kediri dan Kebumen : Ravie Ananda).

Ing taun SS 11/CS 11, Sangkala madosi tiyang – tiyang saking sedaya suku ingkang katingal pinter – pinter lan majengi, dipun titi angsal 10 tiyang, inggih punika nami :
1. Pujangga
2. Wisaka
3. Kuwastaka
4. Malindatta
5. Witsyandaka
6. Kumonda
7. Kuratnya
8. Hanuwilipa
9. Sukskadi
10. Saradda.

Sadaya dipun paringi piwulang Sangkala ing bab Kaluwihan, Kasantikan, lan Saliring Kesagedhan ingkang hanyekapi.
Sasampunipun ginalih cekap, Sang Sangkala mantuk dhateng negarinipun, wondene sedherekipun kedhawuhan sowan dhateng Sang Prabu Jagad Nata, ngaturi pelaporan punapa ingkang sampun katindakna wonten ing Tanah Dhawa.

Punika carios sepisanan Tanah Dhawa dipundekeki Manungsa.

(Yen Borneo lan Makasar sampun kebak manungsa, punapa Jawa durung ana wonge? Lah dene transmigrasi kabeh saka Jawa menyang Borneo lan Sulawesi, amarga ing pulo iku taksih sathithik wonge? : Ravie Ananda)

Sak dhatengipun Sangkala saking Ngerum ing SS 11/CS 11
(geneya kasebut ing ngarep negerine Sangkala ing India, lan sak wuse paring piwulang werna – werna lajeng kondur dhateng negarinipun ing taun SS 11 kang ateges kondur ing India, lha sak iki katerangake yen SS 11 Sangkala saking Ngerum? Ora jumbuh bab keterangan kawitan lan katerangan sakteruse, tanda yen kang ngubah utawane kang gawe riwayat, kang niyat ngubah kurang taliti. Yen ing SS 11 wus diwulangi sadaya kabisan ateges wus ana sastra, ananging diterangake ing mburi mengkone tembe ana sastra sakwuse anane dhawuh damel sekar Kawi. : Ravie Ananda)

Sareng Sangkala, Sang Prabu Nata inggih putranipun Sang Prabu Algabah ing ngajeng, utusan tiyang pinten – pinten golongan supados gramen lan sesadeyan barang maneka warna kabetahaning bebrayan wonten Tanah Dhawa.
(carita iki kanggo ngendih kasejaten yen ing Tanah Dhawa wiwit kunaning makuna wis misuwur perdagangane. Geneya Sang Nata dudu Sang Jagat Nata, ananging putrane Prabu Algabah : Ravie Ananda).

Bab sade – tinumbas, kanti ijolan mas utawi kajeng ingkang migunani tuwin barang sanes – sanesipun. Kathah tiyang Rum ingkang lajeng kraos dedunung wonten ing Tanah Jawi hamboyong kulawargane.
(yen pancen Tanah Dhawa diiseni wong saka Rum, ateges Tanah Dhawa wonge luwih sithik katimbang wong Rum, geneya wong Rum lajeng kraos lan mboyong kulawargane sebab kanggo dagang nyenengake, lan malih kok Tanah Dhawa kang diarani Swarna Dwipa (Panggonane Emas), yen pancen emas kuwi amung gawan saking Rum kanggo ditukar kayu (ateges wis akeh wit – witan sak durunge ana carita dhawuh hewa kanggo nanduri sawernaning tetanduran ing Jawi, dadi ora ditanduri dhewa – dhewa India, ing Jawa wus ana tanduran werna – werna), kudune Rum kang sinebut Swarna Dwipa : Ravie Ananda)
Ing SS 29/CS 29 (97 M)
Para tetiyang grami sadaya kakempalaken lajeng pinaringan pernah sagedha gegriya ing panggenan ingkang ginalih utami, terus kaparingan sesepuh nami Tamus.
Saged dipun terangaken bilih dhusun kapisan ingkang sampun utami lan tiyangipun kahtah inggih ing wukir Gedhe wates Bogor lan Priyangan.
(sak mangke nami Buiten Zorg/Kebun Raya Bogor, ing kono sejatine wus ana kabudayan Kuno Tanah Dhawa kang banjur diendhih riwayate dadi kaya mangkene, mula ing Kebun Raya Bogor iku dununge Istana Negara Indonesia kang kawitan kang sak durunge uga wus dadi papane Belanda: Ravie Ananda)

(geneya dudu Kendheng lan Raja Basa kang kudune dadi dusun kawitan, sebab padunungan mau kang didekeki manungsa kapisanan, dene Gunung Gedhe manut babad iki rak mung kanggo lenggahing dhewa – dhewa Suralaya kang amung 15 taun kondur dhateng India lan durung ngerehake manungsa ? ketok banget yen kang gawe babad mulai bingung anggone ngendhih riwayat kang asli : Ravie Ananda)

Salajengipun diterangaken bilih babading redhi :
1. Mahendra/Lawu
2. Candrageni/Merapi lan Marawu/Merbabu

ing SS 30/CS 31 (108 M/109 M)

Sangkala kawiwitan kesahipun saking Rum sampun Umur 98 taunan, lajeng kesah dhateng tanah Awinda, nyara Arab sinebat Tanah Lulmat, ing perlu ngunjuk toya Gesang, wekasan nem malih.
3. Babading wukir Muria ing SS 331/CS 332 (399 M/340 M)

(ateges sak durunge ana Sunan Muria, redhi Muria wus misuwur lan ana situs kuno kang mungkin taksih kapendem utawa karusak : Ravie Ananda)

(menawi ing sejarah Indonesia, taun punika jaman kerajaan Tarumanegara, mula anehe babad iki, dene carita kerajaan – kerajaan kang kudune sak jaman kok ora diterangaken lan kabeh ngandhakaken yen Tanah Dhawa iki pancen kosong lan kaisi dening tiyang Rum, iki tanda yekti menawa babad iki digawe kanggo njajah lan ngendhih riwayat asli Tanah Dhawa Kuno kang wis misuwur nguwasani dunya  jaman 2,5 juta taun kapungkur  (Atlantis kang sayekti, kang luwih tuwa taune katimbang taun kang disebutake dening Plato : Ravie Ananda)

4. Redhi Donorojo (golongan pesisir ler) ing SS 34/CS 35 (102 M/103 M)
5. Redhi Titisari lan Brangti ing SS 35/CS 36 (103 M/104 M)
6. Redhi Parimbun ing SS 36/CS 37 (104 M/105 M)
7. Redhi Cikorai Priyangan ing SS 37/CS 38 (105 M/106 M)
8. Redhi Gora (Slamet) ing SS 38/CS 39 (106 M/107 M)
9. Redhi Sapada (Sumbing) lan Sadara (Sindoro) ing SS 39/CS 40 (107 M/108 M)
10. Redhi Prawa taun sami
11. Redhi Antaga ing SS 42/CS 43 (110 M/111 M)
12. Redhi Brahma ing SS 43/CS 44 (111 M/112 M)
13. Redhi Kusara taun sami
14. Redhi Sapta Arga/ Martawuj/Diyeng ing SS 44/CS 45 (112 M/113 M)
15. Redhi Hudarati (Harjuna) ing SS 45/CS 46 (113 M/114 M)
16. Redhi Syakala ing SS 46/CS 47 (114  M/115 M)
17. Redhi Mombramuka (Halahulu/Gunung Kumbang) ing SS 47/CS 48 (115 M/116 M)
18. Redhi Nilandusa (Wilis) Madiun ing SS 48/CS 49 (116 M/117 M)
19. Redhi Kulamba ing SS 49/CS 50 (117 M/118 M)
20. Redhi Batukanda (gunungKarang) Banten ing SS 50/CS 51 (118 M/119 M)
21. Redhi Batiwara (Pulosari) Banten ing SS 51/CS 52 (119 M/120 M)
22. Redhi Kapi kilen Banten (wates Sumatra) ing SS 52/CS 53 (120 M/121 M)  






Babaripun Serat Maha Dewa
Kaanggit dening empu Padma ing negari Mamenang SS 851/CS 877 (919 M /945 M)
Lampahan angka 1
Para dhewa ingkang hangedhaton ing tanah Hindi sak mangke sinebat Hindustan, sesarengan hangejawantah dhateng tanah Jawi, sami nami Resi, dipun pandhegani (pangagengi) dening Sang Hyang Jagad Nata., jejuluk Prabu Maha Dewa Budha. Adegipun kraton kapisanan wonten sukunipun redhi Gedhe, ing tapel wates Priyangan lan Bogor, hapepatih Sang Hyang Narada, hangratoni sarupaning lelembut, kewan – kewan, kutu – kutu  walangatogo, gegremetan, peksi, gendruwo miwah raksasa ing sakiwa tengene daerah ngriku.

(sajatine ana kabudayan Kuno apa ing tanah iku nganti kabeh babad pada ngaku yen pertama hangejawi ana ing laladan iku ? : Ravie Ananda)

Ing SS 140/CS 144 (208 M/212 M)
Sang Hyang Mahadewa Budha yasa Candi wonten sak kilenipun Redhi Candradimuka/Candrageni (Merapi)  sinebut candi Borobudur.

(Yen miturut serat iki, Borobudur wus ngadheg ing taun 208 M, dene prasasti kang ditemokake nyebutake ing taun 800 M, ateges bisa bae Borobudur wus ana sak durunge 208 (sebab babad iku babad kang sengaja digawe kanggo ngendhih babad asli tanah dhawa ben kabeh – kabeh diarani saka India), dene prasasti kang kagolong enom taune iku bisa uga prasasti anyar gawean kang  nguwasani wektu samono ben dianggep yen Borobudur iku gaweane pangwasa mau : Ravie Ananda).

Inggih punika kawitanipun tanah Jawi wonten Panjenenganing Ratu. Negari dipun nameni Medangkamulan I ing SS 140/CS 144 (208 M/212)
(sangsaya geseh babade karo kang kaceta ing ngarep kang wus nerangake bilih para dhewa sami hangedhaton ing redhi Gedhe Bogor lan amung 15 taun sami kondhur dahteng Himalaya / Tenguru / Hindustan sebab dereng ngerehaken manungsa. Lha yen durung ana manungsane, negari iku banjur isine apa? Rakyate wujud apa ? : Ravie Ananda)

Sang Prabu Maha Dewa Budha jumeneng Ratu wonten tanah Jawi Kaetang sampun 40 tahunan, lajeng damel tatanan kangge pasewakan para ingkang dipun reh makaten :
1. Ing tanah ngare, kangge pisowananing para manungsa (nama negari)
(Serat Maha Dewa Budha iki malah wus nyebutake yen wus ana negari lan maneh ora disebutake yen tanah Dhawa ditumbal disik, lan malah wus isi manungsa tanpa didekeki saka Rum : Ravie Ananda)
2. Ing satengahing wana kangge pasewakaning sagunging kewan – kewan
3. Ing sapuncaking Redhi ingkang inggil piyambak kangge pasewakaning iberan
4. Ing seganten miwah satepining lepen – lepen, kangge pasewakaning ulam toya
5. Ing guwa, ereng – ereng miwah satepining jejurang, kangge pasewakaning para Raksasa, Dhanawa, miwah Dhiyu, Ditya lan Pasaka.
6. Ing ngembel – ngembel punika pasewakaning para gegremetan
(arane dhewe – dhewe mesti bae wujude ya seje, apa ing Negara India ana aran mawarna – warna Raksasa kaya kang kaceta ing dhuwur ? : Ravie Ananda)

Ing SS 142/CS 166 (210 M/234 M)
Sang Hyang Maha Dewa Budha yasa kedhaton utawi Prasadarja ing Puncaking Redhi Kumala.
(digoleki kayane taksih ana tilase, kang bisa uga sak durunge babad iki ana, wewangunan iku wus ana sakdurunge, wujud tilarane kabudayan Tanah Dhawa Kuno : Ravie Ananda)

SS 144/CS 148 (212 M/216 M)
Ngatur tatananing Palenggahaning manungsa yen sami sewaka. Sedaya wau rinakit Pancaniti kangge lenggahing para :
1. Lenggahing Ratu
2. Lenggahing Patih
3. Lenggahing Brahma
4. Lenggahing Senopati
5. Lenggahing jaksa, sarta mawi kaupa rengga sak pangkat – pangkatipun


Lah inggih punika wiwitipun Ratu tanah Jawi bilih sewaka mawi tatacara ingkang makaten.
Para Resi uga dinawuhna damel Candi handewe wonten padununganipun lan samiya jumeneng ratu Alit, nanging sedaya kedah ngidhep dhateng Sang Hyang Maha Dewa Budha sarta samiya ngirup sarana pangawikan dhateng rakyat kiwa – tengene ngriku dadosa kawulanipun.

Wonten carios ing SS 144/CS 148 (212 M/216 M)
Sang Maha Dewa Budha kagungan cecangkriman dhateng para ingkang sumewa makaten :
1. Luhur ingkang hangungkuli wukir
2. Wiyar ingkang hangungkuli samudra
3. Padang ingkang hanimbangi rainten
4. Radin ingkang nyameni tanah Leta

Para kawulanipun ingkang hawarni – warni kutu – kutu walang atogo, kewan daratan, iberan, kewan toya miwah lelembut dumugi golongan manungsa sadaya mboten wonten ingkang saged hambatang.

Kala semanten Sang Hyang Maha Dewa Budha kewran.
(geneya kerwan, wong cangkrimane dhewe, kari diterangake dhewe rak ya bisa to ? : Ravie Ananda).

Lajeng handangu Sang Hyang Narada patihe
(Lha patihe kok ya ora bisa mbatang, ananging ngerti sapa kang bisa mbatang? Rak ya aneh ta ? : Ravie Ananda)

Sinten ingkang saged hanjarwani sasmita wau, aturipun Sang Patih “ Kejawi Ratuning gandaruwo kadhos mboten wonten ingkang saged hanjarwani sasmita wau.
(geneya ratuning Dhewa lan patihe kalah pinter tinimbang ratuning Gandaruwo  : Ravie Ananda)

Ringkes, ratuning Gandaruwo katimbalan wekasan kabatang makaten :
1. luhur ingkang hangungkuli wukir ateges ratu ingkang hamradinaken dhana
2. Wiyar ingkang hanglangkungi Seganten tegesipun ratu ingkang hanggelaraken para marta
3. Padang ingkang hanimbangi Rainten ateges ratu ingkang hanglampahaken periksa
4. Radhin ingkang hanyameni tanah Leta ateges ratu ingkang hanglimrahaken guna.

Sareng mireng aturipun Sang Genderuwo, Sang Hyang Maha Dewa Budha rena ing penggalih, wekasan Sang Genderuwo kapetalaken saking golonganipun lan tetep kaangken sak bongsa kaliyan para Dhewa.

(geneya gandaruwo diakoni sak bongsa karo dhewa, lah yen babad nyaritakaken tanah Dhawa sak durunge isi Manungsa saka India lan Rum isine mung lelembut lan gandaruwo kaya kangkaceta ing babad “ sejarah kawitane wong kanung lan wong jawa “ kang nyebutake bilih wong asli jawa sak bongsa Gandaruwo, ateges wong kene sak bongsa karo dhewa – dhewa ing India : Ravie Ananda).

Ing SS 146 / CS 157 ( 214 M / 225 M ) Sri Paduka Maha Dewa Budha pindhah kraton wonten ing redhi Mahendra inggih redhi Lawu, tapel wates Solo lan Madiun. Ing Ngriku lajeng yasa kedhaton ngemperi ing kraton paredhen Himalaya tengguru tanah Hindu, lajeng kawangun kasuwargan rineka tejamaya, rineka hargadumilah, rineka jonggringsalaka, rineka / rinupa Dawarna – warna , sadaya kumplit sak upa rengganing kasuwargan winangun bale Martyakunda, winangun bale Marakata, winangun bale Korimatangkeb.

(bisa uga ing Lawu wus ana kabudayan kuno Tanah Dhawa kang banjur kanti babad iki diendhih sejatine lan sepaya dianggep asale saka India. Yen kabeh nyonto ing Himalaya, mestine ana ing kana rak ana wujud tilaran – tilaran kaya ing Redhi Lawu kang kandhane nyonto kang ana ing Himalaya, geneya ana ing Himalaya ora ana tilaran kang kaya dene ing Lawu ? : Ravie Ananda)





Para putra ingkang ginalih perlu kajumenengaken hamiyambak upami :
1. Sang Hyang Sambo jejuluk Sri Maha Raja Maldewa ing redhi Raja Basa, nami negerinipun Parwa (Sumatra)
2. Sang Hyang Brama jejuluk Sri Maha Raja Sunda ing redhi Anyar, nami negerinipun Medang Gili  (Banten)
3. Sang Hyang Hendra jejuluk Sri Maha raja Sakra (Saka) wonten redhi Mahameru (Semeru), negarinipuin nami Medanggana (daerah Probolinggo)
4. Sang Hyang Wisnu jejuluk Sri Maha Raja Suman, negarinipun Medangpura  (Tegal)
5. Sang Hyang Bayu jejuluk Sri Maha Raja Bima, negarinipun ing Bali wonten puncaking redhi Karang
Sedaya kedah seba dhateng Sri Maha Raja Budha

(nitik kang disebutake iku, bisa dimangerteni yen kabudayan ing Tanah Dhawa wus sumebar lan agung, mila yen diendhih kanti numpangi babad lawas, kabeh bisa kendhih kabeh, monggo dipun galih malih ing salebeting manah kita sedaya : Ravie Ananda)

Saking kinedahna badhe gantos kawontenan in SS 174 / CS 179 ( 242 M / 247 M ), redhi Merapi hanjeblug mawa swanten hanggeteri. Bumi gonjang – ganjing, kados meh hangobahaken jagad, manungsa sak kewanipun sami pating gedandap ngaler ngidul poyang payingan mados gesang. Malah kathah manungsa ingkang sami pejah kabalebek lahar.
Ingkang perlu kocap ing ngriki :
Para dewa – dewi ingkang sami manjalma wonten tanah Dhawa sami geger, wekasan sami ngungsi wonten Sang Hyang Maha Dewa Budha.
Panjebluging redhi Merapi, sedaya wewangunan lan kedhatonipun Sang Hyang Maha Dewa Budha rusak ajur mboten kalap samenir, makaten ugi ing sedaya puncaking redhi ingkang sami kadunungan kedhatoning para dewa, wewangunanipun risak, semanten ygi recanipun sak kabuyutanipun sami sirna sedaya.
Sapisan malih, punika gogroging reca – reca Borobudur.

(miturut sejarah enggal, Borobudur wonten ing abad 8 ateges taun 800, ananging miturut babad lawas kados dene Pustaka raja Purwa Punika, Borobudur sampun gogrog ing 242 M/247 M, pukika kemawon babad ingkang sampun ngendhih/ngenomake babad asli, pramila saged dipun kinten bilih sajatosipun Borobudur sampun wonten wiwit Kina, saderengipun tiyang India hangejawi . Dewa – dewa sami geger lan ngungsi, makaten ateges sami kaliyan manungsa to, mila saged ugi dewa punika amung sami – sami manungsa ingkang lajeng dipun damel wontening tingkatan kasta wekdal semanten, lan tingkatan dewa punika kasta ingkang paling inggil : Ravie Ananda). 

Dhawah sasmitaning Dhewa luhung makaten (sak laras lan kersaning Ingkang Maha Esa)
1. Urubing Badhan mesti kawasesa dening Eling/Ati
2. Urubing Ati mesti kawasesa dening Nyawa/urip
3. Urip mesti kawasesa dening Dewa (Kang Maha Kuwasa)

1. Bala kawasesa dening Ratu
2. Ratu kawasesa dening adil
3. Adil kawasesa dening wicaksana

(sapa dewa luhung mau, kok dudu Sang Hyang Maha Dewa Budha, iku ateges Sang Hyang Maha dewa Budha kalebu dewa biasa : Ravie Ananda)

Gantining lakon
SS 193/CS 199 (261 M/267 M)
Ratu 5 wau sami daredhah ingkang tanpa wates. Para ratu, satriya, para tetunggulipun dumugi rakyatipun sami rebatan pasiten, pawestri, harta, rukmi, saweneh rebat kawruh, rebat leres, rebat kekiyatan lan rebat unggul. Teras makaten ing saben kita ageng, kita alit dumugi ing dhusun ingadhusun, wekasan negari dharedhah, tetiyang sami ajrih, wekasan Negara saged dipun wastani gedher lan resah ing siang dalu. Terus wontening peprangan ageng lan alit ingkang tanpa wekasan, negari pikantuk bebenduning jagad, ugi saged dipun wastani Pameling Kang Maha Esa.


Nyebal garis wau, manut kapercadosan Tanah dhawa, yen Ki Semar Badranaya sayekti inggih Sang Hyang Ismaya, pernah kakangipun Sang Hyang Jagad Nata inggih Sang Hyang Guru, kala semanten saweg hangedhaton wonten puncaking redhi Mahendra (Lawu). Sak kulawarganing dewa sedaya. Malahan para putranipun sak sanak sedherekipun Sang Hyang Jagad Nata sami jumeneng resi lan maha resi dumugi ratu alit ing puncaking redhi – redhi Tanah Dhawa wiwit Sumatra Wetan, dumugi Madhura lan Bali lsp.

(Yen Semar pancen asli saka India lan kakange Sang Hyang Guru, geneya ana ing India ora ana Semar, anane ya mung ana ing Jawa : Ravie Ananda)

Ki Semar (Sang Hyang Ismaya) lenggahe hangayomi para lelembut lan suku alus pikantuk dhawuhing Hyang Agung inggih Hamurba Hamisesa, supados nyapih reretuning tanah Dhawa. Jer dharedhahipun ratu gangsal wau mahanani getering bawana.

(lha pimpinane dewa malah ora bisa nyapih, rak kudune sing nyapih Sang Hyang Jagad Nata/Batara Guru to : Ravie Ananda)

Salajengipun Sang Hyang Ismaya sampun pinasti (manut Pustaka Raja Purwa) kinedhahaken momong dharahing Sang Hyang Bayu, Brahma lan Wisnu lsp.
Mila putra – putranipun upami :
1. Sang Hyang Wungkuhan anama Brahmana Raja Weda
2. Sang Hyang Siwah anama Brahmana Raja Bahlika
3. Sang Hyang Wrahaspati anama Brahmana Raja Trista
4. Sang Hyang Yamadipati anama Brahmana Raja Graksa
5. Sang Hyang Surya anama Brahmana Raja Grisma
6. Sang Hyang Candra anama Brahmana Raja Walanta
7. Sang Hyang Kuwara anama Brahmana Raja Hima
8. Sang Hyang Tamburu anama Brahmana Raja Pathuk
9. Sang Hyang Kamajaya anama Brahmana Raja Taddi
10. Sang Hyang Mahyanti anama Brahmana Raja Yukta

(asmane dhewa – dhewa putrane sang Hyang Semar rak ngemperi Ratu – Ratu Tanah Dhawa kang kasebut ing babad iki ateges ratu – ratu didominasi putra – putrane Semar to, ya Semar kang mung ana ing Jawa lan ora ana ing India : Ravie Ananda)

Pangejawantahing dhewa – dhewa wau arsa nyapih ingkang sami panca kara. Dhatengipun sedaya sami hanjujug wonten wukir Mahendra (Lawu) perlu badhe nyirep reretuning jagad.

Salajengipun, para ratu gangsal sami katimbalan dhateng ngarsanipun, dipun paringi sasmita  :
Badhan kawisesa dening Manah
Manah Kawisesa dening Nyawa
Nyawa kawisesa dening Dhewa

(ratu 5 wau rak dhewa to? Geneya taksih durung mangertos anane sasmita mau ?: Ravie Ananda)

Sareng mireng dhawuh sasmita makaten, ratu 5 sami rumangsa lepatipun, dene anggenipun mengku bala kekirangan pangrehipun, denira haniti, hanata, hamariksa, saha hamisesa, mongka panggalihipun para nata wekdal semanten :
Bala kawisesa dening Ratu
Ratu kawisesa dening Adil
Adil kawisesa dening Wicaksana

Mila para Brahmana wau sami damel pasang giri tumuju dhateng ratu 5 wau kados makaten mawi ukara mantra :
A, I, E, U, O
(pasang giri iki kang sak iki ana ing kalangan kejawen klenik dadi jimat /rapal utawa mantra, sebab ora ngerti carita kawitane kang sayektine amung pasemon anane aksara urip utawa sastra ananging sinimpen ana ing sajeroning carita, mula yen kabeh anggone mriksani , naliti tilaran – tilaran Jawa Kuno para arkeolog namung sinau jawinipun kemawon tanpa mangertosi karep ingkang siningit ing sajeroning carita, ya bakal ora bisa dungkap sejatining kareping pra Luhur : Ravie Ananda)
SS 513/CS 538 (581 M/606 M)
Prabu Basupati (Basurata) pindhah negari ing Wirata, dumunung ing sak kidul wetaning redhi Lawu, laladan kita Ngawi, sinebat nama Wirata II.
Sasampunipun Prabu Basupati damel kraton ngantos nengsemaken, ringkes peputra pinten – pinten, sarta kagungan mantu Resi Parikenan.

Resi Parikenan peputra Raden Kaniyasa kang sekti mandraguna lan saged ngambah gegana.

Raden Kaniyasa terus tapa wonten wukir Sata Rengga, wekasan hapeparab Resi Manumanasa (raja pandhita wonten ing Sapta Arga/Dieng). Resi Manumanasa damel pertapan ing puncaking redhi Sapta Arga sinebut Martawuj.

(Martawuj/Sapta Arga kaubah asmanipun dados Redhi Lawet, sak duginipun Islam wonten Tanah Dhawa, kangge ngendhih kaluhurane Jawa Kuno, lajeng misuwur yen Redhi Lawet punika papan ingkang angker lan wingit sebab kenging dhayanipun para wali ingkang sami musyawarah wonten ing ngriku, lha sak durunge para wali musyawarah ing redhi Lawet, redhi iku rak wus dadi pertapane sang Resi to? Redhi Lawet ana ing laladan Purbalingga Jawa Tengah : Ravie Ananda)

SS 515/CS 530 (583 M/598 M)
Resi Manumanasa katarima dening Hyang Kang Maha Wisesa, sarwa waskita lan sekti mandraguna, yekti yen jinurung dening Kang Maha Esa.

(geneya katrima dening Kang Maha Wisesa, dudu dening Dhewa Jagad Nata ? tanda yekti yen sakjatine para Luhur Jawa Kuna, Sapta Arga uga Semar lan Pandhawa iku asli saka Tanah Dhawa kang duwe pangandel marang Kang Maha Esa, dudu saka India kang pangandele kang taksih marang dhewa – dhewa. Tanda yekti yen ana ing carita wayang, saben – saben Kahyangan lan kasuwarganing para dhewa dirusak dening Dhanawa utawane Raksasa, para dhewa tekan Batara Guru / sang Hyang Jagad Nata kang jare dadi pimpinaning Dhewa ora tau bisa kuwasa masesa Raksasa mau, lan ajegan nyuwun tulung marang dharah Pandawa ing Sapta Arga Dieng kanggo nyapih gendraning kahyangan. Ana dhewa kok ora bisa ngalahake Buta, lan nyuwun tulung manungsa Sapta Arga! Ayo padha wunguwa putra – putra tanah Dhawa RI, wis wayahe dhewe melu hambantu njejegake lan ngedhuk Babad Tanah Dhawa kang sejati, kang nganti sak iki taksih jinajah dening bangsa liya, malahan dening para ahli saka negarane dhewe kang uga ora ngakoni yen Tanah Dhawa iki ana wonge : Ravie Ananda) 

Wonten carios malih
Janggan Asmara putranipun Sang Hyang Wungku, wayahipun Sang Hyang Semar (Ismaya) kala semanten ginodha sima kalih, sareng karuwat dados putri kekalih ingkang sepuh asma Dewi Kanistri, ingkang nem asma Dewi Kaniraras )
Janggan Asmara kadhawuhan momong Resi Manumanasa wonten ing Sapta Arga.
Dhawuhing Hyang Wisesa (kok dudu dhawuhing dhewa : Ravie Ananda)
Dewi Kanistri dadosa palakramanipun Janggan Asmara
Dewi kaniraras dados garwanipun Resi Manumanasa

Mangka sayektinipun putri kekalih wau putranipun batara Hira.
Batara Hira putranipun batara Taksa.
Batara Taksa putranipun batara Suksma Warna
Batara Suksma Warna putranipun batara Catur Warna
Batara Catur Warna putranipun batara Catur Kanyaka
Batara Catur Kanyaka putranipun sang Hyang Purbawisesa (Sang Hyang Darmajaka)
Sang Hyang Purbawisesa putranipun Sang Hyang Nurcahya
Sang Hyang Nurcahya (Sayid Anwar) putranipun Nabi Sis
Nabi Sis putranipun nabi Adam

(monggo dipun taliti wontenipun silsilah, punapa tulus punapa gadhah karep politis, nitik silsilah punika saged dipun mangertosi bilih Pustaka Raja Purwa punika sampun endhihan pinten – pinten babad inggih punika sekawit saking babad asli dipun endih babad manut aluran India (dewa – dewa) lajeng dipun endhih malih manut aluran nabi – nabi : Ravie Ananda)

Dewi Kaniraras dipun elih naminipun dados dewi Retnawati.

SS 516/CS 531 (584 M/599 M)
Wonten dhawuh :
Wayah ingsun dekeken ana ing sendhang Pawitra sak wetaning Martawuj, ing imbanging Wukir Sapta Arga.

Kala semanten Resi Manumanasa sak garwa sami ngenggar – enggar wonten petamanan, ngawuningani wonten cahya murub muncar, terus dipun wuningani, sumerep wonten who Supawa kados bolu satunggal, lajeng dipun petik terus kaparingaken dhateng garwa. Sareng kadhahar ambetipun harum lan legi sanget. Sak telasipun handhahar who wau, mak jleg tanpa sangkan gendruwo ngadhep wonten ngarsanipun sarta kadhangu matur :
Kula punika gandaruwo satru tapa. Tapa angsal wiji sumawana saking suwarga. Manawi benjang katanem sampun woh, sintena ingkang dhahar who wau saged hanurunaken Ratu.

(rak kaya babad Ki juru Mertani lan Ki ageng Pemanahan to, mung wohe Klapa. Ati – ati iki carita ora sak lugune, ngemu karep luhur kang siningit ing sak jerone carita, mula yen anggone nampa mung sak lugune carita bakal ora bisa dungkap karep Luhure kang gawe carita : Ravie Ananda)

Sareng sampun makaten, sanajan kadhuwunga Resi Manumanasa jer woh sampun kalajeng kadhahar dening garwa, wekasan mupus bilih sampun kersaning Dhewa ingkang linuhung. Margi saking punika dewi Retnowati kapindhah nami dewi Sumarwana.

Sak mangke ing negari Wirata
Sang prabu Basupati sak garwa sami dhahar jamur barat. Dilalah dados jalaraning sedha sedaya. Sang prabu jumeneng ratu amung 43 taun.
Mila putranipun asma Raden Basumurti lajeng sowan dhateng Sapta Arga, kejawi ngaturi wuninga nyumanggakna sang Begawan kados pundhi dhawuhipun.
Mila dhawuhipun sang Begawan, R. Basumurti jumeneng nata wonten Wirata jejuluk Prabu Basumurti.

Sak mangke ing pertapan Sapta Arga
Dewi Sumarwana peputra medal bungkus, sareng sampun babar, ibunipun mukswa. Bungkus sinidikara dening sang Begawan dados bayi tiga (3) sami jaler :
1. Kang tuwa arane Bambang Sakutrem
2. Kang manengah arane Bambang Sriyati
3. Kang katelu arane Bambang Manumadewa
(geneya carita laire Pandhawa ing Carangan wayang jebul nyonto carita iki : Ravie Ananda)
Kala semanten kaleres SS 523/CS 538 (591 M/606 M)

SS 540/CS 550 (608 M/618 M)
Dhawuh timbalanipun Sang Hyang Jagad Nata, R. Sakutrem kadhawuhan nyirnakna naga raja, wekasan dados wanita dhi asma dewi Nilawati. Sayektinipun dewi wau putranipun Sang Hyang Harunapa. Wiwitipun makaten, sebab dewi Nilawati tapa wonten Pujangkara.

(lha dene Sang Hyang Jagad Nata ora bisa nyirnakna Naga Raja. Carita Dewa Ruci rak nyonto carita iki ta : Ravie Ananda)

SS.544/CS 560 (612 M/628 M)
Dewi Nilawati kagungan putra kakung dipun asmani Bambang Sakri, tetep wonten Sapta Arga.
(kagarwa dening sapa kok peputra ? apa kagarwa dening R. Sakutrem ? : Ravie Ananda)

Ing kala semanten prabu Basukesti mundhut sedaya kenya ingkang hayu – hayu kapundhut dados dara – dara winastan Bedaya, nulad widodari ing Suralaya Hindustan, inggih kasapta. Inggih wiwit jaman semanten mulai wonten Bedaya.

(rak geseh dewe ta babade, babad sakdurunge  wus nerangake yen ananing bedaya milai jaman ananing cahya kang kacipta dadi widodari ing kayangan, sak iki kok dikandhana wiwit jaman Prabu Basukesti : Ravie Ananda)

Kacarios ing wukir Mahendra ( Lawu ) wonten tiyang jaler naminipun  Kupa, sowan ngarsanipun dewi sekti Rukmawati ing pertapan, matur makaten :
Duh Pukulun, Sang Pandhita, punapa sebabipun selaminipun kula deres wit aren (wektu iku wis ana wit aren lan deres ta, geseh karo babad liyane ing carita iki kang nerangake yen kabeh wit asale saka India ? : Ravie Ananda), bilih badhe kaderes, wit aren kula awe saged tumelung piyambak, makaten ugi yen kula badhe hanggentos bumbung ugi kanti gampil kula awe kemawon sampun tumelung. Nanging sak mangke mboten purun kula awe, handadosna kemenging manah.

Dewi rukmawati dhawuh :
He Kupa, salawase kowe temen ing ati, sak iki wus ora. Jer tapaning ati wus owah. Engeta yen :
Tapaning ati iku temen,
Tapaning nyawa iku eling,
Tapaning rahsa iku ening,

Sing sapa ing saben sadina sapisan bae ngeningake rahsa, adhat barang kang cinipta dadi
Sing sapa ing sadina sapisan eling, sambarang kang kinarsakna teka
Sing sapa temen atine salawase adhat barang kang kinarepna dadi

Mangertiya, gorohira marang anakmu iku kang marakake entuk pameleh, yaiku :
Anakmu jaluk gangsir (gasir) nanging ora kok leksanani, mangka kowe wus saguh. Iku yen kok leksanani, bakal entuk nugrahaning Hyang Agung (dudu dhewa to : Ravie Ananda), sebab iku dhudhuken pekaranganira ing sisih kidul kulon, ing kono ana pendhemane Raja Brana, ya iku marganira entuk kabegjan.
(lha anake jaluk gangsir, sapata kang akon? Sapa kang dhawuh gangsir ngeleng ana kono? Lha ana pendheman iku rak mertandani yen sak durunge wus ana kabudayan lan wonge kang ndadekake anane pendheman mau, yen ora ana manungsa ing Tanah Dhawa sadurunge, banjur sapa kang mendhem raja brana iku ? anane raja brana tanda yekti yen ing jawa wus maju (Raja Brana rak emas lsp kang anane yen wus ngenal teknologi : Ravie Ananda).
SS 554/CS 577 (622 M/645 M)
Prabu Basukesti yasa kabuyutan para Brahmana kadosta :
Ingkang agami Sambo, agami Brahma, agami Hendra, agami Wisnu, agami  Bayu lan agami Kala ing seluruh negari Wirata.

(arkeolog saiki rak ngertine mung Shiwa , Brahma, Wisnu (Tri Murti) padahal akeh banget golongan agama dhewa – dhewa lan kabeh ora kasebut agama Hindu :  Ravie Ananda)

Ing jaman semanten sampun wonten 6 agama ingkang dipun parengaken madheg pribadhi, murih ayuning kawontenaning negari Wirata (ora malah netheli/ngrongrong Negari : Ravie Ananda).

Ing taun wau Prabu Basukesti sedha, margi kataman kemayaning Begawan Daksatama.
Putra R. Basurata lajeng kajumenengaken Ratu asma Prabu Basurata / Basukeswara.
Wekasan Begawan Daksatama sedha dening prabu Basurata.

Tunggil lampah, kacarios ing wukir Sapta Arga, Begawan Palasara peputra Bambang Sakri. Kala semanten ing kahendran karisak dening Prabu Kunjana Kresna. Para dhewa sadaya kasoran, mila Sang Hyang Hendra mundhut bantuan dhateng wukir Sapta Arga, Bambang Sakri kabekta dhateng kahendran, dipun dhawuhi nyirnakna Prabu Kunjana Kresna. Karingkes Prabu Kunjana Kresna sirna sak balanipun.

(geneya kahendran (Dhewa – dhewa) ora bisa nyirnakna satru lan malah nyuwun bantuan manungsa Sapta Arga :  Ravie Ananda)

Saking keparengipun Sang Hyang Hendra, Bambang Sakri ginanjar asma Batara Sakri
(batara lan dhewa jebul amung gelar, wujude rak tetep manungsa ta ? dhewa – dhewa India rak ya Manungsa uga ta : Ravie Ananda)

Ringkesing carios
SS. 853/CS 879 (921 M/947 M)
(menawi wonten ing sejarah Indonesia, punika jamanipun Kerajaan Medang I kanti Raja Empu Sindok)
Batara Sakri lajeng lelana dhateng sabrang, dumigi ing Negara Gujulaha tanah Hindu, kaetang laladan Ngayodya, wondene ingkang jumeneng nata prabu Partawijaya, putranipun Prabu Sandela ing Sriwedari tanah Hindustan.
(Sriwedari rak Solo ta, Gujulaha ugi nami negari Tabela Suket daerah Banten sisih Kidul ta ? ana ing India rak ora ana nami negari Sriwedari lan Gujulaha ta ?: Ravie Ananda)

Sang Prabu Partawijaya saweg kemengan penggalih sebab negarinipun saweg kataman pagrig ngantos sak negari risak lan kasisahan ageng. Saking prihatosipun, Prabu Partawijaya pikantuk sasmitaning dewa supados nyuwuna pitulungan dhateng Wukir Sapta Arga, ing ngriku wonten pandhita linangkung asma Begawan Manumanasa.
(lha rak aneh ta, nganti pageblug ing Hindustan wae entuke sasmita kudhu sowan ing Sapta Arga Dieng Tanah Dhawa, tanda kaluhurane Tanah Dhawa, geneya ora nyuwun tulung dhateng Himalaya kan luwih caket lan kratoning para Dhewa ta :  Ravie Ananda)

Enggaling carios, Sang Prabu lajeng utusan dhateng Patih Srengga Badra supados dhateng tanah Dhawa, maniti rumiyin pertapa Sapta Arga, kacarios yen sanget wingitipun, pernah kawontenaipun redhi – redhi wau, sarta ingkang jumeneng Maha Pandhita Manumanasa lsp. Ringkes Patih Srengga Badra mangkat dhateng Tanah Dhawa hanjujug dhateng wukir Sapta Rengga / Sapta Arga.

Batara Sakri sareng dumugi ing negari Gujulaha wekasan kapundhut mantu dening Prabu Partawijaya pikantuk dewi Sati lan peputra Bambang Palasara ing wukir Sapta Arga.

(geneya saiki Palasara malah dadi anake batara Sakri, ing ngarep rak wus kaceta yen Palasara peputra Bambang Sakri , ateges kurang taliti anggone ngendhih babad : Ravie Ananda)
Bambang Palasara peputra Bambang Kresna lajeng jumeneng Maha Pandhita asma Resi Abiyasa tetep wonten Sapta Arga.

(kudune rak Palasara peputra Bambang Sakri, kaya kaceta ing ngarep, lha kok saiki malah peputra Bambang Kresna, ateges ingkang damel babad kurang teliti anggone ngendhih riwayat lan ngubah alur :  Ravie Ananda)

Pandhita Abiyasa inggih Prabu Kresna Dipayana peputra :
1. Prabu Destarata, peputra Prabu Suyudana lan Kurawa sanesipun
2. Prabu Pandhudewanata peputra Prabu Darmakusuma lan Pandhawa sanesipun ing Ngamarta
Sampun dilalah kersaning Ingkang Maha Kuwasa, gandhenging dharah Sapta Arga lan dharah Tanah Ngayodya ing Hindustan lantaran Batara Sakri wau.
Mila sareng kemantu, dening prabu Partawijaya kedhawuhan ngaluraken leluhuripun. Batara Sakri matur makaten :
Ing sekawit trahing Sang Hyang Brahma, peputra prabu Tritusta ing Giling wesi.
Prabu Tritusta peputra Prabu Parikenan ing Gilingwesi,
Prabu Parikenan peputra Resi Manumanasa Maha Pandhita wonten ing wukir Sapta Arga. Resi Manumanasa peputra Raden Sakutrem ugi wonten ing Sapta Arga.
Resi Sakutrem peputra Resi Palasara ing Sapta Arga, Jumeneng Ratu ing Ngastina jejuluk Prabu Palasara. Peputra Resi Abiyasa ( Begawan Kresna Dipayana ) kala semanten jumeneng ratu wonten Ngastina.

(geneya Batara Sakri malah ora kasebut ing silsilah, kudune rak Resi Palasara peputra Bambang Sakri, dudu Bambang Kresna : Ravie Ananda) 

Ringkesan rumiyin, sak sampunipun Prabu Partawijaya meguru dhateng Begawan Manumanasa ing Sapta Arga, ugi kedhawuhan nerangaken asal – asalipun lajeng matur makaten :
Ing nguni prabu Harjunasosro ing Maespati ( Manuksmaning Sang Hyang Wisnu ) peputra prabu Surya lan dewi Ruri.
Prabu Surya peputra Prabu Partawirya ing Maespati.
Prabu Partawirya peputra Prabu Partanadi ing Sriwedari.
Prabu Partanadi peputra Prabu Sandela ing Gujulaha.
Prabu Sandela peputra Partawijaya inggih kawula punika 
Kawula peputra dewi Sati ingkang sampun kula jodokaken kaliyan Betara Sakri wau. Wasana Sumangga Sang Maha Wiku.
Salajengipun Prabu Partawijaya peputra dewi Prati jejuluk dewi Sucitra angsal Prabu Dasarata ing Ngayodya.
Prabu Desarata peputra R. Leksmanawidagdo lan R. Trugena

(kudune rak Babad raja – raja kang nurunaken Prabu Partawijaya disebutake sebab sakdurunge jaman Begawan Manumanasa, ananging ing Pustaka Raja Purwa  kok ora tumon nerangake babad – babad iku nalikane nerangake babad taun sak durunge Manumanasa : Ravie Ananda)

SS 247  / CS 254 ( 315 M / 322 M )
Bab Negari Purwocarita
Ingkang jumeneng Ratu Binatara ing Negari Purwocarita kala semanten Sang Prabu BudhaKresna (Sang Hyang Wisnu).

(nitik asmane genah yen sajatine asale agama Hindu lan Budha saka tanah Dhawa, lan sejatine agama loro mau ana ing tanah Dhawa dudu agama, ananging sistem falsafah urip manungsa kang nduweni karep :

Shiwa karepe dhaya Surya
Candra karepe dhaya Wulan
Wisnu karepe dhaya lintang
Bayu karepe dhaya angin
Indra karepe dhaya panca indriya
Lsp.

Kang maksude kabeh mau ngemu pralambang Astronomi. Wong Jawa anggone manembah marang Gustine lan anggone nglakoni uripe ora mung asal nglakoni, ananging wis duwe panemu asronomi kanggo nggampangake uripe, ing tetanen, ing panembah, ing kasarasan, lsp. Ya amarga bangsa liya kang teka lan nggawa kawruh jawa kuno iku ora ngerti karepe mula dhaya – dhaya astronomi kuwi banjur dianggep wujud wujud dewa kang mbleger.

Budha karepe budhi utawane kasuksman. Wong Jawa kuno uga wus nduweni pangertihan kang jero ing babagan Ketuhanan Yang Maha Esa kang kabeh mau gegandhengan karo dhaya alam sebab anane pangertihan jagad cilik lan jagad gedhe. Dhening wong liya bangsa kang sinau kawruh kasukman Tanah Dhawa (ana ing carita perjalanane Sidharta sak durunge ulih pencerahan, uga disebutake yen dheweke tekan tanah Dhawa kanggo sinau kawruh budhi. Mula nganti sak iki pusat wewangungan (kiblate agama Budha sak dunya ana ing Borobudhur, dudu ing Tibet : Ravie Ananda).

CS. 261 / SS 243 ( 329 M / 311 M )
Wonten satunggaling Raja Sebrang ( saking laladan Hindu ) kapernah mantunipun Prabu Budhawaka ( Sang Hyang Brahma ) sowan dhateng Negara Gilinggaya perlu matur badhe hanglurug dhateng negari Purwocarita, niyat males hukum, dene marasepuhipun karisak dening ratu Purwocarita. Sayang dene kirang titi priksa, bilih Ratu Purwocarita wau kaleres pamanipun piyambak, sebab panjalmaning Sang Hyang Wisnu. Perang rame, sedaya kasoran, lan ngungsi dhateng negari Gilinggaya.

SS 254 / CS 262 ( 322 M / 330 M )
Sang Hyang Rudra kakangipun Sang Hyang Jagadnoto tumurun dhateng Tanah Jawi manjalmi. Rawuhipun perlu dhinuta dening Sang Hyang Jagadnoto, hanyapih ingkang saweg peperangan, inggih Ratu ing Gilinggaya lan Ratu ing Purwocarita.
Sang Hyang Budhawaka ( Sang Hyang Brahma ) supados mantuk dhateng negarinipun, sebab ingkang dipun rusak wau keng rayi piyambak, inggih Sang Hyang Wisnu. Lingsem lajeng mukswa dados dhewa malih.

Sang Hyang Wisnu sareng dipun serap – serapaken lajeng mukswa kondur dados dhewa malih, nanging sasampunipun SS 260 / CS 268 ( 328 M / 336 M ).

CS. 264 / SS 256 ( 332 M / 324 M ) 
Taksih salebeting Sang Hyang Wisnu jumeneng wonten Purwocarita.
Ing satunggiling wekdal saking salebeting kedhaton katingal mulat cahya sesotyadhi ingkang gumebyar hanelahi, ngebaki sak indhenging kedhaton. Saking keparengipun Sang Hyang BudhaKresna, para dhewa kedhawuhan sesarengan hanyipta sagedha dados widodari 7 ingkang hayu – hayu lan linangkung tur mawa cahya gumebyar. Mboten wonten wanita ing dunya ingkang ngemperana. Sedaya wau lajeng dipun paringi nami.
1. Dewi Suprobo
2. Dewi Wilutomo
3. Dewi Siki
4. Dewi Surendrao
5. Dewi Gagarmayang
6. Dewi Irim – irim
7. Dewi Tunjung Biru.

Sesampunipun makaten, sadaya widodari kedhawuhan toyo mubeng – mubeng sak lebet lan sak njawining suwarga ngantos kemput. Saking sarwa linangkung lan hayunipun hangedab – edabi, sedaya dhewa – dhewa sami bingung saking kedhanipun, wekasan sami leng – leng badhe.. saking betah sagedha mriksani tikel tekuk cethanipun, mila ndilalah :
Saking sanget kesengsemipun Sang Hyang Brahma sanalika paningalipun sekawan, Sang Hyang Hendra Satus, Sang Hyang Bayu lan sanes – sanesipun sami niga nyekawan lsp. Betah sagedha ningali ingkang hanglegakna raos.

(dene para dhewa kasengsem marang ciptane dhewe, kudune ora gumun lan ora kalah dhaya karo ciptane : Ravie Ananda).

Inggih ing jaman wau para nata ingkang sami jumeneng wonten tanah Jawi sami kagungan Bedaya / Srimpi kangge lelangenan. (ngendhih riwayat ben dianggep Bedhaya / Srimpi asale saka Dhewa – dhewa : Ravie Ananda).

Wonten kedadosan malih ing negari Purwocarita kedhawuhan Haya, tegesipun Tosan Aji, mila Sang Hyang BudhaKresna dawuh dameli gegaman manut conto ingkang sampun – sampun dening Batara Sukskadi ( Empu ) , sarta kedhawuhan damel awarni padma, dhuwung – dhuwung :
1. dhapur Buntala
2. dhapur Urap – urap
3. dhapur Sepang
4. dhapur Sumpana Leres
5. wiwit jaman wau ing tanah Jawi sampun kathah empu – empu dhewa – dhewa lan sinakti sarta kathah dedamel kangge perang ngantos nyerambahi ing dhusun – dhusun, lsp.

SS 258 / CS 266 ( 236 M / 334 M )
Para widodari sami hangetik waja ( kinten – kinten pangur )

SS 259 / CS 267 ( 327 M / 335 M )
Para widodari sami handamel abriting lati, ingkang dinamel kala jaman semanten mawi :
Tunjung kaya, tawas lan jahe.

SS 260 / CS 268 ( 328 M / 336 M )
Para widodari sami mucang ( ganten ) ingkang dinamel jambe kangge jampi untu.
Ing taun – taun wau para widodari sami milahi saged damel ukeling rema, gelung, ukel, keling, sotor, sanggup, moga, megep, turidan, kembang telung, praba keswara, pataweri, supiturang, tunjung mas, lamongan lan mondragiri. Inggih milai kala jaman wau tiyang jawi sami sisig, tindhik, gelungan, sebab sami niru para widodari.
(wong tanah Jawa wis duwe kabisan kang warna – warna, kanti gawe riwayat widodari, kabeh kabisan mau kalindih, ben dianggep asal saka wewarahing pada widodari / Hindustan : Ravie Ananda).

Sampun mesti, gandheng para putrining ratu utawi dharah – dharah luhur sami tumindak makaten, rakyat ingkang sampun sumerep lajeng tiru – tiru makaten, lan lajeng tumular ing sak indhenging nusantara.
(padahal jare babad ngarep wong jawa asal saka wong Hindustan lsp, lha dene durung duwe kabisan? apa sak durunge ana ing jawa para dhewa durung nyipta pusaka lan kabisan – kabisan mau? Geneya apa bae kabisan lan perkakas kapurataning urip lan kabudhayan kabeh didhamel para dhewa lan widhodari sak wuse ana ing tanah jawi ? ora gawe wektu ana ing India : Ravie Ananda)
CS 272 / SS 264 ( 340 M / 332 M )
Sang Hyang Wisnu dados ratu Tanah Jawi ingkang kaping kalih. Gandheng kados pundi ing negari Purwocarita kala semanten lajeng mboten wonten ingkang jumeneng Ratu, mila lajeng risak.

Ing taun kesebat, Sang Hyang Rudra jumeneng nata wonten ing negari Gilingaya hajejuluk Maha Raja Dewa Esa. Kraton tetep wonten ing Puncak Redhi Gedhe tanah Priyangan. Sang Hyang Rudra wau putranipun Sang Hyang Tunggal, kapernah kakangipun Sang Hyang Jagadnata.
Ing taun – taun wau ing tanah Jawi ingkang Jumeneng ratu agung amung satunggal, inggih Sri Maha Raja Dewa Esa wau. Hangerehaken tanah Sumatera, Jawi, Madura lan Bali.

Ing taun SS 268 / CS 224 ( 226 M /  )
Sang Hyang Kamajaya milai ganten ( nginang nganggo gambir, apu, wowohan jambe ) perlu ngabritaken lathi. Inggih punika, tiyang ing tanah Jawi wiwit sami hangganten, malahan mboten among para putri tok, sanajan para satriya kakung sedaya sami hangganten. (wong India nganti sak iki kok ora tumon padha nginang ya ? : Ravie Ananda)

Sang Hyang Hendra yasa gamelan dipun sukani nami gamelan Lokananta utawi gamelan Surendra. Lajeng yasa gendhing ( racikanipun pisan ) upami :
Gendhing  : rebab
Kala   : gendhang
Songka  : gong
Pemathuk : kenong

Wekdal semanten milai ing kraton Jawi wonten gamelan, wekasan lajeng sumebar ing laladan tanah Dhawa sami damel piyambak – piyambak. (geneya ing India, negeri asale para dhewa ora ana gamelan ya ? lan tarian – tariane uga ora diiringi gamelan ? : Ravie Ananda).

Ing taun – taun wau Sang Hyang Kamajaya hambangun telaga warna kangge pranti siram, dipun paringi nami Telaga Warna ( Dieng ). Jer yen kagem siram sintena kemawon lajeng hambagusaken sarira.

(Telaga warna Dieng rak umure wus lawas banget lan kedadeyane saka tilas kawah panjebluging gunung Prau ing kuna, tanda yen Dieng wus misuwur wiwit biyen, mula sak bisa – bisa direka dhaya babade supaya dianggep uga wiwitane saka para dhewa. Dieng rak candine para Pandawa lan sejatine kraton Astina kang riwayate nganti sak iki durung genah ( candi – candi mau sejatine pendhemane awu pra dharah Pandhawa sak wuse ngalahake Kurawa, mula desa – desa ing Dieng akeh kang jenenge padha karo ing carita wayang / Mahabarata. Ana ing India kok ora ana jeneng desa lan kawah kang kaya ing Dieng ya ? umpamane : kawah Candradimuka, gua gasiran Aswatama, desa Pringgondhani, Parikesit, Sapta Arga lsp. : Ravie Ananda)

Ing taun  SS 284 / CS 291 ( 352 M / 359 M )
Sang Hyang Rudra, inggih Sri Maharaja Dewa Esa, kersa hambagi negari Tanah Jawi dados nem ( 6 ) Agami, upami :
1. Sri Maharaja Dewa Esa ingkang agami Brahma
2. Sang Hyang Isa / Isu ingkang agami Kala
3. adhinipun malih ( Sang Hyang Iramba ), ingkang agami Bayu
4. adhinipun malih ( sang Hyang Hanida ), ingkang agami Wisnu
5. adhinipun malih ( Sang Hyang Hagina ), ingkang agami Hendra
6. Adhinipun malih ( Sang Hyang Rugistra ), ingkang agami Sambo

(Geneya wus ana agama pirang – pirang lan ora ana kang aran Agama Hindu Lan Budha ? : Ravie Ananda)

Sadaya wau madeg ratuning golongan agami hamiyambak, wonten wewengkoning Maha Raja Budha Esa.
(geneya jaman samono kang pada jumeneng dhewa – dhewa Hindu, kok kudu manut Raja Budha Esa ? tanda yen agam Hindu lan Budha sejatine asal saka pangembangane wong – wong manca kang padha sinau ing Jawa, ya pangertihane wong Jawa kuna kang wus ngerti kawruh manembah kang kumplit, manembah kanti ngerteni astronomi lan kasukman ya kawruh sejatine jagad cilik lan jagad gedhe : Ravie Ananda).
Ing jaman wau, Sang Resi Radio madhepokan wonten Redhi Tasik, lajeng nganggit rangkeping dinten inggih punika : Legi , Paing , Pon , Wage lan Kliwon.

(geneya ing tanah India nganti sak iki ora ana dina rangkep, lan maneh..rak sejatining dina kang luwih dhisik ana iku dina 5 (Legi , Paing , Pon, Wage lan Kliwon). Wondene dina kang cacahe pitu anane sak wuse dina 5 mau : Ravie Ananda).

Sanesipun punika ugi nganggit pranata mangsa 12 ( taksih basa Hindu ) kadosta :
1. Kartika  : Kasa
2. Pusa   : Karo
3. Manggasri   : Katelu
4. Sitra   : Kapat
5. Monggakala  : Kalima
6. Kala   : Kanem
7. Naja   : Kapitu
8. Palguna  : Kawolu
9. Wisaka   : Kasanga
10. Jita   : Sadasa
11. Srawana  : Dasta
12. Sadda  : Rolas

(geneya nganti sak iki pranata mangsa kaya kacetha ing ngarep taksih ana ing Jawa, lan ora ana ing India, lagi padha – padha sak Bangsa Indonesia bae, liya suku Jawa bae wus ora akeh sing nganggo lan ngerteni anane mangsa lan rangkep : Ravie Ananda).

Lajeng anggitanipun Sang Hyang Surya iku iya padha karo rangkeping dina kaya kaceta ngarep.
(geneya wus dianggit sak durunge kok dianggit maneh lan padha, apa ora mungkin yen sakjatine wus ana sakdurunge rangkep lan pranata mangsa iku, banjur dianggit malih kanggo ngendih riwayat asli lan uga padha – padha saking India kok nganggit bab kang padha / rebutan ben dianggep kang nganggit : Ravie Ananda).

SS 299 / CS 300 ( 367 M / 368 M )
Sang Hyang Panyarikan hangejawi manjalma dados brahmana asma Brahmana Hita, sarta hangganti Brahmana Sabrang 8 perlu hambantu panjenenganipun, badhe hanggelaraken sastra wujudipun makaten :

1. Pa Pa Ba Ba Ma
2. Ca Ca ( pasangan ca ageng ) Ja Ja ( pasangan ) Sa
3. Ta ( pasangan ) Ta Da Da ( pasangan Da ) Na
4. Ta Ta ( pasangan Ta ) Na, Dha Dha ( pasangan Dha ) Na
5. Ja Ra La Wa
6. Sa Sa Sa ( Pa ageng Kacoret ) Ha
7. A I E O U RE ( Pa keceret ) Le ( Nga lelet )

(anane aksara lan pasangan kuwi rak nganti sak iki anane ing Jawa, dudu ing India, lagi Sunda wae wus ora ngerti ). Lha sak durunge ana aksara iku, pranata mangsa lan ananing sastra ditulis nganggo apa? Kapiye bisane gawe kasusastran yen durung ana aksara lan pasangan? : Ravie Ananda)
Inggih punika purwanipun wonten sastra ingkang kangge dening tiyang Jawi.
Wondene Dhewa ( Brahmana ) 8 punika :
1. Brahmana Satya
2. Brahmana Walmika
3. Brahmana Alodda
4. Brahmana Aggisti
5. Brahmana Kurata
6. Brahmana Istira
7. Brahmana Sitotda
8. Brahmana Waswa

Brahmana jebul dianggep Dhewa. Brahmana 8 Mau sangkane sak ngendhi? Kayane kok ora tumon ana babade? Bisa wae iku wong – wong misuwur/sastrawan Asli Jawa (Ravie Ananda).
Ing SS 291/CS 300 (359 M/368 M)
Sang Hyang Wisnu nitis dhateng putranipun Sri Maha Raja Dewa Esa ing Gilingaya ingkang pembajeng, wekasan asma Raden Pakukuhan. Dhiwasanipun inguyun – uyun dening rakyat kathah wekasan tetruka wonten ing wana Tasik (Pasundan). Sareng kawuningan dening keng Rama, terus tinundhung saking ngriku, saking Gilingaya kesah lan adhinipun wuragil kadadosna patihipun asma Jaka Puring.

(geneya title Raden anane ing Jawa, ora ana gelar raden ing India : Ravie Ananda)

Ing SS. 300/CS 309 (368 M/377 M) kathah para dhewa saking Hindu sami hangejawantah dhateng tanah Jawi. Hadedunung ing sak kersanipun piyambak – piyambak, lan sami hareraton ing padunungan ing Puncaking redhi – redhi ingkang dipun senengi.

Ing taun wau ing tanah Jawi wonten ratu ingkang jumeneng makaten :
Sang Hyang Rudra jumeneng Ratu wonten Gilingaya (Pasundan)/ing Ciamis, tilasipun Sang Prabu Sri Maha Raja Dewa Esa.

Raden Pakukuhan hapepatih rayinipun (Jaka Puring) hajejuluk Sri Maha Raja Pakukuhan, pindhah negari Purwocarita II terus hapepatih rayinipun asma Jaka Puring. Tilas Kratonipun Sang Hyang Kala, inggih Raja Berawa, ugi tilasipun Sang Hyang Wisnu ingkang asma Sri Maha Raja Budha Kresna ing sukunipun Redhi Lawu.

(ing sukune redhi Lawu rak akeh candine to, malah ing candhi Cetha/Sukuh wujude candi ora kaya liya – liyane lan ngemperi bangunan suku Inca Maya Amerika kang jarene wus kuno banget umure). Kabeh tilas kabudayan kuno Tanah Dhawa dialih babade ben dianggep kabeh kabudayan kang luhur ana ing tanah Dhawa iki asal saka tanah India/dhewa – dhewa India : Ravie Ananda).

Sang Prabu Pakukuhan pindhah asma Sri Maha Raja Punggung, pepatih Jaka Puring. Marasepuhipun, Resi Radi dipun pindhah asma Brahmana Raddi.

SS. 304/CS 313 (372 M/381 M)
Sri Maha Prabu Maha Punggung lajeng jumeneng nata binatara wonten negari Purwocarita II, saya luhur lan misuwur kawibawanipun. Jer kala wekdal punika ing sak indhenging Tanah Dhawa wau amung Ratu satunggal ingkang jumeneng, inggih Sri Maha Raja Punggung (Panjalmaning/Titisan Sang Hyang Wisnu).
Wiwit Sumatera, Jawi, Madura lan Bali amung kawengku dening ratu satunggal inggih Sri Maha Raja Punggung. Jumenengipun sineksenan dening :
Dewa/Jawata  9
Brahmana  8
Resi   7

(Sakjatine iku kabeh pralambang babahan hawa 9 ateges badhan
Babahan hawa 8 ateges Batin
Babahan Hawa 7 ateges Suksma : Ravie Ananda)

Salajengipun lajeng ginentos asma inggih punika Sri Maha Raja Kano.

Sapisan malih ing SS 304 / CS 313 ( 372 M / 381 M )
Sang Hyang Panyarikan manjalma dhateng Tanah Dhawa, terus ngawula dhateng negari Purwocarita dados punggawa.
(geneya pada – padha panjalmaning dhewa ora ngerteni yen punggawane iku panjalmaning Sang Hyang Panyarikan : Ravie Ananda).

SS 308/CS 317 (376 M/385 M)
Sri Maharaja Maha Punggung yasa panggenan kangge pangenggar – enggar sinebut Girigupoyo ing redhi Lawu. Ugi yasa malih pancangkraman wonten redhi Candradimuka inggih ing redhi Merbabu lan ing redhi Candrageni (Merapi).
(jajal wewangunan iku mau kabeh digoleki sapa ngerti kepanggih lan sejatine papan iku mau wus ana sak durunge kaya kang kaceta ing babad/wus ana kabudayan kuno kang misuwur ing redhi – redhi mau, mula digawe babad kang kaya mangkono kang duweni karep ben diarani yen kabeh kabudayan iku asal saka para dhewa India : Ravie Ananda)
SS 311/CS 320 (379 M/388 M)
Putranipun Sang Hyang Kala kedhawuhan dening Sang Hyang Jagatnata hangejawi perlu supados madosi tedha kangge ing salaminipun. Wekdal semanten ugi supados mados tetabuhan ingkang winastan kotekan, utawi ketoprakan sebab pating klotek semangsa lesung dipun thuthuki mawi kajeng (Alu).
(Putra Sang Hyang Kala diutus mados tetedhan saklaminipun ana ing Jawa, uga mados tetabuhan, kabeh kok ya ana ing Jawa. Apa ing tanah India kang jarene Kasuwargane para Dhewa ora ana tetedhan lan tabuhan (ketoprakan) ? Nitik carita iki bisa dimangerteni yen ing Jawa sejatine wus sarwa mepaki bab tetedhan lan wus ana ketoprakan sak durunge dhewa hangejawi, mula diutus madosi ing tanah Jawi : Ravie Ananda).

SS 312/CS 322 (380 M/390 M) Sang Hyang Jagatnata utusan dhateng negari Purwocarita, hamaringi sarupaning wiji rupi – rupi ingkang saking suwarga India dhateng Sri Batara Kano, supados katanemna ing tanah Jawi, upami: ing Wukir Konda (sak ler negari Surakarta), mangetan dumugi laladan Surabaya, sarta mangidul dumugi sak kiduling kita Ngayogya, inggih wukir Oya (gunung Kidul) sarta kasebaraken dhateng pundi – pundi murih katanemna ngantos dados.
(geneya ngutuse nebaraken wiji taun SS 312/CS 322 ateges durung mesti thukul, lha dhawuh golek tetedhan ing taun sakdurunge (SS. 311/CS 320), mertandani sing ngarang kurang taliti anggone ngubah babad, ngutus golek pangan ing tanah dhawa sebab wus sarwa pepak, ananging anggone nebaraken wiji jare kabeh saka India kok malah luwih enom taune, kudune sak durunge ngutus wus nebaraken wiji dhisik to : Ravie Ananda)

Salajengipun Sri Maharaja Kano handhawuhaken babad ing sadaya ingkang sampun kadhawuhaken terus dipun tanemi sarupaning wiji ingkang saged tuwuh ing ngriku (wiji pangananing manungsa)
(geneya ing India kang jare asale sarupaning wiji pepanganan, tanduran pari, pala pendhem, palagumantung lsp. longka, angel thukule, lan akehe namung gandum, durung woh – wohane lan liya – liyane kang cacahe kalah adoh maceme dibandingake ana ing Jawa, malah wiji Jenitri kang nganti sak iki kanggo sarat sembahyangan Hindu India Impor saka Kebumen lan Kediri, sebab angel thukule ana ing India : Ravie Ananda)

Inggih milai wekdal semanten ing tanah Jawi lajeng kathah tetuwuhan kadosta palawija, pala kapendhem, pala gumantung lsp.

Kejawi wau,ugi tinambahan ing sadaya puncaking – redhi – redhi ing sak indhenging tanah Dhawa kedah dipun tanemi sadaya wiji wau, kakintena ingkang saged tuwuh ing ngriku kangge kabetahaning manungsa ( rakyatipun ).

Carios ingkang aneh
Ing taun SS 313 / CS 322 ( 381 M / 390 M ) dipun terangaken : anaking Ditya Lembu Julung, nama Putut Jantaka hamartapa wonten ing redhi Antaga, anak – anakipun sami nedha pepancening tedhanipun dhateng tiyang sepuhipun.
Anak – anakipun nami :
1. Tikus pethak nama Jinada
2. Celeng nama Demalung
3. Wanara nama Kutila
4. Mahesadanu nama Kalamurti
5. Lembu Gumarang nama Kalasrenggi
6. Sangsam nama Randi
7. Kidang nama Ujung
8. Bulus nama Pap
9. Sipat Kurana nama Makura Greges

Sedaya anak – anak wau dipun dhawuhi sowan dhateng negari Purwacarita, inggih Sri Maharaja Kano kangge nyuwun tedha.
(geneya ana Ditya Lembu Julung kok anake werna – werna (namaning kewan – kewan lan Brekasakan) ? Sejatine carita iki wus ana wiwit Jawa Kuno kang duwe karep ing sajeroning carita (pasemon) ananging dening Empu kang yasa Pustaka Raja Purwa kang duwe karep utawane duwe misi politik ngendhih babad salaras karo kersane kang nguwasani (Ratune) wektu samono banjur diendih taune, dene karepe sejatining piwulang kang sinimpen ana ing jerone carita mau wong – wong India ora ngerti : Ravie Ananda)
Sadhatenging ing tepis wiring Negari, sedaya anakipun Putut Jantaka sami nyumerepi rupi – rupi tetaneman lan tetuwuhan, mboten saronta sadaya dipun tedha lan karisak ing sak purun – purun. Rakyat sareng nyumerepi tetanemanipun telas lan karisak, sami nanggulangi, sadaya kawon dening para ingkang sami hangrisak, wekasan konjuk dhateng Sri Maharaja Kano, dados sungkawaning penggalih.

(Lha sak durunge iku, anak – anak mau mangane apa? Geneya wong – wong kang wus diwulangi kaluwihan dening dhewa ora ana sing bisa menang lawan anak – anak mau kang sejatine jeneng kewan lan Brekasakan ya kang jarene Ajisaka/India sejatine tanah dhawa mung isi lelembut tok : Ravie Ananda)

Sang Prabu lajeng tumunten utusan Sang patih, inggih Jaka Puring sowan dhateng Raka Begawan ing pertapan Handhong Dhadhapan, miwah sang Resi ing Gadhing Wukir. Sang Patih Jaka Puring kaparingan Ulugantung kalih sarta :
1. Candramawa
2. Wilujwang
3. Gaman nami Nini Thowok
4. Kenthongan

(Yen iki uga kalebu babad endihan mongka ana Ing Jawa Kuno wus nduweni kabudayan kang lengkap kalebu prekakas kanggo nulak pageblug tetanduran kaya kang kacetha ing carita mau. Uga nganti sak iki tradisi nulak pageblug kanti Nini Thowok lan sebangsane uga mung ana ing Jawa (ana ing India kaya – kaya ora ana Nini Thowok lsp : Ravie Ananda).

Sasampunipun katampi lajeng dinawuhan makaten : yen kawon perangipun lajeng matakka Montra makaten:
“ Hong Wiri Deh Wiri Hoyeh Maya Lama Awaha “
(iki rak tembung Jawa kuno lan dudu basa India to ? : Ravie Ananda)

Ngertiya, yen matak montra mangkono kudu karo nabuh kentongan, ora suwe bakal ana kang teka hambantu marang sira.

Kaelokanipun, sasampunipun montra kawatak lajeng wonten satriya kalih dhateng asma Sangkan lan Turun, punika putra – putranipun Sang Maha Resi ing Handhongdhadhapan.
Kocapa, sadaya anak – anakipun Putut Jantaka sami sirna lan kesah dhateng pundi – pundi saweneh sami teluk sarta kaparingan pernah piyambak – piyambak kadosta :
Wonten lolongan lumbung
Wonten ing lesung
Wonten ing pancadan pawon
Wontening pawuhan
Wonten ing latar
Wonten ing margi
Wonten ing siti ingkang ngembes (jemblek – jemblek)
Lan wonten sedaya tetedhan ngengehan

(nithik carita iki, bisa dingerteni yen Jawa Kuno wus ngudi lan ngerteni anane hama – hama penyakit utawa sarupaning kewan – kewan cilik lan padunungane. Golekana ing India apa ana babad kang nerangake kaya mangkene ? kaya – kaya anane mung carita bab Mahabarata, Ramayana uga dhewa – dhewa kewan kang dadi sesembahan. Bedane wong Jawa lan wong India: wong Jawa wiwit jaman biyen ora ana sing nyembah kewan, ananging wong India ngasi sak iki taksih akeh kang memulya kethek, ula, tikus, lsp. Bukti yen Wong Jawa Kuno bedha dasare karo wong India, lan wong Jawa Kuno wus ngerti Sejatining Manembah marang Gusti Kang Maha Esa ya Kang Akarya Jagad, dudu marang Dhewa – dhewa : Ravie Ananda).

Ngemban dhawuhipun Sang Hyang Jagadnata, Sang Hyang Hendra rawuh ngarcapadha sineksenan para widodari lsp. Sri Maharaja Kano katetepna dados ratuning sedaya Brekasakan lan kutu – kutu walangatogo miwah para sato.

Ing SS 316/CS 325 (384M/393 M)
Sang Hyang Narada kedhawuhan dhateng negari Purwocarita, handhawuhaken dhateng Sri Maharaja Kano :
Sarehning tetiyang ingkang sami nindakna agami Budha sami resah tumindakipun, mila Sri Maha Raja Kano dinawuhan supados sedaya agami terutami ingkang nindakna Agami Budha dipun paringana sesepuhipun, sinebut Pengulu, perlu mranata murih utaminipun, sebab tanpa pengajeng saged kirang laras lampahing panindhaking tatanan Agami.
(geneya ora disebutake anane agami Hindu? Malah anane agami Budha kang ora ana pimpinane, mungkin sebab wus saka kunaning makuna ing Tanah Dhawa wus ana kapercayan Kasuksman/Budha ananging dudu agama kaya Budhane Sidarta, sebab dudu agama lan dadi keyakinane kabeh wong Jawa. Anane anggepan nyeleweng / kurang laras bisa uga amung gawehane bangsa anyar kang nguwasani yaiku India kanggo ngelekaken kapercayan kang wus ana sakdurunge lan kanggo ngapikaken kapercayan kang dadi antepane. Jaman semono wus ana nyeleweng saka garis nindakna rukun agama : Ravie Ananda).

Kla semanten dhawuhipun Sang Hyang Narada ingkang saking Sang Hyang Jagatnata dhawuh malih kirang langkungipun makaten :
Panetepan Pranata Agama, kang dadi Purwa Wasesanira Hambawani Bawana ya kang dadi anggon – anggoning kraton nira.

(geneya sesebutane Sang Hyang Jagadnata utawane Sang Hyang Guru dudu Sang Hyang Shiwa kang ana ing India dadi Ratuning Dhewa : Ravie Ananda).

Kejawi punika, taksih wonten dhawuh – dhawuh kangge watoning agaminipun piyambak – piyambak kados kaceta ing ngandhap punika.
1. He Kano, Rahayu wong kang santosa lan mungkul marang agamane, den leksanani agamane sawiji – wiji kang pinasti kayata :
 1. Pangulune
 2. tetengere
 3. Panembahe
 4. Lakune
 5. Tapane
 6. Hari rayane
 7. Larangane
 8. Wewenange
 9. Pepaline
 10. Panglayone
 11. Paliyasane
 12. Pamulyane
Kaya kang wus kasebut ing sastra.

(bisa dimangerteni yen ing jaman biyen ing Tanah Dhawa wus ana tatanan kang rapi lan luhung tumrap panembah, yen disebutake kaya ana ing sastra, ateges sak durunge ana dhawuh saka Sang Hyang Jagadnata, iku kabeh mau ana ing Tanah dhawa rak ya wus ana disik to bab tatananing panembah : Ravie Ananda).

Sabdhanipun Sang Hyang Jagadnata dhateng Sri Maharaja Kano:
Ing sak Ratu, mawiya tatanan ageman, tetenger, watoning tata rakiting mobah mosiking praja, murih saben golongan wiku utawi pandhita / gur sampun ngantos sami, genah yen amung murih sampun damel kisruhing laras.

(bisa dimangerteni uga yen Jawa Kuno wus ana tatanan kaprajan kang rapi tur luhung kang kabeh – kabeh direka dhaya supaya kalendih sejarah asline lan dadi babad kaluhuran kanga sale saka India : Ravie Ananda)

Dhawuhipun Sang Hyang Jagadnata ing bab tetenger sarta watoning laras kadosta :
1. Wadyabalane kang agama Sambo, pengulune aranana Pramana, nyembahe marang Arca
2. Agama Brahma pengulune aran Brahmana panembahe marang Agni
3. Agama Hendra pengulune aran Sakrana panembahe marang Gunung lan Rembulan
4. Agama Wisnu pengulune aran Ramana panembahe marang Banyu  lan Udan
5. Agama Bayu pengulune aran Dimana, panembahe marang Sangkaning Angin
6. Agama Kala, pengulune aran Kalana, panembahe marang sarupaning kang Aeng – aeng

(geneya ora ana kang aran agama Hindu lan dhewa Shiwa kaya dene panemune pra Arkeolog saiki kang saben – saben gawe carita nyebutake yen candi – candi kang ketemu iku candi Hindu Shiwa lsp. Kaya – kaya pra arkeolog ora nyinauni bab babad – babad kuno kanti taliti, amung disinauni njabane tok ateges mung dipangan mentah – mentah ananing carita lan ora digoleki piwulang lan wadhi kang siningit ana ing sak jerone carita lan gothange larikan carita sarta taune : Ravie Ananda).

Dipun dhawuhaken sadaya rakyatipun kedah sami ngenut agama nem rupi kacetha wau ing salah satunggal ( merdhika ngenutipun , aran ora pinaksa ).

Ing SS 319/CS 328 (387 M/396 M)
Sri Maharaja Kano Arsa mangun sastra saking Brahmana Srita (Sang Hyang Penyarikan) ingkang harupi punapa kemawon, wekasan handhawuhaken dhateng sang Brahmana wau supados handhawuhaken dhateng rakyat ing negarinipun sami ngangge sastra – sastra wau. Sarta dinawuhan damel sekar Kawi. Sasampunipun dados, ugi sami kalimrahaken dhateng negari ing sedaya laladan Purwacarita.
Inggih milai wekdal semanten ing nungsa Jawi milai wonten Sekar Kawi kalimrah dhateng plosok negari.

(bisa dimangerteni yen sajatine Sekar Kawi wus ana wiwit Jaman kunaning Makuna ing tanah Jawi, mula nganti diendih babade, lan uga anane sekar kawi ya mung ana ing tanah Dhawa , ora ana ing India kang nganti sak iki bahasane uga nganggo Bahasa Pali : Ravie Ananda).

Ing SS 326/CS 336 (394 m/404 M)
Sang Hyang Citrasena kautus dening Sang Hyang Hendra maringaken gamelan surendra dhateng Sri Maharaja Kano, sarta kadhawuhan hanmglimrahaken dhateng sedaya para ratu Jawi, kenging niru damel gamelan surendra dumugi rakyat. Salajengipun kalimrah sinebut gamelan Slendra.
Dening Sri Maharaja Kano, gamelan wau tinambahan ricikan maketen : Kethuk, salunti, garantang (gambang) , dinawuhaken sedaya kawula samiya damela kados kasebat punika.
(geneya ana ing India ora ana gamelan lan tembang – tembang kawi ? : Ravie Ananda)

SS 327/CS 337  395 M/405 M)
Sri Maharaja Kano hambabaraken sekar – sekar ageng, ugi kadhawuhaken nyebaraken dhateng sedaya kawula alit ing sak indhenging negari.

SS. 328/CS 338 (396 M/406 M)
Sri Maharaja Kano yasa tabuhan kangge perang (nabuhi yen saweg perang), niru – niru tabuhan perang tanah Hayam lan Yahudi sarta Hindu, sedaya wau sinebut Pradhongga.
Ricikanipun dipun wastani :
1. Kala ( kendang )
2. Gorbang ( rupinipun kados bendhe tanpa pencu ( rata ) )
3. Songka ( Gong )
4. Gubar ( gong )
5. Bahiri ( rupinipun sak irib beri, ing pinggire mawi wlingi mubeng )
6. Paksur ( sak irib terbang / tambur, nabuhipun mawi kajeng )
7. Gurnang ( meh kados kenong )
8. Tong – tong ( kados kendang utawi terbang )
9. Grit ( kados terbang )
10.  Teteg ( kados bedug )
11. Maguru Gongsa ( kados kemodhong )

Inggih punika jalaranipun ing tanah Dhawa wonten ratu kagungan tetabuhan Perang, lajeng katiru ing saluruh negeri.
(kabeh – kabeh kang ana ing Tanah dhawa ora ana kang asli  Tanah Dhawa, kabeh kudu saka India, ya iku perlune bangsa pangwasa utawane bangsa kang neneka gawe babad anyar kanggo ngendih kabudayan sejati kang luwih kuno, conto : gelora bung karno banjur diganti senayan), Tanah Dhawa diganti Hindia Belanda, sapta Arga diganti Ardhi Lawet, samono uga kabeh candi kuno ora kena yen ngasi disebutke sak durunge Mataram kuno/Dyah Balitung, kabeh –kabeh babad kuno Jawa kudu sak jaman karo Dyah Balitung / Rakai Pikatan (miturut arkeolog sak iki) lsp : Ravie Ananda).
SS 338/CS 348 (405 M/416 M)
Sak sampunipun damel negari sak kemakmuran, kasenengan, kamewahan lsp, lajeng Mukswa kondur pulih dados dewa, kondur dhateng Suralaya. Suksma Wisnu oncat, wekasan sariranipun Sri Maharaja Kano kasuksman dening Sang Hyang Kala. (kaetang ratuning lan gegedeging jagad). Lah jalaran saking makaten negari Purwacarita lajeng tansah gendra, resah, terus perang – perangan ringkes morat – marit sirna kaluhuraning kawibawaning negari. Bakal ganti lakon.
(Titising Sang Hyang Wisnu ngantos 34 taun lajeng Mukswa sak laras lan tugasipun hambangun Rakyat tanah Dhawa)

(nitik carita mau kang ateges wisnu iku amung dhaya dudu bleger, ya dhayaning manungsa kang mobah mosik sak laras karo lakuning dhaya alam/Lintang, mula wong India ora mangerteni yen carita dhewa – dhewa Mahabarata amung wulangan kang sinimpen ing sajeroning carita, ya jalaran saka amung ngendih kabudayan Jawa kuno kang kabeh saking Luhure sinimpen ana ing sak jeroning carita : Ravie Ananda).

Sak Jumenengipun sang Hyang Kala manuksma wonten Sri maha raja Kano, terus ngerehaken ratu – ratu ing laladan Sumatra, Jawi, Madhura lan Bali, saking golongan manungsa, lelembut, kewan – kewan lsp.

Sarehning tuwuhing ambek hangkara murka mesti kemawon terus makarti juti, sinten ingkang tindak ayu lajeng ginempur manuta tatananipun Sang Hyang Kala.

Dumugi para Ulu Gantung, Jejanggan Cantrik, Wiku, Maha Wiku , Pandhita , Maha Pandhita dumugi Resi Maha Resi ingkang ngenut tatanan lan agaminipun Sang Hyang Wisnu, sadaya ginentos tatanan lan agaminipun Sang Hyang Kala. Sintena ingkang hambadhal mesti winasesa lan kinebur terus kajajah pisan.

(Wus dadi wateke kang nguwasani bisa tumindak apa bae kanggo mujudake kaluhurane : Ravie Ananda).

Ing jaman rinaton dening panuksmaning Sang Hyang Kala, negari Purwocarita lajeng dados negari ingkang morat – marit , rakyatipun sami ngenes – ngekes lan hambek hangkara, kasenenganipun amung jail jinail, paten – pinaten, miwah terat – rinebat, wekasan negari Purwocarita ingkang sawaunipun gemah ripah loh jinawi lan tata tentrem lajeng terus hura ingkang angel jampinipun.

Ing jaman rinaton Sang Hyang Kala manuksma dhateng Sri Maharaja Kano, nambahi bumbuning nginang (ganten) dados 5 rupi kadosta : Jambe, Apu, Gambir, Sedah lan Sata. Sasampunipun makaten, lajeng kadhawuhan hanglimrahaken dhateng sedaya rakyat ing rerehanipun, wekasan kalimrah sami ganten makaten dumugi jaman sak mangke.

Kejawi makaten, jer niyat damel gendraning negari, jer Prabu mboten remen dhateng mengsahipun, inggih kakangipun Prabu Samaskuta ing Banten, lajeng hanglurug dhateng Sumatra perlu hanggempur Prabu Sangkala. Wekasan Prabu Sangkala sirna sak balanipun.

Konduripun saking panglurugan, mampir dhateng pertapan Batuwarna (Redhi Pulosari) tanah Banten, perlu badhe mejahi Pandhita ing ngriku asma Resi Prakampa.

Kocapa, gandheng kathah dhahuru ing tanah Dhawa, mila Sang Hyang Panyarikan dhawuh dhateng para resi lan ratu rerehanipun Prabu Kano, sesarengan masesa ratu dhurhangkara wau. Sareng sampun sami nampi dhawuh, bilih Sang Hyang Wisnu sampun Mukswa saking Prabu Kano, mila para ratu sak iyeg ngrisak Prabu Kano, wekasan sadaya sirna. Prabu Kano sedha. Sang Hyang Kala Mukswa. Semanten ugi resi Prakampo, sekti lan taksih tinarima dening Jawata ingkang linuhung, sak mukswanipun hanyuwanten makaten :
“ He, sapa bae kang seneng sikara lan gawe pepati wong tanpa dosa, bakal entuk pawelehing Dhewa. Dhilalah wewelaking Tanah Dhawa saking kasektenipun resi Prakampo sinarengan mangsa kala lan jinurung dening ingkang Maha Kuwasa “.
(Jaman Sematen rak jaman dhewa, meksa wus ana kapercadosan dhateng Ingkang Maha Kuwasa, iku tanda yekti yen manungsa Tanah Dhawa sejati wis ana lan kawit kunaning makuna wus ngerti lan nyembah mararng Kang Maha Kuwasa, dudu marang Dhewa – dhewa kaya wong India).
Wedaling latu saking Redhi Batuwarna, redhi Kapi sak kilen Banten (benjangipun dados redhi Krakatau) nyuwara gumaludhug  geter pater dhedhet erawati, latu hangalad – alad ngedalaken bayuwara, hanggegirisi ing sak kiwa – tengenipun ngriku.

Salajengipun peteng dhedhet terus jawah hangedab – edabi, wekasan banjir ageng ingkang hangudubilahi sanget, pra manungsa sami geter lan geger apuyengan.

Salajengipun, saking agenging swanten lan mubaling dhahana, sumamburat hangebaki sak kiwa – tengenipun, lumeber dhateng redhi Kapi, terus Hambles sarta mawur sela lan kawahipun, hangelebi laladan dharatan dumugi Banten, wiwit wukir Banyuwara, Pulosari dumugi redhi Kumala (redhi pangera – era) miwah redhi Gedhe Bogor.

Pulo Sumatra sisih wetan, Banten kalebon toya benter, para manungsa, raja kaya, griya, sirna kabalebek toya, kitanipun sirna sak isinipun tanpa tilas kaurug endut lan sela – sela.

Lah punika jalaranipun tanah Jawi pisah kaliyan Sumatra, redhi Krakatau sirna dados seganten, sinebat Supitan Sunda. Sampun mesti sareng toya ingkang ngelebi daratan sirna, saweg katingal yen redhi Kapi sirna dados seganten.

Redhi Samaskuta hanjeblug dados telaga, sinebat telaga Singkarak (dedunung ana ing tengah – tengahe pulo Sumatra, laladan Padang).

Kacarios Patih Jaka Puring oncat saka negari terus dhateng Gilingaya, ringkes lajeng jumeneng nata, hajejuluk Prabu Hiranarudra, hangerehaken negari Gilingaya lan Purwocarita. Jumenenganipun kaetung taun SS 342/CS 352 (410 M/420 M) saged kadumuk bilih negari wau benjangipun nami Galuh.

Ing taun  SS 342/CS 355 (410 M/423 M)
Putranipun tetiga kedhawuhan kesah mangetan lajeng tetruka wonten Redhi Pandan (daerah Madiun). Sasampunipun dados anggenipun babade, lajeng dipun sukani nami dekah Pantirejo.

Resi Respati terus tetep mertapa wonten puncaking wukir ngriku, kekasih (jejuluk) resi Wrahaspati.

SS 358/CS 369 (426 M/437 M)
Prabu Herjanarudra dhawuh hamencaraken wiji pantun, jagung, jarak kacang kedele, lsp. Ing pundi – pundi daearahipun.

(ing babad ngarep rak wus dicaritakna yen Sang Hyang Jagadnata dhawuhaken nanem sarupaning wit – witan, saiki kok wiwit Prabu Herjanarudra kang dhawuh hamencaraken wiji ? tanda yen carita babad ngarep lan babad mburi geseh, ya sebab babad iku kang nganggit pirang – pirang empu kang duwe karep bedha – bedha : Ravie Ananda).

Salajengipun kedhawuhan sadaya kawulanipun ing sak jagading tanah Dhawa kedhawuhan nanemi wiji – wiji wau sageda dados tedhaning kawula alit sadaya. Mila milahi taun SS 358/CS 369 sadaya wiji ingkang kasebat wau milai dados witing tetedhanipun kawula Tanah Dhawa.

(lha sak durunge katanem, kawula Tanah Dhawa mangan apa? Apa banjur ora mangan ngenteni ana dhawuh nanemi wiji – wiji mau? Ketok yen kang gawe babad ora adil lan kurang teliti anggone nyaritakake babade tanah Dhawa kang sejati : Ravie Ananda).

Gantos kacarios, bab dewi Basundari putrinipun Sang Hyang Hanontaboga, kausir saking Sapta Pratala, amargi badhe kapundhut garwa dening Sang Prabu Sindhula. Panjenenganipun lajeng kesah sak purug – purug lampahipun, wekasan maratapa wonten wana.

Kacetha tindakipun sang Putri wau piyambakan, amung kadherekna kekasihipun Menda Padra (yen wonten margi kabenteran lajeng dipuntumpaki) lan banyak Patra (bilih perlu nyabrang).

Sareng dewi Basundari dumugi ing puncaking Redhi Pandan (redhi Prasata) inggih lenggahipun Resi Wrahaspati, teras dedunung wonten ngriku. Cekaking kacarios, sareng resi Wrahaspati kapethuk kenyut, kalih – kalihipun sami renanipun, wekasan ginarwa.

Kacarios, dewi Soma, sareng miring resi Wrahaspati hanggarwa dewi Basundari, terus jajabangmawirya wengis, lajeng hanglurugi, wekasan dewi Basundari kondur dhateng Sapta Pratala, kaetutna Resi Wrahaspati.

Wekasan dewi Basundari lan Resi Wrahaspati kadhawuhan tetruka ing puncaking redhi Medanggele. Salajengipun terus Jumeneng Ratu wonten ngriku, hajejuluk Sang Prabu Palindriya. Lah inggih punika panggihing Titising Wisnu lan dewi Sri (Shinta). Ing benjangipun sinebut negari MedhangKamulan III.

Ing SS 360/CS 371 (428 M/439 M)
Sang prabu Herjanarudra dhawuh tanem kelapa, pisang lsp. Jaman punika wiwit ing tanah Dhawa wonten wit kelapa lan pisang, terus katularaken dhateng pundi – pundi laladan tanah Jawi.
(ketok banget anggone meksa ngendhih babad, lha wong wit kelapa lan pisang wiwit kunaning makuna ana ing Jawa iku gudhange, lan uga bisa ditemoni ana ing endi bae negara kayata ing Amerika Latin, Thailand lsp.  : Ravie Ananda)

Dewi Basuwati (adinipun dewi Basundari) sowan dhateng Medangkamulan wekasan ginarwa dening Sang Prabu Palindriya. Wekasan dewi Shinta wirang , terus oncat dhateng wana. Gandheng saweg bobot sepuh, wonten ing wana hambabaraken putra kakungipun jejuluk Raden Budhug.

Kala semanten ratu ing tanah Jawi amung kalih, inggih punika :
Gilingaya lan Medangkamulan III.

Ing SS 362/CS 373 (430 M/441 M)
Prabu Palindriya kagungan garwa pangrembe kathah sanget. Kacarios Dhewi Landhep peputra dampit asma :
1. Sri Sulastri (dewi Medang)
2. Kakung asma Sri Suwono

Sareng punika ugi sadaya putri sami peputra cacahipun wonten 26 inggih punika :
1. R. Kurantil
2. R. Tolu
3. R. Gumbreng
4. R. Warigalit
5. R. Warigagung
6. R. Julungwangi
7. R. Sungsang
8. R. Galungan
9. R. Kuningan
10. R. Langkir
11. R. Mandasiya
12. R. Julungpujut
13. R. Pahang
14. R. Kuruwelut
15. R. Marakeh
16. R. Tambir
17. R. Madangkungan
18. R. Maktal
19. R. Wuye
20. R. Menakil
21.  R. Prangbakat
22. R. Bala
23. R. Talu
24. R. Wayang
25. R. Kulawu
26. R. Dukut
(geneya jenenge pada karo jeneng wuku (pawukon) bisa uga carita iki wus ana ing jaman Jawa kuno kang ngemu karep Pawukon, ananging sebab ora ngerti karepe, bangsa India nganggep iku saknyatane lan numpangi carita iki kanti kabeh riwayat digathukke kelawan silsilah awal kabeh saka dhewa – dhewa India, kalebu pisang lan kelapa uga saka kana. Lha yen kabeh saka India , sak wonge pisan, mbanjur Tanah Dhawa sak durunge ana Bangsa India teka wujud apa? Apa wujud lemah kosong kang ora ana kewane, ora ana wit – witane lsp? Lha geneya Pawukon iku nganti sak iki anane mung ing jawa tok, ana ing Jawa Barat bae wus ora ngerti lan ora nganggo. Apa maneh seje pulo lan seje negara : Ravie Ananda).

SS. 369/CS 380 (437 M/446 M)
Kocapa dewi Basundari tetruka ing dhusun Cangkring, R. budug saking dolan – dolan, mantukipun dereng saged nedha sekul dhateng ingkang Ibu (Dewi Basundari) ingkang saweg angi.

Sarehning kasesa, ibunipun duka, wekasan R. budug kathuthuk enthong kenging sirahipun wingking sak ngandhaping uyeng – uyeng. R. Budug nepsu lajeng kesah minggat ing sak purug – purug.

R. Budug ringkes lajeng ing ngambil putra dening Resi Bagaspati, kadhawuhan suwita dhateng Medanggalung dhateng Brahmana Raddi, lan dipun elih asmanipun dados R. Radite.
Kocapa, dewi basundari lajeng kelara – lara tinilar ingkang putra, salajengipun teras tapa brata, nyenyuwun pangaksaning dhewa ingkang linangkung, weksan tinarima kedhawuhan pindhah asma dados R. Sitowoko, satriya kakung bagus. Sarta kadhawuhan sowan dhateng prabu Herjanarudra ing Gilingaya, terus kapundhut putra.
(geneya caritane kaya dene babad Tangkuban Perahu/Sangkuriang. Lan uga kok bisa putri tapa malih kakung, iku kabeh ngemu wadi kang sinimpen ing sajeroning carita kang wong India ora ngerteni : Ravie Ananda).

Ing SS. 374/CS 385 (442 M/453 M)
Sang Prabu Herjanarudra ngersakna babad – babad wana, dilalah mencok wit aren, medal tlutuhipun (legen), dipun icipi legi. Ringkes lajeng saged manggih bahan unjukan ingkang seger lan saged kadamel gendhis aren.
Wiwit kala semanten milahi tiyang jawi saged mangertos legen lan dhamel gendhis aren.
(lha geneya babad – babad wana lan nemu wit aren, wana mau rak ya akeh wite kang macem – macem to? Ora susah kudu ditanemi sik wiji asal India tembe bae thukul, rak ya wus thukul karepe dhewe wiwit kunaning makuna ing tanah Jawi : Ravie Ananda).

Ing SS 374/CS 385
Prabu Herjanarudra anggenipun jumeneng ratu wonten Gilingaya 37 taun,peputra kathah, sarta hanurunaken para satriya ing tanah Jawi, langkung – langkung ing jawi Kilen. Wekasan lajeng mukswa kondhur dhateng kadhewatan. Salajengipun R. Sitowoko jumeneng ratu hajejuluk Sitowoko.

Sak badhenipun seleh keprabon, dhateng R. sitowoko, Prabu herjanarudra yasa palaning Dipangga, mila wiwit jaman punika kathah ratu sami malanani kagunganipun Dipangga (pelana Kuda)
(ateges ana ing Jawa wus ana pelana kuda wiwit biyen, mula banjur kawitane di endhih babade, kabeh – kabeh sak pungkure Ajisaka hangejawi, ya amarga mlebune bangsa India ana ing Jawa wiwit taun – taun kuwi (udakara taun 67 M/1 SS/CS).

Sak badhenipun mukswa, dilalah ing negari Gilingaya kathah wewelaking Dhewa, sampun mesti laras lan kersaning Kang manitah, ing ngriku kathah banjir ageng lan sesakit ingkang hanggegirisi sanget. Enjang sakit, sonten pejah, sonten sakit, enjang pejah. Manungsa sami geter lan sedih kingkin. Semanten ugi para luhur dumugi sang prabu ugi makaten.

Dening Brahmana Raddi lajeng katumbal sarta kedhawuhan Baresih desa sinebat Grama Wedha (1 Sura). Sasampunipun makaten, kita Gilingaya dumugi dhusun – ingadhusun saben kawitaning taun kakedhahaken memule dhateng leluhuripun ing dhusun ngriku. Kaprah sinebut Bersih Desa, resik desa utawi baritan.

Kala semanten wiwit tanah Pasundhan ngantos dumugi telatah Jawi tengah lan wetan milai wonten bersih desa ( Baritan )
Ganti Lakon lan Pameleh
Ing SS 376/CS 387  (444 M/455 M)
Prabu Sitowoko utusan kintun serat panantang dhateng negari Medangkamulan II (ingkang raka) wekasan perang ageng – agengan. Inggih sebab makaten punika, moksanipun Prabu Herjanarudra kondur dhateng kadhewatan.

Gantos lakon, ugi salebeting antawis taun wau kirang langkung makaten :
1. Raden Radhite sowan dating negari Medangkamulan tinampi pisowanipun, terus kapundhut putra angkat, badhe kadhaupaken kaliyan kang putri asma Desi Sri Suwati.
2. Sak badhenipun kapundhut putra mantu, Sang Hyang Naradha Rawuh kautus dening Sang Hyang Giri Nata, kadhawuhaken yen R. Radhite wau sayektinipun putranipun piyambak, mila mboten keparengaken kapundhut mantu, sebab putra miyos saking garwa dewi Basundari. Mila lajeng kadadosaken patih, dipun paringi nami “ Sela Cala “

(Jeneng Sela Cala rak kaya jeneng padunungan ing cerak Muria ta ? lan maneh kandhane babad ngarep, padunungan Muria, Kendheng iku kalebu kang kawitan didekeki manungsa. Apa iku ora kalebu ngendhih babad, sebab ing papan kono jaman kunaning makuna wus ana  kabuyutan lan kabudayan kang luhur asli Tanah Dhawa ?: Ravie Ananda)

3. Prabu Gilingaya kawon, negari bedhah, terus oncat saking negari, lelana tapa malih, mantuk dados putri asma Dewi Sinta.

(geneya Dewi Basundari tapa malih dadi lanang (Prabu Gilingaya) mbanjur tapa malih dadi wanita malih asma dewi Sinta ? ana piwulang kang winadi kang siningit, sinimpen ing sajeroning carita : Ravie Ananda).

4. Prabu Palindriya kondur dhateng Medangkamulan III malih, sarta patih Sela Cala kajumenengaken Ratu wonten ing negari Gilingaya, kagentos nami negari Gilingwesi. Wekasan jejuluk Prabu Watu Gunung.

Bab dhatenging kaelokan ing jaman semanten
Ing SS 386/CS 397 (454 M/465 M)
Wonten kaelokaning jagad makaten :
1. Brahmana Raddi mawisata ing satunggaling dalu katurunan lintang Surya, paring dhawuh sasmita makaten : Kadaluwarsa luya laya, tegesipun tiyang kesah kalungse ing taun, mantuk bilahi. Enjangipun lajeng memulya Kencana dhateng Surya, dina iku diarani Radhite tegese dina srengenge.
2. Dalunipun malih Brahmana Raddi katurunan malih lintang Candra, paring cipta sasmita makaten : Waktrakanisawinetra Hawindrebudaya tegesipun Muka kecalan Netra hametengi Budhi. Enjangipun lajeng memulya salaka dhateng rembulan. Dinten wau dipun wastani Candra.
3. Dalunipun malih Brahmana Raddi katurunan lintang Hanggara, paring sasmita makaten : Sewurita Sogata Babangganahuri, tegesipun sahabat kecalan guru pancabakah dados ura. Brahmana Raddi lajeng memulya Gongsa kang den mulya latu (geni) . Dinten wau dipun wastani dinten Hanggara tegesipun dinten Latu.
4. ing dalunipun malih katurunan lintang Budha asung wangsit makaten : Sakatanira, daruki pangirada layun. Tegesipun pedhati tanpa kusir, pangiridipun salewengan. Enjangipun memulya Tosan, kang den Mulya Bumi, sinebut dinten Budha, tegesipun Bumi.
5. Dalunipun malih brahmana Raddi Katurunan lintang Wrahaspati asung cipta sasmita makaten : Mamingkare Ngandikara, Karanaya Tuna tegesipun tiyang hanilar padamelan perlu punika dados margining katunan. Bramana Raddi lajeng memulya perunggu lang den Mulya gelap. Dinten wau dipunwastani Wrahaspati tegese dinten Gelap.
(Wrahaspati rak jenenge raja kang wus Mukswa to ? : Ravie Ananda)
6. Dalunipun malih Brahmana Raddi katurunan lintang Sukra asung wangsit makaten : Katentinutijingaya murka wadurwaka tegesipun Hanuruti karsa punika ugi murka, nama durhaka. Enjangipun memulya tembaga kang den mulya Toya. Dinten wau dipunwastani dinten Sukra tegesipun jawah.
7. Dalunipun malih katurunan lintang Saniscara asung wangsit makaten : Samadi masa saya lano palaksana tegesipun hasemados mangsanipun dumugi ing janji tetep kalampahan. Enjangipun memulya timah kangge memulya angina, dipun wastani dinten saniscara tegesipun dinten angin.
(rak geseh dewe to, ing ngarep wis dikandhakna yen dina rangkep digawe sak wuse anane dina pitu kanggo ngrangkepi, ananging ana carita iki malah tembe bae anane dina pitu diwiwiti saka pikantuke sasmita Brahmana Raddi, aneh maneh lintang kok bisa paring sasmita, kudune rak sing paring sasmita iku manungsa luhur, utawane leluhur utawane Dhewa, lan maneh salah sijining lintang kok jenenge pada karo asmane Raja kang wis Mukswa. Genah wong India kang niyat ngendhih babad asli ora ngerti karepe kang sayekti kang sinimpen siningit ana ing sajeroning carita, mula nganti sak iki ya mung ana ing tanah Jawa dina kang ana Pasarane lan taksih kanggo patokan dening manungsa Jawa. Ana ing Jawi kilen bae wus ora mangerti, apa maneh ing liya pulo utawane liya Negara : Ravie Ananda).

Sasampunipun jangkep pitung (7) dinten, Brahmana Raddi matur dhateng sang Prabu Sela Cala, kersaha ngagem sarta kalimrahaken dhateng rakyatipun, inggih wontenipun dinten pitu wau. Sang Prabu ugi mituhokna dhawuhing gurunipun, mila terus kadhawuhaken dhateng wadyabalanipun nanging taksih kedah kerangkepan dinten gangsal (5)  : Legi , Paing , Pon, Wage, lan Kliwon.

Ingkang tampi dhawuh sami ngestokaken, lajeng kalimrahaken ing sak indhenging tanah Jawi, kalebet pulo Bali lan Madhura.

Inggih punika purwaning tiyang tanah Jawi sami ngangge dinten pitu lan rangkep lima.

Sareng sampun sumebar sami ngangge dinten pitu wau, Brahmana Raddi mukswa dados sang Hyang Surya malih. Kala semanten kaetang ing taun SS 38/ CS 398 (455 M/466 M).
Tinengeran “ Manggala Sasanga Katon Barakkan “
(rak geseh to, ing babad ngarep wus dicaritakake yen dina rangkep 5 wus digawe kanggo ngrangkepi dina pitu lan wus kalimrahake, lha kok saiki diterangake malih yen dina pitu lan dina lima nembe kanggo ngepasi jamane Prabu Sela Cala lan Brahmana Raddi? Aneh malih, Brahmana Raddi kang jebul Sang Hyang Surya kok pikantuk sasmita saking Lintang Surya ? : Ravie Ananda)

O
TRAH
Karya Ravie Ananda

Dari sehelai batik yang melukiskan kejayaan masa lalu
Dan kenakan ia dengan lebih lekat
mengangkat tentang kehalusan budi
Budi dalam bendera warna
Dari sebilah keris yang melukiskan kejayaan masa lalu
Dan gengamlah ia dengan lebih erat
rasakan sebuah pemujaan agung
pemujaan bergaya klasik
pengakuan terdalam
dari para sukma dan roh suci
kepada tuhaN sejatI
tuhaN tanpa nama
Dari sekulit wayang yang melukiskan kejayaan masa lalu
dan tontonlah ia dengan lebih dekat
nikmati epos kolosal
kebanggan para leluhur tentang kehidupan
ketika tuhaN masih menjadi tuhaN
saat ia bersifat
dan ketika debu kembali
tak berdebu
Dan...
Dari semua yang tak nampak
rasakan ia dengan lebih halus
maka temui ruang tak beruang
Ujud yang selalu abadi
Tanpa suara,tanpa warna sebagai suci
terjamahlah cipta
Rahayu
Sih
O
NAFAS
Karya Ravie Ananda

Nafas timurku segan kepadamu
tapi jangan jajah saudaraku

Nafas Baratmu datang dari jauh
melintas laut
menyinggah pulau berpuluh darat
tapi jangan injak jantung pribumi

Biarkan nafasku dengan aroma timur
setelah hampir semua pribumi mati


Sura Dira Jayaningrat kabeh Lebur Dening Pangastuti
Dirgahayu 65
Di ateges Adi
Arga  ateges Gunung
Hayu ateges Slamet
Muga NKRI tansah slamet lan dadi Negara kang Agung lan Mulya kaya dene Gunung Adi, ya Gunung Emas, ya Gunung pralambanging Kaluhuran lan Kejayaan.



Muga Wahyu Kaluhuraning Bawana kanggo Tanah Dhawa NKRI enggal pulih kaya dene Kaluhurane Tanah Dhawa Kuna 2,5 juta taun kapungkur

Muga Pancasila enggal Lenggah kang sejati lan dadi Mustikaning Jagat

Muga Kang Maha Esa tansah Ngesihi : Tanah Dhawa NKRI tansah kalis saking bebeka, makartining sesama, makartining lelembut lan makartining daya pangwasa alam ingkang awon.

Dhayaning Pancasila bisa Nyamadi ing sak Indhenging Bawana
Dhayaning Wisnu, mekaring Wijaya Kusuma bisa hambantu nyirnakna reridhuning Negara

Wus Wayahe Tanah Dhawa NKRI pulih kaluhurane, bebarengan timbuling Tunjung Bang Terate, kumambanging Watu Ireng, lan kereming Prahu Gabus, sarta mijiling Lare Kuncung nitih Turanggaseta, ngacungake panudhuh hing ngakasa.

Rahayu 

Kado untuk Tanah Air tercintaku
Tanah Dhawa NKRI
Salam Pancasila


R. Ravie Anandariwayat kyai nur iman mlangi / tarikh nur iman mlangi rm. sandeyo versi bahasa indonesiaTuesday, May 25, 2010 8:11 PMJumat, 28 Maret 2008
silsilah Mataram Kertosuro ( Pustaka darah ) Silsilah Kyai Nur Iman / R. Sandeyo Mlangi
oleh Ravie Ananda

Sebelum mengupas tetentang Kyai Nur Iman Mlangi, penulis akan memaparkan secara singkat beberapa kejadian berdasarkan sejarah yang sangat erat kaitannya dengan riwayat Kyai Nur Iman Mlangi.
Pada tanggal 06 Juli 1704, Pangeran Puger yang mempunyai nama asli Raden Mas Drajat ( Beliau adalah putera dari Amangkurat I dengan isteri permaisuri keturunan Keluarga Kajoran ) diangkat menjadi raja bergelar Susuhunan Pakubuwana Senapati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa atau disingkat dengan Pakubuwana I. menurut catatan sejarah, Pangeran Puger juga pernah menyandang gelar sebagai Amangkurat II dikarenakan adanya pertentangan antara kakak pangeran Puger yang bernama Raden Mas Rahmat dengan Amangkurat I (Ayahanda mereka ), sehingga Pangeran Puger diangkat menjadi Putera Mahkota. Ketika terjadi pemberontakan Trunojoyo pada tahun 1677, Mas Rahmat menolak ditugasi ayahnya untuk mempertahankan kraton Mataram Kertosuro yang pada saat itu beribukota di Plered. Ia memilih mengungsi kearah Barat. Pangeran Puger kemudian tampil melaksanakan tugas itu sebagai bukti bahwa tidak semua keturunan Kajoran mendukung Trunojoyo. Dengan kejadian inilah kemudian Pangeran Puger menyandang gelar Amangkurat II. Namun , karena kekuatan pemberontak yang sangat besar akhirnya Pangeran Puger menyingkir ke Jenar. Di sana Beliau mendirikan kerajaan Purwakanda dan berpusat di Jenar. Ia mengangkat dirinya sebagai raja bergelar Susuhunan Ingalaga. Setelah Trunojoyo kembali ke Kediri, Susuhunan Ingalaga segera merebut Plered dan mengusir anak buah Trunojoyo yang ditempatkan di kota itu.
Amangkurat I meninggal di daerah Tegalwangi / Tegalarum. Raden Mas Rahmat menjadi Raja tanpa Tahta dengan Gelar Amangkurat II. Hal Ini disebabkan karena Plered sebagai ibukota Mataram saat itu diduduki dan dipertahankan oleh Pangeran Puger ( Amangkurat II ) yang lebih memilih mempertahankan Plered daripada mengungsi.
Amangkurat II Raden Mas Rahmat kemudian memilih membangun Kraton baru dengan nama Kartosuro pada bulan September 1680. Ia kemudian memanggil Susuhunan Ingalaga / Amagkurat II Pangeran Puger untuk bergabung dengannya, akan tetapi oleh Pangeran Puger ditolak, sehingga terjadilah perang saudara. Pada tanggasl 28 November 1681.

Susuhunan Ingalaga Amangkurat II Pangeran Puger menyerah kepada Jacob Couper, pemimpin pasukan VOC, yang membantu Amangkurat II Raden Mas Rahmat. Susuhunan Ingalaga kemudian kembali bergelar Pangeran Puger dan RM Rahmat bergelar Amangkurat II. Berdasar peristiwa inilah Kyai Nur Iman Mlangi kadang juga disebut sebagai Amangkurat III, akan tetapi bukan Amangkurat Jawa, karena Amangkurat Jawa yang ada dalam sejarah adalah RM. Suryo Putro ( putra Pengeran Puger/ Ayah Kyai Nur Iman Mlangi ).

Antara Amangkurat II RM. Rahmat dan Pangeran Puger memiliki perbedaan sikap yang sangat mencolok. Amangkurat II cenderung bersifat lemah hati dan tidak teguh pendirian, sedangkan Pangeran Puger bersifat sangat tegas. Maka gelar Amangkurat II pada saat itu seperti simbol belaka, karena yang lebih banyak menjalankan roda pemerintahan saat itu adalah Pangeran Puger yang memang ditunjuk sebagai tangan kanan Amangkurat II RM. Rahmat.

Pangeran Puger wafat pada tahun 1719.
Salah satu putera Pangeran Puger adalah RM. Suryo Putro. Dikisahkan ia meninggalkan kraton Mataram menuju ke arah timur / brang wetan, tepatnya sampai di Pondok Pesantren Gedangan Surabaya yang pada saat itu diasuh oleh Kyai Abdullah Muhsin. Hal ini dikarenakan adanya perebutan tahta dan perselisihan antar saudara di kalangan istana yang merupakan ulah adu domba Belanda. RM. Suryo Putro kemudian menjadi santri disana dengan berganti nama M. Ihsan. Pada suatu saat tepatnya dalam kegiatan rutin selapanan ( 35 hari sekali ) yang diadakan di ponpes tersebut, diadakan pengajian yang tanpa disangka dihadiri oleh Adipati Wironegoro ( ini adalah gelar anugrah yang diberikan Amangkurat II kepada Untung Suropati yang ikut membantuh dalam pembunuhan Pimpinan Kompeni yang bernama Kapten Tack), M. Ihsan menjadi ketua santri dan ikut menghidangkan hidangan untuk para tamu yang hadir. Saat mondar mandir di depan Adipati tersebut, ia diamati oleh sang Adipati. Karena merasa bahwa adipati pernah bertemu sebelumnya dan yakin bahwa santri tersebut adalah seorang bangsawan, maka setelah pengajian selesai, sang adipati tidak langsung pulang tetapi malah menyuruh Kyai A. Muhsin untuk memanggil Santri M. Ihsan tersebut. Setelah bertemu dan bercakap- cakap akhirnya diketahuilah bahwa M. Ihsan memang seorang bangsawan. M. Ihsan dan Adipati akhirnya berpesan agar Kyai merahasiakan keberadaan M. Ihsan dan menganggap ia sebagai santri biasa agar tidak sampai ketahuan oleh keluarga kerajaan. Sebelum pulang, Adipati Wironegoro berpesan agar M. Ihsan sudi berkunjung ke kadipaten dengan menyamar.
Akhirnya pada waktu yang telah ditentukan M Ihsan bersama Kyai datang ke kadipaten dengan alasan akan menyampaikan pesan kepada adipati tersebut agar tetap merahasiakan keberadaannya kepada kelurga Kraton. Setelah beberapa waktu berjalan dan melalui pertimbangan yang matang, akhirnya diambillah kesepakatan antara Adipati, kyai A. Muhsin dan M. Ihsan untuk menikahkan M Ihsan dengan Putri Adipati tersebut yang bernama RA. Retno Susilowati. Setelah menikah, putri tersebut diboyonglah ke ponpes Gedangan.

Sementara itu, sepeninggal RM. Suryo Putro ternyata keadaan kerajaan semakin kacau hingga akhirnya terciumlah keberadaan M. Ihsan oleh keluarga Kraton. Sang Raja kemudian mengirim utusan untuk menjemput pulang M. Ihsan ke Mataram. Karena itu merupakan perintah Raja, maka M. Ihsan tidak berani menolak. Sebelum ia pulang ke kraton, ia menitipkan istrinya yang sedang hamil ke kyai A. Muhsin dan berpesan "Kelak jika anaknya lahir laki laki harap diberi nama RM. Sandeyo, tetapi jika perempuan, pemberian nama terserah Kyai". Kyai juga diminta mengasuhnya dan mendidiknya hingga mumpuni, karena kelak ia kan dijemput pulang ke kraton Mataram. Ternyata bayi yang lahir itu benar laki - laki dan kemudian oleh kyai diberi nama RM. Sandeyo, selain itu oleh Kyai bayi itu juga diberi nama M. Nur Iman.

Setibanya di kraton Mataram, RM. Suryo Putro langsung dinobatkan sebagai raja bergelar Amangkurat JAWA/ Amangkurat IV. Ia memerintah pada tahun 1719 - 1726. Sebelum Beliau meninggal, Beliau teringat pernah menitipkan istri pertamanya yang sedang hamil di ponpes Gedangan yang diasuh oleh Kyai Abdullah Muhsin, dan mungkin anak dalam kandungan itu telah lahir dan telah dewasa. Akhirnya Beliau mengutus utusan untuk menjemput pulang anak tersebut.

Seiring waktu berlalu Nur Iman / RM Sandeyo telah tumbuh dewasa dan telah menjadi pemuda yang mumpuni dalam ilmu agama dan lainnya, hingga pada suatu saat datang lah utusan tersebut dan meminta RM Sandeyo untuk pulang ke Mataram. Akhirnya M. nur Iman mau untuk pulang, akan tetapi Beliau tidak mau pulang bersama dengan utusan tersebut. setelah pamit pada Kyai Abdullah Muhsin dan mendengarkan semua pesan nasihat dari Kyai, maka RM. Sandeyo berangkat ke Mataram dengan ditemani dua sahabat dekatnya yang bernama Sanusi dan Tanmisani. Sesuai dengan nasihat Kyai, maka sepanjang perjalanannya mereka tanpa henti berdakwah menyebarkan ilmu agama dan mendirikan Ponpes, hingga perjalan sampai ke Mataram memakan waktu agak lama. Ponpes yang didirikan M. Nur Iman antara lain ponpes yang ada di sepanjang Ponorogo dan Pacitan. Kyai Abdullah Muhsin juga mempunyai keyakinan kuat bahwa kelak M. Nur Iman akan menjadi Ulama besar dan termasyhur.

Sesampainya di Kraton, M. Nur Iman langsung sungkem kepada Ayahhandanya ( Amangkurat Jawa / IV ) dan kemudian dikenalkan kepada semua kerabat kraton , juga adik - adiknya. Selain itu ia juga dianugerahi gelar KGHP. Kertosuro dan mendapat rumah kediaman di Sukowati.
Pada saat terjadinya perang saudara antara adik - adiknya yakni Pangeran Sambernyowo / RM. Said dan Pangeran Mangkubumi / RM. Sujono, juga dengan terjadinya huru - hara antara bangsa Tionghoa dengan kompeni Belanda yang terkenal dengan GEGER Pecinan, M. Nur Iman bersama sahabatnya memilih meninggalkan istana ke arah barat. Selain berdakwah, mereka juga menanamkan jiwa patriotisme melawan kompeni kepada para rakyat yang mereka temui. Perjalanan ke barat itu sampai pada daerah yang bernama Kulon Progo. kedatangannya diterima dengan senang hati oleh demang yang bernama Hadiwongso ( penguasa daerah Gegulu ), yang kemudian demang beserta keluarganya tersebut memeluk islam. Dengan sangat hormat demang tersebut memohon agar M. Nur Iman sudi menikah dengan putrinya. Akhirnya M. Nur Iman dinikahkan dengan putri nya yang bernama Mursalah, sedangkan kedua sahabatnya juga dinikahkan dengan putrinya yang lain yang bernama Maemunah ( menikah dengan Sanusi ) dan Romlah ( menikah dengan Tanmisani).

Perselisihan antar kedua saudara M.Nur Iman tersebut akhirnya berakhir dengan perjanjian di desa Giyanti pada tahun 1755, kemudian dikenal dengan perjanjian Giyanti yang isinya antara lain :
1. Kerajaan Mataram Kertosuro dibagi menjadi 2 bagian,
- dari Prambanan ke timur menjadi milik Susuhunan Pakubuwono III, beribukota di Surokarto
- dari Prambanan ke barat menjadi milik Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwana I, beribukota di Yogyakarta.
2. Pangeran Sambernyowo / RM. Said diberi kedudukan sebagai adipati dengan gelar Adipati Mangkunegara I dan diperbolehkan mendirikan sebuah Puro yang kemudian diberi nama Puro Mangkunegara.
Setelah keadaan menjadi tenteram, raja - raja yang merupakan adik dari M. Nur Iman tersebut teringat akan kakaknya yang bernama RM. Sandeyo / M. Nur Iman, kemudian masing- masing raja mengutus prajuritnya untuk mencari keberadaan M. Nur Iman.

Sementara itu , setelah demang Hadiwongso ( mertua KGPH Sandeyo / M. Nur Iman ) wafat, M. Nur Iman sekeluarga pindah ke utara, di sebelah timur Kali Progo tepatnya di desa Kerisan. Di desa inilah RM. Sandeyo bertemu dengan Sultan Hamengku Buwana I ( yang tidak lain adalah adiknya ). Sultan Hamengku Buwana I kemudian meminta agar M. Nur Iman kembali ke kraton.
Pada tahun 1776, saat Jumenengan Pangeran Mangkubumi menjadi raja Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senopati Ing Ngalaga Khalifatulloh Ngabdurrohman Sayidin Panotogomo ingkang Jumeneng Sepisan, yang kemudian lebih umum disebut Hamengku Buwana I, M. Nur Iman Mlangi diberi hadiah tanah oleh Hamengku Buwana I berupa tanah Perdikan / tanah bebas pajak . Tanah tersebut kemudian dijadikan desa dan dugunakan untuk pengembangan agama Islam. Didirikan pula Pondok pesantren untuk mulangi atau mengajar agama. Atas dasar kata mulangi inilah kemudian desa tersebut dikenal menjadi desa Mlangi.

Zaman Pemerintahan Hamengku Buwana I menrupakan zaman keemasan Yogyakarta Hadiningrat. Setelah Hamengku Buwana I wafat, pemerintahan digantikan oleh putranya yan g bernama RM. Sundoro yang bergelar Hamengku Buwana II. Beliau sangat nasionalis dan rela berkorban untuk rakyatnya. Terlebih dalam pengembangan agama. hal ini terlihat dengan baiknya hubungan antara ulama dan umaro pada saat itu.

Pada masa pemerintahaan Hamengku Buwana II inilah Kyai Nur Iman Mlangi mengarahkan agar Raja membangun Empat Masjid besar untuk melengkapi dan mendampingi masjid yang sudah berdiri terlebih dahulu yaitu masjid yang berada di kampung Kauman , di samping kraton. Masjid yang akan dibangun tersebut disaranklan oleh Kyai Nur iman dibangun di empat arah dan diberi nama Masjid Patok Nagari. Keempat masjid tersebut adalah :
di sebelah Barat terletak di dusun Mlangi
di sebelah Timur terletak di desa Babadan
di sebelah Utara terletak di desa Ploso Kuning
Di sebelah Selatan terletak di desa Dongkelan.
Adapun pengurus masjid tersebut adalah putra - putra Kyai Nur Iman Mlangi yakni :

Masjid Ploso Kuning di urus oleh Kyai Mursodo
Masjid babadan diurus oleh kyai Ageng Karang Besari
Masjid Dongklelan diurus oleh Kyai Hasan Besari
Masjid Mlangi diurus oleh Kyai Nur Iman Mlangi sendiri
Masjid - masjid tersebut kemudian terkenal dengan Masjid Kagungan Dalem atau Masjid Kasultanan, dan pengurus takmir pada saat itu termasuk abdi dalem kraton.

Sesuai dengan Amanah Hamengku Buwana II, maka Hamengku Buwana III melakukan perlawanan kepada penjajah. Sikap patroitisme dan nasionalisme tersebut beliau wariskan kepada putranya yang bernama Kanjeng Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro dengan semangat tinggi dan keyakinan Jihad Fi sabillillah memerangi Belanda. Hal ini tercermin dari pakaian yang ia kenakan. Perang Diponegoro berlangsung pada tahun 1825 - 1830. Perang Diponegoro ini pun melibatkan anak cucu dari Mbah Kyai Nur Iman Mlangi. salahsatu putr a Kyai Nur Iman Mlangi yang gugur dalam perang ini bernama Kyai Salim. Beliau wafat di desa Ndimoyo. Selanjutnya beliau terkenal dengan sebutan Kyai Sahid.
Tipu daya licik Belanda akhirnya dapat mengakhiri perang Diponegoro. Pangeran Diponegoro tertangkap di Magelang dalam sabuah perundingan. Pengawal Pribadi Pangeran Diponegoro juga iku ditangkap saat itu. Ia bernama Kyai Hasan Besari yang merupakan putra dari Kyai Nur Iman Mlangi. Mereka kemudian diasingkan ke Menado.
Setelah Perang Diponegoro berakhir, kompeni berani menghadap Hamengku Buwana III. Kompeni membujuk dan memutar balikkan fakta kepada Sultan dengan mengatakan bahwa Pangeran Diponegoro dan pengikutnya adalah pemberontak. hal ini membuat pengikut Pangeran Diponegoro yang masih tersisa termasuk para putra wayah Mbah Kyai Nur Iman Mlangi tidak berani kembali ke desanya karena takut ditangkap kompeni. Di mana tempat yang dianggap aman, disanalah mereka tinggal. Sehingga secara tidak langsung terjadilah penyebaran penduduk dan keturunan dari Kyai Nur Iman Mlangi yang tidak hanya tersebar di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah saja , tetapi juga menyebar hingga ke Jawa Barat dan Jawa Timur, bahkan ada yang di luar Jawa. Sementara itu Mbah Kyai Nur Iman memilih tinggal di desa Mlangi sampai akhir hayatnya. Kyai Nur Iman Mlangi dimakamkan di belakang masjid. Makam tersebut kemudian terkenal denan sebutan makan Pangeran Bei / Pesareyan Kagungan Dalem Kasultanan, sehingga gapura masuk Kompeks tersebut bercirikan Kraton.
Seperti makam para Auliya' dan Ulama besar yang lain, makam Mbah Kyai Nur Iman juga banyak dikunjungi peziarah baik rombongan maupun perorangan yang berasal dari luar daerah, bahkan ada yang berasal dari luar pulau Jawa.

Putra mbah Kyai Nur Iman Mlangi ada yang diangkat sebagai Bupati Kedu, Beliau bernama Kyai Taptojani. Ada juga yang diangkat sebagai penghulu Kraton Yogyakarta. Beliau bernama Kyai Nawawi.

Sampai saat ini di desa Mlangi berdiri beberapa Ponpes yaitu :
1. PP. Al Miftah yang diasuh oleh Kyai Sirrudin dan diteruskan oleh KH. Munahar
2. PP As Salafiyyah yang diasuh oleh Kyai Masduqi dan diteruskan oleh KH. Suja'i Masduqi
3. PP. Al Falahiyyah yang diasuh oleh KH. Zamrudin dan diteruskan oleh Nyai hj. Zamrudin
4. PP. Al Huda yang diasuh oleh KH. Muchtar Dawam
5. PP. Mlangi Timur yang diasuh oleh KH. Wafirudin dan diteruskan oleh Nyai Hj. Wafirudin
6. PP. Hujjatul Islam yang diasuh oleh KH. Qothrul Aziz
7. PP. As Salimiyyah yang diasuh oleh KH. Salimi
8. PP. An Nasyath yang diasuh oleh KH. Sami'an
9. PP. Ar Risalah yang diasuh oleh KH. Abdullah
10. PP. Hidayatul Mubtadin yang diasuh oleh KH. Nur Iman Muqim

Adapun Ponpes yang ada diluar Yogyakarta dan masih keturunan Mbah Kyai Nur Iman Mlangi adalah :
1. PP. Watu Congol Muntilan yang diasuh oleh KH. Ahmad Abdul Haq
2. PP. Tegalrejo Magelang yang diasuh oleh KH. Abdurrahman Khudlori
3. PP. Al Asy'ariyyah Kalibeber Wonosobo yang diasuh oleh KH. Muntaha
4. PP. Bambu runcing Parakan Temanggung yang diasuh oleh KH. Muhaiminan
5. PP. Secang Sempu Magelang yang diasuh oleh KH. Ismail Ali
6. PP. Nurul Iman Jambi yang diasuh oleh KH. Sohib dan Nyai Hj, Bahriyah

Karya Mbah Kyai Nur Iman Mlangi antara lain :
1. Kitab Taqwim ( Ringkasan Ilmu Nahwu )
2. Kitab Ilmu Sorof ( Ringkasan Ilmu Sorof )
Di museum Diponegoro Magelang juga terdapat peninggalan dari Pangeran Diponegoro berupa kitab yang selalu Beliau baca. Kitab tersebut adalah kitab karya Mbah Kyai Nur Iman Mlangi

Pada Tahun 1953 Masjid Mlangi diserahkan kepada rakyat dan diberi nama Masjid Jami' Mlangi. Serah terima dari Hamengku Buwana IX kepada masyarakat diwakili oleh alim ulama dan tokoh masyarakat, antara lain :
1. Kyai Sirudin
2. Kyai Masduki
3. M. Ngasim

Tradisi peninggalan Mbah Kyai Nur Iman Mlangi yang masih dilestarikan sampai saat ini antara lain :
1. Ziaroh / ngirim ahli kubur dengan membaca tahlil dan Al Quran, surat Al Ikhlas dan lain lain.
2. Membaca sholawat Tunjina ( untuk memohon keselamatan di dalam setiap hajatan )
3. Membaca sholawat Nariyah ( untuk memohon keselamatan pada hajatan seperti orang hamil dan lain lain )
4. Membaca kalimat Thoyyibah, tahlil Pitung Leksa ( Khususnya jika diperlukan untuk obat / tombo sapu jagad )
5. Manakib Abdulqodiran
6. Barjanji / Rodadan
7. Sholawatan / Kojan dan lain- lain.

Untuk mengenang dan menghormati jasa Mbah Kyai Nur Iman Mlangi, para Alim Ulama dan tokoh masyarakat sepakat mengadakan khaul yang diselenggarakan setiap tahun pada bulan Suro / Muharram malam tanggal 15.

Silsilah Mataram Kertosuro ( PUSTAKA DARAH ) dan Kyai Ageng Mlangi
Brawijaya terakhir;

R. Bondan Gejawan ( Ki Ageng tarub III );

Ki Ageng Getas Pandawa;

Ki Ageng Sela;

Ki Ageng Nis;

Kyai Ageng Pemanahan;
Panembahan Senopati;
Prabu Anyokrowati;
Prabu Sultan Agung Anyokrokusumo
Prabu Amangkurat I
Prabu Amangkurat II ( Pangeran Puger )
Prabu Amangkurat IV ( Amangkurat Jawa ) RM. Suryo Putro

RM Suryo Putro menurunkan;
1. RM. Sandeyo ( Kyai Nur Iman Mlangi / KGP Angabehi Kertosuro )
2. KPA. Mangkunegoro I
3. KPA. Danupojo
4. RA. Pringgolojo
5. K. Susuhunan PB. II Surokarto
6. KPA. Pamot
7. KPA. Hadiwidjojo
8. KPA. Hadinegoro
9. K. Ratu Madunegoro
10. K. Sultan HB. I Ngajogjakarta
11. KP. Rogo Purboyo
12. KGPA. Panular
13. KGPA. Blitar
14. RA. Surodiningrat
15. KPA. Buminoto - Sultan Dandun Mertengsari - Adipati Setjoningrat - Panembahan Bintoro
16. KP. Singosari ( KP. Joko )
17. KGPA. Mataram
18. KGP. Martoseno
19. RA. Hendronoto
20. KGPA. Selarong
21. KGPA. Prang Uledono
22. KGPA. Buminoto

RM. sandeyo ( Kyai Nur Iman Mlangi ) mempungai 5 orang istri yaitu :
1. Garwa Gegulu, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RM. Mursodo
2. RM. Nawawi
3. RM Syafangatun
4. RM. TAptojani - Kyai Kedu
5. RA. Cholifah / Kyai Mansyur
6. RA. Muhammad
7. RA. Nurfakih / Murfakiyyah
8. RA. Muso - Kyai Sragen
9. RM Chasan Bisri / Muhsin Besari
10. RA. Mursilah Ngabdul Karim

2. Garwa Surati, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RA Muhammad Soleh
2. RM Salim
3. RA. Jaelani

3. Garwa Kitung, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RA. Abutohir
2. RA. Mas Tumenggung

4. Garwa Bijanganten, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RA. Nurjamin

5. Garwa Putri Campa, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RM. Masyur Muchyidinirofingi ( Kyai Guru Loning )

RM. Masyur Muchyidinirofingi ( Kyai Guru Loning ) mempunyai 5 istri yaitu :
1. Garwa Putri penghulu Demak, dari Istri ini beliau menurunkan ;
1. RM . Haji Ngabdurrochman

2. Garwa Alang - Alang Amba, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RA. Fatimah / Kyai Sayyid Taslim
2. RA. Djamilah Sangid
3. RM. Haji Muhammad Nur
4. RM. Kyai Bustam

3. Garwa Putri Dipodirjo, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RA. Muhammad Zein
2. RM. Kyai Machmud
3. RA. Yai Istad
4. RM Haji Soleh

4. Garwa Putri Lurah Krojo, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RM. Chamid Tritis

5. Garwa Putri Kyai Soleh Qulhu Magelang,dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RM. Haji Ngabdullah MahlanMbah Ahmad Alim ( Sayyid Ahmad Muhammad Alim ) Bulus Purworejo / Pustaka Bangun Bahasa Jawa / Ravie AnandaTuesday, May 25, 2010 8:03 PMPUSTAKA BANGUN










Nyariosaken Riwayat saha Silsilah turunipun
Sayyid Ahmad Muhammad Alim
( Mbah Kyai Ahmad Alim )
Bulus Purworejo







dipunserat ulang lan dipunjangkepi dening :
Sayyid R. Muh. Ravie Ananda
Kebumen








BEBUKA

 Buku alit punika kaparingan asma “ Pustaka Bangun “, dipunanggit dinten Rebo Legi 25 Robingulakhir 1387 H utawi 02 Agustus 1967 dening Kyai Sayyid R. Damanhuri, Kyai Sayyid Dahlan Baabud, Kyai Sayyid Agil Baabud, Haji Syamhudi, R. Darmowarsito , R. Ali MS, R. Muh. Siroj ugi panitia choul sanesipun kanti ngempalaken riwayat saking pra putrawayah turunipun Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim ( Mbah Ahmad Alim Bulus ) kanti penyelidikan sejarah ingkang kuat, awujud sumber – sumber kawontenan ing sejarah.
Buku punika isi sesorah ingkang kawaos dening Kyai Sayyid R. Damanhuri Pangenjurutengah Purworejo, wonten parepatan khoulipun Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim suwargi, ingkang ka 125 tahun, mapan wonten ing serambi Masjid Bulus Purworejo, dinten Kemis Paing jam 11.30 WIB, tanggal 2 Jumadilakhir 1387 H utawi 7 September 1967, wonten sakngajengipun pos darah Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim kirang langkung 300 tiyang.
Buku punika dipunserat ulang lan dipunsampurnakaken sarta dipunhimpun malih silsilahipun dening Sayyid R.Muhammad Ravie Ananda ( tedhak turunipun Mbah Ahmad Alim ingkang kaping pitu ( 7 ) saking garwa Kalibening ) ingkang mapan wonten ing Jl. Garuda 13 Kebumen, wonten ing dinten Selasa Kliwon, tanggal 03 Mei 2005. Saking usulipun pra darah Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim, buku supados kacetak kanti sederhana, supados saged dipunwaos dening pra putrawayah turunipun ingkang mbetahaken.

Sanajan sampun kataliti kanti ngatos – atos ananging dhumateng para maos ingkang manggihi kalepatanipun silsilah, mugi kersaha maringi pawartos dhateng :
1. Sayyid R. Muhammad Ravie Ananda, Jl. Garuda 13 Kebumen, utawi dhateng ;
2. KH. Sayyid R. Salim Al Mator, Jatisari Kebumen, utawi dhateng ;
3. Kyai Sayyid R. Khumsosi Al Mator, Jatisari Kebumen, utawi dhateng :
4. KH. Sayyid R. Muh. Nawawi Hisyam ( Gus Wawi ), Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Adikarso Kebumen, utawi dhateng ;
5. Kyai Sayyid R. Muhammad Taslim Tirip, lan saged ugi dhateng ;
6. Sayyid R. Abdurrohman ( Pak Dur Manten Lurah Bulus Purworejo ).

Dhumateng pra putrawayah turunipun ingkang dereng kaserat wonten ing mriki, kula aturi nerasaken seratanipun piyambak – piyambak lan kersaha maringi pawartos dhumateng kawula wonten alamat Jalan Garuda 13 Kebumen, kagem njangkepi seratan silsilah wonten ing buku seratan Kulawarga Ageng Sayyid Ahmad Muhammad Alim Bulus Purworejo.

Wasana mugiya Buku “ Pustaka Bangun “ punika sageda manfangati kagem Panjenengan sami.

       Kebumen, 03 Mei 2005


              Sayyid R. Muhammad Ravie Ananda
Riwayatipun Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim dipunwiwiti saking wiosipun lan silsilahipun.

Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim kababaraken wonten ing Afdeling Ledok ( Wonosobo ) wonten ing warsa 1562 M. Miturut riwayat silsilahipun, Panjenenganipun Sayyid Ahmad Muhammad Alim punika tedakturunipun Kanjeng Rasul Muhammad SAW ingkang kaping 32.

Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim putranipun ;
1. R. Singosuto, Mojotengah Garung Wonosobo, ibni
2. R. Alim Marsitojoyo, Mojotengah Garung Wonosobo, ibni
3. R. Martogati, Wonokromo, Garung Wonosobo, ibni
4. R. Dalem Agung, Mojotengah, Garung Wonosobo, ibni
5. RA. Dilem Bandok, Wonokromo, Garung Wonosobo, ibni
6. RA. Nyai Bekel, Karangkobar Banjarnegara, ibni
7. RA. Nyai Segati / Pangeran Bayat, Tegalsari Garung Wonosobo, ibni
8. Sunan Kudus, ibni
9. Syarifah ( garwanipun Sunan Ngudung ), ibni
10. Sunan Ampel, ibni
11. Maulana Malik Ibrahim, ibni
12. Syekh Jumadil Kubro, Pondok Dukuh Semarang, ibni
13. Ahmad Syah Jalal ( Jalaluddin Khan ), ibni
14. Abdullah ( al - Azhamat ) Khan, ibni
15. Abdul Malik ( Ahmad Khan ), ibni
16. Alwi Ammi al - Faqih , ibni
17. Muhammad Shahib Mirbath, ibni
18. Ali Khali' Qasam, ibni
19. Alwi ats - Tsani, ibni
20. Muhammad Sahibus Saumiah, ibni
21. Alwi Awwal, ibni
22. Ubaidullah, ibni
23. Ahmad al - Muhajir, ibni
24. Isa ar - Rummi, ibni
25. Muhammad al - Naqib, ibni
26. Ali al - Uraidhi, ibni
27. Ja'far ash - Shadiq, ibni
28. Muhammad al - Baqir, ibni
29. Ali Zainal Abidin, ibni
30. Husein, ibni
31. Sayyidatina Fatimah, Ra, ibni
32. Rosulullah Muhammad S. A. W




Nalika timur, Sayyid Ahmad Muhammad Alim tindak ngaos dhateng Pekalongan wonten ngarsanipun Ulami Ageng ngantos sakwatawis dangu. Sakcekapipun wonten ing Pekalongan, Sayyid Ahmad Muhammad Alim lajeng tindak dhateng Mekah kagem nglampahi haji lan nerasaken anggenipun ngaos babagan agami Islam. Sayyid Ahmad Muhammad Alim mukim ngantos dangu wonten ing Mekah lan dados ulami ageng ingkang ngalap Tarekat Syatariyah. Sakkonduripun saking Mekah, Panjenenganipun lajeng lenggah wonten ing kampung Krapyak kitha Pekalongan ingkang pernah Ler. Wonten ing mriku, Sayyid Ahmad Muhammad Alim hanggantosi gurunipun ngantos dumugi krama lan peputra ingkang sakpunika pra turunipun kathah ingkang kasebat Basaiban, kadosta : Sayyid Abu Tolib, Sayyid Toha lan sanes- sanesipun. Pra turunipun Sayyid Ahmad Muhammad Alim ugi wonten ingkang dados Bupati Magelang, inggih punika Raden Tumenggung Danu Sugondo, ingkang rayinipun ugi dados Bupati Purworejo ingkang asma Raden Tumenggung Chasan Danuningrat. Saking Pekalongan, Sayyid Ahmad Muhammad Alim lajeng pindhah dhateng Wonosobo, sebab saking pamundhakipun pra murid. Sepindah Panjenenganipun lenggah wonten ing dhusun Cekelan kecamatan Kepil. Wonten ing mriku, Sayyid Ahmad Muhammad Alim yasa pesantren awujud pondhok lan mesjid ingkang sak priki taksih wujud lan makmur ( dipunbiyantu dening besanipun ingkang asma Raden Tumenggung Bawad ( pensiunan ) Wirandhaha, priyagung saking Ngayogjakarta ( pesarehanipun wonten ing Jambean, Blimbingan, Bruno ) / ramanipun Kyai Tolabudin Paguan Kaliboto. Sayyid Ahmad Muhammad Alim ugi ngangkat pasedherekan kaliyan Kyai Karang Malang ( pesarehanipun wonten ing Bruno ) / ramanipun Kyai Imam Puro ( Kyai Ngemplak ). Dipuncariosaken bilih Panjenenganipun Kyai Karang Malang lan Tumenggung Wirandhaha sami bektaaken taneman karemenanipun saben – saben rawuh wonten ing dalemipun. Kyai Karang Malang bekta wit Jambe ingkang dados karemenanipun Tumenggung Wirandhaha, wondene Tumenggung Wirandhaha mbekta wit Aren ingkang dados karemenanipun Kyai Karang Malang. Sadaya kanti dipunpanggul piyambak – piyambak.

Saking dhusun Cekelan, Sayyid Ahmad Muhammad Alim lajeng pindhah dhateng dhusun Gunung Tawang kecamatan Selomerto Wonosobo. Wonten ing mriku Panjenenganipun ugi yasa pesantren awujud pondhok lan mesjid. Saking Gunung  Tawang, Sayyid Ahmad Muhammad Alim lajeng pindhah mangaler ngantos dumugi caketipun dhukuh Kendal Mangkang, petilasanipun Kyai Ageng Gribig saking Klaten Surakarta nalika damel pertahanan wekdal merangi Walandhi dhateng Batavia ( Jakarta ). Saking Kendal Mangkang, Panjenenganipun lajeng pindhah mangetan dumugi dhusun Candiroto, ananging mboten kacarios anggenipun yasa pesantren wonten ing mriku. Saking dhusun Candiroto, Sayyid Ahmad Muhammad Alim lajeng pindhah dhateng dhusun Traji, dunungipun wonten ing sakleripun Parakan Temanggung, caketipun dhusun Mandensari. Wonten ing dhusun Traji, Panjenenganipun  ugi yasa pesantren ingkang dumugi sakpunika taksih. Saking dhusun Traji, Sayyid Ahmad Muhammad Alim lajeng lenggah sekedhap wonten ing dhusun Bulu Salaman. Wonten ing dhusun Bulu, Panjenenganipun ugi yasa pesantren ( dipunbiyantu dening Kyai Muhyi Bulu ). Pesantren wau dumugi sakpunika ugi taksih. Saking dhusun Bulu, Sayyid Ahmad Muhammad Alim lajeng pindhah dhateng dhusun Pacalan, sebab saking panyuwunanipun murid ( setunggaling mantri polisi ) amargi dhusun Pacalan wekdal semanten mboten aman. Saksampunipun dipunlenggahi dening Sayyid Ahmad Muhammad Alim, dhusun punika wau lajeng aman. Wonten ing Pacalan, Panjenenganipun ugi yasa pesantren ingkang dumugi sakpunika taksih. Saking dhusun Pacalan, Sayyid Ahmad Muhammad Alim lajeng pindhah dhateng dhusun Nglegok Baledono Purworejo. Panjenenganipun nglenggahi tilas pesantrenipun Kyai Asnawi / Raden Tumenggung Djojomenduro ( putranipun Kyai Syamsiah, Pengulu Landrat / Pengadilan Negeri jaman Kejawen ingkang sumare wonten ing Pangenjurutengah ). Kacarios, bilih santri pondhokipun Kyai Asnawi wekdal semanten lajeng kathah. Saking dhusun Baledono, Sayyid Ahmad Muhammad Alim lejeng pindhah dhateng dhusun Kalikepuh Beji. Saking kathahipun murid, masjid kabekta dhateng Kalikepuh kanti dipungotong kemawon. Pindhahipun Sayyid Ahmad Muhammad Alim dhateng Kalikepuh punika sekawit saking dhawuhipun Bupati Purworejo sepindah jaman Walandi ingkang asma RM. Tumenggung Tjokrodjojo ( saklajengipun asma Tjokronegoro ingkang pesarehanipun wonten ing Bulus ) ingkang wekdal samanten dipunsuwuni pitulungan dening Walandi amargi Walandi mboten saged tilem, sebab kuwatos menawi sakwekdal – wekdal dipunkraman dening Sayyid Ahmad Muhammad Alim sak muridipun. Saking Kalikepuh, Panjenenganipun lajeng kadhawuhan pindhah dhateng Bulus, ingkang wekdal samanten taksih awujud wana ingkang wonten bejinipun. Wana punika kasiar wingit amargi wonten ing beji punika wau wonten ingkang hambaureksa inggih punika siluman Bulus Pethak sakjodho. Sanesipun Siluman Bulus, wonten ing wana wau ugi kathah Simanipun ( macan ), Warak ( badak ), Andhapan ( celeng ), Brekasakan, Lelembut lan sanes- sanesipun ingkang sakwekdal – wekdal purun mrusa utawi mangsa dhateng manungsa. Mila panggenan wau wekdal semanten kawentar kanti sebutan “Jalma Mara Jalma Mati “. Pindhahipun Sayyid Ahmad Muhammad Alim dhateng Bulus wau mboten sanes gadhah pikajeng supadhos Panjenenganipun sedha kamangsa kewan galak lan brekasakan utawi dipunprusa dening lelembut. Saking Asihipun Gusti Kang Maha Kuwaos, wonten ing papan punika Sayyid Ahmad Muhammad Alim tetep dipunparingi wilujeng. Wana ingkang wingit wau lajeng dipunbabad dening Sayyid Ahmad Muhammad Alim lan pra muridipun ingkang saking Pekalongan, Semarang, Salatiga, Magelang lan sanes – sanesipun ingkang cacahipun ngantos ewon lan lajeng dipundamel dhusun ngantos dumugi Tanggungmangu. Sak sampunipun dados dhusun, Panjenenganipun lajeng yasa pesantren awujud mesjid saha pondhok ingkang dumugi sakpunika taksih lan makmur ( sakmangke nami pondok pesantren Al Iman ). Malah, berkahipun lajeng sumebar dados wontenipun pesantren ing pundi – pundi panggenan ing Purworejo. Wiwit wekdal semanten panggenan punika lajeng kaparingan asma dhusun Bulus. Kacarios, bilih Sayyid Ahmad Muhammad Alim pindhah panggenan ngantos kaping 28.

Sayyid Ahmad Muhammad Alim mucal ngaos Tarekat Syatariyah. Bakdha ngaos, pra murid lajeng dipundhawuhi nyambut damel. Wonten ingkang babad wana ngantos dados dhusun lajeng dipundhawuhi damel griya perlunipun kagem dipunpanggeni. Wonten ugi ingkang nyambut damel punapa biasanipun. Murid ingkang saking Pekalongan sami ngebang sinjang, pramila jaman semanten lajeng kawentar bilih dhusun Bulus punika panggenan Bang – bangan sinjang. Tiyang ingkang saking Banjarmasin sami nyambut damel mas – masan utawi dados tukang jam.

 Sayyid Ahmad Muhammad Alim asring tirakat siyam mutih. Asring ugi Panjenenganipun mboten dhahar. Menawi dhahar, Sayyid Ahmad Muhammad Alim namung sepindah ing sedintenipun. Agemanipun asring warni Pethak. Asring ugi ngagem warni Gadhung. Sabukipun debog pisang. Menawi masuhi, sabunipun ngagem pace mateng. Sayyid Ahmad Muhammad Alim mboten nate dhahar ses ( rokok ), ananging ngganten. Dedegipun ageng inggil nglangkungi limrahipun tiyang ingkang ageng lan inggil. Swantenipun ageng. Penggalihipun legawa. Sholatipun sunat sedinten sedalu ngantos 35 rekaat. Menawi sholat Awabin, Sayyid Ahmad Muhammad Alim ngantos 20 rekaat. Menawi badhe sare, saksampunipun wiridan, Panjenenganipun kintu sahadat kaping 3 dhateng Gusti Ingkang Maha Welas, supadhos mbenjang menawi sakaratulmaut, wonten ing alam kubur lan wonten ing ara – ara mahsyar saged wilujeng lan angsal rahmatipun Kang Maha Welas.

 Sayyid Ahmad Muhammad Alim ugi sanget anggenipun nyuwunaken dhateng Gusti Ingkang Maha Kuwaos supados pra turunipun lan pra muridipun saged dados tiyang ingkang soleh. Panjenenganipun ugi ngantos kersa nglampahi tapa pendhem, dipunpendhem kados dene mayit ngantos dumugi 40 dinten 40 ndalu. Panggenan mustaka manginggil dipunparingi bumbung bolong ingkang dipunlebeti bolah, perlunipun kagem margining nafas. Bolah wau wonten ing saben sonten dipundhedhet dening muridipun, lajeng Sayyid Ahmad Muhammad Alim mangsuli ndhedhet, tanda menawi Panjenenganipun taksih sugeng. Wonten ing saklebetipun tapa wau, Sayyid Ahmad Muhammad Alim pikantuk sasmita / ngalamat inggih punika kadhawuhan milih bendera tigang warni. Bendera punika wau awarni Pethak, Ijem, lan Abrit. Lajeng wonten swanten “ Milih Endi  Kyai ? Sayyid Ahmad Muhammad Alim lajeng milih ingkang warni Pethak. Saksampunipun Panjenenganipun wau milih, swanten wau lajeng maringi katerangan bilih “ Pethak wau pralambangipun amal soleh, menawi Ijem punika pralambangipun kasugihan, lan menawi Abrit punika pralambangipun Kapriyantunan “. Pramila, Panjenenganipun lajeng ngendika dhateng pra putra wayahipun,  bilih “ Turunanku ora usah tirakat, sak uga gelem mantep anggone nglakoni ngaji, bakal diparingi dadi wong mulya dunya tumekane akherat”.

Sayyid Ahmad Muhammad Alim punika Ahli Nahwu, Fiqih, Tafsir lan Tasawwuf. Menawi ndalu, Panjenenganipun asring dipunjagi dening sima ngantos gangsal . Asring ugi dipunjagi dening warak. Kedadosan punika handadosaken dalem saktanemanipun aman. Pundi panggenan ingkang dipunanggep sangar dening umum, menawi sampun dipunambah dening Sayyid Ahmad Muhammad Alim lajeng dados aman. Sinten kemawon, badeya jubliging piawon, menawi sampun  tepang kaliyan Panjenenganipun, sedaya lajeng dados tiyang soleh. Pramila, kathah ingkang sami dherek menawi Panjenenganipun pindhah panggenan, amargi mboten saged pisah.

 Sayyid Ahmad Muhammad Alim asring kemawon ngical. Asringipun wonten ing malem Jumuah, ananging wonten ing saklebetipun mesjid lajeng kapireng wonten swanten gemerung dikiran jamaah Syatariyah. Mila lajeng kathah brekasakan wana ingkang sami hanjagi. Satengah riwayat nyariosaken bilih swanten dikir wau taksih saged kapireng wonten ing pesarehanipun kanti syarat nglampahi solat sunat lajeng maos Yasin.
Sayyid Ahmad Muhammad Alim saklaminipun lenggah ngantos dumugi wonten ing dhusun Bulus, tansah nuntun lampahing agami Islam ngantos sumebar ing sakindhenging daerah Purworejo. Berkahipun lajeng wontenipun pesantren ing Luning, Pacalan, Tirip, Maron, lan sanes – sanesipun.

Ingkang nerusaken tarekat Syatariyahipun Sayyid Ahmad Muhammad Alim inggih punika Kyai Guru Luning Muhyidin Arrofi’i ( putranipun Kyai Nur Iman Mlangi kaliyan garwa Putri Cina ) lan Kyai Muhammad Alim Maron ( putranipun ). Kyai Muhammad Alim Maron ugi sampun nate dipuncepeng dening Walandi amargi nglampahi tarekat Syatariyah kados dene Sayyid Ahmad Muhammad Alim Bulus ( keng Rama ). 

Sayyid Ahmad Muhammad Alim kagungan badal kalih, inggih punika :
1. Ngumar
2. Haji Toha, ananging saksurutipun Sayyid Ahmad Muhammad Alim, Panjenenganipun lajeng kesah dhateng Singapura mucal babagan tarekat Satariyah wonten ing mrika.

Makaten ugi kahtah pra murid ingkang saksurutipun Sayyid Ahmad Muhammad Alim lajeng sami wangsul. Punika handadosaken dhusun Bulus wekdal semanten lajeng suwung ( fatroh ) kirang langkung tigang ( 3 ) taunan. Lajeng wonten pitulunganipun Gusti Ingkang Maha Mirah lumantar RM. Tjokrodjojo ( Tjokronegoro ), Bupati I Purworejo, ingkang dhawuh dhateng ulami ingkang lenggah wonten ing kampung Madijokusuman Purworejo ingkang asma R. Syarif Ali supados nglenggahi dhusun Bulus. Siti pesantren punika wau lajeng kawakafaken dhateng ingkang mengkoni supadhos nerusaken.

Bab Perjuangan
 Sayyid Ahmad Muhammad Alim punika jiwa perjuanganipun sanget ageng. Nalika jaman Sultan Agung Hanyakrakusuma merangi Walandi dhateng Batavia ( Jakarta ) ingkang wekdal semanten dipunpimpin dening Kyai Ageng Gribig Klaten Surakarta, Panjenenganipun ngaturaken pra nem – nemanipun lan kadadosaken prajuritipun Kyai Ageng Gribig.

 Jamanipun Pangeran Diponegoro ( RM. Antawirya ) inggih sami kaliyan jaman Sultan Agung Hanyakrakusuma. Kanti alus sanget Sayyid Ahmad Muhammad Alim hambiyantu Pangeran Diponegoro kanti ngaturaken pra nem – nemanipun dhateng pertahanan Magelang, Bagelen, ingkang kapimpin dening Raden Tumenggung Djojomustopo ( ingkang sumare wonten ing Sindurejan ) lan R. Syamsiyah ( Pengulu Landrat Pangenjurutengah ).

 Lereping Perang, Sayyid Ahmad Muhammad Alim ugi taksih nerusaken perjuanganipun. Saksampunipun negari dipunkuwaosi dening Walandhi, Panjenenganipun ngajengaken tuntutan hukuman, amargi Walandi anggenipun mejahi tiyang Jawi ingkang kacepeng wekdal semanten kanti dipunpentheng, lan dipuntemporongaken surya, lajeng dipuncor timah. Kados wonten ing Kedung Lo kilen Tanggung Purworejo. Tuntutanipun Sayyid Ahamd Muhammad Alim dipuntampi dening Walandi, lajeng ukuman dipun gantos kanti nindakaken ukuman picis wonten ing Bong Cina. Sayyid Ahmad Muhammad Alim lajeng ngajengaken tuntutan malih lan dipuntampi. Ukuman lajeng dipun gantos kanti nindakaken ukuman gantung. Sedaya tuntutanipun kabantu dening Kyai Guru Luning Muhyidin Arrofi’i. Menawi badhe tindak ngajengaken tuntutan, Sayyid Ahmad Muhammad Alim dhahar ganten rumiyin, lajeng ngagem busana Pethak utawi Gadhung. Tindakipun Sayyid Ahmad Muhammad Alim kanti dipuntandhu amargi saking sepuhipun. Walandi mastani bilih Sayyid Ahmad Muhammad Alim punika dados Lidipun Pengadilan.

Sayyid Ahmad Muhammad Alim surut wonten ing dinten Jumuah Pahing tanggal 1 Jumadilakhir taun B 1262 Hijriyah / 1842 M wonten ing yuswa kirang langkung 280 taun. Panjenenganipun dipunsarekaken wonten ing Kilen pangimaman mesjid Bulus.





             Kebumen, 03 Mei 2005


       Sayyid R. Muh. Ravie Ananda



























Silsilah pra Turunipun Sayyid Ahmad Muhammad Alim

TEDHAK KAPING SEPINDAH ( 1 )

Garwa Kalibening Wonosobo peputra :
1. Sayyidah Nyai Tolabudin Paguan Kaliboto Purworejo
2. Sayyidah Nyai Khasanadi Munggang Kreteg Wonosobo
3. Kyai Sayyid Ngabduljalal Bulu Salaman Magelang
4. Kyai Sayyid Mualim Pancalan Loano Purworejo

Garwa Banyuurip Purworejo peputra :
1. Kyai Sayyid Rofingi Sorogenen Purworejo
2. Sayyidah Nyai Zaenul Ngalim Greges Tembarak Temanggung

Garwa Kedung Dowo peputra :
1. Kyai Sayyid Muhammad Alim Maron Loano Purworejo
2. Kyai Sayyid Muhammad Zein ( Zain Al Alim ) Solotiyang Purworejo
      
Garwa Syarifah ( ibni Nyai Tumenggung Kasan Munadi ibni Tumenggung Dipodirjo I ibni Prabu Nunding Pamekas Pajajaran : kacarios mboten peputra )

Tumenggung Kasan Munadi. Tumenggung Kasan Munadi punika putranipun Habib Alwi bin Habib Abdullah bin Muchsin Ba’abud Khorbasani. Habib Alwi hanggarwa Tilas garwanipun ( Randanipun ) Sultan Hamengkubuwana I, lajeng peputra Raden Tumenggung Kasan Munadi ingkang saklajengipun hanggarwa salahsetunggal Putrinipun Sultan Hamengkubuwana II ingkang asma Bendara Raden Ayu Samparwadi lan salahsetunggal Putrinipun Raden Tumenggung Dipodirjo I. Raden Tumenggung Kasan Munadi kaliyan garwa putrinipun Tumenggung Dipodirjo I lajeng peputra Syarif ( Sayyid ) Ali lan Syarifah. Syarif Ali punika lajeng peputra Sayyid Muhammad. Sayyid Muhammad peputra Sayyid Dahlan Baabud ( sumare wonten sakwingkingipun Masjid Kauman Purworejo ) lan Sayyid Agil Baabud Purworejo ( sumare wonten sakwingkingipun Masjid Bulus Purworejo ). Wondene Syarifah lajeng dados garwa terakhiripun Mbah Sayyid Ahmad Muhammad Alim Bulus Purworejo ingkang kacarios mboten peputra.












TEDHAK KAPING KALIH ( 2 )

1. Sayyidah Nyai Tolabudin peputra :
1. 1. Kyai Sayyid Taslim Tirip Gebang Purworejo
1. 2. Kyai Sayyid Ahmad Husen Paguan Kaliboto Purworejo

2. Nyai Khasanadi Munggang ( Nyai Gentong ), dados garwanipun Kyai Ngali Markhamah Bendosari Sapuran Wonosobo ananging mboten kapanjang, lajeng kagarwa dening Kyai Chasanadi lan peputra :
2.1. Sayyidah Nyai Murdaqoh Krakal Kreteg Wonosobo
2.2. Sayyidah Nyai Pencil Kreteng Wonosobo

3. Kyai Sayyid Ngabduljalal Bulu Salaman
Garwa I peputra :
3.1. Kyai Sayyid Bughowi Ngentos Muntilan Magelang
3.2. Kyai Sayyid Imron Krumpakan Kajoran Magelang
3.3. Kyai Sayyid Ngabdul Jalil Bulu Salaman Magelang
3.4. Sayyidah Nyai Chayat Bulu Salaman Magelang
3.5. Sayyidah Nyai Ngabdullah Bulu Salaman Magelang
3.6. Kyai Sayyid Ngabdul Ngalim Bulu Salaman Magelang
3.7. Sayyidah Nyai Ngabdul Kodir Kedung Lumpang Salaman Magelang

Garwa Putri Patih Dipodirjo Purworejo peputra :
3.8. Sayyidah Nyai Ngabdullah Solotiyang Loano Purworejo
3.9. Sayyidah Nyai Syekh Yusuf Solotiyang Loano Purworejo
3.10. Kyai Sayyid Jakfar Naib Banyuasin Loano Purworejo

4. Kyai Sayyid Mualim Pacalan peputra :
4.1. Sayyid Imam Jaed Jagir Bruno Purworejo
4.2. Kyai Sayyid Ngabdul Murid Greges Tembarak Temanggung
4.3. Sayyidah Nyai Ngabdullah Faqih Gintung Gebang Purworejo
4.4. Sayyid R. Ng. Joyodirjo Salamkanci Bandongan Magelang
4.5. Sayyid Haji Dachlan Greges Tembarak Temanggung
4.6. Sayyidah Nyai Muhammad Rustam Pacalan Loano Purworejo
4.7. Sayyidah Nyai Ngabdulmanan Pacalan Loano Purworejo
4.8. Sayyidah Nyai Tumpak Terasan Bandongan Magelang

5. Kyai Sayyid Rofingi Sorogenen peputra :
5.1. Sayyidah Nyai Syuhadak Purwodadi Banjarnegara
5.2. Kyai Sayyid Ahmad Junus Bulus
5.3. Kyai Sayyid Batang Pekalongan
5.4. Ayah Kyai Sayyid Dachlan Sorogenen Purworejo

6. Sayyidah Nyai Zainul Ngalim Greges tembarak Temanggung peputra :
6.1. Sayyidah RA. Nyai Ngabdul Chalim Greges Tembarak Temanggung
6.2. Sayyidah RA. Nyai Ngabdullah Faqih Wonosobo
6.3. Sayidah RA. Nyai Ngabdul Murid Greges Tembarak Temanggung



7. Kyai Sayyid Muhammad Alim Maron peputra :
7.1. Kyai Sayyid Belah Kedungwot ( Ambal Pucang ) Kebumen
7.2. Kyai Sayyid Ngusman Gambasan Tembarak Temanggung
7.3. Kyai Sayyid Ngabdullah Cekelan Tembarak Temanggung
7.4. Sayyidah Nyai Juwar Maron
7.5. Kyai Sayyid Ahmad Maron ( seda timur )
7.6. Kyai Sayyid Ridwan Maron ( seda timur )
7.7. Kyai Sayyid Siroj Maron
7.8. Kyai Sayyid Nawawi Cacaban Kaliboto Purworejo
7.9. Sayyidah Nyai Sayuti Tegalarung Parakan Temanggung
7.10. Sayyidah Nyai Maimun ( Sabilan ) Bulus Gebang Purworejo
7.11. Sayyidah Nyai Chotimah ( Kyai Bakri ) Kalongan Loano Purworejo
7.12. Kyai Sayyid Ngadnan Parakan Temanggung

8. Kyai Sayyid Muhammad Zein ( Zain Al Alim ) Solotiyang peputra :
8.1. Sayyidah Nyai Haji Ngali Pabean Muntilan Magelang
8.2. Sayyidah Nyai Suchemi Pangenjurutengah Purworejo
8.3. Sayyidah Nyai Ngabdullah Faqih Sutoragan Kemiri Purworejo
8.4. Sayyidah Nyai Kalisuren Kreteg Wonosobo
8.5. Sayyidah Nyai Ngabdul Majid I Grabag Magelang
8.6. Sayyidah Nyai Ngabdul Majid II Grabag Magelang
8.7. Kyai Sayyid Daldiri Solotiyang ( seda timur )
8.8. Kyai Sayyid Fadil Solotiyang Loano Purworejo
8.9. Sayyidah Nyai Badar Solotiyang Loano Purworejo





















TEDHAK KAPING TIGA ( 3 )

1. Kyai Sayyid Taslim Tirip Gebang Purworejo (garwanipun Kyai Taslim saking Luning, Bulus,  Kaliwatu lan satunggal dereng dipunmangertosi asalipun )
Garwa Fatimah ( saking luning putrinipun Kyai Guru Luning Muhyidin Arrofi’i ) peputra :
1.1. Kyai Sayyid RM. Abdurrohman Tirip Purworejo
1.2. Sayyidah RA. Jamilah ( Nyai Ibrahim Pengulu Landrat Kebumen )
1.3. Sayyidah RA. Aisyah Kyai Abu Sujak Kemiri
                          1.4. Kyai Sayyid RM. Abdurrohim
                          1.5. Sayyidah RA. Suyud / Kyai Suyud Karangrejo Kutoarjo

             Garwa sanesipun Nyai Fatimah peputra :
 1.6. Sayyidah Nyai Murtaman ( Lubang Butuh )
 1.7. Kyai Sayyid Abdullah Sajad ( Pengulu Kebumen )
 1.8. Kyai Sayyid Ibrahim Pituruh
 1.9. Kyai Sayyid Dullah Ngusman Singapura / Malaysia
 1.10. Kyai Sayyid Dullah Feqih Gintungan
 1.11. Kyai Sayyid Abdul Qohir Tirip
 1.12. Kyai Sayyid Abdul Mukti Bruno
 1.13. Kyai Sayyid Zaet Tirip
 1.14. Sayyidah Nyai Maemunah ( Kyai Yusuf Sucen )
 1.15. Kyai Sayyid Arsan

2. Kyai Sayyid Ahmad Husen Paguan Kaliboto Purworejo peputra :

3. Sayyidah Nyai Murdaqoh Krakal Kreteg Wonosobo peputra :

4. Sayyidah Nyai Pencil Kreteng Wonosobo peputra :

5. Kyai Sayyid Bughowi Ngentos Muntilan Magelang peputra :

6. Kyai Sayyid Imron Krumpakan Kajoran Magelang peputra :

7. Kyai Sayyid Ngabdul Jalil Bulu Salaman Magelang peputra :

8. Sayyidah Nyai Chayat Bulu Salaman Magelang peputra :

9. Sayyidah Nyai Ngabdullah Bulu Salaman Magelang peputra :

10. Kyai Sayyid Ngabdul Ngalim Bulu Salaman Magelang peputra :

11. Sayyidah Nyai Ngabdul Kodir Kedung Lumpang Salaman Magelang peputra :

12. Sayyidah Nyai Ngabdullah Solotiyang Loano Purworejo peputra :

13. Sayyidah Nyai Syekh Yusuf Solotiyang Loano Purworejo peputra :

14. Kyai Sayyid Jakfar Naib Banyuasin Loano Purworejo peputra :

15. Sayyid Imam Jaed Jagir Bruno Purworejo peputra :

16. Kyai Sayyid Ngabdul Murid Greges Tembarak Temanggung peputra :

17. Sayyidah Nyai Ngabdullah Faqih Gintung Gebang Purworejo peputra :

18. Sayyid R. Ng. Joyodirjo Salamkanci Bandongan Magelang peputra :

19. Sayyid Haji Dachlan Greges Tembarak Temanggung peputra :

20. Sayyidah Nyai Muhammad Rustam Pancalan Loano Purworejo peputra :

21. Sayyidah Nyai Ngabdulmanan Pancalan Loano Purworejo peputra :

22. Sayyidah Nyai Tumpak Terasan Bandongan Magelang peputra :

23. Sayyidah Nyai Syuhadak Purwodadi Banjarnegara peputra :

24. Kyai Sayyid Ahmad Junus Bulus peputra :
24.1.  Sayyid H. Musa Margoyoso Magelang
24.2.  Sayyid H. Sulaiman Kalinongko ( Kulon Bulus )
24.3.  Sayyid H. Hasan Bulus Purworejo

25. Kyai Sayyid Batang Pekalongan peputra :

26. Ramanipun Kyai Sayyid Dachlan Sorogenen Purworejo peputra :

27. Sayyidah RA. Nyai Ngabdul Chalim Greges Tembarak Temanggung peputra :

28. Sayyidah RA. Nyai Ngabdullah Faqih Wonosobo peputra :

29. Sayidah RA. Nyai Ngabdul Murid Greges Tembarak Temanggung peputra :

30. Kyai Sayyid Belah Kedungwot ( Ambal Pucang ) Kebumen peputra :

31. Kyai Sayyid Ngusman Gambasan Tembarak Temanggung peputra :

32. Kyai Sayyid Ngabdullah Cekelan Tembarak Temanggung peputra :

33. Sayyidah Nyai Juwar Maron peputra :

34. Kyai Sayyid Ahmad Maron ( seda timur )

35. Kyai Sayyid Ridwan Maron ( seda timur )

36. Kyai Sayyid Siroj Maron peputra :

37. Kyai Sayyid Nawawi Cacaban Kaliboto Purworejo peputra :

38. Sayyidah Nyai Sayuti Tegalarung Parakan Temanggung peputra :

39. Sayyidah Nyai Maimun ( Sabilan ) Bulus Gebang Purworejo peputra :

40. Sayyidah Nyai Chotimah ( Kyai Bakri ) Kalongan Loano Purworejo peputra :

41. Kyai Sayyid Ngadnan Parakan Temanggung peputra :

42. Sayyidah Nyai Haji Ngali Pabean Muntilan Magelang peputra :

43. Sayyidah Nyai Suchemi Pangenjurutengah Purworejo peputra :
 43.1. Sayyidah Nyai Abdullah Faqih Jatiwangsan Kemiri Purworejo
 43.2. Kyai Sayyid R. Damanhuri Pangenjurutengah

44. Sayyidah Nyai Ngabdullah Faqih Sutoragan Kemiri Purworejo peputra :

45. Sayyidah Nyai Kalisuren Kreteg Wonosobo peputra :

46. Sayyidah Nyai Ngabdul Majid I Grabag Magelang peputra :

47. Sayyidah Nyai Ngabdul Majid II Grabag Magelang peputra :

48. Kyai Sayyid Daldiri Solotiyang ( seda timur )

49. Kyai Sayyid Fadil Solotiyang Loano Purworejo peputra :
49.1. Isti Sangadah / Nyai Ali Tsani Kauman.

50. Sayyidah Nyai Badar Solotiyang Loano Purworejo peputra :

























TEDHAK KAPING SEKAWAN ( 4 )

1. Kyai Sayyid RM. Abdurrohman Tirip Purworejo ( garwanipun kyai Sayyid R.Abudrrohman wonten kalih, ananging dereng dipunsumerepi asma – asmanipun. Garwa sepindah saking Sucen, garwa kaping kalih saking Bulus ) 
Garwa Sucen peputra :
1.1. Sayyidah RA. Roikhanah Plumbon
1.2. Sayyid R. Hadiyul Mustofa ( Haji Sucen )
1.3. Sayyid R. ? ( Ramanipun Fachrudin Kebumen )

Garwa Bulus peputra :
1.4. Sayyidah RA. Fatimah
1.5. Sayyidah Wardiyah ( mboten peputra )

2. Sayyidah RA. Jamilah ( Nyai Ibrahim Pengulu Landrat Kebumen ) peputra :

3. Sayyidah RA. Aisyah Kyai Abu Sujak Kemiri peputra :

4. Kyai Sayyid RM. Abdurrohim ( mbah Gebang ) ( garwanipun Kyai Sayyid R. Abdurrohim  wonten kalih inggih punika RA. Baingah binti RM. H. Muhammad Nur bin Kyai Guru Luning ( kaliyan garwa Alang – alang Amba ) lan RA. Nafingah  binti RM.  Chamid Tritis bin Kyai Guru Luning ( kaliyan garwa Putri Lurah Kroyo ), ananging dereng dipunsumerepi pundi ingkang garwa sepindah lan pundi garwa ingkang kaping kalih ) :
Garwa I peputra :
4.1. Sayyid R. Mahasin
4.2. Sayyidah RA. Hasbiyah
4.3. Sayyid R. Khojin
4.4. Sayyid R. Baedowi
4.5. Sayyidah RA. Maksumah
4.6. Sayyid R. Abdullah

Garwa II peputra :
4.7. Kyai Sayyid R. Muhyi / Mukti alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi
4.8. RA. Munawaroh ( Sumatera, ngantos dumugi sakpriki dereng wonten pawartosipun )
4.9. KH. Sayyid R Sya'roni alm. Temurjo Purwoharjo Banyuwangi
4.10. Kyai Sayyid R. Abdal alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi
4.11. Kyai Sayyid R. Azhad alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi
4.12. Kyai Sayyid R. Hamdullah Buluagung Siliragung Banyuwangi
4.13. Kyai Sayyid Din alm.
4.14. Kyai Sayyid R. Fatkhan

5. Sayyidah RA. Suyud / Kyai Suyud Karangrejo Kutoarjo peputra :

6. Sayyidah Nyai Murtaman ( Lubang Butuh ) peputra :
6.1. Kyai Sayyid Habib ( Butuh lubang lor )  

7. Kyai Sayyid Abdullah Sajad ( Pengulu Kebumen ) peputra :

8. Kyai Sayyid Ibrahim Pituruh peputra :

9. Kyai Sayyid Dullah Ngusman Singapura / Malaysia peputra :

10. Kyai Sayyid Dullah Feqih Gintungan peputra :
10.1. Kyai Sayyid Malkan

11. Kyai Sayyid Abdul Qohir Tirip ( garwanipun Mbah Sayyid Dulkohir wonten tiga )
 Garwa sepindah peputra :
  11.1. Sayyidah RA. Nyai Bandiyah
  11.2. Sayyidah RA. Nur Rohmah
  11.3. Sayyidah RA. Murlingah
  11.4. Sayyid R. Khoidar

Garwa Nyai Muntofingah binti Kyai Abdul Mungid Pacalan mboten peputra

 Garwa Nyai Sultoniyah binti Kyai Abdul Mungid Pacalan peputra ;
  11.5. Sayyidah RA. Umi Salamah
  11.6. Sayyid R. Bun Yamin

12. Kyai Sayyid Abdul Mukti Bruno peputra :

13. Kyai Sayyid Zaet Tirip ( garwanipun Kyai Sayyid Zaet wonten kalih )
Garwa Putri Termas peputra ;
13.1. Sayyid Nawawi
 Garwa Syarifah Zaenab peputra;
   13.2. Syarifah Barokah ( Baroroh )

14. Sayyidah Nyai Maemunah ( Kyai Yusuf Sucen ) peputra :
14.1. Sayyidah Sri / Kyai Mabrur Kutoarjo
14.2. Kyai Sayyid Muchtarom
14.3. Kyai Sayyid Machfudz

15. Kyai Sayyid Arsan peputra :

16. Sayyidah Nyai Abdullah Faqih Jatiwangsan Kemiri Purworejo peputra :

17. Kyai Sayyid R. Damanhuri Pangenjurutengah peputra :
 17.1. Sayyidah Nyai Badarudin Guron Sindurejan
 17.2. Sayyidah Nyai Muh. Mashuri Krobokan Semarang Barat

18. Sayyidah Isti Sangadah peputra :
18.1. Sayyid Mahmud Ali Kauman Kebumen
18.2. Sayyidah Isti Chamidah ( Nyai Syamsi Kauman Kebumen )









TEDHAK KAPING GANGSAL ( 5 )

1. Sayyidah RA. Roikhanah Plumbon peputra :
1.1. Sayyidah RA. Rughoyah / Makmun alm.
1.2. Sayyidah RA. Rofqoniyah / Kyai Matori alm.
1.3. Sayyid R. Sanusi alm.
1.4. Sayyid R. Sugeng alm.
1.5. Sayyid R. Dulkodir alm.
 
2. Sayyid R. Hadiyul Mustofa ( Haji Sucen ) peputra :
2.1. Mahzumi

3. Sayyid R. ? ( Ramanipun Fachrudin Kebumen ) peputra :
3.1. Fachrudin

4. Sayyidah RA. Fatimah
 Garwa I / Jazuli peputra :
4.1. Sayyid. R. Mad Amin
4.2. Sayyidah RA. Rohmah
4.3. Sayyidah RA. Romlah
4.4. Sayyidah RA. Ruqoyah

 Garwa II / Haji Siroj peputra :
4.5. Sayyidah RA. Zuhriyah
4.6. Sayyid R. Yazid
4.7. Sayyid R. Zahrowardi
4.8. Sayyidah RA. Nguluwiyah
4.9. Sayyid R. Zarnuji

5. Sayyidah Wardiyah ( mboten peputra )

6. Sayyid R. Mahasin peputra :

7. Sayyidah RA. Hasbiyah peputra :

8. Sayyid R. Khojin peputra :

9. Sayyid R. Baedowi peputra :

10. Sayyidah RA. Maksumah peputra :

11. Sayyid R. Abdullah peputra :

12. Kyai Sayyid R. Muhyi / Mukti alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi peputra :
12.1. Sayyid R. Muflih Perangan
  12.2. Sayyid R. Muh. Miftah Perangan
  12.3. Sayyid R. Mudatsir
  12.4. Sayyidah RA. Muhsonah
  12.5. Sayyidah RA. Mu'awah Seneporejo Siliragung
  12.6. Sayyid R. Muzamil
  12.7. Sayyidah RA. Mudzrikah
  12.8. Kyai sayyid R. Munhamir Tamanagung Cluring Banyuwangi
  12.9. Sayyidah Mustaqimah Sukorejo

13. RA. Munawaroh ( Sumatera ,ngantos dumugi sakpriki dereng wonten pawartosipun )

14. KH. Sayyid R Sya'roni alm. Temurjo Purwoharjo Banyuwangi peputra :
14.1. Sayyidah RA. Mutmainah
  14.2. Sayyid R. Sairu
  14.3. Sayyid R. Khamami
  14.4. Sayyid R. Jami'ah
  14.5. Sayyid R. Jauhar
  14.6. Sayyid R. Halimi
 
15. Kyai Sayyid R. Abdal alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi peputra :

16. Kyai Sayyid R. Azhad alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi peputra :
16.1. Kyai Sayyid R. Mustofa Azhad Perangan
  16.2. Kyai Sayyid R. Toha Azhad Merauke Irian Jaya
  16.3. Kyai Sayyid R. Musta'in Azhad alm.
  16.4. Kyai Sayyid R. M. Yasin Azhad Perangan
  16.5. Sayyidah RA. Siti Aminah Azhad Ngadirejo Purwoharjo
  16.6. Sayyidah RA. Siti Hanifah Azhad Perangan
  16.7. Kyai Sayyid R. Halimu Shodiq Azhad Perangan
  16.8. Kyai Sayyid R. Nur Hamid azhad Perangan
   
17. Kyai Sayyid R. Hamdullah Buluagung Siliragung Banyuwangi peputra :
17.1. Kyai Sayyid R. Ali Masngud Buluagung
17.2. Sayyidah RA. Sa'adah
17.3. Sayyid R. Zuhri
17.4. Sayyid R. Tasip

18. Kyai Sayyid Din alm. peputra :

19. Kyai Sayyid R. Fatkhan peputra :

20. Kyai Sayyid Habib ( Butuh lubang lor ) peputra :
20.1. Kyai Sayyid Ahmad Hisyam ( Kepil )

21. Kyai Sayyid Malkan peputra :
21.1. Kyai Sayyid Mustofa Gintungan

22. Sayyidah RA. Nyai Bandiyah peputra :
22.1. KH. Sayyid R. Hasyim
22.2. KH. Sayyid R. Nawawi Bantul ( putramantunipun Kyai Munawir Krapyak
Yogyakarta ( Kyai Munawir bin Kyai RM. Hasan Beshari bin Kyai Nur Iman Mlangi kaliyan garwa Gegulu ) )
22.3. Sayyidah RA. Musfiroh

23. Sayyidah RA. Nur Rohmah peputra :

24. Sayyidah RA. Murlingah peputra :
24.1. Sayyidah RA. Ambariyah
  24.2. Sayyid R. Slamet Bahrudin
  24.3. Sayyidah RA. Wiwik Atun Hasanah

25. Sayyid R. Khoidar peputra:

26. Sayyidah RA. Umi Salamah peputra :
26.1. Sayyidah RA. Taslimah
  26.2. Sayyidah RA. Robingah
  26.3. Kyai Sayyid R. Muhammad Taslim Tirip
  26.4. Sayyid R. Ahmadi
  26.5. Sayyid R. Sangid

27. Sayyid R. Bun Yamin peputra :
27.1. Sayyid R. Subro Malisi
  27.2. Sayyidah RA. Siti Fatimah
  27.3. Sayyid R. Gufron

28. Sayyid Nawawi peputra :

29. Syarifah Barokah ( Baroroh ) peputra :

30. Sayyidah Sri / Kyai Mabrur Kutoarjo peputra :
   30.1. Kyai Sayyid Zakariya Lampung

31. Kyai Sayyid Muchtarom ( kaliyan garwa Nyai Johar ) peputra ;
31.1. Sayyid  Malik
31.2. Sayyidah Rohmah ( seda timur )

32. Kyai Machfudz ( kaliyan garwa Nyai Rufingah lan Nyai Maryatun mboten peputra.

33. Sayyidah Nyai Badarudin Guron Sindurejan peputra :
33.1. Sayyidah RA. Ummulchasanah Mucharom Buluselatan 14 Semarang
33.2. Sayyid R. Sulachudin Pangenjurutengah
33.3. Sayyid R. Sakir Guron Purworejo
33.4. Sayyid R. Ashal 15 th seda
33.5. Sayyidah RA. Mustanganah 11 th seda
  33.6. Sayyidah RA. Nurul Chasanah 9 th seda
  33.7. Sayyid R. Harim 5 th seda
  33.8. Sayyidah RA. Mustawidah Guron Purworejo
 33.9. Sayyidah RA. Nurul Aini Guron Purworejo
 33.10. Sayyid R. Harun Al Rasyid Guron Purworejo

34. Sayyidah Nyai Muh. Mashuri Krobokan Semarang Barat peputra :
34.1. Sayyid R. Wahid Ngusman Pangenjurutengah
34.2. Sayyidah RA. Isnaini Nurjanah Krobokan Semarang Barat
34.3. Sayyidah RA. Idah Choiriyah Krobokan Semarang Barat
34.4. Sayyid R. Sarofin Arbaah Krobokan Semarang Barat
34.5. Sayyidah RA. Chomsatun Krobokan Semarang Barat

35. Sayyid Mahmud Ali Kauman Kebumen peputra :
35.1. Sayyid Arif Mustofa
35.2. Sayyid R. Rohmat
35.3. Sayyidah RA. Nunik

36. Sayyidah Isti Chamidah / Nyai Syamsi Kauman Kebumen peputra :
  36.1. Sayyid R. Muh. Sudjangi
36.2. Sayyid R. Sugeng Assyamsi
36.3. Sayyid R. Abdul Rozak
36.4. Sayyid R. Lukman Hakim
36.5. Sayyid R. Abdus Somad
36.6. Sayyid R. Muh. Mahfud
36.7. Sayyid R. Muh. Murtadlo





TEDHAK KAPING NEM ( 6 )

1. Sayyidah RA. Rughoyah / Makmun alm. peputra :
1.1. Sayyidah RA. Rokhimah
1.2. Sayyidah RA. Kharisoh
1.3. Sayyidah RA. Khotmah
1.4. Sayyidah RA. Halimah
  1.5. Sayyidah RA. Honimah
1.6. Sayyidah RA. Soimah

2. Sayyidah RA. Rofqoniyah / Kyai Matori alm. peputra :
2.1. Kyai Sayyid R. Salim Almator
2.2. Sayyidah RA. Songidah
2.3. Sayyidah RA. Sangadatun Diniyah alm
2.4. Kyai Sayyid R. Khumsosi Al Mator        2.5. Sayyid R. H Makmuri Al Mator
2.6. Sayyid R. Muslim Al Mator

3. Sayyid R. Sanusi alm.
  3.1. Sayyidah RA. Solekhah
3.2. Sayyidah RA. Salamah Prembun

4. Sayyid R. Sugeng alm.

5. Sayyid R. Dulkodir alm.

6. Mahzumi ( mboten peputra )

7. Fachrudin Kebumen ) peputra :

8. Sayyid. R. Mad Amin peputra :

9. Sayyidah RA. Rohmah peputra :

10. Sayyidah RA. Romlah peputra :

11. Sayyidah RA. Ruqoyah peputra :

12. Sayyidah RA. Zuhriyah peputra :

13. Sayyid R. Yazid peputra :

14. Sayyid R. Zahrowardi peputra :

15. Sayyidah RA. Nguluwiyah peputra :

16. Sayyid R. Zarnuji peputra :

17. Sayyid R. Muflih Perangan peputra :

18. Sayyid R. Muh. Miftah Perangan peputra :

19. Sayyid R. Mudatsir peputra :

20. Sayyidah RA. Muhsonah peputra :

21. Sayyidah RA. Mu'awah Seneporejo Siliragung peputra :

22. Sayyid R. Muzamil peputra :

23. Sayyidah RA. Mudzrikah peputra :

24. Kyai sayyid R. Munhamir Tamanagung Cluring Banyuwangi peputra :

25. Sayyidah Mustaqimah Sukorejo peputra :

26. Sayyidah RA. Mutmainah peputra :

27. Sayyid R. Sairu peputra :

28. Sayyid R. Khamami peputra :

29. Sayyid R. Jami'ah peputra :

30. Sayyid R. Jauhar peputra :

31. Sayyid R. Halimi peputra :

32. Kyai Sayyid R. Mustofa Azhad Perangan peputra :
32.1. Sayyid R. Ahmad Nasihudin Al Bahiri
32.2. Sayyidah RA. Latifah


33. Kyai Sayyid R. Toha Azhad Merauke Irian Jaya peputra :
33.1. Sayyid R. Habiburrohim
33.2. Sayyidah RA. Nihayatus Zuhriya

34. Kyai Sayyid R. Musta'in Azhad alm. peputra :

35. Kyai Sayyid R. M. Yasin Azhad Perangan peputra :
35.1. Sayyid R. Wafi
35.2. Sayyidah RA. A' lin Bil Hija

36. Sayyidah RA. Siti Aminah Azhad Ngadirejo Purwoharjo peputra :
36.1. Sayyid R. Ahmad Luqman Hakim
36.2. Sayyid R. Burhanudin Al Maki
36.3. Sayyid R. Abdurrahman
36.4. Sayyid R. Abdurrahim

37. Sayyidah RA. Siti Hanifah Azhad Perangan peputra :
37.1. Sayyid R. Utsman

38. Kyai Sayyid R. Halimu Shodiq Azhad Perangan peputra :
38.1. Sayyid R. Wildan Hadziqi

39. Kyai Sayyid R. Nur Hamid azhad Perangan peputra :
39.1. Sayyid R. Alan ' Adzim Al Aufa

40. Kyai Sayyid R. Ali Masngud Buluagung peputra :

41. Sayyidah RA. Sa'adah peputra :

42. Sayyid R. Zuhri peputra :

43. Sayyid R. Tasip peputra :

44. Kyai Sayyid Ahmad Hisyam ( Kepil ) peputra :
44.1. Sayyidah Nyai Siti Hafsoh

45. Kyai Sayyid mustofa Gintungan peputra :

46. KH. Sayyid R. Hasyim peputra :
46.1. Sayyidah RA. Nurhalimah Sukorejo
46.2. Sayyidah RA. Bastiyah
46.3. Kyai Sayyid R. Ahmad Saifudin Pekalongan
46.4. Sayyidah Siti Romlah Sulawesi
46.5. Kyai Sayyid R. Mubarok Sukorejo ( ponpes Roudlotul Hufadzil Quran )
46.6. Sayyid R. Imam Ghozali ( badal Kyai Sayyid R. Mubarok )






47. KH. Sayyid R. Nawawi Bantul ( putramantunipun Kyai Munawir Krapyak Yogyakarta ( Kyai Munawir bin Kyai RM. Hasan Beshari bin Kyai Nur Iman Mlangi kaliyan garwa Gegulu ) )
peputra :
47.1. Kyai Sayyid R. Ngasim
47.2. Sayyid R. Yasin
47.3. Sayyidah RA. Istiqomah
47.4. Sayyid R. Abdul Muqti
47.5. Sayyidah RA. Barokah
47.6. Sayyidah RA. Binti Nafiyah
47.7. Sayyidah RA. Umi Azizah
47.8. Sayyid R. Agus Salim
47.9. Sayyidah RA. Wardah
47.10. Sayyidah RA. Ulfah
47.11. Sayyidah RA. Zahiyah

48. Sayyidah RA. Musfiroh peputra :
48.1. Kyai Sayyid R. Husnin
48.2. Sayyidah RA. Masyitoh
48.3. Kyai Sayyid R. Muhsin

49. Sayyidah RA. Ambariyah peputra :

50. Sayyid R. Slamet Bahrudin peputra :

51. Sayyidah RA. Wiwik Atun Hasanah peputra :

52. Sayyidah RA. Taslimah peputra :

53. Sayyidah RA. Robingah peputra :

54. Kyai Sayyid R. Muhammad Taslim Tirip peputra :

55. Sayyid R. Ahmadi peputra :

56. Sayyid R. Sangid peputra :

57. Sayyid R. Subro Malisi peputra :

58. Sayyidah RA. Siti Fatimah peputra :

59. Sayyid R. Gufron peputra :

60. Kyai Sayyid Zakariya Lampung peputra :

61. Sayyid  Malik peputra :

62. Sayyidah Rohmah ( seda timur )

63. Zawawi bin Kyai Kodir Ali Imran ( putra angkat )

64. Sayyidah RA. Ummulchasanah Mucharom Buluselatan 14 Semarang peputra :
65. Sayyid R. Sulachudin Pangenjurutengah peputra :

66. Sayyid R. Sakir Guron Purworejo peputra :

67. Sayyid R. Ashal 15 th seda

68. Sayyidah RA. Mustanganah 11 th seda

69. Sayyidah RA. Nurul Chasanah 9 th seda

70. Sayyid R. Harim 5 th seda

71. Sayyidah RA. Mustawidah Guron Purworejo peputra :

72. Sayyidah RA. Nurul Aini Guron Purworejo peputra :

73. Sayyid R. Harun Al Rasyid Guron Purworejo peputra :

74. Sayyid R. Wahid Ngusman Pangenjurutengah peputra :

75. Sayyidah RA. Isnaini Nurjanah Krobokan Semarang Barat peputra :

76. Sayyidah RA. Idah Choiriyah Krobokan Semarang Barat peputra :

77. Sayyid R. Sarofin Arbaah Krobokan Semarang Barat peputra :

78. Sayyidah RA. Chomsatun Krobokan Semarang Barat peputra :

79. Sayyid Arif Mustofa peputra :

80. Sayyid R. Rohmat peputra :

81. Sayyidah RA. Nunik peputra :

82. Sayyid R. Muh. Sudjangi peputra :

83. Sayyid R. Sugeng Assyamsi peputra :

84. Sayyid R. Abdul Rozak peputra :

85. Sayyid R. Lukman Hakim peputra :

86. Sayyid R. Abdus Somad peputra :

87. Sayyid R. Muh. Mahfud peputra :

88. Sayyid R. Muh. Murtadlo peputra :




TEDHAK KAPING PITU ( 7 )

1. Sayyidah RA. Rokhimah peputra :
  1.1. Sayyidah RA. Siti Rohayati
  2.2. Sayyid R. Imam Panuju
  3.3. Sayyid R. Khoerudin
  4.4. Sayyid R. Ardhy Sumardi
  5.5. Sayyid R. Waluyo

2. Sayyidah RA. Kharisoh peputra :
  2.1. Sayyidah RA. Nurul
  2.2. Sayyidah RA. Retno
  2.3. Sayyid R. Beni

3. Sayyidah RA. Khotmah peputra :
  3.1. Sayyidah RA. Siti Fatonah
  3.2. Sayyidah RA. Ade Sri Sugiarti
  3.3. Sayyidah RA. Yuyun
  3.4. Sayyid R. Guruh

4. Sayyidah RA. Halimah peputra :
  4.1. Sayyid R. Aang Eka N
  4.2. Sayyidah RA. Idza F. Nufus
  4.3. Sayyidah RA. Nia Kurniawati
  4.4. Sayyid R. Firman Nurul F.

5. Sayyidah RA. Honimah peputra :
  5.1. Sayyid R. Muh. Ravie Ananda
  5.2. Sayyidah RA. Aila Rezannia

6. Sayyidah RA. Soimah peputra :
6.1. Sayyid R. Arif Hidayat
  6.2. Sayyidah RA. Titin Rahayuningsih
  6.3. Sayyid R. Teguh Priyatno
  6.4. Sayyidah RA. Nur Fatmawati
  6.5. Sayyidah RA. Diyah Kurniasari

7. KH. Sayyid R. Salim Almator peputra :
  7.1. Sayyid R. Tobagus Muslihudin Aziz
  7.2. Sayyidah RA. Hikmatul Hasanah
  7.3. Sayyidah RA. Maksumah Kurniawati
  7.4. Sayyid R. Musyafa Firman Iswahyudi
  7.5. Sayyidah RA. Retno Auliyatussangadah
  7.6. Sayyidah RA. Eta fatmawati Auliyatul Ummah
 
8. Sayyidah RA. Songidah peputra :

9. Sayyidah RA. Sangadatun Diniyah alm peputra :


10. Kyai Sayyid R. Khumsosi Al Mator peputra :
10.1. Sayyidah RA. Siti Khulasoh
10.2. Sayyidah RA. Siti Fatimah
10.3. Sayyid R. Lukman Zein
10.4. Sayyidah RA. Anis Siti Karimah
10.5. Sayyidah RA. Siti Khomsiati
10.6. Sayyid R. Anas Mufadhol alm.

11. Sayyid R. H Makmuri peputra :
  11.1. Sayyid R. Arif
  11.2. Sayyidah RA. Dr. Ita
  11.3. Sayyidah RA.

12. Sayyid R. Muslim peputra :

13. Sayyidah RA. Solekhah peputra:
  13.1. Sayyidah RA. Yati
  13.2. Sayyidah RA. Ros
  13.3. Sayyid R. Nano
  13.4.
  13.5. Sayyid R. Ali

14. Sayyidah RA. Salamah peputra:
  14.1. Sayyid R. Nusi
  14.2. Sayyidah RA. Puput

15. Sayyid R. Ahmad Nasihudin Al Bahiri peputra:

16. Sayyidah RA. Latifah peputra:

17. Sayyid R. Habiburrohim peputra:

18. Sayyidah RA. Nihayatus Zuhriya peputra:

19. Sayyid R. Wafi peputra:

20. Sayyidah RA. A' lin Bil Hija peputra:

21. Sayyid R. Ahmad Luqman Hakim peputra:

22. Sayyid R. Burhanudin Al Maki peputra:

23. Sayyid R. Abdurrahman peputra:

24. Sayyid R. Abdurrahim peputra:

25. Sayyid R. Utsman peputra:

26. Sayyid R. Wildan Hadziqi peputra:

27. Sayyid R. Alan ' Adzim Al Aufa peputra:
28. Sayyidah Nyai Siti Hafsoh ( garwanipun Kyai Abu Hasan Adikarso ) peputra :
28.1. Kyai Sayyid R. Habibullah
28.2. KH. Sayyid R. Muh. Nawawi Hisyam (Gus Wawi Adikarso Kebumen)
28.3. Kyai Sayyid R. Mahrus Muqorrobin
28.4. Sayyidah RA. Siti Halimah
28.5. Kyai Sayyid R. Muh Ali Dimyati
28.6. Kyai Sayyid R. Zainul Arifin
28.7. Sayyidah RA. Fatimah
28.8. Sayyidah RA. Siti Halimah
28.9. Sayyidah RA. Nafisah

29. Sayyidah RA. Nurhalimah Sukorejo peputra:

30. Sayyidah RA. Bastiyah peputra:

31. Kyai Sayyid R. Ahmad Saifudin Pekalongan peputra:

32. Sayyidah Siti Romlah Sulawesi peputra:

33. Kyai Sayyid R. Mubarok Sukorejo ( ponpes Roudlotul Hufadzil Quran ) peputra:

34. Sayyid R. Imam Ghozali ( badal Kyai Sayyid R. Mubarok ) peputra :

35. Kyai Sayyid R. Ngasim peputra:

36. Sayyid R. Yasin peputra:

37. Sayyidah RA. Istiqomah peputra:

38. Sayyid R. Abdul Muqti peputra:

39. Sayyidah RA. Barokah peputra:

40. Sayyidah RA. Binti Nafiyah peputra:

41. Sayyidah RA. Umi Azizah peputra:

42. Sayyid R. Agus Salim peputra :

43. Sayyidah RA. Wardah peputra:

44. Sayyidah RA. Ulfah peputra:

45. Sayyidah RA. Zahiyah peputra:

46 Kyai Sayyid R. Husnin peputra:

47 Sayyidah RA. Masyitoh peputra :

48. Kyai Sayyid R. Muhsin peputra:

TEDHAK KAPING WOLU ( 8 )

1. Sayyidah RA. Siti Rohayati peputra :
  1.1. Sayyid R.
  1.2. Sayyidah RA.

2. Sayyid R. Imam Panuju peputra :
  2.1. Sayyid R. Tanda
  2.2. Sayyid R. Tandi
  2.3. Sayyidah RA. Retina

3. Sayyid R. Khoerudin peputra :

4. Sayyid R. Ardhy Sumardi peputra :

5. Sayyid R. Waluyo peputra :

6. Sayyidah RA. Nurul peputra :
  6.1. Sayyidah RA. Candra

7. Sayyidah RA. Retno peputra :
  7.1. Sayyidah RA. Alfi
  7.2. Sayyid R. Khuluq

8. Sayyid R. Beni peputra :
  8.1. Sayyid R. Tamam
  8.2.

9. Sayyidah RA. Siti Fatonah peputra :

10. Sayyidah RA. Ade Sri Sugiarti peputra :

11. Sayyidah RA. Yuyun peputra :

12. Sayyid R. Guruh peputra :

13. Sayyid R. Aang Eka N peputra :

14. Sayyidah RA. Idza F. Nufus peputra :

15. Sayyidah RA. Nia Kurniawati peputra :

16. Sayyid R. Firman Nurul F. peputra :

17. Sayyid R. Muh. Ravie Ananda ( Tuti Khusniati Al Maki ) peputra :
  17.1. Sayyid R. Avataranindita Manungsa Jati

18. Sayyidah RA. Aila Rezannia ( Pudjo Rahardjo ) peputra :
  18.1. Sayyidah RA. Grahita Rahdipa Rahardjo

19. Sayyid R. Arif Hidayat peputra :
  19.1. Sayyidah RA. Nova

20. Sayyidah RA. Titin Rahayuningsih peputra :
  20.1. Sayyidah Ra. Nisa
  20.2. Sayyidah RA. Nada

21. Sayyid R. Teguh Priyatno peputra :

22. Sayyidah RA. Nur Fatmawati peputra :
  22.1. Sayyidah RA.
  22.2. Sayyidah RA.

23. Sayyidah RA. Diyah Kurniasari peputra :

24. Sayyid R. Tobagus Muslihudin Aziz peputra :

25. Sayyidah RA. Hikmatul Hasanah peputra :

26. Sayyidah RA. Maksumah Kurniawati peputra :

27. Sayyid R. Musyafa Firman Iswahyudi peputra :

28. Sayyidah RA. Retno Auliyatussangadah peputra :

29. Sayyidah RA. Eta fatmawati Auliyatul Ummah peputra :

30. Sayyidah RA. Siti Khulasoh peputra :
  30.1.

31. Sayyidah RA. Siti Fatimah peputra :
  31.1.

32. Sayyid R. Lukman Zein peputra :
  32.1.

33. Sayyidah RA. Anis Siti Karimah peputra :

34. Sayyidah RA. Siti Khomsiati peputra :
  34.1.

35. Sayyid R. Anas Mufadhol alm. ( seda timur )

36. Sayyid R. Arif peputra :

37. Sayyidah RA. Dr. Ita

38. Sayyidah RA.

39. Sayyidah RA. Yati peputra :

40. Sayyidah RA. Ros peputra :

41. Sayyid R. Nano peputra :

42.

43. Sayyid R. Ali peputra :

44. Sayyid R. Nusi peputra :

45. Sayyidah RA. Puput peputra :

46. Kyai Sayyid R. Habibullah peputra :

47. KH. Sayyid R. Muh. Nawawi Hisyam ( Gus Wawi Adikarso Kebumen )

48. Kyai Sayyid R. Mahrus Muqorrobin peputra :

49. Sayyidah RA. Siti Halimah peputra :

50. Kyai Sayyid R. Muh Ali Dimyati peputra :

51. Kyai Sayyid R. Zainul Arifin peputra :

52. Sayyidah RA. Fatimah peputra :

53. Sayyidah RA. Siti Halimah peputra :

54. Sayyidah RA. Nafisah peputra :






















Jangkepan Silsilah


Sayyid Ahmad Junus Bulus Purworejo ( bin Sayyid Rofingi Sorogenen bin Sayyid Ahmad Muhammad Alim ( Garwa Banyuurip )) peputra :
1. Sayyid H. Musa Margoyoso Magelang
2. Sayyid H. Sulaiman Kalinongko ( Kulon Bulus )
3. Sayyid H. Hasan Bulus Purworejo peputra :
3.1. Sayyidah Nyai H. Sodiq Singapura
3.2.  Sayyid H. Amin Bulus Purworejo peputra :
3.2.1. Sayyidah Siti Aisyah peputra :
 3.2.1.1. Sayyidah Siti Zuhriyah
 3.2.1.2. Sayyidah Siti Sofiah
 3.2.1.3. Sayyidah Siti Romlah
 3.2.1.4. Sayyidah Hamdiyah
 3.2.1.5. Sayyidah Moh. Hasan
3.2.2. Sayyidah Siti Maimunah peputra :
 3.2.2.1. Sayyidah Soimah
 3.2.2.2. Sayyidah Juwariyah
 3.2.2.3. Sayyidah Khomsatun
 3.2.2.4. Sayyid Muhtarom
3.2.3. Sayyid Djudi peputra :
 3.2.3.1. Sayyidah Siti Aminah / Rusdi Jambi peputra :
  3.2.3.1.1. Sayyid Purwadi Tamansari Jambi
  3.2.3.1.2. Sayyid Mukhson Muara Bungo Jambi
  3.2.3.1.3. Sayyidah Rusmini Tamansari Jambi
  3.2.3.1.4. Sayyid Suprapto Muara Sabak Jambi
  3.2.3.1.5. Sayyid Suroto Muara Sabak Jambi
  3.2.3.1.6. Sayyid Sungkono Tamansari Jambi
  3.2.3.1.7. Sayyidah Marwiyah Tamansari Jambi
 3.2.3.2. Sayyid M. Ahlan Lampung ( Siti Aminah ) peputra :
  3.2.3.2.1. Sayyid Helmi Jakarta
  3.2.3.2.2. Sayyidah Wahyuni Lampung
  3.2.3.2.3.            ?    Lampung
  3.2.3.2.4. Sayyidah Rosidah Lampung
  3.2.3.2.5. Sayyid A. Sungaidi Lampung
  3.2.3.2.6. Sayyid Nurkholis Lampung
3.2.3.3. Sayyid Abdurrohman  / Robingah ) Bulus Purworejo ( Pak Manten Bulus ) peputra :
  3.2.3.3.1. Sayyidah Mahmudah / Nursalim Butuh
  3.2.3.3.2. Sayyid M. Syafi’I / Rina Bulus
  3.2.3.3.3. Sayyid M. Fatoni / Nurhidayati Bulus
  3.2.3.3.4. Sayyidah Mustanginah / Dimroni Purwokerto
  3.2.3.3.5. Sayyidah Siti Ngaisah / Ngadino Kutoarjo
  3.2.3.3.6. Sayyidah Umi Khasanah Bulus
 3.2.3.4. Sayyid Abdurrohim / Sri  Jakarta peputra :
  3.2.3.4.1. Sayyid Eko Wahyu Hidayat Jakarta
  3.2.3.4.2. Sayyid Agus Dwi Pramono Jakarta
  3.2.3.4.3. Sayyid Sigit Prasetyo Jakarta

 3.2.3.5. Sayyidah Siti Fatimah Purworejo peputra :
  3.2.3.5.1. Sayyidah Nur Farikhah / Sangidu Yogyakarta
  3.2.3.5.2. Sayyidah Imtikhanurrohmah Purworejo
  3.2.3.5.3. Sayyidah Siti Muflikhatun Jakarta
  3.2.3.5.4. Sayyid Am. Sutarjono Bandung
  3.2.3.5.5. Sayyid Hidayah Jakarta
  3.2.3.5.6. Sayyidah Ningsih Jakarta
 3.2.3.6. Sayyidah Muntofi’ah Bayan Purworejo peputra :
  3.2.3.6.1. Sayyidah Faridatul  Baroroh Jakarta
  3.2.3.6.2. Sayyid Miftahur Rohman Yogyakarta
  3.2.3.6.3. Sayyid Husnul Anwar Yogyakarta
  3.2.3.6.4. Sayyid Fahrudin Hidayat Bayan Kutoarjo
3.3.  Sayyidah Genuk Solo peputra :
3.3.1. Sayyid Munandar peputra :
 3.3.1.1. Sayyid R. Supangat peputra :
  3.3.1.1.1. Sayyidah Yayuk
  3.3.1.1.2.
  3.3.1.1.3.
  3.3.1.1.4. Sayyid Nugroho

3.4.  Sayyid H. Siroj Singapura peputra :


Taksih kathah sanget pra turun Sayyid Ahmad Muhammad Alim ingkang dereng kawula serat amargi dereng saged pinanggih sedaya ( kathahipun sebab sak surutipun para putra saking Sayyid Ahmad Muhammad Alim ingkang sami sumebar ing pundi – pundi, lajeng turunipun sami kepaten obor mbok bilih amargi tebihipun satunggal – satunggalipun. Pramila namung kawula serat peputra : ( ingkang kajengipun supados para turun ingkang dereng kaserat saged njangkepi piyambak – piyambak )

Tanggal 16 Mei 2010 ( 1 Jumadilakhir Falakiyah Asapon ) Khoulipun Sayyid Ahmad Muhammad Alim ( Mbah Ahmad Alim Bulus Purworejo ) ingkang kaping 168 taun, ngleresi Peresmian Kantor Rabithah Fathimiyah Azmatkhan se Asia Tenggara wonten ing Cipinang Jakarta Timur.


Wassalam

Sayyid R. Muh. Ravie Ananda








Antara Mbah Kyai Ahmad Alim ( Ahmad Muhammad Alim Bulus Purworejo ), Mbah Muhammad Alim Loano, Mbah Zain al Alim ( Muhammad Zein ) Solotiyang dan Mbah Kyai Sholeh Darat

Dikutip oleh Ravie Ananda dari catatan Sarmidi Husna ( 18 Desember 2007 )
Kebumen Jumat Kliwon 26 Februari 2010

Muhammad Shalih bin Umar (1820 M), yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai Shaleh Darat, adalah seorang ulama besar pada zamannya. Ketinggian ilmunya tidak hanya bisa dilihat dari karya-karya monumental dan keberhasilan murid-muridnya menjadi ulama-ulama besar di Jawa, tetapi juga bisa dilihat dari pengakuan penguasa Mekkah saat ia bermukim di sana. Ia dinobatkan menjadi salah seorang pengajar di Tanah Suci tersebut.
Selain itu, ia adalah seorang ulama yang sangat memperhatikan orang-orang Islam awam dalam bidang agama. Ia menulis ilmu fiqih, aqidah, tasawuf dan akhak dengan bahasa yang mudah dipahami orang awam, yakni dengan bahasa Jawa.

Kelahirannya
Nama lengkapnya Muhammad Shalih bin Umara al-Shamarani, atau lebih dikenal dengan sebutan Kiai Shalih Darat. Ayahnya Kiai Umar merupakan salah seorang pejuang dan orang kepercayaan Pangeran Diponegoro di Jawa Bagian Utara, Semarang, di samping Kiai Syada’ dan Kiai Mutadha Semarang. Kiai Shaih Darat dilahirkan di desa Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sekitar 1820 M. Sedangkan informasi lainnya menyatakan bahwa, Kiai Shaih Darat dilahirkan di Bangsri, Jepara. Ia wafat di Semarang pada 28 Ramadhan 1321 H/18 Desember 1903 M.

Ia disebut Kiai Shaih Darat, karena ia tinggal di kawasan yang bernama Darat, yaitu suatu daerah di pantai utara Semarang, tempat mendarat orang-orang dari luar Jawa. Kini daerah Darat termasuk wilayah Semarang Barat. Adanya penambahan Darat sudah menjadi kebiasaan atau ciri dari oang-orang yang terkenal di masyarakat.

Kiai-Kiai Seperjuangan
Sebagai seorang putra Kiai yang dekat dengan Pangeran Diponegoro, Kiai Shalih Darat mendapat banyak kesempatan untuk berkenalan dengan teman-teman orang tuanya, yang juga merupakan kiai terpandang. Inilah kesempatan utama Kiai Shalih Darat di dalam membuat jaringan dengan ulama senior di masanya, sehingga ketokohannya diakui banyak orang. Di antara kiai senior yang memiliki hubungan dekat dengan Kiai Shalih Darat adalah:

1. Kiai Hasan Bashari ( putra Kyai Nur Iman Mlangi dari garwa Gegulu ;tambahan oleh ravie ananda ), ajudan Pangeran Diponegoro. Salah seorang cucunya ( nya yang dimaksud adalah Kiai Hasan Bashari ) KH. M. Moenawir, pendiri pesanten Krapyak Yogyakarta, adalah salah seorang murid Kiai Shalih Darat.

2. Kiai Syada’ dan Kiai Darda’, dua orang prajurit Pangeran Diponegoro. Setelah Pangeran Diponegoro tertawan, Kiai Darda’ yang beasal dari Kudus, kemudian menetap di Mangkang Wetan, Semarang bagian barat, dan memnbuka pesantren di sana. Kepadanya, Kiai Shalih Darat pernah menuntut ilmu. Kiai Bulkin, putera Kiai Syada’, dikawinkan dengan Natijah, puteri Kiai Darda’, dan memperoleh anak yang bernama Kiai Tahir. Kyai Tahir ini, cucu kiai Darda’ adalah murid Kiai Shalih Darat setelah pulang dari Makkah.

3. Kiai Murtadha, teman seperjuangan Kiai Umar ketika melawan Belanda. Shafiyyah, puteri Kiai Muartadha, dijodohkan dengan Kiai Shalih Darat setelah pulang dari Makkah.

4. Kiai Jamasari, prajurit Pangeran Diponegoro di daerah Solo dan pendiri Pondok pesantren Jamsaren, Surakarta. Ketika kiai Jamsari ditangkap Belanda, pesantrennya tidak ada yang melanjutkan, lalu ditutup. Pesanten tersebut dihidupkan kembali oleh Kiai Idris, salah seorang santri senior Kiai Shalih Darat. Dialah yang menggantikan Kiai Shalih Darat selama ia sakit hingga wafatnya.

Menikah
Selama hayatnya, Kiai Shalih Darat pernah menikah tiga kali. Perkawinannya yang pertama adalah ketika ia masih berada di Makkah. Tidak jelas siapa nama istrinya. Dari perkawinanya pertama ini, ia dikarunia seorang anak yang diberi nama Ibrahim. Tatkala Kiai Shalih Darat pulang ke Jawa, istrinya telah meninggal dunia dan Ibrahim tidak ikut serta ke Jawa. Ibrahim ini tidak mempunyai keturunan. Untuk mengenang anaknya (Ibrahim) yang pertama ini, Kiai Shalih Darat menggunakan nama Abu Ibrahim dalam halaman sampul kitab tafsirnya, Faidh al-Rahman.
Perkawinannya yang kedua dengan Sofiyah, puteri Kiai Murtadha teman karib bapaknya, Kiai Umar, setelah ia kembali di Semarang. Dari pekawinan ini, mereka dikarunia dua orang putera, Yahya dan Khalil. Dari kedua putranya ini, telah melahirkan beberapa anak dan keturunan yang bisa dijumpai hingga kini. Sedangkan perkawinannya yang ketiga dengan Aminah, puteri Bupati Bulus, Purworejo, keturunan Arab. Dari perkawinannya ini, mereka dikaruniai anak. Salah satu keturunannya adalah Siti Zahrah. Siti Zahrah dijodohkan dengan Kiai Dahlan santri Kiai Shalih Darat dari Tremas, Pacitan. Dari perkawinan ini melahirkan dua orang anak, masing masing Rahmad dan Aisyah. Kiai Dahlan meninggal di Makkah, kemudian Siti Zahrah dijodohkan dengan Kiai Amir, juga santri sendiri asal Pekalongan. Perkawinan kedua Siti Zahrah tidak melahirkan keturunan.

Kiai-kiainya di Tanah Jawa
Sebagaimana anak seorang Kiai, masa kecil dan remaja Kiai Shalih Darat dilewatinya dengan belajar al-Qur’an dan ilmu agama. Sebelum meninggalkan tanah airnya, ada beberapa kiai yang dikunjunginya guna menimba ilmu agama. Mereka adalah :

1. KH. M. Syahid.
Untuk pertama kalinya Kiai Shalih Darat menuntut ilmu dari Kiai M. Syahid, seorang ulama yang memiliki pesantren Waturoyo, Margoyoso Kajen, Pati. Pesantren tersebut hingga kini masih berdiri. Kiai M. Syahid adalah cucu Kiai Mutamakkin yang hidup semasa Paku Buwono II (1727-1749M). kepada Kiai M. Syahid ini, Kiai Shaleh Darat belajar beberapa kitab fiqih. Di antaranya adalah kiab Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Minhaj al-Qawwim, Syarh al-Khatib, Fath al-Wahab dan lain-lain.

2. Kiai Raden Haji Muhammad Shaleh bin Asnawi, Kudus.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Tafsir al-Jalalain karya Imam Suyuti.

3. Kiai Ishak Damaran, Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Nahwu dan Sharaf.

4. Kiai Abu Abdillah Muhammad bin Hadi Buquni, seorang Mufti di Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat ilmu falak.

5. Kiai Ahmad Bafaqih Ba’alawi, Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar kitab Jauhar al-Tauhid karya Syekh Ibrahim al-Laqqani dan Minhaj al-Abidin karya imam Ghazali.

6. Syekh Abdul Ghani Bima, Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar kitab Masail al-Sittin karya Abu Abbas Ahmad al-Mishri. Yaitu sebuah kiab yang beisi ajaran-ajaran dasar Islam yang sangat populer di Jawa pada abad ke-19 M.

7. Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim Bulus Gebang Purworejo
Kepadanya Kiai Shaleh Darat mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tasawuf dan tafsir al-Qur’an. Oleh Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim ini, Kiai Shaleh Darat diperbantukan kepada Zain al-Alim ( putra Mbah Ahmad Alim ), untuk mengasuh sebuah pesantren di Dukuh Salatiyang, Desa Maron, Kecamatan Loano, Purworejo.

Melihat keragaman kitab-kitab yang diperoleh oleh Kiai Shaleh Darat dari beberapa gurunya, menunjukkan betapa kemampuan dan keahlian Kiai Shaleh Darat di bidang ilmu agama.

Pergi ke Makkah
Setelah belajar di beberapa daerah di Jawa, Kiai Shaleh Darat bersama ayahnya berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Ayahnya wafat di Makkah, kemudian Kiai Shaleh Darat menetap di Makkah beberapa tahun untuk memperdalam ilmu agama. Pada waktu itu, abad ke-19, banyak santri Indonesia yang berdatangan ke Makkah guna menuntut ilmu agama di sana. Termasuk Kiai Shaleh Darat. Ia pergi ke Makkah dan bermukim di sana guna menuntut ilmu agama dalam waktu yang cukup lama. Sayangnya, tidak diketahui secara pasti tahun berapa ia pergi ke Makkah dan kapan ia kembali ke tanah air.

Kiai-Kiainya di Makkah
Yang jelas, selama di Makkah, Kiai Shaleh Darat telah berguru kepada tidak kurang dari sembilan ulama setempat. Mereka adalah:

1. Syekh Muhammad al-Maqri a-Mishri al-Makki.
Kepadanya ia belajar ilmu-ilmu aqidah, khusunya kitab Ummul Barahin karya Imam Sanusi (al-Sanusi).

2. Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah.
Ia adalah pengajar di Masjid al-Haram dan al-Nabawi. Kepadanya, Kiai Shaleh Darat belajar fiqih dengan menggunakan kitab Fath al-Wahhab dan Syarh al-Khatib , serta Nahwu dengan menggunakan kitab Alfiyah Ibnu Malik. Sebagaimana tradisi belajar tempo dulu, setelah menyelesaikan pelajaran-pelajaran tersebut, Kiai Shaleh Darat juga memperoleh “Ijazah”. Adanya istilah ijazah dikarenakan penerimaan ilmu tersebut memiliki sanad. Dalam hal ini, Kiai Shaleh Darat mendapatkan ilmu dari Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah yang memperoleh ilmu tersebut dari gurunya, Syekh Abdul Hamid a-Daghastani, dan al-Dagastani mendapatkan dari Ibrahim Bajuri yang mendapatkan ilmunya dari al-Syarqawi, pengarang kitab Syarh al-Hikam.

3. Al-‘Allamah Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, mufti madzab Syafi’iyah di Makkah.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Ihya’ Ulum al-Diin. Dari sini ia juga mendapatkan ijazah.

4. Al-‘Allamah Ahmad An-Nahawi al-Mishri al-Makki.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar al-Hikam karya Ibnu Atha’illah.

5. Sayyid Muhammad Shalih al-Zawawi al-Makki, salah seorang guru di Masjid Nabawi.
Darinya, Kiai Shaleh Darat belajar kitab Ihya’ Ulum al-Din juz 1 dan 2.

6. Kiai Zahid.
Darinya Kiai Shaleh Darat juga belajar kitab Fath al-Wahhab.

7. Syekh Umar a-Syami.
Darinya Kiai Shaleh Darat juga belajar kitab Fath al-Wahhab.

8. Syekh Yusuf al-Sanbalawi al-Mishri.
Darinya Kiai Shaleh Darat belajar Syarh al-Tahrir karya Zakaria al-Anshari.

9. Syekh Jamal, seoang Muftti Madzab Hanafiyyah di Makkah.
Darinya Kiai Shaleh Darat belajar Tafsir al-Qur’an.

Dari sinilah, Kiai Shaleh Darat mendapatkan ijazah ketika selesai mempelajari kitab-kitab tertentu, semisal Fath al-Wahhab, Syarh al-Khatib dan Ihya’ Ulum a-Din. Dari sini pulalah apa yang dipelajari Kiai Shaleh Darat dari kitab-kitab tersebut, berpengaruh besar terhadap isi kitab yang dikarangnya, yaitu Majmu’ al-Syariat al-Kafiyah li al-awwam.

Jaringan Keulamaan Kiai Shaleh Darat
Semasa belajar di Makkah, Kiai Shaleh Darat banyak bersentuhan dengan ulama-ulama Indonesia yang belajar di sana. Di antara para ulama yang sezaman dengannya adalah:

1. Kiai Nawawi Banten, disebut juga Syekh Nawawi al-Bantani.



2. Syekh Ahmad Khatib.
Ia seorang ulama asal Minangkabau. Lahir pada 6 Dzulhijjah 1276 (26 Mei 1860 M) dan wafat di Makkah pada 9 Jumadil Awwal (1916 M). Dalam sejarahnya, dua tokoh pendiri NU dan Muhamadiyyah KH. Hasyim As’ari dan KH. Ahmad Dahlan pernah menjadi murid Ahmad Khatib. Tercatat ada sekitar 49 karya yang pernah ditulisnya. Di antaranya kiitab Al-Nafahat dan Al-Jawahir fi A’mal a-Jaibiyyat.

3. Kiai Mahfuzh a-Tirmasi.
Ia adalah kakak dari Kiai Dimyati. Selama di Mekkah, ia juga berguru kepada Ahmad Zaini Dahlan. Ia wafat tahun 1338 H (1918 M).

4. Kiai Khalil Bangkalan, Madura.
Ia adalah salah seorang teman dekat Kiai Shaleh Darat. Namanya cukup terkenal di kalangan para Kiai pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. ia belajar di Mekkah sekitar pada tahun 1860 dan wafat pada tahun 1923.

Diajak pulang oleh Kiai Hadi Girikusumo
Ketinggian ilmu Kiai Shaleh Darat tidak hanya bisa dilihat dari karya-karya monumental dan keberhasilan para santrinya menjadi para kiai besar tetapi juga bisa dilihat dari pengakuan penguasa Mekkah saat Kiai Shaleh Darat bermukim di Mekkah. Ia dipilih menjadi salah seorang pengajar di Mekkah. Di sinilah Kiai Shaleh Darat bertemu dengan Mbah Hadi Girikusumo pendiri pondok pesantren Ki Ageng Girikusumo, Mranggen, Demak, Jawa Tengah. Ia merupakan figur yang sangat berperan dalam menghadirkan Kiai Shaleh Darat ke bumi Semarang.Melihat kehebatan Kiai Shaleh Darat Mbah Hadi Girikusumo merasa terpanggil untuk mengajaknya pulang bersama-sama ke tanah air untuk mengembangkan islam dan mengajar umat islam di Jawa yang masih awam. Namun karena Kiai Shaleh Darat sudah diikat oleh penguasa Mekkah untuk menjadi pengajar di Mekkah, sehingga ajakan pulang itu ditolak. Namun Mbah Hadi nekat, Kiai Shaleh Darat diculik, di ajak pulang. Agar tidak ketahuaan, saat mau naik kapal untuk pulang ke Jawa, Kiai Shaleh Darat dimasukkan ke dalam peti bersama barang bawaannya. Namun di tengah jalan ketahuan, jika Mbah Hadi menculik salah seorang ulama di Masjid Mekkah. Akhirnya pada saat kapal merapat di pelabuhan Singapura, Mbah Hadi ditangkap. Jika ingin bebas maka harus mengganti dengan sejumlah uang sebagai denda. Para murid Mbah Hadi yang berada di Singapura mengetahui bila gurunya sedang menghadapi masalah besar, akhirnya membantu menyelesaikan masalah tersebut dengan mengumpulkan dana iuran untuk menebus kesalahan mbah Hadi dan menebus uang ganti kepada penguasa Mekkah atas kepergian Kiai Shaleh Darat. Akhirnya, mbah Hadi dan Kiai Shaleh Darat berhasil melanjutkan perjalanan dan berhasil mendarat ke Jawa.

Mbah Hadi langsung kembali ke Girikusumo, sedangkan Kiai Shaleh Darat menetap di Semarang, mendirikan pesantren dan mencetak kader-kader pelanjut perjuangan Islam. Sayang sekali, sepeninggalan Kiai Shaleh Darat, pesantrennya tidak ada yang melanjutkan, kini di bekas pesantren yang dulu digunakan oleh Kiai Shaleh Darat untuk mengajar mengaji hanya berdiri sebuah masjid yang masih digunakan untuk menjalankan ibadah umat islam di kampung Darat Semarang.
Tentang Teori Kebebasan Manusia
Ia juga terkenal sebagai pemikir dalam bidang ilmu kalam. Menurut Nur Kholis Majid, seorang cendikiawan muslim Indonesia, Kiai Shaleh Darat sangat kuat mendukung paham teologi Asy’ariyyah dan Maturidiyah. Pembelaannya pada paham ini jelas kelihatan dalam bukunya Tarjamah Sabil al-‘Abid ‘ala Jauhar al-Tauhid. Di sini ia mengemukakan penafsirannya tentang sabda Nabi SAW bahwa akan terjadi perpecahan umat Islam menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan yang selamat, yaitu mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW, yakni melaksanakan akaid, pokok-pokok kepercayaan ahlus sunnah wajama’ah, Asy’aiyah dan Maturidiyah.
Selanjutnya dalam teori ilmu kalam yang berkaitan dengan perbuatan manusia, ia menjelaskan bahwa paham Jabariyah dan Qadariyah tentang perbuatan manusia adalah sesat. Yang benar adalah paham Ahlus Sunnah yang berada di tengah antara Jabariyah dan Qodariyah. Sebagai ulama yang berfikir maju, ia senantiasa menekankan perlunya ikhtiar dan kerja keras, setelah itu baru menyerahkan diri secara pasrah kepada Yang Maha Esa. Ia sangat mencela orang yang tidak mau bekerja keras karena memandang segala nasibnya telah ditaqdirkan Allah SWT. sebaliknya, ia juga tidak setuju dengan teori kebebasan manusia yang menempatkan manusia sebagai pencipta hakiki atas segala perbuatannya.

Sang Delegator Pesantren
Dalam sejarah pesantren, Kiai Shaleh Darat layak disebut sebagai “ elegator Pesantren”. Karena ia tidak pernah ikut membesarkan pesantren orang tuanya, sebagaimana mafhumnya anak-anak kiai. Ia justru lebih memilih membantu memajukan pesantren orang lain dan membuat pesantren sendiri, dengan tanpa maksud menobatkan dirinya sebagai pengasuh pesantren.

Karir kekiaian Kiai Shaleh Darat diawali sebagai guru yang diperbantukan di pesantren Salatiyang yang terletak di Desa Maron, Kecamatan Loano, Purworejo. Pesantren ini didirikan sekitar abad 18 oleh tiga orang sufi, masing-masing Kiai Ahmad ( Muhammad ) Alim, Kiai Muhammad Alim ( putra Mbah Kyai Ahmad Alim ), dan Kiai Zain al Alim ( Muhammad Zein, juga putra Mbah Kyai Ahmad Alim ). Dalam perkembangan selanjutnya pesanten ini dipercayakan kepada Kiai Zain al Alim. Sementara Mbah Kiai Ahmad ( Muhammad )Alim mengasuh sebuah pesantren, belakangan bernama al-Iman, di desa Bulus, Kecamatan Gebang. Adapun Kiai Muhamad Alim ( putra Mbah Kyai Ahmad Alim ) mengembangkan pesantrennya juga di Desa Maron, yang kini dikenal dengan pesantren al-Anwar. Jadi kedudukan Kiai Shaleh Darat adalah sebagai pengajar yang membantu Kiai Zain al Alim ( Muhammad Zein ).

Pesantren Salatiyang sendiri lebih menfokuskan pada bidang penghafalan al-Qur’an, di samping mengajar kitab kuning. Di sinilah besar kemungkinannya, Kiai Shaleh Darat diperbantukan untuk mengajar kitab kuning, seperti fiqh, tafsir dan nahwu Sharaf, kepada para santri yang sedang menghafal al-Qur’an.
Di antara santri jebolan Salatiyang adalah Kiai Baihaqi (Magelang). Kiai Ma’aif, Wonosobo, Kiai Muttaqin, Lampung Tengah, Kiai Hidayat (Ciamis) Kiai Haji Fathulah (Indramayu), dan lain sebagainya.
Tidak jelas, berapa lama Kiai Shaleh Darat mengajar di pesantren Salatiyang. Sejarah hanya mencatat, bahwa pada sekitar 1870-an Kiai Shaleh Darat mendirikan sebuah pesantren baru di Darat, Semarang. Hitungan angka ini didasarkan pada kitabnya , alHikam, Yang ditulis rampung dengan menggunakan Bahasa Arab Pegon pada tahun 1289 H/1871 M. pesantren Darat merupakan pesanten tertua kedua di Semarang setelah pesantren Dondong, Mangkang Wetan, Semarang yang didirikan oleh Kiai Syada’ dan Kiai Darda’, dua mantan prajurit Diponegoro. Di pesantren ini pula Kiai Shaleh Darat pernah menimba ilmu sebelum pergi ke Mekkah.

Selama mengasuh pesanten, Kiai Shaleh Darat dikenal kurang begitu memperhatikan kelembagaan pesantren. Karena factor inilah, pesantren Darat hilang tanpa bekas sepeninggalan Kiai Shaleh Darat, pada 1903 M. konon bersamaan meninggalnya Kiai Shaleh Darat, salah seorang santri seniornya, Kiai Idris dari Solo, telah memboyong sejumlah santri dari Pesantren Darat ini ke Solo. Kiai Idris inilah yang kemudian menghidupkan kembali pondok pesantren Jamsaren, yang pernah didirikan oleh Kiai Jamsari.

Ada versi lain yang menyebutkan bahwa pesantren yang didirikan oleh Kiai Shaleh Darat bukanlah pesantren dalam arti sebenarnya, di mana ada bangunan fisik yang mendukung. Pesantren Darat hanyalah majelis pengajian dengan kajian bermutu yang diikuti oleh parasantri kalong. Ini mungkin terjadi, mengingat kedekatan pesantren Darat dengan pesantren Mangkang, dimana Kiai Shaleh Darat pernah belajar di sana, bisa mempengaruhi tingkat ketawadlu’an kiai senior.

Santri-santrinya
Di antara tokoh yang pernah belajar kepada Kiai Shaleh Darat adalah: KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhamadiyah), Kiai R. Dahlan Tremas, seorang Ahli Falak (w. 1329 H), Kiai Amir Pekalongan (w. 1357 H) yang juga menantu Kiai Shaleh Darat, Kiai Idris (nama aslinya Slamet) Solo, Kiai Sya’ban bin Hasan Semarang, yang menulis artikel “Qabul al-‘Ataya ‘an Jawabi ma Shadara li Syaikh Abi Yahya, untuk mengoreksi salah satu dari salah satu bagian dari kitab Majmu’at al-Syari’ah karya Kiai Shaleh Darat; Kiai Abdul Hamid Kendal; Kiai tahir, penerus pondok pesantren Mangkang Wetan, Semarang; Kiai Sahli kauman Semarang; Kiai Dimyati Tremas; Kiai Khalil Rembang; Kiai Munawir Krapyak Yogyakarta; KH. Dahlan Watucongol Muntilan Magelang, Kiai Yasin Rembang; Kiai Ridwan Ibnu Mujahid Semarang; Kiai Abdus Shamad Surakarta; Kiai Yasir Areng Rembang, serta RA Kartini Jepara.

Persinggungannya dengan A Kartini
Adalah sosok yang tidak terikat dengan alian-aliran dalam Islam. Ia justru sangat menghargai aliran yang berkembang saat itu. Ia lebih menekankan pada nilai-nilai pokok (dasar) Islam, dan bukan furu’iyyah (cabang). Lebih dari itu, Kiai Shaleh Darat dikenal sebagai sosok penulis tafsir al-Quran dengan menggunakan bahasa Jawa. Ia sering memberikan pengajian, khusunya tafsir al-Quran di beberapa pendopo Kabupaten di sepanjang pesisir Jawa. Sampai suatu ketika RA Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan, khususnya untuk anggota keluarga. RA Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama para Raden Ayu yang lain di balik hijab (tabir/tirai). RA Kartini merasa tertarik tentang materi yang disampaikan pada saat itu, tafsir al-Fatihah, oleh Kiai Shaleh Darat. Setelah selesai pengajian, RA. Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemaninya untuk menemui Kiai Shaleh Darat. Ia mengemukakan: “saya merasa perlu menyampaikan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada rormo kiai dan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT atas keberanian romo kiai menerjemahkan surah al-Fatihah ke dalam bahasa Jawa sehingga mudah difahami dan dihayati oleh masyarakat awam, seperti saya. Kiai lain tidak berani berbuat seperti itu, sebab kata mereka al-Quran tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa lain.” Lebih lanjut Kartini menjelaskan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tidak mengerti sedikit pun akan maknanya, tetapi sejak hari ini menjadi terang benderang sampai kepada makna yang tersirat sekalipun, karena romo kiai menjelaskannya dalam bahasa Jawa yang saya fahami.”

Kiai Shaleh Darat selalu menekankan kepada muridnya agar giat menimba ilmu. Karena intisari ajaran al-Quran, menurutnya,, adalah dorongan kepada umat manusia agar mempergunakan akalnya untuk memenuhi tuntutan hidupnya di dunia dan di akhirat nanti.

Karya Tulisnya
Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, banyak ulama Indonesia yang menghasilkan karya tulis besar. Tidak sedikt dari karya-karya mereka yang ditulis dengan bahasa Arab. Setelah Kiai Ahmad Rifa’I dari Kalisalak (1786-1875 M) yang banyak menulis kitab yang berbahasa Jawa, tampaknya Kiai Shaleh Darat adalah satu-satunya kiai akhir abad ke-19 yang karya tulis keagamaanya berbahasa Jawa.
Adapun karya-karya Kiai Shaleh Darat yang sebagiannya merupakan terjemahan, berjumlah tidak kuang dari 12 buah, yaitu:

1. Majmu’at Syari’at al-Kafiyat li al-Awam.
Kitab ini khusus membahas persoalan fiqih yang ditulis dengan bahasa Jawa dengan huruf Arab Pegon.

2. Munjiyat Metik Sangking Ihya’ Ulum al-Din al-Ghazali.
Sebuah kitab yang merupakan petikan dari kitab Ihya’ Ulum al-Din juz 3 dan 4.

3. al-Hikam karya Ahmad bin Athailah.
Merupakan terjemahan dalam bahasa Jawa.

4. Lathaif al-Thaharah.
Berisi tentang hakikat dan rahasia shalat, puasa dan keutamaan bulan muharram, Rajab dan Sya’ban. Kitab ini ditulis dengan bahasa Jawa.

5. Manasik al-Haj.
Berisi tuntunan atau tatacara ibadah haji.


6. Pasolatan.
Berisi hal-hal yang berhubungan dengan shalat (tuntunan shalat) ima waktu, kitab ini ditulis dengan bahasa Jawa dengan Huruf Arab pegon.

7. Sabillu ‘Abid terjemahan Jauhar al-Tauhid, karya Ibrahim Laqqani.
Merupakan terjemahan berbahasa Jawa.

8. Minhaj al-Atkiya’.
Berisi tuntunan bagi orang orang yang bertaqwa atau cara-cara mendekatkan diri kepada Allah SWT.

9. Al-Mursyid al-Wajiz.
Berisi tentang ilmu-ilmu al-Quran dan ilmu Tajwid.

10. Hadits al-Mi’raj

11. Syarh Maulid al-Burdah

12. Faidh al-Rahman.
ditulis pada 5 Rajab 1309 H/1891M. kitab ini diterbitkan di Singapura.

13. Asnar al-Shalah

Kini, Kiai Shaleh Darat memiliki sekitar 70 trah (keturunan) yang tersebar di berbagai daerah. Biasanya, dalam waktu-waktu tertentu mereka berkumpul dan bersilaturahmi di Masjid Kiai Shaleh Darat di Jln. Kakap/Darat Tirto, Kelurahan Dadapsari yang terletak di Semarang Utara.

Dari pertemuan silaturahmi ini, telah 13 kitab karya Kiai Shaleh Darat berhasil dikumpulkan. Sebagian kitab tersebut dicetak di Bombay (India) dan Singapura. Hingga kini, keturunan Kiai Shaleh Darat terus melakukan pencarian dan penelusuran kitab-kitab tersebut ke masing-masing keluarga keturunan Kiai Shaleh Darat di Jepara, Kendal, bahkan sampai ke negara-negara Timur Tengah.

Diposkan oleh Sarmidi Husna di Selasa, Desember 18, 2007










Keterangan tambahan mengenai Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim Bulus Purworejo, Mbah Muhammad Alim dan Mbah Zain al Alim ( Muhammad Zein ) : oleh Ravie Ananda

Mbah Ahmad Alim
Mbah Ahmad Alim yang disebut dalam artikel di atas terkenal juga dengan sebutan mbah Ahmad Muhammad Alim Bulus Purworejo. Beliau sebagai Pendiri Desa Bulus. Untuk riwayat lebih lengkapnya silahkan membaca “ Sejarah Desa Bulus kecamatan Gebang Purworejo “ Atau “ Pustaka Bangun “ dalam blogger saya.

Mbah Muhammad Alim
Mbah Muhammad Alim yang disebutkan dalam artikel diatas adalah putra dari Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim Purworejo, hasil pernikahan dengan Istri yang berasal dari Kedung Dowo. Mbah Muhammad Alim ( putra Mbah Ahmad Alim ) tersebut kemudian bersama – sama dengan ayahnya mengembangkan syiar islam di Purworejo. Mbah Muhammad Alim mendirikan pondok di Loano Purworejo.

Mbah Zain al Alim
Mbah Zain Al Alim lebih dikenal dengan sebutan mbah Muhammad Zein Solotiyang Purworejo. Beliau juga putra dari Mbah Ahmad Alim dari Istri yang sama. Mbah Zain Al Alim adalah adik dari Mbah Muhammad Alim. Mereka berdua adalah saudara kandung seayah dan seibu.

Untuk mengetahui lebih lengkap sejarah Mbah Ahmad Alim Bulus dan para putra wayahnya, silahkan membaca srtikel dalam blogger saya yang berjudul “ Sejarah Desa Bulus kecamatan Gebang kabupaten Purworejo “atau “Pustaka Bangun “atau “Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim Bulus Pahlawan Tanpa Tanda jasa yang nyaris terlupakan”.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua untuk menambah wawasan tentang para tokoh pendahulu bangsa dan agama di tanah ini yang sudah seharusnya kita hormati dan hargai paling tidak dengan mengenangnya, bukan malah melupakan sejarahnya. Maalamyasykurinnas..lamyasykurillah.

Mari kita teladani mereka yang dengan gigihnya berjuang demi Tauhid dan juga rasa nasionalisme mereka yang sangat tinggi dalam mempertahankan Tanah Air nya dari para penjajah.

Semoga Allah Al Wahid Al Ahad, selalu merahmati kita semua fil jasad, wal Batin, ngindal Ruh..amin.

Wassalam
Ravie Ananda

SILSILAH RADEN TUMENGGUNG DIPODIRJO I

I

1. PRABU NUNDING PAMEKAS PAJAJARAN peputra :
1.1. Haryo Banagah Bethoro Loano
1.2. Adipati Anden 1 Loano
1.3. Pangeran Anden 2 Loano
1.4. Kyai Gusti Tanggung
1.5. Kyai Godeg
1.6. Kyai Lebe
1.7. Kanjeng Pangeran Haryo Singosari
1.8. Kyai Wayah
1.9. Kyai Kyai Tumenggung Gagak Pranolo
1.10. Kanjeng Pangeran Teposono R. Ngabei Jayengkewuh
1.11. Kyai Tumenggung Gagak Pranolo 2
1.12. Kyai tumenggung Gagak Pranolo 3
1.13. R. Demang Surodrono   
1.14. R. Tumenggung Dipodirjo Patih Purworejo ( makam wonten ing Tanggung )

2. NYAI NGABEI SINGOWIJOYO peputra :
2.1.  Raden Adipati Arya Cokronegoro I
2.2.  Nyai Ayu Secowikromo
2.3.  Raden Tumenggung ( Wedono Jenar )

3. KYAI PANGERAN HARYOKUSUMOYUDO ( SURAKARTA )


II

Raden Tumenggung Dipodirjo I bin  Prabu Nunding Pamekas Pajajaran peputra :
1. R. Ngabei Dipodirjo II Wedono Loano ( Mencil Loano )
2. R. Ngt. Mangun Joyo
3. R. Ngt. Rofingi ( Nyai Guru Luning )
4. R. Ngt. Tumenggung Chasan Munadi ( Tanggung Purworejo )
5. R. Ngt. Kertopati Patih Kutoarjo ( Mencil )
6. R. Ngabei Ronggo Kromotirto Patih Wonosobo ( Ketinggiring Wonosobo )
7. Kyai R. Haji Unus Muh. Irsyad












III

1. R. Dipodirjo 2 Loano
2. R. Ngabei Mangun Joyo
3. R. Ngt. Rofingi ( Nyai Guru Luning )
Kaliyan garwa I peputra :
3.1. R. Ngabei Yusack Al hafidz
3.2. R. Palil
Kaliyan Garwa Kyai Guru Luning peputra :
3.3. R. Ngt. Zein
3.4. R. Ngt. Istad
3.5. R. Mahmud
3.6. R. Saleh
4. R. Ngt. Tumenggung Kasan Munadi peputra :
 4.1. R. Sayid Ali peputra :
  4.1.1. Sayyid Muhammad Baabud peputra :
   4.1.1.1. Sayyid Dahlan Baabud
   4.1.1.2. Sayyid Agil Baabud
 4.2. R. Sripah / Mbah Ahmad Alim Bulus ( mboten peputra )
 4.3. R. Ngt. Yusuf
 4.4. R. Ngt. Buh
4.5. R. Japar
5. R. Ngt. Kertopati Patih Kutoarjo peputra :
 5.1. R. Kertowijoyo
 5.2. R. Ngt. Kertodirjo
 5.3. R. Ngt. Cokrowilogo
 5.4. R. Ngt. Sayid Ali
 5.5. R. Ngt. Cokromangunjoyo
 5.6. R. Ngt. Jayadi
 5.7. R. Cokrodiatmojo
 5.8. R. Ngt. Pringgodijoyo
 5.9. R. Reksosaputro
 5.10. Dr. R. Suwardjo
6. R. Ngabei Ronggo Kromotirto Wonosobo
  Kaliyan Garwa I peputra :
6.1.  R. Ngt. H. Chasanusi
6.2.  R. Ngabei Tirtodrono
6.3.  R. Ngt. Cokrodiatmojo
6.4.  R. Tirtoatmojo
Kaliyan Garwa II :
6.5.  R. Ngt. Nitipuro
Kaliyan Garwa III :
6.6.  R. Ayu Kromodipuro ( Nyai Cokronegoro )
Kaliyan Garwa IV :
6.7.  R. Tirtodiharjo
6.8.  R. Ayu Dhikusumo
6.9.  R. Tirtorejo
6.10. R. Akin



7. KH. R. Unus Irsyad Pengulu Loano ( makam Solotiyang  Loano )
 Kaliyan Garwa I peputra :
7.1. RH. Abdurrahmat
7.2. R. Sanusi
7.3. R. Ngt. Mustopo I
7.4. R. Cokrorejo
7.5. R. Dolah Sirat
7.6. R. Dolah Sindi
7.7. R. Ngt. Mustopo II
7.8. R. Mustakim
7.9. R. Ngt. Abdurrahman
7.10. RH. Kasbullah
7.11. R. Sudir
7.12. R. Bakri
Kaliyan Garwa II peputra :
7.13. R. Busro
Kaliyan Garwa III ( Kaliwatu ) peputra :
7.14. R. Ngt. Japar
7.15. R. Ngt. Dolah Mahlan
Kaliyan Garwa IV ( Bener ) peputra :
7.16. R. Ngt. Toyib
7.17. R. Dulah Surur
7.18. R. Ngt. Dul Majid
7.19. R. Ngt. Saleh
7.20. R. Ngt. Jalal
7.21. R. Ngt. Taksis
7.22. R. Ngt. Karman
7.23. R. Imri
Kaliyan Garwa V ( Mbah Ginah ) peputra :
7.24. R. Katim
7.25. R. Katam




















IV

1. RH. Abdurrahmat bin KH. R. Unus Muh Irsyad bin Dipodirjo I peputra :
1.1. R. Abdul Sajad
1.2. R. Ngt. Sayid Alwi
1.3. R. Ngt. Sirat I
1.4. R. Ngt. Moh Sirat
1.5. R. Ngt. Sirat II
1.6. R. Buchari
1.7. R. Ngt. Sirat III  peputra :
1.7.1. R. Ngt. Zaenudin
1.7.2. R. Ngt. Muhyidin
1.7.3. R. Ngt. Busro
1.7.4. R. Ngt. Fatkhurrohman
1.7.5. R. Ngt. Umi Salamah
1.7.6. R. Abdurrahman
1.8. R. Maksum
1.9. R. Surotomo
2. Sanusi peputra :
2.1.  R. Deres Tirto Sanjoyo
2.2.  R. Abdul Kromo Sanjoyo
2.3.  R. Daliyun Tirtowiharjo
2.4.  R. Ngt. Surotomo
3. R. Ngt. Mustopo I peputra :
3.1.  R. Saleh
4. R. Cokrorejo peputra :
4.1.  R. Jiteng
4.2.  R. Suwadi
4.3.  R. Ngt. H. Mukmin
4.4.  R. Padi
4.5.  R. Dayat
5.  Dulah Sirat peputra :
5.1. R. Ismail
5.2. R. Abu
5.3. R. Ngt. Tas
5.4. R. Chamim
5.5. R. Ngt. Kawaliyah
5.6. R. Nguhodo
5.7. R. Ngt. Muslihati
5.8. R. Ngt. Robek
 5.9. R. Ngt. Marwiyah
6. Dulah Sindi peputra :
6.1. R. Mahfud
 6.2. R. Ngt. Abdul Mukti I
 6.3. R. Ngt. Abdul Mukti II
 6.4. R. Dal
 6.5. R. Muh. Saleh
 6.6. R. Muh. Ghozali
 6.7. R. Ngt. Nah
 6.8. R. Ngt. H. Chalimi

7. R. Ngt. Mustopo II peputra :
 7.1. R. Mukmin
 7.2. R. Jamjani
 7.3. R. Ngt. Yosi
 7.4. R. Ngt. Hanah
 7.5. R. Dul Mukti
 7.6. R. Banu
 7.7. R. Ngt. Kragan
8. R. Mustakim peputra :
9. R. Abdurrahman peputra :
 9.1. R. Abdul Chamid
 9.2. R. Ngt. Sampah
10. R. H. Kasbullah peputra :
 10.1. R. Ngt. Rahmat Syarif Hasan
 10.2. R. Ngt. Suwadi
 10.3. R. Mardas
 10.4. R. Cokrosudirjo
 10.5. R. Sulaiman
 10.6. R. Ngabei Ciptosukarjo
 10.7. R. Saroni
11. R Sudir peputra :
 11.1. R. Rahmat Unus
12. R. Bakri  peputra :
 12.1. R. Sangadi
 12.2. R. Ngt. Siti Asyiah
13. R. Busro peputra :
14. R. Ngt. Japar peputra :
 14.1. R. Ngt. Djamdjani
 14.2. R. Bahrun
 14.3. R. Cholil
 14.4. R. Djadin
 14.5. R. Yasin
 14.6. R. Ngt. Lurah Mulisari
 14.7. R. Ngt. Munir
 14.8. R. Ngt. Ngali
15. R. Ngt. Dulah Mahlan peputra :
 15.1. R. Iman
 15.2. R. Ngt. Sopiah
 15.3. R. Ngt. Fatonah
 15.4. R. Ngt. Musoharotun
 15.5. RM. Muhammadi
 15.6. R. Ngt. Mahmudah
 15.7. R. Ngt. Istifaiyah
16. R. Ngt. Toyib peputra :
 16.1. RH. Munir
 16.2. R. Ngt. Namirah
 16.3. R. Ngt. H. Mukmin
 16.4. R. Ngt. Sapari
 16.5. R. Ngabei Rahmat
 16.6. R. Ngt. Piyah
 16.7. R. Alwi
 16.8. R. Ngt. Jenap

17. R. Dulah Surur peputra :
 17.1. R. Romli
 17.2. R. Abu Bakar
18. R. Ngt. Dul Majid peputra :
 18.1. R. Ghojali
 18.2. R. Ngt. Sayid Ibrahim
 18.3. R. Toha
 18.4. R. Ngt. Hindun
 18.5. R. Dakili
19. R. Ngt. Saleh peputra :
 19.1. R. Rusdi
 19.2. R. Ngt. Umar
 19.3. R. Muchasi
 19.4. R. Nawawi
 19.5. R. Ngt. Ti
 19.6. R. Ngt. Badiyah
 19.7. R. Baikuni
20. R. Ngt. Jalal peputra :
 20.1. R. Idrus
 20.2. R. Ngt. Ismail
 20.3. R. Chotib
 20.4. R. Ngt. Muhdi
 20.5. R. Ngt. Maryam
 20.6. R. Abu Talkhah
 20.7. R. Ngt. Lah
 20.8. R. Ngt. Vatlun
 20.9. R. Ngt. Muh. Romli
21. R. Ngt. Taksis peputra :
 21.1. R. Ngt. Markun I
 21.2. R. Ngt. Markun II
 21.3. R. Rais
22. R. Ngt. Karman peputra :
 22.1. R. Ngt. Dahuhadi Sutirto
 22.2. R. Ngt. Daman
 22.3. R. Nur
 22.4. R. Ngt. Umi
 22.5. R. Ngt. Kodar
23. R. Imri peputra :
 23.1. R. Ngt. Duroniah
 23.2. R. Baliyo
 23.3. R. Komar
 23.4. R. Ngt. Siri
 23.5. R. Abu Dardak
 23.6. R. Wahyuyun
 23.7. R. Yunus
24. R. Katim peputra :
25. R. Katam peputra :
25.1. R. Dulah
 25.2. R. Imam Muhammad
 25.3. R. Zaeni Dahlan
 25.4. R. Ngt. Asyiah


Keterangan :
R. punika gelar kagem putra Kakung
R. Ngt punika gelar kagem putri ingkang sampun krama dados penganten ( R. Ngt = Raden Nganten ) ananging sanes Nganten kaum dagang ingkang sumebar wonten ing pesisir Ler utawi Kidul.


Wassalam
Ingkang Nyerat Silsilah

Sayyid R. Muh. Ravie AnandaSang Sinar Penerang, Penghapus Kejahiliyahan oleh ravie ananda basaibanFriday, March 05, 2010 8:35 PMHARUSKAH BUDAYA JAHILLIYAH KEMBALI BERJAYA ? ( setapak menuju sufi )
OLEH : RAVIE ANANDA
Kebumen jumat kliwon 26 februari 2010

Allah AL Wahid, Al Ahad telah mengutus RosulNya, Assayyid al Kamil SAW sebagai pembawa wahyuNya, berupa risalah kebenaran yang mulia sebagai tanda berubahnya zaman jahilliyah yang gelap gulita beserta kelengkapannya,menjadi zaman penuh rahmat yang terang benderang. Budaya Jahilliyah yang terkenal dengan adat – isiadatnya dalam penyembahan berhala dan peremehan pada sosok wanita, telah dihapuskan Allah melalui Rosul SAW yang kemudian dikukuhkan dalam Al Quran sebagai wahyu yakni pada :

Assyuuraa 49. Kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dia ciptakan apa – apa yang dikehendakiNya. Dia berikan anak perempuan kepada siapa yang dikehendakiNya dan Dia berikan anak laki – laki kepada siapa yang dikehendakiNya.
          50. Atau Dia jadikan mereka itu laki – laki dan perempuan dan Dia jadikan pula mandul ( tiada beranak ) siapa yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.

Azzukhruf 15. Mereka adakan bagi Allah sebagian daripada hamba- hambaNya ( anak perempuan ). Sungguh manusia itu ingkar yang terang.
          16. Bahkan adakah Dia mengambil anak perempuan dari MahlukNya dan menentukan kamu dengan anak laki – laki ?
          17. Apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan  ( anak perempuan ) yang dijadikannya contoh bagi Rahman, niscaya menjadi hitam warna mukanya, sedangkan ia berduka cita.
Selain itu, tonggak sejarah perubahan zaman Jahilliyah menjadi jaman terang benderang yang penuh rahmat tersebut juga diwujudkan Allah pada suatu kejadian yang dialami Rosul SAW sendiri dimana Beliau hanya dianugrahi keturunan putri saja yakni Sayyidatina Fatimah, sedangkan putra – putra Beliau ( yang laki – laki ) semua diwafatkan Allah ketika masih muda. Tentunya Beliau mendapat cercaan yang luar biasa masyarakat yang membenci Beliau pada saat itu yakni kaum kafir Quraisy. Hal itu menjadi sebuah senjata bagi mereka untuk menjatuhkan mental Beliau, hingga turunlah Wahyu Allah yang menguatkan Beliau yakni surat :
Al Kautsar :
1. Sesungguhnya Kami telah memberi engkau ( ya Muhammad ) kebaikan yang banyak.
2. Sebab itu sembahyanglah engkau karena Tuhanmu dan sembelihlah ( kurbanmu ).
3. Sesungguhnya orang yang membencimu akan musnah ( punah ).
Mengacu pada kisah dan ayat – ayat Allah di atas, kiranya sangat jelas bahwa budaya jahilliyah adalah budaya yang tidak menghargai sosok wanita dalam sebuah nasab, sehingga Allah membukakan rahmat bagi Dunia Baru, dunia yang penuh Berkah melalui Rosul SAW dengan menganugrahinya keturunan Wanita yang tentunya untuk dijadikan contoh dan peringatan bagi keturunannya dan juga tentunya bagi seluruh umatnya agar mereka menghargai jalur wanita, sebagai bukti bahwa Rosul SAW adalah tonggak perubahan jaman Jahilliyah menjadi jaman penuh Rahmat bagi Seluruh Alam.
Adanya fenomena budaya kebanggaan pada jalur nasab Laki – laki dan melemahkan jalur wanita yang terjadi sekarang ini,  dapatkah mengarah pada kembalinya jaman Jahiliyyah ? dan dapatkah pula dijadikan tandah bahwa umat Islam kini telah banyak yang tidak memperhatikan lagi ayat – ayat Al Quran dan cenderung memuja kitab – kitab karya manusia? Bukankah kita diwajibkan untuk Amana Billahi, Wamalaikatihi, Wakutubihi warusulihi…bukannya wakutubi imammihi ? Silahkan kita semua menjawabnya dengan jujur pada diri kita masing – masing sebagai pelaku zaman dan penerus perjuangan Rasul SAW.
Semoga Allah selalu memberi hidayah bagi kita dan mengampuni semua kesalahan – kesalahan kita.
Subhanalloh
Wassalam.
Ravie Ananda Basaibanantara mbah kyai sholeh darat dan mbah kyai ahmad muhammad alim basaiban bulusFriday, March 05, 2010 8:40 PMAntara Mbah Kyai Muhammad ( Ahmad ) Alim Basaiban Bulus, Mbah Muhammad Alim Basaiban Loano, Mbah Zain al Alim ( Muhammad Zein ) Basaiban Solotiyang dan Mbah Kyai Sholeh Darat

Dikutip oleh Ravie Ananda dari catatan Sarmidi Husna ( 18 Desember 2007 )
Kebumen Jumat Kliwon 26 Februari 2010

Muhammad Shalih bin Umar (1820 M), yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai Shaleh Darat, adalah seorang ulama besar pada zamannya. Ketinggian ilmunya tidak hanya bisa dilihat dari karya-karya monumental dan keberhasilan murid-muridnya menjadi ulama-ulama besar di Jawa, tetapi juga bisa dilihat dari pengakuan penguasa Mekkah saat ia bermukim di sana. Ia dinobatkan menjadi salah seorang pengajar di Tanah Suci tersebut.
Selain itu, ia adalah seorang ulama yang sangat memperhatikan orang-orang Islam awam dalam bidang agama. Ia menulis ilmu fiqih, aqidah, tasawuf dan akhak dengan bahasa yang mudah dipahami orang awam, yakni dengan bahasa Jawa.

Kelahirannya
Nama lengkapnya Muhammad Shalih bin Umara al-Shamarani, atau lebih dikenal dengan sebutan Kiai Shalih Darat. Ayahnya Kiai Umar merupakan salah seorang pejuang dan orang kepercayaan Pangeran Diponegoro di Jawa Bagian Utara, Semarang, di samping Kiai Syada’ dan Kiai Mutadha Semarang. Kiai Shaih Darat dilahirkan di desa Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sekitar 1820 M. Sedangkan informasi lainnya menyatakan bahwa, Kiai Shaih Darat dilahirkan di Bangsri, Jepara. Ia wafat di Semarang pada 28 Ramadhan 1321 H/18 Desember 1903 M.

Ia disebut Kiai Shaih Darat, karena ia tinggal di kawasan yang bernama Darat, yaitu suatu daerah di pantai utara Semarang, tempat mendarat orang-orang dari luar Jawa. Kini daerah Darat termasuk wilayah Semarang Barat. Adanya penambahan Darat sudah menjadi kebiasaan atau ciri dari oang-orang yang terkenal di masyarakat.

Kiai-Kiai Seperjuangan
Sebagai seorang putra Kiai yang dekat dengan Pangeran Diponegoro, Kiai Shalih Darat mendapat banyak kesempatan untuk berkenalan dengan teman-teman orang tuanya, yang juga merupakan kiai terpandang. Inilah kesempatan utama Kiai Shalih Darat di dalam membuat jaringan dengan ulama senior di masanya, sehingga ketokohannya diakui banyak orang. Di antara kiai senior yang memiliki hubungan dekat dengan Kiai Shalih Darat adalah:

1. Kiai Hasan Bashari ( putra Kyai Nur Iman Mlangi dari garwa Gegulu ;tambahan oleh ravie ananda ), ajudan Pangeran Diponegoro. Salah seorang cucunya ( nya yang dimaksud adalah Kiai Hasan Bashari )KH. M. Moenawir, pendiri pesanten Krapyak Yogyakarta, adalah salah seorang murid Kiai Shalih Darat.

2. Kiai Syada’ dan Kiai Darda’, dua orang prajurit Pangeran Diponegoro. Setelah Pangeran Diponegoro tertawan, Kiai Darda’ yang beasal dari Kudus, kemudian menetap di Mangkang Wetan, Semarang bagian barat, dan memnbuka pesantren di sana. Kepadanya, Kiai Shalih Darat pernah menuntut ilmu. Kiai Bulkin, putera Kiai Syada’, dikawinkan dengan Natijah, puteri Kiai Darda’, dan memperoleh anak yang bernama Kiai Tahir. Kyai Tahir ini, cucu kiai Darda’ adalah murid Kiai Shalih Darat setelah pulang dari Makkah.

3. Kiai Murtadha, teman seperjuangan Kiai Umar ketika melawan Belanda. Shafiyyah, puteri Kiai Muartadha, dijodohkan dengan Kiai Shalih Darat setelah pulang dari Makkah.

4. Kiai Jamasari, prajurit Pangeran Diponegoro di daerah Solo dan pendiri Pondok pesantren Jamsaren, Surakarta. Ketika kiai Jamsari ditangkap Belanda, pesantrennya tidak ada yang melanjutkan, lalu ditutup. Pesanten tersebut dihidupkan kembali oleh Kiai Idris, salah seorang santri senior Kiai Shalih Darat. Dialah yang menggantikan Kiai Shalih Darat selama ia sakit hingga wafatnya.

Menikah
Selama hayatnya, Kiai Shalih Darat pernah menikah tiga kali. Perkawinannya yang pertama adalah ketika ia masih berada di Makkah. Tidak jelas siapa nama istrinya. Dari perkawinanya pertama ini, ia dikarunia seorang anak yang diberi nama Ibrahim. Tatkala Kiai Shalih Darat pulang ke Jawa, istrinya telah meninggal dunia dan Ibrahim tidak ikut serta ke Jawa. Ibrahim ini tidak mempunyai keturunan. Untuk mengenang anaknya (Ibrahim) yang pertama ini, Kiai Shalih Darat menggunakan nama Abu Ibrahim dalam halaman sampul kitab tafsirnya, Faidh al-Rahman.
Perkawinannya yang kedua dengan Sofiyah, puteri Kiai Murtadha teman karib bapaknya, Kiai Umar, setelah ia kembali di Semarang. Dari pekawinan ini, mereka dikarunia dua orang putera, Yahya dan Khalil. Dari kedua putranya ini, telah melahirkan beberapa anak dan keturunan yang bisa dijumpai hingga kini. Sedangkan perkawinannya yang ketiga dengan Aminah, puteri Bupati Bulus, Purworejo, keturunan Arab. Dari perkawinannya ini, mereka dikaruniai anak. Salah satu keturunannya adalah Siti Zahrah. Siti Zahrah dijodohkan dengan Kiai Dahlan santri Kiai Shalih Darat dari Tremas, Pacitan. Dari perkawinan ini melahirkan dua orang anak, masing masing Rahmad dan Aisyah. Kiai Dahlan meninggal di Makkah, kemudian Siti Zahrah dijodohkan dengan Kiai Amir, juga santri sendiri asal Pekalongan. Perkawinan kedua Siti Zahrah tidak melahirkan keturunan.

Kiai-kiainya di Tanah Jawa
Sebagaimana anak seorang Kiai, masa kecil dan remaja Kiai Shalih Darat dilewatinya dengan belajar al-Qur’an dan ilmu agama. Sebelum meninggalkan tanah airnya, ada beberapa kiai yang dikunjunginya guna menimba ilmu agama. Mereka adalah:

1. KH. M. Syahid.
Untuk pertama kalinya Kiai Shalih Darat menuntut ilmu dari Kiai M. Syahid, seorang ulama yang memiliki pesantren Waturoyo, Margoyoso Kajen, Pati. Pesantren tersebut hingga kini masih berdiri. Kiai M. Syahid adalah cucu Kiai Mutamakkin yang hidup semasa Paku Buwono II (1727-1749M). kepada Kiai M. Syahid ini, Kiai Shaleh Darat belajar beberapa kitab fiqih. Di antaranya adalah kiab Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Minhaj al-Qawwim, Syarh al-Khatib, Fath al-Wahab dan lain-lain.

2. Kiai Raden Haji Muhammad Shaleh bin Asnawi, Kudus.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Tafsir al-Jalalain karya Imam Suyuti.

3. Kiai Ishak Damaran, Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Nahwu dan Sharaf.
4. Kiai Abu Abdillah Muhammad bin Hadi Buquni, seorang Mufti di Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat ilmu falak.

5. Kiai Ahmad Bafaqih Ba’alawi, Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar kitab Jauhar al-Tauhid karya Syekh Ibrahim al-Laqqani dan Minhaj al-Abidin karya imam Ghazali.

6. Syekh Abdul Ghani Bima, Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar kitab Masail al-Sittin karya Abu Abbas Ahmad al-Mishri. Yaitu sebuah kiab yang beisi ajaran-ajaran dasar Islam yang sangat populer di Jawa pada abad ke-19 M.

7. Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim Basayban, Bulus Gebang Purworejo
Kepadanya Kiai Shaleh Darat mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tasawuf dan tafsir al-Qur’an. Oleh Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim ini, Kiai Shaleh Darat diperbantukan kepada Zain al-Alim, untuk mengasuh sebuah pesantren di Dukuh Salatiyang, Desa Maron, Kecamatan Loana, Purworejo.

Melihat keragaman kitab-kitab yang diperoleh oleh Kiai Shaleh Darat dari beberapa gurunya, menunjukkan betapa kemampuan dan keahlian Kiai Shaleh Darat di bidang ilmu agama.

Pergi ke Makkah
Setelah belajar di beberapa daerah di Jawa, Kiai Shaleh Darat bersama ayahnya berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Ayahnya wafat di Makkah, kemudian Kiai Shaleh Darat menetap di Makkah beberapa tahun untuk memperdalam ilmu agama. Pada waktu itu, abad ke-19, banyak santri Indonesia yang berdatangan ke Makkah guna menuntut ilmu agama di sana. Termasuk Kiai Shaleh Darat. Ia pergi ke Makkah dan bermukim di sana guna menuntut ilmu agama dalam waktu yang cukup lama. Sayangnya, tidak diketahui secara pasti tahun berapa ia pergi ke Makkah dan kapan ia kembali ke tanah air.

Kiai-Kiainya di Makkah
Yang jelas, selama di Makkah, Kiai Shaleh Darat telah berguru kepada tidak kurang dari sembilan ulama setempat. Mereka adalah:

1. Syekh Muhammad al-Maqri a-Mishri al-Makki.
Kepadanya ia belajar ilmu-ilmu aqidah, khusunya kitab Ummul Barahin karya Imam Sanusi (al-Sanusi).

2. Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah.
Ia adalah pengajar di Masjid al-Haram dan al-Nabawi. Kepadanya, Kiai Shaleh Darat belajar fiqih dengan menggunakan kitab Fath al-Wahhab dan Syarh al-Khatib , serta Nahwu dengan menggunakan kitab Alfiyah Ibnu Malik. Sebagaimana tradisi belajar tempo dulu, setelah menyelesaikan pelajaran-pelajaran tersebut, Kiai Shaleh Darat juga memperoleh “Ijazah”. Adanya istilah ijazah dikarenakan penerimaan ilmu tersebut memiliki sanad. Dalam hal ini, Kiai Shaleh Darat mendapatkan ilmu dari Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah yang memperoleh ilmu tersebut dari gurunya, Syekh Abdul Hamid a-Daghastani, dan al-Dagastani mendapatkan dari Ibrahim Bajuri yang mendapatkan ilmunya dari al-Syarqawi, pengarang kitab Syarh al-Hikam.

3. Al-‘Allamah Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, mufti madzab Syafi’iyah di Makkah.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Ihya’ Ulum al-Diin. Dari sini ia juga mendapatkan ijazah.

4. Al-‘Allamah Ahmad An-Nahawi al-Mishri al-Makki.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar al-Hikam karya Ibnu Atha’illah.

5. Sayyid Muhammad Shalih al-Zawawi al-Makki, salah seorang guru di Masjid Nabawi.
Darinya, Kiai Shaleh Darat belajar kitab Ihya’ Ulum al-Din juz 1 dan 2.

6. Kiai Zahid.
Darinya Kiai Shaleh Darat juga belajar kitab Fath al-Wahhab.

7. Syekh Umar a-Syami.
Darinya Kiai Shaleh Darat juga belajar kitab Fath al-Wahhab.

8. Syekh Yusuf al-Sanbalawi al-Mishri.
Darinya Kiai Shaleh Darat belajar Syarh al-Tahrir karya Zakaria al-Anshari.

9. Syekh Jamal, seoang Muftti Madzab Hanafiyyah di Makkah.
Darinya Kiai Shaleh Darat belajar Tafsir al-Qur’an.

Dari sinilah, Kiai Shaleh Darat mendapatkan ijazah ketika selesai mempelajari kitab-kitab tertentu, semisal Fath al-Wahhab, Syarh al-Khatib dan Ihya’ Ulum a-Din. Dari sini pulalah apa yang dipelajari Kiai Shaleh Darat dari kitab-kitab tersebut, berpengaruh besar terhadap isi kitab yang dikarangnya, yaitu Majmu’ al-Syariat al-Kafiyah li al-awwam.

Jaringan Keulamaan Kiai Shaleh Darat
Semasa belajar di Makkah, Kiai Shaleh Darat banyak bersentuhan dengan ulama-ulama Indonesia yang belajar di sana. Di antara para ulama yang sezaman dengannya adalah:

1. Kiai Nawawi Banten, disebut juga Syekh Nawawi al-Bantani.

2. Syekh Ahmad Khatib.
Ia seorang ulama asal Minangkabau. Lahir pada 6 Dzulhijjah 1276 (26 Mei 1860 M) dan wafat di Makkah pada 9 Jumadil Awwal (1916 M). Dalam sejarahnya, dua tokoh pendiri NU dan Muhamadiyyah KH. Hasyim As’ari dan KH. Ahmad Dahlan pernah menjadi murid Ahmad Khatib. Tercatat ada sekitar 49 karya yang pernah ditulisnya. Di antaranya kiitab Al-Nafahat dan Al-Jawahir fi A’mal a-Jaibiyyat.

3. Kiai Mahfuzh a-Tirmasi.
Ia adalah kakak dari Kiai Dimyati. Selama di Mekkah, ia juga berguru kepada Ahmad Zaini Dahlan. Ia wafat tahun 1338 H (1918 M).

4. Kiai Khalil Bangkalan, Madura.
Ia adalah salah seorang teman dekat Kiai Shaleh Darat. Namanya cukup terkenal di kalangan para Kiai pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. ia belajar di Mekkah sekitar pada tahun 1860 dan wafat pada tahun 1923.

Diajak pulang oleh Kiai Hadi Girikusumo
Ketinggian ilmu Kiai Shaleh Darat tidak hanya bisa dilihat dari karya-karya monumental dan keberhasilan para santrinya menjadi para kiai besar tetapi juga bisa dilihat dari pengakuan penguasa Mekkah saat Kiai Shaleh Darat bermukim di Mekkah. Ia dipilih menjadi salah seorang pengajar di Mekkah. Di sinilah Kiai Shaleh Darat bertemu dengan Mbah Hadi Girikusumo pendiri pondok pesantren Ki Ageng Girikusumo, Mranggen, Demak, Jawa Tengah.
Ia merupakan figur yang sangat berperan dalam menghadirkan Kiai Shaleh Darat ke bumi Semarang.
Melihat kehebatan Kiai Shaleh Darat Mbah Hadi Girikusumo merasa terpanggil untuk mengajaknya pulang bersama-sama ke tanah air untuk mengembangkan islam dan mengajar umat islam di Jawa yang masih awam. Namun karena Kiai Shaleh Darat sudah diikat oleh penguasa Mekkah untuk menjadi pengajar di Mekkah, sehingga ajakan pulang itu ditolak.
Namun Mbah Hadi nekat, Kiai Shaleh Darat diculik, di ajak pulang. Agar tidak ketahuaan, saat mau naik kapal untuk pulang ke Jawa, Kiai Shaleh Darat dimasukkan ke dalam peti bersama barang bawaannya. Namun di tengah jalan ketahuan, jika Mbah Hadi menculik salah seorang ulama di Masjid Mekkah. Akhirnya pada saat kapal merapat di pelabuhan Singapura, Mbah Hadi ditangkap. Jika ingin bebas maka harus mengganti dengan sejumlah uang sebagai denda.
Para murid Mbah Hadi yang berada di Singapura mengetahui bila gurunya sedang menghadapi masalah besar, akhirnya membantu menyelesaikan masalah tersebut dengan mengumpulkan dana iuran untuk menebus kesalahan mbah Hadi dan menebus uang ganti kepada penguasa Mekkah atas kepergian Kiai Shaleh Darat. Akhirnya, mbah Hadi dan Kiai Shaleh Darat berhasil melanjutkan perjalanan dan berhasil mendarat ke Jawa.
Mbah Hadi langsung kembali ke Girikusumo, sedangkan Kiai Shaleh Darat menetap di Semarang, mendirikan pesantren dan mencetak kader-kader pelanjut perjuangan Islam. Sayang sekali, sepeninggalan Kiai Shaleh Darat, pesantrennya tidak ada yang melanjutkan, kini di bekas pesantren yang dulu digunakan oleh Kiai Shaleh Darat untuk mengajar mengaji hanya berdiri sebuah masjid yang masih digunakan untuk menjalankan ibadah umat islam di kampung Darat Semarang.

Tentang Teori Kebebasan Manusia
Ia juga terkenal sebagai pemikir dalam bidang ilmu kalam. Menurut Nur Kholis Majid, seorang cendikiawan muslim Indonesia, Kiai Shaleh Darat sangat kuat mendukung paham teologi Asy’ariyyah dan Maturidiyah. Pembelaannya pada paham ini jelas kelihatan dalam bukunya Tarjamah Sabil al-‘Abid ‘ala Jauhar al-Tauhid. Di sini ia mengemukakan penafsirannya tentang sabda Nabi SAW bahwa akan terjadi perpecahan umat Islam menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan yang selamat, yaitu mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW, yakni melaksanakan akaid, pokok-pokok kepercayaan ahlus sunnah wajama’ah, Asy’aiyah dan Maturidiyah.
Selanjutnya dalam teori ilmu kalam yang berkaitan dengan perbuatan manusia, ia menjelaskan bahwa paham Jabariyah dan Qadariyah tentang perbuatan manusia adalah sesat. Yang benar adalah paham Ahlus Sunnah yang berada di tengah antara Jabariyah dan Qodariyah. Sebagai ulama yang berfikir maju, ia senantiasa menekankan perlunya ikhtiar dan kerja keras, setelah itu baru menyerahkan diri secara pasrah kepada Yang Maha Esa. Ia sangat mencela orang yang tidak mau bekerja keras karena memandang segala nasibnya telah ditaqdirkan Allah SWT. sebaliknya, ia juga tidak setuju dengan teori kebebasan manusia yang menempatkan manusia sebagai pencipta hakiki atas segala perbuatannya.

Sang Delegator Pesantren
Dalam sejarah pesantren, Kiai Shaleh Darat layak disebut sebagai “ elegator Pesantren”. Karena ia tidak pernah ikut membesarkan pesantren orang tuanya, sebagaimana mafhumnya anak-anak kiai. Ia justru lebih memilih membantu memajukan pesantren orang lain dan membuat pesantren sendiri, dengan tanpa maksud menobatkan dirinya sebagai pengasuh pesantren.

Karir kekiaian Kiai Shaleh Darat diawali sebagai guru yang diperbantukan di pesantren Salatiyang yang terletak di Desa Maron, Kecamatan Loano, Purworejo. Pesantren ini didirikan sekitar abad 18 oleh tiga orang sufi, masing-masing Kiai Ahmad ( Muhammad ) Alim, Kiai Muhammad Alim, dan Kiai Zain al Alim ( Muhammad Zein ). Dalam perkembangan selanjutnya pesanten ini dipercayakan kepada Kiai Zain al Alim. Sementara kiai Ahmad ( Muhammad )Alim mengasuh sebuah pesantren, belakangan bernama al-Iman, di desa Bulus, Kecamatan Gebang. Adapun Kiai Muhamad Alim mengembangkan pesantrennya juga di Desa Maron, yang kini dikenal dengan pesantren al-Anwar. Jadi kedudukan Kiai Shaleh Darat adalah sebagai pengajar yang membantu Kiai Zain al Alim ( Muhammad Zein ).

Pesantren Salatiyang sendiri lebih menfokuskan pada bidang penghafalan al-Qur’an, di samping mengajar kitab kuning. Di sinilah besar kemungkinannya, Kiai Shaleh Darat diperbantukan untuk mengajar kitab kuning, seperti fiqh, tafsir dan nahwu Sharaf, kepada para santri yang sedang menghafal al-Qur’an.

Di antara santri jebolan Salatiyang adalah Kiai Baihaqi (Magelang). Kiai Ma’aif, Wonosobo, Kiai Muttaqin, Lampung Tengah, Kiai Hidayat (Ciamis) Kiai Haji Fathulah (Indramayu), dan lain sebagainya.

Tidak jelas, berapa lama Kiai Shaleh Darat mengajar di pesantren Salatiyang. Sejarah hanya mencatat, bahwa pada sekitar 1870-an Kiai Shaleh Darat mendirikan sebuah pesantren baru di Darat, Semarang. Hitungan angka ini didasarkan pada kitabnya , alHikam, Yang ditulis rampung dengan menggunakan Bahasa Arab Pegon pada tahun 1289 H/1871 M. pesantren Darat merupakan pesanten tertua kedua di Semarang setelah pesantren Dondong, Mangkang Wetan, Semarang yang didirikan oleh Kiai Syada’ dan Kiai Darda’, dua mantan prajurit Diponegoro. Di pesantren ini pula Kiai Shaleh Darat pernah menimba ilmu sebelum pergi ke Mekkah.
Selama mengasuh pesanten, Kiai Shaleh Darat dikenal kurang begitu memperhatikan kelembagaan pesantren. Karena factor inilah, pesantren Darat hilang tanpa bekas sepeninggalan Kiai Shaleh Darat, pada 1903 M. konon bersamaan meninggalnya Kiai Shaleh Darat, salah seorang santri seniornya, Kiai Idris dari Solo, telah memboyong sejumlah santri dari Pesantren Darat ini ke Solo. Kiai Idris inilah yang kemudian menghidupkan kembali pondok pesantren Jamsaren, yang pernah didirikan oleh Kiai Jamsari.

Ada versi lain yang menyebutkan bahwa pesantren yang didirikan oleh Kiai Shaleh Darat bukanlah pesantren dalam arti sebenarnya, di mana ada bangunan fisik yang mendukung. Pesantren Darat hanyalah majelis pengajian dengan kajian bermutu yang diikuti oleh parasantri kalong. Ini mungkin terjadi, mengingat kedekatan pesantren Darat dengan pesantren Mangkang, dimana Kiai Shaleh Darat pernah belajar di sana, bisa mempengaruhi tingkat ketawadlu’an kiai senior.

Santri-santrinya
Di antara tokoh yang pernah belajar kepada Kiai Shaleh Darat adalah: KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhamadiyah), Kiai R. Dahlan Tremas, seorang Ahli Falak (w. 1329 H), Kiai Amir Pekalongan (w. 1357 H) yang juga menantu Kiai Shaleh Darat, Kiai Idris (nama aslinya Slamet) Solo, Kiai Sya’ban bin Hasan Semarang, yang menulis artikel “Qabul al-‘Ataya ‘an Jawabi ma Shadara li Syaikh Abi Yahya, untuk mengoreksi salah satu dari salah satu bagian dari kitab Majmu’at al-Syari’ah karya Kiai Shaleh Darat; Kiai Abdul Hamid Kendal; Kiai tahir, penerus pondok pesantren Mangkang Wetan, Semarang; Kiai Sahli kauman Semarang; Kiai Dimyati Tremas; Kiai Khalil Rembang; Kiai Munawir Krapyak Yogyakarta; KH. Dahlan Watucongol Muntilan Magelang, Kiai Yasin Rembang; Kiai Ridwan Ibnu Mujahid Semarang; Kiai Abdus Shamad Surakarta; Kiai Yasir Areng Rembang, serta RA Kartini Jepara.

Persinggungannya dengan A Kartini
Adalah sosok yang tidak terikat dengan alian-aliran dalam Islam. Ia justru sangat menghargai aliran yang berkembang saat itu. Ia lebih menekankan pada nilai-nilai pokok (dasar) Islam, dan bukan furu’iyyah (cabang). Lebih dari itu, Kiai Shaleh Darat dikenal sebagai sosok penulis tafsir al-Quran dengan menggunakan bahasa Jawa. Ia sering memberikan pengajian, khusunya tafsir al-Quran di beberapa pendopo Kabupaten di sepanjang pesisir Jawa. Sampai suatu ketika RA Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan, khususnya untuk anggota keluarga. RA Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama para Raden Ayu yang lain di balik hijab (tabir/tirai). RA Kartini merasa tertarik tentang materi yang disampaikan pada saat itu, tafsir al-Fatihah, oleh Kiai Shaleh Darat. Setelah selesai pengajian, RA. Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemaninya untuk menemui Kiai Shaleh Darat. Ia mengemukakan: “saya merasa perlu menyampaikan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada rormo kiai dan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT atas keberanian romo kiai menerjemahkan surah al-Fatihah ke dalam bahasa Jawa sehingga mudah difahami dan dihayati oleh masyarakat awam, seperti saya. Kiai lain tidak berani berbuat seperti itu, sebab kata mereka al-Quran tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa lain.” Lebih lanjut Kartini menjelaskan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tidak mengerti sedikit pun akan maknanya, tetapi sejak hari ini menjadi terang benderang sampai kepada makna yang tersirat sekalipun, karena romo kiai menjelaskannya dalam bahasa Jawa yang saya fahami.”

Kiai Shaleh Darat selalu menekankan kepada muridnya agar giat menimba ilmu. Karena intisari ajaran al-Quran, menurutnya,, adalah dorongan kepada umat manusia agar mempergunakan akalnya untuk memenuhi tuntutan hidupnya di dunia dan di akhirat nanti.
Karya Tulisnya
Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, banyak ulama Indonesia yang menghasilkan karya tulis besar. Tidak sedikt dari karya-karya mereka yang ditulis dengan bahasa Arab. Setelah Kiai Ahmad Rifa’I dari Kalisalak (1786-1875 M) yang banyak menulis kitab yang berbahasa Jawa, tampaknya Kiai Shaleh Darat adalah satu-satunya kiai akhir abad ke-19 yang karya tulis keagamaanya berbahasa Jawa.
Adapun karya-karya Kiai Shaleh Darat yang sebagiannya merupakan terjemahan, berjumlah tidak kuang dari 12 buah, yaitu:

1. Majmu’at Syari’at al-Kafiyat li al-Awam.
Kitab ini khusus membahas persoalan fiqih yang ditulis dengan bahasa Jawa dengan huruf Arab Pegon.

2. Munjiyat Metik Sangking Ihya’ Ulum al-Din al-Ghazali.
Sebuah kitab yang merupakan petikan dari kitab Ihya’ Ulum al-Din juz 3 dan 4.

3. al-Hikam karya Ahmad bin Athailah.
Merupakan terjemahan dalam bahasa Jawa.

4. Lathaif al-Thaharah.
Berisi tentang hakikat dan rahasia shalat, puasa dan keutamaan bulan muharram, Rajab dan Sya’ban. Kitab ini ditulis dengan bahasa Jawa.

5. Manasik al-Haj.
Berisi tuntunan atau tatacara ibadah haji.

6. Pasolatan.
Berisi hal-hal yang berhubungan dengan shalat (tuntunan shalat) ima waktu, kitab ini ditulis dengan bahasa Jawa dengan Huruf Arab pegon.

7. Sabillu ‘Abid terjemahan Jauhar al-Tauhid, karya Ibrahim Laqqani.
Merupakan terjemahan berbahasa Jawa.

8. Minhaj al-Atkiya’.
Berisi tuntunan bagi orang orang yang bertaqwa atau cara-cara mendekatkan diri kepada Allah SWT.

9. Al-Mursyid al-Wajiz.
Berisi tentang ilmu-ilmu al-Quran dan ilmu Tajwid.

10. Hadits al-Mi’raj

11. Syarh Maulid al-Burdah

12. Faidh al-Rahman.
ditulis pada 5 Rajab 1309 H/1891M. kitab ini diterbitkan di Singapura.
13. Asnar al-Shalah

Kini, Kiai Shaleh Darat memiliki sekitar 70 trah (keturunan) yang tersebar di berbagai daerah. Biasanya, dalam waktu-waktu tertentu mereka berkumpul dan bersilaturahmi di Masjid Kiai Shaleh Darat di Jln. Kakap/Darat Tirto, Kelurahan Dadapsari yang terletak di Semarang Utara.
Dari pertemuan silaturahmi ini, telah 13 kitab karya Kiai Shaleh Darat berhasil dikumpulkan. Sebagian kitab tersebut dicetak di Bombay (India) dan Singapura. Hingga kini, keturunan Kiai Shaleh Darat terus melakukan pencarian dan penelusuran kitab-kitab tersebut ke masing-masing keluarga keturunan Kiai Shaleh Darat di Jepara, Kendal, bahkan sampai ke negara-negara Timur Tengah.
Diposkan oleh Sarmidi Husna di Selasa, Desember 18, 2007


Keterangan tambahan mengenai Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim Basaiban Bulus, Mbah Muhammad Alim dan Mbah Zain al Alim ( Muhammad Zein ) : oleh Ravie Ananda

Mbah Ahmad Alim
Mbah Ahmad Alim yang disebut dalam artikel di atas terkenal juga dengan sebutan mbah Muhammad Alim Basaiban Bulus Purworejo. Beliau sebagai Pendiri Desa Bulus. Untuk riwayat lebih lengkapnya silahkan membaca “ Sejarah Desa Bulus kecamatan Gebang Purworejo “ Atau “ Pustaka Bangun “ dalam blogger saya.

Mbah Muhammad Alim
Mbah Muhammad Alim yang disebutkan dalam artikel diatas adalah putra dari Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim Basaiban Bulus Purworejo, hasil pernikahan dengan Istri yang berasal dari Kedung Dowo. Mbah Muhammad Alim putra Mbah Ahmad Alim tersebut kemudian bersama – sama dengan ayahnya mengembangkan syiar islam di Purworejo. Mbah Muhammad Alim mendirikan pondok di Loano purworejo.

Mbah Zain al Alim
Mbah Zain Al Alim lebih dikenal dengan sebutan mbah Muhammad Zein Solotiyang Purworejo. Beliau juga putra dari Mbah Ahmad Alim Basaiban dari Istri yang sama. Mbah Zain Al Alim adalah adik dari Mbah muhammad Alim. Mereka berdua adalah saudara kandung seayah dan seibu.

Untuk mengetahui lebih lengkap sejarah Mbah Alim Basaiban / Mbah Ahmad Alim Bulus dan para putra wayahnya, silahkan membaca srtikel dalam blogger saya yang berjudul “ Sejarah Desa Bulus kecamatan Gebang kabupaten Purworejo “atau “Pustaka Bangun “atau  “Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim basaiban Bulus Pahlawan Tanpa Tanda jasa yang nyaris terlupakan”.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua untuk menambah wawasan tentang para tokoh pendahulu bangsa dan agama di tanah ini yang sudah seharusnya kita hormati dan hargai paling tidak dengan mengenangnya , bukan malah melupakan sejarahnya. Maalamyasykurinnas..lamyasykurillah.

Mari kita teladani mereka yang dengan gigihnya berjuang demi Tauhid dan juga rasa nasionalisme mereka yang sangat tinggi dalam mempertahankan Tanah Air nya dari para penjajah.  

Semoga Allah Al Wahid Al Ahad, selalu merahmati kita semua fil jasad, wal Batin, ngindal Ruh..amin.
Wassalam
Ravie Anandariwayat mbah muhammad alim basaiban bulus purworejoFriday, February 26, 2010 11:04 AMsejarah desa bulus kecamatan gebang kabupaten purworejo / Sejarah dan silsilah Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban Bulus Purworejo Pustaka Bangun

Jumat, 28 Maret 2008

Sejarah dan Silsilah Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban Bulus Purworejo


oleh : Ravie Ananda

Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban Bulus Purworejo dilahirkan di Afdeling Ledok (Wonosobo) pada tahun 1562 M. Menurut riwayat, beliau adalah keturunan ke 32 dari Baginda Rosulullah Muhammad saw.

Silsilah selengkapnya adalah sebagai berikut.

   1.

      Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban, ibni
   2.

      R. Singosuto, Mojotengah Garung Wonosobo, ibni
   3.

      R. Alim Marsitojoyo, ibni
   4.

      R. Martogati, Wonokromo Garung Wonosobo, ibni
   5.

      R. Dalem Agung / RA. Nyai Dalem Agung , Mojotengah Garung Wonosobo, ibni
   6.

      R.A Nyai / R. Kyai Dilem Bandok Wonokromo Garung Wonosobo, ibni
   7.

      R.A Nyai Bekel Karangkobar Banjarnegara, ibni
   8.

      R.A Nyai Segati / Pangeran Bayat, Tegalsari Garung Wonosobo, ibni
   9.

      Sunan Kudus, ibni
  10.

      Syarifah ( istri Sunan Ngudung ), ibni
  11.

      Sunan Ampel, ibni
  12.

      Maulana Malik Ibrahim, ibni
  13.

      Syekh Jumadil Kubro, Pondok Dukuh Semarang, ibni
  14. Ahmad Syah Jalal ( Jalaluddin Khan ), ibni
  15. Abdullah ( al - Azhamat ) Khan, ibni
  16. Abdul Malik ( Ahmad Khan ), ibni
  17. Alwi Ammi al - Faqih , ibni
  18. Muhammad Shahib Mirbath, ibni
  19. Ali Khali' Qasam, ibni
  20. Alwi ats - Tsani, ibni
  21. Muhammad Sahibus Saumiah, ibni
  22. Alwi Awwal, ibni
  23. Ubaidullah, ibni
  24. Ahmad al - Muhajir, ibni
  25. Isa ar - Rummi, ibni
  26. Muhammad al - Naqib, ibni
  27. Ali al - Uraidhi, ibni
  28. Ja'far ash - Shadiq, ibni
  29. Muhammad al - Baqir, ibni
  30. Ali Zainal Abidin, ibni
  31. Husein, ibni
  32. Sayyidatina Fatimah, Ra, ibni
  33. Rosulullah Muhammad S. A. W

Kisah Masa Muda Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban, Bulus Purworejo

Saat muda, Beliau pergi menuntut ilmu ke Pekalongan. Beliau mengaji pada ulama besar di sana sampai beberapa lama, kemudian meneruskan menuntut ilmu di Mekah dalam waktu yang cukup lama pula hingga Beliau menjadi seorang ulama besar. Di Mekah Sayyid Ahmad Muhammad Alim mempelajari Tarekat Satariyah. Sepulang dari Mekah, Beliau kemudian menetap di kampung Krapyak, kota Pekalongan bagian utara, menggantikan gurunya sampai beliau menikah dan mempunyai keturunan di sana.

Keturunannya hingga sekarang banyak yang disebut Basaiban seperti : Sayyid / Habib Abu Tholib, Sayyid / Habib Toha dan lain – lain. Ada juga keturunan Beliau yang menjadi Bupati Magelang yakni R. Tumenggung Danu Sugondo, dimana adiknya juga menjadi bupati Purworejo yakni R. Tumenggung Chasan Danuningrat.

Atas permintaan para murid yang berasal dari Wonosobo, Beliau kemudian pindah ke Wonosobo. Pertama kali bermukim adalah di desa Cekelan kecamatan Kepil. Di sana beliau mendirikan pondok pesantren dan masjid yang hingga sekarang masih ada dan berkembang pesat. Pembuatannya dibantu olehbesan Beliau yang bernama R. Tumenggung Bawad ( pensiunan ) pembesar dari Kraton Yogyakarta yang bernama Wiradhaha / ayah Kyai Tolabudin ( makam di Blimbing Bruno Purworejo ) dibantu juga oleh Kyai Karangmalang ( ayah Kyai Imam Puro ) yang telah mengangkat saudara. Dikisahkan mereka membawa pohon Aren dan Pohon jambe / Pinang. Dari desa Cekelan, Beliau kemudian pindah ke desa Gunung Tawang, kecamatan Selomerto Wonosobo . Di sana pun Sayyid Ahmad Muhammad Alim mendirikan pondok dan masjid.

Setelah bermukim di desa Gunung Tawang, beliau pindah ke arah utara, sampai di dekat dukuh Kendal Mangkang, petilasan Kyai Ageng Gribig dari Klaten Surakarta sewaktu membuat pertahanan saat memerangi Belanda di Batavia ( Jakarta ). Dari tempat tersebut, beliau pindah ke arah timur sampai di Candiroto, akan tetapi tidak dikisahkan hal pendirian masjid dan pondok di sana. Perpindahan selanjutnya adalah di desa Traji, yang berada di sebelah utara Parakan Temanggung, dekat desa Mandensari. Di sana didirikan pula pondok yang sampai sekarang masih ada. Dari desa Traji, Sayyid Ahmad Muhammad Alim bermukim sebentar di desa Bulu, Salaman Magelang. Di sana didirikan pula pondok dengan dibantu oleh Kyai Muhyi Bulu. Pesantren tersebut hingga sekarang pun masih. Rute perpindahan selanjutnya adalah di desa Paguan Kaliboto Purworejo, dan seperti yang sudah – sudah, di sana pun didirikan pondok yang hingga kini pesantren itu masih. Dari Kaliboto, atas permintaan salah seorang murid setianya yakni seorang mantri polisi Beliau pindah ke Pancalan dan mendirikan pesantren sehingga daerah itu menjadi aman. Pondok pesantren tersebut hingga sekarang masih, kemudian Beliau pindah ke desa Nglegok Baledono Purworejo, mendiami bekas pondok Kyai Asnawi ( R. Tumenggung Djoyomenduro, putra kyai Syamsyiah Pengulu Landrat/ Ketua Pengadilan Negeri jaman kejawen yang makamnya terletak di Pangenjurutengah ). Kyai Asnawi mempunyai banyak pondok pesantren.

Dari Baledono, Sayyid Ahmad Muhammad Alim pindah ke Kali Kepuh Beji. Masjid digotong oleh para santri yang jumlahnya sangat banyak. Perpindahan ke Kali Kepuh beji pada awalnya atas perintah Bupati Purworejo yang pertama pada jaman Belanda yang bernama Raden Mas Cokrojoyo, dikarenakan ketakutan Belanda akan adanya penyerangan sewaktu – waktu yang akan dilakukan oleh Sayyid Ahmad Muhammad Alim dan para santrinya. Begitu juga dengan perpindahan Beliau ke Bulus yang merupakan perintah dari Bupati, yang tujuan sebenarnya adalah agar Sayyid Ahmad Muhammad Alim mati dimangsa Brekasakan Hutan ( sejenis hewan dan mahluk halus ), lelembut, harimau, celeng / babi hutan dan warak ( sejenis badak ), sebab di sana terdapat sebuah beji ( semacam mata air ) yang di dalamnya terdapat sepasang bulus ( sejenis kura – kura ) berwarna putih yang merupakan mahluk halus. Maka daerah Bulus saat itu terkenal dengan sebutan Jalma Mara Jalma Mati yang artinya manusia mendekat, manusia mati. Sayyid Ahmad Muhammad Alim tetap selamat dan bahkan kemudian tempat tersebut menjadi desa yang makmur dan pesantrennya berkembang pesat hingga menyebar menjadi cikal bakal lahirnya pesantren – pesantren yang ada di Purworejo dan sekitarnya. Bulus yang tadinya hutan yang sangat angker beliau ubah menjadi desa yang makmur bersama para muridnya yang berasal dari berbagai daerah antara lain dari Pekalongan, Semarang, Salatiga, Magelang dan lain – lain. Jumlah murid Beliau lebih dari seribu orang. Sayyid Ahmad Muhammad alim mengajarkan tarekat Satariyah. Setelah mengaji, para murid ada yang diperintahkan untuk bekerja membuka hutan, ada yang diperintahkan membuat tempat tinggal ada juga yang bekerja seperti biasanya. Murid – murid yang berasal dari Pekalongan bekerja membuat sinjang ( jarit / kain ), sehingga kemudian daerah Bulus pada waktu itu terkenal dengan sebutan daerah Bang – bangan sinjang ( penghasil jarit / kain ). Mereka yang berasal dari Banjarmasin bekerja membuat aneka perhiasan dari emas dan ada juga yang bekerja sebagai tukang jam.


Laku Spiritual Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban Bulus Purworejo

Sayyid Ahmad Muhammad Alim sering malakukan tirakat puasa mutih, sering tidak makan. Beliau hanya makan sekali dalam sehari. Pakaian yang dikenakan berwarna putih, sering juga mengenakan pakaian berwarna gadung ( hijau ). Ikat pinggangnya terbuat dari pelepah pisang. Apabila mencuci, Sayyid Muhammad Alim menggunakan pace ( mengkudu ) matang sebagai sabunnya. Beliau tidak pernah merokok, melainkan ngganten ( mengunyah sirih ). Postur tubuhnya besar dan tinggi melebihi postur orang yang tinggi besar pada umumnya. Suaranya besar dan hati serta pikirannya legawa / bersahaja.

Sayyid Ahmad Muhammad Alim selalu melakukan sholat sunnah sehari semalam sebanyak 35 rokaat. Ketika Sholat Awabin sampai 20 rokaat. Sebelum tidur, seusai membaca wirid, beliau selalu bersahadat 3 kali, memohon ampun pada Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sayyid Ahmad Muhammad Alim selalu memintakan dan mendoakan agar para keturunannya juga murid – muridnya bisa menjadi orang yang soleh. Beliau juga menjalankan tapa pendhem 40 hari 40 malam, seperti layaknya jenazah yang dikubur, hanya pada bagian atas tepat di bagian kepala diberi sebilah bambu sebagai jalan nafas saat di dalam kubur. Ditengah – tengah lubang tersebut diberi benang yang digunakan untuk isyarat bahwa Beliau masih hidup. Setiap sore benang ditarik yang menandakan bahwa Sayyid masih hidup di dalam kubur. Menurut riwayat, di dalam tapa pendhemnya, Sayyid Ahmad Muhammad Alim mendapatkan isyarat gaib seperti berikut.

Beliau diperintahkan untuk memilih salah satu dari 3 bendera. Bendera tersebut berwarna putih, hijau dan merah. Ada suara gaib yang kemudian memerintahkan untuk memeilih salah satu. Pilihen Kyai ( pilihlah Kyai ) ?. Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim kemudian memilih bendera yang berwarna putih. Setelah memilih salah satu, kemudian suara gaib itu menerangkan sebagai berikut.

Bahwa putih tadi perlambang amal soleh: hijau perlambang materi keduniawian sedangkan merah perlambang dari kekuatan fisik.

Sehingga amanah Beliau untuk semua anak turunnya seperti berikut.

“ Anak turunku ora usah tirakat, asal gelem mantep anggone ngaji, bakal diparingi dadi wong mulya dunya tekan akherat.” ( anak turunku tidak perlu tirakat, asal mantap mengaji akan menjadi orang mulya dunia dan akherat ).

Sayyid Ahmad Muhammad Alim Ahli Nahwu, Fiqih dan Tafsir. Tiap malam sering dijaga oleh harimau singga 5 ekor. Sering juga dijaga oleh Warak ( sejenis badak ). sehingga rumah dan tanaman Beliau menjadi aman. Di mana tempat yang dianggap angker oleh masyarakat umum, apabila telah ditempati oleh Beliau menjadi aman.Orang yang jahat sekali pun apabila telah bertemu dengan beliau, maka akan menjadi orang soleh. Maka banyak yang menjadi pengikut kemana pun Beliau pindah karena tidak bisa berpisah dengan Sayyid Ahmad Muhammad Alim.

Sayyid Ahmad Muhammad Alim sering juga menghilang, terutama malam Jumat, akan tetapi di dalam masjid terdengar ada suara bergema jamaah dzikir Satariyah, yang dijaga pula oleh brekasakan hutan.

Setengah riwayat diceritakan bahwa suara dzikir tersebut hingga sekarang masih terdengar saat malam Jumat di makam Beliau. Ada yang bisa melihat, berujud haji sejumlah 40 orang yang rupawan. Untuk melihatnya harus dengan menjalankan sholat sunah dan membaca surat Yaasin terlebih dahulu.

Sayyid Ahmad Muhammad Alim selalu menyiarkan Islam, hingga menyebar di seluruh Purworejo hingga adanya pesantren di Loning, Pancalan, Tirip, Maron dan lainnya.

Tarekat Satariyah setelah Sayyid Ahmad Muhammad Alim wafat diteruskan oleh Kyai Guru Loning Mukhidinirofingi dan Kyai Muhammad Alim Maron. Kyai Muhammad Alim Maron juga pernah ditangkap Belanda sebab menjalankan tarekat Satariyah, karena dicurigai akan seperti Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim.

Sayyid Ahmad Muhammad Alim mempunyai badal 2 orang yakni :

   1.

      Ngumar
   2.

      Haji Toha

Akan tetapi setelah wafatnya Sayyid Ahmad Muhammad Alim, Haji Toha kemudian pergi ke Kelang Singapura, dan mungkin mengajarkan Tarekat Satariyah di sana. Para murid juga banyak yang pulang keasalnya masing – masing setelah Beliau wafat, sehingga Bulus pada waktu itu kosong hingga 3 tahunan.

Atas pertolongan Yang Maha Kuasa, ada seorang yang bernama Raden Mas Cokrojoyo ( bupati Purworejo yang pertama ) memerintahkan kepada Ulama yang bertempat tinggal di kampung Madiyokusuman Purworejo bernama R. Syarif Ali untuk menempati daerah Bulus. Keturunannya hingga saat ini masih. Tanah pesantren kemudian diwakafkan kepada yang memimpin di situ untuk meneruskan.


Masa Perjuangan

Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban Bulus berjiwa pejuang. Pada waktu Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma Mataram memerangi Belanda di Batavia ( Jakarta ), yang memberangkatkan Kyai Ageng Gribig Klaten Surakarta, Kyai Sayyid Muhammad Alim menyerahkan para murid pemudanya untuk dijadikan prajurit, yang dipimpin oleh Kyai Ageng Gribig.

Jaman Pangeran Diponegoro ( R.M. Ontowiryo ), Beliau juga dengan sangat halus tanpa diketahui Belanda menyerahkan para santri mudanya untuk dijadikan prajurit. Agar tidak diketahui Belanda, maka Beliau berpindah – pindah tempat. Murid – murid diserahkan pada pertahanan Magelang dan Bagelen, yang dipimpin oleh R. Tumenggung Djoyomustopo yang makamnya di Sindurejan., juga pada R. Syamsyiah ( Pengulu Landrat Pangenjurutengah ).

Riwayat Setelah Perang Berhenti

Sayyid Ahmad Ahmad Muhammad Alim Basaiban masih meneruskan perjuangannya. Setelah Belanda menguasai negara ini hukum yang berlaku adalah sebagai berikut.

   1.

      Orang yang ditangkap kemudian dihukum dengan disalib dan dijemur di terik matahari, kemudian dicor timah panas hingga mati (seperti yang terjadi di Kedung Lo, sebelah barat Tanggung Purworejo)

      Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban kemudian mengajukan tuntutan agar hukuman itu diubah. Tuntutan tersebut diterima Belanda. Hukuman kemudian berubah menjadi
   2.

      Hukuman Picis di Bong Cina

      Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban kemudian kembali mengajukan tuntutan agar hukuman itu diubah. Tuntutan tersebut diterima Belanda. Hukuman kemudian berubah menjadi
   3.

      Hukuman Gantung

Semua tuntutannya dibantu oleh Kyai Guru Loning Mukhidinirofingi. Apabila akan mengajukan tuntutan, Sayyid Ahmad Muhammad Alim selalu mengunyah sirih terlebih dahulu, kemudian berpakaian putih atau hijau, kemudian ditandu sebab usianya yang sangat tua. Belanda menganggap Beliau sebagai Pimpinan Pengadilan.

Diceritakan bahwa Kyai Sayyid Muhammad Alim berpindah – pindah hingga28 tempat. Usia Beliau mencapai 280 tahun. Sayyid Ahmad Muhammad Alim wafat pada hari Jumat Pahing tanggal 1 Jumadilakhir tahun B 1262 Hijriyah/1842 Masehi. Beliau dimakamkan di sebelah barat pengimaman masjid Bulus.

Peringatan Haul Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban Bulus dilakukan rutin setiap tahun di Bulus Purworejo oleh seluruh anak turunnya.


Silsilah pra Turunipun Sayyid Muhammad Alim Bulus


   1.

      Garwa Kalibening Wonosobo peputra :

1. Sayyidah Nyai Tolabudin Paguan Kaliboto Purworejo

2. Sayyidah Nyai Khasanadi Munggang Kreteg Wonosobo

3. Kyai Sayyid Ngabduljalal Bulu Salaman Magelang

4. Kyai Sayyid Mualim Pancalan Loano Purworejo


   2.

      Garwa Banyuurip Purworejo peputra :

1. Kyai Sayyid Rofingi Sorogenen Purworejo

2. Sayyidah Nyai Zaenul Ngalim Greges Tembarak Temanggung


   3.

      Garwa Kedung Dowo peputra :

1. Kyai Sayyid Muhammad Alim Loano Purworejo

2. Kyai Sayyid Muhammad Zein Solotiyang Purworejo



Sayyidah Nyai Tolabudin peputra :

   1.

      Kyai Sayyid Taslim Tirip Gebang Purworejo
   2.

      Kyai Sayyid Ahmad Husen Paguan Kaloboto Purworejo


Nyai Khasanadi Munggang ( Nyai Gentong ), dados garwanipun Kyai Ngali Markhamah Bendosari Sapuran Wonosobo ananging mboten kapanjang, lajeng kagarwa dening Kyai Chasanadi lan peputra :

   1.

      Sayyidah Nyai Murdaqoh Krakal Kreteg Wonosobo
   2.

      Sayyidah Nyai Pencil Kreteng Wonosobo


Kyai Sayyid Ngabduljalal Bulu peputra ( saking garwa I ) :

   1.

      Kyai Sayyid Bughowi Ngentos Muntilan Magelang
   2.

      Kyai Sayyid Imron Krumpakan Kajoran Magelang
   3.

      Kyai Sayyid Ngabdul Jalil Bulu Salaman Magelang
   4.

      Sayyidah Nyai Chayat Bulu Salaman Magelang
   5.

      Sayyidah Nyai Ngabdullah Bulu Salaman Magelang
   6.

      Kyai Sayyid Ngabdul Ngalim Bulu Salaman Magelang
   7.

      Sayyidah Nyai Ngabdul Kodir Kedung Lumpang Salaman Magelang


Saking Garwa Putri Patih Dipodirjo Purworejo peputra :

   1.

      Sayyidah Nyai Ngabdullah Solotiyang Loano Purworejo
   2.

      Sayyidah Nyai Syekh Yusuf Solotiyang Loano Purworejo
   3.

      Kyai Sayyid Jakfar Naib Banyuasin Loano Purworejo

Kyai Sayyid Mualim Pancalan peputra :

   1.

      Sayyid Imam Jaed Jagir Bruno Purworejo
   2.

      Kyai Sayyid Ngabdul Murid Greges Tembarak Temanggung
   3.

      Sayyidah Nyai Ngabdullah Faqih Gintung Gebang Purworejo
   4.

      Sayyid R. Ng. Joyodirjo Salamkanci Bandongan Magelang
   5.

      Sayyid Haji Dachlan Greges Tembarak Temanggung
   6.

      Sayyidah Nyai Muhammad Rustam Pancalan Loano Purworejo
   7.

      Sayyidah Nyai Ngabdulmanan Pancalan Loano Purworejo
   8.

      Sayyidah Nyai Tumpak Terasan Bandongan Magelang


Kyai Sayyid Rofingi Sorogenen peputra :

   1.

      Sayyidah Nyai Syuhadak Purwodadi Banjarnegara
   2.

      Kyai Sayyid Ahmad Junus Bulus
   3.

      Kyai Sayyid Batang Pekalongan
   4.

      Ayah Kyai Sayyid Dachlan Sorogenen Purworejo


Kyai Sayyid Muhammad Alim Maron peputra :

   1.

      Kyai Sayyid Belah Kedungwot ( Ambal Pucang ) Kebumen
   2.

      Kyai Sayyid Ngusman Gambasan Tembarak Temanggung
   3.

      Kyai Sayyid Ngabdullah Cekelan Tembarak Temanggung
   4.

      Sayyidah Nyai Juwar Maron
   5.

      Kyai Sayyid Ahmad Maron ( wafat muda )
   6.

      Kyai Sayyid Ridwan Maron ( wafat muda )
   7.

      Kyai Sayyid Siroj Maron
   8.

      Kyai Sayyid Nawawi Cacaban Kaliboto Purworejo
   9.

      Sayyidah Nyai Sayuti Tegalarung Parakan Temanggung
  10.

      Sayyidah Nyai Maimun ( Sabilan ) Bulus Gebang Purworejo
  11.

      Sayyidah Nyai Chotimah ( Kyai Bakri ) Kalongan Loano Purworejo
  12.

      Kyai Sayyid Ngadnan Parakan Temanggung


Kyai Sayyid Zein Solotiyang peputra :

   1.

      Sayyidah Nyai Haji Ngali Pabean Muntilan Magelang
   2.

      Sayyidah Nyai Suchemi Pangenjurutengah Purworejo
   3.

      Sayyidah Nyai Ngabdullah Faqih Sutoragan Kemiri Purworejo
   4.

      Sayyidah Nyai Kalisuren Kreteg Wonosobo
   5.

      Sayyidah Nyai Ngabdul Majid I Grabag Magelang
   6.

      Sayyidah Nyai Ngabdul Majid II Grabag Magelang
   7.

      Kyai Sayyid Daldiri Solotiyang ( wafat muda )
   8.

      Kyai Sayyid Fadil Solotiyang Loano Purworejo
   9.

      Sayyidah Nyai Badar Solotiyang Loano Purworejo


Sayyidah Nyai Zainul Ngalim peputra :

   1.

      Sayyidah RA. Nyai Ngabdul Chalim Greges Tembarak Temanggung
   2.

      Sayyidah RA. Nyai Ngabdullah Faqih Wonosobo
   3.

      Sayidah RA. Nyai Ngabdul Murid Greges Tembarak Temanggung


Kyai Sayyid Taslim / Fatimah peputra : (garwanipun Kyai Taslim saking Luning, Bulus, Kaliwatu lan satunggal dereng dipun mangertosi asalipun )

   1.

      Kyai Sayyid RM. Abdurrohman Tirip Purworejo
   2.

      Sayyidah RA. Jamilah ( Nyai Ibrahim Pengulu Landrat Kebumen )
   3.

      Sayyidah RA. Aisyah Kyai Abu Sujak Kemiri
   4.

      Kyai Sayyid RM. Abdurrohim
   5.

      Sayyidah RA. Suyud / Kyai Suyud Karangrejo Kutoarjo




Putra saking garwa sanesipun Nyai Fatimah ;


   6.

      Sayyidah Nyai Murtaman ( Lubang Butuh )
   7.

      Kyai Sayyid Abdullah Sajad ( Pengulu Kebumen )
   8.

      Kyai Sayyid Ibrahim Pituruh
   9.

      Kyai Sayyid Dullah Ngusman Singapura / Malaysia
  10.

      Kyai Sayyid Dullah Feqih Gintungan
  11.

      Kyai Sayyid Abdul Qohir Tirip
  12.

      Kyai Sayyid Abdul Mukti Bruno
  13.

      Kyai Sayyid Zaet Tirip peputra

kaliyan garwa Putri Termas ;

1. Sayyid Nawawi

kaliyan garwa Syarifah Zaenab ;

1. Syarifah Barokah ( Baroroh )


  14.

      Sayyidah Nyai Maemunah ( Kyai Yusuf Sucen ) peputra ;

1. Sayyidah Sri / Kyai Mabrur Kutoarjo peputra ;

1. Kyai Sayyid Zakariya Lampung

2. Kyai Sayyid Muchtarom ( kaliyan Nyai Johar ) peputra ;

1. Sayyid Malik

2. Sayyidah Rohmah ( seda timur )

3. Kyai Machfudz kaliyan Nyai Rufingah lan Nyai Maryatun mboten peputra lajeng mundhut putra angkat ;

1. Zawawi bin Kyai Kodir Ali Imran

  15.

      Sayyid Kyai Suyud Karangrejo Kemiri peputra ;
  16.

      Kyai Sayyid Arsan peputra ;


Kyai Sayyid R. Abdurrohman alm. peputra : ( garwa kyai Sayyid R.Abudrrohman wonten kalih, ananging dereng dipun sumerepi asma – asmanipun. Garwa sepindah saking Sucen, garwa kaping kalih saking Bulus )

Kaliyan garwa Sucen ;
1. Sayyidah RA. Roikhanah Plumbon
2. Sayyid R. Hadiyul Mustofa/H. Sucen

Kaliyan garwa Bulus ;

1. Sayyidah RA. Fatimah

2. Sayyidah Wardiyah ( mboten peputra )


1. Sayyidah RA. Roikhanah Plumbon Kebumen peputra :

         1.

            Sayyidah RA. Rughoyah / Makmun alm.
         2.

            Sayyidah RA. Rofqoniyah / Kyai Matori alm.
         3.

            Sayyid R. Sanusi alm.
         4.

            Sayyid R. Sugeng alm.
         5.

            Sayyid R. Dulkodir alm.

1. Sayyidah RA. Rughoyah / Makmun peputra :

1. Sayyidah RA. Rokhimah peputra ;
2. Sayyidah RA. Kharisoh peputra ;

1. Sayyidah RA. Nurul

2. Sayyidah RA. Retno

3. Sayyid R. Beni


3. Sayyidah RA. Khotmah peputra ;


4. Sayyidah RA. Halimah peputra ;


5. Sayyidah RA. Honimah peputra ;

1. Sayyid R. Muh. Rafi Ananda / Tuti Khusniati Al Maki peputra:

1.Sayyid R. Avataranindita Manungsa Jati

2. Sayyidah RA. Aila Rezannia / Poedjo Rahardjo peputra:

1.Sayyidah RA. Grahita Rahdipa Rahardjo

6. Sayyidah RA. Soimah peputra ;

1. Sayyid R. Arif Hidayat

2. Sayyidah RA. Titin Rahayuningsih

3. Sayyid R. Teguh Priyatno

4. Sayyidah RA. Nur Fatmawati

5. Sayyidah RA. Diyah Kurniasari

2. Sayyidah Rofqoniyah peputra;
1. KH. Sayyid R. Salim Almator peputra ;
1. Sayyid R. Tobagus Muslihudin Aziz
2. Sayyidah RA. Hikmatul Hasanah
3. Sayyidah RA. Maksumah Kurniawati
4. Sayyid R. Musyafa Firman Iswahyudi
5. Sayyidah RA. Retno Auliyatussangadah
6. Sayyidah RA. Eta fatmawati Auliyatul Ummah
2. Sayyidah RA. Songidah peputra ;


3. Sayyidah RA. Sangadatun Diniyah alm peputra ;


4. Kyai Sayyid R. Khumsosi Al Mator berputra ;
1. Sayyidah RA. Siti Khulasoh
2. Sayyidah RA. Siti Fatimah
3. Sayyid R. Lukman Zein
4. Sayyidah RA. Anis Siti Karimah
5. Sayyidah RA. Siti Khomsiati
6. Sayyid R. Anas Mufadhol alm.
5. Sayyid R. H Makmuri peputra ;

1. Sayyidah RA. ISnita

2. Sayyid R. Arif

3. Sayyidah RA. Ningrum

6. Sayyid R. Muslim peputra ;

1. Sayyidah RA. Balkis

2. Sayyidah RA. Fentiya

3. Sayyidah RA. Roro

4. Sayyid R. Mamas

3. Sayyid R. Sanusi bin Roikhanah Plumbon peputra;
1. Sayyidah RA. Sol ? Peputra ;


2. Sayyidah RA. Salamah Prembun peputra ;



2. Sayyidah RA. Fatimah binti Abdurrahman Tirip bin Sayyid Taslim /Fatimah peputra ;

Kaliyan garwa I / Jazuli ;

1. Sayyid. R. Mad Amin

2. Sayyidah RA. Rohmah

3. Sayyidah RA. Romlah

4. Sayyidah RA. Ruqoyah


Kaliyan garwa II / Haji Siroj ;

   1.

      Sayyidah RA. Zuhriyah
   2.

      Sayyid R. Yazid
   3.

      Sayyid R. Zahrowardi
   4.

      Sayyidah RA. Nguluwiyah
   5.

      Sayyid R. Zarnuji



Kyai Sayyid R. Abdurrohim bin Kyai Sayyid Taslim ( kagungan garwa kalih inggih punika RA. Baingah binti RM. H. Muhammad Nur bin Kyai Guru Luning kaliyan garwa Alang – alang Amba lan RA. Nafingah binti RM. Chamid Triris bin Kyai Guru Luning kaliyan garwa Putri Lurah Kroyo, ananging dereng dipun sumerepi pundi ingkang garwa sepindah lan pundi garwa ingkang kaping kalih ) :

Saking garwa I peputra :

   1.

      Sayyid R. Mahasin
   2.

      Sayyidah RA. Hasbiyah
   3.

      Sayyid R. Khojin
   4.

      Sayyid R. Baedowi
   5.

      Sayyidah RA. Maksumah
   6.

      Sayyid R. Abdullah


Saking garwa II peputra :

1. Kyai Sayyid R. Muhyi / Mukti alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi

2. RA. Munawaroh ( Sumatera , ananaging ngantos dumugi sakpriki dereng wonten pawartosipun )

3. KH. Sayyid R Sya'roni alm. Temurjo Purwoharjo Banyuwangi

4. Kyai Sayyid R. Abdal alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi

5. Kyai Sayyid R. Azhad alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi

6. Kyai Sayyid R. Hamdullah Buluagung Siliragung Banyuwangi

7. Kyai Sayyid Din alm.

8. Kyai Sayyid R. Fatkhan

Kyai Sayyid R. Muhyi / Mukti peputra :

1. Sayyid R. Muflih Perangan

2. Sayyid R. Muh. Miftah Perangan

3. Sayyid R. Mudatsir

4. Sayyidah RA. Muhsonah

5. Sayyidah RA. Mu'awah Seneporejo Siliragung

6. Sayyid R. Muzamil

7. Sayyidah RA. Mudzrikah

8. Kyai sayyid R. Munhamir Tamanagung Cluring Banyuwangi

9. Sayyidah Mustaqimah Sukorejo


KH. Sayyid R. Sya'roni Temurejo peputra :

1. Sayyidah RA. Mutmainah

2. Sayyid R. Sairu
3. Sayyid R. Khamami
4. Sayyid R. Jami'ah
5. Sayyid R. Jauhar
6. Sayyid R. Halimi

Kyai Sayyid R. Azhad alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi peputra :

1. Kyai Sayyid R. Mustofa Azhad Perangan

2. Kyai Sayyid R. Toha Azhad Merauke Irian Jaya

3. Kyai Sayyid R. Musta'in Azhad alm.

4. Kyai Sayyid R. M. Yasin Azhad Perangan

5. Sayyidah RA. Siti Aminah Azhad Ngadirejo Purwoharjo

6. Sayyidah RA. Siti Hanifah Azhad Perangan

7. Kyai Sayyid R. Halimu Shodiq Azhad Perangan

8. Kyai Sayyid R. Nur Hamid azhad Perangan

Kyai Sayyid R. Mustofa Azhad Perangan peputra :
1. Sayyid R. Ahmad Nasihudin Al Bahiri
2. Sayyidah RA. Latifah

Kyai Sayyid R. Thoha Azhad Merauke Irian Jaya peputra :
1. Sayyid R. Habiburrohim
2. Sayyidah RA. Nihayatus Zuhriya

Kyai Sayyid R. Yasin Azhad Perangan peputra :
1. Sayyid R. Wafi
2. Sayyidah RA. A' lin Bil Hija

Sayyidah RA. Siti Aminah Azhad Perangan peputra :
1. Sayyid R. Ahmad Luqman Hakim
2. Sayyid R. Burhanudin Al Maki
3. Sayyid R. Abdurrahman
4. Sayyid R. Abdurrahim
Sayyidah RA. Siti Hanifah Azhad Perangan peputra :
1. Sayyid R. Utsman

Kyai Sayyid R. Halimu Shodiq Azhad Perangan peputra :
1. Sayyid R. Wildan Hadziqi

Kyai Nur Hamid Azhad Perangan peputra :
1. Sayyid R. Alan ' Adzim Al Aufa

Kyai Sayyid R. Hamdullah peputra :
1. Kyai Sayyid R. Ali Masngud Buluagung
2. Sayyidah RA. Sa'adah
3. Sayyid R. Zuhri
4. Sayyid R. Tasip

Mbah Sayyid R. Dulkohir bin Kyai Sayyid Taslim Tirip peputra :

1. Sayyidah RA. Nyai Bandiyah
2. Sayyidah RA. Nur Rohmah
3. Sayyidah RA. Murlingah
4. Sayyid R. Khoidar

kaliyan garwa Nyai Muntofingah binti Kyai Abdul Mungid Pacalan mboten peputra

Kaliyan Garwa Nyai Sultoniyah binti Kyai Abdul Mungid Pacalan peputra ;
5. Sayyidah RA. Umi Salamah
6. Sayyid R. Bun Yamin

Sayyidah RA. Bandiyah peputra :
1. KH. Sayyid R. Hasyim
2. KH. Sayyid R. Nawawi Bantul ( menantu Kyai Munawir Krapyak Yogyakarta )
3. Sayyidah RA. Musfiroh

Sayyidah RA. Murlingah peputra ;

1. Sayyidah RA. Ambariyah

2. Sayyid R. Slamet Bahrudin

3. Sayyidah RA. Wiwik Atun Hasanah

Sayyidah RA. Umi Salamah peputra;

1. Sayyidah RA. Taslimah

2. Sayyidah RA. Robingah

3. Kyai Sayyid R. Muhammad Taslim Tirip

4. Sayyid R. Ahmadi

5. Sayyid R. Sangid

Sayyid R. Bun Yamin peputra ;

1. Sayyid R. Subro Malisi

2. Sayyidah RA. Siti Fatimah

3. Sayyid R. Gufron

KH. Sayyid Hasyim peputra :
1. Sayyidah RA. Nurhalimah Sukorejo
2. Sayyidah RA. Bastiyah
3. Kyai Sayyid R. Ahmad Saifudin Pekalongan
4. Sayyidah Siti Romlah Sulawesi
5. Kyai Sayyid R. Mubarok Sukorejo ( ponpes Roudlotul Hufadzil Quran )
6. Sayyid R. Imam Ghozali ( badal Kyai Sayyid R. Mubarok )
KH. Sayyid R. Nawawi Bantul peputra :
1. Kyai Sayyid R. Ngasim
2. Sayyid R. Yasin
3. Sayyidah RA. Istiqomah
4. Sayyid R. Abdul Muqti
5. Sayyidah RA. Barokah
6. Sayyidah RA. Binti Nafiyah
7. Sayyidah RA. Umi Azizah
8. Sayyid R. Agus Salim
9. Sayyidah RA. Wardah
10. Sayyidah RA. Ulfah
11. Sayyidah RA. Zahiyah

Sayyidah RA. Musfiroh peputra :
1. Kyai Sayyid R. Husnin
2. Sayyidah RA. Masyitoh
3. Kyai Sayyid R. Muhsin


Sayyidah Nyai Murtaman binti Kyai Sayyid Taslim berputra ;

Kyai Sayyid Habib ( Butuh lubang lor ) berputra ;

Kyai Sayyid Ahmad Hisyam ( Kepil ) berputra ;

Sayyidah Nyai Siti Hafsoh berputra ;

   1.

      Kyai Sayyid R. Habibullah
   2.

      Kyai Sayyid R. Muh. Nawawi Hisyam ( Gus Wawi Adikarso Kebumen )
   3.

      Kyai Sayyid R. Mahrus Muqorrobin
   4.

      Sayyidah RA. Siti Halimah
   5.

      Kyai Sayyid R. Muh Ali Dimyati
   6.

      Kyai Sayyid R. Zainul Arifin
   7.

      Sayyidah RA. Fatimah
   8.

      Sayyidah RA. Siti Halimah
   9.

      Sayyidah RA. Nafisah


Sayyidah Nyai Suchemi Pangenjurutengah binti Kyai Sayyid Zein Solotiyang berputra;

   1.

      Sayyidah Nyai Abdullah Faqih Jatiwangsan Kemiri Purworejo
   2.

      Kyai Sayyid R. Damanhuri Pangenjurutengah peputra ;

   1.

      Sayyidah RA. Nyai Badarudin Guron Sindurejan peputra ;

   1.

      Sayyidah RA. Ummulchasanah Mucharom Buluselatan 14 Semarang peputra ;

1. Sayyid R. Heru Bulu Selatan Jl. Suyudana Semarang

2. Sayyid R. Farchan Bulu Selatan Jl. Suyudana Semarang

   2.

      Sayyid R. Sulachudin Pangenjurutengah
   3.

      Sayyid R. Sakir Guron Purworejo
   4.

      Sayyid R. Ashal 15 th seda
   5.

      Sayyidah RA. Mustanganah 11 th seda
   6.

      Sayyidah RA. Nurul Chasanah 9 th seda
   7.

      Sayyid R. Harim 5 th seda
   8.

      Sayyidah RA. Mustawidah Guron Purworejo
   9.

      Sayyidah RA. Nurul Aini Guron Purworejo
  10.

      Sayyid R. Harun Al Rasyid Guron Purworejo

2. Sayyidah RA. Nyai Fatimah / Muh. Masyhuri Krobokan Semarang Barat peputra ;

   1.

      Sayyid R. Wahid Ngusman Pangenjurutengah
   2.

      Sayyidah RA. Isnaini Nurjanah Krobokan Semarang Barat
   3.

      Sayyidah RA. Idah Choiriyah Krobokan Semarang Barat
   4.

      Sayyid R. Sarofin Arbaah Krobokan Semarang Barat
   5.

      Sayyidah RA. Chomsatun Krobokan Semarang Barat


Kyai Sayyid Faqih bin Kyai Sayyid Taslim Tirip peputra :
Kyai Sayyid Malkan peputra :
Kyai Sayyid mustofa Gintungan peputra ;



Sayyid Muhammad Zein Solotiyang bin Sayyid Muhammad Alim Bulus peputra ;

Sayyid Muhammad Fadil Solotiyang peputra ;

Sayyidah Isti Sangadah peputra :

   1.

      Sayyid Mahmud Ali Kauman Kebumen peputra ;

1. Sayyid Arif Mustofa

   2.

      Sayyidah Isti Chamidah / Syamsi Kauman Kebumen peputra ;

1. Sayyid R. Muh. Sudjangi

2. Sayyid R. Sugeng Assyamsi

3. Sayyid R. Abdul Rozak

4. Sayyid R. Lukman Hakim

5. Sayyid R. Abdus Somad

6. Sayyid R. Muh. Mahfud

7. Sayyid R. Muh. Murtadlo



Kyai Sayyid Rofingi Sorogenen bin Sayyid Muhammad Alim Bulus peputra :

1. Kyai Sayyid Ahmad Junus Bulus peputra :

Demikian riwayat serta silsilah Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban Bulus. Harapan penulis, riwayat ini bisa berguna bagi keturunan Sayyid Ahmad Muhammad Alim Bulus agar bisa mempererat tali persaudaraan kembali, ngumpulake balung pisah....dan juga bagi pembaca sekalian. Tentunya meski telah sangat berhati – hati dalam penulisannya, banyak sekali terdapat kekurangan – kekurangannya. Atas hal ini penulis memohon maaf sedalam – dalamnya.

Penulis sangat mengharap sumbangan riwayat dari keturunan Sayyid Ahmad Muhammad Alim yang lain demi terciptanya riwayat yang baik.

sumber : Pustaka Bangun

Terimakasih kepada :

1. Sayyid Dahlan alm.

2. Sayyid Agil Ba'bud alm.

3. Sayyid K. Damanhuri alm.

4. R. Darmowarsito alm.

5. Haji Syamhudi alm.

6. R. Muh. Siroj

7.Panitia khoul Sayyid Ahmad Muhammad Alim yang lain

Rahmat dan kuasa Allah Swt melalui Beliau semua lah Kitab Pustaka Bangun yang berisi Manaqib Sayyid Ahmad Muhammad Alim hingga saat ini masih lestari.

Pada peringatan 125 tahun wafatnya Kyai sayyid Ahmad Muhammad Alim yang bertempat di serambi masjid Bulus pada hari Kamis Paing, 2 Jumadilakhir 1387 H atau 7 September 1967, dihadapan kurang lebih 300 orang nasab Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim, Kyai Sayyid R. Damanhuri, alm pada saat itu ditunjuk untuk membacakan Kitab Manakib tersebut.

Apabila ada sumbangan riwayat atau para keturunan Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban yang belum tercantum di sini, dapat menghubungi penulis di

ravieananda@yahoo.com atau datang langsung di kediaman penulis

dengan alamat

Ravie Ananda

Jl. Garuda 13 Kebumen 54311 Jateng


Subhanalloh,,,

Rohmatulloh, Wassalamah ... warahmah...wabarokah...wangilman..warizqon.. .. ngalaik

diposkan oleh raffie ananda @ 20:53   6 Komentar
6 Komentar:

Pada 22 Maret 2009 21:12 , Blogger LukMan mengatakan...

    asslmkm....kabare piye boss...
    ada koreksi dikit nih..tuk keturunan syd.khumsosi: anas mufadol itu udah alm.
    tuk keturunan syd.makmur:1.isnita 2. arif. 3. ningrum.
    tuk keturunan syd. muslim: 1. balqis 2. fentiya. 3. roro 4. mamas
     
Pada 8 Juni 2009 21:59 , Blogger raffie ananda mengatakan...

    wangalaikumsalam
    maksih koreksinya
    sudah saya betulkan bib
     
Pada 2 Agustus 2009 12:19 , Blogger Jurnal Geografi Indonesia mengatakan...

    Saya salah satu warga desa tegalsari, garung, wonosobo yang baru tahu informasi kalau R.A Nyai Segati/ Pageran Bayat itu termasuk silsilahnya sunan kudus. Makamnya masih terpelihara rapih, di desa saya.
    Mas Ravie bia menunjukkan bacaan bukunya yang asli, untuk mengetahui silsilah keturunan asalnya masyarakat tegalsari, garung, wonosobo. Bagaimana silsilah selnjutnya dengan warga desa saya?
     
Pada 4 Agustus 2009 05:17 , Blogger raffie ananda mengatakan...

    wassalamualaikum..saya juga sudah ziarah ke tegal sari garung..saya senang sekali makam mbah segati masih terawat dengan baik.kebetulan saudara saya ada di stieng jadi tiap saya ke stieng saya usahakan untuk ziarah ke mbah segati..juga ke para turunnya yakni mbah ngalim masritojoyo dan lainnya di garung juga..tapi bukan di kompleks makam mbah segati..untuk buku asli saya hanya punya riwayat pustaka bangun yang ditulis jaman thn 1967 an oleh keluarga bani ngalim bulus saat itu yakni kyai damanhuri alm. purworejo, dan habib dahlan baabud, juga habib agil baabud dan panitia saat itu, yang didalamnya sudah tertera riwayat secara turun temurun dimana ada nama mbah segati dan lain2.mengenai riwayat mbah segati sendiri secara lengkap saya kurang paham.belum sempat mencari. semoga masyarakat garung segera bisa menemukan..amin
     
Pada 4 Agustus 2009 07:19 , Blogger EL Batul mengatakan...

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Alfaqier Syed Alidien bin Hasan Asseggaff.Alhamdulillah alfaqier dapat berkunjung pada blok yg anda buat.Kebetulan alfaqier pengamat nasab Alawiyin yg ada di Indonesia,Yaman,Malaysia,Singapora dan Brunai.Mengamati tulisan yg anda buat ternyata terlalu banyak kekeliruhan dan salah nisbah,mohon maaf.Soal klg Al Basyaiban Al Ali Faqih Muqaddam,nasabnya sangat rapi dan alfaqier menyimpan nasab mereka secara lengkap dan sdh mengadakan perjumpan dg keluarga ini beberapa tahun yg lalu.Nasab yg antum berikan tidak ada sama sekali hubungan dg klg Basyaiban.Juga pada tulisan antum banyak salah antara keluarga Masyaikh,qabilli dan para Sayyid terjadi kerancuan,mohon maaf .Semoga hal ini dapat menjadi koreksi buat antum.Dan kami memelihara nasab ini secara turun temurun sampai saat ini dan kami mewarisi catatan dari datuk2 kami secara berkesinambungan sampai kini.Ada ratusan kitab yg kami warisi hingga sat ini. Salam dari hamba yg Faqier
     
Pada 1 November 2009 21:12 , Blogger raffie ananda mengatakan...

    waalaikum salam wr.wb.
    Maaf baru sempat buka bib.Terima kasih koreksinya dan mohon maaf kalau tidak sesuai dengan catatan antum.Yang jelas semua adalah wujud dari malamyaskurinnas lamyaskurillah. Karena riwayat yang saya tulis memang sudah turun temurunm dibacakan dalam haul Mbah Alim Bulus purworejo dimana beliau memang turunan dari Sunan Kudus.Sedangkan beliau adalah guru dari mbah kiai Soleh Darat.Yang penting adalah kami keluarga besar alim bulus ingin mewujudkan rasa syukur kami,tanpa perantara mereka kami tidak akan ada.Itulah wujud kesempurnan Allah.mengenai nashab yang terpelihara mungkin saja shahih,tetapi saya yakin masih banyak sekali masyarakat kita yang termasuk Alawayin yang belum masuk dalam catatan nasab.Juga yang turun dari wanita,yang sementara ini hanya didapati satu nama wanita yakni Sayidah Fatimah Azzahra. Apakah benar mulai dari Fatimah tidak ada lagi wanita,yang menurunkan sedangkan Allah sendiri memulyakan aminah untuk melahirkan Nabi SAW dan Fatimah untuk melahirkan para alawiyin.Semoga tidak adanya wanita dalam catatan nasab setelah Fatimah bukanlah termasuk budaya arab jahiliyah yang malu dengan adanya garis wanita. Terlebih dari itu ini semua bukanlah hal inti yang penting adalah ketauhidan kita karena itulah yg akan kita bawa menghadap yang KUASA.wa innailaihi rojiun.Nabi Nuh saja tidak bisa menyelamatkan putranya.Nabi SAW saja tidak bisa membuka hidayah pamannya.Sehingga dalam sirah nabawiyah disebutkan setiap penyebutan nasab hingga tujuh lapis keatas baginda nabi selalu berhenti dan bersabda bahwa semakin keatas nasab cenderung agak keliru.sekali lagi mohon maaf sedalam-dalamnya,semoga Allah yg maha Mengetahui memaafkan dan membukakan hidayah, rahmat, dan tauhid kita fil jasad wal batin ngindal ruh.dan semoga para pengarang yg ikhlas bukan para pengarang yg bermuatan politis selalu dilindungi Allah.Salam.
     

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Halaman MukaMadinah dari Masa ke MasaWednesday, February 17, 2010 4:17 PM   SEJARAH  SINGKAT MADINAH DARI MASA KE MASA  Oleh Ravie Ananda     Madinah  sebagai kota  penting umat Islam sebenarnya telah lama sekali berkembang jauh sebelum  Masehi. Tarikh Madinah dimulai dari Generasi ke 4 keturunan nabi Nuh  As. Sekelompok kabilah dari negeri Babil yang kemudian keluar dari  negeri tersebut untuk mencari tempat baru yang akan mereka jadikan  pemukiman, hingga akhirnya kabilah tersebut menemukan lahan yang subur  yang terlindungi dan dikelilingi oleh deretan pegunungan dan batuan  gunung api. Mereka kemudian menetap di sana dan membuat sebuah perkampungan  kecil yang kemudian diberi nama sesuai dengan nama pemimpin kabilah  tersebut yaitu YATSRIB.     Beberapa riwayat  menyebutkan bahwa Kaum Amalik keturunan nabi Nuh telah bertempat tinggal  disana sejak Abad 23 sebelum Hijrah ( 2300 tahun sebelum Hijrah / 1721  tahun sebelum Masehi ). Pada abad 12 Sebelum Hijrah ( 1200 tahun sebelum  Hijrah / 621 tahun sebelum Masehi ) Yatsrib telah terikat hubungan  dengan kerajaan Mainiah. Dari beberapa penemuan purbakala, diketahui  bahwa pada abad 11 Sebelum Hijrah ( 1100 tahun sebelum Hijrah / 521  tahun sebelum Masehi ) Yatsrib selama 10 tahun berada dibawah kekuasaan  kerajaan Babilion dengan rajanya yang bernama Namunit yang tinggal di  Taima.     Pada abad 5 Sebelum  Hijrah ( 500 tahun sebelum Hijrah / 79 tahun Sebelum Masehi ), kaum  Yahudi yang ketika itu telah diporakporandakan oleh Romawi berdatangan  ke Yatsrib dan menetap di sana.  Pada abad 3 Sebelum Hijrah ( 300 tahun sebelum Hijrah / tahun 279  Masehi ) suku Aus dan Khosroj berdatangan dari Yaman dan kemudian  menetap di Yastrib. Disusul kemudian oleh suku – suku yang lain. Sejak  saat itulah Yatsrib menjadi sebuah daerah yang mempunyai keanekaragaman  masyarakat, petani yang ulet dan daerah yang terkenal dengan  pertaniannya yang maju, kebun – kebun kurma, ladang – ladang sayuran dan  buah – buahan yang tersebar diseluruh penjuru Yatsrib.      Kafilah  dagang yang berpindah – pindah antara Syam dan Yaman singgah di Yatsrib  untuk membekali diri mereka dengan air yang jernih dan Kurma yang  istimewa sebagai bekal perjalanan mereka. Tukar – menukar barang (  barter ) pun kemudian terjadi antara penduduk Yatsrib dengan para  kafilah tersebut.  Pada  tahun 120 sebelum Hijrah ( 459 Masehi ) terjadilah perang suku antara  suku Aus melawan suku Khosroj  yang sebenarnya  disebabkan oleh tipu daya / adu domba kaum Yahudi. Keadaan Yatsrib yang  tadinya damai aman dan makmur tersebut kemudian berubah menjadi daerah  yang penuh kekacauan berkepanjangan.      Perubahan  Ystrib mulai nampak kembali pada tahun ke 3 Sebelum Hijrah ( 576Masehi )  pada saat musim haji, dimana beberapa orang dari suku Khosroj menemui  Rosululloh SAW dan kemudian  Nabi mendakwahi  mereka untuk memeluk agama Islam dan membacakan beberapa ayat al Quran.  Pada bulan Haji di tahun berikutnya 10 orang dari suku Khosroj dan 2  orang dari suku Aus menemui Rosululloh Saw dan menyatakan keislaman  mereka dan membaiat Rosululloh BAIAT AQOBAH pertama. Rosululloh kemudian  mengutus Musa ibnu Umair untuk berdakwah di Yatsrib. Pada musim Haji  berikutnya, 70 orang dari Yatsrib menemui Rosululloh dan membaiat Beliau  BAIAT AQOBAH kedua. Mereka juga mengajak Rosululloh dan pengikutnya di  Mekah untuk Hijrah ke Yatsrib dan membentuk masyarakat Islam Pertama.  Akhirnya Rosululloh san Abubakar hijrah ke Yastrib setelah sebelumnya  didahului oleh para pengikut Rosululloh. Hijrahnya Rosululloh tersebut  menjadi tonggak perubahan di Yatsrib. Sejak saat itulah Yatsrib  berganti nama menjadi Madinah, yang juga memiliki  julukan lain yakni Toyyibah, Tobah, Addab dan lain – lain yang  menunjukkan keagungan. Berubahlah keyakinan masyarakat Madinah dari  penyembahan berhala menjadi penyembahan ala Islam. Masjid Nabawi pun  menjadi pusat pendidikan Islam.     Pada  tahun 2 Hijriyah, terjadilah perang Badar yang kemudian disusul dengan  perang UHUD ( perang di bawah gunung Uhud ) pada bulan Syawal tahun ke 3  Hijriyah ( 582 Masehi ). Pada tahun ke 5 Hijriyah ( 584 Masehi ), suku  Qurais bersekutu dengan kaum kafir lainnya menyerang Madinah. Rosululloh  bersama masyarakat muslimin Madinah membuat parit – parit untuk  menangkal serangan Qurais tersebut, sehingga perang tersebut kemudian  terkenal dengan nama perang Khandak atau Parit yang terjadi bersamaan  dengan adanya badai gurun. Suku Qurais yang membokong dari belakang pun  mengalami kekalahan.     Pada masa Rosululloh dan  Khulafaurrosyidin itulah Madinah menjadi Ibukota Negara Islam.  Rosululloh kemudian mengadakan perluasan Masjid Nabawi pada tahun ke 7  hijriyah ( 586 Masehi ). Pada tahun ke 17 Hijriyah ( 596   Masehi ), khalifah Umar bin Khatab melakukan perluasan kembali  dengan mempertahankan bentuk aslinya. Pada tahun ke 30 Hijriyah ( 609  Masehi ), khalifah Utsman Bin Afan merenovasi masjid Nabawi dengan batu  Berukir. Ustman juga membuat pasukan – pasukan yang ditugaskan untuk  dakwah dan membuka wilayah, sehingga Islam kemudian berkembang pesat di  luar jazirah Arab.     Pada masa Romawi, pusat  pemerintahan Islam dialihkan dari Madinah ke Damaskus hingga pertengahan  dinasti Abassiyah.      Perluasan Masjid Nabawi  kembali dilakukan pada masa Khalifah Al Mahdi dengan mempertahankan  bentuk lama.     Mulai abad ke 3 Hijriyah  ( tahun ke 300 Hijriyah / 879 Masehi ) terjadilah kemerosotan di  berbagai bidang di Madinah. Banyak terjadi perampasan dan perampokan  kafilah dagang sehingga lambat laun kota  Madinah menyusut luasnya dan kembali seperti ketika tahun pertama  berdiri (  awal Hijriyah ). Hal ini disebabkan  karena banyak masyarakat yang meninggalkan kota akibat keadaan yang tidak baik  tersebut.     Pada tahun 578 hijriyah (  1157 ) ketika terjadi perang Salib, seorang pemimpin tentara salib yang  bernama Arnold  mendaratkan pasukannya melewati jalur laut Merah kemudian menuju Yambuk  dan mengarah ke Madinah. Tujuannya tidak lain untuk menyerang Madinah.  Aksi tersebut dapat dipatahkan secara telak oleh Salahuddin Al Ayubi  bersama pasukannya yang menghadangnya di sebuah wilayah yang jauhnya  satu malam perjalanan dari Madinah.     Pada  Tanggal 5 Rajab 567 Hijriyah ( 1146 Masehi ) sebuah gunung berapi di  sebelah timur kota Madinah meletus dan  memuntahkan lahar panas ke arah Barat menuju kota  Madinah, akan tetapi sebelum sampai  kota Madinah, alur  lahar tersebut berbelok kearah utara. Selama tiga bulan lamanya lahar  panas mengalir dari gunung tersebut.     Pada  tahun 866 Hijriyah ( 1445 Masehi ) Masjid Nabawi terbakar oleh sambaran  petir. Hampir semua bagian dari Masjid Nabawi hangus. Salah satu bagian  yang selamat adalah kamar Rosululloh. Atas bantuan dana dari Sultan  Qotbai’ Bangunan Masjid Nabawi diperbaiki, serta dibangun pula tempat –  tempat sekolah dan mengaji.     Mulai abad ke 10 H (  mulai tahun 1000 Masehi ) Madinah dikuasai oleh dinasti Utsmani selama 4  abad ( 400 tahun ). Selama periode tersebut terjadilah berbagai  perubahan di segala bidang kehidupan di Madinah. Salah satunya adalah  pembuatan pagar kota  dan benteng yang kokoh, juga dibentuknya satuan – satuan pasukan  keamanan.      Setelah masa tersebut,  stabilitas kota  Madinah kembali melemah yang disebabkan adanya perebutan kekuasaan  antarpanglima pemerintahan. Perampokan – perampokan kafilah dagang  terjadi kembali. Kekacauan pun kembali terjadi baik di dalam kota Madinah maupun di  pelosok – pelosok Madinah.      Pada tahun 1220 Hijriyah  ( 1799 Masehi ) penduduk Madinah memberikan baiat kepada para Dai  pembawa perbaikan dan kemudian Madinah  menggabungkan  diri dengan kerajaan Saudi pertama. Selama 6 tahun rakyat Madinah  merasakan perbaikan ketentraman dan keamanan.      Setelah  6 tahun berlangsung, Tulan Basya’ bin Muh. Ali Basya’ berhasil merebut  madinah dan mengembalikannya kepada kekuasaan Utsmaniyah.       Pada  tahun 1265 hijriyah ( 1844 Masehi ) dimulailah renovasi Masjid Nabawi.  Proses renovasi tersebut berlangsung selama 12 tahun.      Pada  tahun 1318 Hijriyah ( 1897 Masehi ) kota Madinah mulai terhubung dengan  Istambul dan negara  - negara lainnya melalui  stasiun radio yang besar dan kuat dibangun di Madinah.      Pada  tahun 1326 Hijriyah ( 1905 Masehi ) dibangunlah jalur Rel Kereta Api  yang membentang dari Damaskus hingga Madinah. Dengan adanya perkembangan  – perkembangan tersebut, Madinah berkembang pesat penduduknya, dari  jumlah awal yang hanya sekitar 10000 jiwa hingga mencapai angka 80.000  Jiwa.  Kehidupan sosial, perekonomian dan  perdagangan kembali bangkit.     Tahun 1334 Hijriyah (1931  Masehi ) adalah tahun terberat bagi Madinah. Terjadinya perang Dunia I  berefek juga terhadap stabilitas kota  Madinah. Pemimpin pasukan Utsmaniah, Ali Basya membangun benteng –  benteng pertahanan di Madinah untuk mempertahankan kota dari serangan Assyarif Husein dan  pasukannya. Rakyat dipaksa meninggalkan / mengosongkan kota Madinah. Assyarif Husein dan  pasukannya kemudian memblokade rakyat yang tetap tinggal di dalam  Madinah hingga 3 tahun lamanya yang kemudian mengakibatkan terjadinya  kelaparan dan kekurangan makanan di Madinah. Keadaan tersebut berhenti  ketika runtuhnya kekuasaan Utsmani dan keluarnya pasukan dari Madinah  pada tahun 1337 Hijriyah ( 1916 Masehi ). Selanjutnya tampuk  kepemimpinan Madinah diserahkan kepada Bani Hasyim. Sejak itu Madinah  kembali menjadi kota  yang kecil yang berpenduduk sekitar 15000 jiwa saja.     Kekuasaan  Madinah kembali melemah ketika terjadinya bentrok antara Bani Hasyim  dengan kerajaan Saudi. Akhirnya diambillah penyelesaian dengan jalan  Attauhid ( penyatuan ) dengan cara menyatukan Madinah dengan Saudi  menjadi satu kerajaan yang besar dan kuat oleh Raja abdul Aziz bin  Abdurrahman Ali Su’ud. Pada tanggal 19 Jumadil Ula 1344 Hijriyah ( 1923  Masehi ), utusan dari Madinah, berbaiat pada Raja Abdul Aziz.      Pada  tanggal 23 Rabiul Awwal 1345 hijriyah ( 1924 Masehi ) Raja Abdul Aziz  berkunjung ke Madinah dan bertatapmuka dengan pemuka – pemuka Madinah  dalam rangka membahas pengembangan Saudi yang termasuk di dalamnya  adalah wilayah Madinah.     Pada tahun 1370 Hijriyah  ( 1949 Masehi ) dimulailah pembangunan saudi, dimana di dalamnya  termasuk juga perluasan wilayah kota  Madinah dan Masjid Nabawi. Pemerintah membebaskan tanah disekitar  Masjid Nabawi. Termasuk juga wilayah serambi Utara Masjid Nabawi  dihancurkan untuk kemudian dipugar menjadi bangunan yang luas dan megah.       Pada tahun 1381 Hijriyah (  1960  Masehi ) berdirilah Universitas Madinah yang menerima para siswa dari  berbagai penjuru dunia. Berkembang juga lembaga – lembaga pendidikan  islam lainnya dibawah Universitas Muh. Ibnu Suud dan Universitas Raja  Abdul Aziz. Terbit juga Majalah Islam al Manhal dan Madinah Al  Munawwaroh.     Pengembangan besar –  besaran kerajaan Saudi termasuk juga masjid Nabawi terus berlangsung.  Pada tanggal 15 Safar 1405 Hijriyah ( 1984 Masehi ) dimulailah  pengembangan Madinah dan Masjid Nabawi dengan peletakan batu pertama.  Pengawasan dilakukan oleh Gubernur Madinah Pangeran Abdul Majid bin  Abdul Aziz. Pembangunan selama 9 tahun berlangsung tanpa henti tanpa  mengganggu  aktifitas ibadah umat Islam di masjid  Nabawi.     Pada tahun 1414 Hijriyah  ( 1993 Masehi ) pembangunan dan perluasan Masjid Nabawi menjadi 73000  meter persegi pun selesai dan kemudian diresmikan oleh raja Fahat bin  Abdul Aziz.  7 km dari masjid Nabawi pun dibangun  mesin pendingin raksasa yang disalurkan melalui pipa – pipa raksasa  menuju Masjid Nabawi untuk menciptakan kesejukan para peziarah.  Sedangkan lantai dasar masjid digunakan untuk tempat parkir kendaraan.       Tidak hanya Masjid Nabawi, masjid Kuba pun  dihancurkan dan direnovasi menjadi masjid yang megah seluas 13500 meter  persegi. Begitu juga dengan masjid Miqot yang dibangun seluas 90000  meter persegi.     Dibidang elektronika,  dibangun juga Industri rekaman dan percetakan al Quran yang mencetak  kitab al Quran dengan terjemahan dalam berbagai bahasa, dan dalam bentuk  kaset, video dan piringan hitam dalam jumlah yang sangat banyak hingga  ratusan juta mushaf .     Demikian riwayat singkat  sejarah Madinah dari Masa ke masa semoga bermanfaat bagi kita semua.  Amin.  Semoga Allah Swt selalu melimpahkan Rahmat keselamatan dan  hidayahNya kepada Rosululloh Saw, wa’ala alihi fil jasad wal batin  ngindal Ruh.      setapak menuju sufi ontologi puisi timurTuesday, February 23, 2010 4:38 PM       ONTOLOGI PUISI TIMUR “JEJAK SETAPAK SANG SUFI”  KARYA RAVIE ANANDA  Kumpulan puisi ini saya beri judul ONTOLOGI PUISI TIMUR “ JEJAK SETAPAK SANG SUFI “. Sengaja tercipta dalam sebuah perenungan akan hakikat hidup yang telah dapat terasa dalam keseharian raga, batin, dan ruh saya sebagai manusia yang dilekati daya cipta, rasa, dan karsa oleh sang Pencipta. Semua itu saya tuangkan dalam rangkaian huruf yang mewakili rasa, pemikiran dan keyakinan pribadi yang tersimpan rapi dalam diksi dan tipografi sederhana yang mungkin malu menampakkan jatidirinya dihadapan mata- mata pembaca dan pemerhati puisi ini. Ini adalah karya saya yang juga lahir oleh dorongan formalitas sebagai seorang mahasiswa Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah ( FKIP PBSID ) yang harus menyelesaikan tugas membuat kumpulan puisi ketika menempuh mata kuliah Puisi 3 di Universitas Muhammadiyah Purworejo pada tahun 2001/2002 silam. Terimakasih kepada dosen Puisi 3 saya , Drs. Wijaya Heru Santosa M.Hum yang telah membantu membidani kelahiran ontologi ini. Akhirnya semua ini bukanlah untuk sebuah nilai yang harus dicerca, tersalah , ataupun terlebihkan, melainkan sebagai suatu bukti nyata keberadaan seorang manusia yang membawa kekuatan dari Sang Pencipta yang dengan kehendakNya lah semua bisa terjadi.  Untuk semua Ruh yang berjiwa dalam raga, puisi ini tertuju.                                      1.  TUHAN YANG TAK PERNAH TERLAHIR  Karya Ravie Ananda     tuhaN yang tak pernah terlahir  terlahir dari rahim kebodohan     tuhaN yang tak pernah terlahir  terlahir dari seonggok berhala     tuhaN yang tak pernah terlahir  terlahir dari sepasang iblis     tuhaN yang tak pernah terlahir  terlahir dari beberapa manusia  tuhaN yang tak pernah terlahir  telah melahirkan dirinyA sendiri                               2.  O  TRAH  Karya Ravie Ananda  Dari sehelai batik yang melukiskan kejayaan masa lalu  Dan kenakan ia dengan lebih lekat  mengangkat tentang kehalusan budi  Budi dalam bendera warna  Dari sebilah keris yang melukiskan kejayaan masa lalu  Dan gengamlah ia dengan lebih erat  rasakan sebuah pemujaan agung  pemujaan bergaya klasik  pengakuan terdalam  dari para sukma dan roh suci  kepada tuhaN sejatI  tuhaN tanpa nama  Dari sekulit wayang yang melukiskan kejayaan masa lalu  dan tontonlah ia dengan lebih dekat  nikmati epos kolosal  kebanggan para leluhur tentang kehidupan  ketika tuhaN masih  menjadi tuhaN  saat ia bersifat  dan ketika debu kembali  tak berdebu     Dan...  Dari semua yang tak nampak  rasakan ia dengan lebih halus  maka temui ruang tak beruang  Ujud yang selalu abadi  Tanpa suara,tanpa warna sebagai suci  terjamahlah cipta  Puji  O      3.  NING  RAT   Karya Ravie Ananda     Hingga jaman telah renta  masih saja ningrat tertinggal  Apa memang dia gagah?  Aku rasa sedarah merah, serambut hitam  Atau membeda?  setuhan sanG  Ningratkah nyawa?     Yang pasti kain itu tersimpan dalam  almari waktu  ketika .....                                   semua berubah     4.  PENA  Karya Ravie ananda     Sesekali jangan,berguru pada guru  gurulah sekedar guru  sesekali  jangan, membhiksu pada bhiksu  bhiksulah sekedar bhiksu  sesekali jangan, memendeta pada pendeta  pendetalah sekedar pendeta  sesekali jangan menabi-nabi, mewali-wali  nabilah sekedar nabi  walilah sekedar wali  sesekali jangan memanusia  manusiawilah manusia  Temui  sanG  Bila ia...jelmakan gurU  Saat ia jubahkan bhiksU  Saat ia perankan pendetA  Ketika ia berpakaian nabI  Ketika ia bersenyum walI  Temu guru jadi guru  Temu Bhiksu jadi bhiksu  Dekat pendeta jadi pendeta  Dekat nabi jadi nabi  Kawan wali jadi wali  5.  NAFAS  Karya Ravie Ananda     Nafas timurku segan kepadamu  tapi jangan jajah saudaraku     Nafas Baratmu datang dari jauh  melintas laut  menyinggah pulau berpuluh darat  tapi jangan injak jantung pribumi     Biarkan nafasku dengan aroma timur  setelah hampir semua pribumi mati                                      6.  ISME ( Kun fa Ya Kun )  Karya Ravie Ananda     Masa lalu  ketika jiwaku sekarat  ada wajah yang sesekali tersenyum     Saat ini  ketika jiwaku sekarat   ada wajah yang sesekali menangis     Lusa  ketika aku mati  ada wajah yang sesekali tersenyum   ada wajah yang sesekali menangis     Esok   ketika detak menghenti  aku dan semua telah ber Tuhan                    7.  PARA PEMIKIR  Karya Ravie Ananda     Kebaikanmu membangun dunia dengan penemuan kata - kata  kejelekanmu bersekongkol mengikat bumi     Kemunafikanku membencimu  karna kebebasan     Aku bukan budak teori  walau makan teori     Dan  kalian bukanlah tuhaN  meski pencipta     Biar aku bebas  terbang hinggap sesuka hati  melirik nyanyian puisi  tanpa jaring     Tangkap bayangku dengan jaringmu  aku tetap terbang bebas  meski bumi terikat   penuh  8.  CARILAH LILINKU  Karya Ravie Ananda     Lilinku yang tinggal sepenggal  lilinku setetes dari lilin – lilin pemuja     Lilinku yang bisa menerangi  bila sebuah jiwa  mencari kebenaran bukan fatamorgana  ketulusan bukan nafsu     Maka   carilah lilinku  dengan mata batin  dalam tumpukan daun layu   Sayang  dalam tumpukan ranting  kering  Cinta     Carilah lilinku  seperti ketika kucari lentera  Dalam  kerajaan Sang dewi     Carilah lilinku     9.  HEY  CINTA  Karya Ravie Ananda     Selami lautmu  dan kau temukan pelangi     Singgahi langitmu   dan kau temui aku     Lepaskan jubahmu  dan kau sepertiku     Pejamkan matamu   dan kita telanjang rasa                                   10.  KABUNG  Karya Ravie Ananda     Dalam sebuah penghormatan terakhir  pada pemakaman kasih sayang     Kali ini   yang kutabur bukanlah mawar  yang kusiram bukan air mata  yang kurasa bukanlah duka  bahkan dendam     Adapun hanya nafas     Yang lain telah terkubur   bersama bangkai – bangkai hati  pada pemakaman kasih sayang  terdahulu                       11.  CINDERELA - CINDERELA  Karya Ravie Ananda      Cinderelamu terlanjur tidur  seperti bawang putihku yang masih koma  juga sampek intai yang terlanjur mati  atau Juliet yang terlanjur bunuh diri     Mereka tak akan terlahir  juga yang lain dari seluruh penjuru bumi     Cinderela tak lagi bersepatu kaca  Tak lagi polos     Cinderela dan yang lain telah mati  terkubur dalam reruntuhan istana centris     Cinderela palsu dan yang lain  terlahir dalam kekokohan materialis     Seorang pangeran yang masih selamat  masih mencari cinderela atau lainnya  dari kulit abad yang sejenis     Cinderela akan tetap lahir dari ketulusan  12.  ravie  Karya Ravie Ananda     Lemahku bukan siput  Raksasaku bukan maut  Tulusku menghancur Tembok cina dihatimu  Merata tebing - tebing afrika  Memancar mata air tak henti  Melautmerah gurun - gurun  Menghijau gelisahmu     Akuilah aku  Cintailah aku  Dustalah cinta                                   13.  SEKEPING HATI  Karya Ravie Ananda     Sekeping hati lebih dekat jarak planet  ketika aku singgah     Sekeping hati lebih dekat  jarakmu berlari  jauhmu sembunyi     Sampai ujung bumi pun  sekeping hati lebih dekat jarak planet     Sekeping hati tak berjarak  tanpa dekat  Ketika jalanku berterali                             14.  NOVEMBER  Karya Ravie Ananda  Kemarau tengah November ketika hujan baru saja tiba  mengering daun – daun muda  yang mungkin belum sempat melihat   indahnya Matahari terbit     Kemarau tengah November  saat jalanku baru saja basah  menyapu debu – debu kecemasan  membusukkan hampir seluruh akar hari     Titik hujan   menunggu sinar mentari pagi  dan hujan akhir tahun menghidupku                                   15.  LANGIT  Karya Ravie Ananda     Dari seorang sahabatku yang selalu berpesan  agar aku terus berjuang  agar aku terus bertahan  agar aku terus mencinta     Sampai tak seorangpun melari  Hingga tak seorangpun memergi  menyisa sesal, memercik tangis     Seperti sahabatku yang masih menyesali  karna bintangnya meredup  Saat ia terlelap     Karna bintangnya masih tampak  membentang diatas langit malam     Untuk sahabatku yang selalu berkata  “ Tak ada lagi bintang setelah ini “     Mintalah bintang pada langit        16.  25 Juli  Karya Ravie Ananda     25 Juli,  Ternyata kita tidak siap menjadi TuhaN  Seperti kau yang akhirnya terlahir     Sebelumnya  Mereka yang menangis  pada pemakamanmu terdahulu     Selanjutnya  mereka yang tersenyum  pada keberadaanmu saat ini     Nadiku bercerita  bahwa sempat bertemu kamu  sebagai seorang putri yang bijak  masa silam     Saat itu aku menjadi katak  pengagum putri  aku bersedih ketika kau mati  pada pencarian cinta        Tuhan terlau bijak  merubahku jadi manusia     Kali ini  aku bertemu kembali denganmu  membawa sesuatu yang kau cari  silam     Pencarianmu mungkin berakhir  dan aku tetap pengagummu     Meski esok aku seekor katak  Nyamuk  Burung     Meski esok aku seorang pangeran     Dan ketika esok kudapati langit berpuisi  “ berlabuh kudapati  Seonggok tanah tak bertumbuh  Tuankanku dan akan berbunga     Merangkai kepingan keliaran  untuk bersama merasakan  kebebasan diatas norma  manusia “        Keilmiahan yang objektif seorang ahliFriday, January 15, 2010 7:31 PMoleh ravie ananda
Sabtu Wage 15 Januari 2010

Dalam ketatabahasaan,kata ahli berasal dari bahasa arab, Dimana dalam  nahwu sorof bermakna penguasa dan atau menguasai. Adakalanya bisa  menduduki 2 fungsi tersebut, ada kalanya hanya 1 saja. Penguasa bisa  juga menguasai,atau tidak menguasai. Menguasai bisa juga jadi penguasa  atau jadi oposisi penguasa. Jika posisi berada pada pnguasa,baik  menguasai atau tidak,maka pergerakannya cendrung ke arah politik..meski  dengan data-data ilmiah. Tujuannya agar tetap berkuasa. Tentunya dalam  bidang masing-masing. Contoh dibidang sjarah misal, Darwin sang ahli  meneliti dalam waktu lama,dengan ilmiahnya,Data-data yg teruji,kemudian  sampai pada satu titik kesimpulan bahwa manusia brasal dari evolusi  kera. Teori teruji ini kemudian menguasai dan brkuasa di bidangnya dalam  waktu lama disluruh penjuru penelitian, Sampai akhrnya terpatahkan oleh  data-data lain yang teruji juga, oleh ahli yang menguasai,tetapi dari  pihak oposisi. Bahwa manusoa bukan brasal dari kera. Tentunya si oposisi  punya cara dan pendapat yang beda. Pada awalnya,ahli alias orangg yang  menguasai tersebut,karena pada jalan yangg bersebrangan dengan lajur  teori darwin,pasti mendapat cemooh..karena data yang truji saat itu  adalah milik darwin,tetapi ketika sang jaman telah berkehendak,maka  kesejatian yg tercibir pun menunjukkan sebuah kebenaran.begitu juga pada  bidang pertanian,ketika tahun 70 an paham organik tergeser oleh kimia.  Kini data uji kimia yang layaknya dewa, terpatahkan dengan fakta alami  tanah dan efeknya pada pemakai..maka GO ORGANIK lagi Kesimpulan catatan  saya ini, janganlah kita menutup diri dari berbagai  kemungkinan..mengunci dengan sebuah data, apalagi data dan metode luar  untuk mengunci sejarah bangsa ini. Meneliti sesuatu pnemuan adalah  sebuah prestasi, akan tetapi akan lebih luhur lagi sengaja menemukan  untuk. Kemudian diteliti,dimana kompas yang kita pakai adalah data  negeri ini sendiri, berupa babad-babad, crita rakyat, mitos dll ,yang  sebenar Bangsa ini bangga putra-putranya yang meneliti  penemuan-penemuan,tetapi bngsa ini lebih akan bangga jika putra-putranya  sengaja menemukan kesejatian NKRI,MENGGALI YANG TERKUBUR AKAN KEASLIAN  SEJARAH IBU PERTIWI YANG LUHUR,BUKAN MENGUBUR YANG SEHARUSNYA  TERGALI..KARENA SEMUA AWAL YANG BRASAL DARI TUHAN ADALAH BERSIFAT WAHYU  YANG ABSTRAK YANG KMUDIAN BARU DITELITI untuk dinyatakan sebagai jalan  pmbuktian kebenaran wahyu dan Tuhan, BUKAN SEBALIKNYA. Sudah saatnya  Timbuling tunjung terate NKRI. Amin.Bulan sura dlm dua sudut pandangFriday, January 15, 2010 7:29 PMoleh ravieananda
Sabtu Wage 15 Januari 2010

Bulan sura atau bulan muharram adl bulan yg disakralkan  masy.jawa,dgn mitos keramat,pnuh bilahi,shg kmudian dijadikan bln  prihatin,tdk boleh pindah rumah,menikah,atau hajatan lainnya bhkan jika  tdk perlu skali,untuk tdk bpergian.smentara itu bgi sgolongan  agama,misal islam(di indonesia),bln sura dianggap biasa,bhkan baik untuk  nikah,hajatan dll.mrk cnderung mengabaikan mitos masyarakat jawa ttg  sakralnya bln tadi. Trlepas dr percaya atau tdknya thd kekeramatan bulan  sura td,trnyata umat islam di iran dan irak khususnya menyakralkan juga  bulan tsb,bhkan menjadikannya sbg bulan brkabung,sebab dibulan muharram  itulah,tpatnya tgl 9(tasunga)dan tgl 10(asyura)terjadinya peristiwa  karbala,dmana dibantainya smua keluarga nabi muhammad,oleh lawan politik  kekhalifahan yg sama2 muslim pd wktu itu.puncaknya tgl 10 muharram dgn  dipenggalnya kepala husein cucu nabi. Husein bin fatimah binti muhammad  saw,dipenggal dan kmudian dipisahkan kepala dgn tubuhnya dlm 2 wilayah  yg brbeda sbg sbuah bntuk penghinaan.Brpangkal dr sejarah ini,apakah  kita sbg umat islam layak juga untuk menjadikan bulan sura sbg bulan  prihatin,keramat,brkabung?ataukah  lbh cnderung menganggap sbg bulan biasa dan menjadikannya sbg bulan  perayaan nikah,pindah rumah,pergi2 untuk brsnang2,mrayakan kbhagiaan  dsb?anda sbg muslim tntu lbh tahu.pustaka perdikan( riwayat kh. Imanadi pendiri masjid kauman kebumen )Tuesday, December 15, 2009 2:44 PMBEBUKA



 Buku alit punika kaparingan asma PUSTAKA PERDHIKAN. Dipun anggit dinten Jumat Kliwon, 11 Safar 1430 H/ taun JE 1942 utawi 06 Februari 2009 dening R. Muh. Rafi Ananda Basaiban kanti ngempalaken riwayat saha silsilah saking pra turunipun Suwargi KH. Imanadi ugi kanti penyelidikan awujud sumber – sumber kawontenan ing sejarah.
Riwayat kakempalaken saking panjenenganipun ;

1.KH. Sayyid R. Salim Al Mator Jatisari
2.Sayyid R. Sugeng Assyamsi Kauman

Buku kacetak kanti sederhana supados saged dipun waos dening pra putra wayahipun KH. Imanadi ingkang mbetahaken.
Kagem Pra putra wayah ingkang dereng kaserat wonten ing mriki kersaha nyerat piyambak – piyambak lan kahaturaken dhateng Sayyid R. Muh. Rafi Ananda wonten alamat Jalan Garuda 13 Kebumen Jawa – Tengah.
Wasana Buku Pustaka Perdhikan punika sageda manfangati kagem kita sami.
Amin.

Buku Pustaka Perdhikan nyariosaken riwayatipun KH. Imanadi saha silsilahipun dumugi putra wayah turunipun.

KH. Imanadi putranipun Pangeran Nurudin / Syekh Nurmadin bin Pangeran Marbut / Syekh Abdurrahman Rawareja. Dipun carioasaken bilih Pangeran Marbut punika salah satunggaling pangeran saking Mataram Kartasura. Pangeran Marbut rayinipun Pangeran Said / Syekh Mursyid Legok.
Pangeran Marbut dipun tugasi supados madosi Pangeran Said ingkang langkung rumiyin kesah saking kraton amargi mboten remen kaliyan Walandi ingkang pengaruhipun sampun mlebet wonten keluarga kraton wekdal samanten.
Pangeran Marbut lajeng tindak mangilen madosi keng Raka ngantos dumugi kepanggih wonten ing Rawareja. Siti Rawa dados dhusun ingkang reja sak sampunipun  Pangeran Said lenggah wonten ing mriku. Sak sampunipun kepanggih kalian keng Raka, Pangeran Marbut lajeng nyuwun dhumateng Pangeran Said kondur dhateng Mataram, ananging Pangeran Marbut malah dipun suwun ndherek merangi Walandi. Pangeran Marbut kagungan satunggal pemanggih kaliyan Pangeran Said, lajeng mboten sios kondur dhateng Mataram lan ndherek keng Raka merangi Walandi.
Pangeran Marbut kasuwun supados lenggah wonten Rawareja, dene Pangeran Said lajeng jengkar saking Rawareja supados mboten dipun curigani dening Walandi. Pageran Said tindak mangilen dumugi Legok, lajeng lenggah wonten ing mriku ngatos dumugi sedanipun ( pesarehanipun wonten sak wingkingipun masjid Legok ).
Pangeran marbut peputra Pangeran Nurudin / Syekh Nurmadin. Syekh Nurmadin ugi kados dene ingkang rama, tansah nglampahaken syiar Islam kanti mucali ngaos piwulang agami Islam wonten Rawareja lan tansah merangi Walandi, asring kanti dhedhemitan ( gerilya ).

Pangeran Nurmadin Peputra KH. Imam Manadi / Imanadi ingkang sak sampunipun dhiwasa lajeng lenggah wonten ing siti Perdhikan / Keputihan inggih punika siti ingkang merdhika, bebas saking pajeg. Siti punika lajeng kawastan siti Pesucen, ingkang sak terusipun  dados dhusun nami Pesucen.

Wonten ing Pesucen KH. Imanadi ugi tansah nerasaken perjuanganipun  ingkang Rama lan Eyangipun. KH. Imanadi nglampahaken syiar Islam wonten ing dhusun Pesucen. Panjenenganipun ugi sampun nate tindak dhateng Mekah kagem nglampahi haji lan ngaos Agami Islam, mila ngantos lenggah wonten ing Mekah sawatawis dangu.
Sak Konduripun saking Mekah KH. Imanadi dipun dadosaken panglima perang dening Pangeran Dhiponegara kagem wilayah Kebumen lan sak kiwa - tengenipun. Wondene panglima perang pusat dipun asta dening putranipun KH. Nur Iman Mlangi / KGPH. Sandeyo ( antawis taun 1825 – 1830 ). 

Kh. Imanadi sanget misuwur dados setunggaling priyantung ingkang Linangkung, tangguh ugi ahli strategi perang, ingkang asring kanti dhedhemitan ( gerilya ), Mila Panjenenganipun mboten gampil dipun cepeng dening Walandi. Walandi ngantos kuwalahan ngadhepi KH. Imanadi.
Wonten satunggaling wekdal, KH. Imanadi perang mengsah Walandi wonten sakpinggiring lepen LUKULA / Kali Gending. Panjenenganipun kepepek mboten saged mlajar malih. KH. Imanadi lajeng mlebet wonten ing lepen ( silem ) ngantos dangu mboten katingal. Walandi ingkang sumerep kalangkunganipun KH. Imanadi lajeng kanti sabar madosi turut lepen ngantos dumugi wekasanipun lepen LUKULA. Wonten ing mriku KH. Imanadi lajeng ngetingal lan lajeng dipun cepeng.

Kalangkunganipun  KH. Imanadi sanesipun babagan agami, inggih babagan politik, hukum, sosial lan ketatanegaraan ( pemerintahan ), ndadosaken Walandi sanget hormatipun lan sae dhumateng panjenenganipun sanajan wonten ing tahanan.

Ngleresi jaman Adipati Arung Binang IV ( 1833 – 1861 ) ingkang wekdal samanten ngasta pemerintahan Kebumen, wonten satunggaling wekdal sang Adipati pikantuk sasmita “ menawi badhe kiyat pemerintahanipun kedah manggihi lan sesarengan kaliyan  KH. Imanadi ingkang wekdal samanten taksih dados tahanan  politik. Adipati Lajeng ngedalaken KH. Imanadi saking tahanan lan ndadosaken panjenenganipun Pengulu Landrat I Kebumen. KH. Imanadi kersa dipun dadosaken Pengulu Landrat kanti syarat ingkang dados wakilipun inggih punika KH. Zaenal Abidin Banjursari Buluspesatren ingkang wekdal samanten taksih wonten tahanan amargi dados badalipun KH. Imanadi wekdal merangi Walandi.

Kh Imanadi ngasta dados Pengulu Landrat I Kebumen lan lenggah wonten ing Kebumen. Panjenenganipun mundhut siti sak kilenipun alun – alun Kebumen ingkang sak lajengipun kawastanan kampung Kauman. Siti ingkang pernah Tengah lajeng dipun dadosaken Mesjid ingkang sak mangke dados nami Masjid Agung Kauman Kebumen ( antawis taun 1832 ). Masjid ingkang sepindah dipun damel kanti modhel Joglo inggih punika ngagem 4 saka guru. KH. Imanadi damel saka guru saking kajeng jati ingkang dipun dugikaken saking kabupaten Ambal. Dipun cariosaken bilih adegipun saka 4 punika namung satunggal dalu inggih amargi angsal bantuan saking jin Islam saking Timur Tengah ingkang kawon juritipun kaliyan  KH. Imanadi nalika wonten ing Mekah. Jin punika asma Syekh Abdurrahman ingkang katelah ugi Mbah Wangsa. Jin punika nyuwun tumut KH. Imanadi kondur dhateng Kebumen. Panjenenganipun marengaken kanti syarat mboten hangganggu damel sedaya putra wayah lan turunipun.

Sekawan saka guru punika hingga sak punika taksih, ananging sampun dipun biantu cor.
Wiwit taun 1832 M dumugi sak punika Masjid sampun dipun renovasi ambal kaping 5. Renovasi paling ageng wonten ing warsa 2005.

Dumugi sak punika Imam Masjid sampun gantos ambal kaping 10, ingkang sedaya taksih kalebet putra wayahipun KH. Imanadi.

KH. Imanadi lenggah wonten Kauman ngantos dumugi sedanipun, ananging lajeng dipun sarekaken wonten pesarean Pesucen Wonosari, mboten sesarengan kaliyan Pangeran Nurmadin ( Ramananipun ) ugi Pangeran Marbut ( Eyangipun ) ingkang sumare wonten ing dhusun Rawareja.






Sak surutipun KH. Imanadi, Pengulu Landrat II dipun asta dening KH. Moh. Alwi ( salah satunggaling putra KH. Imanadi ).

Pengulu Landrat III dipun asta dening KH. Ali Khusen ( Ingkang sak lajengipun dados marasepuhipun KH. Ali Awal ) amargi wekdal samanten pra putra KH. Alwi taksih sanget timur.

Penguli landrat IV dipun asta dening KH. Ali Awal ( salah satunggaling putra KH. Alwi ).

Pengulu Landrat V dipun asta dening Kh. Abdul Fatah ,( amargi pra putra KH. Ali Awal taksih sanget timur )

Pengulu landrat VI / Pungkasan dipun asta dening KH. Abdullah Ibrahim ( putra pembajeng KH. Ali Awal kaliyan garwa ingkang kaping kalih ).

Wiwit taun 1946 Pengulu landrat dipun gantos dados Kantor Urusan Agama ( KUA ). Ingkang ngasta sepindah wonten KUA kebumen inggih punika KH. Efendi.

SILSILAH KH. IMANADI KEBUMEN

Pangeran Marbut / Syekh Abdurrahman ( Pesarehanipun wonten ing Rawareja ) peputra ;
Pangeran Nurudin / Syekh Nurmadin ( Pesarehanipun wonten ing Rawareja ) peputra ;
KH. Imanadi ( Pesarehanipun wonten ing Pesucen ) peputra ;
saking Garwa I ( Pringtutul Rawareja )
1.Nyi. Warna
2.Kyai Basar Kahfi
3.Moh. Alwi
4.Ali Khusen
5.Zakariya
6.H. Chasan
7.Bafiroh
8.Nyi Yohana

Saking Garwa II ( Putrinipun RA. Kamaludin / Garwanipun Pengulu Kraton Jogja binti BPA. Dipowiyono bin Sinuwun Hamengku Buwana II kaliyan garwa kaping 4 / RA. Erawati ) peputra    ;

1.Nyi Jawahir
2.H. Ahmad





Nyi Warna peputra ;


Kyai Basar Kahfi peputra ;

Moh. Alwi ( pesarehanipun wonten ing Pesucen ) peputra ;
1.Ali Awal Kauman
2.Alwi Pesucen
3.Hanawawi Kauman
4.Abdul Fatah

Ali Khusen peputra ;
1.Nyi Ali Awal Kauman ( turunipun mriksani turunipun Ali Awal Kebumen Garwa I )
2.Munada Prembun peputra :
1.Madrejo / Muh. Ikhsan peputra :
1. Mad Idris
2. Sumowiyoto
3. Datun
4. Kasim peputra :
1. Sumiati
2. Suprapti
3. Ciptadi Prembun peputra :
1. Ayu Muzayyanah
2. Rosi Ruvaida
4. Isni peputra :
1. Nuryaningsih
2. Dewi Anjarsari
5. Chomsiatun peputra :
1. Intan Heri Purwoko
2. Setyo Nugroho
6. Sri Rochimah
7. Sri Rasmini peputra :
1. Sunikmah
2. M. Mudrik As.
3.Bagus Ulinuha
4. M. Habiburrohman
5. M. Ulil Azmi
6. M. Ali Wafa
7. S. U. Sa'adah
8. M. Huda
9. Ayu
10. Afriyani
11. M. Fikri
8. M. Marsudi
9. Siti Jumarni
10. Sarmini peputra :
1. Aji Mustofa
2. S.A. Tsani
3. Fuad
5. Madinah
6. Poniah
7. Sarikem
8. Siti Asiyah

2.Dalil
3.Ardjo Mutofa
4.Saminem
Zakariya peputra ;
1.Nyi H. Ilyas Kutoarjo
2.H. Muh. Ilham Suraturunan
3.H. Muh. Aspan Suraturunan
4.H. Muh. Yusuf Kauman

H. Chasan peputra ;

Bafiroh peputra ;

Nyi Yohana peputra ;

Nyi jawahir peputra ;
1.Ali Mustafa peputra ;
1. Sastra
2. H. Muhson
3. Imam Pura
4. Sarbini
5. Dalail
6. Munirah
7. Nyai Madmarja

2.SanMunawar ( Lurah Pesucen )
3.Nyi Basar Kahfi
4.Nyi Sanmustafa
5.Ali Muntaha peputra ;
1. Muhsin
2. Muhson
3. Muhsonah
4. Munsarip
5. Munisah
6. Mutnginah

6.Mustahal
7.Abdul Anwar ( Siwedi Kutowinangun )
8.Marjuned ( Banjarnegara )
9.Nyi Madmurja  ( Kenteng Karangsari Kutowinangun )
10.Nyi Badariyah ( Nyi H. Nawawi ) peputra ;
1. Nyai Carik jetis
2. Nyai Ahmad
3. Nyai Badriyah
4. Haji Masyhud
5. Nyai Trafas
6. Maklum

11.Nyi Ramadipura ( Buluspesantren )
12.Nyi Satirah
13.Badarudin peputra ;
1. Nyi Ali Tsani Kauman ( Garwa I ) peputra ;
  1. Siti Khalimah Kauman peputra ;
 1. Mutoharoh

 2. Chafsoh Pekalongan peputra ;
 1. Arifin Pekalongan

2. Makmun Kauman peputra ;
  1. Rokhimah Tasikmalaya peputra ;

2. Kharisoh Rantewringin peputra ;
1. Nurul Kauman
2. Retno Rantewringin
3. Beni
3. Khotmah Tasikmalaya peputra ;

4. Halimah Tasikmalaya peputra ;

5. Honimah Kebumen peputra ;
1. R. Muh. Rafi Ananda / Tuti Khusniati Al Maki
2. Aila Rezannia / Poedjo Raharjo
6. Soimah Kauman peputra ;
1. Arif Hidayat
2. Titin Rahayuningsih
3. Teguh Priyatno
4. Nur Fatmawati
5. Diyah Kurniasari

3. Nyi Maklum Kauman

H. Ahmad peputra ;
1.Ibunipun Nyi. H. Ali
2.Nyi Mangku
3.Madnur
4.Toyib

KH. Ali Awal bin Moh. Alwi kaliyan Garwa I peputra ;

1.Nyi Abdul Manan I ( Sepuh )Kemangguan Alian
2.Kyai Ismail Karanganyar Kebumen
3.Nyi Abdul manan II Kemangguan Alian
4.Nyi Zaenudin Pekeyongan
5.Nyi Hanan Plumbon peputra ;
1. Pengulu Ridwan/ Rilwan peputra ;
1. Rughoyah / Makmun Kauman
2. Rofqoniyah / Kyai Matori Jatisari peputra ;
1. KH. Sayyid R. Salim Al Mator peputra ;
1. Tobagus Muslihudin Aziz
2. Hikmatul Hasanah
3. Maksumah Kurniawati
4. Musyafa Firman Iswahyudi
5. Retno Auliyatussangadah
6. Eta Fatmawati Auliyatul Ummah

2. Songidah peputra ;

3. Sangadatun Diniyah peputra ;

4. Kyai Khumsosi Al Matori peputra ;
1. Siti Khulasoh
2. Siti Fatimah
3. Lukman Zein
4. Anis Siti Karimah
5. Siti Khomsiati
6. Anas Mufadhol

5. H. Makmuri peputra ;

6. Muslim peputra ;

3. Sanusi Prembun peputra ;
1. Sol
2. Salamah Balingasal Prembun

4. Sugeng peputra ;

5. Dulkodir peputra ;

6.Kyai Tohir Kedungtawon Kutowinangun peputra ;

Kyai Kosim Kedungtawon Kutowinangun peputra ;

KH. Ali Awal kaliyan Garwa II peputra ;
1.KH. Abdullah Ibrahim Kauman ( Pengulu Landrat terakhir ) peputra ;
1. Siti Khotijah / Zaenal Kauman
2. Siti hajatiyah / Mbah Jamaksari Somalangu
3. Ashariyah / Mustofa Banjarnegara
4. Umi Kulsum / Sumbono
5. Maimunah / Ali Siroj ( Purworejo )
6. Mariyah / Sumbono
7. Hasim
8. Maryatini / Masngudin
9. Johariyah / kagarwa Sururudin, lajeng kagarwa dening Kyai Jamaksari Somalangu
10. Sri Kartini

2.Moh. Soleh peputra ;
1. Yusuf Soleh
2. Taslimah / Daqir Pekeyongan
3. Slamet Soleh
4. Musngidah / Masngud Prembun peputra ;
1. Dalail
5. Makmunah / Tahrir
6.Asyiah / Ngalimun Prembun

3.Siti Khalimah Wanasara / Abdullah sepuh peputra ;
1. Aminah Wanasara peputra ;
1. Muhtar

2. Mutiah Krakal peputra ;
1. Roh

4.H. Ali Tsani Kauman peputra ;
Garwa I
1. Siti Khalimah Kauman peputra ;
1. Mutoharoh
2. Chafsoh Pekalongan peputra ;
1. Arifin Pekalongan

 Garwa II ( Sayyidah Isti Sangadah binti Sayyid Muh. Fadil bin Sayyid Muh. Zein Solotiang bin Sayyid Muh. Alim Bulus Purworejo )
1.Mahmud Ali Kauman peputra ;
1. Arif Mustofa

2.Isti Chamidah peputra ;
1. M. Sudjangi
2. Sugeng Assyamsi
3. Abdul Rozak
4. Lukman Hakim
5. Abdus Somad
6. M. Mahfud
7. M. Murtadlo

5.Abdul Wahab peputra ;
1. Moh Alwi Tejasari Kawedusan peputra ;
1. Ikhsan Alwi

2. Syamsi / Isti Chamidah

Khoul KH. Imanadi dipun wontenaken saben tanggal 14 Ruwah wonten ing serambi Masjid Pesucen Wonosari.

Wasana sinigeg semanten kemawon riwayat saha silsilahipun KH. Imanadi. Mugi – mugi handadosaken pepenget saha tuladhanipun khusus dhateng pra dharahipun, dhateng pra kathah umumipun. Amin



       Kebumen, 06 Februari 2009




       Sayyid R. Muh. Rafi Ananda

















Wasana sinigeg samanten kemawon riwayat saha silsilahipun KH. Imanadi. Mugi – mugi handadosaken pepenget saha tuladhanipun khusus dhateng pra dharahipun, dhateng pra kathah umumipun. Amin

Pustaka Perdhikan
Buku alit punika kaparingan asma PUStaka perdhikan. Dipun anggit dinten Jumat Kliwon, 11 Safar 1430 H/ taun JE 1942 utawi 06 Februari 2009 dening Sayyid R. Muh. Rafi Ananda kanti ngempalaken riwayat saha silsilah saking pra turunipun Suwargi KH. Imanadi ugi kanti penyelidikan awujud sumber – sumber kawontenan ing sejarah.
Riwayat kakempalaken saking panjenenganipun ;
1.KH. Sayyid R. Salim Al Mator Jatisari
2.R. Sudjangi Kauman

Buku kacetak kanti sederhana supados saged dipun waos dening pra putra wayahipun KH. Imanadi ingkang mbetahaken.
Kagem Pra putra wayang ingkang dereng kaserat wonteng ing mriki kersaha nyerat piyambak – piyambak lan kahaturaken dhateng Sayyid R. Muh. Rafi Ananda wonten alamat Jalan Garuda 13 Kebumen Jawa – Tengah.
Wasan buku pustaka Perdhikan punika sageda manfangati kagem kita sami.
Amin.
Kebumen, jumat kliwon, 06 Februari 2009

Sayyid R. Muh. Rafi Ananda Basaiban






      




     Kebumen, Jumat Kliwon, 06 Februari 2009




      Sayyid R. Muh. Rafi Anandariwayat kyai nur iman mlangi /Rm. Sandeyo ( Tarikh Nur Iman )Tuesday, May 25, 2010 8:04 PMTARIKH
NUR IMAN
MUHYIDIN ARROFI’I


Nyariosaken Riwayat Saha Silsilahipun
KGPH. KARTASURA RM. SANDEYO / KYAI AGENG NUR IMAN MLANGI
LAN
RM. MANSYUR MUHYIDIN ARROFI’I / KYAI GURU LUNING






dipun anggit dening :
Sayyid R. Muh. Ravie Ananda
Kebumen








BEBUKA




Kebumen, Selasa Legi 17 Februari 2009 / 22 Safar 1430 H / tahun Je, Wuku Warigalit 1942

Mugi Gusti Kang Maha Asih tansah maringi Rahmat lan Welas Asihipun dhumateng Kyai Ageng Nur Iman Mlangi / KGPH Kartasura  RM. Sandeyo lan Kyai Guru Luning RM. Mansyur Muhyidin Arrofi’i saha sedaya garwanipun sumrambah pra putra wayah turunipun ing dalem Agami, Dunya dumugi Akhiratipun, ing dalem Jasad, Batin dumugi Ruhipun.

Kitab punika kaparingan asma “ TARIKH NUR IMAN MUHYIDIN ARROFI’I “, dipunanggit dening Sayyid R. Muh. Ravie Ananda ingkang mapan wonten ing Jalan Garuda 13 Kebumen 54311 Jawa - Tengah, salah satunggaling putra wayah turunipun Kyai Nur Iman Mlangi kaliyan garwa Putri Cina tedhak kaping pitu / putra wayah turunipun Kyai Guru Luning kaliyan garwa Alang – Alang Amba tedhak kaping nem.

Carios lan Silsilah dipunhimpun saking Pra Turunipun Kyai Nur Iman Mlangi lan Kyai Guru Luning, ugi kapundhut saking Seratan Sejarah Nasional lan Pustaka Dharah ingkang dipunlarasaken kaliyan kaleresanipun kawontenan ing sejarah .

Kitab punika dipunanggit kanti pikajeng ngluhuraken, bektos lan gumatos dhateng pra Leluhur ingkang nurunaken kita sami, khususipun Kyai Ageng Nur Iman Mlangi ( KGPH. Kartasura RM. Sandeyo ) lan Kyai Guru Luning ( RM. Mansyur Muhyidin Arrofi’i ).

Mangertosi Sangkan kita, apesipun saged mangertosi paran kita. Ngumpulaken balung pisah, amargi sampun titi wancinipun Pra dharah Mataram, Pra dharah Tanah Dhawa RI sami wungu, rukun, gotong – royong, Memayu Hayuning Dhiri, Keluarga, Agami, Nungsa lan Bangsa Tanah Dhawa RI, ingkang dhayanipun saged hambantu nyirnakna reridhuning Negara.


Sura Dhira Jayaningrat kabeh Lebur dening Pangastuti. Rahayu.. Amin 







Kebumen, Selasa Legi 17 Februari 2009



        Sayyid R. Muh. Ravie Ananda








Kitab Tarikh Nur Iman Muhyidin Arrofi’i punika dipunwiwiti saking riwayat wiosipun Kyai Nur Iman Mlangi ( KGPH. RM. Sandeyo ) ngantos dumugi surutipun Kyai Guru Luning ( RM. Mansyur Muhyidin Arrofi’i ).

 Dipunwiwiti saking silsilahipun, Kyai Nur Iman Mlangi punika putranipun RM. Surya Putra / Kanjeng Gusti Sinuwun Amangkurat Jawi / Amangkurat IV kaliyan Garwa I ingkang asma RA. Retno Susilowati ( putrinipun Adipati Wiranegara / Untung Surapati ).

 RM. Surya Putra punika putranipun Pangeran Puger / Pakubuwana I / Amangkurat II Kartasura kaliyan Garwa Ratu Mas Blitar ( tedhak turunipun Pangeran Juminah bin Panembahan Senopati kaliyan garwa Retno Dumilah putri Madiun ).

Riwayatipun Kyai Nur Iman Mlangi kathah gegandenganipun kaliyan sejarah perjuangan bongsa kita. Wonten ing tanggal 06 Juli 1704, Pangeran Puger ingkang kagungan asma RM. Drajat ( putranipun Kanjeng Gusti Sinuwun Amangkurat I kaliyan garwa saking keturunan Kajoran ) dipunwisuda jumeneng nata “ Susuhunan Pakubuwana Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa “ utawi Pakubuwana I. Miturut seratan sejarah, Pangeran Puger ugi nate jumeneng nata Amangkurat II amargi Keng Rama kaliyan kangmasipun ingkang asma RM. Rahmat crah. Pramila Pangeran Puger lajeng kawisuda dados putra mahkota. Wontenipun kraman Trunajaya ing warsa 1677, RM. Rahmat nampik dawuhipun Keng Rama ( Amangkurat I ) supados hanjagi Kraton Mataram Kertasura ingkang wekdal semanten kutarajanipun wonten ing Plered. Panjenenganipun jengkar ngili mangilen.Pangeran Puger lajeng mandhegani ngayahi dhawuhipun Keng Rama kagem bukti bilih mboten sedaya keluarga Kajoran hambiyantu Trunajaya. Kanti kedadosan punika wau Pangeran Puger jumeneng nata Amangkurat II. Ananging amargi kekiyatanipun mengsah ingkang sanget  ageng, Panjenenganipun lajeng jengkar dhateng Jenar. Wonten ing Jenar Panjenenganipun yasa Kraton Purwakanda ingkang pusatipun wonten ing Jenar. Panjenenganipun jumeneng nata kanti gelar “ Susuhunan Ing Ngalaga “. Sak sampunipun Trunajaya wangsul dhateng Kediri, Plered dipunrebut malih dening Susuhunan Ingalaga ( Pangeran Puger ) lan ngusir sedaya prajuritipun Trunajaya ingkang taksih wonten ing mriku.
Amangkurat I seda wonten ing laladan Tegalwangi / Tegal Arum. RM. Rahmat jumeneng nata Amangurat II tanpa tahta amargi Plered ingkang dados kutaraja Mataram wekdal semanten dipunjagi lan dipunlenggahi dening Pangeran Puger ingkang mboten kersa ngili.

Amangkurat II RM. Rahmat yasa kraton enggal kanti asma Kertasura wonten ing wulan September 1680. Panjenenganipun lajeng nimbali Amangkurat II ( Pangeran Puger ) supados dados setunggal kaliyan Panjenenganipun, ananging Pangeran Puger mboten kersa. Pramila lajeng wonten kedadosan perang sedherek wonten ing tanggal 28 November 1681.

Susuhunan Ing Ngalaga Amangkurat II ( Pangeran Puger ) nyerah dhateng Jacob Couper, pimpinanipun  VOC., ingkang hambiyantu Amangkurat II ( RM. Rahmat ). Susuhunan Ing Ngalaga lajeng jumeneng nata kanti asma Pangeran Puger malih, wondene RM. Rahmat jumeneng nata Amangkurat II.

Sikap lan solahbawanipun Pangeran Puger kaliyan RM. Rahmat punika benten Sanget. Amangkurat II langkung alit manahipun lan mboten jejeg tekadipun, wondene Pangeran Puger punika Sanget tegas. Pramila gelar Amangkurat II wekdal semanten kados dene pralambang ( simbol ) kemawon amargi ingkang langkung kathah nglampahaken roda pemerintahan inggih Panjenenganipun Pangeran Puger ingkang panci dipundadosaken astatengenipun Amangkurat II ( RM. Rahmat ). Pangeran Puger Surut wonten ing warsa 1719.

Salahsetunggaling putranipun Pangeran Puger inggih punika RM. Surya Putra. Panjenenganipun  lolos keprabon saking kraton amargi mboten remen kaliyan kawontenaning kraton wekdal semanten ingkang sampun kenging pakerti adudombanipun Walandi ingkang handadosaken keluarga kraton sami crah lan rebut panguwaos. Panjenenganipun tindak dhateng pernah wetan / brang wetan ngantos dumugi pesantren Gedangan Surabaya ingkang dipunasta dening Panjenenganipun Kyai Abdullah Muhsin. RM. Surya Putra lajeng nyantri wonten ing mriku lan hanggantos nami Muhammad Ihsan.
Wonten ing satunggaling wekdal, pesantren Gedangan ngawontenaken pengaosan selapanan ingkang wekdal semanten dipunrawuhi ugi dening Adipati Wiranegara ( punika gelar paringan Amangkurat II dhateng Untung Surapati ingkang sampun tumut hambiyantu mejahi Pimpinan Kompeni ingkang asma Kapten Tack ). Muh. Ihsan dados ketua santri lan dherek ngladosi daharan kagem pra tamu. Wekdal M. Ihsan ngladosi daharan wonten ngarsanipun Adipati, Panjenenganipun dipunpriksani kanti taliti dening Sang adipati wau. Adipati Wiranegara yakin sanget bilih sampun nate kepanggih kaliyan Muh. Ihsan lan Panjenenganipun punika wau salahsetunggaling bangsawan. Pramila sakcekapipun pengaosan, Sang Adipati mboten lajeng kondur, ananging lajeng handhawuhi Kyai Abdullah Muhsin  supados Panjenenganipun nimbali santri ingkang asma Muh. Ihsan punika wau. Saksampunipun pepanggihan lan wawansabdha, lajeng dipunmangertosi bilih Muh. Ihsan punika panci salahsetunggaling bangsawan. Panjenenganipun Muh. Ihsan lan Adipati Wiranegara lajeng dhawuh dhumateng Kyai Abdullah Muhsin supados Panjenenganipun Kyai kersa hanjagi wadosipun Muh. Ihsan, supados kulawarga kraton mboten mangertos. Sakderengipun kondur, Sang Adipati ugi nyuwun kanti sanget supados Panjenenganipun Muh. Ihsan kaliyan Kyai Abdullah Muhsin kersa tindak dhateng kadipaten.

Sak sampunipun Muh. Ihsan rawuh wonten ing kadipaten kaliyan Kyai Abdullah Muhsin, Panjenenganipun dhawuh dhumateng Adipati supados hanjagi wadosipun. Sanesipun punika, Sang Adipati lan Kyai Abdullah Muhsin ugi nyuwun kanti sanget supados Muh. Ihsan kersa dipunpundhut putramantu dening Adipati Wiranegara. Akhiripun Muh. Ihsan dipunkramakaken kaliyan putrinipun  Adipati Wiranegara ingkang asma RA. Retno Susilowati. Saksampunipun krama, Keng Garwa wau lajeng dipunboyong dhateng pesantren Gedhangan.

Gantos carios, sakpungkuripun RM. Surya Putra lolos keprabon, Kraton Matram langkung awon kawontenanipun. Dumugi satunggaling wekdal, lenggahipun RM. Surya Putra dipunmangertosi dening kulawarga Kraton. Sinuwun Nata lajeng utusan supados manggihi RM. Surya Putra wonten ing Gedhangan lan dipunsuwun supadhos kondur dhateng Kraton. Saksampunipun kepanggih lan wawansabdha kaliyan RM. Surya Putra wonten ing pesantren Gedhangan, utusan wau lajeng nyuwun supados RM. Surya Putra kondur. Amargi punika wau dhawuhipun  Sang Nata, pramila RM. Surya Putra mboten wantun nampik. Panjenenganipun lajeng pamitan dhateng Kyai Abdullah Muhsin lan ndherek titip Keng Garwa ingkang wekdal semanten mboten saged dipunboyong dhateng Kraton amargi saweg ngandhut sepuh. RM. Surya Putra ugi dhawuh dhateng Kyai Abdullah Muhsin supados mbenjang menawi putranipun sampun  miyos, lan menawi miyosipun kakung supados dipunparingi asma RM. Sandeyo, wondene menawi putri sumangga Kyai anggenipun maringi asma. Sanesipun wau Kyai ugi dipunsuwun supados ngrimat lan hanggulawentah Keng putra kanti sae lan saestu amargi mbenjang menawi sampun dhiwasa badhe dipunpundhut kondhur dhateng Kraton.

Sakduginipun RM. Surya Putra wonten ing Kraton, Panjenenganipun lajeng kawisuda jumeneng nata “ Sinuwun Amangkurat Jawi / Amangkurat IV “. Panjenenganipun jumeneng  nata wiwit 1719 dumugi 1726.

Sak pungkuripun RM Surya Putra punika wau kondhur dhateng Mataram, saestu putranipun miyos kakung. Dening Kyai Abdullah Muhsin lajeng dipunparingi asma RM. Sandeyo kados dhawuhipun RM. Surya Putra. Sanesipun  punika, dening Kyai Abdullah Muhsin, lare punika ugi dipunparingi asma Nur Iman. Kyai yakin sanget bilih benjang menawi sampun titiwancinipun, Nur Iman badhe dados ulama ingkang misuwur luhuripun.

Satunggaling wekdal, Sinuwun Amangkurat Jawi kengetan bilih Panjenenganipun  kagungan garwa ingkang dipuntilar wonten ing pesantren Gedhangan, ingkang wekdal semanten saweg ngandhut sepuh. Menawi miyos lan sugeng ngantos wekdal semanten, mbok bilih putranipun sampun  dhiwasa. Sang Nata lajeng utusan supados madhosi Keng putra wonten ing pesantren Gedhangan, mbok bilih dipunparingi sugeng. Saksampunipun  kepanggih lan wawansabdha kaliyan RM. Sandeyo ingkang saestu taksih sugeng lan sampun  dhiwasa, utusan wau lajeng nyuwun supados RM. Sandeyo wau kersa kondur dhateng Mataram kadhos dhawuhipun Sang Nata ( Keng Rama ). RM. Sandeyo kersa kondur ananging mboten kersa sesarengan kaliyan utusan wau. Sakderengipun kondur, Panjenenganipun midhangetaken sedaya aturipun Keng Ibu lan Kyai Abdullah Muhsin ingkang sampun nggulawentah wiwit miyos. Sakcekapipun punika wau RM.,Sandeyo lajeng nyuwun pamit. Konduripun  RM. Sandeyo dhateng Mataram dipundherekaken dening rencang raketipun kalih ingkang asma Sanusi lan Tanmisani. Wonten ing margi, Panjenenganipun RM. Sandeyo kaliyan rencang kekalih wau tansah nyebaraken syiar agami Islam kados dhawuhipun Kyai Abdullah Muhsin. Panjenenganipun yasa pinten – pinten pesantren, pramila duginipun wonten ing Mataram radi dangu. Pesantren – pesantren yasanipun Kyai Nur Iman punika wau wonten ing Ponorogo, Sepanjang lan Pacitan.

Sakduginipun wonten kraton, RM. Sandeyo lajeng sungkem dhateng Keng Rama lan lajeng dipuntepangaken kaliyan sedaya kulawarga lan rayinipun. Panjenenganipun lajeng dipunwisuda dening Keng Rama ( Amangkurat Jawi ) dados “ Nayaka Agung ( Kanjeng Gusti Pangeran Hangabehi Kertasura ) lan lenggah wonten ing Sukowati.

Amargi wiwit alit dumugi dhiwasa RM. Sandeyo punika ingkang dipun udhi ing saben dintenipun inggih babagan agami Islam lan mesuh luhuring budhi, pramila Panjenenganipun RM. Sandeyo mboten kersa kaliyan ulahkaprajan. Panjenenganipun namung kepingin damel pesantren kagem mucali agami Islam. Kedadosan makaten ingkang akhiripun handadosaken RM. Sandeyo lolos keprabon dipundherekaken abdi kekalih ngleresi wekdal wontenipun perang sedherek ( antawisipun RM. Said / Pangeran Sambernyawa kaliyan Pangeran Mangkubumi / RM. Sujono ) .

 RM. Sandeyo tindak mangilen pados panggenan ingkang sae lan berkah kagem dipundamel pesantren. RM. Sandeyo tansah mucali Agami Islam lan nuwuhaken tresna dhateng Negari, dhateng sinten kemawon tiyang ingkang dipunpanggihi.  Dumugi ing satunggaling wekdal, Panjenenganipun lajeng nglampahi tapa brata dipunderekaken abdi kekalih. RM. Sandeyo nyuwun dhumateng Gusti Kang Maha Agung supados dipunparingi sasmita panggenan punika. Akhiripun wonten ing wanci Duha, Panjenenganipun pikantuk sasmita panggenan ingkang manter mawa cahya ugi hamambet arum. Sak sampunipun pikantuk sasmita makaten, RM. Sandeyo lajeng kendel tapanipun lan damel slametan saking bubur jagung ingkang dipuncampur kaliyan ingkung. Sak sampunipun damel selametan makaten, siti ingkang taksih awujud wana punika lajeng dipunbabad lan dipundamel pesantren Ageng, masjid lan palenggahanipun ( Panggenan tapa wau lajeng dipundadosaken pasujudanipun RM. Sandeyo ingkang sak mangke wonten ing tengahipun Saka Guru Mesjid Mlangi, dene palenggahanipun RM. Sandeyo sakmangke wonten ing pernah kilen kidulipun mesjid Mlangi, ugi ingkang dados pondhokipun Kyai Nawawi ).

Saksampunipun dados dhusun, panggenan punika lajeng kaparingan asma Dhusun Mlangi amargi panggenanipun mulangi ( mucali ) ngaos agami Islam lan mambet wangi ( arum ). Wondene panggenan lenggahipun Abdi kekalih inggih wonten ing sakkidulipun dhusun Mlangi ingkang sakterusipun kawastan Dukuh.Wiwit dinten punika RM. Sandeyo kasebat Kyai Nur Iman Mlangi.

Wonten ing setunggaling wekdal, Kyai Nur Iman tindak mengilen ngantos dumugi laladan ingkang kawastan Kulon Progo. Rawuhipun Kyai Nur Iman dipuntampi kanti sae sanget dening Demang ingkang asma Hadiwangsa ( panguwaos laladan Gegulu ). Demang sakkulawarganipun lajeng ngrasuk Agami Islam. Dening Demang wau, Kyai Nur Iman lajeng dipunsuwun supados kersa dipunpundhut putramantunipun. Kyai Nur Iman lajeng dipunkramakaken kaliyan putrinipun Demang Gegulu ingkang asma Mursalah, dene rencangipun ingkang asma Sanusi dipunkramakaken kaliyan putrinipun Demang Gegulu ingkang asma Maemunah. Tanmisani ugi pikantuk putrinipun Demang Gegulu ingkang asma Romlah.

Gantos carios, crahipun kekalih rayinipun Kyai Nur Iman saged dipunleremaken kanti setunggal perjanjian wonten ing dhusun Giyanti, pramila lajeng katelah perjanjian Giyanti ( wonten ing warsa 1755 ) ingkang isinipun :

1.Kraton Mataram Kertasura dipunbagi dados kalih; Saking Prambanan mangetan dados kagunganipun Susuhunan Paku Buwana III, dene saking Prambanan mangilen dados kagunganipun Pangeran Mangkubumi, kutharaja wonten ing Ngayogjakarta.

2.RM. Said / Pangeran Sambernyawa dipun paringi palenggahan dados Adipati Mangkunegara I lan dipunparengaken yasa pura ingkang saklajengipun kawastan Pura Mangkunegaran.

Wekdal Kyai Nur Iman tindak dhateng pernah wetanipun Kali Progo, wonten ing dhusun Kerisan, Panjenenganipun kepanggih kaliyan Pangeran Mangkubumi. Kyai Nur Iman dipunsuwun supadhos kondur dhateng kraton Ngayogjakarta, ananging Panjenenganipun mboten kersa.

Wonten ing warsa 1776 ngleresi jumenenganipun Pangeran Mangkubumi Nata Mataram Ngayogjakarta Hadiningrat kanti asma Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senopati ing Ngalaga Khalifatullah Ngabdurrahman Sayidin Panatagama ingkang Jumeneng Sepisan, ingkang lajeng katelah Hamengku Buwana I, siti Palenggahanipun Kyai Nur Iman inggih punika dhusun Mlangi dipundadosaken Siti Perdhikan Mlangi.

Jamanipun Hamengku Buwana I punika katelah jaman Rejanipun / Jaman Kencananipun Kraton Ngayogjakarta. Sak surutipun Hamengku Buwana I, ingkang hanggantos nata inggih punika putranipun ingkang asma RM. Sundoro ingkang kawisuda jumeneng nata Hamengku Buwana II. Panjenenganipun sanget tresna dhateng negari lan rakyat. Punika ketingal saking saenipun lelabetan antawis Ulama kaliyan Umaro. Wekdal punika Kyai Nur Iman ngaturi pemanggih dhateng Hamengku Buwana II supadhos yasa sekawan mesjid Ageng kagem jangkepi lan handampingi mesjid ingkang sampun wonten inggih punika mesjid wonten ing kampung Kauman / wonten ing sisihipun Kraton. Mesjid ingkang badhe dipundamel punika wonten ing sekawan pernah lan dipunwastani Masjid Patok Nagari. Sekawan Mesjid wau inggih punika :

1.Ingkang wonten ing pernah Kilen, wonten ing Dhusun Mlangi ( sak derengipun sampun wonten ananging taksih alit lan sederhana, inggih punika mesjidipun Kyai Nur Iman ) dipunasta dening Kyai Nur Iman ;

2.Ingkang wonten ing pernah Wetan, wonten ing Dhusun Babadan, dipunasta dening putranipun Kyai Nur Iman ingkang asma Kyai Ageng Karang Besari ;

3.Ingkang wonten ing pernah Ler, wonten ing dhusun Ploso Kuning, dipunasta dening putranipun Kyai Nur Iman ingkang asma Kyai Mursodo ;

4.Ingkang wonten ing pernah Kidul, wonten ing dhusun Dongkelan, dipunasta dening putranipun Kyai Nur Iman ingkang asma Kyai Hasan Beshari.

Sekawan mesjid wau lajeng kawastanan mesjid Kagungan Dalem utawi masjid Kasultanan. Sedaya pengurus mesjid wau wekdal semanten kadadosaken abdi kraton.

Perang Diponegoro
Pangeran Diponegoro punika putranipun Hamengku Buwana III kaliyan garwa Ampeyan ingkang asma RA. Mangkarawati. Wiwit alit Pangeran Diponegoro mboten dipungulawentah tiyang sepuhipun, ananging dening Eyang Buyut Putrinipun ingkang asma Ratu Ageng ( garwanipun HamengkuBuwana I ), wonten ing Perdhikan Mlangi. Pangeran Diponegoro kagungan semangat Jihad Fisabilillah ingkang ageng sanget. Punika katingal saking agemanipun. Perang Diponegoro ingkang dipunwiwiti saking warsa 1825 ngantos dumugi ing warsa 1830 punika kathah sanget gegandhenganipun kaliyan pra putra Kyai Nur Iman. Putranipun Kyai Nur Iman ingkang asma Kyai Salim gugur wonten ing dhusun Ndimoyo lajeng katelah Kyai Sahid. Lereping perang Diponegoro punika kanti pakarti licikipun Walandi ingkang nglampahaken perundingan. Putranipun Kyai Nur Iman Ingkang asma Kyai Hasan Beshari ingkang dados pengawal pribadinipun Pangeran Diponegoro ugi ndherek dipuncepeng lan dipunkunjara wonten ing Manado ngantos dumugi sedanipun.

Sak surutipun Perang Diponegoro, Walandi ngadhep Hamengku Buwan III lan mitenah kanti matur bilih Pangeran Diponegoro sakpenderekipun punika pemberontak. Kedadosan makaten wau ingkang dadosaken pra prajuritipun Pangeran Diponegoro kalebet ugi pra putra wayahipun Kyai Nur Iman mboten wantun kondur dhateng Mlangi. Pundi panggenan ingkang dipunanggep aman lajeng dipunlenggahi. Punika ndadosaken sumebaripun pra turunipun Kyai Nur Iman, mboten namung wonten ing Jawi Tengah lan Ngayogjakarta kemawon. Wondene Kyai Nur Iman tetep lenggah wonten ing dhusun Mlangi ngantos dhumugi sedanipun.
 Pangupajiwanipun  Kyai Nur Iman Mlangi inggih saking pamedal tetanen sabin. Wiyaripun sabin Kyai Nur Iman inggih sakwiyaripun suwanten bedug taksih kapireng. Sanesipun saking tetanen, Kyai Nur Iman ugi pikantuk kasil saking Kraton Ngajogjakarta. Punika amargi wekdal awal adegipun Kraton Ngayogjakarta inggih sebab wontenipun perjanjian Giyanti taun 1755 M, Kyai Nur Iman dipunwisuda Jumeneng nata “ Ingkang Sinuwun Hamengku Buwana I Ngayogjakarta “ ananging mboten kapanjang, amargi sayektosipun Kyai Nur Iman mboten kersa., namung karana kawontenan nagari wekdal semanten ingkang mboten aman, pramila sedaya nyuwun kanti sanget supados Kyai Nur Iman ingkang Jumeneng Nata Raja Ngayogjakarta ingkang sepindah, kagem ngalap berkahipun Kyai Nur Iman. Kyai Nur Iman Jumeneng Nata Hamengku Buwana I namung tiga setengah ( 3,5 ) taun. Sakterusipun lajeng kondur dhateng Mlangi.

 Sanajan sampun kondur dhateng Mlangi, Kyai Nur Iman taksih hambiyantu amrih katentremanipun Kraton Ngayogjakarta, pramila Panjenenganipun taksih nampi kasil saking Kraton Ngayogjakarta ngantos dumugi putranipun, inggih punika Kyai Nawawi.

Kyai Nur Iman katelah Kyai Ageng Nurman utawi Kyai Ageng Nyabrang Sapisan
Miturut Pra Ulami Sepuh Jawi Tengah, dipuncariosaken bilih anggenipun Kyai Nur Iman Mlangi katelah Kyai Ageng Nyabrang Sapisan lan Kyai Nawawi Katelah Kyai Ageng Nyabrang II inggih amargi kawontenanipun kedadosan Perang Diponegoro.

Sajatosipun, perang Diponegoro punika wau asal saking pamanggihipin ( inisiatif ) Kyai Nur Iman Mlangi. Namung, amargi Panjenenganipun sampun sepuh, lajeng handhawuhaken dhateng Pangeran Diponegoro / RM. Antawirya ingkang taksih kapernah buyut lan santrinipun, supados nglampahaken yudha lawan Walandi. Sanajan sampun sepuh, Panjenenganipun Kyai Nur Iman lan sedaya putranipun ugi nderek yudha wonten ing ngalaga. Wonten ing satunggaling wekdal, Kyai Nur Iman lan Kyai Nawawi ( putranipun ) kepepek dipunkepung dening Walandi wonten ing tepining seganten ngantos mboten saged mlajar malih. Kyai Nur Iman lajeng hanggelar sorbanipun ingkang awarni abrit lan lajeng lenggah wonten ing sak inggiling sorban wau. Kuwaosipun Gusti ingkang Maha Asih, sorban wau mboten kerem, ananging lajeng kumambang wonten ing nginggiling toya seganten. Kyai Nur Iman lajeng nyabrang seganten nitih sorban wau lan ngical. Walandi ngantos sami gumun, pramila Kyai Nur Iman lajeng katelah Kyai Ageng Nyabrang sapisan. Wondene Kyai Nawawi ugi lajeng nyusul Keng Rama kanti nitih sepet. Kuwaosipun Gusti ingkang Maha Asih sepet punika wau ugi mboten kerem. Pramila Kyai Nawawi lajeng katelah Kyai Ageng Nyabrang II.

Satunggaling wekdal, wonten pawestri Cina ( tedhak Campa ) asal saking daerah Kuwojo Purworejo ( ananging mlebet wilayah Ngayogjakarta ) ingkang taksih enem lan indah ing warni, ngawula lan ngaos dhateng Kyai Nur Iman Mlangi. Salajengipun pawestri wau dipun garwa dening Kyai Nur Iman Mlangi ( inggih punika ingkang dados ibunipun Kyai Guru Luning Muhyidin Arrofi’i )

Kyai Nur Iman seda wonten ing Mlangi lan dipunsarekaken wonten ing Kilen pangimaman mesjid Mlangi. Pesarehan wau lajeng dipunwastani Pesarehan Pangeran Bei / Pesarehan Kagungan Dalem Kasultanan, pramila gapura wonten ing sakngajengipun margi ingkang kagem mlebet pesarehan wau dipundamel kados Gapura Kraton. Kados dene pesarehanipun pra Auliya lan Ulama ageng sanesipun, pesarehanipun Kyai Nur Iman ugi kathah dipunziarahi dening tiyang saking Ngayogjakarta lan sanes – sanesipun.

Khoulipun Kyai Nur Iman Mlangi dipunwontenaken ing saben malem tanggal 15 wonten ing wulan Sura / Muharram.

Ngantos dumugi sak punika ing dhusun Mlangi wonten pinten – pinten pesantren kadosta :
1. PP. Al Miftah dipunasta dening Kyai Sirrudin lan dipunterusaken dening KH. Munahar
2. PP As Salafiyyah dipunasta dening Kyai Masduqi lan dipunterusaken dening KH. Suja'i Masduqi
3. PP. Al Falahiyyah, dipunasta dening KH. Zamrudin lan dipunterusaken dening Nyai hj. Zamrudin
4. PP. Al Huda dipunasta dening KH. Muchtar Dawam
5. PP. Mlangi Timur dipunasta dening KH. Wafirudin lan dipunterusaken dening Nyai Hj. Wafirudin
6. PP. Hujjatul Islam dipunasta dening KH. Qothrul Aziz
7. PP. As Salimiyyah dipunasta dening KH. Salimi
8. PP. An Nasyath dipunasta dening KH. Sami'an
9. PP. Ar Risalah dipunasta deningKH. Abdullah
10. PP. Hidayatul Mubtadin dipunasta dening KH. Nur Iman Muqim

Pesantren wonten ing sakjawinipun dhusun Mlangi ingkang taksih kalebet Pra Turunipun Kyai Nur Iman Mlangi inggih Punika :
1. PP. Watu Congol Muntilan dipunasta dening KH. Ahmad Abdul Haq
2. PP. Tegalrejo Magelang dipunasta dening KH. Abdurrahman Khudlori
3. PP. Al Asy'ariyyah Kalibeber Wonosobo dipunasta dening KH. Muntaha
4. PP. Bambu Runcing Parakan Temanggung dipunasta dening KH. Muhaiminan
5. PP. Secang Sempu Magelang dipunasta dening KH. Ismail Ali
6. PP. Nurul Iman Jambi dipunasta dening KH. Sohib lan Nyai Hj. Bahriyah

Mbah Kyai Nur Iman Mlangi nganggit pinten – pinten kitab antawisipun :
1. Kitab Taqwim ( Ringkesan Ilmu Nahwu )
2. Kitab Ilmu Sorof ( Ringkesan Ilmu Sorof )

Wonten ing Museum Diponegoro Magelang ugi wonten tilaran saking Pangeran Diponegoro arupi kitab Takrib, waosanipun Pangeran Diponegoro. Kitab punika anggitanipun Kyai Nur Iman Mlangi.

Salahsatunggalipun santri Mlangi ingkang sakcekapipun ngaos ing Mlangi lajeng yasa pesantren inggih punika Kyai Abdul Karim ( ingkang yasa pesantren Lirboyo Kediri ).

Wonten ing warsa 1953 Masjid Mlangi dipunparingaken dhateng rakyat ( wakaf ) lan dipunparingi asma Masjid Jami' Mlangi. Pasrah tinampi saking Hamengku Buwana IX dhateng warga dipunwakili dening alim ulama lan masyarakat, antawisipun:
1. Kyai Sirudin
2. Kyai Masduki
3. M. Ngasim

Tradisi tilaranipun Kyai Nur Iman Mlangi ingkang taksih dipunlestantunaken ngantos dumugi sak punika inggih punika :
1. Ziaroh / kintu ahli kubur kanti maos tahlil lan Al Quran, surat Al Ikhlas lan sanes - sanesipun.
2. Maos sholawat Tunjina ( kagem nyenyuwun keslametan wonten ing hajat punapa kemawon )
3. Maos sholawat Nariyah ( kagem nyeyuwun keslametan wonten ing hajat kadosta tiyang ngandhut lan sanes - sanesipun )
4. Maos kalimat Thoyyibah, tahlil Pitung Leksa (Khususipun menawi kagem tamba / tamba sapu jagad)
5. Manakib Abdulqodiran
6. Barjanji / Rodadan
7. Sholawatan / Kojan lan sanes - sanesipun.












Wiyosipun Kyai Guru Luning RM. Mansyur Muhyidin Arrofi’i

 Sak Surutipun Kyai Nur Iman Mlangi, Garwa Puteri Cina punika mboten kersa lenggah wonten ing Mlangi malih. Wekdal semanten Panjenenganipun saweg ngandhut nem wulan. Puteri Cina punika lajeng jengkar saking Mlangi njujug dalemipun Kaum Bedungus ( abdi sarta muridipun Kyai Nur Iman Mlangi ). Tindakipun dhateng pernah Ler Kilen ngantos dumugi ing dhusun Bedungus Kemiri Kutoarjo. Saking sayahipun, Puteri Cina wau ngantos mboten saged tindak. Dipuncariosaken bilih tindakipun Puteri Cina punika saking dusun Mlangi dhateng pernah Kidul Kilen dumugi dhusun Ngapak ( pernah wetanipun Kali Progo ), lajeng mangaler. Sak sampunipun mangaler lajeng lurus mangilen miyos dhusun Kaligesing ngantos dumugi Dhusun Bedungus. Tindakipun Puteri Cina wau pikantuk pitedhah saking swanten kandhutanipun. Saksampunipun dumugi wonten ing dhusun Bedungus, Panjenenganipun Puteri Cina dipuntampi kanti sae dening kulawarganipun Kaum Bedungus sak lami – laminipun.

 Wekdal Putri Cina punika badhe mbabar kandhutanipun, dumadakan wonten teja ingkang manter hanelahi madhangi panggenan lairipun si jabang bayi. Saksampunipun makaten, si jabang bayi kakung ingkang bagus pasuryanipun punika miyos. Saksampunipun bayi punika miyos, pra Putra Kyai Nur Iman Mlangi ingkang wonten ing Mlangi dipunaturi tindak dhateng dhusun Bedungus supados mriksani Keng rayi punika. Dening pra Raka Keng rayi dipunparingi asma RM. Mansyur. Wiosipun RM. Mansyur wonten ing warsa 1220 H / 1799 M.

 Sebab Sanget bektinipun dhateng Nyai Mlangi ( Puteri Cina ), kulawarga Mlangi lajeng maringi kanugrahan dhateng Kaum Bedungus wau kanti ngangkat putranipun ingkang asma Kyai Zarkasih dados kulawarga Mlangi. Saklajengipun Kyai Zarkasih peputra Kyai Sidiq. Kyai Sidiq peputra Kyai Nawawi Berjan. Kyai Nawawi Berjan peputra Kyai Khalwani Nawawi Berjan ingkang sakpunika nerusaken syiar Islam wonten ing Berjan Purworejo.

 Nyai Putri Cina wau lajeng katelah Nyai Ngadiluwih ingkang sakpunika pesarehanipun wonten ing dhusun Bedungus Kutoarjo. 

RM. Mansyur lenggah wonten ing dhusun Bedungus wiwit miyos dumugi dhiwasa.  Sak sampunipun dhiwasa, Panjenenganipun RM. Mansyur lajeng tindak ngaos dhateng Salaman Magelang wonten ing  Pondhokipun Kyai Soleh Qulhu. RM. Mansyur asring kabiyantu arta ugi sanesipun dening Patih Dipodirjo, sahingga saged ngaos kanti sekeca dumugi tindak haji sesarengan kaliyan Kyai Soleh Qulhu. Sak konduripun saking Mekah, RM. Mansyur lajeng pikantuk asma Muhyidin Arrofi’i.

 Wekdal nyantri wonten ing Magelang, RM. Mansyur mboten kados limrahipun santri sanes. Panjenenganipun sanget alim. Pasuryanipun ingkang bagus lan solah bawanipun ingkang sanget santun handadosaken RM. Mansyur dipunpundhut putramantu dening Kyai Soleh Qulhu lan Patih Dipodirjo.

 Sanesipun ngaos wonten ing Magelang, Panjenenganipun RM. Mansyur ugi ngaos wonten ing Demak, ngantos kapundhut putramantu dening Pengulu Demak wekdal semanten lan peputra RM. Haji Abdurrahman ingkang dados Pengulu Demak.

 RM. Mansyur ugi nate tindak ngaos ngantos dangu wonten ing Aceh. Sakkonduripun saking Aceh, RM. Mansyur lajeng trukah wonten ing Luning. Siti Udakawis 40 bahu / 3 hektar ingkang waunipun taksih awujud alang – alang dipunbabad lan saklajengipun dipundamel dhusun. RM. Mansyur dipunbiyantu dening Glondong Luning ingkang asma Dipomenggolo ( pesarehanipun wonten ing sak kilenipun pesarehan Kyai Guru Luning, persisipun wonten ing sakngandaping wit ageng ; wekdal kawula ziarah ndalu nyarengi dinten Khoulipun Kyai Guru Luning, Panjenenganipun Glondong Dipomenggolo Rawuh lan manggihi wonten alam Nuriyah, dedegipun ageng inggil mawi kumis lan jenggot ingkang ketel, pakulitanipun radi cemeng lan swantenipun ageng, wekdal semanten Panjenenganipun ugi ndherek Ziarah kaliyan pinten – pinten ruhipun muridipun Kyai Guru Luning mbok bilih kagem ngormati khoulipun Kyai Guru Luning ).


Saksampunipun dados dhusun, RM. Mansyur lajeng damel pesantren awujud pondhok lan mesjid. Santrinipun kathah ingkang saking Demak, Magelang, Kendal, Cirebon, Surabaya, Tremas, Pacitan, Banten, Jawi Kilen lan sanes – sanesipun. Wiwit wekdal punika RM. Mansyur katelah Kyai Guru Luning Muhyidin Arrofi’i.

 Antawisipun santri – santri wau wonten ingkang asma Kyai Basori, putranipun Kertanegara ( Pengulu Landrat Purwokerto ) ingkang saklajengipun dados Kyai Mlaran sepindah ngantos dumugi turunipun sakpriki.

 Wekdal pertobatan sepindah, wonten satunggaling murid asma Ki Jayeng Kewuh Sucen Jurutengah, nyuwun kanti sanget supados putranipun Kyai Guru Luning kersa dipunpundhut dados putramantunipun. Kyai Guru Luning marengaken, lajeng maringaken putranipun ingkang asma RM. Chamid dipunkramakaken kaliyan Nyai Jariyah lan lajeng dipundadosaken Kyai wonten ing Tritis Sucen Jurutengah, Wondene RM. Abdul Aziz ( wayahipun / putranipun RA. Nyai Jamilah Sangid ) dipunkramakaken kaliyan Putri Ki Jayengkewuh lan dipundadosaken Kyai Wonten ing Beji Sucen Jurutengah.

 Wekdal pertobatan ambal kaping kalih, wonten satunggaling saudagar asal saking Baledono Purworejo asma Ki Suteruno nyuwun kanti sanget supadhos putranipun Kyai Guru Luning kersa dipunpundhut dados putramantunipun. Kyai Guru Luning marengaken, lajeng ngramakaken putra bektanipun ( gawan ) saking garwa Puteri Patih Dipodirjo ingkang asma Kyai Haji Yusack ( ingkang apal Quran ) ingkang sumare wonten ing Candi Baledono Purworejo.

Antawisipun pra santrinipun Kyai Guru Luning ingkang kalebet priyayi inggih punika :
1. Bupati Kutoarjo ingkang asma RM. Suryokusumo
2. RM. Purbokusumo
3. Patih Kutoarjo ingkang asma Raden Kertopati
4. Nyai Patih Dipodirjo Purworejo ingkang saklajengipun dados marasepuhipun Kyai Guru Luning.

Kyai Guru Luning punika satunggaling Ulami kina ingkang Khos wonten ing babagan agami Islam lan Guru Qurro ingkang Apal Quran. Panjenenganipun kagungan sifat welas asih mboten naming dhumateng sesami, ananging ugi dhateng kewan – kewan, malah nate wonten ing satunggaling wekdal,wonten laler ingkang nyecep tinta ingkang saweg kagem nyerat, lajeng Panjenenganipun kendel nyeratipun ngantos dumugi laler punika kesah. Kyai Guru Luning asring mboten dhahar ing sedinten - sedalunipun. Malah wekdal Panjenenganipun taksih ngaos wonten ing pondhok, asring kemawon sekulipun dipuncampur kaliyan pasir. Kyai Guru Luning salahsatunggaling priyantun ingkang ahli wirangi, mboten kersa nglampahi ingkang mboten limrah. Mboten kersa ngagem mingsri ( lisah arum ). Mboten kersa dhahar masakanipun tiyang ingkang mboten takwa. Kyai Guru Luning ugi ahli puasa lan sholat sunat. Sedinten sedalu ngantos 41 rokaat.

 Kyai Guru Luning anggenipun nyebar agami Islam mboten namung mucal pinten – pinten kitab kuning, ananging ugi mucal Al Quran kanti fasih ngagem tembang Misry, Makiyyi lan Bashairy, mboten namung dhateng pra santri kakung, ananging ugi dhateng pra santri estri, pramila pondhok Luning punika lajeng kasiyar dumugi ing pundhi kemawon.

 Kyai Guru luning ugi mucal Tarekat Syatariyah. Malah wonten santrinipun ingkang angsal ijazah tarekat Syatariyah. Santri punika inggih Panjenenganipun Kyai Imam Puro ( Kyai Ngemplak ). Dipuncariosaken bilih Kyai Imam Puro ( Kyai Ngemplak ) dados santrinipun Kyai Guru Luning wiwit alit. Kyai Imam Puro dados abdi wonten dalemipun Kyai Guru Luning. Panjenenganipun dipunpasrahi kebon / pekawisan ingkang wiyaripun 8 bahu ingkang dipuntanemi woh – wohan, ananging ngantos dumugi 8 tahun Panjenenganipun Kyai Imam Puro dereng nate nyicipi woh - wohan punika, pramila Kyai Imam Puro lajeng katelah Benawi ingkang artosipun jujur. Kyai Imam Puro mboten nate dhahar kejawi namung keron / intip, meski saben dintenipun kulawarga Kyai Guru Luning masak sekul. Kyai Imam Puro ngaos Al Quran namung angsal 10 juz lan surat tafsil sesarengan kaliyan Kyai Murtolo, Ketib Kauman Purworejo ingkang dados putramantunipun H.R. Baedowi Pengulu Landrat Purworejo. Kyai Imam Puro punika  Ahli Ushul, wondene Kyai Murtolo Ahli Fiqih lan Falaq.

 Kyai Guru Luning nglampahi dzikir Saman. Kathah tiyang Bawean lan Banjarmasin ingkang mundhut baiat wonten ngarsanipun Kyai Guru Luning.

 Kyai Guru Luning ugi aktif wonten ing babagan perjuangan. Panjenenganipun sesarengan kaliyan Pangeran Diponegoro nglampahaken perang sandhi lan pikantuk kamenangan wonten ing daerah Kemiri, Loano, Sucen lan sanes – sanesipun. Saking alusipun ngantos Walandi mboten sumerep babarpisan. Saklereping perang, Kyai Guru Luning ugi taksih berjuang kanti ngajengaken tuntutan – tuntutan dhateng Walandi sesarengan kaliyan Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim ( Mbah Ahmad Alim ) Bulus ingkang dipuntandhu amargi sampun sanget sepuhipun.

 Tiyang Jawi ingkang kacepeng dening Walandi wekdal semanten kaukum kanti dipunpentheng ( salib) wonten ing dhusun Kedung Lo Kilen Tanggung. Dening Kyai Guru Luning ukuman punika lajeng dipuntuntut supados dipun gantos. Walandi lajeng nindakaken ukuman kanti dipuntemporongaken surya. Kyai Guru Luning ugi lajeng ngajengaken tuntutan malih. Walandi lajeng gantos ukuman kanti dipun cor timah. Kyai Guru Luning ugi taksih ngajengaken tuntutanipun malih. Walandi lajeng nglampahaken ukuman Picis wonten ing Bong Cina. Ukuman Picis wau ugi dipuntuntut malih dening Kyai Guru Luning. Walandi lajeng nglampahaken ukuman gantung.

 Kyai Guru Luning Muhyidin Arrofi’i  surut wonten ing yuswa 56 taun, wonten ing dinten Rebo Kliwon, Wulan Syawal 1276 H / 1855 M, jam 12 dalu amargi gerah pilek ingkang dangunipun ngantos satunggal taun. Panjenenganipun dipunsarekaken wonten ing sak kilenipun Pangimaman mesjid Luning ( miturut Ruhipun Kyai Guru Luning nalikanipun ngrawuhi kawula wonten alam Nuriyah wekdal ziarah ndalu wonten salahsatunggaling wekdal ing warsa 2008, kanti awujud Nur, Panjenenganipun ngendika bilih pesarehan sakkilenipun inggih punika pesarehanipun Garwa Sepuh, wondene pesarehan sakwetanipun inggih punika pesarehanipun Garwa Nem, ananging mboten dipunsebutaken sinten kemawon asmanipun garwa wau ).Khoulipun Kyai Guru Luning woten ing 26 Sya'ban mapan wonten ing serambi Masjid Luning.

























KEKANCINGAN MATARAM ( SILSILAH ) AMANGKURAT JAWI , KGP. HANGABEHI KARTASURA RM. SANDEYO ( KYAI NUR IMAN MLANGI ), RM. MANSYUR MUHYIDIN ARROFI’I ( KYAI GURU LUNING )

-Brawijaya terakhir ( seda mukswa wonten ing Hargo Dalem Lawu ) peputra ; 
-R. Bondan Gejawan ( Ki Ageng tarub III, sumare wonten ing Tarub Purwodadi Grobogan ) peputra ;
-Ki Ageng Getas Pandawa ( sumare wonten ing Purwodadi Grobogan ) peputra ;
-Ki Ageng Sela ( sumare wonten ing Purwodadi Grobogan ) peputra ;
-Ki Ageng Nis peputra ;
-Kyai Ageng Pemanahan ( sumare wonten ing pesarehan Kotagedhe Ngayogyakarta ) peputra ;
-Panembahan Senopati ( sumare wonten ing pesarehan Kotagedhe Ngayogyakarta ) peputra ;
-Prabu Anyokrowati / RM. Jolang ( sumare wonten ing pesarehan Kotagedhe Ngayogyakarta ) kaliyan garwa Sayyidah Dyah Banowati / Ratu Mas Hadi, ibni Sayyid Pangeran Benawa Pajang, ibni Sayyid Abdurrahman, ibni Sayyid Jaka Tingkir, ibni Ainul Yakin ( Sunan Giri ), ibni Maulana Ishak, ibni Ibrahim Asmuro, ibni Jamaludin Khusen, ibni Ahmad Syah Jalal ( Jalaludin Khan ), ibni  Abdullah ( al - Azhamat ) Khan ibni Abdul Malik ( Ahmad Khan ), ibni Alwi Ammi al - Faqih , ibni Muhammad Shahib Mirbath, ibni Ali Khali' Qasam, ibni Alwi ats - Tsani, ibni Muhammad Sahibus Saumiah, ibni Alwi Awwal, ibni Ubaidullah, ibni Ahmad al - Muhajir, ibni Isa ar - Rummi, ibni Muhammad al - Naqib, ibni Ali al - Uraidhi, ibni Ja'far ash - Shadiq, ibni Muhammad al - Baqir, ibni Ali Zainal Abidin, ibni Husein, ibni Sayyidatina Fatimah, Ra, ibni Rosulullah Muhammad S. A. W
peputra;
-Sayyid Prabu Sultan Agung Anyokrokusumo / RM. Rangsang / Jatmika ( sumare wonten ing pesarehan Imogiri Ngayogyakarta ) kaliyan garwa Ratu Wetan putrinipun Tumenggung Upasanta Bupati Batang / Keturunan Ki Juru Mertani peputra ;
-Sayyid Prabu Amangkurat I / RM. Sayidin ( sumare wonten ing pesarehan Tegalarum / Tegal Wangi Tegal ) kaliyan garwa Premaisuri Keturunan Kajoran peputra ;
-Sayyid Prabu Amangkurat II / Pangeran Puger / RM. Drajat / Pakubuwana I ( sumare wonten ing pesarehan Imogiri Ngayogyakarta ) peputra ;
-Sayyid Prabu Amangkurat IV / Amangkurat Jawi / RM. Surya Putra ( sumare wonten ing pesarehan Imogiri Ngayogyakarta ) peputra ;
1. Sayyid RM. Sandeyo (Kyai Nur Iman Mlangi / KGP . Hangabehi Kartasura, sumare wonten ing Mlangi )
2. Sayyid KPA. Mangkunegoro I
3. Sayyid KPA. Danupojo
4. Sayyidah RA. Pringgolojo
5. Sayyid K. Susuhunan PB. II Surokarto
6. Sayyid KPA. Pamot
7. Sayyid KPA. Hadiwidjojo
8. Sayyid KPA. Hadinegoro
9. Sayyidah K. Ratu Madunegoro
10. Sayyid K. Sultan Hamengku Buwana I Ngajogjakarta / RM Sudjono ( sumare wonten ing Imogiri )
11. Sayyid KP. Rogo Purboyo
12. Sayyid KGPA. Panular
13. Sayyid KGPA. Blitar
14. Sayyidah RA. Surodiningrat
15. Sayyid KPA. Buminoto - Sultan Dandun Mertengsari - Adipati Setjoningrat - Panembahan Bintoro
16. Sayyid KP. Singosari ( KP. Joko )
17. Sayyid KGPA. Mataram
18. Sayyid KGP. Martoseno
19. Sayyidah RA. Hendronoto
20. Sayyid KGPA. Selarong
21. Sayyid KGPA. Prang Uledono
22. Sayyid KGPA. Buminoto

       0

Sayyid RM. Sandeyo ( Kyai Nur Iman Mlangi ) kagungan garwa nem ( 6 ) inggih punika :

1. Garwa Gegulu, peputra :
1. Sayyid RM. Mursodo    wonten ing Mlangi
2. Sayyid RM. Nawawi    wonten ing Mlangi
3. Sayyid RM Syafangatun   wonten ing Mlangi
4. Sayyid RM. Taptojani - Kyai Kedu Wali Kedu
5. Sayyidah RA. Cholifah / Kyai Mansyur wonten ing Mlangi
6. Sayyidah RA. Muhammad   wonten ing Mlangi
7. Sayyidah RA. Nurfakih / Murfakiyyah /  wonten ing Mlangi
Nuryakin Cunthel
8. Sayyidah RA. Muso - Kyai Sragen gurunipun Pangeran Diponegoro
9. Sayyid RM Chasan Bisri / Muhsin Besari wonten ing Mlangi
10. Sayyidah RA. Mursilah / Ngabdul Karim

2. Garwa Surati, peputra :
1. Sayyidah RA Muhammad Soleh  wonten ing Mlangi
2. Sayyid RM Salim   
3. Sayyidah RA. Jaelani    wonten ing Mlangi

3. Garwa Kitung ( Kota Gedhe ), peputra :
1. Sayyidah RA. Abutohir
2. Sayyidah RA. Mas Tumenggung

4. Garwa Bijanganten, peputra :
1. Sayyidah RA. Nurjamin Cunthel  wonten ing Mlangi

5. Garwa Putri Cina ( Nyai Ngadiluwih ), peputra :
1. Sayyid RM. Mansyur Muchyidin Arrofi’i   wonten ing Luning
( Kyai Guru Loning )

6. Garwa Putri Bupati Jepara ( peputra pitu ( 7 ), kalih ( 2 ) Kakung lan gangsal ( 5 ) Putri ; ananging turunipun mboten dipunsumerepi dumugi sakpunika ) mbok bilih wonten ing sanes wekdal saged kepanggih lan nyambung pasederekan malih.
















I

Sayyid RM. Masyur Muchyidin Arrofi’i ( Kyai Guru Loning ) kagungan garwa gangsal ( 5 ) inggih punika :

1. Garwa Putri penghulu Demak, peputra :
1. Sayyid RM . Haji Ngabdurrochman

2. Garwa Alang - Alang Amba, peputra :
1. Sayyidah RA. Fatimah / Kyai Sayyid Taslim ( Tirip )
2. Sayyidah RA. Djamilah ( Nyai Sangid ) Luning
3. Sayyid RM. Haji Muhammad Nur / Nur Muhammad Alang - alang Amba / Santren Kutoarjo ( Pengulu Ladrat Purworejo ) sumare ing Alang – Alang Amba / Santren.
4. Sayyid RM. Kyai Bustam ( Kemiri )

Wondene Nyai Haji Abdulghani Kauman Purworejo lan Nyai Haji Ishak Alang- alang Amba punika putra bektan ( gawan ) saking garwa Alang – Alang Amba kaliyan Garwa sakderengipun Sayyid Kyai Guru Luning.

3. Garwa Putri Dipodirjo, peputra :
1. Sayyid RM. Muhammad Zein ( guru Quro ) Solotiyang
2. Sayyid RM. Kyai Machmud Luning
3. Sayyidah RA. Yai Istad ( Kyai Abdurrohman ) Bedug Bagelen
4. Sayyid RM Haji Soleh ( Kyai Luning )

Wondene Haji Yusack Al Hafidz lan Palil punika putra bektan ( gawan ) saking garwa Putri Patih Dipodirjo kaliyan Garwa sakderengipun Sayyid Kyai Guru Luning.


4. Garwa Putri Lurah Krojo, peputra :
1. Sayyid RM. Chamid Sucen Tritis Bayan Purworejo

5. Garwa Putri Kyai Soleh Qulhu Salaman Magelang, peputra :
1. Sayyid RM. Haji Ngabdullah Mahlan Luning




















II

1. Sayyid RM . Haji Ngabdurrochman : turunipun mboten dipunsumerepi dumugi sakpunika, mbok bilih wonten ing sanes wekdal saged kepanggih lan nyambung pasederekan malih.

2. Sayyidah RA. Fatimah ( Kyai Sayyid Taslim Tirip ibni Sayyidah Nyai Tolabudin Paguan ibni Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim Bulus ) peputra :
2.1. Kyai Sayyid RM. Abdurrohman Tirip Purworejo ( kagungan garwa kalih ( 2 ), ananging dereng dipunsumerepi asma – asmanipun. Garwa sepindah saking Sucen, garwa kaping kalih saking Bulus ) 
Garwa Sucen peputra :
2.1.1. Sayyidah RA. Roikhanah Plumbon peputra :
2.1.1.1. Sayyidah RA. Rughoyah / Makmun alm. peputra :
2.1.1.1.1. Sayyidah RA. Rokhimah peputra :
2.1.1.1.1.1. Sayyidah RA. Siti Rohayati peputra :
      2.1.1.1.1.1.1. Sayyid R.
      2.1.1.1.1.1.2. Sayyidah RA.

     2.1.1.1.1.2. Sayyid R. Imam Panuju peputra :
      2.1.1.1.1.2.1. Sayyid R. Tanda
      2.1.1.1.1.2.2. Sayyid R. Tandi
      2.1.1.1.1.2.3. Sayyidah RA. Retina

     2.1.1.1.1.3. Sayyid R. Khoerudin

     2.1.1.1.1.4. Sayyid R. Ardhy Sumardi

   2.1.1.1.1.5. Sayyid R. Waluyo

2.1.1.1.2. Sayyidah RA. Kharisoh peputra :
     2.1.1.1.2.1. Sayyidah RA. Nurul peputra :
      2.1.1.1.2.1.1. Sayyidah RA. Candra

     2.1.1.1.2.2. Sayyidah RA. Retno peputra :
      2.1.1.1.2.2.1. Sayyidah RA. Alfi
      2.1.1.1.2.2.2. Sayyid R. Khuluq

     2.1.1.1.2.3. Sayyid R. Beni peputra :
      2.1.1.1.2.3.1. Sayyid R. Tamam
      2.1.1.1.2.3.2. Sayyidah RA.

2.1.1.1.3. Sayyidah RA. Khotmah peputra :
     2.1.1.1.3.1. Sayyidah RA. Siti Fatonah
     2.1.1.1.3.2. Sayyidah RA. Ade Sri Sugiarti
     2.1.1.1.3.3. Sayyidah RA. Yuyun
     2.1.1.1.3.4. Sayyid R. Guruh

2.1.1.1.4. Sayyidah RA. Halimah peputra :
2.1.1.1.4.1. Sayyid R. Aang Eka N
2.1.1.1.4.2. Sayyidah RA. Idza F. Nufus
2.1.1.1.4.3. Sayyidah RA. Nia Kurniawati
2.1.1.1.4.4. Sayyid R. Firman Nurul F.


    2.1.1.1.5. Sayyidah RA. Honimah peputra :
     2.1.1.1.5.1. Sayyid R. Muh. Ravie Ananda peputra :
      2.1.1.1.5.1.1. Sayyid R. Avataranindita Manungsa Jati

     2.1.1.1.5.2. Sayyidah RA. Aila Rezannia peputra :
      2.1.1.1.5.2.1. Sayyidah RA. Grahita Rahdipa Rahardjo

2.1.1.1.6. Sayyidah RA. Soimah peputra :
2.1.1.1.6.1. Sayyid R. Arif Hidayat peputra :
      2.1.1.1.6.1.1. Sayyidah RA. Nova

     2.1.1.1.6.2. Sayyidah RA. Titin Rahayuningsih peputra :
      2.1.1.1.6.2.1. Sayyidah Ra. Nisa
      2.1.1.1.6.2.2. Sayyidah RA. Nada

     2.1.1.1.6.3. Sayyid R. Teguh Priyatno

     2.1.1.1.6.4. Sayyidah RA. Nur Fatmawati peputra :
      2.1.1.1.6.4.1. Sayyidah RA.
      2.1.1.1.6.4.2. Sayyidah RA.

     2.1.1.1.6.5. Sayyidah RA. Diyah Kurniasari

2.1.1.2. Sayyidah RA. Rofqoniyah / Kyai Matori alm. peputra :
  2.1.1.2.1. Kyai Sayyid R. Salim Almator peputra :
     2.1.1.2.1.1. Sayyid R. Tobagus Muslihudin Aziz
     2.1.1.2.1.2. Sayyidah RA. Hikmatul Hasanah
     2.1.1.2.1.3. Sayyidah RA. Maksumah Kurniawati
     2.1.1.2.1.4. Sayyid R. Musyafa Firman Iswahyudi
     2.1.1.2.1.5. Sayyidah RA. Retno Auliyatussangadah
     2.1.1.2.1.6. Sayyidah RA. Eta fatmawati Auliyatul Ummah
 
2.1.1.2.2. Sayyidah RA. Songidah peputra :

2.1.1.2.3. Sayyidah RA. Sangadatun Diniyah almh. peputra :

2.1.1.2.4. Kyai Sayyid R. Khumsosi Al Mator peputra :
2.1.1.2.4.1. Sayyidah RA. Siti Khulasoh
2.1.1.1.4.2. Sayyidah RA. Siti Fatimah
2.1.1.1.4.3. Sayyid R. Lukman Zein
2.1.1.1.4.4. Sayyidah RA. Anis Siti Karimah
2.1.1.1.4.5. Sayyidah RA. Siti Khomsiati
2.1.1.1.4.6. Sayyid R. Anas Mufadhol alm.
2.1.1.2.5. Sayyid R. H Makmuri Al Mator peputra :
2.1.1.2.5.1. Sayyid R. Arif
2.1.1.2.5.2. Sayyidah RA. Dr. Ita
2.1.1.2.5.3. Sayyidah RA.

2.1.1.2.6. Sayyid R. Muslim Al Mator peputra :




2.1.1.3. Sayyid R. Sanusi alm. peputra :
2.1.1.3.1. Sayyidah RA. Solekhah peputra :
     2.1.1.3.1. Sayyidah RA. Yati
     2.1.1.3.2. Sayyidah RA. Ros
     2.1.1.3.3. Sayyid R. Nano
     2.1.1.3.4.
  2.1.1.3.5. Sayyid R. Ali

2.1.1.3.2. Sayyidah RA. Salamah Prembun peputra :
     2.1.1.3.1. Sayyid R. Nusi
     2.1.1.3.2. Sayyidah RA. Puput

2.1.1.4. Sayyid R. Sugeng alm. ( pasukan TNI, ical jaman AOI Kebumen )
 
2.1.1.5. Sayyid R. Dulkodir alm. ( Pasukan AOI, ical jaman AOI Kebumen )

2.1.2. Sayyid R. Hadiyul Mustofa ( Haji Sucen ) peputra :
 2.1.2.1. Sayyid R. Mahzumi Sucen ( mboten peputra )

2.1.3. Sayyid R. ? ( Ramanipun Fachrudin Kebumen ) peputra :
 2.1.3.1. Sayyid R. Fachrudin (dereng dipunsumerepi wonten pundi dunungipun)

Garwa Bulus peputra :
2.1.4. Sayyidah RA. Fatimah
Garwa I / Jazuli peputra :
2.1.4.1. Sayyid. R. Mad Amin
2.1.4.2. Sayyidah RA. Rohmah
2.1.4.3. Sayyidah RA. Romlah
2.1.4.4. Sayyidah RA. Ruqoyah

   Garwa II / Haji Siroj peputra :
2.1.4.5. Sayyidah RA. Zuhriyah
2.1.4.6. Sayyid R. Yazid
2.1.4.7. Sayyid R. Zahrowardi
2.1.4.8. Sayyidah RA. Nguluwiyah
2.1.4.9. Sayyid R. Zarnuji

2.1.5. Sayyidah RA. Wardiyah ( mboten peputra )

2.2. Sayyidah RA. Jamilah ( Nyai Ibrahim ( garwa II ) Pengulu Landrat Kebumen ) peputra :
2.2.1. Sayyidah RA. Ashariyah / Mustofa Banjarnegara
2.2.2. Sayyidah RA. Umi Kulsum / Sumbono
2.2.3. Sayyidah RA. Maimunah / Ali Siroj
2.2.4. Sayyidah RA. Mariyah / Sumbono
2.2.5. Sayyid R. Hasim
2.2.6. Sayyidah RA. Maryatini / Masngudin
2.2.7. Sayyidah RA. Johariyah / kagarwa Kyai Sururudin, lajeng kagarwa dening Kyai Jamaksari Somalangu
2.2.8. Sayyidah RA. Sri Kartini

2.3. Sayyidah RA. Aisyah Kyai Abu Sujak Kemiri peputra :


2.4. Kyai Sayyid RM. Abdurrohim ( Mbah Gebang ) kagungan garwa kalih ( 2 ) inggih punika Sayyidah RA. Baingah ibni Sayyid RM. H. Muhammad Nur ibni Sayyid Kyai Guru Luning ( kaliyan garwa Alang – alang Amba ) lan Sayyidah RA. Nafingah  ibni Sayyid RM. Chamid Tritis ibni Sayyid Kyai Guru Luning ( kaliyan garwa Putri Lurah Kroyo ), ananging dereng dipunsumerepi pundi ingkang garwa sepindah lan pundi garwa ingkang kaping kalih ) :
Garwa I peputra :
2.4.1. Sayyid R. Mahasin
2.4.2. Sayyidah RA. Hasbiyah
2.4.3. Sayyid R. Khojin
2.4.4. Sayyid R. Baedowi
2.4.5. Sayyidah RA. Maksumah
2.4.6. Sayyid R. Abdullah
Garwa II peputra :
2.4.7. Kyai Sayyid R. Muhyi / Mukti alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi peputra :
 2.4.7.1. Sayyid R. Muflih Perangan
   2.4.7.2. Sayyid R. Muh. Miftah Perangan
   2.4.7.3. Sayyid R. Mudatsir
   2.4.7.4. Sayyidah RA. Muhsonah
   2.4.7.5. Sayyidah RA. Mu'awah Seneporejo Siliragung
   2.4.7.6. Sayyid R. Muzamil
   2.4.7.7. Sayyidah RA. Mudzrikah
   2.4.7.8. Kyai Sayyid R. Munhamir Tamanagung Cluring Banyuwangi
   2.4.7.9. Sayyidah Mustaqimah Sukorejo

2.4.8. RA. Munawaroh ( Sumatera, ngantos dumugi sakpriki dereng wonten pawartosipun )

2.4.9. KH. Sayyid R Sya'roni alm. Temurjo Purwoharjo Banyuwangi peputra :
2.4.9.1. Sayyidah RA. Mutmainah
   2.4.9.2. Sayyid R. Sairu
   2.4.9.3. Sayyid R. Khamami
   2.4.9.4. Sayyid R. Jami'ah
   2.4.9.5. Sayyid R. Jauhar
   2.4.9.6. Sayyid R. Halimi

2.4.10. Kyai Sayyid R. Abdal alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi


2.4.11. Kyai Sayyid R. Azhad alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi peputra :
2.4.11.1. Kyai Sayyid R. Mustofa Azhad Perangan
  2.4.11.1.1. Sayyid R. Ahmad Nasihudin Al Bahiri
2.4.11.1.2. Sayyidah RA. Latifah

   2.4.11.2. Kyai Sayyid R. Toha Azhad Merauke Irian Jaya peputra :
  2.4.11.2.1. Sayyid R. Habiburrohim
2.4.11.2.2. Sayyidah RA. Nihayatus Zuhriya

   2.4.11.3. Kyai Sayyid R. Musta'in Azhad alm.

   2.4.11.4. Kyai Sayyid R. M. Yasin Azhad Perangan peputra :
  2.4.11.4.1. Sayyid R. Wafi
2.4.11.4.2. Sayyidah RA. A' lin Bil Hija


   2.4.11.5. Sayyidah RA. Siti Aminah Azhad Ngadirejo Purwoharjo peputra :
  2.4.11.5.1. Sayyid R. Ahmad Luqman Hakim
2.4.11.5.2. Sayyid R. Burhanudin Al Maki
2.4.11.5.3. Sayyid R. Abdurrahman
2.4.11.5.4. Sayyid R. Abdurrahim

   2.4.11.6. Sayyidah RA. Siti Hanifah Azhad Perangan peputra :
  2.4.11.6.1. Sayyid R. Utsman

   2.4.11.7. Kyai Sayyid R. Halimu Shodiq Azhad Perangan peputra :
  2.4.11.7.1. Sayyid R. Wildan Hadziqi

   2.4.11.8. Kyai Sayyid R. Nur Hamid Azhad Perangan peputra :
  2.4.11.8.1. Sayyid R. Alan ' Adzim Al Aufa

2.4.12. Kyai Sayyid R. Hamdullah Buluagung Siliragung Banyuwangi peputra :
 2.4.12.1. Kyai Sayyid R. Ali Masngud Buluagung
2.4.12.2. Sayyidah RA. Sa'adah
2.4.12.3. Sayyid R. Zuhri
2.4.12.4. Sayyid R. Tasip

2.4.13. Kyai Sayyid Din alm.

2.4.14. Kyai Sayyid R. Fatkhan

2.5. Sayyid RM.Jahet ( Kyai Tirip Gebang ) kagungan garwa kalih ( 2 ) inggih punika :
Garwa Putri termas peputra :
2.5.1. Sayyid R. Nawawi
Garwa Syarifah Zaenab peputra :
2.5.2. Sayyidah RA. Nyai Baroroh

2.6. Sayyidah RA. Suyud / Kyai Suyud Karangrejo Kutoarjo peputra :

3. Sayyidah RA. Djamilah ( Kyai Sangid ) Luning peputra :
3.1. Sayyidah RA. Jaenab / Nyai Muhyidin Kuwangsan Kemiri peputra ;

3.2. Sayyidah RA. Jemblem / Nyai Muhammad Socheh Sutoragan peputra ;

3.3. Sayyidah RA. Klentheng / Nyai Muso Luning peputra ;

3.4. Sayyid RM. Abdul Aziz / Kyai Sucen Beji Bayan peputra ;
3.4.1. Sayyid R. Muh. Royani peputra ;
3.4.1.1. Sayyidah RA. Bahiyah
3.4.1.2. Sayyidah RA. Suwaibah
3.4.1.3. Sayyid R. Sumedi
3.4.1.4. Sayyid R. Nurrahman
3.4.2. Sayyid R. Muh. Ibrahim peputra ;
3.4.2.1. Sayyid R. Haji Muh. Tachrir
3.4.2.2.
3.4.2.3.
3.4.2.4.
3.4.2.5. Sayyid R. Muh. Jawad
3.4.2.6. Sayyid R. Mufid
3.4.3. Sayyid R. Muh. Juri peputra ;
3.4.3.1. Sayyid R. Muh. Tafsir
3.4.4. Sayyidah RA. Suniyah /Nyai Haji Nur
3.4.5. Sayyid R. Muh. Hasyim

3.5. Sayyid RM. Barzachi / Pengulu Naib Garung Wonosobo peputra ;

3.6. Sayyid RM. Muhammad Anis Kyai Luning peputra ;

3.7. Sayyidah RA. Suwuh Joyosumarmo peputra ;


4. Sayyid RM. Haji Muhammad Nur / Nur Muhammad Alang - alang Amba / Santren ( Pengulu Ladrat Purworejo ) peputra :
4.1. Sayyid RM. Haji Rofingi Ketib Kutoarjo peputra :

4.2. Sayyid RM. Haji Kistubo Ketib Purworejo peputra :

4.3. Sayyidah RA. Chadijah / Kyai Marzuki Kutoarjo peputra :

4.4. Sayyidah RA. Nyai Judi Sucen Tritis peputra :

4.5. Sayyidah RA. Nyai Baingah / Kyai Abdurrohim Gebang peputra : ( Mriksani Turunipun Sayyid Kyai RM Abdurrohim Gebang )

4.6. Sayyidah RA. Rodiyah / Nyai Tambeh Kutoarjo peputra :

4.7. Sayyidah RA. Tutik / Haji Siraj Ketib Kutoarjo peputra :

 4.8. Sayyid RM. KH. Chusen Pengulu Bayan peputra :
4.8.1. Sayyidah RA. Denok
     
4.9. Sayyid RM. Baliyo Kutoarjo peputra :

4.10. Sayyidah RA. Badaruddin Kyai Solotiyang peputra :
  4.10.1.
  4.10.2.
  4.10.3.
4.10.4. Sayyidah RA. Nyai Siti Hajiroh mboten peputra lajeng ngangkat putra RA. Mustanginah Chalimi

 4.10.5. Sayyid Kyai R. Dachlan Kaliboto
   Garwa Nyai Zaenab peputra :
   4.10.5.1. Sayyidah RA. Ulfah
   4.10.5.2. Sayyidah RA. Mustafidah
   4.10.5.3. Sayyid R. Ahmad Najib
   4.10.5.4. Sayyidah RA. Malichah
   4.10.5.5. Sayyidah RA. Zumaroh
   Garwa RA. Siti Chotijah Maron peputra :
   4.10.5.6. Sayyidah RA. Cholisoh peputra :
    4.10.5.6.1. Sayyidah RA. Anis Arifah
    4.10.5.6.2. Sayyidah RA. Naim Mardiyah
    4.10.5.6.3. Sayyid R. Imron Hakim
    4.10.5.6.4. Sayyidah RA. Umi Latifah
    4.10.5.6.5. Sayyid R. Agus Sukur Salim
    4.10.5.6.6. Sayyid R. Muhajir
   4.10.5.7. Sayyid R. Abdul Ghofir peputra :
    4.10.5.7.1. Sayyid R. Naufal Mujtaba Alluabab
    4.10.5.7.2. Sayyidah RA. Kuni Sufia Labibah
   4.10.5.8. Sayyid R. Zainal Abidin peputra :
    4.10.5.8.1. Sayyidah RA. Sofri Inayah
    4.10.5.8.2. Sayyid R. Chalifurifai
   4.10.5.9. Sayyid R. Dimyati
   4.10.5.10. Sayyidah RA. Maghfuroh Muslim peputra :
    4.10.5.10.1. Sayyid R. Bahaudin
    4.10.5.10.2. Sayyid R. Abdul Chamid
   4.10.5.11. Sayyidah RA. Wafiroh Rifai peputra :
    4.10.5.11.1. Sayyid R.Choirul Hadi

5. Sayyid RM. Kyai Bustam ( Luning Kemiri ) peputra :
5.1. Sayyid RM. Suyud Kyai Karang Rejo Kutoarjo
5.2. Sayyidah RA. Nuriyah Fadil Solotiyang Loano I
5.3. Sayyid RM. Muhammad Siraj Kyai Luning
5.4. Sayyid RM. Muhammad Jawad Luning ( seda timur )
5.5. Sayyidah RA. Aminah Nyai Fadil Solotiyang Loano II

6. Sayyid RM. Muhammad Zein ( guru Quro ) Solotiyang

7. Sayyid RM. Kyai Machmud Luning

8. Sayyidah RA. Nyai Istad ( Kyai Abdurrohman ) Bedug Bagelen peputra :
8.1. Sayyidah RA. Nyai Abu Masngud Sangubanyu Grabag
8.2. Sayyidah RA. Nyai Abdul Qodir Piyono Grabag
8.3. Sayyid RM. Kyai Sadali Bedug Bagelen
8.4. Sayyid RM. Kyai Aftadi ( seda timur )
8.5. Sayyidah RA. Haji Abdullah Faqih Kedung Kuali Purwodadi Purworejo

9. Sayyid RM Bahrun / Haji Soleh ( Kyai Luning ) peputra :
9.1. Sayyidah RA. Aisyah Nyai Kemangguan Krakal Kebumen
9.2. Sayyidah RA. Muhammad Sahlan Luning
9.3. Sayyid RM. Chaidar Pituruh Kutoarjo
9.4. Sayyidah RA. Chamidah Pensiunan Mantri Guru Wadaslintang

10. Sayyid RM. Chamid Kyai Sucen Tritis Bayan Purworejo peputra :
       10.1. Sayyid RM. Haji Judi Kyai Tritis
10.2. Sayyidah RA. Ngusman Kyai Tritis Sucen
10.3. Sayyidah RA. Umi Tambak Banyumas
10.4. Sayyidah RA. Nafingah / Nyai Abdurrohim Gebang
10.5. Sayyid RM. Haji Dachlan Al Hafidz Kalikepuh peputra :
10.5.1. Sayyidah RA. Nyai Saodah
10.5.2. Sayyid RM. Kyai Bastomi ( Klepuh ) peputra :
10.5.2.1. Sayyidah RA. Nyai Murdiyah Ali
10.5.2.2. Sayyidah RA. Anisah Al Is
10.5.2.3. Sayyid R.Muhammad Wahyudin F. Arrofingi
10.5.2.4. Sayyid R. Nurul Ilmi
10.5.2.5. Sayyid R. Ahmad Sirojudin
10.5.2.6. Sayyidah R. Chamid Dahlan
10.5.2.7. Sayyidah RA. Ruqoyah
10.5.2.8. Sayyidah RA. Nihayah
10.5.3. Sayyidah RA. Nyai Jariyah
10.5.4. Sayyid RM. KH. Abu Hasan / Nur Muhammad Adikarso Kebumen kaliyan garwa Sayyidah Siti Hafsoh ibni Kyai Sayyid Ahmad Hisyam ibni Kyai Sayyid Habib ibni Sayyidah Nyai Murtaman ibni Kyai Sayyid Taslim Tirip ibni Sayyidah Nyai Tolabudin ibni Sayyid Ahmad Muhammad Alim Bulus Purworejo peputra :
10.5.4.1. Kyai Sayyid R. Habibullah
10.5.4.2. KH.  Sayyid R. Muh. Nawawi Hisyam ( Gus Wawi Adikarso Kebumen )
10.5.4.3. Kyai Sayyid R. Mahrus Muqorrobin
10.5.4.4. Sayyidah RA. Siti Halimah
10.5.4.5. Kyai Sayyid R. Muh Ali Dimyati
10.5.4.6. Kyai Sayyid R. Zainul Arifin ( Ponpes Tempuran Magelang )
10.5.4.7. Sayyidah RA. Fatimah
10.5.4.8. Sayyidah RA. Siti Halimah
10.5.4.9. Sayyidah RA. Nafisah
10.6. Sayyidah RA. Khasanah / Nyai Sayyid Ahmad Al Atas Sucen Tritis peputra :
10.6.1. Sayyid R. Abdurrahman ( kaliyan garwa Rng. Siti Chotijah ) peputra :
10.6.1.1. Sayyidah RA. Syifak
10.6.1.2. Sayyidah RA. Nurhayati
10.6.1.3. Sayyid R. H. Muhajir
10.6.1.4. Sayyid R. Ali
10.6.1.5. Sayyidah RA. Slimun

10.7. Sayyid RM. Ahmad Kroyo Kutoarjo peputra :
10.7.1.
10.7.2.
10.7.3.
10.7.4.
10.7.5. Prof. DR. Internis Sayyid R. Ali Sulaiman

10.8. Sayyid RM. Haji Bakri Kyai Tritis peputra :
10.8.1. Sayyidah RA. Chabsoh
10.8.2. Sayyid R. Ibnu Kosim
10.8.3. Sayyidah RA. Mutmainah
10.8.4. Sayyid R. Toha
10.8.5. Sayyid R. Turkisi peputra :
10.8.5.1. Sayyidah RA. Fatchuriyah
10.8.5.2. Sayyidah RA. Musarofah
10.8.5.3. Sayyid R. Nasir Hamid
10.8.5.4. Sayyid R. Muhajir Sa'dulloh
10.8.5.5. Sayyid RA. Nur Munawaroh
10.8.5.6. Sayyid R. Ibrahim Amin
10.8.5.7. Sayyid R. Ahmad Chomsin
10.8.5.8. Sayyid R. Makinun Amin
10.8.6. Sayyidah RA. Afdoliyah
10.8.7. Sayyidah RA. Siti Aisyah

10.9. Sayyidah RA. Nyai Bahiyah / Nyai Pekalongan Kebumen

10.10. Sayyid RM. Kyai Abdullah Mukri Luning

11. Sayyid RM. Haji Ngabdullah Mahlan Luning peputra :
( Miturut Pustaka Darah )
 11.1. Sayyid RM. Imam Sutoragan Kemiri
 11.2. Sayyidah RA. Sofiyah Hadiwinangun Magelang
 11.3. Sayyidah RA. Fatonah Gembor
 11.4. Sayyidah RA. Musoharotun
 11.5. Sayyid RM.Muhammad Kyai Luning
 11.6. Sayyid RM. Muhammad Hadikusumo Surabaya
 11.7. Sayyidah RA. Istifaiyah Luning

Miturut putranipun RA. Mahmudah Soerodikoesoemo ( mbok bilih RA. Mahmudah punika asma garwanipun Muhammad Hadikusumo Surabaya lajeng ingkang nyerat silsilah kala semanten kesupen, ingkang dipunserat asmanipun keng garwa. Wondene kang asma Jupri lan sanesipun mbok bilih dereng mios wekdal buku Pustaka Dharah dipundamel punapa dene ingkang nyerat wekdal kala wau ( 27 Oktober 1967 ) kesupen ) RM. HAJI ABDULLAH MAHLAN LUNING peputra :
11.1. Sayyid R.M. Imam
11.2. Sayyid R.M. Djupri
11.3. Sayyidah R.A. Kuroisyin
11.4. Sayyidah R.A. Sofiah menikah dengan : Hadiwinangoen
11.5. Sayyidah R.A. Muthoharatun menikah dengan : Sosrowardojo
11.6. Sayyid R.M. Mohammad, mengelola Mesjid Loning
11.7. Sayyidah R.A. Machmoedah menikah dengan : Soerodikoesoemo
11.8. Sayyidah R.A. Istifaiyah

Taksih kathah sanget pra turun Mataram khususipun turunipun Kyai Nur Iman Mlangi lan Kyai Guru Luning ingkang dereng kawula serat amargi dereng saged pinanggih sedaya amargi sami sumebar ing pundi – pundi, lajeng turunipun sami kepaten obor, mbok bilih amargi tebihipun satunggal – satunggalipun. Pramila namung kawula serat peputra : ( ingkang kajengipun supados para turun ingkang dereng kaserat saged njangkepi piyambak – piyambak )
























Makaten punika Kitab Tarikh Nur Iman Muhyidin Arrofi’i ingkang dipunserat wonten ing dhusun Kebumen, dinten Selasa Legi , 17 Februari 2009 / 22 Safar 1430 H / taun Je, Wuku Warigalit 1942.

Kagem Pra putra wayah turunipun Kyai Nur Iman Mlangi lan Kyai Guru Luning ingkang dereng kaserat wonten ing mriki, dipunaturi nyerat piyambak – piyambak lajeng kaparingaken dening Sayyid R. Muh. Ravie Ananda ingkang alamatipun wonten ing Jalan Garuda 13 Kebumen 54311 Jawa – Tengah.

Mugi Kitab punika saged dipuntampi kanti sae dhateng Pra Maos. Kathah kekiranganipun harupi huruf – hurufipun, kirang gampil dipuntampi basanipun, ugi menawi wonten kalepatan anggenipun nyerat silsilah, kawula  nyuwun agunging pangapunten.

Wasana, mugi Kyai Nur Iman Mlangi lan Kyai Guru Luning saha sedaya garwanipun sumrambah kita sedaya pra putra wayah turunipun tansah rahayu ing dalem Agami, Dunya dumugi Akhiratipun, ing dalem Jasad, Batin dumugi Ruh ipun. Tansah kalis saking bebeka : makartining sesama, makartining lelembut lan makartining dhaya pangwasa alam ingkang awon. Amin.


Kebumen, Selasa Legi 17 Februari 2009

Ingkang Nganggit lan Tanggel Jawab Seratan punika

Sayyid R. Muh. Ravie Ananda






















Silsilah Turun Sayyid Ahmad Muhammad Alim Bulus Purworejo

Sayyid R. Muh. Ravie Ananda, ibni
Sayyidah RA. Honimah, ibni
Sayyidah RA. Rughoyah, ibni
Sayyidah RA. Roikhanah, ibni
Kyai Sayyid R. Abdurrohman Tirip, ibni
Kyai Sayyid Taslim Tirip, ibni
Sayyidah Nyai Tolabudin, ibni
Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim Bulus Purworejo, ibni
R. Singosuto Mojotengah Garung Wonosobo, ibni
R. Alim Marsitojoyo, ibni
R. Martogati, Wonokromo Garung Wonosobo, ibni
R. Dalem Agung / RA. Nyai Dalem Agung Mojotengah Garung Wonosobo, ibni
R.A. Nyai / R. Kyai Dilem Bandok Wonokromo Garung Wonosobo, ibni
R.A. Nyai Bekel Karangkobar Banjarnegara, ibni
R.A. Nyai Segati / Pangeran Bayat, Tegalsari Garung Wonosobo, ibni
Sunan Kudus, ibni
Syarifah / Sunan Ngudung, ibni
Sunan Ampel, ibni
Maulana Malik Ibrahim, ibni
Syekh Jumadil Kubro, Pondok Dukuh Semarang, ibni
Ahmad Syah Jalal ( Jalaluddin Khan ), ibni
Abdullah ( al - Azhamat ) Khan, ibni
Abdul Malik ( Ahmad Khan ), ibni
Alwi Ammi al - Faqih , ibni
Muhammad Shahib Mirbath, ibni
Ali Khali' Qasam, ibni
Alwi ats - Tsani, ibni
Muhammad Sahibus Saumiah, ibni
Alwi Awwal, ibni Ubaidullah, ibni
Ahmad al - Muhajir, ibni
Isa ar - Rummi, ibni
Muhammad al - Naqib, ibni
Ali al - Uraidhi, ibni
Ja'far ash - Shadiq, ibni
Muhammad al - Baqir, ibni
Ali Zainal Abidin, ibni
Husein, ibni
Sayyidatina Fatimah, Ra, ibni
Rosulullah Muhammad S. A. W











Kekancingan Mataram Sultan Agung

Kyai Nur Iman Mlangi / KGP. Hangabehi Kartosura / RM. Sandeyo punika putra Pambajengipun Amangkurat IV / Amangkurat Jawi / RM. Surya Putra kaliyan garwa I / RA. Retno Susilowati ibni Untung Suropati ( Adipati Wiranegara Pasuruan )

Sayyid R. Muh. Ravie Ananda, ibni
Sayyidah RA. Honimah, ibni
Sayyidah RA. Rughoyah, ibni
Sayyidah RA. Roikhanah, ibni
Kyai Sayyid R. Abdurrohman Tirip, ibni
Sayyidah RA. Fatimah, ibni
Sayyid Kyai Muhyidin Arrofi’I ( Kyai Guru Luning ), ibni
Sayyid Kyai Nur Iman Mlangi / KGP Hangabehi Kertosuro RM Sandeyo, ibni
Sayyid Amangkurat Jawa / Amangkurat IV RM. Surya Putra, ibni
Sayyid Prabu Amangkurat II / Pangeran Puger / RM. Drajat / Pakubuwana I, ibni
Sayyid Prabu Amangkurat I / RM. Sayidin, ibni
Sayyid Sultan Agung Hanyakrakusuma / RM. Rangsang / RM. Jatmika ibni
Sultan Agung Hanyakrawati / RM. Jolang kaliyan garwa Sayyidah Dyah Banowati / Ratu Mas Hadi, ibni
Sayyid Pangeran Benawa Pajang, ibni
Sayyid Abdurrahman, ibni
Sayyid Jaka Tingkir, ibni
Ainul Yakin ( Sunan Giri ), ibni
Maulana Ishak, ibni
Ibrahim Asmuro, ibni
Jamaludin Khusen, ibni
Ahmad Syah Jalal ( Jalaludin Khan ), ibni 
Abdullah ( al - Azhamat ) Khan, ibni
Abdul Malik ( Ahmad Khan ), ibni
Alwi Ammi al - Faqih , ibni
Muhammad Shahib Mirbath, ibni
Ali Khali' Qasam, ibni
Alwi ats - Tsani, ibni
Muhammad Sahibus Saumiah, ibni
Alwi Awwal, ibni
Ubaidullah, ibni
Ahmad al - Muhajir, ibni
Isa ar - Rummi, ibni
Muhammad al - Naqib, ibni
Ali al - Uraidhi, ibni
Ja'far ash - Shadiq, ibni
Muhammad al - Baqir, ibni
Ali Zainal Abidin, ibni
Husein, ibni
Sayyidatina Fatimah RA, ibni
Rosulullah S. A. W







Kekancingan Mataram Hamengku Buwana

Hamengku Buwana I / RM. Sujono / Pangeran Mangkubumi punika putranipun Amangkurat IV / Amangkurat Jawi / RM. Surya Putra kaliyan garwa Selir

Sayyid R. Muh. Ravie Ananda, ibni
Sayyidah RA. Honimah, ibni
Sayyid R. Makmun, ibni
Sayyid R. Badarudin, ibni
Sayyidah RA. Jawahir, ibni
Sayyidah RA. Nyai Imanadi Kebumen ( Garwa II ), ibni
Sayyidah RA. Kamaludiningrat ( Pengulu Kraton Jogjakarta ), ibni
Sayyid BPA Dipowiyono, ibni
Sayyid RM. Sundoro / Hamengku Buwana II, ibni
Sayyid RM. Sujono / Pangeran Mangkubumi / Hamengku Buwana I, ibni
Sayyid Amangkurat Jawa / Amangkurat IV RM. Surya Putra, ibni
Sayyid Prabu Amangkurat II / Pangeran Puger / RM. Drajat / Pakubuwana I, ibni
Sayyid Prabu Amangkurat I / RM. Sayidin, ibni
Sayyid Sultan Agung Hanyakrakusuma / RM. Rangsang / RM. Jatmika ibni
Prabu Anyokrowati / RM. Jolang kaliyan garwa Sayyidah Dyah Banowati / Ratu Mas Hadi, ibni
Sayyid Pangeran Benawa Pajang, ibni
Sayyid Abdurrahman, ibni
Sayyid Jaka Tingkir, ibni
Ainul Yakin ( Sunan Giri ), ibni
Maulana Ishak, ibni
Ibrahim Asmuro, ibni
Jamaludin Khusen, ibni
Ahmad Syah Jalal ( Jalaludin Khan ), ibni 
Abdullah ( al - Azhamat ) Khan, ibni
Abdul Malik ( Ahmad Khan ), ibni
Alwi Ammi al - Faqih , ibni
Muhammad Shahib Mirbath, ibni
Ali Khali' Qasam, ibni
Alwi ats - Tsani, ibni
Muhammad Sahibus Saumiah, ibni
Alwi Awwal, ibni
Ubaidullah, ibni
Ahmad al - Muhajir, ibni
Isa ar - Rummi, ibni
Muhammad al - Naqib, ibni
Ali al - Uraidhi, ibni
Ja'far ash - Shadiq, ibni
Muhammad al - Baqir, ibni
Ali Zainal Abidin, ibni
Husein, ibni
Sayyidatina Fatimah RA, ibni
Rosulullah S. A. Wsilsilah R. Cokrodjojo alias Cokronegoro ( bupati 1 purworejo ) dan nyai tumenggung hasan munadi bin tumenggung Dipodirdjo 1Tuesday, December 15, 2009 2:29 PMoleh R. Ananda basaiban
SILSILAH RADEN TUMENGGUNG DIPODIRJO I



I


1.PRABU NUNDING PAMEKAS PAJAJARAN peputra :
1. Haryo Banagah Bethoro Loano
2. Adipati Anden 1 Loano
3. Pangeran Anden 2 Loano
4. Kyai Gusti Tanggung
5. Kyai Godeg
6. Kyai Lebe
7. Kanjeng Pangeran Haryo Singosari
8. Kyai Wayah
9. Kyai Kyai Tumenggung Gagak Pranolo
10. Kanjeng Pangeran Teposono R. Ngabei Jayengkewuh
11. Kyai Tumenggung Gagak Pranolo 2
12. Kyai tumenggung Gagak Pranolo 3
13. R. Demang Surodrono   
14. R. Tumenggung Dipodirjo Patih Purworejo ( makam wonten ing Tanggung )

2.NYAI NGABEI SINGOWIJOYO peputra :
1.Raden Adipati Arya Cokronegoro I
2.Nyai Ayu Secowikromo
3.Raden Tumenggung ( Wedono Jenar )

3.KYAI PANGERAN HARYOKUSUMOYUDO ( SURAKARTA )



II



Raden Tumenggung Dipodirjo I bin  Prabu Nunding Pamekas Pajajaran peputra :
1.R. Ngabei Dipodirjo II Wedono Loano ( Mencil Loano )
2.R. Ngt. Mangun Joyo
3.R. Ngt. Rofingi ( Nyai Guru Luning )
4.R. Ngt. Tumenggung Chasan Munadi ( Tanggung Purworejo )
5.R. Ngt. Kertopati Patih Kutoarjo ( Mencil )
6.R. Ngabei Ronggo Kromotirto Patih Wonosobo ( Ketinggiring Wonosobo )
7.Kyai R. Haji Unus Muh. Irsyad

III


1.R. Dipodirjo 2 Loano
2.R. Ngabei Mangun Joyo
3.R. Ngt. Rofingi ( Nyai Guru Luning ) kaliyan garwa I peputra :
1.R. Ngabei Yusack Al hafidz
2.R. Palil
Kaliyan Garwa Kyai Guru Luning peputra :
1.R. Ngt. Zein
2.R. Ngt. Istad
3.R. Mahmud
4.R. Saleh

4. R. Tumenggung Kasan Munadi peputra :
1. R. Sayid Ali( Baabud Bulus Purworejo )
2. R. Sripah / Moh. NgalimBulus Basaiban ( garwa terakhir )
3. R. Ngt. Yusuf
4. R. Ngt. Buh
5. R. Japar

5. R. Ngt. Kertopati Patih Kutoarjo peputra :
   1. R. Kertowijoyo
   2. R. Ngt. Kertodirjo
   3. R. Ngt. Cokrowilogo
   4. R. Ngt. Sayid Ali
   5. R. Ngt. Cokromangunjoyo
   6. R. Ngt. Jayadi
   7. R. Cokrodiatmojo
   8. R. Ngt. Pringgodijoyo
   9. R. Reksosaputro
   10. Dr. R. Suwardjo

6. R. Ngabei Ronggo Kromotirto Wonosobo peputra :
  Kaliyan Garwa I :
1.R. Ngt. H. Chasanusi
2.R. Ngabei Tirtodrono
3.R. Ngt. Cokrodiatmojo
4.R. Tirtoatmojo
Kaliyan Garwa II :
1.R. Ngt. Nitipuro
Kaliyan Garwa III :
1.R. Ayu Kromodipuro ( Nyai Cokronegoro )
Kaliyan Garwa IV :
1.R. Tirtodiharjo
2.R. Ayu Dhikusumo
3.R. Tirtorejo
4.R. Akin

7. KH. R. Unus Irsyad Pengulu Loano ( makam Solotiyang  Loano ) peputra :
 Kaliyan Garwa I :
1.RH. Abdurrahmat
2.R. Sanusi
3.R. Ngt. Mustopo I
4.R. Cokrorejo
5.R. Dolah Sirat
6.R. Dolah Sindi
7.R. Ngt. Mustopo II
8.R. Mustakim
9.R. Ngt. Abdurrahman
10.RH. Kasbullah
11.R. Sudir
12.R. Bakri
Kaliyan Garwa II :
1.R. Busro
Kaliyan Garwa III ( Kaliwatu ) :
1.R. Ngt. Japar
2.R. Ngt. Dolah Mahlan
Kaliyan Garwa IV ( Bener ) :
1.R. Ngt. Toyib
2.R. Dulah Surur
3.R. Ngt. Dul Majid
4.R. Ngt. Saleh
5.R. Ngt. Jalal
6.R. Ngt. Taksis
7.R. Ngt. Karman
8.R. Imri
Kaliyan Garwa V ( Mbah Ginah ) :
1.R. Katim
2.R. Katam
















IV


1.RH. Abdurrahmat bin KH. R. Unus Muh Irsyad bin Dipodirjo I peputra :
1.R. Abdul Sajad
2.R. Ngt. Sayid Alwi
3.R. Ngt. Sirat I
4.R. Ngt. Moh Sirat
5.R. Ngt. Sirat II
6.R. Buchari
7.R. Ngt. Sirat III  peputra :
1.R. Ngt. Zaenudin
2.R. Ngt. Muhyidin
3.R. Ngt. Busro
4.R. Ngt. Fatkhurrohman
5.R. Ngt. Umi Salamah
6.R. Abdurrahman
8.R. Maksum
9.R. Surotomo

2.Sanusi peputra :
1.R. Deres Tirto Sanjoyo
2.R. Abdul Kromo Sanjoyo
3.R. Daliyun Tirtowiharjo
4.R. Ngt. Surotomo

3.R. Ngt. Mustopo I peputra :
1.R. Saleh

4.R. Cokrorejo peputra :
1.R. Jiteng
2.R. Suwadi
3.R. Ngt. H. Mukmin
4.R. Padi
5.R. Dayat

5.  Dulah Sirat peputra :
   1. R. Ismail
   2. R. Abu
   3. R. Ngt. Tas
   4. R. Chamim
   5. R. Ngt. Kawaliyah
   6. R. Nguhodo
   7. R. Ngt. Muslihati
   8. R. Ngt. Robek
   9. R. Ngt. Marwiyah



6. Dulah Sindi peputra :
   1. R. Mahfud
   2. R. Ngt. Abdul Mukti I
   3. R. Ngt. Abdul Mukti II
   4. R. Dal
   5. R. Muh. Saleh
   6. R. Muh. Ghozali
   7. R. Ngt. Nah
   8. R. Ngt. H. Chalimi
7. R. Ngt. Mustopo II peputra :
   1. R. Mukmin
   2. R. Jamjani
   3. R. Ngt. Yosi
   4. R. Ngt. Hanah
   5. R. Dul Mukti
   6. R. Banu
   7. R. Ngt. Kragan
8. R. Mustakim peputra :
9. R. Abdurrahman peputra :
   1. R. Abdul Chamid
   2. R. Ngt. Sampah
10. R. H. Kasbullah peputra :
   1. R. Ngt. Rahmat Syarif Hasan
   2. R. Ngt. Suwadi
   3. R. Mardas
   4. R. Cokrosudirjo
   5. R. Sulaiman
   6. R. Ngabei Ciptosukarjo
   7. R. Saroni
11. R Sudir peputra :
   1. R. Rahmat Unus
12. R. Bakri  peputra :
   1. R. Sangadi
   2. R. Ngt. Siti Asyiah
13. R. Busro peputra :
14. R. Ngt. Japar peputra :
   1. R. Ngt. Djamdjani
   2. R. Bahrun
   3. R. Cholil
   4. R. Djadin
   5. R. Yasin
   6. R. Ngt. Lurah Mulisari
   7. R. Ngt. Munir
   8. R. Ngt. Ngali


15. R. Ngt. Dulah Mahlan peputra :
   1. R. Iman
   2. R. Ngt. Sopiah
   3. R. Ngt. Fatonah
   4. R. Ngt. Musoharotun
   5. RM. Muhammadi
   6. R. Ngt. Mahmudah
   7. R. Ngt. Istifaiyah
16. R. Ngt. Toyib peputra :
   1. RH. Munir
   2. R. Ngt. Namirah
   3. R. Ngt. H. Mukmin
   4. R. Ngt. Sapari
   5. R. Ngabei Rahmat
   6. R. Ngt. Piyah
   7. R. Alwi
   8. R. Ngt. Jenap
17. R. Dulah Surur peputra :
   1. R. Romli
   2. R. Abu Bakar
18. R. Ngt. Dul Majid peputra :
   1. R. Ghojali
   2. R. Ngt. Sayid Ibrahim
   3. R. Toha
   4. R. Ngt. Hindun
   5. R. Dakili
19. R. Ngt. Saleh peputra :
   1. R. Rusdi
   2. R. Ngt. Umar
   3. R. Muchasi
   4. R. Nawawi
   5. R. Ngt. Ti
   6. R. Ngt. Badiyah
   7. R. Baikuni
20. R. Ngt. Jalal peputra :
   1. R. Idrus
   2. R. Ngt. Ismail
   3. R. Chotib
   4. R. Ngt. Muhdi
   5. R. Ngt. Maryam
   6. R. Abu Talkhah
   7. R. Ngt. Lah
   8. R. Ngt. Vatlun
   9. R. Ngt. Muh. Romli


21. R. Ngt. Taksis peputra :
   1. R. Ngt. Markun I
   2. R. Ngt. Markun II
   3. R. Rais
22. R. Ngt. Karman peputra :
   1. R. Ngt. Dahuhadi Sutirto
   2. R. Ngt. Daman
   3. R. Nur
   4. R. Ngt. Umi
   5. R. Ngt. Kodar
23. R. Imri peputra :
   1. R. Ngt. Duroniah
   2. R. Baliyo
   3. R. Komar
   4. R. Ngt. Siri
   5. R. Abu Dardak
   6. R. Wahyuyun
   7. R. Yunus
24. R. Katim peputra :
25. R. Katam peputra :
   1. R. Dulah
   2. R. Imam Muhammad
   3. R. Zaeni Dahlan
   4. R. Ngt. Asyiah



catatan ;
R. Ngt adalah singkatan dari raden nganten, julukan putri bangsawan yang telah menikah. Jika belum menikah masih ditulis RA. ( raden ayu ) atau RR. ( raden rara ).

Silsilah nasab diturun oleh R. Ananda Basaiban dari pustaka darah 1956Tarikh Muhyidin Arrofingi / Riwayat kyai guru Luning dan Kyai Imam Puro mursyid torekoh satariyah keduTuesday, May 25, 2010 8:05 PMTARIKH
NUR IMAN
MUHYIDIN ARROFI’I


Nyariosaken Riwayat Saha Silsilahipun
KGPH. KARTASURA RM. SANDEYO / KYAI AGENG NUR IMAN MLANGI
LAN
RM. MANSYUR MUHYIDIN ARROFI’I / KYAI GURU LUNING






dipun anggit dening :
Sayyid R. Muh. Ravie Ananda
Kebumen








BEBUKA




Kebumen, Selasa Legi 17 Februari 2009 / 22 Safar 1430 H / tahun Je, Wuku Warigalit 1942

Mugi Gusti Kang Maha Asih tansah maringi Rahmat lan Welas Asihipun dhumateng Kyai Ageng Nur Iman Mlangi / KGPH Kartasura  RM. Sandeyo lan Kyai Guru Luning RM. Mansyur Muhyidin Arrofi’i saha sedaya garwanipun sumrambah pra putra wayah turunipun ing dalem Agami, Dunya dumugi Akhiratipun, ing dalem Jasad, Batin dumugi Ruhipun.

Kitab punika kaparingan asma “ TARIKH NUR IMAN MUHYIDIN ARROFI’I “, dipunanggit dening Sayyid R. Muh. Ravie Ananda ingkang mapan wonten ing Jalan Garuda 13 Kebumen 54311 Jawa - Tengah, salah satunggaling putra wayah turunipun Kyai Nur Iman Mlangi kaliyan garwa Putri Cina tedhak kaping pitu / putra wayah turunipun Kyai Guru Luning kaliyan garwa Alang – Alang Amba tedhak kaping nem.

Carios lan Silsilah dipunhimpun saking Pra Turunipun Kyai Nur Iman Mlangi lan Kyai Guru Luning, ugi kapundhut saking Seratan Sejarah Nasional lan Pustaka Dharah ingkang dipunlarasaken kaliyan kaleresanipun kawontenan ing sejarah .

Kitab punika dipunanggit kanti pikajeng ngluhuraken, bektos lan gumatos dhateng pra Leluhur ingkang nurunaken kita sami, khususipun Kyai Ageng Nur Iman Mlangi ( KGPH. Kartasura RM. Sandeyo ) lan Kyai Guru Luning ( RM. Mansyur Muhyidin Arrofi’i ).

Mangertosi Sangkan kita, apesipun saged mangertosi paran kita. Ngumpulaken balung pisah, amargi sampun titi wancinipun Pra dharah Mataram, Pra dharah Tanah Dhawa RI sami wungu, rukun, gotong – royong, Memayu Hayuning Dhiri, Keluarga, Agami, Nungsa lan Bangsa Tanah Dhawa RI, ingkang dhayanipun saged hambantu nyirnakna reridhuning Negara.


Sura Dhira Jayaningrat kabeh Lebur dening Pangastuti. Rahayu.. Amin 







Kebumen, Selasa Legi 17 Februari 2009



        Sayyid R. Muh. Ravie Ananda








Kitab Tarikh Nur Iman Muhyidin Arrofi’i punika dipunwiwiti saking riwayat wiosipun Kyai Nur Iman Mlangi ( KGPH. RM. Sandeyo ) ngantos dumugi surutipun Kyai Guru Luning ( RM. Mansyur Muhyidin Arrofi’i ).

 Dipunwiwiti saking silsilahipun, Kyai Nur Iman Mlangi punika putranipun RM. Surya Putra / Kanjeng Gusti Sinuwun Amangkurat Jawi / Amangkurat IV kaliyan Garwa I ingkang asma RA. Retno Susilowati ( putrinipun Adipati Wiranegara / Untung Surapati ).

 RM. Surya Putra punika putranipun Pangeran Puger / Pakubuwana I / Amangkurat II Kartasura kaliyan Garwa Ratu Mas Blitar ( tedhak turunipun Pangeran Juminah bin Panembahan Senopati kaliyan garwa Retno Dumilah putri Madiun ).

Riwayatipun Kyai Nur Iman Mlangi kathah gegandenganipun kaliyan sejarah perjuangan bongsa kita. Wonten ing tanggal 06 Juli 1704, Pangeran Puger ingkang kagungan asma RM. Drajat ( putranipun Kanjeng Gusti Sinuwun Amangkurat I kaliyan garwa saking keturunan Kajoran ) dipunwisuda jumeneng nata “ Susuhunan Pakubuwana Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa “ utawi Pakubuwana I. Miturut seratan sejarah, Pangeran Puger ugi nate jumeneng nata Amangkurat II amargi Keng Rama kaliyan kangmasipun ingkang asma RM. Rahmat crah. Pramila Pangeran Puger lajeng kawisuda dados putra mahkota. Wontenipun kraman Trunajaya ing warsa 1677, RM. Rahmat nampik dawuhipun Keng Rama ( Amangkurat I ) supados hanjagi Kraton Mataram Kertasura ingkang wekdal semanten kutarajanipun wonten ing Plered. Panjenenganipun jengkar ngili mangilen.Pangeran Puger lajeng mandhegani ngayahi dhawuhipun Keng Rama kagem bukti bilih mboten sedaya keluarga Kajoran hambiyantu Trunajaya. Kanti kedadosan punika wau Pangeran Puger jumeneng nata Amangkurat II. Ananging amargi kekiyatanipun mengsah ingkang sanget  ageng, Panjenenganipun lajeng jengkar dhateng Jenar. Wonten ing Jenar Panjenenganipun yasa Kraton Purwakanda ingkang pusatipun wonten ing Jenar. Panjenenganipun jumeneng nata kanti gelar “ Susuhunan Ing Ngalaga “. Sak sampunipun Trunajaya wangsul dhateng Kediri, Plered dipunrebut malih dening Susuhunan Ingalaga ( Pangeran Puger ) lan ngusir sedaya prajuritipun Trunajaya ingkang taksih wonten ing mriku.
Amangkurat I seda wonten ing laladan Tegalwangi / Tegal Arum. RM. Rahmat jumeneng nata Amangurat II tanpa tahta amargi Plered ingkang dados kutaraja Mataram wekdal semanten dipunjagi lan dipunlenggahi dening Pangeran Puger ingkang mboten kersa ngili.

Amangkurat II RM. Rahmat yasa kraton enggal kanti asma Kertasura wonten ing wulan September 1680. Panjenenganipun lajeng nimbali Amangkurat II ( Pangeran Puger ) supados dados setunggal kaliyan Panjenenganipun, ananging Pangeran Puger mboten kersa. Pramila lajeng wonten kedadosan perang sedherek wonten ing tanggal 28 November 1681.

Susuhunan Ing Ngalaga Amangkurat II ( Pangeran Puger ) nyerah dhateng Jacob Couper, pimpinanipun  VOC., ingkang hambiyantu Amangkurat II ( RM. Rahmat ). Susuhunan Ing Ngalaga lajeng jumeneng nata kanti asma Pangeran Puger malih, wondene RM. Rahmat jumeneng nata Amangkurat II.

Sikap lan solahbawanipun Pangeran Puger kaliyan RM. Rahmat punika benten Sanget. Amangkurat II langkung alit manahipun lan mboten jejeg tekadipun, wondene Pangeran Puger punika Sanget tegas. Pramila gelar Amangkurat II wekdal semanten kados dene pralambang ( simbol ) kemawon amargi ingkang langkung kathah nglampahaken roda pemerintahan inggih Panjenenganipun Pangeran Puger ingkang panci dipundadosaken astatengenipun Amangkurat II ( RM. Rahmat ). Pangeran Puger Surut wonten ing warsa 1719.

Salahsetunggaling putranipun Pangeran Puger inggih punika RM. Surya Putra. Panjenenganipun  lolos keprabon saking kraton amargi mboten remen kaliyan kawontenaning kraton wekdal semanten ingkang sampun kenging pakerti adudombanipun Walandi ingkang handadosaken keluarga kraton sami crah lan rebut panguwaos. Panjenenganipun tindak dhateng pernah wetan / brang wetan ngantos dumugi pesantren Gedangan Surabaya ingkang dipunasta dening Panjenenganipun Kyai Abdullah Muhsin. RM. Surya Putra lajeng nyantri wonten ing mriku lan hanggantos nami Muhammad Ihsan.
Wonten ing satunggaling wekdal, pesantren Gedangan ngawontenaken pengaosan selapanan ingkang wekdal semanten dipunrawuhi ugi dening Adipati Wiranegara ( punika gelar paringan Amangkurat II dhateng Untung Surapati ingkang sampun tumut hambiyantu mejahi Pimpinan Kompeni ingkang asma Kapten Tack ). Muh. Ihsan dados ketua santri lan dherek ngladosi daharan kagem pra tamu. Wekdal M. Ihsan ngladosi daharan wonten ngarsanipun Adipati, Panjenenganipun dipunpriksani kanti taliti dening Sang adipati wau. Adipati Wiranegara yakin sanget bilih sampun nate kepanggih kaliyan Muh. Ihsan lan Panjenenganipun punika wau salahsetunggaling bangsawan. Pramila sakcekapipun pengaosan, Sang Adipati mboten lajeng kondur, ananging lajeng handhawuhi Kyai Abdullah Muhsin  supados Panjenenganipun nimbali santri ingkang asma Muh. Ihsan punika wau. Saksampunipun pepanggihan lan wawansabdha, lajeng dipunmangertosi bilih Muh. Ihsan punika panci salahsetunggaling bangsawan. Panjenenganipun Muh. Ihsan lan Adipati Wiranegara lajeng dhawuh dhumateng Kyai Abdullah Muhsin supados Panjenenganipun Kyai kersa hanjagi wadosipun Muh. Ihsan, supados kulawarga kraton mboten mangertos. Sakderengipun kondur, Sang Adipati ugi nyuwun kanti sanget supados Panjenenganipun Muh. Ihsan kaliyan Kyai Abdullah Muhsin kersa tindak dhateng kadipaten.

Sak sampunipun Muh. Ihsan rawuh wonten ing kadipaten kaliyan Kyai Abdullah Muhsin, Panjenenganipun dhawuh dhumateng Adipati supados hanjagi wadosipun. Sanesipun punika, Sang Adipati lan Kyai Abdullah Muhsin ugi nyuwun kanti sanget supados Muh. Ihsan kersa dipunpundhut putramantu dening Adipati Wiranegara. Akhiripun Muh. Ihsan dipunkramakaken kaliyan putrinipun  Adipati Wiranegara ingkang asma RA. Retno Susilowati. Saksampunipun krama, Keng Garwa wau lajeng dipunboyong dhateng pesantren Gedhangan.

Gantos carios, sakpungkuripun RM. Surya Putra lolos keprabon, Kraton Matram langkung awon kawontenanipun. Dumugi satunggaling wekdal, lenggahipun RM. Surya Putra dipunmangertosi dening kulawarga Kraton. Sinuwun Nata lajeng utusan supados manggihi RM. Surya Putra wonten ing Gedhangan lan dipunsuwun supadhos kondur dhateng Kraton. Saksampunipun kepanggih lan wawansabdha kaliyan RM. Surya Putra wonten ing pesantren Gedhangan, utusan wau lajeng nyuwun supados RM. Surya Putra kondur. Amargi punika wau dhawuhipun  Sang Nata, pramila RM. Surya Putra mboten wantun nampik. Panjenenganipun lajeng pamitan dhateng Kyai Abdullah Muhsin lan ndherek titip Keng Garwa ingkang wekdal semanten mboten saged dipunboyong dhateng Kraton amargi saweg ngandhut sepuh. RM. Surya Putra ugi dhawuh dhateng Kyai Abdullah Muhsin supados mbenjang menawi putranipun sampun  miyos, lan menawi miyosipun kakung supados dipunparingi asma RM. Sandeyo, wondene menawi putri sumangga Kyai anggenipun maringi asma. Sanesipun wau Kyai ugi dipunsuwun supados ngrimat lan hanggulawentah Keng putra kanti sae lan saestu amargi mbenjang menawi sampun dhiwasa badhe dipunpundhut kondhur dhateng Kraton.

Sakduginipun RM. Surya Putra wonten ing Kraton, Panjenenganipun lajeng kawisuda jumeneng nata “ Sinuwun Amangkurat Jawi / Amangkurat IV “. Panjenenganipun jumeneng  nata wiwit 1719 dumugi 1726.

Sak pungkuripun RM Surya Putra punika wau kondhur dhateng Mataram, saestu putranipun miyos kakung. Dening Kyai Abdullah Muhsin lajeng dipunparingi asma RM. Sandeyo kados dhawuhipun RM. Surya Putra. Sanesipun  punika, dening Kyai Abdullah Muhsin, lare punika ugi dipunparingi asma Nur Iman. Kyai yakin sanget bilih benjang menawi sampun titiwancinipun, Nur Iman badhe dados ulama ingkang misuwur luhuripun.

Satunggaling wekdal, Sinuwun Amangkurat Jawi kengetan bilih Panjenenganipun  kagungan garwa ingkang dipuntilar wonten ing pesantren Gedhangan, ingkang wekdal semanten saweg ngandhut sepuh. Menawi miyos lan sugeng ngantos wekdal semanten, mbok bilih putranipun sampun  dhiwasa. Sang Nata lajeng utusan supados madhosi Keng putra wonten ing pesantren Gedhangan, mbok bilih dipunparingi sugeng. Saksampunipun  kepanggih lan wawansabdha kaliyan RM. Sandeyo ingkang saestu taksih sugeng lan sampun  dhiwasa, utusan wau lajeng nyuwun supados RM. Sandeyo wau kersa kondur dhateng Mataram kadhos dhawuhipun Sang Nata ( Keng Rama ). RM. Sandeyo kersa kondur ananging mboten kersa sesarengan kaliyan utusan wau. Sakderengipun kondur, Panjenenganipun midhangetaken sedaya aturipun Keng Ibu lan Kyai Abdullah Muhsin ingkang sampun nggulawentah wiwit miyos. Sakcekapipun punika wau RM.,Sandeyo lajeng nyuwun pamit. Konduripun  RM. Sandeyo dhateng Mataram dipundherekaken dening rencang raketipun kalih ingkang asma Sanusi lan Tanmisani. Wonten ing margi, Panjenenganipun RM. Sandeyo kaliyan rencang kekalih wau tansah nyebaraken syiar agami Islam kados dhawuhipun Kyai Abdullah Muhsin. Panjenenganipun yasa pinten – pinten pesantren, pramila duginipun wonten ing Mataram radi dangu. Pesantren – pesantren yasanipun Kyai Nur Iman punika wau wonten ing Ponorogo, Sepanjang lan Pacitan.

Sakduginipun wonten kraton, RM. Sandeyo lajeng sungkem dhateng Keng Rama lan lajeng dipuntepangaken kaliyan sedaya kulawarga lan rayinipun. Panjenenganipun lajeng dipunwisuda dening Keng Rama ( Amangkurat Jawi ) dados “ Nayaka Agung ( Kanjeng Gusti Pangeran Hangabehi Kertasura ) lan lenggah wonten ing Sukowati.

Amargi wiwit alit dumugi dhiwasa RM. Sandeyo punika ingkang dipun udhi ing saben dintenipun inggih babagan agami Islam lan mesuh luhuring budhi, pramila Panjenenganipun RM. Sandeyo mboten kersa kaliyan ulahkaprajan. Panjenenganipun namung kepingin damel pesantren kagem mucali agami Islam. Kedadosan makaten ingkang akhiripun handadosaken RM. Sandeyo lolos keprabon dipundherekaken abdi kekalih ngleresi wekdal wontenipun perang sedherek ( antawisipun RM. Said / Pangeran Sambernyawa kaliyan Pangeran Mangkubumi / RM. Sujono ) .

 RM. Sandeyo tindak mangilen pados panggenan ingkang sae lan berkah kagem dipundamel pesantren. RM. Sandeyo tansah mucali Agami Islam lan nuwuhaken tresna dhateng Negari, dhateng sinten kemawon tiyang ingkang dipunpanggihi.  Dumugi ing satunggaling wekdal, Panjenenganipun lajeng nglampahi tapa brata dipunderekaken abdi kekalih. RM. Sandeyo nyuwun dhumateng Gusti Kang Maha Agung supados dipunparingi sasmita panggenan punika. Akhiripun wonten ing wanci Duha, Panjenenganipun pikantuk sasmita panggenan ingkang manter mawa cahya ugi hamambet arum. Sak sampunipun pikantuk sasmita makaten, RM. Sandeyo lajeng kendel tapanipun lan damel slametan saking bubur jagung ingkang dipuncampur kaliyan ingkung. Sak sampunipun damel selametan makaten, siti ingkang taksih awujud wana punika lajeng dipunbabad lan dipundamel pesantren Ageng, masjid lan palenggahanipun ( Panggenan tapa wau lajeng dipundadosaken pasujudanipun RM. Sandeyo ingkang sak mangke wonten ing tengahipun Saka Guru Mesjid Mlangi, dene palenggahanipun RM. Sandeyo sakmangke wonten ing pernah kilen kidulipun mesjid Mlangi, ugi ingkang dados pondhokipun Kyai Nawawi ).

Saksampunipun dados dhusun, panggenan punika lajeng kaparingan asma Dhusun Mlangi amargi panggenanipun mulangi ( mucali ) ngaos agami Islam lan mambet wangi ( arum ). Wondene panggenan lenggahipun Abdi kekalih inggih wonten ing sakkidulipun dhusun Mlangi ingkang sakterusipun kawastan Dukuh.Wiwit dinten punika RM. Sandeyo kasebat Kyai Nur Iman Mlangi.

Wonten ing setunggaling wekdal, Kyai Nur Iman tindak mengilen ngantos dumugi laladan ingkang kawastan Kulon Progo. Rawuhipun Kyai Nur Iman dipuntampi kanti sae sanget dening Demang ingkang asma Hadiwangsa ( panguwaos laladan Gegulu ). Demang sakkulawarganipun lajeng ngrasuk Agami Islam. Dening Demang wau, Kyai Nur Iman lajeng dipunsuwun supados kersa dipunpundhut putramantunipun. Kyai Nur Iman lajeng dipunkramakaken kaliyan putrinipun Demang Gegulu ingkang asma Mursalah, dene rencangipun ingkang asma Sanusi dipunkramakaken kaliyan putrinipun Demang Gegulu ingkang asma Maemunah. Tanmisani ugi pikantuk putrinipun Demang Gegulu ingkang asma Romlah.

Gantos carios, crahipun kekalih rayinipun Kyai Nur Iman saged dipunleremaken kanti setunggal perjanjian wonten ing dhusun Giyanti, pramila lajeng katelah perjanjian Giyanti ( wonten ing warsa 1755 ) ingkang isinipun :

1.Kraton Mataram Kertasura dipunbagi dados kalih; Saking Prambanan mangetan dados kagunganipun Susuhunan Paku Buwana III, dene saking Prambanan mangilen dados kagunganipun Pangeran Mangkubumi, kutharaja wonten ing Ngayogjakarta.

2.RM. Said / Pangeran Sambernyawa dipun paringi palenggahan dados Adipati Mangkunegara I lan dipunparengaken yasa pura ingkang saklajengipun kawastan Pura Mangkunegaran.

Wekdal Kyai Nur Iman tindak dhateng pernah wetanipun Kali Progo, wonten ing dhusun Kerisan, Panjenenganipun kepanggih kaliyan Pangeran Mangkubumi. Kyai Nur Iman dipunsuwun supadhos kondur dhateng kraton Ngayogjakarta, ananging Panjenenganipun mboten kersa.

Wonten ing warsa 1776 ngleresi jumenenganipun Pangeran Mangkubumi Nata Mataram Ngayogjakarta Hadiningrat kanti asma Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senopati ing Ngalaga Khalifatullah Ngabdurrahman Sayidin Panatagama ingkang Jumeneng Sepisan, ingkang lajeng katelah Hamengku Buwana I, siti Palenggahanipun Kyai Nur Iman inggih punika dhusun Mlangi dipundadosaken Siti Perdhikan Mlangi.

Jamanipun Hamengku Buwana I punika katelah jaman Rejanipun / Jaman Kencananipun Kraton Ngayogjakarta. Sak surutipun Hamengku Buwana I, ingkang hanggantos nata inggih punika putranipun ingkang asma RM. Sundoro ingkang kawisuda jumeneng nata Hamengku Buwana II. Panjenenganipun sanget tresna dhateng negari lan rakyat. Punika ketingal saking saenipun lelabetan antawis Ulama kaliyan Umaro. Wekdal punika Kyai Nur Iman ngaturi pemanggih dhateng Hamengku Buwana II supadhos yasa sekawan mesjid Ageng kagem jangkepi lan handampingi mesjid ingkang sampun wonten inggih punika mesjid wonten ing kampung Kauman / wonten ing sisihipun Kraton. Mesjid ingkang badhe dipundamel punika wonten ing sekawan pernah lan dipunwastani Masjid Patok Nagari. Sekawan Mesjid wau inggih punika :

1.Ingkang wonten ing pernah Kilen, wonten ing Dhusun Mlangi ( sak derengipun sampun wonten ananging taksih alit lan sederhana, inggih punika mesjidipun Kyai Nur Iman ) dipunasta dening Kyai Nur Iman ;

2.Ingkang wonten ing pernah Wetan, wonten ing Dhusun Babadan, dipunasta dening putranipun Kyai Nur Iman ingkang asma Kyai Ageng Karang Besari ;

3.Ingkang wonten ing pernah Ler, wonten ing dhusun Ploso Kuning, dipunasta dening putranipun Kyai Nur Iman ingkang asma Kyai Mursodo ;

4.Ingkang wonten ing pernah Kidul, wonten ing dhusun Dongkelan, dipunasta dening putranipun Kyai Nur Iman ingkang asma Kyai Hasan Beshari.

Sekawan mesjid wau lajeng kawastanan mesjid Kagungan Dalem utawi masjid Kasultanan. Sedaya pengurus mesjid wau wekdal semanten kadadosaken abdi kraton.

Perang Diponegoro
Pangeran Diponegoro punika putranipun Hamengku Buwana III kaliyan garwa Ampeyan ingkang asma RA. Mangkarawati. Wiwit alit Pangeran Diponegoro mboten dipungulawentah tiyang sepuhipun, ananging dening Eyang Buyut Putrinipun ingkang asma Ratu Ageng ( garwanipun HamengkuBuwana I ), wonten ing Perdhikan Mlangi. Pangeran Diponegoro kagungan semangat Jihad Fisabilillah ingkang ageng sanget. Punika katingal saking agemanipun. Perang Diponegoro ingkang dipunwiwiti saking warsa 1825 ngantos dumugi ing warsa 1830 punika kathah sanget gegandhenganipun kaliyan pra putra Kyai Nur Iman. Putranipun Kyai Nur Iman ingkang asma Kyai Salim gugur wonten ing dhusun Ndimoyo lajeng katelah Kyai Sahid. Lereping perang Diponegoro punika kanti pakarti licikipun Walandi ingkang nglampahaken perundingan. Putranipun Kyai Nur Iman Ingkang asma Kyai Hasan Beshari ingkang dados pengawal pribadinipun Pangeran Diponegoro ugi ndherek dipuncepeng lan dipunkunjara wonten ing Manado ngantos dumugi sedanipun.

Sak surutipun Perang Diponegoro, Walandi ngadhep Hamengku Buwan III lan mitenah kanti matur bilih Pangeran Diponegoro sakpenderekipun punika pemberontak. Kedadosan makaten wau ingkang dadosaken pra prajuritipun Pangeran Diponegoro kalebet ugi pra putra wayahipun Kyai Nur Iman mboten wantun kondur dhateng Mlangi. Pundi panggenan ingkang dipunanggep aman lajeng dipunlenggahi. Punika ndadosaken sumebaripun pra turunipun Kyai Nur Iman, mboten namung wonten ing Jawi Tengah lan Ngayogjakarta kemawon. Wondene Kyai Nur Iman tetep lenggah wonten ing dhusun Mlangi ngantos dhumugi sedanipun.
 Pangupajiwanipun  Kyai Nur Iman Mlangi inggih saking pamedal tetanen sabin. Wiyaripun sabin Kyai Nur Iman inggih sakwiyaripun suwanten bedug taksih kapireng. Sanesipun saking tetanen, Kyai Nur Iman ugi pikantuk kasil saking Kraton Ngajogjakarta. Punika amargi wekdal awal adegipun Kraton Ngayogjakarta inggih sebab wontenipun perjanjian Giyanti taun 1755 M, Kyai Nur Iman dipunwisuda Jumeneng nata “ Ingkang Sinuwun Hamengku Buwana I Ngayogjakarta “ ananging mboten kapanjang, amargi sayektosipun Kyai Nur Iman mboten kersa., namung karana kawontenan nagari wekdal semanten ingkang mboten aman, pramila sedaya nyuwun kanti sanget supados Kyai Nur Iman ingkang Jumeneng Nata Raja Ngayogjakarta ingkang sepindah, kagem ngalap berkahipun Kyai Nur Iman. Kyai Nur Iman Jumeneng Nata Hamengku Buwana I namung tiga setengah ( 3,5 ) taun. Sakterusipun lajeng kondur dhateng Mlangi.

 Sanajan sampun kondur dhateng Mlangi, Kyai Nur Iman taksih hambiyantu amrih katentremanipun Kraton Ngayogjakarta, pramila Panjenenganipun taksih nampi kasil saking Kraton Ngayogjakarta ngantos dumugi putranipun, inggih punika Kyai Nawawi.

Kyai Nur Iman katelah Kyai Ageng Nurman utawi Kyai Ageng Nyabrang Sapisan
Miturut Pra Ulami Sepuh Jawi Tengah, dipuncariosaken bilih anggenipun Kyai Nur Iman Mlangi katelah Kyai Ageng Nyabrang Sapisan lan Kyai Nawawi Katelah Kyai Ageng Nyabrang II inggih amargi kawontenanipun kedadosan Perang Diponegoro.

Sajatosipun, perang Diponegoro punika wau asal saking pamanggihipin ( inisiatif ) Kyai Nur Iman Mlangi. Namung, amargi Panjenenganipun sampun sepuh, lajeng handhawuhaken dhateng Pangeran Diponegoro / RM. Antawirya ingkang taksih kapernah buyut lan santrinipun, supados nglampahaken yudha lawan Walandi. Sanajan sampun sepuh, Panjenenganipun Kyai Nur Iman lan sedaya putranipun ugi nderek yudha wonten ing ngalaga. Wonten ing satunggaling wekdal, Kyai Nur Iman lan Kyai Nawawi ( putranipun ) kepepek dipunkepung dening Walandi wonten ing tepining seganten ngantos mboten saged mlajar malih. Kyai Nur Iman lajeng hanggelar sorbanipun ingkang awarni abrit lan lajeng lenggah wonten ing sak inggiling sorban wau. Kuwaosipun Gusti ingkang Maha Asih, sorban wau mboten kerem, ananging lajeng kumambang wonten ing nginggiling toya seganten. Kyai Nur Iman lajeng nyabrang seganten nitih sorban wau lan ngical. Walandi ngantos sami gumun, pramila Kyai Nur Iman lajeng katelah Kyai Ageng Nyabrang sapisan. Wondene Kyai Nawawi ugi lajeng nyusul Keng Rama kanti nitih sepet. Kuwaosipun Gusti ingkang Maha Asih sepet punika wau ugi mboten kerem. Pramila Kyai Nawawi lajeng katelah Kyai Ageng Nyabrang II.

Satunggaling wekdal, wonten pawestri Cina ( tedhak Campa ) asal saking daerah Kuwojo Purworejo ( ananging mlebet wilayah Ngayogjakarta ) ingkang taksih enem lan indah ing warni, ngawula lan ngaos dhateng Kyai Nur Iman Mlangi. Salajengipun pawestri wau dipun garwa dening Kyai Nur Iman Mlangi ( inggih punika ingkang dados ibunipun Kyai Guru Luning Muhyidin Arrofi’i )

Kyai Nur Iman seda wonten ing Mlangi lan dipunsarekaken wonten ing Kilen pangimaman mesjid Mlangi. Pesarehan wau lajeng dipunwastani Pesarehan Pangeran Bei / Pesarehan Kagungan Dalem Kasultanan, pramila gapura wonten ing sakngajengipun margi ingkang kagem mlebet pesarehan wau dipundamel kados Gapura Kraton. Kados dene pesarehanipun pra Auliya lan Ulama ageng sanesipun, pesarehanipun Kyai Nur Iman ugi kathah dipunziarahi dening tiyang saking Ngayogjakarta lan sanes – sanesipun.

Khoulipun Kyai Nur Iman Mlangi dipunwontenaken ing saben malem tanggal 15 wonten ing wulan Sura / Muharram.

Ngantos dumugi sak punika ing dhusun Mlangi wonten pinten – pinten pesantren kadosta :
1. PP. Al Miftah dipunasta dening Kyai Sirrudin lan dipunterusaken dening KH. Munahar
2. PP As Salafiyyah dipunasta dening Kyai Masduqi lan dipunterusaken dening KH. Suja'i Masduqi
3. PP. Al Falahiyyah, dipunasta dening KH. Zamrudin lan dipunterusaken dening Nyai hj. Zamrudin
4. PP. Al Huda dipunasta dening KH. Muchtar Dawam
5. PP. Mlangi Timur dipunasta dening KH. Wafirudin lan dipunterusaken dening Nyai Hj. Wafirudin
6. PP. Hujjatul Islam dipunasta dening KH. Qothrul Aziz
7. PP. As Salimiyyah dipunasta dening KH. Salimi
8. PP. An Nasyath dipunasta dening KH. Sami'an
9. PP. Ar Risalah dipunasta deningKH. Abdullah
10. PP. Hidayatul Mubtadin dipunasta dening KH. Nur Iman Muqim

Pesantren wonten ing sakjawinipun dhusun Mlangi ingkang taksih kalebet Pra Turunipun Kyai Nur Iman Mlangi inggih Punika :
1. PP. Watu Congol Muntilan dipunasta dening KH. Ahmad Abdul Haq
2. PP. Tegalrejo Magelang dipunasta dening KH. Abdurrahman Khudlori
3. PP. Al Asy'ariyyah Kalibeber Wonosobo dipunasta dening KH. Muntaha
4. PP. Bambu Runcing Parakan Temanggung dipunasta dening KH. Muhaiminan
5. PP. Secang Sempu Magelang dipunasta dening KH. Ismail Ali
6. PP. Nurul Iman Jambi dipunasta dening KH. Sohib lan Nyai Hj. Bahriyah

Mbah Kyai Nur Iman Mlangi nganggit pinten – pinten kitab antawisipun :
1. Kitab Taqwim ( Ringkesan Ilmu Nahwu )
2. Kitab Ilmu Sorof ( Ringkesan Ilmu Sorof )

Wonten ing Museum Diponegoro Magelang ugi wonten tilaran saking Pangeran Diponegoro arupi kitab Takrib, waosanipun Pangeran Diponegoro. Kitab punika anggitanipun Kyai Nur Iman Mlangi.

Salahsatunggalipun santri Mlangi ingkang sakcekapipun ngaos ing Mlangi lajeng yasa pesantren inggih punika Kyai Abdul Karim ( ingkang yasa pesantren Lirboyo Kediri ).

Wonten ing warsa 1953 Masjid Mlangi dipunparingaken dhateng rakyat ( wakaf ) lan dipunparingi asma Masjid Jami' Mlangi. Pasrah tinampi saking Hamengku Buwana IX dhateng warga dipunwakili dening alim ulama lan masyarakat, antawisipun:
1. Kyai Sirudin
2. Kyai Masduki
3. M. Ngasim

Tradisi tilaranipun Kyai Nur Iman Mlangi ingkang taksih dipunlestantunaken ngantos dumugi sak punika inggih punika :
1. Ziaroh / kintu ahli kubur kanti maos tahlil lan Al Quran, surat Al Ikhlas lan sanes - sanesipun.
2. Maos sholawat Tunjina ( kagem nyenyuwun keslametan wonten ing hajat punapa kemawon )
3. Maos sholawat Nariyah ( kagem nyeyuwun keslametan wonten ing hajat kadosta tiyang ngandhut lan sanes - sanesipun )
4. Maos kalimat Thoyyibah, tahlil Pitung Leksa (Khususipun menawi kagem tamba / tamba sapu jagad)
5. Manakib Abdulqodiran
6. Barjanji / Rodadan
7. Sholawatan / Kojan lan sanes - sanesipun.












Wiyosipun Kyai Guru Luning RM. Mansyur Muhyidin Arrofi’i

 Sak Surutipun Kyai Nur Iman Mlangi, Garwa Puteri Cina punika mboten kersa lenggah wonten ing Mlangi malih. Wekdal semanten Panjenenganipun saweg ngandhut nem wulan. Puteri Cina punika lajeng jengkar saking Mlangi njujug dalemipun Kaum Bedungus ( abdi sarta muridipun Kyai Nur Iman Mlangi ). Tindakipun dhateng pernah Ler Kilen ngantos dumugi ing dhusun Bedungus Kemiri Kutoarjo. Saking sayahipun, Puteri Cina wau ngantos mboten saged tindak. Dipuncariosaken bilih tindakipun Puteri Cina punika saking dusun Mlangi dhateng pernah Kidul Kilen dumugi dhusun Ngapak ( pernah wetanipun Kali Progo ), lajeng mangaler. Sak sampunipun mangaler lajeng lurus mangilen miyos dhusun Kaligesing ngantos dumugi Dhusun Bedungus. Tindakipun Puteri Cina wau pikantuk pitedhah saking swanten kandhutanipun. Saksampunipun dumugi wonten ing dhusun Bedungus, Panjenenganipun Puteri Cina dipuntampi kanti sae dening kulawarganipun Kaum Bedungus sak lami – laminipun.

 Wekdal Putri Cina punika badhe mbabar kandhutanipun, dumadakan wonten teja ingkang manter hanelahi madhangi panggenan lairipun si jabang bayi. Saksampunipun makaten, si jabang bayi kakung ingkang bagus pasuryanipun punika miyos. Saksampunipun bayi punika miyos, pra Putra Kyai Nur Iman Mlangi ingkang wonten ing Mlangi dipunaturi tindak dhateng dhusun Bedungus supados mriksani Keng rayi punika. Dening pra Raka Keng rayi dipunparingi asma RM. Mansyur. Wiosipun RM. Mansyur wonten ing warsa 1220 H / 1799 M.

 Sebab Sanget bektinipun dhateng Nyai Mlangi ( Puteri Cina ), kulawarga Mlangi lajeng maringi kanugrahan dhateng Kaum Bedungus wau kanti ngangkat putranipun ingkang asma Kyai Zarkasih dados kulawarga Mlangi. Saklajengipun Kyai Zarkasih peputra Kyai Sidiq. Kyai Sidiq peputra Kyai Nawawi Berjan. Kyai Nawawi Berjan peputra Kyai Khalwani Nawawi Berjan ingkang sakpunika nerusaken syiar Islam wonten ing Berjan Purworejo.

 Nyai Putri Cina wau lajeng katelah Nyai Ngadiluwih ingkang sakpunika pesarehanipun wonten ing dhusun Bedungus Kutoarjo. 

RM. Mansyur lenggah wonten ing dhusun Bedungus wiwit miyos dumugi dhiwasa.  Sak sampunipun dhiwasa, Panjenenganipun RM. Mansyur lajeng tindak ngaos dhateng Salaman Magelang wonten ing  Pondhokipun Kyai Soleh Qulhu. RM. Mansyur asring kabiyantu arta ugi sanesipun dening Patih Dipodirjo, sahingga saged ngaos kanti sekeca dumugi tindak haji sesarengan kaliyan Kyai Soleh Qulhu. Sak konduripun saking Mekah, RM. Mansyur lajeng pikantuk asma Muhyidin Arrofi’i.

 Wekdal nyantri wonten ing Magelang, RM. Mansyur mboten kados limrahipun santri sanes. Panjenenganipun sanget alim. Pasuryanipun ingkang bagus lan solah bawanipun ingkang sanget santun handadosaken RM. Mansyur dipunpundhut putramantu dening Kyai Soleh Qulhu lan Patih Dipodirjo.

 Sanesipun ngaos wonten ing Magelang, Panjenenganipun RM. Mansyur ugi ngaos wonten ing Demak, ngantos kapundhut putramantu dening Pengulu Demak wekdal semanten lan peputra RM. Haji Abdurrahman ingkang dados Pengulu Demak.

 RM. Mansyur ugi nate tindak ngaos ngantos dangu wonten ing Aceh. Sakkonduripun saking Aceh, RM. Mansyur lajeng trukah wonten ing Luning. Siti Udakawis 40 bahu / 3 hektar ingkang waunipun taksih awujud alang – alang dipunbabad lan saklajengipun dipundamel dhusun. RM. Mansyur dipunbiyantu dening Glondong Luning ingkang asma Dipomenggolo ( pesarehanipun wonten ing sak kilenipun pesarehan Kyai Guru Luning, persisipun wonten ing sakngandaping wit ageng ; wekdal kawula ziarah ndalu nyarengi dinten Khoulipun Kyai Guru Luning, Panjenenganipun Glondong Dipomenggolo Rawuh lan manggihi wonten alam Nuriyah, dedegipun ageng inggil mawi kumis lan jenggot ingkang ketel, pakulitanipun radi cemeng lan swantenipun ageng, wekdal semanten Panjenenganipun ugi ndherek Ziarah kaliyan pinten – pinten ruhipun muridipun Kyai Guru Luning mbok bilih kagem ngormati khoulipun Kyai Guru Luning ).


Saksampunipun dados dhusun, RM. Mansyur lajeng damel pesantren awujud pondhok lan mesjid. Santrinipun kathah ingkang saking Demak, Magelang, Kendal, Cirebon, Surabaya, Tremas, Pacitan, Banten, Jawi Kilen lan sanes – sanesipun. Wiwit wekdal punika RM. Mansyur katelah Kyai Guru Luning Muhyidin Arrofi’i.

 Antawisipun santri – santri wau wonten ingkang asma Kyai Basori, putranipun Kertanegara ( Pengulu Landrat Purwokerto ) ingkang saklajengipun dados Kyai Mlaran sepindah ngantos dumugi turunipun sakpriki.

 Wekdal pertobatan sepindah, wonten satunggaling murid asma Ki Jayeng Kewuh Sucen Jurutengah, nyuwun kanti sanget supados putranipun Kyai Guru Luning kersa dipunpundhut dados putramantunipun. Kyai Guru Luning marengaken, lajeng maringaken putranipun ingkang asma RM. Chamid dipunkramakaken kaliyan Nyai Jariyah lan lajeng dipundadosaken Kyai wonten ing Tritis Sucen Jurutengah, Wondene RM. Abdul Aziz ( wayahipun / putranipun RA. Nyai Jamilah Sangid ) dipunkramakaken kaliyan Putri Ki Jayengkewuh lan dipundadosaken Kyai Wonten ing Beji Sucen Jurutengah.

 Wekdal pertobatan ambal kaping kalih, wonten satunggaling saudagar asal saking Baledono Purworejo asma Ki Suteruno nyuwun kanti sanget supadhos putranipun Kyai Guru Luning kersa dipunpundhut dados putramantunipun. Kyai Guru Luning marengaken, lajeng ngramakaken putra bektanipun ( gawan ) saking garwa Puteri Patih Dipodirjo ingkang asma Kyai Haji Yusack ( ingkang apal Quran ) ingkang sumare wonten ing Candi Baledono Purworejo.

Antawisipun pra santrinipun Kyai Guru Luning ingkang kalebet priyayi inggih punika :
1. Bupati Kutoarjo ingkang asma RM. Suryokusumo
2. RM. Purbokusumo
3. Patih Kutoarjo ingkang asma Raden Kertopati
4. Nyai Patih Dipodirjo Purworejo ingkang saklajengipun dados marasepuhipun Kyai Guru Luning.

Kyai Guru Luning punika satunggaling Ulami kina ingkang Khos wonten ing babagan agami Islam lan Guru Qurro ingkang Apal Quran. Panjenenganipun kagungan sifat welas asih mboten naming dhumateng sesami, ananging ugi dhateng kewan – kewan, malah nate wonten ing satunggaling wekdal,wonten laler ingkang nyecep tinta ingkang saweg kagem nyerat, lajeng Panjenenganipun kendel nyeratipun ngantos dumugi laler punika kesah. Kyai Guru Luning asring mboten dhahar ing sedinten - sedalunipun. Malah wekdal Panjenenganipun taksih ngaos wonten ing pondhok, asring kemawon sekulipun dipuncampur kaliyan pasir. Kyai Guru Luning salahsatunggaling priyantun ingkang ahli wirangi, mboten kersa nglampahi ingkang mboten limrah. Mboten kersa ngagem mingsri ( lisah arum ). Mboten kersa dhahar masakanipun tiyang ingkang mboten takwa. Kyai Guru Luning ugi ahli puasa lan sholat sunat. Sedinten sedalu ngantos 41 rokaat.

 Kyai Guru Luning anggenipun nyebar agami Islam mboten namung mucal pinten – pinten kitab kuning, ananging ugi mucal Al Quran kanti fasih ngagem tembang Misry, Makiyyi lan Bashairy, mboten namung dhateng pra santri kakung, ananging ugi dhateng pra santri estri, pramila pondhok Luning punika lajeng kasiyar dumugi ing pundhi kemawon.

 Kyai Guru luning ugi mucal Tarekat Syatariyah. Malah wonten santrinipun ingkang angsal ijazah tarekat Syatariyah. Santri punika inggih Panjenenganipun Kyai Imam Puro ( Kyai Ngemplak ). Dipuncariosaken bilih Kyai Imam Puro ( Kyai Ngemplak ) dados santrinipun Kyai Guru Luning wiwit alit. Kyai Imam Puro dados abdi wonten dalemipun Kyai Guru Luning. Panjenenganipun dipunpasrahi kebon / pekawisan ingkang wiyaripun 8 bahu ingkang dipuntanemi woh – wohan, ananging ngantos dumugi 8 tahun Panjenenganipun Kyai Imam Puro dereng nate nyicipi woh - wohan punika, pramila Kyai Imam Puro lajeng katelah Benawi ingkang artosipun jujur. Kyai Imam Puro mboten nate dhahar kejawi namung keron / intip, meski saben dintenipun kulawarga Kyai Guru Luning masak sekul. Kyai Imam Puro ngaos Al Quran namung angsal 10 juz lan surat tafsil sesarengan kaliyan Kyai Murtolo, Ketib Kauman Purworejo ingkang dados putramantunipun H.R. Baedowi Pengulu Landrat Purworejo. Kyai Imam Puro punika  Ahli Ushul, wondene Kyai Murtolo Ahli Fiqih lan Falaq.

 Kyai Guru Luning nglampahi dzikir Saman. Kathah tiyang Bawean lan Banjarmasin ingkang mundhut baiat wonten ngarsanipun Kyai Guru Luning.

 Kyai Guru Luning ugi aktif wonten ing babagan perjuangan. Panjenenganipun sesarengan kaliyan Pangeran Diponegoro nglampahaken perang sandhi lan pikantuk kamenangan wonten ing daerah Kemiri, Loano, Sucen lan sanes – sanesipun. Saking alusipun ngantos Walandi mboten sumerep babarpisan. Saklereping perang, Kyai Guru Luning ugi taksih berjuang kanti ngajengaken tuntutan – tuntutan dhateng Walandi sesarengan kaliyan Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim ( Mbah Ahmad Alim ) Bulus ingkang dipuntandhu amargi sampun sanget sepuhipun.

 Tiyang Jawi ingkang kacepeng dening Walandi wekdal semanten kaukum kanti dipunpentheng ( salib) wonten ing dhusun Kedung Lo Kilen Tanggung. Dening Kyai Guru Luning ukuman punika lajeng dipuntuntut supados dipun gantos. Walandi lajeng nindakaken ukuman kanti dipuntemporongaken surya. Kyai Guru Luning ugi lajeng ngajengaken tuntutan malih. Walandi lajeng gantos ukuman kanti dipun cor timah. Kyai Guru Luning ugi taksih ngajengaken tuntutanipun malih. Walandi lajeng nglampahaken ukuman Picis wonten ing Bong Cina. Ukuman Picis wau ugi dipuntuntut malih dening Kyai Guru Luning. Walandi lajeng nglampahaken ukuman gantung.

 Kyai Guru Luning Muhyidin Arrofi’i  surut wonten ing yuswa 56 taun, wonten ing dinten Rebo Kliwon, Wulan Syawal 1276 H / 1855 M, jam 12 dalu amargi gerah pilek ingkang dangunipun ngantos satunggal taun. Panjenenganipun dipunsarekaken wonten ing sak kilenipun Pangimaman mesjid Luning ( miturut Ruhipun Kyai Guru Luning nalikanipun ngrawuhi kawula wonten alam Nuriyah wekdal ziarah ndalu wonten salahsatunggaling wekdal ing warsa 2008, kanti awujud Nur, Panjenenganipun ngendika bilih pesarehan sakkilenipun inggih punika pesarehanipun Garwa Sepuh, wondene pesarehan sakwetanipun inggih punika pesarehanipun Garwa Nem, ananging mboten dipunsebutaken sinten kemawon asmanipun garwa wau ).Khoulipun Kyai Guru Luning woten ing 26 Sya'ban mapan wonten ing serambi Masjid Luning.

























KEKANCINGAN MATARAM ( SILSILAH ) AMANGKURAT JAWI , KGP. HANGABEHI KARTASURA RM. SANDEYO ( KYAI NUR IMAN MLANGI ), RM. MANSYUR MUHYIDIN ARROFI’I ( KYAI GURU LUNING )

-Brawijaya terakhir ( seda mukswa wonten ing Hargo Dalem Lawu ) peputra ; 
-R. Bondan Gejawan ( Ki Ageng tarub III, sumare wonten ing Tarub Purwodadi Grobogan ) peputra ;
-Ki Ageng Getas Pandawa ( sumare wonten ing Purwodadi Grobogan ) peputra ;
-Ki Ageng Sela ( sumare wonten ing Purwodadi Grobogan ) peputra ;
-Ki Ageng Nis peputra ;
-Kyai Ageng Pemanahan ( sumare wonten ing pesarehan Kotagedhe Ngayogyakarta ) peputra ;
-Panembahan Senopati ( sumare wonten ing pesarehan Kotagedhe Ngayogyakarta ) peputra ;
-Prabu Anyokrowati / RM. Jolang ( sumare wonten ing pesarehan Kotagedhe Ngayogyakarta ) kaliyan garwa Sayyidah Dyah Banowati / Ratu Mas Hadi, ibni Sayyid Pangeran Benawa Pajang, ibni Sayyid Abdurrahman, ibni Sayyid Jaka Tingkir, ibni Ainul Yakin ( Sunan Giri ), ibni Maulana Ishak, ibni Ibrahim Asmuro, ibni Jamaludin Khusen, ibni Ahmad Syah Jalal ( Jalaludin Khan ), ibni  Abdullah ( al - Azhamat ) Khan ibni Abdul Malik ( Ahmad Khan ), ibni Alwi Ammi al - Faqih , ibni Muhammad Shahib Mirbath, ibni Ali Khali' Qasam, ibni Alwi ats - Tsani, ibni Muhammad Sahibus Saumiah, ibni Alwi Awwal, ibni Ubaidullah, ibni Ahmad al - Muhajir, ibni Isa ar - Rummi, ibni Muhammad al - Naqib, ibni Ali al - Uraidhi, ibni Ja'far ash - Shadiq, ibni Muhammad al - Baqir, ibni Ali Zainal Abidin, ibni Husein, ibni Sayyidatina Fatimah, Ra, ibni Rosulullah Muhammad S. A. W
peputra;
-Sayyid Prabu Sultan Agung Anyokrokusumo / RM. Rangsang / Jatmika ( sumare wonten ing pesarehan Imogiri Ngayogyakarta ) kaliyan garwa Ratu Wetan putrinipun Tumenggung Upasanta Bupati Batang / Keturunan Ki Juru Mertani peputra ;
-Sayyid Prabu Amangkurat I / RM. Sayidin ( sumare wonten ing pesarehan Tegalarum / Tegal Wangi Tegal ) kaliyan garwa Premaisuri Keturunan Kajoran peputra ;
-Sayyid Prabu Amangkurat II / Pangeran Puger / RM. Drajat / Pakubuwana I ( sumare wonten ing pesarehan Imogiri Ngayogyakarta ) peputra ;
-Sayyid Prabu Amangkurat IV / Amangkurat Jawi / RM. Surya Putra ( sumare wonten ing pesarehan Imogiri Ngayogyakarta ) peputra ;
1. Sayyid RM. Sandeyo (Kyai Nur Iman Mlangi / KGP . Hangabehi Kartasura, sumare wonten ing Mlangi )
2. Sayyid KPA. Mangkunegoro I
3. Sayyid KPA. Danupojo
4. Sayyidah RA. Pringgolojo
5. Sayyid K. Susuhunan PB. II Surokarto
6. Sayyid KPA. Pamot
7. Sayyid KPA. Hadiwidjojo
8. Sayyid KPA. Hadinegoro
9. Sayyidah K. Ratu Madunegoro
10. Sayyid K. Sultan Hamengku Buwana I Ngajogjakarta / RM Sudjono ( sumare wonten ing Imogiri )
11. Sayyid KP. Rogo Purboyo
12. Sayyid KGPA. Panular
13. Sayyid KGPA. Blitar
14. Sayyidah RA. Surodiningrat
15. Sayyid KPA. Buminoto - Sultan Dandun Mertengsari - Adipati Setjoningrat - Panembahan Bintoro
16. Sayyid KP. Singosari ( KP. Joko )
17. Sayyid KGPA. Mataram
18. Sayyid KGP. Martoseno
19. Sayyidah RA. Hendronoto
20. Sayyid KGPA. Selarong
21. Sayyid KGPA. Prang Uledono
22. Sayyid KGPA. Buminoto

       0

Sayyid RM. Sandeyo ( Kyai Nur Iman Mlangi ) kagungan garwa nem ( 6 ) inggih punika :

1. Garwa Gegulu, peputra :
1. Sayyid RM. Mursodo    wonten ing Mlangi
2. Sayyid RM. Nawawi    wonten ing Mlangi
3. Sayyid RM Syafangatun   wonten ing Mlangi
4. Sayyid RM. Taptojani - Kyai Kedu Wali Kedu
5. Sayyidah RA. Cholifah / Kyai Mansyur wonten ing Mlangi
6. Sayyidah RA. Muhammad   wonten ing Mlangi
7. Sayyidah RA. Nurfakih / Murfakiyyah /  wonten ing Mlangi
Nuryakin Cunthel
8. Sayyidah RA. Muso - Kyai Sragen gurunipun Pangeran Diponegoro
9. Sayyid RM Chasan Bisri / Muhsin Besari wonten ing Mlangi
10. Sayyidah RA. Mursilah / Ngabdul Karim

2. Garwa Surati, peputra :
1. Sayyidah RA Muhammad Soleh  wonten ing Mlangi
2. Sayyid RM Salim   
3. Sayyidah RA. Jaelani    wonten ing Mlangi

3. Garwa Kitung ( Kota Gedhe ), peputra :
1. Sayyidah RA. Abutohir
2. Sayyidah RA. Mas Tumenggung

4. Garwa Bijanganten, peputra :
1. Sayyidah RA. Nurjamin Cunthel  wonten ing Mlangi

5. Garwa Putri Cina ( Nyai Ngadiluwih ), peputra :
1. Sayyid RM. Mansyur Muchyidin Arrofi’i   wonten ing Luning
( Kyai Guru Loning )

6. Garwa Putri Bupati Jepara ( peputra pitu ( 7 ), kalih ( 2 ) Kakung lan gangsal ( 5 ) Putri ; ananging turunipun mboten dipunsumerepi dumugi sakpunika ) mbok bilih wonten ing sanes wekdal saged kepanggih lan nyambung pasederekan malih.
















I

Sayyid RM. Masyur Muchyidin Arrofi’i ( Kyai Guru Loning ) kagungan garwa gangsal ( 5 ) inggih punika :

1. Garwa Putri penghulu Demak, peputra :
1. Sayyid RM . Haji Ngabdurrochman

2. Garwa Alang - Alang Amba, peputra :
1. Sayyidah RA. Fatimah / Kyai Sayyid Taslim ( Tirip )
2. Sayyidah RA. Djamilah ( Nyai Sangid ) Luning
3. Sayyid RM. Haji Muhammad Nur / Nur Muhammad Alang - alang Amba / Santren Kutoarjo ( Pengulu Ladrat Purworejo ) sumare ing Alang – Alang Amba / Santren.
4. Sayyid RM. Kyai Bustam ( Kemiri )

Wondene Nyai Haji Abdulghani Kauman Purworejo lan Nyai Haji Ishak Alang- alang Amba punika putra bektan ( gawan ) saking garwa Alang – Alang Amba kaliyan Garwa sakderengipun Sayyid Kyai Guru Luning.

3. Garwa Putri Dipodirjo, peputra :
1. Sayyid RM. Muhammad Zein ( guru Quro ) Solotiyang
2. Sayyid RM. Kyai Machmud Luning
3. Sayyidah RA. Yai Istad ( Kyai Abdurrohman ) Bedug Bagelen
4. Sayyid RM Haji Soleh ( Kyai Luning )

Wondene Haji Yusack Al Hafidz lan Palil punika putra bektan ( gawan ) saking garwa Putri Patih Dipodirjo kaliyan Garwa sakderengipun Sayyid Kyai Guru Luning.


4. Garwa Putri Lurah Krojo, peputra :
1. Sayyid RM. Chamid Sucen Tritis Bayan Purworejo

5. Garwa Putri Kyai Soleh Qulhu Salaman Magelang, peputra :
1. Sayyid RM. Haji Ngabdullah Mahlan Luning




















II

1. Sayyid RM . Haji Ngabdurrochman : turunipun mboten dipunsumerepi dumugi sakpunika, mbok bilih wonten ing sanes wekdal saged kepanggih lan nyambung pasederekan malih.

2. Sayyidah RA. Fatimah ( Kyai Sayyid Taslim Tirip ibni Sayyidah Nyai Tolabudin Paguan ibni Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim Bulus ) peputra :
2.1. Kyai Sayyid RM. Abdurrohman Tirip Purworejo ( kagungan garwa kalih ( 2 ), ananging dereng dipunsumerepi asma – asmanipun. Garwa sepindah saking Sucen, garwa kaping kalih saking Bulus ) 
Garwa Sucen peputra :
2.1.1. Sayyidah RA. Roikhanah Plumbon peputra :
2.1.1.1. Sayyidah RA. Rughoyah / Makmun alm. peputra :
2.1.1.1.1. Sayyidah RA. Rokhimah peputra :
2.1.1.1.1.1. Sayyidah RA. Siti Rohayati peputra :
      2.1.1.1.1.1.1. Sayyid R.
      2.1.1.1.1.1.2. Sayyidah RA.

     2.1.1.1.1.2. Sayyid R. Imam Panuju peputra :
      2.1.1.1.1.2.1. Sayyid R. Tanda
      2.1.1.1.1.2.2. Sayyid R. Tandi
      2.1.1.1.1.2.3. Sayyidah RA. Retina

     2.1.1.1.1.3. Sayyid R. Khoerudin

     2.1.1.1.1.4. Sayyid R. Ardhy Sumardi

   2.1.1.1.1.5. Sayyid R. Waluyo

2.1.1.1.2. Sayyidah RA. Kharisoh peputra :
     2.1.1.1.2.1. Sayyidah RA. Nurul peputra :
      2.1.1.1.2.1.1. Sayyidah RA. Candra

     2.1.1.1.2.2. Sayyidah RA. Retno peputra :
      2.1.1.1.2.2.1. Sayyidah RA. Alfi
      2.1.1.1.2.2.2. Sayyid R. Khuluq

     2.1.1.1.2.3. Sayyid R. Beni peputra :
      2.1.1.1.2.3.1. Sayyid R. Tamam
      2.1.1.1.2.3.2. Sayyidah RA.

2.1.1.1.3. Sayyidah RA. Khotmah peputra :
     2.1.1.1.3.1. Sayyidah RA. Siti Fatonah
     2.1.1.1.3.2. Sayyidah RA. Ade Sri Sugiarti
     2.1.1.1.3.3. Sayyidah RA. Yuyun
     2.1.1.1.3.4. Sayyid R. Guruh

2.1.1.1.4. Sayyidah RA. Halimah peputra :
2.1.1.1.4.1. Sayyid R. Aang Eka N
2.1.1.1.4.2. Sayyidah RA. Idza F. Nufus
2.1.1.1.4.3. Sayyidah RA. Nia Kurniawati
2.1.1.1.4.4. Sayyid R. Firman Nurul F.


    2.1.1.1.5. Sayyidah RA. Honimah peputra :
     2.1.1.1.5.1. Sayyid R. Muh. Ravie Ananda peputra :
      2.1.1.1.5.1.1. Sayyid R. Avataranindita Manungsa Jati

     2.1.1.1.5.2. Sayyidah RA. Aila Rezannia peputra :
      2.1.1.1.5.2.1. Sayyidah RA. Grahita Rahdipa Rahardjo

2.1.1.1.6. Sayyidah RA. Soimah peputra :
2.1.1.1.6.1. Sayyid R. Arif Hidayat peputra :
      2.1.1.1.6.1.1. Sayyidah RA. Nova

     2.1.1.1.6.2. Sayyidah RA. Titin Rahayuningsih peputra :
      2.1.1.1.6.2.1. Sayyidah Ra. Nisa
      2.1.1.1.6.2.2. Sayyidah RA. Nada

     2.1.1.1.6.3. Sayyid R. Teguh Priyatno

     2.1.1.1.6.4. Sayyidah RA. Nur Fatmawati peputra :
      2.1.1.1.6.4.1. Sayyidah RA.
      2.1.1.1.6.4.2. Sayyidah RA.

     2.1.1.1.6.5. Sayyidah RA. Diyah Kurniasari

2.1.1.2. Sayyidah RA. Rofqoniyah / Kyai Matori alm. peputra :
  2.1.1.2.1. Kyai Sayyid R. Salim Almator peputra :
     2.1.1.2.1.1. Sayyid R. Tobagus Muslihudin Aziz
     2.1.1.2.1.2. Sayyidah RA. Hikmatul Hasanah
     2.1.1.2.1.3. Sayyidah RA. Maksumah Kurniawati
     2.1.1.2.1.4. Sayyid R. Musyafa Firman Iswahyudi
     2.1.1.2.1.5. Sayyidah RA. Retno Auliyatussangadah
     2.1.1.2.1.6. Sayyidah RA. Eta fatmawati Auliyatul Ummah
 
2.1.1.2.2. Sayyidah RA. Songidah peputra :

2.1.1.2.3. Sayyidah RA. Sangadatun Diniyah almh. peputra :

2.1.1.2.4. Kyai Sayyid R. Khumsosi Al Mator peputra :
2.1.1.2.4.1. Sayyidah RA. Siti Khulasoh
2.1.1.1.4.2. Sayyidah RA. Siti Fatimah
2.1.1.1.4.3. Sayyid R. Lukman Zein
2.1.1.1.4.4. Sayyidah RA. Anis Siti Karimah
2.1.1.1.4.5. Sayyidah RA. Siti Khomsiati
2.1.1.1.4.6. Sayyid R. Anas Mufadhol alm.
2.1.1.2.5. Sayyid R. H Makmuri Al Mator peputra :
2.1.1.2.5.1. Sayyid R. Arif
2.1.1.2.5.2. Sayyidah RA. Dr. Ita
2.1.1.2.5.3. Sayyidah RA.

2.1.1.2.6. Sayyid R. Muslim Al Mator peputra :




2.1.1.3. Sayyid R. Sanusi alm. peputra :
2.1.1.3.1. Sayyidah RA. Solekhah peputra :
     2.1.1.3.1. Sayyidah RA. Yati
     2.1.1.3.2. Sayyidah RA. Ros
     2.1.1.3.3. Sayyid R. Nano
     2.1.1.3.4.
  2.1.1.3.5. Sayyid R. Ali

2.1.1.3.2. Sayyidah RA. Salamah Prembun peputra :
     2.1.1.3.1. Sayyid R. Nusi
     2.1.1.3.2. Sayyidah RA. Puput

2.1.1.4. Sayyid R. Sugeng alm. ( pasukan TNI, ical jaman AOI Kebumen )
 
2.1.1.5. Sayyid R. Dulkodir alm. ( Pasukan AOI, ical jaman AOI Kebumen )

2.1.2. Sayyid R. Hadiyul Mustofa ( Haji Sucen ) peputra :
 2.1.2.1. Sayyid R. Mahzumi Sucen ( mboten peputra )

2.1.3. Sayyid R. ? ( Ramanipun Fachrudin Kebumen ) peputra :
 2.1.3.1. Sayyid R. Fachrudin (dereng dipunsumerepi wonten pundi dunungipun)

Garwa Bulus peputra :
2.1.4. Sayyidah RA. Fatimah
Garwa I / Jazuli peputra :
2.1.4.1. Sayyid. R. Mad Amin
2.1.4.2. Sayyidah RA. Rohmah
2.1.4.3. Sayyidah RA. Romlah
2.1.4.4. Sayyidah RA. Ruqoyah

   Garwa II / Haji Siroj peputra :
2.1.4.5. Sayyidah RA. Zuhriyah
2.1.4.6. Sayyid R. Yazid
2.1.4.7. Sayyid R. Zahrowardi
2.1.4.8. Sayyidah RA. Nguluwiyah
2.1.4.9. Sayyid R. Zarnuji

2.1.5. Sayyidah RA. Wardiyah ( mboten peputra )

2.2. Sayyidah RA. Jamilah ( Nyai Ibrahim ( garwa II ) Pengulu Landrat Kebumen ) peputra :
2.2.1. Sayyidah RA. Ashariyah / Mustofa Banjarnegara
2.2.2. Sayyidah RA. Umi Kulsum / Sumbono
2.2.3. Sayyidah RA. Maimunah / Ali Siroj
2.2.4. Sayyidah RA. Mariyah / Sumbono
2.2.5. Sayyid R. Hasim
2.2.6. Sayyidah RA. Maryatini / Masngudin
2.2.7. Sayyidah RA. Johariyah / kagarwa Kyai Sururudin, lajeng kagarwa dening Kyai Jamaksari Somalangu
2.2.8. Sayyidah RA. Sri Kartini

2.3. Sayyidah RA. Aisyah Kyai Abu Sujak Kemiri peputra :


2.4. Kyai Sayyid RM. Abdurrohim ( Mbah Gebang ) kagungan garwa kalih ( 2 ) inggih punika Sayyidah RA. Baingah ibni Sayyid RM. H. Muhammad Nur ibni Sayyid Kyai Guru Luning ( kaliyan garwa Alang – alang Amba ) lan Sayyidah RA. Nafingah  ibni Sayyid RM. Chamid Tritis ibni Sayyid Kyai Guru Luning ( kaliyan garwa Putri Lurah Kroyo ), ananging dereng dipunsumerepi pundi ingkang garwa sepindah lan pundi garwa ingkang kaping kalih ) :
Garwa I peputra :
2.4.1. Sayyid R. Mahasin
2.4.2. Sayyidah RA. Hasbiyah
2.4.3. Sayyid R. Khojin
2.4.4. Sayyid R. Baedowi
2.4.5. Sayyidah RA. Maksumah
2.4.6. Sayyid R. Abdullah
Garwa II peputra :
2.4.7. Kyai Sayyid R. Muhyi / Mukti alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi peputra :
 2.4.7.1. Sayyid R. Muflih Perangan
   2.4.7.2. Sayyid R. Muh. Miftah Perangan
   2.4.7.3. Sayyid R. Mudatsir
   2.4.7.4. Sayyidah RA. Muhsonah
   2.4.7.5. Sayyidah RA. Mu'awah Seneporejo Siliragung
   2.4.7.6. Sayyid R. Muzamil
   2.4.7.7. Sayyidah RA. Mudzrikah
   2.4.7.8. Kyai Sayyid R. Munhamir Tamanagung Cluring Banyuwangi
   2.4.7.9. Sayyidah Mustaqimah Sukorejo

2.4.8. RA. Munawaroh ( Sumatera, ngantos dumugi sakpriki dereng wonten pawartosipun )

2.4.9. KH. Sayyid R Sya'roni alm. Temurjo Purwoharjo Banyuwangi peputra :
2.4.9.1. Sayyidah RA. Mutmainah
   2.4.9.2. Sayyid R. Sairu
   2.4.9.3. Sayyid R. Khamami
   2.4.9.4. Sayyid R. Jami'ah
   2.4.9.5. Sayyid R. Jauhar
   2.4.9.6. Sayyid R. Halimi

2.4.10. Kyai Sayyid R. Abdal alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi


2.4.11. Kyai Sayyid R. Azhad alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi peputra :
2.4.11.1. Kyai Sayyid R. Mustofa Azhad Perangan
  2.4.11.1.1. Sayyid R. Ahmad Nasihudin Al Bahiri
2.4.11.1.2. Sayyidah RA. Latifah

   2.4.11.2. Kyai Sayyid R. Toha Azhad Merauke Irian Jaya peputra :
  2.4.11.2.1. Sayyid R. Habiburrohim
2.4.11.2.2. Sayyidah RA. Nihayatus Zuhriya

   2.4.11.3. Kyai Sayyid R. Musta'in Azhad alm.

   2.4.11.4. Kyai Sayyid R. M. Yasin Azhad Perangan peputra :
  2.4.11.4.1. Sayyid R. Wafi
2.4.11.4.2. Sayyidah RA. A' lin Bil Hija


   2.4.11.5. Sayyidah RA. Siti Aminah Azhad Ngadirejo Purwoharjo peputra :
  2.4.11.5.1. Sayyid R. Ahmad Luqman Hakim
2.4.11.5.2. Sayyid R. Burhanudin Al Maki
2.4.11.5.3. Sayyid R. Abdurrahman
2.4.11.5.4. Sayyid R. Abdurrahim

   2.4.11.6. Sayyidah RA. Siti Hanifah Azhad Perangan peputra :
  2.4.11.6.1. Sayyid R. Utsman

   2.4.11.7. Kyai Sayyid R. Halimu Shodiq Azhad Perangan peputra :
  2.4.11.7.1. Sayyid R. Wildan Hadziqi

   2.4.11.8. Kyai Sayyid R. Nur Hamid Azhad Perangan peputra :
  2.4.11.8.1. Sayyid R. Alan ' Adzim Al Aufa

2.4.12. Kyai Sayyid R. Hamdullah Buluagung Siliragung Banyuwangi peputra :
 2.4.12.1. Kyai Sayyid R. Ali Masngud Buluagung
2.4.12.2. Sayyidah RA. Sa'adah
2.4.12.3. Sayyid R. Zuhri
2.4.12.4. Sayyid R. Tasip

2.4.13. Kyai Sayyid Din alm.

2.4.14. Kyai Sayyid R. Fatkhan

2.5. Sayyid RM.Jahet ( Kyai Tirip Gebang ) kagungan garwa kalih ( 2 ) inggih punika :
Garwa Putri termas peputra :
2.5.1. Sayyid R. Nawawi
Garwa Syarifah Zaenab peputra :
2.5.2. Sayyidah RA. Nyai Baroroh

2.6. Sayyidah RA. Suyud / Kyai Suyud Karangrejo Kutoarjo peputra :

3. Sayyidah RA. Djamilah ( Kyai Sangid ) Luning peputra :
3.1. Sayyidah RA. Jaenab / Nyai Muhyidin Kuwangsan Kemiri peputra ;

3.2. Sayyidah RA. Jemblem / Nyai Muhammad Socheh Sutoragan peputra ;

3.3. Sayyidah RA. Klentheng / Nyai Muso Luning peputra ;

3.4. Sayyid RM. Abdul Aziz / Kyai Sucen Beji Bayan peputra ;
3.4.1. Sayyid R. Muh. Royani peputra ;
3.4.1.1. Sayyidah RA. Bahiyah
3.4.1.2. Sayyidah RA. Suwaibah
3.4.1.3. Sayyid R. Sumedi
3.4.1.4. Sayyid R. Nurrahman
3.4.2. Sayyid R. Muh. Ibrahim peputra ;
3.4.2.1. Sayyid R. Haji Muh. Tachrir
3.4.2.2.
3.4.2.3.
3.4.2.4.
3.4.2.5. Sayyid R. Muh. Jawad
3.4.2.6. Sayyid R. Mufid
3.4.3. Sayyid R. Muh. Juri peputra ;
3.4.3.1. Sayyid R. Muh. Tafsir
3.4.4. Sayyidah RA. Suniyah /Nyai Haji Nur
3.4.5. Sayyid R. Muh. Hasyim

3.5. Sayyid RM. Barzachi / Pengulu Naib Garung Wonosobo peputra ;

3.6. Sayyid RM. Muhammad Anis Kyai Luning peputra ;

3.7. Sayyidah RA. Suwuh Joyosumarmo peputra ;


4. Sayyid RM. Haji Muhammad Nur / Nur Muhammad Alang - alang Amba / Santren ( Pengulu Ladrat Purworejo ) peputra :
4.1. Sayyid RM. Haji Rofingi Ketib Kutoarjo peputra :

4.2. Sayyid RM. Haji Kistubo Ketib Purworejo peputra :

4.3. Sayyidah RA. Chadijah / Kyai Marzuki Kutoarjo peputra :

4.4. Sayyidah RA. Nyai Judi Sucen Tritis peputra :

4.5. Sayyidah RA. Nyai Baingah / Kyai Abdurrohim Gebang peputra : ( Mriksani Turunipun Sayyid Kyai RM Abdurrohim Gebang )

4.6. Sayyidah RA. Rodiyah / Nyai Tambeh Kutoarjo peputra :

4.7. Sayyidah RA. Tutik / Haji Siraj Ketib Kutoarjo peputra :

 4.8. Sayyid RM. KH. Chusen Pengulu Bayan peputra :
4.8.1. Sayyidah RA. Denok
     
4.9. Sayyid RM. Baliyo Kutoarjo peputra :

4.10. Sayyidah RA. Badaruddin Kyai Solotiyang peputra :
  4.10.1.
  4.10.2.
  4.10.3.
4.10.4. Sayyidah RA. Nyai Siti Hajiroh mboten peputra lajeng ngangkat putra RA. Mustanginah Chalimi

 4.10.5. Sayyid Kyai R. Dachlan Kaliboto
   Garwa Nyai Zaenab peputra :
   4.10.5.1. Sayyidah RA. Ulfah
   4.10.5.2. Sayyidah RA. Mustafidah
   4.10.5.3. Sayyid R. Ahmad Najib
   4.10.5.4. Sayyidah RA. Malichah
   4.10.5.5. Sayyidah RA. Zumaroh
   Garwa RA. Siti Chotijah Maron peputra :
   4.10.5.6. Sayyidah RA. Cholisoh peputra :
    4.10.5.6.1. Sayyidah RA. Anis Arifah
    4.10.5.6.2. Sayyidah RA. Naim Mardiyah
    4.10.5.6.3. Sayyid R. Imron Hakim
    4.10.5.6.4. Sayyidah RA. Umi Latifah
    4.10.5.6.5. Sayyid R. Agus Sukur Salim
    4.10.5.6.6. Sayyid R. Muhajir
   4.10.5.7. Sayyid R. Abdul Ghofir peputra :
    4.10.5.7.1. Sayyid R. Naufal Mujtaba Alluabab
    4.10.5.7.2. Sayyidah RA. Kuni Sufia Labibah
   4.10.5.8. Sayyid R. Zainal Abidin peputra :
    4.10.5.8.1. Sayyidah RA. Sofri Inayah
    4.10.5.8.2. Sayyid R. Chalifurifai
   4.10.5.9. Sayyid R. Dimyati
   4.10.5.10. Sayyidah RA. Maghfuroh Muslim peputra :
    4.10.5.10.1. Sayyid R. Bahaudin
    4.10.5.10.2. Sayyid R. Abdul Chamid
   4.10.5.11. Sayyidah RA. Wafiroh Rifai peputra :
    4.10.5.11.1. Sayyid R.Choirul Hadi

5. Sayyid RM. Kyai Bustam ( Luning Kemiri ) peputra :
5.1. Sayyid RM. Suyud Kyai Karang Rejo Kutoarjo
5.2. Sayyidah RA. Nuriyah Fadil Solotiyang Loano I
5.3. Sayyid RM. Muhammad Siraj Kyai Luning
5.4. Sayyid RM. Muhammad Jawad Luning ( seda timur )
5.5. Sayyidah RA. Aminah Nyai Fadil Solotiyang Loano II

6. Sayyid RM. Muhammad Zein ( guru Quro ) Solotiyang

7. Sayyid RM. Kyai Machmud Luning

8. Sayyidah RA. Nyai Istad ( Kyai Abdurrohman ) Bedug Bagelen peputra :
8.1. Sayyidah RA. Nyai Abu Masngud Sangubanyu Grabag
8.2. Sayyidah RA. Nyai Abdul Qodir Piyono Grabag
8.3. Sayyid RM. Kyai Sadali Bedug Bagelen
8.4. Sayyid RM. Kyai Aftadi ( seda timur )
8.5. Sayyidah RA. Haji Abdullah Faqih Kedung Kuali Purwodadi Purworejo

9. Sayyid RM Bahrun / Haji Soleh ( Kyai Luning ) peputra :
9.1. Sayyidah RA. Aisyah Nyai Kemangguan Krakal Kebumen
9.2. Sayyidah RA. Muhammad Sahlan Luning
9.3. Sayyid RM. Chaidar Pituruh Kutoarjo
9.4. Sayyidah RA. Chamidah Pensiunan Mantri Guru Wadaslintang

10. Sayyid RM. Chamid Kyai Sucen Tritis Bayan Purworejo peputra :
       10.1. Sayyid RM. Haji Judi Kyai Tritis
10.2. Sayyidah RA. Ngusman Kyai Tritis Sucen
10.3. Sayyidah RA. Umi Tambak Banyumas
10.4. Sayyidah RA. Nafingah / Nyai Abdurrohim Gebang
10.5. Sayyid RM. Haji Dachlan Al Hafidz Kalikepuh peputra :
10.5.1. Sayyidah RA. Nyai Saodah
10.5.2. Sayyid RM. Kyai Bastomi ( Klepuh ) peputra :
10.5.2.1. Sayyidah RA. Nyai Murdiyah Ali
10.5.2.2. Sayyidah RA. Anisah Al Is
10.5.2.3. Sayyid R.Muhammad Wahyudin F. Arrofingi
10.5.2.4. Sayyid R. Nurul Ilmi
10.5.2.5. Sayyid R. Ahmad Sirojudin
10.5.2.6. Sayyidah R. Chamid Dahlan
10.5.2.7. Sayyidah RA. Ruqoyah
10.5.2.8. Sayyidah RA. Nihayah
10.5.3. Sayyidah RA. Nyai Jariyah
10.5.4. Sayyid RM. KH. Abu Hasan / Nur Muhammad Adikarso Kebumen kaliyan garwa Sayyidah Siti Hafsoh ibni Kyai Sayyid Ahmad Hisyam ibni Kyai Sayyid Habib ibni Sayyidah Nyai Murtaman ibni Kyai Sayyid Taslim Tirip ibni Sayyidah Nyai Tolabudin ibni Sayyid Ahmad Muhammad Alim Bulus Purworejo peputra :
10.5.4.1. Kyai Sayyid R. Habibullah
10.5.4.2. KH.  Sayyid R. Muh. Nawawi Hisyam ( Gus Wawi Adikarso Kebumen )
10.5.4.3. Kyai Sayyid R. Mahrus Muqorrobin
10.5.4.4. Sayyidah RA. Siti Halimah
10.5.4.5. Kyai Sayyid R. Muh Ali Dimyati
10.5.4.6. Kyai Sayyid R. Zainul Arifin ( Ponpes Tempuran Magelang )
10.5.4.7. Sayyidah RA. Fatimah
10.5.4.8. Sayyidah RA. Siti Halimah
10.5.4.9. Sayyidah RA. Nafisah
10.6. Sayyidah RA. Khasanah / Nyai Sayyid Ahmad Al Atas Sucen Tritis peputra :
10.6.1. Sayyid R. Abdurrahman ( kaliyan garwa Rng. Siti Chotijah ) peputra :
10.6.1.1. Sayyidah RA. Syifak
10.6.1.2. Sayyidah RA. Nurhayati
10.6.1.3. Sayyid R. H. Muhajir
10.6.1.4. Sayyid R. Ali
10.6.1.5. Sayyidah RA. Slimun

10.7. Sayyid RM. Ahmad Kroyo Kutoarjo peputra :
10.7.1.
10.7.2.
10.7.3.
10.7.4.
10.7.5. Prof. DR. Internis Sayyid R. Ali Sulaiman

10.8. Sayyid RM. Haji Bakri Kyai Tritis peputra :
10.8.1. Sayyidah RA. Chabsoh
10.8.2. Sayyid R. Ibnu Kosim
10.8.3. Sayyidah RA. Mutmainah
10.8.4. Sayyid R. Toha
10.8.5. Sayyid R. Turkisi peputra :
10.8.5.1. Sayyidah RA. Fatchuriyah
10.8.5.2. Sayyidah RA. Musarofah
10.8.5.3. Sayyid R. Nasir Hamid
10.8.5.4. Sayyid R. Muhajir Sa'dulloh
10.8.5.5. Sayyid RA. Nur Munawaroh
10.8.5.6. Sayyid R. Ibrahim Amin
10.8.5.7. Sayyid R. Ahmad Chomsin
10.8.5.8. Sayyid R. Makinun Amin
10.8.6. Sayyidah RA. Afdoliyah
10.8.7. Sayyidah RA. Siti Aisyah

10.9. Sayyidah RA. Nyai Bahiyah / Nyai Pekalongan Kebumen

10.10. Sayyid RM. Kyai Abdullah Mukri Luning

11. Sayyid RM. Haji Ngabdullah Mahlan Luning peputra :
( Miturut Pustaka Darah )
 11.1. Sayyid RM. Imam Sutoragan Kemiri
 11.2. Sayyidah RA. Sofiyah Hadiwinangun Magelang
 11.3. Sayyidah RA. Fatonah Gembor
 11.4. Sayyidah RA. Musoharotun
 11.5. Sayyid RM.Muhammad Kyai Luning
 11.6. Sayyid RM. Muhammad Hadikusumo Surabaya
 11.7. Sayyidah RA. Istifaiyah Luning

Miturut putranipun RA. Mahmudah Soerodikoesoemo ( mbok bilih RA. Mahmudah punika asma garwanipun Muhammad Hadikusumo Surabaya lajeng ingkang nyerat silsilah kala semanten kesupen, ingkang dipunserat asmanipun keng garwa. Wondene kang asma Jupri lan sanesipun mbok bilih dereng mios wekdal buku Pustaka Dharah dipundamel punapa dene ingkang nyerat wekdal kala wau ( 27 Oktober 1967 ) kesupen ) RM. HAJI ABDULLAH MAHLAN LUNING peputra :
11.1. Sayyid R.M. Imam
11.2. Sayyid R.M. Djupri
11.3. Sayyidah R.A. Kuroisyin
11.4. Sayyidah R.A. Sofiah menikah dengan : Hadiwinangoen
11.5. Sayyidah R.A. Muthoharatun menikah dengan : Sosrowardojo
11.6. Sayyid R.M. Mohammad, mengelola Mesjid Loning
11.7. Sayyidah R.A. Machmoedah menikah dengan : Soerodikoesoemo
11.8. Sayyidah R.A. Istifaiyah

Taksih kathah sanget pra turun Mataram khususipun turunipun Kyai Nur Iman Mlangi lan Kyai Guru Luning ingkang dereng kawula serat amargi dereng saged pinanggih sedaya amargi sami sumebar ing pundi – pundi, lajeng turunipun sami kepaten obor, mbok bilih amargi tebihipun satunggal – satunggalipun. Pramila namung kawula serat peputra : ( ingkang kajengipun supados para turun ingkang dereng kaserat saged njangkepi piyambak – piyambak )
























Makaten punika Kitab Tarikh Nur Iman Muhyidin Arrofi’i ingkang dipunserat wonten ing dhusun Kebumen, dinten Selasa Legi , 17 Februari 2009 / 22 Safar 1430 H / taun Je, Wuku Warigalit 1942.

Kagem Pra putra wayah turunipun Kyai Nur Iman Mlangi lan Kyai Guru Luning ingkang dereng kaserat wonten ing mriki, dipunaturi nyerat piyambak – piyambak lajeng kaparingaken dening Sayyid R. Muh. Ravie Ananda ingkang alamatipun wonten ing Jalan Garuda 13 Kebumen 54311 Jawa – Tengah.

Mugi Kitab punika saged dipuntampi kanti sae dhateng Pra Maos. Kathah kekiranganipun harupi huruf – hurufipun, kirang gampil dipuntampi basanipun, ugi menawi wonten kalepatan anggenipun nyerat silsilah, kawula  nyuwun agunging pangapunten.

Wasana, mugi Kyai Nur Iman Mlangi lan Kyai Guru Luning saha sedaya garwanipun sumrambah kita sedaya pra putra wayah turunipun tansah rahayu ing dalem Agami, Dunya dumugi Akhiratipun, ing dalem Jasad, Batin dumugi Ruh ipun. Tansah kalis saking bebeka : makartining sesama, makartining lelembut lan makartining dhaya pangwasa alam ingkang awon. Amin.


Kebumen, Selasa Legi 17 Februari 2009

Ingkang Nganggit lan Tanggel Jawab Seratan punika

Sayyid R. Muh. Ravie Ananda






















Silsilah Turun Sayyid Ahmad Muhammad Alim Bulus Purworejo

Sayyid R. Muh. Ravie Ananda, ibni
Sayyidah RA. Honimah, ibni
Sayyidah RA. Rughoyah, ibni
Sayyidah RA. Roikhanah, ibni
Kyai Sayyid R. Abdurrohman Tirip, ibni
Kyai Sayyid Taslim Tirip, ibni
Sayyidah Nyai Tolabudin, ibni
Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim Bulus Purworejo, ibni
R. Singosuto Mojotengah Garung Wonosobo, ibni
R. Alim Marsitojoyo, ibni
R. Martogati, Wonokromo Garung Wonosobo, ibni
R. Dalem Agung / RA. Nyai Dalem Agung Mojotengah Garung Wonosobo, ibni
R.A. Nyai / R. Kyai Dilem Bandok Wonokromo Garung Wonosobo, ibni
R.A. Nyai Bekel Karangkobar Banjarnegara, ibni
R.A. Nyai Segati / Pangeran Bayat, Tegalsari Garung Wonosobo, ibni
Sunan Kudus, ibni
Syarifah / Sunan Ngudung, ibni
Sunan Ampel, ibni
Maulana Malik Ibrahim, ibni
Syekh Jumadil Kubro, Pondok Dukuh Semarang, ibni
Ahmad Syah Jalal ( Jalaluddin Khan ), ibni
Abdullah ( al - Azhamat ) Khan, ibni
Abdul Malik ( Ahmad Khan ), ibni
Alwi Ammi al - Faqih , ibni
Muhammad Shahib Mirbath, ibni
Ali Khali' Qasam, ibni
Alwi ats - Tsani, ibni
Muhammad Sahibus Saumiah, ibni
Alwi Awwal, ibni Ubaidullah, ibni
Ahmad al - Muhajir, ibni
Isa ar - Rummi, ibni
Muhammad al - Naqib, ibni
Ali al - Uraidhi, ibni
Ja'far ash - Shadiq, ibni
Muhammad al - Baqir, ibni
Ali Zainal Abidin, ibni
Husein, ibni
Sayyidatina Fatimah, Ra, ibni
Rosulullah Muhammad S. A. W











Kekancingan Mataram Sultan Agung

Kyai Nur Iman Mlangi / KGP. Hangabehi Kartosura / RM. Sandeyo punika putra Pambajengipun Amangkurat IV / Amangkurat Jawi / RM. Surya Putra kaliyan garwa I / RA. Retno Susilowati ibni Untung Suropati ( Adipati Wiranegara Pasuruan )

Sayyid R. Muh. Ravie Ananda, ibni
Sayyidah RA. Honimah, ibni
Sayyidah RA. Rughoyah, ibni
Sayyidah RA. Roikhanah, ibni
Kyai Sayyid R. Abdurrohman Tirip, ibni
Sayyidah RA. Fatimah, ibni
Sayyid Kyai Muhyidin Arrofi’I ( Kyai Guru Luning ), ibni
Sayyid Kyai Nur Iman Mlangi / KGP Hangabehi Kertosuro RM Sandeyo, ibni
Sayyid Amangkurat Jawa / Amangkurat IV RM. Surya Putra, ibni
Sayyid Prabu Amangkurat II / Pangeran Puger / RM. Drajat / Pakubuwana I, ibni
Sayyid Prabu Amangkurat I / RM. Sayidin, ibni
Sayyid Sultan Agung Hanyakrakusuma / RM. Rangsang / RM. Jatmika ibni
Sultan Agung Hanyakrawati / RM. Jolang kaliyan garwa Sayyidah Dyah Banowati / Ratu Mas Hadi, ibni
Sayyid Pangeran Benawa Pajang, ibni
Sayyid Abdurrahman, ibni
Sayyid Jaka Tingkir, ibni
Ainul Yakin ( Sunan Giri ), ibni
Maulana Ishak, ibni
Ibrahim Asmuro, ibni
Jamaludin Khusen, ibni
Ahmad Syah Jalal ( Jalaludin Khan ), ibni 
Abdullah ( al - Azhamat ) Khan, ibni
Abdul Malik ( Ahmad Khan ), ibni
Alwi Ammi al - Faqih , ibni
Muhammad Shahib Mirbath, ibni
Ali Khali' Qasam, ibni
Alwi ats - Tsani, ibni
Muhammad Sahibus Saumiah, ibni
Alwi Awwal, ibni
Ubaidullah, ibni
Ahmad al - Muhajir, ibni
Isa ar - Rummi, ibni
Muhammad al - Naqib, ibni
Ali al - Uraidhi, ibni
Ja'far ash - Shadiq, ibni
Muhammad al - Baqir, ibni
Ali Zainal Abidin, ibni
Husein, ibni
Sayyidatina Fatimah RA, ibni
Rosulullah S. A. W







Kekancingan Mataram Hamengku Buwana

Hamengku Buwana I / RM. Sujono / Pangeran Mangkubumi punika putranipun Amangkurat IV / Amangkurat Jawi / RM. Surya Putra kaliyan garwa Selir

Sayyid R. Muh. Ravie Ananda, ibni
Sayyidah RA. Honimah, ibni
Sayyid R. Makmun, ibni
Sayyid R. Badarudin, ibni
Sayyidah RA. Jawahir, ibni
Sayyidah RA. Nyai Imanadi Kebumen ( Garwa II ), ibni
Sayyidah RA. Kamaludiningrat ( Pengulu Kraton Jogjakarta ), ibni
Sayyid BPA Dipowiyono, ibni
Sayyid RM. Sundoro / Hamengku Buwana II, ibni
Sayyid RM. Sujono / Pangeran Mangkubumi / Hamengku Buwana I, ibni
Sayyid Amangkurat Jawa / Amangkurat IV RM. Surya Putra, ibni
Sayyid Prabu Amangkurat II / Pangeran Puger / RM. Drajat / Pakubuwana I, ibni
Sayyid Prabu Amangkurat I / RM. Sayidin, ibni
Sayyid Sultan Agung Hanyakrakusuma / RM. Rangsang / RM. Jatmika ibni
Prabu Anyokrowati / RM. Jolang kaliyan garwa Sayyidah Dyah Banowati / Ratu Mas Hadi, ibni
Sayyid Pangeran Benawa Pajang, ibni
Sayyid Abdurrahman, ibni
Sayyid Jaka Tingkir, ibni
Ainul Yakin ( Sunan Giri ), ibni
Maulana Ishak, ibni
Ibrahim Asmuro, ibni
Jamaludin Khusen, ibni
Ahmad Syah Jalal ( Jalaludin Khan ), ibni 
Abdullah ( al - Azhamat ) Khan, ibni
Abdul Malik ( Ahmad Khan ), ibni
Alwi Ammi al - Faqih , ibni
Muhammad Shahib Mirbath, ibni
Ali Khali' Qasam, ibni
Alwi ats - Tsani, ibni
Muhammad Sahibus Saumiah, ibni
Alwi Awwal, ibni
Ubaidullah, ibni
Ahmad al - Muhajir, ibni
Isa ar - Rummi, ibni
Muhammad al - Naqib, ibni
Ali al - Uraidhi, ibni
Ja'far ash - Shadiq, ibni
Muhammad al - Baqir, ibni
Ali Zainal Abidin, ibni
Husein, ibni
Sayyidatina Fatimah RA, ibni
Rosulullah S. A. WBelajar Membaca/Iqra,sastra jendrahayuningrat pangruwating diyu oleh ravie anandaMonday, November 16, 2009 10:03 AMoleh ravie ananda
Kajian Sufistik Menuju Mahabah Tajali


Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Dhiyu


Sesanti ini merupakan sebuah kalimat yang berasal dari bahasa jawa yang berarti sebagai berikut.

Sastra bermakna tulisan

Jendra / Hendra bermakna hati / raja

Hayu bermakna baik / indah

Rat bermakna darah / getih

Pangruwating berasal dari kata ruwat yang bermakna / merawat/ memperbaiki

Dhiyu yang bermakna Buta / raksasa


dapat disimpulkan bahwa makna dari kalimat tersebut adalah Sebuah tulisan atau pelajaran yang tinggi yang mampu meruwat / memperbaiki darah / diri manusia menjadi lebih baik.


Kalimat ini merupakan salah satu wulangan tinggi tentang hidup dan pencarian hakikat hidup manusia jawa, manusia Indonesia yang terdapat dalam kisah cerita pewayangan.

Dikisahkan dalam pewayangan, bahwa piwulang / ajaran ini ( ajaran Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Dhiyu ) sangat rahasia dalam pengajarannya, hingga hanya manusia yang diberi piwulang dan yang mengajar saja yang boleh mengetahui. Bahkan ada istilah Suket Godong Ora Kena Krungu ( Rumput dan daun tidak boleh mendengar ).

Dikisahkan, jika tumbuhan dan hewan mendengarkan piwulang ini, maka mereka akan naik derajat kemuliaannya, begitu juga dengan jin, raksasa dan sejenisnya, setelah mendengar piwulang ini mereka akan naik derajatnya menjadi manusia, sedangkan manusia akan naik derajatnya menjadi dewa. Tempat pemberian piwulang ini dikisahkan harus ditempat yang sangat rahasia.

Maksud dari kisah ini adalah bahwa tempat tersebut sebenarnya terdapat dalam diri manusia itu sendiri, dimana jika manusia bisa sampai mendapat piwulang ini maka di akan lebih mulia derajatnya dibanding manusia pada umumnya.

Tulisan atau sastra itu sesungguhnya adalah milik rajanya manusia yakni Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan Tuhan telah meniupkan sedikit Ruh Nya kedalam diri manusia itu sendiri. Maka, barang siapa manusia yang bisa sampai pada kesadaran batin terdalamnya yakni Ruhnya, ia akan mendapatkan pencerahan ruhani. Dengan ruhani yang cerah manusia tersebut akan naik derajatnya, sebab untuk mencapai kesadaran Raja / Ruh dalam diri, manusia harus terlebih dahulu mengikis nafsu – nafsu yang menyelimutinya, mulai dari lawamah, amarah, sufiah dan mutmainah.

Proses pencerahan ruhani dalam diri manusia hanya akan diketahui oleh manusia yang mengalaminya itu sendiri, karena itu merupakan pengalaman pribadi spiritual manusia itu sendiri.

Cerahnya ruhani akan membawa rahmat bagi pelakunya, sedangkan rahmat tersebut akan menyelamatkan dirinya. Wujud rahmat tersebut berupa hidayah, untuk menangkap hikmah – hikmah yang terkandung di dalam kehidupan sehari – hari, semua peristiwa yang kita alami akan mampu kita ambil dan selami maksud kandungannya yang kemudian akan menjadikan kita semakin dekat dengan Tuhan, lebih pasrah dan sabar.

Disebutkan, bagi umat Islam, bahwa dalam bulan puasa terdapat suatu malam yang disebut malam LailatulQadar, bagi yang beruntung, mereka akan mendapatkan anugrah dari malam tersebut. Malam yang cerahnya melebihi seribu bintang, karena memang cahaya pencerahan ruhani, cahaya ketuhanan, cahaya yang berasal dari Ruh yang merupakan tiupan sedikit dari Ruh Nya melebihi cerahnya apapun. Cahaya yang bersumber dari Maha Cahaya.

Nafsu – nafsu yang menyelimuti ruhani kita dan harus dikikis itulah yang diibaratkan dengan Dhiyu atau raksasa, yakni keserakahan, ketamakan,kesombongan iri hati, dengki, sahwat yang berlebihan dan lain – lain. Maka untuk mencapai Lailatul Qadar pun manusia diharuskan berpuasa dahulu. Dengan mengurangi makan, maka energi untuk berpikir kepada hal – hal yang berlebihan akan berkurang disebabkan kondisi fisik lemah. Dengan fisik yang lemah, kita akan semakin sabar sebab untuk marah pun kita memerlukan energi yang banyak pula. Puasa bukan hanya mengubah pola makan dan minum yang tadinya pagi dan siang diganti setelah buka / magrib, tetapi juga mengurangi makan. Kondisi seperti itu yang berjalan berhari – hari akan membentuk ruhani kita, sehingga LailatulQadar pu disebutkan akan turun pada sepertiga hari terakhir dalam bulan puasa.

Kisah turunnya Wahyu Al Quran pertama kali pun setelah nabi Muhammad saw bertahalwat / bertirakat di gua Hira selama 40 hari 40 malam, dan bahkan beliau hanya makan beberapa butir kurma dalam setiap buka dan sahur. Betapa bagaimana keadaan fisik beliau pada saat itu.

Iqra adalah membaca. Membaca bukan dalam arti tulisan melainkan membaca hikmah ciptaan Tuhan, sehingga pada awalnya beliau pun mengalami kesulitan, apalagi membaca tentang diri manusia. Sebab manusialah mahluk ciptaan yang memang menjadi khalifah atau wakil Tuhan dalam menjalankan alam semesta ini. Setalah beliau membaca diri manusia barulah ayat terakhir yang turun menganjurkan untuk membaca alam semesta yang merupakan pena Tuhan.

Ruh manusia adalah sebagian kecil Ruh Nya yang ditiupkanNya, yang berarti bahwa manusia mempunyai sifat sifat turunan dari Yang Maha Pemilik Sifat. Oleh karena itu terbukti bahwa manusia lah yang bisa membahas dan mengelola apa saja yang ada di alam semesta ini. Maka tepatlah jika Tuhan melebihkan manusia dari semua ciptaan, dan juga menistakannya daripada dari semua ciptaan yang lain.

Semua ciptaan Tuhan, baik matahari, bulan ,bintang dan yang lainnya, semua yang ada di alam ini merupakan sunatulloh, dimana ciptaan atau mahluk adalah Fayakun Allah dan firmanNya adalan Kun Alloh.

Ilmu apa saja yang ditemukan oleh manusia sudah pasti merupakan hasil pencerahan ruhani penemunya dalam membaca objek yang mereka amati. Pencerahan ruhani tersebut jelas mempengaruhi juga otak, pikiran dan kejiwaan bahkan raga manusia tersebut, sehingga bisa kita amati bagaimana karakter, wajah dan sikap orang – orang yang telah menemukan ilmu tersebut, mereka pasti mempunyai aura sinar wajah, sikap hidup, pemikiran, dan perjalanan hidup yang sangat berbeda dengan manusia kebanyakan, begitu juga benturan – benturan hidupnya.

Tumbuhan merupakan sunatulloh yang apabila manusia bisa membacanya misal dari batangnya, maka manusia tersebut kemudian bisa mengubahnya menjadi kursi , meja dan lain – lain yang sudah barang tentu dengan memunculkan ilmu pertukangan kayu. Daun – daunan pun bisa diubah menjadi obat, racun atau bahkan makanan dengan ilmu tersendiri pula.

Di dalam bumi ini terdapat berbagai bijih logam yang kemudian oleh manusia yang bisa membaca dengan ruhaninya, bahan tersebut diubah menjadi kursi, meja, pisau dan lain – lain yang tentunya juga menggunakan ilmu tersendiri. Semua manusia yang mengupayakan dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya menjadi lebih baik.


Hayuningrat / Hayuning Diri / Membuat Selamat, Baik Darah Kita, Diri Kita


Kewajiban seorang yang berimanlah untuk Iqra, bukan hanya membaca tulisan dan arti tetapi membaca tentang diri manusia itu sendiri, hakikat manusia dan alam semesta sebagai pena Allah. Barang siapa mensyukuri nikmat Allah maka manusia tersebut akan ditambah nikmatnya dan barang siapa yang mengkufuri maka azab yang sangat pedih akan menimpa.

`Manusia dijadikan Tuhan sebagai mahluk yang paling sempurna karena mempunyai kelebihan akal pikiran dan nurani serta Ruhani. Itu merupakan nikmat yang tiada terkira. Salah satu mensyukuri nikmat adalah dengan menggunakan akal dan pikiran kita. Dengan berpikir dan berakal, pengetahuan kita akan bertambah. Dari pengetahuan kemudian menjadi ilmu, berilmu. Itulah nikmat Allah. Orang yang berilmu akan lebih dihargai oleh orang lain.


Orang yang tidak mau menggunakan pikiran dan akalnya akan menjadi bodoh. Taklid buta pun dilarang oleh agama. Orang yang bodoh kurang dihargai dalam kehidupannya dan sering sengsara karena kebodohannya. Itulah azab Tuhan.


Mengapa manusia yang diberi anugrah itu?


Karena manusia yang diberi akal dan pikiran, sehingga ujud seorang Muhammad pun adalah manusia, bukan malaikat.


Kursi Allah ada dalam seluruh alam semesta ini. Ruh kita adalah sedikit Ruh Nya yang ditiupkan, sehingga manusia pun memiliki sifat – sifat yang berasan dari pemberi Ruhnya, meski sedikit. Maka manusia bisa berkuasa, berkehendak, merubah, membunuh dan sebagainya. Semuai itu pun atas izin Nya, tanpa izin Allah maka manusia tak kan mampu apapun... illa Bisulton........

Sulton yang dimaksud adalah kekuatan berupa ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah hasil dari kerja keras akal , pikiran, dan Ruhani manusia. Maka hanya manusia yang masih hidup / ber ruh lah yang bisa melakukan Iqra......maka selagi hiduplah manusia dianjurkan untuk Iqra. Jasad tanpa Ruh bukan lagi manusia, melainkan bangkai...sehingga dapat disimpulkan sebagai berikut


Marilah... mumpung kita masih menjadi manusia........ mumpung masih ber Ruh... kita Iqra, membaca tentang kehidupan ini agar kita lebih dimuliakan derajatnya... di dunia dan di akherat kelak. Amin.......


Subhanalloh, wassalamah, warohmah, wabarokah ngalaik.Mewujudkan Pancasila Sejati,Membangun Manusia Indonesia Seutuhnya oleh ravie anandaMonday, November 16, 2009 9:53 AMOleh Ravie Ananda

1.Ketuhanan Yang Maha Esa,adl sebuah keyakinan yg harus trpatri dlm jiwa dan ruh ksadaran masy.Indonesia bkn hanya dlm lisan dan otak saja,bhwa kita adl sama sama ciptaan Tuhan yang Hanya Satu,tuhan yg menghendaki adanya prbedaan suku,bgsa dan agama serta budaya dunia sbg bukti bhwa tuhan maha kuasa dan tuhanlah yang sempurna.

2.Kemanusiaan yang adil dan beradab..Terpatrinya Tuhan yang Satu,yang wajib kita sembah,bukannya agama yg satu,maka akan menumbuhkan rasa dan ksadaran manusia dgn kemanusiaan dan cinta kasihnya yg akhrnya akan mewujudkan rasa adil diantara pmeluk yang brbeda2.Ini akan mlahirkan sbuah peradaban manusia yg luhur.Pradaban yg brasal dr kata adab,yg brarti tata krama,budi pekerti,hormat menghormati..Bukan sbuah akar fanatis2 yg kuat yg melahirkan tindak anarkis msing2 pmeluk,ormas,dll shg trbentuklah kehewanan yg brutal dan biadab.

3.Persatuan Indonesia..Adanya rasa,kyakinan perasaan Satu Pencipta,rasa sama sama ciptaan tuhan yg dicipta dan tertakdir hidup di indonesia,akan menciptakan persatuan yang kuat..Itulah bineka tunggal ika,beda2 faham akan tetapi yakin bhwa smua adl ciptaan yang Maha Tunggal..Tuhan yang satu,bukannya agama yang satu,atau ormas yg satu,atau politik yg satu dll.Tan hana darma mangrwa,,tidak ada kebaikan,ketuhanan yang jelek,smua takdir tuhan,khendak tuhan,jika saling menyalahkan satu sama lain,sama saja menyalahkan penciptanya.Bradabkah manusia yg brani menyalahkan penciptanya?

4.Kerakyatan yg dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan,kerakyatan yg mrupakan cermin sbuah persatuan,permusyawaratan yg mrupakan cermin sbuah kemanusiaan,slg hormat menghormati,asih,asah,dan asuh,sbg satu ksatuan wujud khidupan yg pnuh hikmah.Kbijaksanaan yg brarti bijak,mencoba memahami maksud orang lain(sana)bukan bijak sini yg artinya memaksa orang lain mengikuti kemauan kita..Shg sbuah kterwakilan dlm sgala bidang trwujud krn ksadaran akan takdir masing2,bkn krn pemaksaan.Petani nyaman dgn brtani,pnyair pujangga sastrawan tulus brkarya memberi kdamaian lwt sastranya,pjabat politisi tulus mengabdi krn tau hukum tuhan pasti nyata,memberi pengayoman,kbijaksanaan yg memberi kbhagiaan smua pihak,bkn pemanfaatan rakyat kcil unt.Kpentingan mrk.Yang jd pemuka agama jg memberikan ksejukan dan menuntun pd kesatuan pencipta yg wajib disembah,bkn kesamaan agama yg harus dianut yg akhrnya menimbulkan krusakan.Tdk hanya beda agama,beda fahampun dlm seagama bs menimbulkan bentrok.Ajaran ketuhanan yang satu pastilah akan menggiring ksadaran manusia yg bradab,bkn perpecahan dan peperangan.Dll

5.Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia,keadilan yg brarti rasa bahagia,puas,bukan trtindas dan terhimpit,rasa adil dlm sluruh lapisan sosial rakyat di indonesia,keadilan sbuah kbijaksanaan pemerintah unt.Rakyat kecil,ptani pdagang,keadilan dan kenyamanan smua pnganut agama dan kpercayaan di indonesia unt.Menjalankan ibadah penyembahan kepada tuhan yang satu,dgn tata cara masing2..Saling menghormati sbg bukti bhwa kita manusia,bukan binatang..Ketuhanan yg mulia,yang satu,yg luhur(bintang emas) yg kmudian mlahirkan manusia2 yang sempurna,lahir,batin/jiwa&ruhaninya,bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk indonesia raya,jika ruhani trbangun kuat,mental otak dan kcrdasan juga akan kuat dan badanpun akan dijaga kekuatannya,dibudidaya oleh ksadaran sukmanya,menjadi manusia indonesia seutuhnya,manusia sbg ruh bangsa,manusia yg brjiwa besar sbg cermin bangsa yang besar,negara kesatuan republik indonesia Raya(agung,luhur,mulia,besar,dll)amin..Semoga.RahayuKesambet,keselong, paranormal dan mahluk halus. Oleh Ravie AnandaMonday, November 16, 2009 9:40 AMOleh Ravie Ananda
Kesambet brmakna tersambut,disambut oleh mhluk halus.krn prbedaan materi pnysun tubuh,gel listrik,mgnetik jg audio,mk mnimbulkn reaksi mrinding,lemes pusing dsb.spt wktu kt didpn PC,dbwh tower sutet dll.jk daya mns tsb trlalu rendah,mk energi dr gaib tsb bs merubah frekwnsi motorik&sensorik mns,timbullah ksurupan.surup artinya salah/ksalahan,missing of the human frekwency.membtulkannya dgn memutus kontak arus 2 subjek yg brbeda tsb(diusir,jawane).
Ngusir brasal dr kt kusir yg artinya mengendalikan,jd bs menguasai dan menyuruh untk sgra pergi dr skitar subjek yg trsambut td,shg energi mns tsb kembali wajar.agar kt bs jd pngendali/kusir,kt harus knal yg akan kt kendalikan td dan harus bs menyamakan energi kt dgn mhluk halus tsb,agar brtegangan sama&tdk trjd ksalahan/missing frkwncy.menyamakannya dgn tirakat atau puasa lahir dan batin.

Mengapa ngusir/nyambat(nego) mhluk halus dgn tirakat?dgn kosongnya makanan dlm lmbung,mk energi tubuh akan trkumpul lbh byk,krn tdk trbagi unt.kegiatan pncernaan.smntara darah ttp broprasi sbg PLTA Tubuh.kurangnya kpekatan darah sbab enzim2 dr mknan sdg kosong,menjadikan darah lancar&mkin cpt brputar grakkan turbin2 tubuh(orgn2 dalam) shg menaikkan tegangan yg membuat pancaindra kelebihan energi(overload),disebutlah supranatural,lebih dr wajar.
Adanya klebihan energi td menimbulkan pncaindra mkin peka,mata bs mlihat yg lbh halus,pndgran bs krungu suara lelembut(suara yg lbh lembut/halus),pnciuman bs mencium aroma lelembut,perasa jg dmikian.orang yg dmikian disebut paranormal(ora normal/tdk swajarnya mns).layaknya ahli radio,mrk tau bhwa ada frekwnsi lbh tinggi diatas am,yakni fm dan sw.untk bs mrubah am ke fm/sw hrs disamakan frkwncy nya dgn menambh lilitan,kumparan spul,dll sbg genrator.
Apabila spul dan smua td tlah sama,maka kt akan dptkan siaran2 dr brbgai radio disluruh dunia,trgntung ksamaan frek.nya.shg bs kt dapati radio yg hanya am tdk bs menangkap fm atau sw,bgtu jg sbaliknya.tetapi kt jg bs mendapati satu radio yg bs menangkap 3 frekwensi tsb.dlm mns,raga kt msuk dlm frek.am,batin kt fm,sukma kt sw.mk kt perlu blajar sangkan antara lan paran,agar mjd radio yg lengkap.Bagaimana org akan tau sw,jika dia hanya punya Am??

Keselong brasal dr kata dasar kalong yg brarti kurang,dan selang yg brarti pinjam.jd keselong artinya trkurangi knormalan tubuh akibat tersambut/kesambet.brmakna jga dipinjam ksadaran manusianya oleh mhluk halus.keselong bs jg brarti ilang,hilang kesadaran bhkan sering juga hilang seraganya.smuanya itu/keselong itu akibat kesambet.jd proses kesambet mengakibatkan keselong.
Kesambet dpt dikategorikan dlm bbrp bntuk,sesuai penyambetnya:kesambet makanan dan minuman,ksambet nafsu(nafsu makan,nafsu marah,sex,ksenangan,ksdihan akn sst,amarah,bhkan nafsu ibadah),ksambet ilmu pengetahuan&kesambet mhluk halus.smua bs membuat raga,batin&ruh mnjdi tdk wajar bhkan smpe tdk ingat.yg plg bahaya adl ksambet nafsu2x.sembhyangpun jk nafsu,jdnya sok suci,plg bnar.bnr yang blm tntu bnr menurut Tuhan.br benar mnrt dr&fahamnya sndri.
Keselong brdasarkan faktor sngaja&tdknya bs dikategorikan menjadi:diselongna dan niat keselong.diselongna brarti hilangnya ksadaran,bhkn jg mgkn raganya krn disebabkan oleh faktor luar,misal makan makanan kadaluarsa,bs lupa diri,bhkan hilang nyawa dan raga.pipis ditempat angker,jg bs ksambet dan kselong dsb.niat keselong brarti unsur ksengajaan mns,sdh tau mknan exp./alkohol tinggi,ttp saja ditelan,jd mabuk/niat mabuk.ngerti angker nekad,uji nyali.
Tergoda oleh lawan jenis jg trmasuk keselong,shg bs membuat pikiran kacau,bhkan bagi yg tlh brkeluarga bs brakibat hilang dr rumah,minggat dgn penggodanya.contoh kasus bang toyib yg gk pulang2.sdgkn niat keselong adl hobi selingkuh.jika ktahuan bs tdk normal rmh tangganya dan bs khlgn kbhgiaan,bhkan jk cemburubuta bs trjadi salingbunuh yg brarti hilangnya raga.rasa ingin punya sst,jk tdk ksampean bs nekad mncuri,artinya dr keselong jd niat kselong.
Mahluk halus sbg subjek penyambet dan penyelong menurut tmpat tinggalnya dibagi 2:yg tinggal dlm diri kita(intrinsik devil) brwujud nafsu2 kita.jika kt tdk bs mengendalikan,smua akan menjadi pnyambet dan pnyelong yg luar biasa ganas.mlbihi dajjal,iblis dan setan.mengapa?krn dajjal,setan dan iblis mmg takdirnya sbg pnyambet-sdgkn mns ditakdirkan sbg pngndali pngusirnya,kok malah nekad menyambetkan diri,maka dsbut badan wong nyawa setan.
Jika mns telah jd mahluk halus spt diatas,bhkan jin setan ora doyan,demit jg tdk akan ndulit,bhkan dajal iblis setanpun akan takut krn khawatir akan diselongkan mns td dari takdirnya sbg iblis.mrk tdk akan menerima mns td sbg golongannya sebab raganya adl mns,sdg di gol.mns,org tsb jg akan dicurigai krn tgkahnya spt setan.Mahluk halus yg kdua adl yg brasal dr luar diri mns(extrinsik),tipe ini byk skali mcmnya dan mmg trcipta&trtakdir jd pnyelong.
Mhluk halus yg asli trcipta dlm luar diri manusia(original devil) dpt digolongkan menjadi brmcm2 sesuai bentuknya.adapun nama2 mrk antara lain,belis,setan,jin abang ijo kuning putih biru ireng dadu dsb,jim,menter,mentek,jejanggitan,gelidrah,tuk tuk sur,ilo ilo ,banaspati,kemamang,lelembut,jerangkong,gandaruwo,gandaruwong,peri perayangan,brekasakan,merkayangan,siluman,rijaluloh,
Tepengreges dll.smua memiliki wujud dan aroma yg trsendiri.indahnya hari hari kita. Nyecep rasaning dina.oleh ravieanandaMonday, November 16, 2009 9:23 AMOleh Ravie Ananda
Minggu adalah smesta..Tempat dari smua galaksi dan sluruh khidupannya..Smua yang brawal dari kosong dan akan kembali kepada kekosongan,selayaknya kliwon yang menjadi black hole dan siap melenyapkan smua yg masuk kdalamnya.Ataupun menghampakannya dalam lorong ktidak pastian yg tnpa batas.Smentara hanya ada 2 kepastian di dlmnya yakni sesuatu yg tak pasti dan kematian.Juga sunday yang pnuh smangat matahari yg pasti akan brakhir mski kpastian akhirnya yang tak pasti.Smua kpastian dan ktidak pastian yg tertampung dalam semesta yg pasti tapi tak pasti.Yang ada tapi tak ada.
Senin adl dini yg penuh embun..Selimuti mentari yang masih tlelap dipenghujung mimpinya..Monday yang selembut energi bulan mengitari bumi..Menggugah tiap jiwa untuk sgera trbangun dari kesemuan yang absurd.
Selasa adl hari matahari terbit,dimana ia mulai trjaga dari lelapnya..smangat dan mata yg masih muda.tetapi pasti akan tumbuh menjadi bara yg membakar jika ia tlah menjadi kamis..slasa yang menyala seperti api lentera yang indah dlm ruang kaca yang anggun.tuesday yang redup layaknya pijaran ribuan bintang2 di angkasa.
Rabu adl hari yg syarat dgn daya air yg tenang,bening,tetapi menghanyutkan,seperti halnya samudra LEGI, yg pasti menghanyutkan hati dan mengalirkan kedamaian siapa saja yang menatap.wednesday sbuah perkawinan yang haru biru,perkawinan antara matahari,bulan dan bintang..yang mengingatkan kt bhwa hidup masih tetap berlanjut.hidup yg sarat hikmah dan perenungan sang pencipta.
Kamis adl hari yg sarat akan pengaruh matahari,api merah yg kuat dan menyala,panas yang membakar semangat,kejayaan dan ksuksesan..seperti halnya paing yang pnuh kebanggaan,thursday dgn kberanian tekadnya..menyalakan api pada jiwa2 mns dan mematangkan raga pemiliknya dgn sinarnya yg kuat krn matahari yg tengah brada tepat diatas kepala smua penghuni bumi.
Jumat adl hari yg trpengaruh oleh unsur angin,dgn sifatnya yang ringan,menyenangkan dan juga slalu brgerak condong ke baratlaut mengikuti arah gerak matahari yg mulai khlgn daya panasnya diufuk barat.jumat dgn jingganya,spt juga pasaran pon yang duduk brdampingan.friday dgn kbebasan geraknya spt angin yg leluasa menelusuri celah2 yang ada,bhkan hingga rongga2tubuh,paru2,jantung,otot,darah dsb.
Sabtu adl hari yang sangat dipengaruhi oleh unsur bumi dan sgala isinya..bumi dgn bulat dan beratnya,jg bumi yang gelap tertinggal sinar matahari..pun dmikian,bumi juga syarat akan kekuatan,shingga dgn kpadatannya mampu memuat smua baik air,api,tanah,udara dll.dlm astronomi barat,saturday adl hari yg trpngaruh saturnus.sdg dlm astronomi jawa,sabtu adl hari yg sama unsurnya dgn wage.sblm ada hari 7,di jawa tlh ada hari 5,yg skr jd pasaran jawa.Klasifikasi serat jawa brdasar periode waktu oleh Ravie AnandaThursday, November 12, 2009 7:28 AMKlasifikasi serat jawa brdasar periode waktu dibagi menjadi 3 yaitu:
A.SERAT2 BABON KAWI(DITULIS DGN HURUF KAWI)
;MAHABARATA,MANIKMAYA,BUDAWAKA,MAHADEWABUDA,SUMANTAKA,ARJUNASASRA,RAMAYANA,MAHBASAWA,MANUMANASA,PURWONANDA,HARIWANDA,HASMARADAHAT,DEWABRATA,BONDALAKSANA,DARMOSARANA,PANDUPAPA,GORANGSA,BALEGALA,KUNJARAKRESNA,MALAWIKURUSAN,PANDAWADANA,GATOTKACAYASA,PARTAYAKSA,PALGUNA,DEWARUCI,MANIKHARJAPURWOKO,WIWAHA,BOMANTARA,BOMANTAKA,HUDANAGARA,BARATAYUDA,TRIMAYATA,YUDAYANA,AJINIRMALA,DARMASONYA,NITISASTRA,CANDRASANGKALA,DASANAMA,CANDRAGENI,HASTAPRAJA,HASTIBRATA,JUGULMUDA,KALOKANTARA, SURYANGALAM,CARAKASASTRA,CARAKABASA,BANAPUTRA,KARANA,CANDRAWEDAR DAN KUNTARA.

B.SERAT2 BABON JARWA(ADL SERAT2 YANG MENGGUNAKAN BHASA JAWA BIASA DAN SBAGIAN BESAR GUBAHAN DARI SERAT2 BABON KAWI)
;ANGLINGDARMA,BANDUNG,SINDULA,NGRENI,PANJIJAYALENGKARA,PRIYEMBADA,PAMBA,AMONGBRONTA,JAKASEMAWUNG,BABADPAJAJARAN,MAJAPAIT,DEMAK,MATARAM,KARTOSURA,NGAYOGYA,SEKENDER,DAMARWULAN,MAKUTARAJA,SRUTI,PAPALI,JOYOLENGKARA,NITIPRAJA,SEWAKA,SILANEGARA,WULANGREH,SANASUMA,JOYOBOYO,PANJIMURDASMARA,NARAWONGSA,CENTINI,
PAWUKON,KATURANGGAN,DONGENGKEWAN,SASANAPRABU,HUDANAGARA,
HIDAYATULLAH,SEHTEKOWARDI,PANJIWANITA,KYAISURYARAJA,
SURYABRONGTA,SURYANARENDRA,JATIPUSAKA,BABARTULADAN,
JOYOHASMARA,GURU ANTANGAN,SILAKRAMA,KARIYA SEWU,KUNCARA JARWA,GONDA MURTIJA,BANJARAN SARI,PRANA CITRA,KLANDIWANGKARA,dan CABALEK.

C.SERAT2 BABON SAKING KITAB(ADL HASIL SADURAN DARI KITAB2 TIMURTENGAH)
;AMBIYA,JAMANGLI,TAJUSALATIN,ASMARANABI,ISKANDAR,MENAK,RENGGANIS,MAKUTARAJA,HASMARASUPI,NAWAWI,BUSTAMN,JOBARSAH,MURSADA,
SIPATULWIJRA,AHMADMUKAMAD,BAYANBUDIMAN,SULEMANJAMAL,MURTASIYAH,KASANAH,JOHARMANIKKABARKIYAMAT,PURWACAMPUR,PRANCIPTA,SASTRA PRATONGGA,KARTI HANDAYA,BONGSA SULUK2.
Selanjutnya siapakah pengarang asli serat2 tersebut?mungkin kini jarang diketahui karena lebih dikenal sebagai karya pujangga2 yg menulis kembali,atau menyadurnya,yg tentunya hidup dijaman yg lebih muda.pengarang asli byk menggunakan nama sebutan..lantas siapakah pengarang aslinya?
Para Pengarang Serat-serat Jawa diatas :
JWA KARANA,PRAMASASTRA,ARJUNASASTRA,RAMAYANA,BANAPUTRA(MASIH BRBAHASA KAWI) KARYA DARI AJISAKA.
Candrasangkala,candrageni,hastabrata karyA BATARA HADIMURTI.
Wiwaha,dewaruci karya SANG HYANG MUTIK BATARA.
Manikmaya,dewa brata,manikharja,purwaka,huda nagara karya empu EMPU WIDOJAKA.
Mahadewcuda,mahabarata karya empu PUWYA.
Budawaka karya empu JUGIS SWARA.
Sumantaka karya empu MANAGUNA.
Hariwanda,gatotkacaYasa,sri mataya karya KYAN PANULUH.
Mahabasawa,puwananda karya empu PANIRAT.
Asmaradahat karya EMPU SALUKAT
Bonda laksana karya empu RAGA RUNCING.
Darmasarana karya TIAN TAWANGKENG,kemudian diperbaharui oleh PRABU BANJARAN SARI yg kmudian diubah nama menjadi serat WIWAHA.
Pandawapapa karya EMPU MAYANGGA.
Pandawa wadana karya EMPU KARMA JAYA.
Godangsa karya EMPU BRATA.
Balegala,manumanasa karya EMPU JONGGA.
Kunjara kresna,bomantaka karya EMPU BODANG.
Pandawa wadana,karya empu EMPU KARMA JAYA.
Malawikurusan,kuntara karya KYAN BARADAH.
Partajaksa karya EMPU KANWA
Palgunadi,candrawedar karya EMPU KARMAJAYA.
Bomantara,hudayana karya EMPU KALANGON
Bratayuda karya EMPU SEDAH.
Aji nirmala karya EMPU WIJATMAKA.
Darmasunya karya BATARA PANYARIKAN
Nitisastra karya PRABU WIJAYAKA
Astapraja karya PRABU MAPUNGGUNG
Jugulmuda,salakantara,cindra geni karya PATIH JUGUL MUDA
Nawawi karya NGABEI SASTRAWIJAYA

Panji jayalengkara karya NGABEHI KARTADIWIRYO
Panji priyembada karya KARYA SUSUHUNAN 3
Jakasemawung karya NGABEI RONGGOWARSITA
Baron sekender karya NGABEI YUDASMARA
Suryangalam karya JUGULMUDA,Kemudian dipindah bahasa menjadi bhasa jawa biasa oleh SULTAN DEMAK 1
Papali karya KYAI KARTA BOGA ing SELA(KYAI AGENG SELA)
Surti karya PANGERAN KARANGGAYAM ING PAJANG,Kemudian diperbaharui oleh SULTAN AGUNG
Nitipraja karya SULTAN AGUNG
Ambiya,iskandar,ngreni,sewaka,silapraja,karya NGABEHI YASADIPURA 1 Sana sunu,panji among brata,karya NGABEHI YASADIPURA 2
Pawukon karya ADJAR ARTA DRIYA,Kemudian diperbaharui SUNAN GIRI 2,kemudian disusun penanggalannya dsb oleh SULTAN AGUNG
Jayalengkara wulang karya PANGERAN PEKIH
Caraka basa karya AMANGKURAT 1 TEGAL ARUM
Wulangreh karya KANJENG SUSUHUNAN 1
Suluk warni2 karya PARA WALI
Babad pajajaran,majapait,demak,mataram,raja kapa2 karya PANGERAN KADILANGU
Hasmara supi karya ADIPATI PANGERAN SEMARANG
Katuranggan karya R. MANYURA (LURAH PANEGAR ING SURAKARTA)
Damarwulan,dasanama jarwa,caraka sastra,panji murdasmara,narawangsa,sasana prabu,hudanegara wulang,babad kartasura karya CARIK BADRA ing KARTASURA
Jangka jayabaya karya EMPU SALUKAT, kemudian diperbaharui oleh SUNAN GIRI 2,kemudian diperbaharui lagi oleh PANGERAN KADILANGU (Jaman KARTASURA).
Dongeng kewan karya RANGGA AMONG SASTRA (carik dari KANJENG SUSUHUNAN 5 SUKAKARTA)
Centini karya SEDEREK SAKING PESISIR,bisa juga itu SUNAN GIRI ATAU ANAKNYA
Kyai surya raja,klana giwangkara karya SULTAN HB 2
Jatipusaka,sekar ageng,sarah darmo,sujayeng resmi,rengganis yg smuanya itu adl gubahan/sempalan yg brasal dari serat menak,karya P.ADIPATI PAKU ALAM 1
Asmara nabi,babar tuladan karya P.ADIPATI PAKU ALAM 2
Surya bronta karya PANEMBAHAN MANGKURAT
Panji murdasmara karya P.HARYA MANGKUDININGRAT
Joyohasmara kawi karya HARYA HADIWINOTO
Kartiantoya karya R.WADANA SOSROWINOTO
Sipatulwijra,ambiya,damarwulan ditulis kembali oleh R.RONGGO PRAWIRO SANTIKA MADIUN yg tewas memberontak
Prana cipta,jatipusaka karya P.HARYA SURYA WIJOYO NGAYOGYAKARTA
Surya narendra,sekar ageng,sastra pradongga,silakrama,karya BANDARA HARYO SURYA NEGARA, kemudian ia membaharui serat caraka basa,rukmakala jarwa serta babad majapahit.
Sebuah pertanyaan bagi kita,apakah serat2 itu masih ada?apa isi sejati dari serat2 tsb.dimanakah makam empu2 tsb?KIAMATKAH 2012 oleh ravie anandaWednesday, November 11, 2009 5:09 PM  KIYAMAT 2012 BERUBAHNYA PERADABAN DUNIA DAN KEMBALINYA KELUHURAN PANCASILA oleh Ravie Ananda     Tahun ini adalah tahun yang menghebohkan dengan adanya fenomena kiyamat 2012 oleh perhitungan bangsa /Suku Maya Amerika. Bangsa kita sndiri larut dalam pembahasan tersebut. Bangsa kita lupa akan keluhuran bangsanya yg mempunyai leluhur ahli hitung kuno yg lebih hebat dari suku Maya tsb. Bangsa ini juga mempunyai candi Cetha digunung Lawu yg persis seperti bangunan suku Maya. Sebut saja Serat Jangka Joyoboyo, Jangka Sabdapalon yang juga menyebutkan hasil perhitungan astronomi kuno jawa sejak jaman itu hingga jaman yang kita alami sekarang.  Dalam kitab itu jelas disebutkan bahwa adanya pembagian jaman dan tanda- tandaya yang akan etrjadi di tanah dhawa / jawa / NKRI, bahwa akan terjadinya kehancuran besar oleh alam sebagai tanda akan adanya peradaban baru, bukan akan kiyamat dalam arti tamatnya kehidupan semesta. Disebutkan juga bahwa setelah itu kembalilah keluhuran tanah dhawa ( jawa ) NKRI MULAI 2012/2013 Sebagai PEMELIHARA KEDAMAIAN DUNIA. Simbol kembalinya Sabdapalon dan akan merusak siapa saja yang tidak mau  memakai agama budi mksudnya adl KETAUHIDAN.  Ktauhidan kita sejak dahulu kala tlah ada,dan menjadi dasar utama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa,dari dulu, kita orang Jawa mengenal Gusti Kang Maha E yang dalam Islam dikenal dengan Allah Al Wahid Al Ahad.  Keluhuran bangsa kita ini terbukti juga dengan diboyongnya benda- benda peninggalan di Jawa ke berbagai negara di Eropa missal Belanda, India, Jerman dan lain- lain mulai dari arca, kitab hingga batu batu situs pra sejarah. Mereka menghormati sekali dan menjaganya. Alasannya mereka adalah takut jika benda – benda tersebut tetap di Indonesia akan rusak dan tidak terjaga.dan ternyata benar sekali adanya. Mulai dari rakyat hingga pemerintah kita memang kurang sekali perhatiannya terhadap bukti bukti kejayaan bangsa ini dan lebih cenderung sibuk dalam hingar bingar politis .  ADA APA DGN KEASLIAN BGSA INI HINGGA NEGARA - NEGARA LAIN RELA MENJAGANYA?ADAKAH  KAITANNYA ANTARA KEBUDAYAAN KITA DENGAN DUNIA?  Dan kiranya perhitungan bangsa kita mungkin lebih tepat,seperti juga dalam al Quran yang menyebutkan “Niscaya jika orang -orang Islam telah kembali pada kekafiran, Allah akan ciptakan suatu kaum (bukan agama lho) dimana kaum itu baik dengan orang muslim,dan benci dengan orang kafir, kaum tersebut tidak takut dicela dan sangat sayang terhadap Allah, seperti Allah sayang kepada mereka.   Berdasar ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa kaum bukanlah agama. Apakah yang dimaksud adalah bangsa tanah Dhawa NKRI DGN PANCASILANYA?  Kembalinya atlantik yang hilang yang slama ini diklaim Colombus bahwa negara kuno itu ada di samudra Atlanta,sedangkan ternyata Colombus sendiri mengadopsi teori sebelumnya milik Plato bahwa jaman dahulu kala pernah ada sebuah Negara besar kuno yang sudah memiliki peradaban yang sangat maju, akan tetapi sekarang riwayatnya hilang, sedangkan Plato sndiri tidak menyebutkan dimana negara itu. Peninggalan- peninggalan di Jawa kini mulai terbukti. Bahkan tengkorak manusia tertua yang ditemukan di jawa yang baru- baru ini diteliti di Jerman diakui sebagai tengkorak tertua manusia di dunia, melebihi tengkorak dari Kusina Malabari.  Lantas ada apa dengan tanah dhawa NKRI ini?  Smentara benda- benda prasejarah diakui dunia,dijaga oleh Negara-negara lain,mengapa riwayat keluhuran kita ini sama skali hilang? Apakah cukup kita mengikuti alur riwayat bangsa ini yangsementara merupakan hasil buatan sejarawan bangsa –bangsa asing??  Dimanakah mental kesatria kita, para sejarawan, para arkeolog,  putra – putra bangsa ini yang malah bangga jika telah meniru ilmu barat, pnulisan–penulisan ,obat2an,budaya,politik semua yang dari barat..  Selamanya kita tidak akan bisa mlebihi yang ditiru..sedangkan bangsa barat mempelajari keluhuran budaya kita,sastra sastra kuno kita, spiritual kita dll hingga benda – bendanya kini lebih banyak yang berada di luar sana.  Mengapa untuk mendapat gelar doctor sastra jawa yang notabene sastra kita sendiri, kita harus sekolah di Belanda?  Betapa tragisnya bangsa ini. Semoga Yang Kuasa segera mengembalikan keluhuran bangsa ini. Amin. Salam Pancasila  Antara Sayyid, Syarif, Habib, Alawiyin dan Kyai oleh Ravie AnandaWednesday, November 11, 2009 4:26 PMSayyid berasal dari bahasa Arab yang berarti Tuan atau junjungan. Kaum Sayyid dianggap sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw melalui putrinya Fatimah Az Zahra. Kaum Sayyid adalah keturunan dari Husein ( Cucu Nabi Muhammad Saw ). Sayyid adalah sebutan untuk laki- laki dan Sayyidah untuk sebutan perempuan.   Adapun keturunan yang melalui jalur Hasan ( cucu Nabi Muhammad Saw ) disebut dengan Syarif ( untuk laki - laki ) dan Syarifah ( untuk perempuan).
Kata Sayyid / Syarif dan Sayyidah atau Syarifah digunakan sebagai keterangan saja bukan untuk gelar. Gelar bagi mereka adalah Habib ( kekasih ) untuk laki- laki dan Habibah untuk perempuan.
Mereka terbagi dalam kabilah -kabilah / keluarga / marga yang biasanya terdapat di akhir nama mereka misal Al Habsy, Al Hadad dan lain – lain. Diantara kabilah - kabilah tersebut banyak yang mempunyai pimpinan secara turun temurun yang bergelar Munsib. Para Munsib berdiam di lingkungan keluarga yang paling besar atau di tempat asal keluarga.
Ada sejumlah keluarga Sayyid yang dianggap suci dan setara dengan wali, sedangkan golongan lain dianggap sebagai golongan Awas ( ahl al Kasyf ).
Tradisi cium tangan oleh orang yang bukan Sayyid / Syarif kepada kaum Sayyid / Syarif sebagai penghormatan  disebut dengan Taqbil.
Gelar habib juga dipakai oleh keturunan Abas bin Abdul Mutallib ( Abbasiyyin ) dan Abi Talib bin Mutallib ( Talbiyyin ).
Allawiyyin adalah sebutan bagi keturunan dari Ahmad bin Isa yang merupakan merupakan keturunan Ali bin Abu Thalib dan Fatimah az-Zahra.   Mereka yang membatasi gelar sayyid hanya untuk keturunan Nabi Muhammad Saw melalui Fatimah az-Zahra, tidak akan memasukkan Allawi/Alavis dari jalur Ali bin Abu Thalib dengan istri yang lain ( Selain Fatimah Az Zahra ) kedalam sayyid. Jauh sebelum itu, pada abad - abad pertama Hijriyah, julukan Alawiyin ( Alawi ) digunakan oleh setiap orang yang bernasab kepada Ali bin Abi Thalib, baik nasab secara keturunan ataupun karena persahabatan akrab. Kemudian sebutan Alawi itu dikhususkan untuk keturunan Hasan dan Husein. Seiring berjalannya waktu, akhirnya Alawi hanya berlaku bagi keturunan Alwi bin Ubaidullah. Alwi adalah anak pertama dari cucu Ahmad bin Isa. Kaum Arab yang bukan Sayyid / Syarif disebut Qabili. Kaum Sayyid yang pertama masuk di Indonesia adalah marga Basyaiban dan Azmathkhan yang hingga kini keturunannya banyak yang sudah berbaur dengan masyarakat jawa bahkan sudah agak sulit dikenali secara Fisik dan nama yang kebanyakan sejak pertama masuk ke Indonesia memang sudah menyesuaikan diri dengan mengganti nama mereka dengan nama Jawa agar mudah diterima dalam dakwahnya serta membuka diri dengan menikahi kaum yang bukan Sayyid ( Pribumi ). Berbeda dengan kaum sayyid yang lain yang kedatangannya jauh sesudah kedua marga tersebut yang masih membatasi hubungan dan perkawinannya hanya dengan kelompoknya saja, sehingga masih mudah dikenali dari bentuk fisiknya sebagai etnis arab dan nama marga yang biasanya disebutkan di belakang namanya seperti Al Habsy, Al Hadad dan lain - lain. Hal ini sesuai dengan penelitian L.W.C Van Den Berg dalam bukunya Le Hadramawt et Les Colonies Arabes dans l’Archipel Indien (1886) mengatakan:”Adapun hasil nyata dalam penyiaran agama Islam (ke Indonesia) adalah dari orang-orang Sayyid Syarif. Dengan perantaraan mereka agama Islam tersiar diantara raja-raja Hindu di Jawa dan lainnya. Selain dari mereka ini, walaupun ada juga suku-suku lain Hadramawt (yang bukan golongan Sayyid Syarif), tetapi mereka ini tidak meninggalkan pengaruh sebesar itu. Hal ini disebabkan mereka (yakni kaum Sayyid Syarif Hadramaut) adalah keturunan dari tokoh pembawa Islam (Nabi Muhammad SAW).”
Dalam buku yang sama hal 192-204, Van Den Berg menulis:”Pada abad XV, di Jawa sudah terdapat penduduk bangsa Arab atau keturunannya, yaitu sesudah masa kerajaan Majapahit yang kuat itu. Orang-orang Arab bercampul-gaul dengan penduduk, dan sebagian mereka mempuyai jabatan-jabatan tinggi. Mereka terikat dengan pergaulan dan kekeluargaan tingkat atasan. Rupanya pembesar-pembesar Hindu di kepulauan Hindia telah terpengaruh oleh sifat-sifat keahlian Arab, oleh karena sebagian besar mereka berketurunan pendiri Islam (Nabi Muhammad SAW).   Orang-orang Arab Hadramawt membawa kepada orang-orang Hindu pikiran baru yang diteruskan oleh peranakan-peranakan Arab mengikuti jejak nenek moyangnya." Perhatikanlah tulisan Van Den Berg ini yang spesifik menyebut abad XV, yang merupakan abad spesifik kedatangan dan / atau kelahiran sebagian besar Wali Songo di pulau Jawa. Abad XV ini jauh lebih awal dari abad XVIII yang merupakan kedatangan kaum Hadramawt gelombang berikutnya yaitu mereka yang sekarang kita kenal bermarga Assegaf, Al Habsyi, Al Hadad, Alaydrus, Alatas, Al Jufri, Syihab, Syahab dan banyak marga hadramawt lainnya. Marga Hadramawt yang termasuk sayyid antara lain :
Afiff, Alatas, Alaydrus, Albar, Algadrie, Alhabsyi, AlHamid, AlHadar, AlHadad, AlJufri, Assegaff, Attamimi, AlMuhazir, Baaqil, Baraja (Syekh), Basyaiban, Baridwan, Bawazier, BinSechbubakar, Jamalullail, Maula Dawileh, Maula Heleh /Maula Helah, Shahab, Shihab dll. Adapun Marga Hadramawt yang termasuk Qabili antara lain : Abud, AbdulAzis, Addibani, Alkatiri, Ba’asyir , Bachrak, Badjubier, Bafadhal, Bahasuan, Basyaib, Baswedan, Haneman,Kawilah, Thalib, bahafdullah dll.

Marga keturunan Hasan antara lain : Syambar (Syanabirah) : Keturunan Sayyid Syambar bin Hasan bin Abu Numai Ats-Tsani. Bersambung pada Sayyid Qatadah bin Idris bin Mutha’in. Bersambung pada Sayyid Musa Al-Jun bin Abdullah Al-Kamil bin Hasan Al-Mutsanna bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Tersebar di sekitar Makkah dan Tha’if.   Barakat : Keturunan Barakat bin Abu Numai Ats-Tsani. Tersebar di sekitar Makkah dan Tha’if. merekapun banyak yang dikenal dengan marga baru, seperti Al-Ghaits, Nasir, Aal-Muflih dll. Al-Jazan : Keturunan Sayyid Jazan bin Qaytabay bin Hasan bin Abu Numai Ats-Tsani. Tersebar di Tha’if dan sekitarnya. Al-Harits : Keturunan Sayyid Muhammad Al-Harits bin Hasan bin Abu Numai Ats-Tsani. Tersebar di Mekkah, Tha’if dan sekitarnya. Hamud : Bersambung pada Hasan Abu Numai Ats-Tsani. Tersebar di Makkah dan sekitarnya. Al-Hazim : Keturunan Sayyid Hasan bin Abu Numai Ats-Tsani. Tersebar di Makkah, Jeddah dll. Sebagian mereka dikenal dengan julukan Barakat. Zaid : Keturunan Sayyid Zaid bin Muhsin bin Husain bin Hasan bin Abu Numai Ats-Tsani. Kekuasaan kota Makkah ada pada keluarga mereka selama lebih dari dua abad sebelum keluarga ‘Aun. Dari mereka banyak yang dikenal dengan julukan lain, seperti marga Yahya, Abdullah, Ghalib, Musa’id dll. Al-Amir : Keturunan Al-Amir Khalid Quthbuddin bin Muhammad bin Hasyim bin Wahhas bin Muhammad bin Hasyim bin Ghanim. Bersambung pada Sayyid Sulaiman bin Abdullah Ar-Ridha bin Musa Al-Jun. Ats-Tsa’labi (Tsa’alibi) : Keturunan Tsa’lab bin Mutha’in. Bersambung pada Sayyid Musa Al-Jun. Kebanyakan mereka tinggal di pesisir pantai Laut Merah di Jeddah. Al-Ja’fari : Keturunan Sayyid Ja’far bin Ni’matullah Al-Akbar bin Ali bin Dawud bin Sulaiman bin Abdullah Ar-Ridha bin Musa Al-Jun. Tersebar di Yaman dll. Al-Jailani : Keturunan Sayyid Asy-Syehk Abdulqadir Al-Jailani. Bersambung pada Sayyid Musa Al-Jun. Tersebar di Iraq, Siria, Maroko dll. Di Maroko mereka lebih dikenal dengan julukan Al-Kailani dan Al-Qadiri. Az-Za’bi : Keturunan Sayyid Abdul Aziz Az-Za’bi bin Abudulqadir Al-Jailani. Tersebar di Palestina, Jordan, Siria, Beirut dll Al-Khawaji : Keturunan Sayyid Ali Al-Khawaji bin Sulaiman bin Ghanim. Bersambung pada Sayyid Sulaiman bin Abdullah Ar-Ridha bin Musa Al-Jun. Asy-Syammakhi : Keturunan Sayyid Syammakh bin Yahya bin Dawud bin Abi Ath-Thayyib. Bersambung pada Sayyid Sulaiman bin Abdullah Ar-Ridha bin Musa Al-Jun bin Abdullah Al-Kamil bin Hasan Al-Mutsanna bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib.   Adz-Dzarwi : Keturunan Sayyid Dzarwah bin Hasan bin Yahya bin Dawud Abu Ath-Thayyib.   Al-Anbari : Bersambung pada Adz-Dzarwi. Thayyib : Bersambung pada Adz-Dzarwi. Al-Musaawi : Bersambung pada Adz-Dzarwi. Al-Jauhari (Jawahirah) : Keturunan Asy-Syarif Syaiban bin Yahya bin Dawud Abu Ath-Thayyib. Al-Idrisi Al-Maghribi : Keturunan Sayyid Idris bin yang bersambung padan Sayyidina Muhammad bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Leluhur mereka adalah pendiri Kerajaan Maroko, kerajaan ini berjaya sampai kini dan secara turun temurun dikuasai oleh keluarga Al-Idrisi atau Adarisah. Al-Idrisi Al-Ifriqi : Keturunan Sayyid Idris bin Abdullah bin Hasan Al-Mutsanna bin Hasan bin Abi Thalib. Tersebar di Afrika Utara. Al-Maliki Al-Hasani : Bersambung pada Al-Idrisi. Al-Masyhur Al-Hasani : Marga ini sebenarnya adalah “Bin Masyhur”, namun, pada masa kolonial Belanda, orang-orang Belanda menyebut “Al-Masyhur” untuk memukul rata marga-marga Arab dengan awalan “al” Marga keturunan Al-Husain antara lain :   Ar-Rifa’i : Keturunan Sayyid Hasan Rifa’ah bin Ali Al-Mahdi bin Al-Qasim bin Husain bin Ahmad bin Musa bin Abi Sabhah bin Ibrahim Al-Murtadha Al-Ashghar bin Musa Al-Kazhim bin Ja’far Ash-Shadiq. Mereka tersebar di Bashrah, Kuwait, Palestina, Jordan dan lain-lain. Al-Kayali : Bersambung pada Ar-Rifa’i. Ash-Shayyadi : Bersambung pada Ar-Rifa’i. An-Naqib :  Bersambung pada Ar-Rifa’i. Ar-Rawi : Keturunan Sayyid Yahya bin Hasun bersambung pada Ar-Rifa’i. Julukan Ar-Rawi berasal dari kota Rawah yang terletak di wilayah Anbar, Iraq. Tersebar di berbagai tempat di Iraq dan Siria, merekapun banyak yang dikenal dengan marga baru, seperti Al-Ubaid, Sawahik dll.   An-Na’im : Bersambung pada Ar-Rifa’i. Ar-Rajih : Keturunan Sayyid Rajih bin Abi Numai Al-Awwal. Bersambung Al-Imam Musa Al-Kazhim. Tersebar di Hijaz, termasuk Tha’if dan sebagainya.   Al-Alawi (Ba’alawi) : Keturunan Sayyid Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Abi Thalib. Tersesebar di hampir seluruh negeri Islam, termasuk Indonesia berpusat di Hadhramaut-Yaman. Lebih dari tiga ratus marga bersambung pada Sayyid Alawi ini, dan masing-masing bersambung melalui Assayyia Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qisam bin Alawi bin Muhammad bin Alawi. Sayyid Muhammad Shahib Mirbath memiliki dua putra, Sayyid Ali dan Sayyid Alawi. Sayyid Ali mempunyai satu putra yaitu Muhammad Al-Faqih, dan beliau banyak memiliki keturunan. Sedangkan Sayyid Alawi dikenal dengan sebutan Ammil-faqih dan beliau juga memiliki banyak keturunan. Marga keturunan Ammil-faqih antara lain : Diantara mereka adalah keluarga Azmatkhan, Al-Haddad, Bin Semith, Ba’abud Maghfun, Bahasan Thawil, Babathinah, Bin Thahir, Bin Hasyim, Bashurrah, Ali Lala, ‘Aidid, Bafagih, Basakutah, Bafaraj, ‘Auhaj, An-Nadhir dan Qullatain. Keturunan Ammil-faqih tidak begitu banyak memiliki pecahan marga sebagaimana keturunan Al-faqih, namun bukan berarti keturunan Ammil-faqih lebih sedikit dari keturunan Al-Faqih, karena banyak dari keturunan Ammil-faqih yang tidak terdaftar, yaitu keturunan Abdullah bin Ammil-faqih yang dulu hijrah ke Filipina dan berbaur dengan pribumi untuk berda’wah, juga keluarga Azmatkhan yang tersebar di India, Indonesia dan sebagainya. Di Indonesia, keluarga dan keturunan Azmatkhan lebih banyak dari Ba’alawi yang lain, hanya saja mereka sudah njawani, mereka sudah seperti orang Jawa biasa.  Pada saat Sayyid Husain Jamaluddin (kakek kebanyakan keluarga Azmatkhan Indonesia) meninggalkan India, beliau pergi bersama tiga orang saudara beliau, yaitu Sayyyid Qamaruddin, Sayyid Majiduddin dan Sayyid Tsana’uddin, mereka memasuki daratan Cina dan negeri-negeri lain di Asia. Nah, bisa jadi mereka juga memeliki banyak keturunan di Cina dan lainnya, sebagaimana Sayyid Husain Jamaluddin di Indonesia. Kemudian ditemukan pula saudara Sayyid Husain Jamaluddin yang berna Sayyid Sulaiman Al-Baghdadi, beliau menjadi Sultan di Tailand dan sebagian keturunan beliau hijrah ke Indonesia. Marga Keturunan Al-Faqih antar lain :    Diantara mereka adalah keluarga Mauladawilah, As-Saqqaf atau Assegaf, Al-Idrus atau Alaydrus, Bin Syehk Abibakar (biasa disingkat BSA), Al-Atthas atau Alatas, Bin-syihab atau Shahab, Al-Habsyi, Asy-Syathiri, Maulakhelah, Baharun, Bafagih, Bilfagih, Ba’agil, Bin’agil, Al-Jufri, Al-Bahar, Bin Jindan, Al-Munawwar, Al-Hamid, Hamid, Al-Bar atau Albar, Al-Kaf, Al-Muhdhar, Al-Musawa, Al-Masyhur, Al-Muqaibil, Bin Hadun, Al-Haddar, Al-Hinduan, Bin Yahya, Mudhar, Al-Baiti, Al-Qadri, Basyaiban, Basyumailah, Bin Syaikhan, Ash-Shafi, Ba’umar, Al-Ghamri, Bafaraj, Baraqba, Al-Musawa, Fad’aq,  Barum, Bajahdab, Jamalullail, Assirri, Bin Sahl, Hamdun, Kharid atau Khirid, Khunaiman, Khamur dan masih banyak lagi yang lainnya. Keluarga Al-Alawi atau Ba’alawi berpusat di Hadhramaut, Yaman, kemudian berpencar ke penjuru dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia, mereka dikenal dengan sebutan “Habib”, kecuali keluarga “Azmatkhan” dan “Basyaiban” yang telah lama berbaur dengan masyarakat Jawa, maka merekapun -yang menjadi tokoh agama- lebih dikenal dengan julukan semisal Kiai. Gelar sebutan para Sayyid/ Syarif berdasarkan periode abad
Rabithah Alawiyah :: dalam artikel onlinenya, menyatakan bahwa menurut Sayyid Muhammad Ahmad al-Syatri dalam bukunya Sirah al-Salaf Min Bani Alawi al-Husainiyyin, para salaf kaum Alawi di Hadramaut dibagi menjadi empat tahap yang masing-masing tahap mempunyai gelar tersendiri. Gelar yang diberikan oleh masyarakat Hadramaut kepada tokoh-tokoh besar Alawiyin ialah : 1. IMAM (dari abad III H sampai abad VII H). Tahap ini ditandai perjuangan keras Ahmad al-Muhajir dan keluarganya untuk menghadapi kaum khariji. Menjelang akhir abad 12 keturunan Ahmad al-Muhajir tinggal beberapa orang saja. Pada tahap ini tokoh-tokohnya adalah Imam Ahmad al-Muhajir, Imam Ubaidillah, Imam Alwi bin Ubaidillah, Bashri, Jadid, Imam Salim bin Bashri. 2. SYAIKH (dari abad VII H sampai abad XI H). Tahapan ini dimulai dengan munculnya Muhammad al-Faqih al-Muqaddam yang ditandai dengan berkembangnya tasawuf, bidang perekonomian dan mulai berkembangnya jumlah keturunan al-Muhajir. Pada masa ini terdapat beberapa tokoh besar seperti Muhammad al-Faqih al-Muqaddam sendiri. Ia lahir, dibesarkan dan wafat di Tarim. 3. HABIB (dari pertengahan abad XI sampai abad XIV). Tahap ini ditandai dengan mulai membanjirnya hijrah kaum Alawi keluar Hadramaut. Dan di antara mereka ada yang mendirikan kerajaan atau kesultanan yang peninggalannya masih dapat disaksikan hingga kini, di antaranya kerajaan Alaydrus di Surrat (India), kesultanan al-Qadri di kepulauan Komoro dan Pontianak, al-Syahab di Siak dan Bafaqih di Filipina. Tokoh utama ‘Alawi masa ini adalah Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad yang mempunyai daya pikir, daya ingat dan kemampuan menghafalnya yang luar biasa, juga terdapat Habib Abdurahman bin Abdullah Bilfaqih, Habib Muhsin bin Alwi al-Saqqaf, Habib Husain bin syaikh Abu Bakar bin Salim, Habib Hasan bin Soleh al-Bahar, Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi. 4. SAYYID (mulai dari awal abad XIV ). Tahap ini ditandai kemunduran kecermelangan kaum Alawi. Di antara para tokoh tahap ini ialah Imam Ali bin Muhammad al-Habsyi, Imam Ahmad bin Hasan al-Attas, Allamah Abu Bakar bin Abdurahman Syahab, Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad, Habib Husain bin Hamid al-Muhdhar. Sejarawan Hadramaut Muhammad Bamuthrif mengatakan bahwa Alawiyin atau qabilah Ba’alawi dianggap qabilah yang terbesar jumlahnya di Hadramaut dan yang paling banyak hijrah ke Asia dan Afrika. Qabilah Alawiyin di Hadramaut dianggap orang Yaman karena mereka tidak berkumpul kecuali di Yaman dan sebelumnya tidak terkenal di luar Yaman. Kebanyakan dari Masyarakat umum dan bahkan kaum Sayyid / Syarif di Indonesia menganggap keturunan yang sah apabila para sayyid / syarif tersebut mempunyai nasab yang tak terputus dari jalur laki - laki, sehingga bila para Syayyid san Syarif tersebut telah memiliki jalur perempuan kemudian dianggapnya tidak sah. Hal ini adalah budaya Arab Jahiliyah yang dapat dibuktikan secara otentik dengan melihat turunnya surat al Quran yang sebelumnya didasarkan pada kejadian yang dialami Nabi Muhammad Saw yakni ketika Al-Qasim, putra Rasulullah, wafat dalam usia masih kecil, terdengarlah berita duka itu oleh beberapa tokoh musyrikin, diantara mereka adalah Abu Lahab dan ‘Ash bin Wa’il. Mereka kegirangan dengan berita itu, mereka mengejek Rasulullah dengan mengatakan bahwa beliau tidak lagi memiliki anak laki-laki yang dapat melanjutkan generasi keluarga beliu, sementara orang Arab pada masa itu merasa bangga bila memiliki anak laki-laki untuk melanjutkan garis keturunan mereka. Menjawab ejekan Abu Lahab dan ‘Ash bin Wa’il itu Allah menurunkan surat Al-Kautsar yang ayat pertamanya berbunyi: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ “Sesungguhnya Kami memberimu karunia yang agung.” Al-Kautsar artinya karunia yang agung, dan karunia yang dimaksud dalam ayat itu adalah bahwa Allah memberi banyak keturunan pada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam melalui putri beliau, Fatimah Az-Zahra’.    Sedangkan Abu lahab dan ‘Ash bin Wa’il dinyatakan oleh ayat terakhir surat Al-Kautsar bahwa justru merekalah yang tidak akan memiliki keturunan, yaitu ayat.. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَرُ “Sesungguhnya orang yang membencimu itulah yang tidak sempurna (putus keturunan).” Benarlah apa yang difirmankan oleh Allah, sampai kini keturunan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, melalui Al-Hasan dan Al-Husain putra Fatimah Az-Zahra’, benar-benar memenuhi belahan bumi, baik mereka yang dikenal sebagai cucu Rasulullah oleh masyarakat, maupun yang tidak.   Kalau ada yang berkata bahwa tidak semua Kiai keturunan “Sunan” itu bergaris laki-laki, bahkan kebanyakan mereka (?) adalah keturunan “Sunan” dari perempuan, maka pertanyaan itu justru dijawab dengan pertanyaan “kenapa kalau bergaris perempuan?”. Islam dan “budaya berpendidikan” telah sepakat untuk membenarkan “status keturunan” dari garis perempuan. Maka bila ada orang yang membeda-bedakan geris laki-laki dan perempuan maka berarti orang itu bukan penganut paham Islam dan bukan pula penganut “budaya berpendidikan.” Dan lebih “tidak berpendidikan” lagi orang yang mengatakan bahwa hubungan nasab keturunan anak perempuan terputus dari ayah si perempuan.

Semoga Allah Swt selalu merahmati kita semua fil Jasad, wal batin ngindarRUH amin

Wassalam...

Ravie Ananda


 

Riwayat Singkat Syekh Muhammad Kahfi Tsani Somalangu KebumenWednesday, November 11, 2009 4:27 PMKebumen, Selasa Kliwon 12 Mei 2009
Syekh Muhammad kahfi Tsani adalah pendiri ponpes Somalangu Kebumen periode ke 2, setelah sebelumnya pernah berdiri pondok Somalangu Kuno yang didirikan oleh Syekh Muhammad Kahfi Awal pada masa pemerintahan Panembahan Senopati ( raja pertama Mataram Islam ) yang sepeninggal Beliau kemudian hilang dimakan zaman seiring dengan tidak adanya regenerasi pada waktu itu ( Fatroh ) dan juga karena bentuk bangunan yang  masih sangat sederhana. Syekh Muh. Kahfi Tsani adalah salah seorang putra dari Kyai Marwan "Ali Menawi " bin Zaenal Abidin Banjursari Buluspesantren bin Syekh Yusuf Buluspesantren bin Djawahir bin Muhtarom bin Syekh Muhammad Kahfi Awal. Sejak kecil, Muh. Kahfi dititipkan oleh ayahnya di pondok milik Sayyid Taslim Tirip Purworejo bin Tolabudin bin Sayyid Muh. Alim Basaiban Bulus Purworejo. Di sana Muh . Kahfi dididik berbagai ilmu tentang Islam. Karena sejak kecil sudah di asuh oleh Sayyid Taslim, maka tidak heran jika Beliau juga sudah dianggap seperti anaknya sendiri, sehingga pada waktu khitan pun, keluarga Sayyid Taslim lah yang mengkhitan Beliau. Setelah dewasa, Sayyid Taslim melarang Muh. Kahfi untuk tetap bermukim di Tirip, sebab menurut Beliau, bukan di Tirip lah seharusnya Muh. Kahfi hidup karena Sayyid Taslim yakin bahwa kelak Muh. Kahfi akan menjadi seorang ulama besar di daerah asalnya seperti Leluhurnya dahulu. Selanjutnya Sayyid Taslim mengantar Muh. Kahfi pulang ke Kebumen, akan tetapi bukan diantar pulang ke Banjursari ( tempat orangtuanya ) melainkan ke desa Somalangu. Sesampainya di desa Somalangu, Sayyid Taslim memberitahukan kepada Muh. Kahfi bahwa didesa inilah dahulu pendahulunya ( Syekh Kahfi Awal ) bermukim dan mendirikan Pondok. Sayyid Taslim juga memberitahukan bekas Pondok Syekh Kahfi Awal yang pada waktu itu sudah tinggal pondasinya saja. Lokasi tersebut saat itu barada di atas tanah yang telah menjadi milik salah seorang penduduk setempat. Tanah tersebut kemudian dibeli oleh Sayyid Taslim dari pemilik waktu itu dan memberikannya kepada murid kesayangan Beliau yang sudah seperti putranya sendiri itu dan berpesan agar Muh. Kahfi bermukim ditempat itu dan membangun kembali pondok  untuk meneruskan syiar Islam pendahulunya. Sejak itulah pondok Somalangu baru ( periode ke 2 ) berdiri. Untuk membedakan maka kemudian ditambahlah nama "Awal " di belakang Muh. Kahfi pendiri pondok pertama dan nama " Tsani " di belakang Muh. Kahfi pendiri pondok ke 2. ( riwayat ditulis dari KH. Nawawi Abu Hisyam Adikarso / Gus Wawi Kebumen sebagai keturunan dari Kyai Sayydi Taslim basayban Tirip ).
 berikut adalah catatan Nasab bani Zaenal Abidin Banjursari Buluspesantren Kebumen


 SILSILAH / NASAB ZAENAL ABIDIN BANJURSARI BULUSPESANTREN
 Kahfi Awal berputra ; Muhtarom berputra ; Jawahir berputra ; Syekh Yusuf berputra ;
Zaenal Abidin menurunkan :
1. Syeh Marwan Ali Menawi
2. Djawahir
3. Abdurrouf / Nyai Abdurrouf
4. Zaenal Muhammad / Nyai Zaenal Muhammad
5. Zaenal Muharram

Syeh Marwan Ali Menawi menurunkan ;
1. Nyai Tohir
2. Nyai Ali Imran
3. Muh. Syuhada
4. Nyai Samenawi
5. Muh. Kahfi Tsani
6. Abdulmanan
7. Nyai Haji Abbas
8. Nyai Ali Muharrom
9. Abdul Mu'id
10. Abdul Muhtar

Djawahir menurunkan ;
1. Ali mustafa
2. Nyai Basar kahfi
3. Ali Muntaha
4. Nyai Sanmustafa
5. Nyai Ramadipura
6. Nyai Nawawi
7. Marjuned
8. Nyai Madmurdja
9. Badaruddin
10. Nyai Satirah
11. Dullah Anwar

Abdurrouf / Nyai Abdurrouf menurunkan ;
1. Taslim
2. Nyai haji Bakri
3. Akram

Zaenal Muhammad / Nyai Zaenal Muhammad menurunkan ;
1. Madmardja
2. Sanpawiro ( Marwoto )
3. Tirtamanad
4. Nyai Pingi
5. Nyai Salamah
6. Mardinah

Zaenal Muharram menurunkan ;
1. Muh. Abror
2. Achmad
3. Abd. Umar
4. Nyai Ragil / Nyai Badarudin
5. Zaenal Abidin
6. Dawud
7. Nyai Haji Mukmin

Muh. Kahfi Tsani menurunkan
1. Nyai Abdurrohman
2. Nyai Sirad
3. Nyai Damanhuri
4. Nyai Abdul Mahmud
5. Nyai Sadeli
6. Nyai Ramli
7. Kyai Mukti

AbdulManan menurunkan ;
1. Mahful ( istri pertama )
2. Mabrur ( Istri pertama )
3. Mangsur ( istri pertama )
4. Makmur ( istri kedua )
5. Mabruroh ( istri kedua )
6. Masfur ( istri ketiga )
7. Madzfur ( istri ketiga )
8. Wilayah ( istri ketiga )
9. Masfuroh

Muh. Syuhada menurunkan ;
1. Nyai Asfia
2. Nyai Taslim
3. Abdullah Mahmud
4. Nyai sadikin
5. Nyai Zaenal Abidin
6. Muh. Chotim

Ali Mustafa menurunkan ;
1. Sastra
2. H. Muhson
3. Imam Pura
4. Sarbini
5. Dalail
6. Munirah
7. Nyai Madmarja

Ali Muntaha menurunkan ;
1. Muhsin
2. Muhson
3. Muhsonah
4. Munsarip
5. Munisah
6. Mutnginah

Nyai Nawawi menurunkan ;
1. Nyai Carik jetis
2. Nyai Ahmad
3. Nyai Badriyah
4. Haji Masyhud
5. Nyai Trafas
6. Maklum

Badaruddin menurunkan ;
1. Nyai Ali Tsani kauman
2. Makmun
3. Nyai Maklum

Mardinah menurunkan ;
1. Somamihardja
2. Martadidjojo
3. Nyai Wongsowidjojo

Abdullah Umar menurunkan ;
1. Mutingah ( istri pertama )
2. Aminah ( istri pertama )
3. Basyir ( istri kedua )
4. Thubaniyah ( istri kedua )
5. Salim ( Istri kedua )
6. Sufar ( istri kedua )

Zaenal Abidin menurunkan ;
1. malichah
2. Nasichah
3. Achmad Moetawalli

Nyai Abdurrohman / H. Abdurrohman menurunkan ;
1. Mahfud
2. Thoifur
3. Nyai Ghonimah
4. Haji Nursodik

Nyai Sirad menurunkan ;
1. Mahful
2. Bakri
3. Rohmah / zawawi menurunkan ;
1. Ghofir
4. Shofiah / zawawi menurunkan ;
1. Ngasit

Nyai Sadeli menurunkan ;
1. Zaenal
2. Syamsuri

Makmun menurunkan ;
1. Honimah, menurunkan ;
1. Sayyid R. Muhammad Raffie Ananda / Tuti Khusniati Al Maki
2. RA. Aila Rezannia


bagi nasab Zaenal Abidin yang belum tercatat bisa menghubungi Ravie Ananda di email ravieananda@yahoo.com atau
datang langsung di kediaman penulis di Jalan Garuda 13 Kebumen Jateng dan bagi pembaca yang ingin mengetahui riwayat lebih detail bisa bersilaturahmi kepada Gus Nawawi Abu Hisyam Adikarso.

Ngumpulake balung Pisah, memayu hayuning diri, keluarga,  nungsa lan bangsa tanah Dhawa PANCASILA RI.


wassalam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar